Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Summary : Dunia Shinobi selalu dihadapkan dengan perang, para penjajahakan selalu datang. Sekali lagi, ada pihak yang menginginkan kehancuran dunia Shinobi. Apakah Sang Pahlawan akan kembali mempertahankan perdamaian?, meskipun dia telah kehilangan seluruh dunianya.
Genre : Romance, Drama, Family, Adventure
Rate : M
Pair : NaruSaku, Pair lain nyusul
Setting : Semi-Canon
Warning : OOC, MultiUniverse, Ide pasaran, Gaje, Berantakan
Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak bisa membalas review kalian, saya sebenarnya bingung mau balas gimana, tapi saya baca kok dan saya jadikan pelajaran untuk lebih baik buat kedepannya.
Happy reading...
•
•
Chapter 6. Keputusan Lima Desa Besar
•
Markas Besar Aliansi Shinobi
Suasana tegang memenuhi ruang rapat Mabes Aliansi Shinobi. Sudah tiga hari semenjak kemunculan pertama Ginshiki, selama tiga hari banyak peristiwa yang terjadi. Mulai dari kemunculan Naruto dari universe lain, kabar buruk tentang perang melawan Isshiki, dan penyerangan Ginshiki ke empat desa besar selain Konoha.
Mereka yang awalnya tidak percaya dan ragu akhirnya yakin setelah tertimpa musibah yang sama dengan Konoha. Hal tersebut yang mendasari pertemuan lima pemimpin desa besar dalam Mabes Aliansi Shinobi ini.
Dimeja bundar itu, terdapat lima topi dengan simbol dan kanji yang berbeda melambangkan lima desa yang sedang berkumpul disana. Selain itu beberapa orang penting dari lima desa besar juga ikut serta dalam pertemuan ini. Rapat tersebut tetap dipimpin oleh Mifune, seorang pemimpin Samurai dari Negara besi.
"Jadi kita harus bergerak cepat dan menggunakan seluruh kekuatan yang kita punya mengingat skala kekuatan Isshiki yang telah dijelaskan Naruto"
"Hokage-dono benar, kita harus segera mengumpulkan kekuatan, semakin cepat semakin baik" Raikage setuju dengan usulan Kakashi.
"Seluruh kekuatan itu.., termasuk Edo Tensei?" Pertanyaan Kazekage membuat hening semua orang disana.
"Iya, kekuatan Edo Tensei sangat membantu untuk melawan Pasukan khusus Otsutsuki yang kemampuannya setara dengan seorang Kage" Naruto yang berdiri dibelakang Kakashi menjawab pertanyaan Gaara.
Jawaban Naruto menimbulkan kericuhan dari orang-orang yang masih belum paham dengan skala kekuatan Isshiki dan para anak buahnya. Mereka menganggap Naruto terlalu melebih-lebihkan dalam menjelaskan tingkat kekuatan mereka.
Kebanyakan mereka tidak setuju jika menggunakan kekuatan yang sama dengan kekuatan yang dulu pernah membunuh saudara seperjuangan di perang dunia Shinobi keempat. Membangkitkan orang mati adalah melawan hukum alam. Mereka yang sudah tenang tak sepatutnya dipanggil kembali untuk membantu jalannya perang.
Mifune segera mengangkat tangan guna meredam kericuhan.
"Biarkan Uzumaki-dono menjelaskan tentang perkataannya" Ucap Mifune kemudian. Suasana berangsur hening dan semua mata memandang kearah Naruto.
"Aku tidak membual tentang kekuatan pasukan khusus Otsutsuki yang setara dengan Kage, ketika Ginshiki menyerang desa kalian dia membawa sepuluh orang pasukan kan? apa kalian berhasil mengalahkan sepuluh orang tersebut? Sepuluh orang itu hanyalah sebagian kecil, dari jumlah totalnya sebanyak sepuluh ribu orang" Jelas Naruto dengan tenang. Sebisa mungkin Naruto menahan amarahnya yang sudah diubun-ubun ketika melihat orang-orang yang mengatainya dengan berbagai sebutan yang tidak pantas.
"Tapi, apakah tidak ada pilihan lain Naruto, selain dengan Edo Tensei?"
"Kazekage benar, Bukankah Edo Tensei sudah dilarang sejak perang dunia Shinobi keempat?" Chojuro sang Mizukage keenam menimpali.
"Ini bukan masalah dilarang atau tidak, tapi dari sepuluh ribu orang itu hanya segelintir yang menguasai teknik penyegelan, oleh karena itu Edo Tensei sangat diperlukan jika kita ingin menang" Balas Naruto.
"Jadi kapan mereka akan menyerang?" Tanya Kurotsuchi, Yondaime Tsuchikage itu tampaknya mulai mempercayai berita yang dibawa Naruto.
Kurotsuchi menyesali perbuatannya kemarin, dia tidak mempercayai Naruto, bahkan sampai memfitnahnya sebagai pembual. Akibatnya desa Iwagakure mengalami kerusakan yang lebih parah dibanding dengan desa yang lain. Iwa sama sekali tidak meningkatkan keamanan dan memperketat penjagaan.
Sunagakure dan Kumogakure beruntung karena mempercayai berita Naruto. Sementara Kirigakure juga beruntung karena memiliki seorang Kage yang paranoid, meskipun Chojuro sedikit meragukan berita Naruto, sifat paranoid membuatnya memperketat pengamanan, karena dia takut dengan kemungkinan terjadinya serangan seperti yang dikatakan oleh Naruto.
"Kemarin lusa, bunshinku berhasil menutup gerbang teleportasi dengan Ameterasu, paling lama sekitar dua minggu dari sekarang"
"Secepat itu!?, kita bahkan belum mempersiapkan apa-apa" Sifat paranoid Mizukage keenam kambuh mendengar perkataan Naruto.
"Oleh karena itu kita membutuhkan kekuatan Edo Tensei, waktu kita tidak banyak dan Edo Tensei adalah satu-satunya jawaban, mereka tidak bisa mati dan tidak kehabisan cakra, lagipula kami mendapatkan cukup banyak Zetzu Putih untuk dijadikan tumbalnya"
"Aku setuju dengan Hokage-dono" Tanpa menunggu lama Gaara menyetujui usulan tersebut.
"Aku setuju, jika memang Edo Tensei sangat diperlukan"
"Kurasa aku harus menyetujuinya kan?" Dengan enteng Raikage bertanya kepada sang Assisten berambut pirang.
Samui mengangguk setelah menerima Isyarat dari Raikage keempat yang berdiri di ujung ruangan.
Seluruh mata mengarah kearah Chojuro yang belum mengambil keputusan.
"Mizukage-dono, apa keputusanmu?" Tanya Mifune.
Chojuro menghela nafas, bahunya merosot kekursi yang didudukinya. Menentang pun percuma, karena keempat Kage yang lain sudah sepakat. Jelas-jelas dia sudah kalah suara, mengingat rapat aliansi Shinobi menetapkan sistem voting untuk menentukan keputusan.
"Baiklah kita akan menggunakan Edo Tensei"
Dengan itu Mifune mengetukkan palu, mengesahkan tentang perihal Edo Tensei, Rapat berlanjut untuk membahas rencana dan persiapan perang.
Tiga jam setelah rapat dimulai...
"Apa sudah semuanya?" Mifune menatap satu persatu pemimpin dari kelima desa besar itu, rapat sudah berlangsung tiga jam. Beberapa rencana baik komposisi dan strategi perang telah disepakati.
Kelima Kage mengonfirmasi pertanyaan sang jendral Samurai, ini sudah cukup. Atau setidaknya, untuk hari ini kesepakatan yang dihasilkan sudah lebih dari cukup. Mereka sepakat akan melakukan pertemuan lagi, jika ada perihal baru yang harus dibahas.
"Sebelum aku menutup rapat ini, asistenku akan membacakan hasil dari rapat ini"
Seorang pria berambut cokelat berdehem pelan, menarik atensi semua orang. Suasana menjadi hening dan seluruh mata menatap kearahnya. Asisten Mifune mulai membacakan hasil dari rapat yang berlangsung tiga jam ini. Kurang lebih, isinya sebagai berikut :
Markas besar Aliansi Shinobi akan dipindahkan ke dimensi buatan Naruto, seluruh penduduk dunia juga akan dievakuasi kesana. Dimensi buatan itu akan diperkuat dengan fuinjutsu tingkat tinggi yang mampu mematahkan kemampuan teleportasi Urashiki. Rencananya gerbang teleportasi raksasa. akan dibuat untuk menghubungkan dimensi buatan dengan dimensi lain.
Struktur kepemimpinan Aliansi Shinobi telah ditetapkan.
A —Yondaime Raikage, akan kembali menjadi pemimpin tertinggi aliansi Shinobi. Sama seperti dua perang sebelumnya.
Onoki —Sandaime Raikage juga kembali ditunjuk sebagai penasihat pemimpin tertinggi.
Pasukan aliansi Shinobi dibagi menjadi dua unit, yaitu unit non-tempur dan unit tempur.
Unit non-tempur dibagi lagi menjadi lima bagian, yaitu :
Divisi Strategi, pemimpin Shikamaru Nara —Ninja Konohagakure. Tugasnya adalah mengkoordinasikan jalannya pertempuran.
Divisi Komunikasi, pemimpin Ino Yamanaka —Ninja Konohagakure. Tugasnya bisa dibilang paling penting dalam perang ini, yaitu menghubungkan seluruh unit dengan markas pusat.
Divisi Radar atau Sensor, pemimpin C —Ninja Kumogakure. Tugas mereka adalah mendeteksi keberadaan musuh yang muncul secara tiba-tiba. Untuk mencegah agar pasukan aliansi tidak tertusuk dari belakang.
Divisi Logistik, pemimpin Mei Terumi —Godaime Mizukage. Tugas mereka yaitu mengatur segala persediaan perang. Baik bahan pangan, obat-obatan, peralatan ninja serta peralatan medis. Mereka juga yang akan menyalurkan persediaan ke garis depan.
Divisi pengintaian dan Intelijen, pemimpin Shino Aburame —Ninja Konohagakure. Tugas mereka mencari informasi tentang musuh, mereka akan diterjunkan untuk membaur digaris belakang musuh.
Unit tempur dibagi menjadi sepuluh divisi, yaitu :
Divisi pertama, disebut sebagai divisi pengecoh. Berkekuatan 100.000 pasukan batu abadi iblis Moryou dan Edo Tensei kelas menengah kebawah. Tugas divisi ini sesuai dengan namanya, yaitu untuk mengalihkan perhatian pasukan musuh. Divisi ini akan menyerang secara frontal menuju garis pertahanan musuh dan menjadi garda terdepan pasukan aliansi.
Divisi kedua, adalah spesialis pertempuran jarak dekat dan menengah, berisi ninja sekelas Jonin. Kapten divisi ini adalah Darui —Godaime Raikage.
Divisi ketiga, sama dengan divisi kedua, spesialis pertempuran jarak dekat dan menengah. Pemimpin mereka adalah kapten Kurotsuchi —Yondaime Tsuchikage.
Divisi keempat, disebut sebagai divisi serangan cepat. Divisi ini berisi ninja dengan kemampuan ninjutsu tingkat atas. Divisi ini akan melakukan taktik muncul dan menghilang. Mereka akan diterjunkan ke medan perang yang kesusahan dan melakukan serangan besar-besaran, kemudian divisi ini akan kembali ke markas. Kapten divisi keempat adalah Mifune —Jenderal perang tertinggi para Samurai dari Negara besi.
Divisi kelima, adalah divisi pendukung. Divisi kelima berisi ninja elit yang kemampuan individualnya hampir mendekati seorang Kage atau bahkan lebih. Selain itu Edo Tensei kelas atas juga berada di divisi ini. Divisi ini dibagi menjadi beberapa tim kecil, mereka akan ditugaskan untuk membantu divisi lain yang kesusahan. Kapten divisi ini adalah Kakashi Hatake —Rokudaime Hokage.
Divisi keenam, adalah divisi artileri. Meriam cakra Kumogakure —yang rencananya akan diproduksi secara massal, akan ditempatkan di divisi ini. Kapten divisi keenam adalah, Omoi —Ninja Kumogakure.
Divisi ketujuh, adalah divisi medis. Divisi medis ini dibagi menjadi empat tim, yaitu: (1) tim medis lapangan 1, pemimpin Tsunade Senju —Godaime Hokage, tugas mereka adalah mengobati korban luka ringan yang sekiranya masih mampu untuk kembali kemedan perang, atau memberikan pertolongan pertama pada korban luka berat sebelum dievakuasi ke markas pusat, tim ini mengekor digaris belakang divisi kedua. (2) Tim medis lapangan 2, pemimpin Sakura Haruno —Ninja Konohagakure, tugas mereka sama dengan tim pertama, tapi mereka ditugaskan untuk mengekor dibelakang divisi ketiga. (3) TIm evakuasi, pemimpin Sabaku no Temari —Ninja Sunagakure, tugas mereka adalah mengevakuasi korban luka berat kembali ke markas. (4) Tim medis markas, sesuai dengan namanya mereka akan ditugaskan di markas pusat untuk mengobati korban luka berat yang telah dievakuasi, pemimpin Shizune —Ninja Konohagakure.
Divisi kedelapan, adalah divisi siluman. Mereka berisi oleh para Anbu terlatih. Tugas mereka adalah menyergap pasukan musuh yang terpisah dari kawanannya. Pemimpin Kankurou —Ninja Sunagakure.
Divisi kesembilan, divisi pertahanan terakhir. Mereka ditugaskan untuk menjaga gerbang teleportasi dimensi buatan Naruto. Mereka terdiri dari dari ninja sekelas Chuunin. Pemimpin divisi ini adalah Chojuro —Rokudaime Mizukage.
Divisi kesepuluh, divisi penyerang terakhir, Tugas mereka adalah sebagai eksekutor yang menjadi kunci kemenangan perang ini. Mereka akan terjun ketika kondisi musuh sudah melemah dan menjadi serangan kejutan. Pemimpin divisi ini Sabaku no Gaara —Godaime Kazekage, dia juga didaulat sebagai komandan tertinggi dari kesepuluh resimen tempur pasukan aliansi Shinobi.
Selain itu, kelima desa juga sepakat untuk mengirimkan beberapa Shinobi kelas atas yang akan dijadikan Jinchuuriki dari kesembilan Bijuu. Mereka adalah Gaara sebagai Jinchuriki Ichibi, Darui sebagai Jinchuriki Nibi, Chojuro sebagai Jinchuriki Sanbi, Kurotsuchi sebagai Jinchuriki Yonbi, Kitsuchi sebagai Jinchuriki Gobi, Mei Terumi sebagai Jinchuriki Rokubi, Kankurou sebagai Jinchuriki Nanabi, Killer Bee masih setia bersama Hachibi, dan terakhir Kakashi Hatake sebagai Jinchuriki Kyuubi. Kelima desa juga menyetujui jika para Bijuu akan dikembalikan ke alam liar setelah perang berakhir. Pemilihan Jinchuriki ini berdasarkan desa asal mana Bijuu tersebut berasal —sebelum Bijuu dilepaskan ke alam liar pada masa perang dunia Shinobi keempat, minus Nanabi yang awalnya berasal dari Takigakure. Karena kemampuan khusus Nanabi —memanipulasi benang cakra, cocok untuk dipasangkan dengan master Kugutsu seperti Kankurou.
Kurang lebih seperti itulah hasil rapat aliansi lima desa besar ini. Mifune menatap satu persatu lima Kage disana, jenderal samurai itu mengatakan jika ada yang keberatan diminta untuk angkat tangan. Tidak ada satupun dari kelima Kage yang keberatan, sebaliknya mereka mengangguk mantap. Mifune kemudian mengetuk palu dan menutup rapat tersebut.
Rapat telah selesai, satu persatu perwakilan dari lima desa besar keluar dari ruangan. Mereka semua bergegas kembali ke desa masing-masing. Berita perang harus segera diumumkan, persiapan harus segera dimulai.
•
•
•
Kakashi mengangguk saat Naruto menawari dia serta rombongannya untuk pulang ke Konoha dengan menggunakan Hiraishin. Lumayan bisa menghemat waktu, jarak Markas Aliansi Shinobi dengan desa Konoha kurang lebih sehari perjalanan. Itupun jika mereka berlari.
Secepat kilat mereka telah sampai di gerbang desa Konoha. Penjagaan ketat masih berlaku disana, Izumo dan Kotetsu tampak lebih bersiaga dari hari biasa. Tidak hanya itu, beberapa ninja dari Klan Hyuga dan Klan Inuzuka juga ditugaskan untuk menjaga gerbang desa. Atau lebih tepatnya mereka bertugas untuk memastikan jika orang yang masuk ke dalam desa bukanlah seorang penyusup.
Netra biru Naruto sedikit mengerjap ketika melihat sesosok gadis yang sedang diperiksa oleh ninja yang bertugas digerbang desa. Rambut hitam kebirun sepunggung itu tergerai, sedikit bergoyang karena hembusan angin siang. Tubuh anggun itu perlahan berbalik saat merasakan kehadiran beberapa orang. Wajah feminim yang menunjukkan kesan seorang bangsawan, Lavender jernih gadis itu membola ketika bersitatap dengan Naruto.
"Na-Naruto-kun?"
Hinata Hyuga, selama sebulan terakhir dia tidak berada di Konoha untuk mengurus bisnis keluarga didesa Kusagakure. Kemarin lusa dia dipanggil kembali oleh Hiashi karena kondisi darurat yang menimpa desa. Pewaris sah Klan Hyuga itu, tentunya belum mendengar kabar tentang kedatangan Naruto.
Semua orang juga tahu jika sang Byakugan no Hime memiliki perasaan khusus pada Naruto. Hinata pernah menyelamatkan Naruto pada masa Invasi Pain, rasa cintanya yang sangat besar pada ninja pirang membuatnya rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya.
Pasca kematian Naruto, Hinata juga sama hancurnya dengan anggota Tim tujuh. Tapi kematian Naruto juga menjadi titik terang bagi kehidupan Hinata, Hinata seolah menemukan jati dirinya.
Sulit memang untuk merelakan kepergian sosok yang dicintai. Tapi dia memiliki sebuah tujuan. Naruto pernah menceritakan tentang impiannya selain menjadi Hokage, yaitu memberikan kehidupan yang layak bagi anak yatim dan keluarga yang tidak mampu. Impian itu menjadi hal yang harus dia wujudkan, demi mengenang perjuangan orang yang dicintainya.
Hinata Hyuga yang dulu menjadikan Naruto sebagai patokan hidupnya. Bertransformasi menjadi seorang yang baru, bangkit dari keterpurukan pasca kematian sang tercinta. Tidak ada lagi Hinata Hyuga yang cengeng dan lemah, yang ada hanyalah seorang pebisnis handal dan penerus keluarga Hyuga yang disegani serta dihormati. Dan yang paling membanggakan Hinata menjadi Malaikat tanpa sayap yang membantu rakyat jelata.
Dengan harta kekayaan keluarga Hyuga, dia melebarkan sayap dan terbang ke angkasa. Usaha keluarga yang dulu dikelola oleh ayahnya, dia ambil alih. Berkat usaha keras dan tekat yang kuat bisnis keluarga berkembang pesat. Bisnis yang dulunya hanya bergerak disektor pertanian ini melebar ke beberapa bidang lain, seperti wisata, teknologi, farmasi, hingga hiburan.
Untuk mewujudkan impian orang yang mengisi relung hatinya, Hinata rela mengorbankan perasaannya. Tidak ada lagi Hinata yang lemah lembut kepada semua orang. Menjadi pebisnis tidak mudah. Kadang hal kotor dan licik perlu dilakukan. Diperlukan tangan besi untuk sukses. Menjatuhkan pebisnis lain yang menjadi batu sandungan sudah sering dia lakukan. Semua itu demi keberhasilan tujuannya.
Mimpi telah terwujud, sebagian keuntungan bisnis keluarga yang dikelola olehnya dia sumbangkan dengan tujuan kemanusiaan. Panti asuhan, panti jompo, yayasan veteran, dan penggalangan amal sudah menjadi bagian hidup Hinata. Tak terhitung berapa banyak harta yang telah dia gelontorkan untuk mereka.
Hinata menjelma menjadi monster bagi para orang berada, sekaligus menjadi dewi bagi orang yang hidup merana.
Setelah bangkit dari keterpurukannya pasca ditinggal orang yang dicintainya, Hinata berjanji untuk tidak akan pernah jatuh cinta. Menikah menjadi hal yang terakhir di daftar keinginannya. Dia ingin berfokus mengejar impiannya.
Akan tetapi, melihat sosok pria bersurai pirang yang berdiri disana, Hinata merasa telah mengingkari janjinya sendiri. Sepertinya sang pewaris sah Klan Hyuga harus menelan ludahnya sendiri. Lagi dan lagi Naruto Uzumaki selalu bisa membuatnya jatuh hati.
•
•
•
"Hinata" gumam Naruto lirih, tapi masih bisa ditangkap oleh orang disekitarnya.
Hinata masih mematung, pandangan matanya sulit diartikan. Karena sosok yang dicintainya —yang seharusnya sudah beristirahat dengan tenang, kini berdiri disana.
Suasana mendadak canggung bagi mereka berdua, entah kenapa mereka tidak tahu penyebabnya. Hal itu tentunya disadari oleh orang-orang disana.
Naruto menelan kering, memaksakan senyum kaku dibibir nya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Naruto-kun sendiri?" suara lembut nan merdu itu mengalun halus ditelinga Naruto,
"Baik, ngomong-omong kau darimana?"
"Aku dari Kusagakure"
"Untuk misi?"
"Bisnis, Naruto-kun sendiri dari mana?"
Hanya pertanyaan ringan yang bisa mereka lontarkan satu sama lain. Hinata sebenarnya ingin menanyakan perihal yang lebih spesifik tentang Naruto tapi dia menahannya. Menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
"Aku dari Mabes Aliansi Shinobi"
"Pertemuan lima desa besar?" tebak Hinata tepat sasaran, tebakannya didasari oleh panggilan Ayahnya untuk menyuruhnya pulang ke desa.
"Iya" angguk Naruto.
Hening, setelah itu tidak ada yang kembali membuka pembicaraan, Hinata kehabisan perkataan, dan Naruto sendiri bingung hendak mengatakan apa. Hingga suara seorang anggota Klan Hyuga yang menjaga gerbang menginterupsi mereka.
"Hinata-sama, proses pemeriksaan sudah selesai, anda sudah boleh pergi"
Hinata mengangguk, kemudian kembali menatap Naruto.
"Bisa kita bicara setelah ini, Naruto-kun?"
Naruto ingin menolak, setelah ini masih ada pertemuan dengan para petinggi desa untuk mengumumkan hasil rapat aliansi Shinobi. Tapi dia tidak enak hati jika harus menolak permintaan Hinata.
Naruto terdiam beberapa detik, hingga tepukan dipunggungnya menyadarkan dirinya. Ia menoleh ke kiri, melihat Kakashi mengangguk, seolah memberi Isyarat untuk menerima permintaan Hinata. Memberinya izin untuk tidak menghadiri pertemuan dengan para petinggi desa.
"Baiklah, tunggu aku diperiksa dulu ya"
"Um" Angguk Hinata.
•
•
•
Menikmati es krim memang cocok untuk suasana siang terik seperti saat ini. Es krim di mangkok Naruto tersisa setengah, dia terus menyuapkan sendok demi sendok es krim ke mulutnya. Lidahnya mengecap rasa manis sedikit asam dari es krim jeruk miliknya.
Hinata juga sama, dia masih sibuk dengan es krim miliknya. Bedanya,miliknya rasa vanilla.
Sebenarnya, menikmati es krim masing masing adalah cara untuk meredakan kecanggungan satu sama lain.
Pikiran Hinata menerawang jauh, memikirkan kalimat apa yang hendak disampaikan kepada Naruto. Otak cerdasnya mendadak tumpul saat berhadapan dengan Naruto, rasa gugup yang telah lama hilang seolah kembali tanpa diundang.
Dan Naruto, entah kenapa bingung bagaimana cara untuk mengatasi Hinata, rasa bersalah menyelimutinya tanpa tahu apa penyebabnya. Mungkin karena, dia tidak bisa membalas perasaan gadis ini kepadanya?. Naruto tidak buta, dia sangat tahu jika Hinata menaruh hati kepada dirinya. Yang Naruto saat ini bisa lakukan hanyalah membiarkan ini mengalir sesuai arusnya.
Es krim masing-masing telah habis tak bersisa, kecanggungan kembali datang, Hinata masih belum menemukan kalimat yang ingin ia lontarkan. Pada akhirnya, hanya sebuah desahan panjang yang sanggup ia lontarkan.
"Jujur aku bingung mau bicara apa" Ungkap Hinata.
Naruto termenung sejenak kala netranya menangkap paras rupawan gadis didepannya, dia sendiri juga bingung pada saat ini, dirinya merasa gagal sebagai seorang pria, karena tidak mampu mengatasi kecanggungan ini. Entah darimana itu berasal, tiba-tiba Naruto mendapat firasat jika Hinata ingin mendengar alasan dirinya berada disini.
"Bagaimana kalau aku bercerita tentang bagaimana aku bisa disini?" tawar Naruto.
Itulah sebenarnya apa yang ingin Hinata tahu, tapi dirinya tidak mampu untuk mengungkapkannya. Untungnya Naruto dengan senang hati akan memberitahunya. Hinata mengangguk kecil lalu berujar.
"Boleh, jika Naruto-kun tidak keberatan"
"Tentu saja tidak, sebenarnya aku..." Naruto menceritakan asal usul kenapa dia berada disini. Mulai dari dirinya yang berasal dari universe lain, perang dengan Otsutsuki, hingga perpindahan dia ke universe ini. Naruto menceritakan semuanya dengan sangat detail, bahkan Naruto menceritakan tentang kedua anaknya dan hubungannya dengan Sakura.
Dia memang sengaja menceritakan tentang kedua anaknya dan hubungannya dengan Sakura.
Bukannya dia bodoh, sebaliknya, dia tidak ingin memberi harapan palsu pada Hinata, Naruto secara tidak langsung mengatakan jika dia tidak bisa membalas perasaan Hinata. Memang itu akan menyakiti perasaan Hinata, tapi akan lebih sakit jika dia memberi Hinata harapan tanpa kepastian dan ujung-ujungnya dia tidak bisa membalas perasaannya.
Ah, Naruto berharap jika setelah ini hubungannya dengan Hinata akan baik-baik saja.
Naruto telah selesai menceritakan kisahnya, senyum kecut tampak tidak cocok ketika terpatri dibibir manis Hinata. Sorot sendu dari manik lavender gadis itu tidak bisa disembunyikan. Hinata termasuk gadis yang peka, dia mengerti dari makna tersirat dalam perkataan Naruto.
"Aku benar-benar tidak punya harapan kan?" lirih Hinata.
"Maaf" hanya kata maaf yang bisa diucapkan oleh Naruto.
Hinata menggeleng kecil. Naruto yakin jika sudut mata Hinata bergetar saat ini, menahan tangis yang kapanpun dapat pecah.
"Bukan salahmu" gadis itu menghela nafas berat "Salahku sendiri karena tetap mencintaimu, meski aku tahu jika hatimu selalu milik orang lain"
Naruto bingung dengan apa dia akan menjawab perkataan Hinata, pada akhirnya dia tidak berniat untuk menjawabnya.
"Tapi aku tidak menyesal karena mencintaimu, mencintaimu membuatku menjadi lebih baik, aku bisa seperti ini karenamu"
Naruto menatap Hinata dengan raut bingung, ia tidak mengerti maksud tentang sepenggal kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hinata.
"Tadi Naruto-kun sudah menceritakan kisahmu, sekarang giliranku, kuharap kau mau mendengarkan kisahku ini" ujar Hinata, ketika menangkap raut bingung diwajah Naruto.
"Boleh, jika kau tidak keberatan" balas Naruto meniru perkataan Hinata tadi. Keringkan jahil sengaja dia tampilkan untuk menghilangkan suasana canggung yang masih melingkupi mereka. Dia ingin mengangkat kesedihan yang terpancar di netra lavender Hinata.
Hinata mau tidak mau tersenyum, bukan senyum kecut lagi melainkan senyum tulus yang berasal dari lubuk hatinya. Dia mengerti jika Naruto ingin menyemangatinya, Hinata tahu jika Naruto ingin dirinya untuk tidak terus bersedih hati. Perlahan rasa sedihnya mereda, tiba-tiba dia tidak jadi ingin menangis.
"Tiga tahun yang lalu..." Hinata menceritakan kisah hidupnya pasca kepergian Naruto, mulai dari keterpurukannya hingga dia bangkit menjadi sosok baru, yaitu dirinya sekarang. Naruto mendengarkan sepatah kata demi kata yang keluar dari mulut Hinata, sesekali ia menimpali cerita Hinata dengan candaan garing khasnya.
Setelah Hinata selesai dengan kisahnya, Naruto dibuat kagum dengan transformasi seorang gadis pemalu yang sering pingsan ketika bertemu dengannya menjadi seorang wanita dewasa dengan segala prestasi dipundaknya.
Naruto juga cukup terkejut melihat seberapa besar pengaruh dirinya pada Hinata, dia memang tahu jika gadis yang memiliki perasaan khusus kepadanya itu, menjadikan dirinya sebagai panutan dan tolak ukur terhadap dirinya sendiri. Saat Hinata menyelamatkan Naruto ketika masa invasi Pain beberapa tahun silam, Hinata pernah mengungkapkan jika dia ingin berdiri sejajar dengan Naruto —bukan menatap punggungnya. Tapi, mendengarnya lagi membuat Naruto mau tak mau tercengang. Dan Hinata sekarang tidak hanya berdiri sejajar dengannya, tapi Hinata lah yang sekarang berbalik memunggunginya.
Hanya dengan sebuah kalimat Naruto tentang impian mensejahterakan rakyat jelata, menginspirasi Hinata hingga menjadi seperti sekarang. Seorang gadis yang disebut Dewi oleh rakyat kecil dan monster bagi orang-orang berada.
Naruto tersenyum bangga ketika Hinata menyelesaikan perkataannya, sorot mata Naruto tampak tulus dari lubuk hatinya.
"Aku sangat bangga padamu Hinata"
Hinata tersenyum gugup melihatnya, wajahnya merah merona, jantungnya berdebar-debar melihat senyum indah sosok yang dicintainya.
"Terima kasih, semua itu karenamu" Balas Hinata salah tingkah karena pujian Naruto, hilang sudah seluruh sifat yang mencerminkan kedewasaannya sebagai pebisnis handal. Dihadapan Naruto, dia kembali menjadi remaja tanggung yang sedang jatuh cinta.
"Bukan, aku tidak berbuat apa-apa" sanggah Naruto.
"Tapi jika terinspirasi olehmu aku tidak akan melakukannya"
"Jika tidak terinspirasi olehku? tentu saja kau akan terinspirasi oleh orang lain"
"Hanya kau satu-satunya orang yang dapat menginspirasiku, Naruto-kun"
Naruto tergelak, tawanya tidak dapat dibendung. Hinata yang dulu penurut kini membantahnya habis-habisan, seiring dengan berjalannya waktu, semua orang berubah. Mungkin hanya dirinya yang masih sama. Hinata ikut tertawa kecil seolah tertular oleh tawa Naruto.
Obrolan keduanya terus berlanjut, entah sejak kapan percakapan mereka mengalir lancar, kecanggungan sudah tidak lagi keduanya rasakan. Pembicaraan mereka berdua terasa seperti mantan kekasih yang sudah berbaikan, meski hubungan mereka berdua tidak pernah lebih dari sekedar teman.
•
•
•
Langit jingga menghiasai suasana sore desa Konoha. Langkah kaki Naruto membawa tubuhnya sampai ke salah lapangan training didesa Konoha, lapangan inilah yang dulunya digunakan sebagai tempat latihan Tim 7. Naruto termenung didekat pagar pembatas lapangan training. Netranya menerawang jauh melihat hutan didalam sana. Pikirannya sedikit gusar, pertemuannya dengan Hinata lah yang menjadi penyebabnya.
Naruto merasa dirinya sebagai pria terbodoh di dunia, dia tadi berkata tidak ingin memberi harapan palsu kepada Hinata. Tapi, tindakannya tadi seolah mengingkari perkataannya sendiri. Hinata jelas-jelas masih memiliki rasa pada dirinya, dan ia tadi seperti memberi lampu hijau kepadanya.
Dia seharusnya pergi setelah menceritakan tentang asal-usulnya, bukan menghabiskan waktu hingga sore hari bercakap-cakap dengan Hinata.
Cukup lama berdiam diri disana, Naruto disadarkan oleh kedatangan aura seorang yang sangat dikenalnya.
"Masalah dengan Sakura?"
"Bukan urusanmu Teme"
Sasuke menghela nafas, dia sedikit heran dengan sahabat pirangnya itu yang selalu tampak tertekan jika menyangkut masalah perempuan.
"Mau membicarakannya?"
"Sudah kubilang bukan urusanmu"
Sasuke melompat kedalam kawat pagar pembatas lapangan training, dan memberi isyarat kepada Naruto untuk mengikutinya. Dengan sedikit menggerutu Naruto mengikutiku Sasuke. Kini mereka sudah berdiri berhadapan ditengah lapangan.
Sasuke mengambil sebuah ranting pohon, menggores ujungnya ketanah dan melangkah kakinya berjalan memutari Naruto yang masih kebingungan. Hingga sebuah lingkaran tidak sempurna mengelilingi mereka. Kemudian melemparkan ranting tersebut secara asal.
"Jika kau tidak mau membicarakannya..." Sasuke mengangkat tangan kirinya, membuat sebuah segel yang sangat familiar Dimata Naruto, segel persahabatan yang diajarkan oleh Iruka pada masa belajar di Akademi Ninja, segel ini digunakan untuk memulai pertarungan persahabatan. "Kita bisa melakukan ini" Seringai khas Uchiha tampil sombong di bibirnya.
Seringai rubah terpatri dibibir Naruto tanpa bisa dicegah, jujur dirinya memang membutuhkan ini. Sudah cukup lama semenjak dia terakhir kali baku hantam dengan Sasuke. Dia merindukan saat-saat adrenalin nya terpacu karena pertarungan.
Naruto membalaskan segel tangan Sasuke dengan segel yang serupa, seperkian detik kemudian mereka melesat kearah masih masing.
Gelombang kejut tercipta ketika kedua siku kanan dari mereka bertemu, Sharingan biasa Sasuke telah aktif. Sage mode Naruto juga sudah diaktifkan. Kemampuan Senjutsunya sudah berada di level yang sama dengan Hashirama Senju, mengumpulkan energi alam dalam sekejap mata bukanlah masalah.
Kedua siku mereka masih saling menempel, Sasuke mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk menghantam dagu Naruto dengan lututnya. Naruto tentu dapat menangkisnya dengan mudah. Naruto balas melakukan pukulan lurus ke wajah tampan Sasuke.
Tanda bahaya mengalun keras ditelinga Sasuke, dia hapal dengan gaya bertarung sahabat pirangnya. Memukul dengan telapak tangan adalah teknik beladiri katak. Dia tidak bisa menangkisnya atau menghindarinya dengan cara biasa. Oleh karenanya, Rinnegan dia aktifkan, tubuhnya langsung bertukar tempat sebuah daun yang kebetulan melayang dibelakang Naruto. Tidak hanya itu Sasuke, juga menyiapkan sebuah tendangan ke pungggung sahabatnya itu.
Dalam Sage mode, sensor Naruto meningkat berkali-kali lipat, begitupun dengan refleknya. Naruto langsung tahu jika Sasuke muncul dibelakangnya. Naruto salto kedepannya menghindari tendangan Sasuke. Tapi sebelum kakinya sempat menapak tanah, bibirnya dibuat mendencih karena merasa sebuah hawa panas yang menghampirinya.
Sebuah bola api ukuran sedang meluncur cepat kearah Naruto, Naruto bukanlah seorang yang cerdas, tapi dia adalah jenius pertarungan. Naruto tahu jika bola api itu hanyalah pengecoh, serangan utama pasti telah dipersiapkannya oleh Sasuke.
Naruto menggunakan Jutsu yang sejak tadi disimpannya. Dengan Hiraishin ia berpindah ke belakang Sasuke, entah sejak kapan kunai cabang tiga itu tertancap disana, sebuah tendangan sudah dia siapkan.
Sasuke seolah tahu jika Naruto akan muncul dibelakangnya, maka dia juga sudah mempersiapkan tendangan memutar kebelakang.
Kedua telapak kaki mereka saling bertemu, mereka berdua diam selama beberapa detik diposisi ini. Mereka berdua kembali menghilang dengan sekejap mata. Saling beradu pukulan dan tendangan, kecepatan mereka tidak mampu dilihat oleh mata, tapi suara pukulan itu terdengar jelas mengisi kesunyian sore lapangan training, hanya kilatan cahaya kekuningan dan keunguan yang terlihat. Tak ada satupun pukulan yang berhasil mereka daratkan ke tubuh lawan masing-masing.
Inilah yang terjadi jika kedua orang dengan level yang sama dipertemukan, selain itu mereka berdua juga sudah hapal dengan gaya bertarung satu sama lain. Mereka berdua muncul dari ketiadaan dan berdiri berhadapan.
"Bagaimana kalau dilarang menggunakan jurus teleportasi" Ujar Sasuke seraya menyipit, melawan pengguna teleportasi tingkat tinggi seperti Hiraishin sangat merepotkan.
Naruto mengangguk.
"Hanya Taijutsu?" tawar Naruto.
"Hanya Taijutsu" ulang Sasuke menyetujui usulan Naruto.
Sedetik kemudian mereka berdua sudah saling baku hantam, Naruto dengan gaya bertarung Kawazu Kumite, dan Sasuke dengan Taijutsu khas Uchiha. Kali ini mereka berhasil mendaratkan serangan ke badan satu sama lain, terlihat jelas dipilih Naruto yang lebam dan sudut bibir Sasuke yang sedikit robek.
Naruto dan Sasuke sama-sama terengah-engah menatap satu sama lain. Bibir keduanya berkedut, tidak lama kemudian mereka tergelak keras, bahkan Sasuke yang minim ekspresi kali ini ikut terbahak bersama Naruto. Mereka berdua merindukan suasana seperti ini. Suasana ketika dunia damai, mereka yang sering terlibat pertarungan hanya karena masalah sepele.
Entah kenapa beban dipundak Naruto terasa lebih ringan. Pening dikepala pirangnya sedikit berkurang, Ia merasa tidak perlu khawatir lagi dengan masalah yang selalu mengekori punggungnya. Memang, beberapa pukulan dari seorang teman terkadang bisa mengobati luka, meski akan menimbulkan luka lain. Tapi luka fisik dapat sembuh dengan sendirinya, lain dengan luka hati yang kadang membutuhkan orang lain untuk menyembuhkannya.
Gelak tawa keduanya terinterupsi oleh suara meriah tepuk tangan, entah sejak kapan puluhan anak-anak berdiri di pinggir lapangan training. Binar kagum nampak jelas di mata mereka. Mereka dapat disimpulkan sebagai siswa Akademi ninja Konoha karena mereka ditemani seorang pria dewasa dengan rambut dikuncir dan memiliki sebuah bekas luka melintang di hidungnya.
Iruka Umino, nama pria tersebut, guru Akademi Ninja Konoha. Dia adalah salah satu sosok penting dalam kehidupan Naruto. Naruto lantas berjalan menghampirinya.
"Iruka-sensei!"
"Yo Naruto"
Sebuah pelukan hangat seperti pelukan seorang Ayah kepada anaknya, Naruto dapatkan dari Iruka. Tepukan keras dipunggung Naruto hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Punggungnya masih nyeri sehabis baku hantam dengan Sasuke tadi. Mereka tertawa keras hingga melupakan sekelilingnya. Para siswa Akademi menatap bingung perlakuan sang sensei kepada Ninja berambut pirang itu.
Mereka melepaskan pelukan satu sama lain. Iruka menjelaskan kepada para siswa Akademi itu jika Naruto dulunya adalah muridnya, tapi disangkal oleh Naruto. Menurut Naruto tidak ada yang namanya mantan guru, ikatan antar guru dan murid bertahan selamanya. Selamanya dia akan tetap menjadi murid Iruka.
"Sensei darimana?"
"Perpustakaan desa, ngomong-omong bagaimana kabarmu"
"Lumayan, sensei sendiri?"
"Seperti yang kau lihat, kudengar Ichiraku sudah berjualan, mau mampir sebentar?"
"Boleh asal sensei mentraktirku"
Iruka tertawa keras, Pria dengan luka melintang di hidungnya itu mengangguk. Pria itu menatap Naruto dengan pandangan sulit diartikan.
"Kau berubah banyak, Naruto"
"Tidak kok, aku masih seperti dulu"
"Baiklah, habis ini tunggu aku di Ichiraku, aku akan mengantarkan mereka kembali ke Akademi" ujar Iruka menunjuk para muridnya.
Kemudian mereka pergi dari lapangan training, meninggalkan Naruto dan Sasuke disana.
Sepeninggalan Iruka, Sasuke melemparkan sebuah gulungan kepada Naruto. Ditangkap dengan sempurna olehnya. Naruto mengernyit kebingungan.
"Apa ini?"
"Data penelitian milik Shin"
Inilah tujuan utama Sasuke ketika menemui Naruto. Baku hantam tadi hanyalah sebuah bonus baginya. Setelah di pikir matang-matang Sasuke merasa jika dia harus merelakan rahasia dibalik Klan Uchiha yang telah dipecahkan oleh Shin jatuh ke tangan Orochimaru.
"Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Orochimaru membutuhkan itu untuk menyelesaikan proyeknya, selain itu dia juga butuh cakra senjutsu Rikudou darimu"
Naruto mengangguk, dia mengerti dengan baik maksud dari perkataan Sasuke. Naruto berencana akan mengirimkan bunshin untuk menemui Orochimaru. Dia berbalik hendak pergi dari sana, hingga suara Sasuke menginterupsinya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah pada Hyuga"
Ucapan Sasuke menghentikan langkah Naruto, ninja pirang itu sedikit menoleh, melirik sahabatnya dengan sudut matanya.
Bagaimana Sasuke bisa tahu hal itu? karena dalam pertarungannya barusan, Naruto mencurahkan seluruh isi hatinya. Petarung tingkat tinggi mampu menyalurkan perasaan melalui setiap pukulan yang ia lancarkan. Perasaan itu hanya bisa dipahami oleh sesama petarung kelas atas. Naruto dan Sasuke yang merupakan Shinobi tingkat dewa tentunya adalah petarung tingkat tinggi.
Ditambah lagi, tadi siang ketika dia mencari Naruto, Shikamaru memberitahu Sasuke jika Naruto sedang bersama Hinata. Mudah baginya untuk menebak apa yang mengganggu sahabatnya.
"Entahlah Teme, ini semua membuatku gila" ucap Naruto, bibirnya mengulum senyum kecut.
"Kau ada saran?" tanya Naruto.
"Tidak perlu merasa bersalah padanya," dengan entengnya Sasuke mengulangi perkataannya tadi.
"Caranya?" tanya Naruto sambil memicing, meragukan tingkah sahabatnya ini yang seolah tahu solusi masalahnya.
"Pikirkan itu sendiri Dobe, kau 'kan lebih handal soal beginian"
Dengusan nafas Naruto terdengar keras, sementara Sasuke hanya balas menyeringai. Tidak lama kemudian, Sasuke telah hilang dari sana bersama dengan hembusan angin.
"Dasar Teme"
•
•
•
Malam kian larut didesa Konoha, angin berhembus pelan menghantarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Suara serangga yang saling bersahutan mengisi kesunyian malam.
Naruto kini menapaki jalan setapak disalah satu sudut desa Konoha, bibirnya terus tersenyum kala mengingat peristiwa barusan. Ia baru saja kembali dari Ichiraku. Niatnya untuk menerima traktiran Iruka, tapi dia tidak menyangka jika ternyata teman-teman yang lain kebetulan juga datang kesana. Lee, Chouji, Kiba, dan Shino sudah berada disana bersama Iruka ketika dia tiba. Sementara Sai dan Yamato menyusul tidak lama kemudian.
Terjadilah reuni dadakan antara mereka. Ichiraku menjadi sesak oleh teman-teman seangkatannya itu. Mereka nongkrong hingga lupa waktu, untungnya Paman Teuchi memfasilitasi acara mereka. Kedai Ichiraku yang biasanya tutup pukul sembilan malam, karena terjadi reuni dadakan ini menjadi tutup pukul sebelas malam.
Bertemu dengan teman-teman, membuat Naruto mampu melupakan masalahnya barang sejenak. Ditambah pembicaraan dengan Iruka. Guru Akademi itu memberi Naruto nasihat untuk menyelesaikan masalahnya. Naruto disadarkan bahwa dia masih memiliki orang-orang yang berdiri disampingnya. Dia kembali diingatkan jika dirinya masih memiliki teman-teman yang akan ikut membahu beban bersamanya.
Naruto sempat melupakan fakta tersebut, fakta tentang sifat alami seorang manusia untuk bekerja sama, alih-alih bertindak sendirian. Dia sadar jika dirinya tidak akan bisa menjadi seperti ini tanpa dukungan teman-teman dan keluarga.
Keluarga?
Mengingat keluarga, langkahnya terhenti, netra biru Naruto menatap kearah monumen wajah Hokage terpahat di tebing desa. Lebih tepatnya ke pahatan wajah Yondaime Hokage. Senyum di bibirnya sontak hilang, sorot sendu itu tidak bisa dia sembunyikan.
Naruto merindukan kedua orangtuanya.
Namun di detik berikutnya senyum kembali di bibirnya, sorot matanya tidak lagi sendu. Kakinya kembali melangkah, Naruto teringat pertemuan dengan teman-temannya.
Ketika kecil, Naruto pernah merasa Tuhan tidak adil karena dia tidak mempunyai orang tua. Tapi seiring berjalannya waktu, Ia menyadari suatu hal. Tuhan telah memutuskan apa yang terbaik untuknya. Naruto memang tumbuh tanpa kasih sayang orangtua. Tuhan maha adil kepada seluruh hambanya, Tuhan telah menghadirkan beberapa orang yang menjadi figur orangtua bagi Naruto.
Bahkan bisa dibilang dia memiliki tiga figur ayah, Iruka sebagai orang pertama yang mengakui keberadaannya, Teuchi yang memberi makan perutnya dikala ia tidak mampu untuk mendapatkan sesuap makan, dan Jiraiya yang mengajarkan Ia tentang arti jalan hidup seorang Ninja.
Ditambah Tsunade sebagai figur Ibu yang selalu mengkhawatirkannya dan Sandaime Hokage sebagai figur Kakek yang peduli kepada cucunya.
Dan jangan lupakan teman-teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga. Baginya itu sudah cukup.
Naruto sudah tidak ingin lagi menyesali apa yang terjadi di masa lalu, dia menghormati semua pengorbanan yang telah terjadi.Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, baginya setiap pengorbanan tidak ternilai harganya.
Langkahnya terhenti ketika matanya melihat sebuah gedung apartemen berlantai empat. Apartemen Sakura berada di lantai dua dalam gedung ini. Waktu di Ichiraku tadi, Yamato memberitahunya bahwa Sakura telah pindah ke apartemen. Yamato memberitahunya alamat dan nomor apartemen Sakura. Yamato mengetahui hal itu karena dirinyalah yang membangun gedung apartemen Sakura. Dengan bantuan Sai, Yamato jugalah yang memindahkan barang-barang Sakura dari kediaman keluarga Haruno.
Tidak mau berlama-lama mematung disana Naruto masuk kedalam gedung tersebut, kakinya melangkah melewati satu persatu anak tangga hingga sampai dilantai dua. Netranya memindai satu persatu nomor yang tertera di pintu kayu, hingga nomor 12 menyita perhatiannya.
Ketukan pelan ia lancarkan, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Ketika pintu terbuka seorang perempuan berbalut handuk terlihat disana. Surai merah mudanya tertutup oleh handuk lain yang lebih kecil. Bulir-bulir air terlihat jelas dibeberapa bagian tubuhnya. Sakura baru saja selesai mandi, mandi di waktu yang hampir mendekati tengah malam sebenarnya tidak baik. Sebagai seorang wakil kepala rumah sakit, Sakura tentunya mengetahui perihal tersebut.
Tapi tubuhnya yang penuh keringat memaksanya untuk melakukan kegiatan tidak sehat itu. Dia tadi membereskan barang-barang miliknya yang telah dipindahkan dari kediaman Haruno. Hanami dan Shinachiku masih dititipkan di rumah orangtuanya. Persiapan perang membuatnya harus pulang larut malam dan membuatnya tidak bisa menjaga kedua balita itu.
Naruto mematung melihat pemandangan didepannya. Sesuatu ditubuhnya terasa bergejolak, bagian lain diantara kedua kakinya perlahan menegak. Dirinya hanyalah pria normal yang tentunya akan panas dingin jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Naruto bahkan yakin jika ekspresi wajahnya pasti terlihat aneh Dimata Sakura.
Sementara Sakura hanya memutar kedua bola matanya ketika melihat ekspresi mesum diwajah Naruto. Ia tidak terlalu heran dengan itu. Sepertinya terlalu lama berguru dengan orang mesum membuat Naruto tertular sifat mereka.
"Kau mau masuk atau tidak?" tanya Sakura dengan bosan.
Buru-buru Naruto mengangguk, dengan cepat ia mengusir seluruh pikiran negatif yang memenuhi kepalanya.
"Jangan memasang tampang mesum seperti itu Baka, kau mau tidur diluar?"
"Eh, tentu saja tidak" balas Naruto cepat, dia segera memaksa wajahnya untuk terlihat senormal mungkin. Tapi dirinya bukan Sasuke yang bisa memasang wajah batu dengan mudah. Ekspresinya malah terlihat seperti sedang menahan berak yang ujungnya sudah keluar.
Sakura tergelak, dia kemudian berujar "Sudahlah, kau mandi saja sana, akan kusiapkan makan malam"
"Tidak usah Sakura-chan, aku sudah makan banyak di Ichiraku"
"Oh," Sakura tiba-tiba memasang wajah jijik ketika menatap Naruto "Kalau begitu cepat mandi sana, kau bau tau" Ujar Sakura sambil menjapit hidungnya. Sebelah tangan melambai mengusir Naruto.
Sakura kini sedang duduk berselujur di karpet yang ia gerai diruang tamu, tangannya sibuk mengisi map yang tergeletak diatas pangkuannya. Tiga puluh menit telah berlalu, dan Naruto belum keluar dari kamar mandi. Entah kenapa sebersit pemikiran merasuki kepala Sakura. Mengingat ekspresi Naruto tadi, ia yakin jika Naruto sedang melepaskan hasratnya dikamar mandi. Membayangkan hal tersebut membuat wajahnya memanas.
Speak of the devil
Orang yang dibayangkannya sudah mengambil tempat duduk disebelahnya. Sakura buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik helaian rambut yang menjuntai membingkai wajahnya. Dia berpura-pura fokus pada map ditangannya. Meski sebenarnya pikirannya melayang kemana-mana.
"Apa yang sedang kau kerjakan Sakura-chan?"
"Hanya laporan logistik"
"Sampai selarut ini? seharusnya kau istirahat" Nasihat Naruto lembut.
"Kau tahu sendiri 'kan, waktu kita tidak banyak, aku harus menyelesaikannya malam ini juga"
"Tapi tetap saja, kau butuh istirahat" Helaan nafas Naruto mengisi kesunyian malam, "Kudengar dari Yamato-taichou kau sudah berkerja keras hari ini" Sambung Naruto tidak mau kalah.
"Tidak apa-apa, ini juga hampir selesai kok, sebaiknya kau tidur duluan ya, tidak usah menungguku" balas Sakura sambil menoleh. Senyumnya seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah, tapi biarkan aku menemanimu sampai selesai" Ujar Naruto dengan nada final, Sakura hanya mengangguk dan kembali mengisi dokumen logistik desa. Keheningan menyelimuti mereka, tidak ada yang mencoba untuk memecah keheningan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sakura dengan pekerjaannya dan Naruto yang entah sedang merenungkan apa.
Lima belas menit kemudian Sakura telah selesai dengan pekerjaannya. Perempuan itu meregangkan otot-ototnya yang pegal karena habis bekerja seharian, dia melirik kearah Naruto.
Naruto masih terdiam, raut wajahnya terlihat serius. Sakura tercengang. Dia tidak mau mengakui jika Naruto terlihat tampan tanpa ekspresi konyol yang sering dia tampilkan. Guratan kedewasaan yang tegas, Mata biru langit yang tajam alih-alih teduh. Rambut pirang cepak yang sedikit berantakan. Tanda lahir di pipinya menimbulkan kesan lain bagi Sakura.
Naruto terlihat seperti seorang pria sejati, Bukankah Naruto memang pria sejati? entah kenapa Sakura melupakan fakta itu? Mungkin karena dia terlalu sering melihat tingkah konyol Naruto.
Hal itu menimbulkan gelenyar aneh dalam diri Sakura. Ingatan tentang malam ketika dia bersama Naruto datang tanpa diundang. Dadanya bergemuruh. Entah sejak kapan pahanya dia rapatkan, hingga menimbulkan sensasi aneh pada pangkalnya. Kewanitaannya bahkan telah basah oleh cairan. Tubuhnya tiba-tiba terasa lengket oleh keringat, padahal belum sampai satu jam yang lalu dia mandi.
Sakura terlalu sibuk dengan pemikirannya, hingga tidak menyadari jika Naruto tengah memperhatikannya.
"Kau sudah selesai?" tanya Naruto.
Sakura kelimpungan, dia segera menggelengkan kepala berharap pikiran kotor itu segera hilang dari sana.
"Uhm" gumam Sakura tanpa berani menatap Naruto.
Naruto tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Sakura, dia hendak menanyakannya, tapi sebelum bibirnya sempat bersurai Sakura terlebih dahulu berbicara.
"Naruto, apa kau tadi bermasturbasi saat dikamar mandi"
Kali ini Naruto yang ganti kelimpungan, dirinya tidak mengerti bagaimana Sakura bisa tahu tentang kegiatannya dikamar mandi tadi? apa jangan-jangan dia terlalu berisik tadi hingga melupakan sekelilingnya? dengan gugup dia malah bertanya.
"Eh, kenapa kau bicara seperti itu Sakura-chan?"
"Aku tahu kau tadi bermasturbasi saat dikamar mandi"
"Ti-"
"Jujur padaku Naruto, siapa yang kau bayangkan saat melakukannya?" Suara Sakura naik satu oktaf, Naruto tahu jika berbohong pun dia tidak bisa.
"Aku membayangkanmu Sakura-chan"
Sakura menoleh hingga kedua mata itu bertemu, netra biru Naruto dapat melihat wajah Sakura yang memerah. Naruto baru menyadari tentang gelagat aneh Sakura, emerald itu nampak berkabut. Peluh membasahi kulit putih Sakura.
Entah apa yang merasukinya, detik berikutnya Sakura telah berpindah keatas pangkuan Naruto.
"Jika kau menginginkannya, kau tinggal memintanya padaku baka" ujarnya cepat.
Naruto diam seribu bahasa, kesadarannya seolah hilang entah kemana. Tanpa sempat mengelak Sakura telah membungkam mulutnya, lumatan itu menarik kembali kesadaran Naruto. Naruto balas melumatnya, kedua insan itu saling bertukar saliva, lidah mereka bersilat satu sama lain.
Naruto menyeringai ketika merasakan lumatan Sakura, bibir peach itu terasa seperti rasa manis khas jelly, mungkin Sakura baru saja memakan Anmitsu favoritnya. Sakura melumatnya penuh nafsu dan terkesan terburu-buru, seperti seorang amatir.
Mereka melepaskan pagutan karena harus memasok kebutuhan oksigen untuk paru-paru mereka. Selama beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain, seutas benang saliva menghubungkan kedua bibir mereka. Sebelum akhirnya bibir mereka kembali tersatukan. Adegan terus berlanjut hingga kalian pasti tahu sendiri apa yang terjadi setelahnya.
(bayangin sendiri aja tong, males bikin bokep gaada referensi)
•
•
•
TBC
Usia para tokoh bagi yang masih bingung.
Naruto : 24 tahun (universe asal Naruto garis waktunya lebih cepat 3 tahun)
Sakura : 21 tahun
Hanami : 4 tahun
Shinachiku : 2 tahun
Sasuke dan angkatan rokie 12 juga 21 tahun.
AN : ini cuma pemanasan buat adegan baku hantam, udah gitu aja anjeng, jgn lupa tinggalkan jejak.
sekian, gw KNTLSUPER undur diri bye bye
