.

"Aku membencimu. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, brengsek!"

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

AU/OOC/Romance/Drama/Lime-Lemon

.

.

.

.

.

Pemuda berambut raven itu mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi rumahnya. Entah sudah berapa kali ia mencuci wajahnya hari ini. Siapa yang peduli?

Sekarang sudah pukul dua pagi. Ia tidak bisa tidur. Insomnia.

Setelah selesai, pemuda itu keluar sembari mengeringkan wajahnya dengan handuk putih yang sedari tadi ia lingkarkan di lehernya. Kedua mataya terlihat bengkak. Kaosnya juga terlihat sedikit basah pada bagian leher akibat mencuci wajahnya tadi.

Ia rebahkan tubuhnya pada sebuah tempat tidur yang berukuran sedang. Udara sudah semakin dingin pagi ini. Tetap saja ia tak bisa tidur.

Ya, ia tak bisa tidur karena kejadian sore tadi.

Ketika Sakura—ya, Sakura-nya memutuskan untuk berpisah dengannya secara sepihak. Mengakhiri hubungan cinta yang sempat membuka hatinya untuk serius pada satu gadis. Tentu ini tidak adil. Kenapa? Karena pemuda ini masih mencintai Sakura.

Entah kenapa terasa berat ketika mengetahui bahwa mereka sudah menjadi mantan kekasih saat ini. Sejak sore tadi.

Rasanya baru kemarin mereka masih menikmati hari-hari bahagia itu.

Rasanya baru kemarin Sakura terlihat selalu tersipu malu ketika bersamanya.

Rasanya… baru kemarin, ia bisa merasakan apa arti cinta sesungguhnya.

"Ugh!" Pemuda itu—Sasuke meremas kuat selimut yang ia pakai. Ia menggeram sebentar sembari memejamkan matanya. Hari ini terasa berat untuk dibawa tidur.

"Kita putus saja,"

Lagi-lagi perkataan Sakura selalu terngiang di telinganya. Bagaikan kaset rusak yang terus berputar.

"Sakura…" gumamnya pelan. "…maaf."

Sasuke akui itu memang kesalahannya melakukan dengan sengaja hal seperti itu dihadapan Sakura. Itu karena Sakura berusaha menutupi kiss mark si Akasuna itu darinya.

Selalu saja Sakura tak pernah mau jujur.

Emosi pemuda ini memang tak bisa dikontrol. Ia akui saat mengetahui bahwa si pemuda wajah bayi itu telah menodai Sakura, rasanya ia ingin sekali menampar pemuda tersebut sampai mati. Yang boleh menyentuh gadisnya hanya dirinya seorang. Bukan orang lain.

Nyeri di hatinya kembali terasa. Menjalar perlahan sampai terasa sesak.

Sungguh, Sasuke tidak akan pernah rela jika Sakura diambil oleh Sasori.

Padahal… Sasuke hanya ingin membuat Sakura cemburu. Sungguh. Tapi, sepertinya sudah kelewatan.

"Sakura…" sekali lagi, Uchiha Sasuke bergumam pelan. "…aku tak ingin berpisah…"

Sakit. Sesak. Tak bisa bernafas.

Sasuke tak bisa tidur karena masalah ini. Bahkan ekspresi Sakura juga masih ia ingat jelas. Ekspresi kecewa disertai dengan kebencian yang teramat sangat.

Ini kalipertama, Uchiha Sasuke merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.

Rasa sakit karena cinta—

—cinta yang berakhir dengan keadaan mengecewakan seperti ini.

.

.

.

.

My Hentai Prince

.

Chapter 10

.

.

Original Story from Azuka-nyan

.

.

Rate M for Lime and Lemon

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

Sudah tiga hari berlalu semenjak kejadian itu. Sejak saat itu juga, Sakura tidak pernah melihat Sasuke lagi di dalam kelas. Entah kenapa pemuda tersebut tak pernah manampakkan diri lagi dihadapannya. Sakit kah?

Munafik jika gadis ini tak merindukan mantan kekasihnya. Sakura hanya kecewa. Kecewa karena Sasuke melakukan hal tersebut kepada gadis selain dirinya.

Sakura pikir... Sasuke hanya menyentuhnya seorang.

Ternyata tidak.

Gadis itu menghela nafas lelah sembari menatap jendela kelasnya.

Dua menit lagi kelas akan di mulai.

"HEI, SENSEI DATANG!" Teriak salah satu teman sekelasnya sembari berlari menuju tempat duduk. "UCHIHA SASUKE JUGA!"

Deg—deg—deg!

Entah kenapa degup jantungnya berdetak kencang hanya karena mendengar nama pemuda yang masih ia cintai tersebut.

Antara sakit dan gugup.

Beberapa saat kemudia, Uchiha Sasuke masuk terlebih dulu ke dalam kelas disusul dengan Kakashi-sensei.

Pemuda itu berjalan perlahan ke arah tempat duduknya.

Ya, disebelah mantan kekasihnya—Haruno Sakura.

Gadis berambut soft pink itu gugup bukan main. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Iris emerald miliknya juga berusaha ia tahan agar dirinya tidak melirik Uchiha Sasuke.

Entah kenapa setelah berpisah, mereka canggung.

Tentu saja menjadi canggung. Semenjak berpisah, mereka benar-benar lost-contact.

Seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain.

Haruno Sakura, kau harus bersikap cuek kepadanya. Abaikan saja dia—ucap inner Sakura.

Pelajaran pun dimulai.

Suasana kelas yang sedari tadi membosankan sudah mulai terdengar bising karena Kakashi-sensei menjelaskan tentang alat reproduksi—biologi.

Tetapi, entah kenapa antara Sasuke dan Sakura terdapat keheningan yang luar biasa.

Sakura bingung. Jujur, ia ingin sekali berbicara dengan Sasuke. Tapi apa daya, rasa kecewa terlalu menguasai hatinya. Sakura menundukkan kepalanya. Gadis itu ingin menangis.

Walau duduk bersebelahan. Entah kenapa jarak mereka seperti semakin menjauh.

Bohong jika Sasuke tidak peduli dengan gadis yang sedari tadi terlihat canggung disebelahnya. Sasuke berusaha bersikap cuek tapi sayang, ia tidak bisa. Iris onyx miliknya melirik ke arah Sakura yang sedang menundukkan kepalanya.

Apa gadis ini menangis?

Jujur, dari hati yang paling dalam, Sasuke ingin sekali mengelus kepala Sakura dengan lembut. Mencoba memberikan ketenangan. Tapi apa daya? Mereka tidak seperti dulu lagi. Mereka bukan sepasang kekasih lagi.

Apa mungkin, Sakura tak berniat duduk disebelahnya lagi?

Uchiha Sasuke mengepalkan erat tangannya.

Ia tidak tahan. Suasana ini terlalu menyakitkan.

"Kakashi-sensei."

"Ya, ada apa Uchiha?" Kakashi menatap Sasuke. "Ada pertanyaan?"

"Bisa kita rolling tempat duduk?" Ucapnya sedikit sarkastik.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Aku bosan."

Tanpa pikir panjang, ide Uchiha Sasuke langsung disetujui oleh beberapa murid di kelas.

Lain halnya dengan Haruno Sakura.

Gadis itu terkejut. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Uchiha Sasuke. Pupilnya sedikit mengecil akibat terkejut.

Kenapa?

"Ide bagus. Ayo tulis nomor absen kalian masing-masing, kita akan memakai cara undian saja."

Apa... Sasuke juga membencinya?

Sekali lagi, Sakura menatap Sasuke yang terkesan biasa-biasa saja—cuek.

Ia tak dapat melawan. Dari dalam hatinya, ia tak ingin pindah tempat duduk.

Tangannya bergetar ketika merobek secarik kertas kemudian menuliskan nomor absennya di kertas tersebut.

Apakah rasanya seperti ini ketika berpisah dengan orang yang masih kita sayang? Yang masih kita cintai?

Sasuke seolah tidak peduli.

Entah kenapa, hatinya semakin sakit dan kecewa.

Ah, kenyataan memang kejam.

.

.

.

.

Sakura menatap kosong pada sebuah kertas yang tertempel di dalam papan pengumuman. Beberapa siswa dan siswi juga ikut menatap kertas yang berukuran sedang itu dengan teliti. Sebagian dari mereka ada yang terkejut, tertawa, bahkan bahagia.

Tapi tidak untuk Sakura.

Gadis tersebut menatap kertas yang sedang terlindung kaca dibalik papan pemgumuman tersebut dengan tatapan murka.

PENGUMUMAN!

UCHIHA SASUKE DAN HARUNO SAKURA TELAH PUTUS!

"Ah, mereka putus ya? Sayang sekali."

"Rasakan! Hahaha!"

"Sudah kubilang dari awal, Sasuke-kun hanya bermain-main dengannya."

"Apa ia sudah ditiduri playboy itu?"

"Sasuke tipe orang yang tidak serius ya?"

"Kasihan sekali Sakura yang polos. Hahaha!"

PRANG!—Semua murid yang berada didekatnya terdiam seketika dikala Sakura dengan nekatnya meninju keras kaca pengumuman tersebut dengan tangan kanannya.

Ia tarik paksa tulisan tersebut kemudian merobeknya kasar hingga menjadi potongan kecil.

"Kenapa diam, hah?" Beberapa murid yang sempat berbicara tentang dirinya pun menjadi kaget dan terdiam sembari menatap Sakura. "Pembicaraannya tidak dilanjutkan?"

Hening.

"Jadi..." ucap Sakura dengan nada bergetar. "...katakan padaku siapa yang melakukan hal seperti ini?!" Sakura mengepalkan tangan kanannya. Airmatanya menetes perlahan.

"CEPAT KATAKAN PADAKU SIAPA!"

Entah kenapa beberapa murid tadi hanya diam membisu. Amarah sakura masih belum reda. Ah, bodoh sekali kenapa ia harus melakukan hal seperti ini saat jam istirahat pertama? Bagaimana ia akan melanjutkan pelajaran pada jam berikutnya?

Mungkin, dirinya akan dibawa ke ruang guru untuk mempertanggungjawabkan hal yang sudah ia lakukan.

"Sakura!" Gadis soft pink itu tersentak kaget ketika seorang pemuda berambut merah menarik tangan kanannya perlahan. Mencoba membawanya untuk keluar dari kerumunan manusia yang mengelilingi Sakura sejak tadi.

"Sa-sasori...kun?" Sakura menatapnya bingung.

"Ayo ke UKS. Tanganmu terluka. Cepat."

Ah, Sakura baru sadar kalau tangannya terluka akibat pecahan kaca. Entah kenapa sakitnya tak terasa dibandingkan dengan sakit di hatinya.

Sakura terdiam dan menurut saja ke Sasori. Dengan cepat, Sasori langsung membawa Sakura ke UKS untuk membersihkan darah pada tangan gadis yang ia cintai tersebut.

Dari kejauhan, Sasuke menatap Sakura dan Sasori dengan seksama. Jujur, walaupun pemuda raven ini tidak ada hubungan lagi dengan Sakura, ia masih memperhatikan gadis tersebut.

Ia masih peduli.

Entah kenapa... ketika ia melihat Sasori yang begitu khawatir kepada Sakura membuat nyeri di hatinya bertambah sakit.

Andai saja Sasuke lah yang berada di posisi Sasori, ia tidak akan membiarkan Sakura menampar kaca papan pengumuman tersebut.

Sasuke mengepalkan tangannya. Ah, hatinya sakit sekali.

"Oh, ayolah Sasuke~ untuk apa kau masih menatap drama itu?"

"Ah, senpai ya..."

"Bagaimana kalau kita melanjutkan 'hal' yang sempat tertunda, hm?"

Sasuke menyeringai. "Ah, 'hal itu'?"

Si senpai hanya tersenyum nakal. "Aku... ingin 'ini' masuk ke dalam." Ucapnya sembari menunjuk selangkangan Uchiha Sasuke. "Kau ingin gaya apa?"

"Aku?" Sasuke menunjuk dirinya. "Doggy Style?"

"Ide bagus. Lab Biologi kosong, bagaimana?"

Sasuke hanya menyeringai kemudian merapatkan tubuhnya ke arah sang senpai sembari meremas pantat wanita tersebut. "Akh~"

"Ah, bagian ini sudah lama aku tidak meremasnya."

"Lakukan sesuai apa yang ingin kau lakukan, Uchiha."

Mungkin melakukan hal seperti ini bisa meningkatkan mode Uchiha Sasuke yang hancur.

.

.

.

.

"Akh, sakit!" Sakura meringis ketika Sasori mencoba mengambi beberapa pecahan kaca kecil yang menempel di tangan kanan gadis tersebut. "Pelan-pelan!"

"Aku sudah pelan-pelan, Sakura-chan." Ucap sasori. "Nah, selesai." Sasori kemudian mengambil alkohol dan beberapa perban. "Sini aku bantu mencuci tanganmu."

Dengan pelan, Sasori mencoba membersihkan noda darah di tangan gadis yang ia cintai tersebut. Sakura masih meringis kesakitan.

Bodoh.

Gadis itu hilang kendali saat menampar kaca. Terlalu gegabah.

Sakura melirik Sasori yang tepat berada di belakangnya. Pemuda berambut merah ini adalah tipe yang perhatian. Jauh berbeda dengan Sasuke yang egois.

Sasori lembut dan hangat.

Sakura menatap dalam pemuda dengan wajah baby face tersebut.

Kenapa... ia tidak jatuh cinta dengan Sasori saja?

Mungkin akan lebih baik.

Sakura menggeleng cepat. Tidak mungkin.

"Apa yang kau pikirkan?" Sasori berucap tiba-tiba.

"Ti-tidak ada."

"Kau masih memikirkan si bodoh itu?" Pemuda merah itu mengoleskan alkohol kemudian membalutkan perban ke tangan Sakura perlahan. "Dia memang brengsek."

Sakura terdiam sejenak. Ah, benar. Sasuke memang brengsek.

Dia membuat Sakura yang ogah-ogahan menjadi luluh kemudian meninggalkan Sakura dengan cara seperti ini.

"Aku..." Sakura melirih pelan. "...sakit hati."

Sasori menatap Sakura.

"Padahal... ini pertamakalinya aku jatuh cinta." Sakura menghela nafas panjang. Entah kenapa airmatanya ingin menetes lagi. "Aku jatuh cinta dengan orang yang salah ya?"

"Tinggalkan dia."

Sakura tersentak kaget. "Eh?"

"Masih ada aku disini." Sasori tersenyum lembut. "Nah, sudah selesai."

Sakura tediam.

"Aku menyukai Sakura-chan. Lebih dari apapun."

Kedua tangan pemuda itu menangkup wajah Sakura. Ia kecup lembut jidat Sakura yang lumayan lebar tersebut. Gadis itu hanya tersentak kaget, tak melawan.

Sasori tersenyum. "Itu ciuman penyemangat. Jangan sedih lagi, ya."

Sakura masih terdiam. Bingung hendak mengatakan apa.

"Aku akan meminta izin kepada guru yang mengajar di kelasmu kalau kau sedang sakit. Sebentar."

Sasori pergi tanpa basa-basi. Ia tutup pelan pintu UKS tersebut. Sakura masih terdiam. Ada perasaan hangat yang muncul di hatinya. Gadis itu menatap tangannya yang telah selesai di perban oleh Sasori.

"Sasori-kun..."

Sementara itu di luar pintu tanpa sepengetahuan Sakura, Sasori tersenyum.

Ya, senyum kemenangan.

"Aku tahu kau berada di balik pintu sedari tadi, Uchiha."

Sasuke mendecih tak suka. Akasuna Sasori memliki penglihatan yang tajam rupanya.

"Kau mencium Sakura!" Geramnya. "Kau—"

"—Uchiha Sasuke," potong Sasori. "kau sukses membuatnya hancur berkeping-keping."

Sasuke terbelalak kaget. Berani sekali Sasori memotong pembicaraannya.

"Kau! Apa maksudmu?!"

"Perasaan Sakura yang rapuh, tak akan bisa seperti dulu"

"Kau tahu apa, hah?!"

Seolah tak menghiraukan perkataakan Uchiha Sasuke. Sasori terus berbicara.

"Karena..." Sasori tersenyum. Senyum yang penuh kemenangan. "...sebentar lagi akulah yang akan menggantikan posisimu di hati Sakura."

"A-apa yang—"

"—Terimakasih sudah membuatnya membenci dirimu, Uchiha Sasuke."

Sungguh. Sasuke benar-benar ingin menghantam wajah Akasuna Sasori itu detik ini juga.

Sasori kemudian menjauh dari hadapan Sasuke. Dalam diam, Sasuke masih berdiri di depan pintu UKS. Ia buka sedikit pintu tersebut sembari mencari sosok berambut soft pink—Haruno Sakura.

Disana. Sakura sedang menatap jendela. Mencoba menyegarkan pikiran yang beberapa hari ini sedang kalut.

"Sasuke-kun..." lirihnya. Hal tersebut sukses membuat Sasuke kaget dan penasaran. "...apa kau membenciku?"

"Apa... kau hanya mempermainkanku?"

Sasuke terdiam. Dadanya menjadi sesak seketika. Ingin menjawab, tapi tak bisa.

"Aku... masih mencintaimu, Sasuke-kun."

Andai saja Sasuke punya keberanian, dia ingin sekali memeluk Sakura.

Sakura-nya yang rapuh.

"Tapi..." Gadis itu menggantung kalimatnya. "...jika kau tidak mencintaiku lagi..." Sakura meneteskan airmata. Hatinya kembali sakit. Melebihi sakit yang ada di tangan kanannya. "...aku akan belajar menerima Sasori-kun.

Deg—deg—deg!

"Apa adanya."

Detik berikutnya, Uchiha Sasuke menjauh dari pintu UKS.

Meninggalkan setangkai bunga mawar merah yang tangkainya sudah patah menjadi dua, dan kertas kecil yang tertempel pada tangkai tersebut.

"Sakura, temui aku di atap sekolah jam 4 sore."

.

.

.

.

.

Lambat laun, gadis itu kecewa dan semakin kecewa,

.

Gadis itu kecewa pada sang pangeran raven

.

Tapi... disaat ia kecewa, ada pangeran merah yang selalu berusaha menghiburnya

.

Sejak saat itu ia mulai belajar mencintai pangeran merah sedikit demi sedikit.

.

.

Apa... dia akan jatuh cinta kepada pangeran merah tersebut?

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

.

AKHIRNYA SELESAILAH CHAPTER 10! XD

Maaf atas keterlambatan updatenya yang sangat-sangat lambat~ Ini dikarenakan saya sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi Ulangan semester 1, kemudian berlanjut ke Tryout, Ujian Sekolah dan Nasional jyang telah menanti-menanti, jadi untuk beberapa bulan ke depan saya akan benar-benar HIATUS. Jadi untuk para readers mohon kesabarannya. Jujur. Menurut saya chapter 10 singkat sekali DX

TERIMAKASIH UNTUK PARA READERS DAN SILENT READERS YANG TELAH MEMBACA, MEM-FAVE DAN MENGIKUTI MHP SAMPAI SEKARANG! SUNGGUH SAYA TERHARU SEKALI, TAK MENYANGKA AKAN DAPAT DUKUNGAN SEHEBAT INI. LOVE YOU ALL!

Maaf, saya tak sempat menulis nama kalian satu-persatu *nangis dipojokan* karena menyelesaikan chapter ini sambil ngerjain tugas makalah sekolah. Ini pun saya gak masuk sekolah. Sakit~ DX

Mohon kritik, saran, dan komentar.

Sampai bertemu di Chapter selanjutnya! Entah kapan itu, tunggu saja ya~

Akhir kata,

REVIEW X3