Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

"Inilah tahap terberat dari sebuah penelitian," Shikamaru menguap malas, "membuat kesimpulan." Dia menggerak-gerakkan lehernya yang terasa kaku setelah seharian berkutat dengan komputer.

Naruto disibukkan oleh buku catatan kecil di tangannya. Membandingkan beberapa data dalam tabel hasil penelitian kelompok kerjanya bersama Shikamaru.

"Aku tahu ini terlalu mudah bagimu. Kau hanya harus lebih rajin."

Shikamaru tergelak dengan kalimat Naruto. "Maksudmu aku pemalas?" protesnya tak terima.

"Maksudku, aku ini bodoh tapi memiliki keinginan dan cita-cita," balasnya sambil memamerkan dengan lebar sederet giginya yang putih. Setelah itu kembali bergumul dengan catatan kecil di tangannya yang tampak sudah lusuh karena terus digoresi pensil dan dihapus berulang kali.

"Maksudmu aku tidak memiliki keinginan dan cita-cita?"

Naruto tertawa. "Hey aku tidak berkata begitu. Bagiku semua orang itu sama, entah dia memiliki daya pikir tinggi atau rendah, yang terpenting dari semua itu adalah kemauan."

"Secara halus kau menyindirku, baiklah baiklah, aku akan pikirkan ulang apa cita-citaku nanti." Shikamaru melipat laptop di hadapannya. Memasukkan laptop itu ke dalam ransel. Ia mulai memberesi peralatan tulis dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.

Hari menjelang sore, matahari membias menjadi warna oranye yang indah. Di meja taman ini helaian maple berjatuhan, sebagian terbang terbawa angin, seolah menegaskan hari yang hangat di musim ketika daun-daun berguguran. Tanah bak permadani sewarna merah kecokelatan, tertutup hamparan dedaunan. Suara angin yang berdesau ria menghempas guguran daun kering, menerpa wajah dua manusia yang tengah duduk di sana. Kampus semakin sepi. Naruto pun berkemas untuk pulang.

"Akhirnya selesai." Shikamaru mendesah panjang. "Aku yakin istrimu sudah menunggumu di rumah." Ia bersiul seraya melirik temannya yang sedang sibuk berbenah.

Naruto menoleh cepat. Heran dengan pikiran buruk Shikamaru yang selalu menuduhnya telah memiliki istri. "Kau masih penasaran dengan cincin yang kugunakan ini?"

Shikamaru menjawab dengan deheman pelan.

Naruto tertawa, sejurus kemudian sebuah pukulan mendarat di kepala Shikamaru. Pria itu mengaduh kesakitan. Nyaris ia membalas pukulan Naruto, namun pria pirang itu lebih dulu melompat menjauhinya. Shikamaru mendengus jengkel.

"Ini pemberian Ibuku. Kenapa kau selalu mempermasalahkannya?"

"Sudahlah lupakan! Pulang sana!"

Keduanya berjalan menuju gerbang kampus. Naruto tak hentinya menggoda Shikamaru dengan celotehannya yang berisik. Pun Shikamaru tetap mendengarkan, meskipun Naruto pemuda yang merepotkan, baginya sendiri Naruto adalah teman. Mereka telah bersama sejak tahun pertama kuliah. Paling tidak, Shikamaru sudah seperti buku harian bagi Naruto yang senang menceritakan banyak hal.

Rumah yang mereka tuju tidak searah. Shikamaru kerap menggunakan kereta untuk pulang dan pergi dari rumahnya yang terbilang jauh dari Tokyo. Sementara Naruto pulang menggunakan bis.

Ia berjalan menuju halte. Hari semakin gelap. Beberapa pelajar SMA berseragam masih terlihat berlalu-lalang, memenuhi nyaris seperempat kursi tunggu di sana. Naruto asik memainkan gadgetnya, memasang headset di telinganya, ketika bis yang ia tunggu datang beberapa menit kemudian. Naruto masuk lalu mengambil kursi di dekat jendela. Di dalam bis yang lenggang, musik dari smartphonenya mengalun sedikit mengundang kantuk di matanya. Perlahan Naruto terpejam. Namun hanya beberapa saat sebelum kemudian ia harus membuka mata kembali. Ponsel di tangannya bergetar menunjukkan sederet nomor dengan nama seseorang di layarnya. Wajahnya mengukir senyum kala melihat nama itu. Digesernya tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.

"Naruto-kun,"

Senyuman Naruto semakin mengembang. "Ah, apa kau sudah makan? Bagaimana dengan pemeriksaannya hari ini?"

"Aku baik-baik saja. Jangan berlebihan." terdengar rengekan dari suara di seberang.

"Bagaimana bisa aku tidak berlebihan padamu? Entah kau selalu membuatku ingin berlebihan padamu."

Naruto tersenyum menang. Ia yakin lawan bicaranya tengah tersipu malu di kejauhan sana. Entah apa yang membuatnya senang menggoda gadis ini. Senyumannya, wajahnya yang bersemu, tawanya, suaranya, seperti sihir yang selalu menghipnotis Naruto setiap waktu untuk terus teringat padanya. Gadis yang dulu sering diam-diam menaruh cokelat di lokernya sewaktu SMA. Gadis yang diam-diam sering menyelipkan surat kecil di laci mejanya. Orang yang selalu mengikutinya dan menemaninya saat dirinya sendiri, ia tak tahu tepatnya sejak kapan sesuatu dalam hatinya mulai tumbuh. Perasaan dimana dirinya takut jika gadis itu pergi dari sisinya.

Pandangannya bergulir pada sebentuk logam yang melingkar di jemarinya. Tangannya yang lain bergerak untuk menyentuh benda itu. Tatapannya berubah sayu. Ada sensasi aneh yang melilit di perutnya setiap kali melihat cincin itu. Perasaan yang tidak nyaman dirasakan.

Ingatannya melayang pada wajah ibunya yang cantik. Wanita yang telah memberinya cincin ini.

"Hm, besok kita berangkat bersama. Dan oh, aku suka jus jeruk yang kaubuatkan kemarin itu. Rasanya manis."

Tangan Naruto bergerak kembali memegangi cincinnya, sedetik kemudian benda itu telah ia lepaskan lalu ia masukkan ke dalam saku kemeja. Ia tidak tahan jika secara tidak sengaja harus melihat benda itu menempel di tangannya. Naruto membuang napas panjang. Melegakan rongga dadanya yang akhir-akhir ini sering terasa sesak tanpa ia tahu karena apa sebabnya. Yang jelas cincin itu adalah salah satu pemicunya.

"Baiklah, Sampai jumpa nanti."

.

.

.

"SAKURA!"

Teriakan seorang wanita paruh baya menggema di seluruh ruangan. Ia baru saja tiba di rumahnya setelah seharian ini bekerja penuh mengajar mahasiswa di beberapa kampus. Pasalnya, baru ia menginjakkan kaki di tempat dimana puterinya berkuliah, telinganya sudah dipanaskan oleh kabar-kabar tidak menyenangkan seputar Haruno Sakura. Desas-desus mengenai band milik Sakura dan teman-temannya yang mengadakan konser ilegal kemudian ditangkap petugas keamanan telah tersebar luas di seantero kampus. Kenyataan bahwa grup band tersebut juga merupakan salah satu dari sub di organisasi kesenian musik di kampus membuat pihak universitas tidak bisa tinggal diam. Beruntung Sakura hari ini tidak ada jadwal kuliah, paling tidak gadis itu bisa menghindari hukuman yang mungkin diperolehnya hanya untuk beberapa hari.

Sang objek teriakkan terlihat tenang, meskipun di luar manusia-manusia yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini justru berkoar-koar membicarakan dirinya sampai mulut mereka berbusa. Ia tetap menikmati hari kosong kegiatannya dengan posisi duduk santai di sofa dan kedua kakinya yang disilangkan di atas meja. Sesekali ia mengorek-ngorek kupingnya, tangannya sibuk memainkan layar smartphone. Mengabaikan teriakan ibunya yang terlalu berisik.

"Kau, tidak mendengarkanku Nona Kecil!" Tsunade menjewer kuping si gadis dari belakang lantas merebut smartphone dari tangan Sakura.

"Aw, sakit Kaa-san." Sakura meringis, berusaha melepaskan jeweran ibunya.

Tsunade berjalan mengitari sofa kemudian duduk di dekat Sakura. Sambil memasang tatapan sangar ia memberikan isyarat untuk kaki Sakura menggunakan dagunya.

Dengan enggan Sakura menurunkan kakinya, ia duduk dan bersikap baik. Bagaimana pun ia tak mau wanita paruh baya di hadapannya mengamuk dan memblokir semua sumber uang yang digunakannya selama ini.

"Ya Kaa-san, apa yang membuat soreku yang tenang ini harus terganggu?" Sakura menjawab malas.

"Sore yang tenang matamu!" Tsunade melepaskan jewerannya di telinga Sakura. "Bisa kau jelaskan mengapa semua orang membicarakan dirimu di kampus?"

Sakura berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Seingatnya tak ada hal yang ia lakukan yang bisa membuat semua orang membicarakannya. Tidak, selain insiden Sakura mengguyur mahasiswa kedokteran Uzumaki Naruto tempo hari, tidak juga, selain ia dan teman-temannya mengadakan konser tanpa izin yang membuat mereka ditangkap dan digiring ke kantor polisi. Aha, pasti karena itu. Wajah Sakura berubah murung. Padahal mati-matian dia menyembunyikan agar tak ada seorang pun yang tahu soal kejadian itu.

"Dari mana mereka tahu?" tanyanya sarkastik. Matilah ia, jika nenek sihir ini sudah menegurnya, artinya apa yang ia lakukan sudah melewati batas yang telah ditetapkan.

"Sial, apa yang harus aku lakukan? Ibu cerewet ini pasti akan menghukumku." Sakura mulai mengecilkan volume suaranya saat mengatakan kalimat terakhir.

"Apa katamu?"

"Tak ada Kaa-san." Sakura tertawa kaku. "Jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi. Boleh aku pergi sekarang?" pamitnya sopan, ia membungkuk dan melangkah pergi berusaha membuat jarak sejauh mungkin dari ibunya.

"Tunggu!"

Kalimat Tsunade sukses membuat langkah Sakura terhenti. Dalam hati gadis itu merutuk, kalau saja kakinya bisa lebih cepat berjalan.

"Haruno, duduk dan dengarkan Kaa-sanmu!" tegas Tsunade penuh penekanan.

Sakura dengan berat hati berbalik dan kembali duduk bersama sang ibu. Sekalipun dirinya memiliki tipikal paling buruk di dunia ini, satu hal yang tak bisa dibantahnya, itu adalah kalimat Tsunade, orang yang telah membesarkannya selama ini.

Tsunade menarik napas panjang sebelum memulai kembali pembicaraan. "Sungguh kau semakin buruk dari hari ke hari. Kau ingat cincin itu?"

Pandangan Sakura bergulir pada cincin yang tersemat di jari manisnya. Tentu saja ia ingat, benda ini sudah sangat lama menempel di jemarinya. Tentu saja ia ingat kejadian beberapa tahun lalu itu.

Sakura menjawab dengan anggukan kepala.

"Sepertinya kita harus membicarakan itu dalam waktu dekat."

"A-aa—"

"Aku tidak menerima bantahan, Haruno!"

Sakura menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Hal inilah yang paling dibencinya, saat dirinya tak bisa melakukan apa pun meskipun sesuatu dalam hatinya berontak. Sakura menahan emosinya, karena itu napasnya terasa sesak. Kata-kata yang tadi akan ia ucapkan seolah tertelan. Suaranya menghilang.

"Mari kita akhiri semua ini Sakura, aku sudah tidak tahan dengan tingkah lakumu. Aku melakukannya demi dirimu." Tsunade mencoba menjelaskan, ia berdiri dan pergi dari hadapan Sakura.

"Sial!" umpat Sakura geram. Nyaris ia melemparkan smartphone di tangannya jika saja ia tak ingat ancaman Tsunade yang tidak akan membelikan lagi Sakura gadget jika anaknya itu membanting lagi smartphone hanya karena marah. Sebagai gantinya Sakura menghentakkan keras-keras kakinya ke lantai.

.

.

.

.

"Tadaima."

Baru saja satu langkah Naruto memasuki rumah, ia disambut oleh kedua orangtuanya lengkap di depan pintu. Heran sekaligus takut, mungkinkah sesuatu telah terjadi?

"Okaeri. Naruto-kun, kami ingin membicarakan sesuatu denganmu." Uzumaki Kushina menggiring Naruto menuju sofa, Naruto mengikuti dengan perasaan campur aduk antara bingung dan merinding. Dia seperti sedang digiring menuju ruang eksekusi oleh dua algojo yang siap memotong lehernya kapan pun mereka mau. Sikap sang ibu tak seperti biasanya.

Setelah mereka bertiga telah menyamankan diri dengan duduk di sofa Kushina tidak lekas membuka pembicaraan. Ayah dan ibu Naruto hanya diam seraya menonton acara televisi yang sedang berlangsung. Meski begitu udara yang dirasakan Naruto seperti hendak mencekiknya. Perasaannya merinding dan pikirannya melayang-layang entah ke mana. Ada semacam tekanan kuat yang membuat suasana terasa begitu canggung. Ia tidak sanggup terdiskriminasi lebih lama lagi seperti ini.

Cukup lama sampai tangan Kushina bergerak mengambil remote tv lantas mematikannya. Fokus mereka sepenuhnya beralih pada Naruto. Naruto mulai merasakan atmosfir tidak menyenangkan dari tatapan sang ibu.

"Aku menemukan ini, bisa kau jelaskan, Naruto-kun?"

Pandangan Naruto beralih ke atas meja, pada sebuah benda yang disodorkan oleh Kushina. Beberapa lembar foto dengan gambar seseorang di dalamnya. Wajah Naruto sedikit cemas, bergantian ditatapnya wajah Kaa-san dan Tou-sannya yang begitu serius. Sial, seingatnya sekarang bukan bulan april, jadi kecil kemungkinan kedua orangtuanya sedang melakukan april moop.

Naruto tak kunjung menjawab.

"Ini foto kekasihmu?" Kushina to the point.

Naruto mengangguk ragu. "Y-Ya."

"Bukankah kita sepakat, Naruto-kun, apa kau lupa? Aku tidak mengizinkanmu menyimpan foto siapa pun, apalagi jika itu kekasihmu. Dan kau berjanji akan menurutinya."

Naruto hanya diam. Dia ingat betul dengan kesepakatan yang dibuat mereka beberapa tahun lalu itu, Naruto ingat, hanya hatinya yang menyangkal. Menurutnya tak ada yang salah dengan menyimpan foto seseorang yang dia cintai.

"Dan kita juga sepakat bahwa apa pun yang terjadi, kau tidak akan pernah melepaskan cincin itu dari tanganmu." Kalimat Kushina semakin menyudutkan Naruto. Ia melirik jari manis Naruto yang polos tanpa cincin. "Naruto, aku tak menyukai sikapmu yang seperti ini. Bukankah kita sungguh sudah sepakat?" ucap Khusina kecewa, bahkan dia tak menambahkan lagi suffiks kun di akhir nama puteranya.

Hati Naruto berontak, ia tak salah. Yang membuat kesepakatan ini adalah ibunya, bukan dirinya. Kesepakatan ini tak bisa disebut kesepakatan, ini merupakan pemaksaan. Naruto memiliki hak untuk menyetujuinya atau tidak.

"Kenapa aku tidak boleh menyimpan foto kekasihku? Apa jika aku jatuh cinta maka itu salah?" Kalimat Naruto menuntut.

"Aku tidak mengatakan itu salah, kami hanya menagih pertanggungjawabanmu. Dan kali ini kau sungguh sudah keluar batas."

"Batas yang seperti apa? Aku tanya sekali lagi batas yang bagaimana?"

Kushina memegangi keningnya. Menghadapi Naruto setelah dewasa jauh lebih sulit dari ketika ia masih duduk di bangku sekolah. Dulu Naruto selalu mengikuti apa yang dikatakan kedua orang tuanya. Apa pun yang Kushina inginkan selalu diturutinya. Berbeda dengan sekarang saat Naruto lebih sering menunjukkan sifat berontak. Dan hal ini tidak bisa terus dibiarkan.

"Kenapa aku harus menanggung sesuatu yang bahkan bukan tanggung jawabku?"

"Naruto hentikan. Hal ini sudah tidak perlu kita perdebatkan."

"Kau tidak tahu apa pun. Jadi jangan menilai sesuatu sesuka hatimu." Sekarang sang kepala keluarga yang angkat bicara. Naruto hanya bisa menunduk dalam ketika melihat ekspresi kedua orang tuanya. Dia mulai berpikir apakah salah jika Naruto ingin menentukan sendiri bagaimana hidupnya? Tapi tetap saja dia tak bisa menolak kemauan orang tuanya, apalagi ibunya, dia benar-benar tak sanggup melihat mereka bersedih hanya karena dirinya.

"Apa yang tidak aku tahu?"

"Aku yakin kau sudah mengerti konsekuensi atas semua ini." lanjut Minato lalu pergi diikuti Khusina, meninggalkan Naruto sendirian dengan keterkejutannya. Ia masih harus mencerna lagi perkataan ayahnya.

.

.

.

.

.

Malam telah tiba dengan sejuta keanggunannya. Dengan bintang yang bertabur di hamparan hitam, dengan gemerlap lampu-lampu yang bertebaran di jalanan. Dengan semua itu suaranya yang berselimut kehangatan angin di musim gugur, malam gagah berdiri membentangi bumi dengan warna gelapnya. Seiring dengan jatuhnya dedaunan, mereka yang mengering terhempas oleh kendaraan. Suara riuhnya sampai ke permukaan pemukiman dan pertokoan. Masih banyak manusia yang berlalu-lalang, terjaga oleh urusan mereka.

Meski begitu suara riuh tak sampai ke dalam ruangan itu, sebuah restoran bermodel klasik elegan yang dengan volume kecil memutar lagu bergenre blues, menghanyutkan semua pengunjung pada tiap syairnya.

Terlihatlah di dalamnya semua orang dari kalangan kelas atas berkumpul hanya untuk menikmati makanan yang katanya enak dengan harga fantastik. Namun, di salah satu meja justru terkesan dingin, suram, dan suasana mencekam lainnya. Seorang gadis pinky yang kita ketahui bernama Sakura mulai menatap tajam si kuning yang tengah makan dengan santai, seperti tak ada beban. Sang objek tatapan tak sedikit pun terlihat risih, dia terus saja melahap santapannya dalam ketenangan.

"Kudengar kau kurang enak badan Naruto-kun? Apa kau baik-baik saja?"

Tsunade memulai pembicaraan.

"Ehm." Naruto akhirnya berdehem pelan. Ia mengangkat wajahnya sekadar membalas kalimat bibi berambut pirang di seberang mejanya. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit, ah hanya flu karena kedinginan." Naruto tertawa hambar. "Beberapa waktu lalu ada seseorang yang menyiram air di kepalaku," lanjutnya seraya melirik Sakura dari sudut matanya.

Sakura merasakan canggung menyergapnya seketika, merasa semua tatapan beralih padanya.

Kushina tampak bingung, ada juga kejadian semacam itu di tempat kuliah.

Tsunade berusaha mengingat, "Siapa yang melakukannya? Mungkin aku akan melakukan peneguran. Itu jelas tidak sopan, terlebih jika kau sama sekali tidak bersalah."

Sakura berjengit. Menundukkan wajahnya, berusaha mengabaikan mereka dengan memakan kembali makanannya yang tadi sempat terbengkalai. Ia yang terlalu cepat mengunyah membuatnya tersedak, buru-buru Sakura mengambil air minum.

"Tidak perlu, Ba-san. Aku hanya tak sengaja menyenggol makanannya dan memecahkan gelas es teh miliknya. Aku sudah meminta maaf sebenarnya, tapi ya sudah lah. Mungkin dia kurang memperoleh pendidikan dari orangtuanya, aku bisa maklum."

Seketika itu pula seluruh air dalam mulut Sakura menyembur keluar, mengguyur tepat ke wajah Naruto. Semua orang di sana tercengang. Terutama Naruto yang menjadi korban.

"Apa yang kau lakukan Sakura?!" Tsunade panik.

Sakura menutup mulut, sama paniknya dengan ibunya. Mana dia tahu airnya akan menyembur wajah Naruto seperti itu.

"Uhuk, go-gomen." Sakura mengelap mulutnya dengan tissue.

Naruto menahan rasa kesalnya mati-matian. Baiklah ini yang kedua kalinya, Nona Haruno sepertinya telah mendeklarasikan perang sungguhan dengan dirinya.

"Hei kau, ini—aww!" Naruto meringis merasakan ujung heels menginjak kakinya. Sakura sialan, dengan wajah tak berdosa gadis itu menyeringai jahil.

"Ini untuk mulutmu yang tidak bisa diam." Sakura berbisik geram.

Naruto menatap Sakura tajam. Dibalas tatapan yang lebih nyalang dari Sakura. "Dan juga untuk gadis kedokteran yang kau tarik di kantin waktu itu." Ia tambah menyeringai.

Naruto tercengang. Apa maksud kalimat Sakura?

Mereka sibuk melemparkan tatapan kebencian tak menyadari tiga orang tua di tempat itu memperhatikan keduanya.

"Ehm." Deheman Minato sukses menarik perhatian Naruto dan Sakura. Keduanya berhenti 'berperang' sejenak mengalihkan perhatian pada sosok Minato yang seperti biasa terlihat tenang dan bersahaja. "Sebenarnya ada hal yang ingin kami bicarakan."

Ini adalah waktu yang tepat sepertinya. Semua orang pun sudah menyelesaikan makanan mereka. Minato mengangkat tas yang tadi sengaja ia bawa. Mengeluarkan beberapa berkas di dalam map. Suasana berubah hening dan mencekam. Naruto dan Sakura saling melempar tatapan heran.

"Karena satu dan beberapa hal kami memutuskan bahwa kalian harus secepatnya memperkuat hubungan yang sudah kita tetapkan sejak lama."

Deg

Sakura terkejut bukan main. Sedikit banyak ia mengerti ke mana arah kalimat yang akan Minato ucapkan. Ia menahan napas gugup sambil menutup mata. Semoga apa yang ia sangka tidak benar-benar terjadi semoga...

"Aku sudah menyiapkan semuanya. Kalian hanya tinggal tanda tangan. Kalian akan menikah malam ini juga."

.

.

.

To Be Continued

.

Hai kak selamat membaca. Mohon kritik dan sarannya. Cerita ini juga di post di wattpad dengan judul dan nama penulis yang sama. Silakan berkunjung jika berkenan atau lebih nyaman di platform lain. Happy reading!