"Dasar gadis dada rata!"

"Kurang ajar!"

"Semoga saja aku tidak jatuh cinta pada gadis berdada rata seperti dirimu itu,"

"Kau akan menyesal, tuan berambut pantat ayam!"

.

.

.

"Suatu saat, kau akan jatuh cinta padaku!"

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

AU/OOC/Romance/a bit of Drama and Humor (Maybe)/Lime-Lemon

.

.

.

.

.

Pemuda berambut raven mencuat seperti pantat ayam itu mengeratkan kepalan kedua tangannya. Mata onyx tajamnya semakin menatap benci ketika kekasihnya—Haruno Sakura, dicium Akasuna Sasori tepat dibibir.

"Lepaskan bibir kekasihku, wajah bayi!"

Pemuda berambut merah tersebut menyeringai penuh kemenangan kemudian dilepasnya bibir Sakura dengan pelan. "Ah, maaf, aku terlalu menghayati ciuman ini,"

Buagh!

Baru beberapa detik Sasori melepas bibir Sakura, sebuah genggaman tangan yang di kepal erat milik Uchiha Sasuke langsung memukul wajah baby face milik Akasuna Sasori. Pukulan itu pun sukses membuat sudut bibir pemuda merah itu mengeluarkan sedikit darah segar.

Tanpa memedulikan si Akasuna, Sasuke langsung menarik pergelangan kecil kekasihnya yang sedari tadi cuma terdiam membisu.

"Akh! Sa-sakit, Sasuke!"

Uchiha bungsu itu hanya diam. Mereka berdua pergi meninggalkan Sasori. Pintu atap sekolah ia banting dengan keras. Genggamannya pada pergelangan tangan Sakura semakin erat. Peduli setan batin Uchiha. Sekarang, pemuda itu benar-benar marah. Ini pertamakalinya Uchiha Sasuke marah besar pada kekasihnya. Dan beri tepuk tangan yang meriah bagi Haruno Sakura yang sukses membuatnya menjadi seperti ini.

"Sa-Sasuke! Lepaskan!"

"Tidak!" balas Sasuke dingin. "Jadi, bagaimana rasanya dicium orang selain kekasihmu, Haruno?"

Deg!

Nada dingin dari perkataan si Uchiha sukses membuat Haruno Sakura terdiam. Kepala gadis pink itu tertunduk. Tangannya sedikit bergetar. Takut.

Memang ini bukan pertamakalinya Haruno Sakura takut pada Uchiha Sasuke, tapi... rasa takut ini berbeda.

"Jawab! Bagaimana rasanya?!"

Nada Sasuke semakin meninggi. Sakura semakin menundukkan kepalanya. Sekarang mereka berada di lorong kelas yang sudah sepi. Mengingat bahwa ini sudah jam pelajaran ke-5.

"Aku... tidak ta-tahu,"

Oh, hebat. Sekarang, Haruno Sakura menjadi ciut.

Sasuke melirik sejenak kekasihnya itu. Badan yang sedikit bergetar, kepala yang tertunduk, dan ekspresi yang hendak menangis.

Pemuda raven itu menghela nafas panjang.

Ah, sepertinya sudah cukup. Ia tak mau kehilangan gadis yang dicintainya ini.

"Ah, sudahlah!" ucap Sasuke. "Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi,"

Sakura mengangkat kepalanya kemudian menatap Sasuke bingung.

Tumben bijak, batin Sakura.

Ada apa dengan pemuda di depannya ini?

Slurp!—Kedua mata emerald Sakura terbelalak kaget ketika Uchiha Sasuke menjilat bibirnya yang beberapa saat lalu pernah dicium Sasori. Lidah pemuda itu menjilat dengan pelan dan lambat. Mencoba membersihkan noda-noda dari ciuman Sasori yang menurut Sasuke itu tak pantas ada di bibir kekasih soft pink miliknya ini.

"Sa-sasuke...berhenti!"

Bukannya berhenti, pemuda raven itu malah melahap bibir Sakura dengan ganas.

"Ekspresimu seperti orang bodoh, Honey,"

CTAK!—Ah, andai saja dia tidak ketakutan seperti ini, sudah pasti Uchiha Sasuke akan dia 'bogem-mentah'.

"Jangan menangis, Honey no Baka,"

"Aku tidak menangis!"

Sasuke tersenyum geli, "Ekspresimu ketika kumarahi tadi benar-benar lucu, pft!"

"Jangan tertawa!"

Ah, sudah cukup! Sakura benar-benar ingin memukuli kekasih mesumnya ini sampai tak berbentuk lagi.

"Kalau kau cemburu, kau jadi mengerikan, Sasuke,"

BLUSH!—Tu-tunggu sebentar! Ada yang aneh disini.

Pemuda berambut raven tersebut berhenti tertawa dan ia terdiam. Sekarang, rona merah muncul di wajahnya.

Sasuke cemburu?

Oke. Memang, ucapan Haruno Sakura tadi refleks, tapi siapa sangka ucapan itu dapat membuat Uchiha Sasuke merona?

Bahkan pemuda itu tak sadar bahwa ia sedang cemburu.

"A-aku tidak cemburu!"

Hahahaha! Sakura ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi aneh Sasuke yang mengelak bahwa ia sedang cemburu.

"Kau berbohong, Darling,"

BLUSH!—Rona merah muncul di wajah Uchiha Sasuke, lagi. Tak menyangka bahwa kekasih soft pink-nya itu memanggilnya darling.

"Sudah kubilang, aku tidak cemburu!"

"Kalau begitu, aku akan melanjutkan ciumanku dengan Sasori-kun!"

Kampret!

"Baiklah, Sakura! Aku cemburu! Kau puas?!" Teriak Sasuke. "Jangan panggil dia 'Sasori-kun'! Kau bahkan tak pernah memanggilku 'Sasuke-kun' dengan nada yang manja!"

Wajah pemuda itu mulai mendekat ke arah Sakura, kemudian ia berbisik pelan dengan sedikit menggoda.

"Dan ingat, awas jika kau melakukannya sekali lagi. Kau akan mendapat, balasannya di atas ranjang, My Honey,"

BLUSH!

Lihat, siapa yang merona saat ini.

"Me-mesum!"

"Tapi kau menyukainya, sayang,"

Wajah gadis itu semakin merona. "Aku membencimu, Uchiha Sasuke! Sangat benci!"

Pemuda berambut raven itu tersenyum tipis sembari berkata, "Aku mencintaimu,"

Wajah Sakura semakin merona.

"Sangat mencintaimu,"

Dan akhirnya atmosfer mereka berdua kembali seperti biasanya. Syukurlah.

.

.

.

.

My Hentai Prince

.

Chapter 8

.

.

Original Story from Azuka-nyan

.

.

Rate M for Lime and Lemon

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

"Kau kenapa lagi, hm?"

Akasuna Sasori melirik ke arah Sai, teman sekelasnya yang sedang bertanya dengan ekspresi yang datar. Mendengus pelan, Sasori menjawab, "Seperti biasa," ucapnya malas. "hari ini aku mencium bibir gadis itu di hadapan Uchiha,"

Sai memandang heran. "Padahal kau jago beladiri, kenapa kau kalah menghadapi si Uchiha itu?"

Iya, benar. Sasori memang jago beladiri. Seharusnya ia tadi membalas pukulan Uchiha Sasuke yang telah membuat sudut bibirnya bengkak seperti ini.

"Ada satu alasan yang membuat aku tak dapat memukul balik Uchiha, Sai,"

"Bodoh," ejek Sai. "kau menjadi bodoh semenjak Haruno Sakura mulai ada dipikiranmu," Sai mendekat ke arah Sasori. "ternyata cinta bisa membuat orang menjadi bodoh,"

"Hei! Urusi dirimu sendiri, baka! Kau pun juga pasti seperti itu,"

Pemuda berambut hitam itu tersenyum tipis kemudian menjauh dari Sasori. "Terserah, lebih baik aku mengurusi Ino saja,"

"Ya, urusi kekasih tercintamu itu!"

Akasuna Sasori kembali terdiam. Otaknya sedang me-reka ulang kejadian yang terjadi sekitar 1 jam yang lalu dimana ia sedang mencium bibir lembut gadis soft pink itu dihadapan kekasih si gadis, Uchiha Sasuke.

Sasori masih ingat ekspresi Sasuke yang sangat murka dan ekspresi Sakura yang menatapnya terlihat antara bingung dan kaget beserta dengan rona merah disekitar wajahnya.

Menurut pemuda bermarga Akasuna, itu adalah ekspresi Sakura yang paling ia sukai. Seakan-akan hati Sasori meleleh mendapat tatapan seperti itu.

Itulah alasan Sasori tak dapat membalas pukulan Uchiha Sasuke pada wajahnya. Ia terlalu fokus pada tatapan Sakura yang seperti itu.

Pemuda berambut merah itu menyentuh bibirnya pelan. Mengesampingkan rasa sakit yang ada pada sudut bibirnya, ia justru malah menikmati ciuman tadi. Sentuhan bibir Sakura masih terasa di bibirnya. Lembut. Rasanya ia ingin sekali melahap bibir lembut gadis tersebut.

"Sial!" geram Sasori pelan kemudian meremas rambut merahnya dengan pelan. "Gadis itu berhasil mencuri perhatianku,"

Pesona Sakura beberapa saat lalu telah membuatnya menjadi gila. Oh, Tuhan. Kenapa Sakura tidak menjadi kekasihnya, sih?

Menurutnya, dia lebih baik daripada si Uchiha mesum tersebut.

Tapi kenapa gadis itu tidak memilihnya? Apa Ia kurang mesum?

Tanpa sengaja, iris mata Sasori menangkap sesosok gadis berambut soft pink yang lewat bersama dua orang gadis lainnya. Refleks, Sasori langsung menghampiri gadis soft pink tersebut dan langsung menggenggam tangan kirinya.

Itu Sakura.

Sakura-nya.

Haruno Sakura tersentak kaget ketika Akasuna Sasori dengan tiba-tiba menggenggam tangannya. Dihadapan sahabatnya pula. Tunggu. Ini bisa jadi gosip. Dan jika Sasuke tahu, keperawanannya terancam. Sakura diam membatu seraya memandang Sasori dengan tatapan terkejut.

"Di-dia siapa, Sa-sakura?"

Pertanyaan Ino membuat mereka berdua sadar. Akasuna Sasori langsung melepaskan genggamannya di tangan Sakura. "Ma-maaf, Sakura-chan," ucap pemuda berambut merah tersebut, malu. "A-aku...refleks,"

Yap. Sepertinya Sakura dapat memaklumi.

Gadis soft pink itu mengangguk pelan, "Ah, tak apa," Sakura tersenyum. "Kenalkan, ini Akasuna Sasori, dari kelas sebelah," ucapnya ke arah Ino dan Hinata yang kemudian ber-oh ria.

"Aku kira selingkuhanmu,"

'Mana mungkin aku punya selingkuhan, Ino! Yang satu saja sangat susah untuk diurus!'

"Bukan, pig!"

"Kalau Sasuke melihatmu bisa gawat," Ino terkikik geli, "wajahmu imut, lho, Akasuna-san,"

"Ah, terimakasih Yamanaka-san," ucap Sasori tersenyum lembut. "ano...Sakura-chan,"

"Iya?"

"Pulang sekolah nanti mau pulang bersama?"

Demi Tuhan, Sasori adalah tipe orang yang pantang menyerah. Sakura benar-benar kewalahan dengannya saat ini.

Sakura harus menolaknya.

"Umm... Sa-sasori-kun...se-sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu,"

"Sakura! Sasuke! Ada Sasuke!"

DEG!—Ah! Mati kutu! Kenapa tiba-tiba Sasuke muncul lagi?

Yang benar saja, sekarang Sasuke sedang berjalan menuju kearahnya.

"Wah! Sakura selingkuh ya?"

"Berani sekali gadis jelek itu selingkuh dari pangeran kita!"

"Dia pikir pangeran kita ini tidak tampan apa?"

"Sepertinya ada perang dunia ke-3 nanti,"

Komentar-komentar tak mengenakkan muncul dari para murid dan para fans setia Sasuke.

Keperawanannya benar-benar terancam disini.

Beberapa meter lagi Sasuke akan mendekatinya. Gadis itu terdiam membatu begitu juga Sasori. Tangan Sakura berkeringat dingin. Semoga saja Sasuke tak memukuli Sasori habis-habisan.

Beberapa saat kemudian, Sasuke hanya melengos pergi melewati Sakura, Sasori, Ino dan Hinata. Pemuda itu tetap berjalan lurus kedepan bersama Naruto.

Sakura menatap Sasuke yang membelakanginya heran.

Kenapa Sasuke tidak memukul Sasori?

"Hei! Hei! Kau lihat, Sasuke tadi hanya melengos melewati Sakura!"

"Aku rasa hubungan mereka sudah berakhir,"

"Semoga saja! Hahahahaha!"

Dan kicauan burung liar pun terus berlanjut.

.

.

.

.

Bel pelajaran terakhir telah berbunyi keseluruh ruangan di sekolah. Banyak murid-murid yang bersorak gembira karena akhirnya mereka bisa pulang ke rumah masing-masing.

Yap, semua murid di kelas 2-2 memang bersorak gembira, kecuali pemuda berambut raven dan gadis berambut soft pink yang duduk berdua di pojok kanan dekat jendela kelas. Mereka berdua terdiam.

Sakura sadar. Sasuke mendiamkannya sejak kejadian Sasori mengajaknya untuk pulang bersama. Oh, ayolah. Biasanya Sasuke tidak seperti ini. Biasanya Sasuke akan melakukan hal-hal mesum di saat pelajaran di kelas sedang berlangsung. Dan faktanya, Sasuke tidak menyentuhnya sejak awal pelajaran ke-6 sampai pelajaran terakhir.

Tunggu. Kenapa dia merasa kurang ketika Sasuke tak menyentuhnya?

Tidak. Tidak. Tidak. Sakura tidak boleh kecewa karena Sasuke tak menyentuhnya. Seharusnya ia bersyukur. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan. Huft. Jangan sampai Sakura terjangkit kemesuman Uchiha Sasuke.

"Sakura! Aku pulang duluan ya, Sai sudah menunggu, ja nee!"

"Sa-sakura-chan, a-aku pu-pulang dengan Na-naruto-kun, ya, ja nee,"

Sakura mengangguk sembari membalas perkataan kedua sahabatnya, "Hati-hati di jalan,"

Ruang kelas 2-2 sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua saja. Sasuke masih mendiamkannya. Wajar saja, sudah dua kali Sasuke dibuat kesal oleh Akasuna Sasori. Pertama, Sasori sengaja mencium bibir Sakura dihadapannya. Kedua, pemuda merah itu masih saja mengajak Sakura untuk pulang bersama nanti. Sasori sialan.

"Sasuke, aku mau pulang," Sakura mulai angkat bicara. Tak tahan dengan suasana seperti ini.

"Tidak, tetap disini,"

"Sampai kapan? Aku mau pulang!"

"Cium aku,"

Sakura terbelalak kaget. "Ha-hah?! Ci-cium?!"

Sasuke mengangguk mantap. "Hn, kau tahu? Selama ini hanya aku yang selalu menciummu," ucap Sasuke. "aku ingin sekali kau yang menciumku terlebih dahulu, Sakura. Yah, walaupun hanya sekali saja,"

Wajah Sakura sukses merah merona mendengar perkataan Uchiha Sasuke yang mesumnya kelewat batas tersebut. Dengan mantap, gadis itu menggeleng cepat, "Tidak mau!"

Raut kekecewaan muncul di wajah pemuda berambut raven tersebut. Irisnya yang onyx pun juga menampilkan hal yang serupa.

Apa Sakura tak berniat membalas perasaannya?

Seketika rasa nyeri mulai muncul di hati Uchiha Sasuke. "Ya sudah,"

Cieee, ngambek.

Dengan cepat, Sasuke yang ceritanya lagi 'ngambek-sama-Sakura' itu pun langsung berdiri dari tempat duduknya. "Aku mau pulang,"

'Cih, gak dicium aja ngambek!' Inner Sakura mulai angkat bicara. Huft. Sabar, sabar. Seperti kata pepatah, 'Orang sabar disayang Tuhan'.

Mungkin untuk Sakura, 'Orang sabar selalu dimesumi Uchiha Sasuke'

Yah, itu memang benar.

Tanpa basa-basi lagi, Sakura langsung menarik kerah baju Sasuke kemudian mendorong kasar pemuda itu ke tempat duduk seperti semula.

"He-hei—hmmpp!"

Uchiha Sasuke terkejut bukan main. Setelah menarik kerah bajunya dengan kasar—yang beruntung sekali tidak robek—Sakura langsung duduk dipangkuannya dan menciumnya dengan tiba-tiba! Oh, ini suatu kemajuan. Tentu saja hati Sasuke yang tadinya sempat hancur-lebur seperti tanah gersang karena ditolak mentah-mentah akhirnya kembali ditumbuhi bunga-bunga cinta yang mekar dengan indah diikuti dengan kupu-kupu yang terbang kesana-kemari.

Ehem, perumpamaan apa itu, Author?

"Puas?" tanya Sakura dengan wajah yang merona. "Menyebalkan! Jangan bersifat seperti itu lagi, baka!"

Gadis soft pink itu kemudian mencoba berdiri—atau dengan kata lain mencoba menjauhkan diri—dari Sasuke. Tapi terlambat, pemuda mesum itu terlebih dahulu menahan tubuhnya. "Sasuke! Jangan macam-macam!"

"Kau salah," ucap Sasuke lembut seraya mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. "jika kau ingin menciumku, harus seperti ini, Honey,"

Sakura terdiam kemudian memejamkan matanya. Bibir Uchiha Sasuke telah menyentuh bibirnya. Dengan pelan, Sasuke mencium bibir gadis itu lembut, tak ada kekasaran. Dapat Sasuke rasakan tubuh gadis itu sedikit bergetar.

Gadis itu gugup.

"Suka?" tanya Sasuke sambil tersenyum ketika ia melepas ciumannya. Gadis itu mengangguk ragu dengan wajah yang merona.

Pemuda berambut raven itu kemudian menjauhkan beberapa helai rambut Sakura yang berada di leher gadis itu. Mengerti dengan perlakuan Sasuke yang seperti itu, Sakura menahan tangan Sasuke. Uchiha bungsu itu kemudian menoleh sembari menatap Sakura heran. "Mereka akan dengan cepat menebak apa yang telah kita lakukan jika kau melakukan hal itu, Sasuke," ucap Sakura seolah paham apa yang Sasuke lakukan.

"Jadi... Kau mau apa, Honey?"

Sakura terdiam. Kepalanya tertunduk sedikit. Tangan Uchiha Sasuke yang sedari tadi masih digenggamnya, "Aku..." ia arahkan ke dada kirinya. "...ma-mau... i-ini..."

Kenapa ia jadi aneh seperti ini?

Wajahnya sekarang pasti sudah benar-benar memerah.

'Oh, Kami-sama, jangan sampai Uchiha Sasuke menertawakanku'

Sasuke kembali terkejut. Wahai Kami-sama, apakah yang sedang duduk dipangkuannya ini benar-benar Sakura?

Sakura minta remas?!

"Tu-tunggu dulu, Sa-saku—"

"—cepat..." lirih Sakura pelan. "...bu-bukankah ka-kau bilang a-apa yang aku i-inginkan?"

Oke. Fix. Sasuke benar-benar ingin nose-bleed disini.

Sakura yang malu-malu kucing seperti ini bagaikan senjata pamungkas bagi Uchiha Sasuke.

Tangan sepasang kekasih itu tiba-tiba menjadi dingin. Mungkin karena faktor kelakuan Sakura yang sangat-sangat membuat Uchiha Sasuke bagai tersambar cinta.

Tunggu dulu.

Ini serius, 'kan?

"U-ukh! Ahh!"

Sasuke kembali tersentak kaget. Baru diremas sedikit saja, desahannya menjadi-jadi. Sakura benar-benar aneh hari ini.

Degup jantung Uchiha Sasuke menjadi tak stabil.

"Kau tahu? Rasanya ada yang kurang ketika kau tak menyentuhku sejak pelajaran ke-6, Baka!"

Sasuke menatap Sakura yang sedang menunduk malu.

"Kenapa kau mendiamkanku? Baka! Baka! Baka!"

Ah, ternyata gadis ini sadar bahwa ia sengaja mendiamkannya.

"Ah, kau sadar juga, hm?"

"Tentu saja!"

Sasuke menyeringai manis. Ia menang. "Berbaliklah,"

"Eh? Ke-kenapa?"

"Akan aku kabulkan permintaanmu, asal kau berbalik,"

Sakura berbalik membelakangi Sasuke. "Seperti ini?"

Pemuda itu kemudian memeluk erat Sakura dari belakang sembari menggigit kecil daun telinga kekasihnya. Sakura mendesah tertahan. Sasuke sedikit agresif. Jari-jari pemuda raven itu membuka kancing seragam sekolah Sakura satu per satu.

"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu yang tadi, Honey, tapi..."

"Ta-tapi a-apa?"

"...aku tak akan menciummu, karena aku ingin mendengarkan desahanmu, setuju?"

Belum sempat Sakura menjawab, Sasuke kembali meremas pelan dadanya. Sakura mendesah.

"Aku rasa desahan tadi berarti iya, kan?"

"Tu-tunggu—Akh!"

Pemuda itu menggigit daun telinga Sakura gemas. Semua kancing seragam Sakura sudah Sasuke buka semuanya. Dengan lihai, kedua tangan pemuda itu menyingkap bra Sakura keatas lalu memainkan kedua buah dada Sakura yang menurut pemuda itu pas dengan genggamannya.

Gadis itu mendesah tertahan. Tidak. Ia tidak boleh mendesah keras. Bagaimana jika ada penjaga sekolah atau guru atau murid lain yang tahu apa yang telah ia dan Sasuke lakukan?

"Keluarkan desahanmu, Sakura," ucap Sasuke sembari menjilat telinga gadis soft pink itu. Sakura menggeleng. "atau aku akan melakukan hal seperti ini,"

Dengan kemesumannya, Sasuke memainkan kedua puting gadis itu. Hal tersebut sukses membuat Sakura mengerang erotis sembari meremas kencang celana sekolah Sasuke.

"A-akhh! Sa-sasu—nghh!"

Sasuke tersenyum mesum, "Bagaimana, aku sudah mengabulkan permintaanmu, bukan?"

"Nggh! Da-dasar me-mesum! Ukh~!"

"Sayang sekali aku tidak boleh membuat 'tanda-kepemilikan' di lehermu," Sasuke menyeringai, "jadi...sebagai gantinya aku akan melakukan ini,"

Tangan kanan Sasuke menaikkan rok sekolah Sakura dengan perlahan. Sedangkan tangan kiri pemuda itu masih bermain di dada Sakura.

Tangan kanan pemuda itu menelusup masuk ke celana dalam Sakura. Ia gesek perlahan dan itu berhasil membuat Sakura mendesah kencang, "Basah,"

Sasuke menaikkan tempo remasannya pada dada Sakura. Gadis itu gelisah. Desahan demi desahan selalu saja lolos dari mulutnya. Sentuhan Sasuke di dada dan bagian bawahnya semakin menjadi-jadi.

"Su-sudah cukup, Sa-suke…Akh! Ngghh~!"

Seakan telinganya tuli, Sasuke tak menanggapi ucapan Sakura. Ia terus meremas dan menggesek vagina Sakura yang sangat basah. Bahkan bagian bawah milik pemuda itu pun juga ikut mengeras hanya karena mendengar desahan Sakura.

Merasa cukup dengan menggesek, salah satu jari milik Uchiha bungsu tersebut mencoba masuk ke dalam vagina Sakura. Mengocoknya dengan perlahan. Sakura terbelalak kaget. Desahan dan juga erangan erotis semakin keluar. Sakura kembali meremas kuat celana seragam milik Sasuke.

Nafas pemuda berambut raven itu sedikit demi sedikit memberat.

Tahan. Tahan. Kau tidak boleh langsung menerkamnya, Uchiha. Ia sangat berharga bagimu.

"A-akh! Sasukeeee! Berhenti—aaakkh!"

Sasuke tahu apa yang terjadi pada Sakura. Gadis itu ingin keluar. Sasuke menyeringai nakal, kemudian mengigit kembali daun telinga Sakura, "Boleh kutambah jariku, sayang?"

Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat. Tanpa basa-basi lagi, 2 jari sudah berada di dalam Sakura. Sesuatu yang sangat melesak ingin keluar itu semakin menjadi-jadi. Keringat dingin mengalir di pelipis Sakura. Tidak. Tidak. Kejadian ini sama seperti yang dilakukan Sasuke dulu di Kereta api.

"Sa-sasukeeee—nngghh! A—Akkkkhhhhhh! Nggghh~!"

Cairan bening keluar dari vagina gadis berambut soft pink tersebut. Sangat banyak. Nafas Sakura tak teratur.

"Puas?" ucap Sasuke sembari mencium lembut pipi mulus Sakura, "permintaanmu sudah kukabulkan, Honey,"

"Mesum," lirih Sakura pelan. Entah kenapa hal ini banyak menguras tenaganya.

Sasuke tersenyum tipis. Ia rapikan baju Sakura seperti semula. "Baiklah, ayo pulang,"

"Kau pikir aku tidak lemas?"

Tanpa basa-basi, Sasuke langsung menggendong Sakura ala bridal style. Gadis itu kaget, "A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Cepat!"

"Sudahlah, aku akan mengantarmu sampai rumah, Honey,"

"Tidak mau!"

"Sampai depan gerbang sekolah saja, bagaimana?"

"Tidak!"

"Kau tidak bisa menolak, nona Haruno,"

"Kyaaaaaaa!"

.

.

.

.

"Sasuke baka! Gara-gara dirimu, kita ditertawakan penjaga sekolah! Sudah aku bilang jangan menggendongku seperti itu!"

Lagi. Sasuke harus terkena ceramah Sakura yang cepatnya 125km/jam.

Yap. Tiada hari tanpa ocehan Sakura.

"Terserah kau mau menceramahiku seperti apa," Sasuke memberi jeda sejenak, "asalkan aku bias tetap menggengammu seperti ini,"

Sakura melirik tangan kanannya sendiri.

Ah, iya. Mereka sedang berpegangan tangan.

Ih, Sasuke gombal.

"Kata-kata tadi aku ambil dari buku novel milikmu yang menjijikkan itu, Sakura,"

CTAK!—Bolehkah ia memukuli Sasuke di tepi sungai seperti ini?

Sabar Sakura, sabar.

Semilir angin berhembus lembut. Hari semakin sore. Ngomong-mgomong, masalah tentang sungai, Sakura seperti sedang mengalami Déjà vu.

Beberapa tahun yang lalu, ia pernah berada disini.

Bersama seseorang.

"Dulu...aku pernah bertemu seorang pemuda di tepi sungai ini,"

Sasuke melirik Sakura, "Benarkah?"

"Uhm," Sakura mengangguk, "aku lupa bagaimana tampang pemuda itu, tapi...aku ingat bentuk dan warna rambutnya, mencuat dan hitam kebiru-biruan,"

Sasuke tersenyum.

"Pemuda itu sangat-sangat menyebalkan!"

Akhirnya.

"Kejadian itu tak akan aku lupakan!"

Akhirnya.

"Itu pertamakalinya aku di ejek dengan kata-kata yang aneh!"

Sakura...sudah mulai ingat kejadian itu.

"Jika suatu saat nanti aku bertemu dengan pemuda itu, aku akan memukulinya habis-habisan!"

Pemuda raven itu mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Sakura, "Bagaimana jika ia jatuh cinta padamu?"

BLUSH!—Wajah Sakura merona tipis. Semilir angin yang lembut membuat beberapa helai rambut Sakura bergerak manis, "Ta-tapi...aku sudah jatuh cinta dengan orang lain,"

"Siapa?"

Sakura semakin merona, "Jangan pura-pura tidak tahu, baka!"

Sasuke tersenyum geli. Ia benar-benar senang hari ini.

"Sudah pasti orang itu adalah kau, Uchiha Sasuke no baka!"

.

.

.

.

"Kunci pagar, jendela dan pintu rumah, mengerti, Honey?"

"Kau sudah mengatakannya 5 kali, Sasuke,"

"Benarkah?" ucap Sasuke polos dan hal itu sangat membuat Sakura kesal.

"Cepat pulang sana! Kau sangat membuatku kesal seharian ini, Sasuke! Aku juga ingin masuk kerumahku!"

"Tapi tadi aku mengabulkan keinginanmu, apa kurang cukup? Apa aku harus meneruskannya di rumahmu?"

"Kau minta 'bogem-mentah' hah?!"

Sasuke terkikik geli, "Tidak, aku hanya bercanda. Sudah, masuk sana,"

"Dari tadi juga aku mau masuk!"

"Baiklah, baiklah," Sasuke mengelus pelan kepala Sakura, "sampai bertemu besok, Honey,"

Gadis beriris emerald itu tersenyum manis. Hal yang sangat jarang ia lakukan pada pemuda itu. Gadis itu menarik lengan Sasuke tiba-tiba kemudian mencium pipi pemuda itu lembut.

Uchiha Sasuke—

"Aku mencintaimu, Sasuke-kun,"

—Kau berhasil membuat Sakura mencintaimu.

Dengan cepat Sakura langsung masuk kerumahnya.

Sasuke terdiam.

Ini...bukan mimpi, kan?

Sakura mencium pipinya, mengatakan bahwa gadis itu mencintainya, bahkan memanggilnya 'Sasuke-kun'

Sasuke tersenyum senang sembari pulang menuju rumahnya.

Sepertinya ia harus mengadakan syukuran hari ini.

Dilain pihak, Sakura merutuki dirinya.

Oh, tidak. Kenapa ia refleks mencium Sasuke? Bahkan ia tak sadar bahwa ia telah berkata seperti itu. Wajahnya benar-benar merah merona sekarang.

Tok-Tok-Tok!—Sakura terdiam sejenak. Siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Sasuke?

Bukannya Sasuke sudah pulang?

"Tu-tunggu sebentar!" teriak Sakura menuju pintu depan kemudian membukanya perlahan.

"Sakura-chan,"

"Sa-sasori?"

"Boleh aku masuk?"

Kenapa Sasori ingin masuk kerumahnya?

"Ah, tentu saja boleh,"

Pemuda berambut merah itu melangkah masuk kedalam rumah Sakura.

"Wah, tumben sekali Sasori mampir kerumah, mau minum apa?" Sakura tersenyum sembari mengunci pintu rumahnya. Seperti yang disarankan Sasuke.

Pemuda itu berbalik menghadap Sakura. Kemudian, dengan cepat pemuda merah itu menghimpit Sakura ke pintu. Sasori mencengkram kedua bahu Sakura.

Gadis soft pink itu menatap Sasori heran. Ada perasaan takut menyelimuti Sakura saat ini.

"Sasori, kau kena—hhmmp!"

Sasori menciumnya.

Pemuda itu menciumnya kasar.

'Kami-sama, tolong aku!

"—Hmmpp!"

Sasuke-kun tolong aku!'

.

.

.

.

.

Hidup gadis soft pink sederhana itu langsung berubah 180 derajat ketika 2 orang pangeran yang berbeda rambut itu datang ke dalam kehidupannya.

.

.

Entah siapa yang akan dia pilih nanti.

.

.

Apakah pangeran berambut raven

.

.

ataukah pangeran berambut merah?

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

.

Aaaaaaaaa~! *teriak pake toa* Akhirnya selesai! XD

Maaf atas keterlambatan updatenyaaaaa X( maklum saya sibuk :v muehehehe.

Sebenernya bukan sibuk sih, cuman sakit hati :'( dan akhirnya saya menyibukkan diri dengan hal-hal yang baru :'v *curcol* ternyata seperti ini ya sakit hati, hiks hiks :'( *plak!*

Dan di chapter ini, saya sudah mulai sedikit menampakkan beberapa adegan yang terjadi antara Sasuke dan Sakura 2 tahun lalu. Cie cie ;;) bagian adegan Sasori juga mulai bertambah sedikit-sedikit :v hihihi. Kasihan dia jarang dapet scene :p

Oh, iya, kemarin ada yang bilang kalo bintangnya Sasori itu scorpio ya? Ah, iya betul! Sasori itu scorpio -_- maaf ya, kemarin bintangnya Sasori salah, soalnya aku lupa DX maafkan aku~

Daaaaaann, chapter ini kembali dengan Lime! XD wkwkwk. Maaf ya kalo Lime-nya agak aneh atau kurang X( Yang nunggu Lemon sabar dulu yee, saya lagi nyari waktu atau adegan yang tepat untuk mereka melakukan hal seperti 'itu' X3

Saya sangat suka ketika SasuSaku melakukan adegan Lime/Lemon di dalam kelas. Soalnya lebih tertantang gitu~ :v *ditabok S-Savers* ya kan?

Ah, iya, ada yang tanya fict ini sampai chapter berapa, hmmm, aku gak kepikir ini fict sampe chapter berapa, yang penting ikutin terus Fict MHP ini ya~

Special Thanks to:

aidilla azzahra, Namikaze Kushina 15, RagilWoow, Guest, NURUL AYASE, chiciemaulida, Fans, nie-chan, yosikhan amalia, Ace Kanemori, wyfckh, sasusakulover47, Aihara Kotori, Nakayama Mikazuki, hyuuga rea, Kitsune Fuyuki, Anka-Chan, Gramela, DK, belvamelia, Aika Yuki-chan, narnialow2003, Guest, tutykai, hikari, hikaru, Guest, tiara, Yamazaki Koharu, Puppy eyes, anon, caesar puspita1, Azukanyan Lovers, harakim98, Guest, Sakura Cherry, azhuichan, bb, Aelita Schaeffer Belpois, Guest, pelapopmei, azhu-chan, Lhilia Kiryu, mayu, CyntaSilluevaSamudra, Akiko Mi Sakura, mela, Guest, erikaikakaa, Hatake Mimiru, Guest, violet orchid, zabahnurzanah, Rizqi, Tjintaharunouchiha, pw sasusaku, Rei Sanada, Yuuki Adinata, Erika Liana19, sayaka haru-chan, Arisa, angkerss a lauch, Kiki RyuEunTeuk, Uchiha Shesura-chan, noer nino, EmeraldAI, Dya onyx, Mamimumemo, Nyaaaa, hanazono yuri, UchiHarunoKid, marukocan, Rukia, TheOnyxDevil, mysaki, sonedinda2, Pinky Kyukyu, gadisranti3251, Arufi Rizuki Yoshida, Parinza ananda, muharram catang

Maaf ya kalo ada nama yang gak disebut sama penulisan nama yang salah :3 mohon maaf lahir dan bathin *telat woy!*

Mohon kritik, saran, dan komentar yap! Supaya fict ini bisa menjadi yang terbaik bagi para pembaca XD *cieelaah*

Akhir kata,

REVIEW X3