.
"...aku akan belajar menerima Sasori-kun apa adanya."
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
AU/OOC/Romance/Drama/Lime-Lemon
.
.
.
.
.
Akasuna Sasori menatap heran kepada bunga mawar merah yang—tangkainya sudah patah menjadi dua—tepat berada di depan kakinya. Perlahan, pandangannya teralih pada kertas kecil yang tertempel pada tangkai mawar tersebut. Ia buka perlahan kemudian seringai menghiasi bibir tipisnya.
"Sakura, temui aku di atap sekolah jam 4 sore."
Ia remas kertas kecil itu kemudian ia masukkan kedalam saku celananya.
Masa bodoh.
Bagaimanapun caranya Sakura harus jadi miliknya. Sedikit lagi, Uchiha Sasuke akan tersingkir.
Seringai tersebut kemudian berubah menjadi senyum manis. Ya, senyum manis untuk ia perlihatkan ke Sakura-nya.
Ia buka perlahan pintu UKS. Sontak Sakura langsung membalikkan badannya ke arah pintu UKS. Kedua bola matanya langsung bertatapan dengan bola mata gadis yang ia cintai.
Hanya dengan bertatapan seperti itu saja sudah membuat Sasori kesenangan setengah mati.
"Ah, a-aku kaget," Sakura tersenyum hambar. "aku kira Sasuke."
Sasori masih tersenyum. Dalam hati, pemuda itu mengutuk nama Uchiha Sasuke.
"Sakura. Aku ada pesan dari Sasuke." Ucap Sasori to-the-point.
Sakura kaget. "A-apa?" balasnya tak sabar. "Cepat katakan, Sasori-kun!"
"Hei, hei. Tenanglah." Sasori kemudian memberikan bunga mawar tersebut. "Ini bunga mawar darinya."
Sakura mengambil bunga tersebut kemudian terdiam sejenak. Kenapa ia menjadi tak sabar saat mendengar nama mantan kekasihnya itu?
Sasori kesal setengah mati.
"Sasuke menyuruhmu untuk menemuinya di atap sekolah nanti."
Kedua bola mata Sakura terbelalak kaget. Yang benar saja? "Se-serius?"
Apakah ini kesempatan mereka berdua untuk kembali bersama?
"Iya." Sasori berucap singkat.
"Kapan?" Sakura semakin tak sabar. "Ja-jam berapa?"
Sasori menyeringai.
Rencananya tak boleh gagal.
"Jam 5 sore."
Ah, Akasuna Sasori—
"Ba-baiklah." Gadis itu mengangguk. "Aku akan menemuinya nanti." Sakura tersenyum senang. Kedua matanya menyipit.
—kau jahat sekali.
.
.
.
.
My Hentai Prince
.
Chapter 11
.
.
Original Story from Azuka-nyan
.
.
Rate M for Lime and Lemon
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 04.15 pm. Sasuke terus melihat ke arah layar smartphone miliknya. Hanya sekedar mengecek jam. Pemuda berambut raven itu terlihat gelisah. Ia berpikir sejenak.
Sakura tak mungkin telat. Itu hal pertama yang dia pikirkan. Saat kalipertama dia meminta Sakura ke atas atap sekolah gadis itu datang tepat waktu.
Tapi... kenapa yang ini telat?
Kedua, Sakura tidak mungkin tidak melihat bunga mawar dan kertas itu. Sasuke ingat dia benar-benar pas meninggalkan kedua benda itu tepat di depan pintu UKS. Jika Sakura keluar, gadis itu pasti melihatnya.
Jangan-jangan petugas kebersihan membuangnya?
Sasuke menggeleng cepat. Tidak mungkin. Petugas kebersihan selalu membersihkan lorong saat semua siswa sudah pulang dan tak ada kegiatan lagi.
Kegiatan sekolah berakhir jam 5 sore.
Apa Sakura masih di UKS dan belum keluar?
04.20 pm.
Sakura masih belum datang.
Sasuke kembali membuka smartphone miliknya kemudian mencari kontak Sakura. Dapat!
Pemuda raven itu kemudian berinisiatif menghubunginya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak ak—!
"Sialan!"
Kenapa di saat genting seperti ini selalu ada cobaan?
Padahal Uchiha Sasuke berniat untuk mengajak gadis itu agar kembali bersamanya—sebelum gadis itu mulai merasakan perasaan suka ke Akasuna Sasori, si wajah bayi yang membuatnya selalu kesal dan ingin memukulinya habis-habisan.
Pemuda itu percaya, sabar pasti ada hasilnya.
Sasuke terus menunggu.
Dan menunggu.
Anginnya menerpa kulitnya pelan. Dia lupa membawa sweater hari ini.
04.47 pm.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi.
04.55 pm.
Mungkin Sakura sedang sibuk.
Drrrttt!
Smartphone Sasuke bergetar. Ia lihat dengan tajam siapa yang sedang menghubunginya.
Ia berharap Sakura.
Haruno Sakura.
Tapi sayang, disana tertulis Uchiha Itachi.
Pemuda itu menghela nafas.
Sudah berapakali ia dikecewakan?
Dengan perasaan malas ia mengangkat panggilan tersebut.
"Apa?"
"Cepat pulang! Aku ada urusan sekarang!" Itachi bernada tinggi. "5 menit harus sampai!"
"Cih! Iya, iya!" Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bawel!"
Panggilan pun berakhir cepat.
Sasuke kemudian mengambil tas sekolahnya yang tepat berada di samping kaki kanannya.
"Kau... benar-benar membenciku, ya?"
Pemuda itu tersenyum pahit.
Dengan lesu Sasuke berjalan pulang menuju rumahnya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat.
Perasaan sakit muncul di dalam tubuhnya.
"Terimakasih sudah hadir dihidupku."
05.05 pm.
Haruno Sakura berlari cepat menuju tangga untuk pergi ke atas atap sekolah. Ditangannya terdapat bunga mawar merah pemberian Uchiha Sasuke—mantan kekasihnya—yang ia pegang erat.
"Ah, terlambat!" Gerutunya sembari berlari menaiki tangga terakhir.
Hampir saja dia melupakan janji penting ini.
"Untungnya hanya terlambat 5 menit."
BRAK!—dibukanya kasar pintu atap sekolah. Sakura masih berusaha mengatur nafas. Kepalanya tertunduk ke bawah. Keringat mengalir deras diseluruh tubuhnya.
Deja vu. Ia pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
"Sa-Sasuke-kun!" Sakura mulai mendongakkan kepalanya. "Maaf aku terlam—eh?"
Kosong.
"Sasuke-kun?"
Sunyi.
"Hei, apa ada orang?"
Sepi.
Mungkin Sasuke terlambat—pikir Sakura positif.
Gadis itu terus menunggu.
Angin dingin menerpa kulit gadis tersebut entah sudah berapakali.
Ia terus menunggu hingga jam menunjukkan pukul 05.20 pm.
Sakura meremas tangkai bunga mawar pemberian Sasuke.
Lama sekali.
Ia jelas masih ingat ketika Sasuke pertamakali memintanya untuk datang kesini. Sasuke tidak terlambat saat itu.
Malah, pemuda itu yang pertama datang.
"Sasuke-kun dimana?"
Ingin menghubungi tapi smartphone Sakura mati.
Gadis berambut soft-pink itu pun terisak kecil.
05.30 pm.
Dingin.
Sakit.
Kecewa.
Apa Sasuke berbohong? Atau Sasori yang berbohong?
Sakura menggeleng cepat. Sasori baik. Dia tidak mungkin bohong.
Jadi... Sasuke mempermainkannya lagi?
"Bodoh," Sakura tertawa. "Disaat seperti ini aku masih memercayai pemuda brengsek seperti dia?"
Dia memang brengsek.
Sasuke brengsek.
"Aku terlalu berharap dia akan kembali padaku."
Sakura menangis. Ia remas bunga mawar tersebut kemudian melemparnya.
"Bodoooohhh!" Teriak Haruno Sakura sekuat tenaga.
"Sakura?"
Gadis itu melirik ke arah pintu atap sekolah.
"Sa-Sasori-kun?"
Sial.
Ia kira Sasuke yang datang.
"Sasuke belum datang?"
"Ayo pulang." Ucap Sakura dengan nada dingin. Tak mengubris pertanyaan Sasori.
Sasori terdiam. Ada secuil perasaan bersalah pada Sakura. Tapi demi kelancarannya, dia harus melakukan hal seperti ini.
"Ayo," Sasori tersenyum. "aku antar sampai rumahmu ya."
Dengan berani Sasori menggenggam tangan Sakura.
Dingin.
"Sakura, kau kedinginan?"
Sakura diam tak merespon.
"Kau bisa sakit nanti. Ayo cepat." Sasori memberikan blazer miliknya ke Sakura. "Aku akan membuatkan sup hangat di rumahmu. Bahannya ada 'kan?"
Sakura masih terdiam. Airmatanya kembali mengalir.
"Dia yang brengsek atau aku yang bodoh?"
Ucapan tak berdosa itu keluar dari mulut manis Sakura. Sasori terlihat kaget.
"Tak apa," Sasori mengusap kepala Sakura dengan lembut. "kau... gadis yang kuat."
Sakura kembali menangis.
Ia... sangat-sangat membenci Uchiha Sasuke.
Sasori menyeringai samar.
"Ayo pulang."
Rencananya berhasil.
.
.
.
.
"Kau tidak apa-apa?"
Sakura mengangguk. "Hm."
"Tapi tanganmu dingin dan badanmu panas sekali." Sasori membantu Sakura masuk ke dalam rumah gadis itu. "Aku buatkan sup hangat, ya."
"Tidak usah."
"Jangan membantah, Sakura-chan." Sasori meletakkan telapak tangannya di jidat Sakura yang lumayan lebar. "Panas sekali."
Sakura menghela nafas cepat. Pandangannya mulai kabur.
"Kau demam. Ayo aku akan mengantarmu ke kamar."
Dengan bridal-style, Sasori menggendong Sakura. Gadis berambut soft-pink itu tak bisa berpikir apa-apa lagi. Iris emerald-nya memudar. Kepalanya terasa berat. Entah kenapa ia terus memikirkan Sasuke yang tak datang. Padahal dia sudah menunggu.
"Sakit." Rintih Sakura pelan. Ia memeluk Sasori erat.
Sasori merasa kasihan. "Maaf." Lirih pelan pemuda tersebut.
"Ini lebih sakit daripada luka yang ada di tanganku."
Iya, Sasori tahu itu. Makanya pemuda berambut merah itu meminta maaf.
Setelah tiba di kamar Sakura, ia rebahkan perlahan gadis tersebut. Wajahnya terlihat gelisah dan suhu tubuhnya semakin meningkat panas.
"Dia brengsek." Gumam Sakura.
Sasori bingung hendak mengatakan apa.
Sebenarnya buka Uchiha itu yang brengsek.
Tapi dirinya.
Ya, Akasuna Sasori lah yang brengsek.
Sasori suka ramalan, Sasori suka Sakura.
Ia tak peduli.
Ia harus mendapatkan Sakura walaupun dengan cara kotor seperti ini.
"Sudahlah," Sasori mengelus lembut kepala Sakura. "jangan terlalu dipikirkan."
Sakura terisak. "Dia melakukan 'hal seperti itu' dihadapanku! Dia juga menyuruhku datang, tapi dia sendiri yang tidak datang." Gadis itu mengacak-acak rambut soft pink nya frustasi. "Aku lelah dipermainkan, Sasori-kun."
Sasori terdiam.
"Lalu semua ini untuk apa?" Haruno Sakura meneteskan airmatanya lagi. "Kata-kata manis, cinta, dan sayang yang sering dia ucapkan padaku, itu semuanya untuk apa?"
"..."
"Aku sakit hati, bodoh sekali."
Tangisan gadis itu pun mengencang. Sasori masih terdiam.
Maafkan aku. Ucap Sasori dalam hati.
Sasori merasa ia sudah keterlaluan.
Tapi... ia sangat ingin mendapatkan Sakura.
"Tenanglah, Sakura." Sasori kembali mengelus kepala gadis tersebut. "Kau cantik dan kau bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari dia, percayalah."
"..."
"Aku akan membuatkanmu sup dulu, istirahatlah."
Sakura mengangguk kemudian memeluk erat boneka yang ada disampingnya.
"Aku akan meletakkan supnya di meja makan. Setelah kau sudah mulai membaik, makanlah." Sasori masih menatap Sakura. "Setelah membuatkanmu sup, aku langsung pulang. Maaf ya Sakura-chan, aku tak bisa lama disini."
Pintu kamar Sakura tertutup pelan. Tanpa Sasori sadari gadis itu kembali terisak.
Dilain pihak Sasori merasa bersalah. Pemuda merah tu mengacak-acak rambutnya kesal.
Apa yang telah dia lakukan?
Apakah semua ini benar?
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 10.30 pm. Kedua mata Sakura terbuka perlahan. Gadis itu bangun dari tempat tidurnya, mencoba melihat sekeliling kamarnya yang terasa dingin.
Sepi.
Tangan kanannya meraih Smartphone miliknya, mencoba mengecek sesuatu.
Tak ada satupun pesan dari Sasuke.
Oh, iya.
Mereka sudah putus.
"Sulit sekali rasanya menerima semua ini."
Ah, Sakura hampir lupa dengan sup yang dibuatkan oleh Sasori. Bergegas gadis itu menuju dapur. Sayangnya sup itu sudah dingin. Daripada lapar, lebih baik dia makan saja.
Sakura duduk perlahan. Perasaan sunyi masih menghiasi sekitar.
"Sasuke..."
Entah kenapa perasaan sunyi seperti ini sangat berpotensi untuk mengingat beberapa kenangan dia dan Sasuke.
"...bodoh."
Sakura sadar mereka tidak mempunyai hubungan khusus lagi.
Kata-kata manis Sasuke masih teringat di kepalanya.
Kau harus berpacaran denganku!
Mengingat beberapa kata Sasuke yang begitu bodoh membuatnya tersenyum.
Panggil aku Darling, Honey!
Tingkah laku pemuda raven itu terkadang membuatnya tertawa.
Aku suka Sakura.
"Aku..." Sakura kembali menitikkan air matanya.
Jadilah milikku, Sakura.
"...juga suka Sasuke."
Jadi...
Aku mencintaimu.
"Sangat suka."
...semua perjuangan ini untuk apa?
"Bodoh! Hiks!"
Apa tidak ada artinya?
Sakura kembali menangis dalam kesunyian.
.
.
.
.
.
Sasuke-kun, bagaimana kalau besok kita di hotel seperti biasa?
Uchiha Sasuke mendecih kesal ketika ia mendapat sebuah pesan dari seniornya. Pemuda itu memandang jijik kearah layar Smartphone tersebut.
"Menjijikkan."
Persetan dengan pesan itu. Dia lebih tertarik dengan pesan Sakura.
Sayangnya Sasuke merasa takut untuk mengirimi pesan kepada mantan pacarnya tersebut.
Ia takut akan menggangu.
Mungkin Sakura berusaha move-on?
Tidak. Ia tidak mau.
Jangan sampai Sakura jatuh ke Sasori. Sasuke tidak rela.
Hanya Sasuke yang boleh memiliki Sakura.
Hanya Sasuke yang boleh menyentuh Sakura.
Sakura masih miliknya.
"Kenapa si bodoh itu tidak mengingat kejadian 2 tahun lalu?!" Sasuke menggerutu kesal.
Andai saja Sakura mengingat kejadian itu dengan cepat, semua tidak akan seperti ini.
"Aku akan menemuinya besok. Menjelaskan semuanya!"
.
.
.
.
Seharusnya Sasuke tidak masuk sekolah hari ini.
Seharusnya dia membolos saja.
Seharusnya dia menonton film yang baru saja dia download tadi malam.
Tapi... semuanya sudah terlanjur.
"Sa-sakura?" lirih Sasuke pelan.
Hatinya sakit.
Untuk kesekian kalinya.
Melihat Sakura yang memeluk Sasori dengan erat membuatnya semakin sakit.
Ya, Sakura dan Sasori berpelukan dibelakang halaman sekolah, dan Sasuke tak sengaja melihatnya.
"Aku sayang Sakura-chan, kau mau jadi pacarku?" tanya Sasori pelan.
Sakura terdiam sejenak.
"A-aku..."
"SAKURA!" Sasuke berteriak keras. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Gadis yang bernama lengkap Haruno Sakura itu terbelalak kaget kemudian menoleh ke arah sumber suara. Iris emerald gadis itu menatap seolah tak percaya.
"Sa-Sasuke-kun?"
Tuhan, kapan semua kesalahpahaman ini berakhir?
.
.
.
.
.
Gadis beramput soft-pink itu semakin terjerat diantara duri yang terus melilitnya
.
Pangeran berambut raven tak akan pernah datang menolongnya
.
Yang menolongnya hanya pangeran berambut merah
.
Kekecewaan gadis itu semakin meluap kepada pangeran berambut raven
.
Dan dia bersumpah tak akan sudi untuk melhat wajah pangeran tersebut
.
Sayangnya gadis itu tak tahu
Bahwa pangeran raven dijebak oleh pangeran merah
.
Agar si pangeran merah bisa mendapatkan gadis tersebut
.
Bagaimanapun caranya
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
IT'S BEEN A LONG TIME~
KEMBALI LAGI BERSAMA SAYA DI CHAPTER 11! XD
Maaf atas keterlambatan updatenya. Sudah 1 tahun lebih X'( mungkin ceritanya terlalu singkat ya? Maaf tak setimpal dengan penantian kalian.
TERIMAKASIH UNTUK PARA READERS DAN SILENT READERS YANG TELAH MEMBACA, MEM-FAVE DAN MENGIKUTI MHP SAMPAI SEKARANG! SUNGGUH SAYA TERHARU SEKALI, TAK MENYANGKA AKAN DAPAT DUKUNGAN SEHEBAT INI. LOVE YOU ALL!
Maaf, saya tak sempat menulis nama kalian satu-persatu *nangis dipojokan* karena menyelesaikan chapter ini sambil ngerjain proyeksi peta. Saya kuliah ambil jurusan geografi, jadi saya akan lebih berurusan dengan dunia di luar sana. Geo the explorer :v hahaha.
Mohon kritik, saran, dan komentar.
Sampai bertemu di Chapter 12! Saya akan berusaha untuk tidak discontinued X"(
Akhir kata,
REVIEW X3
