"Aku sudah menyiapkan semuanya. Kalian hanya tinggal tanda tangan. Kalian akan menikah malam ini juga."
Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.
.
.
Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.
.
.
"Maaf, Ji-san barusan bilang apa?" Sakura merasa pendengarannya salah kali ini.
"Tou-san? Yang benar saja! Tou-san kira menikah itu seperti permainan anak-anak?"
Suasana hening seketika. Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan pendapatnya, begitu pun Tsunade. Minato melakukannya tidak lebih hanya agar pernikahan ini benar-benar terjadi. Sebab jika menunda lebih lama lagi, ia khawatir Naruto ataupun Sakura akan semakin menunjukkan penolakan. Apalagi kejadian Naruto yang ternyata sudah memiliki kekasih di luar sana. Ia memijit keningnya. Memang cara ini terkesan memaksa dan tidak adil. Tapi ia tidak punya pilihan.
"Kami serius."
"Jangan bilang, Kaa-san sengaja menyewa restoran ini untuk acara pernikahan?"
Tsunade hanya cekikikan bersama Kushina. Membuat kepala Sakura tambah pening. Maksudnya pernikahan macam apa yang dilakukan mendadak bahkan tanpa gaun?
"Aku sudah menyiapkan gaun yang cantik." Tsunade memotong jalan pikiran Sakura. Membuat kepala Sakura semakin berdenyut-denyut. Kacau. Benar-benar kacau. Sebenarnya bisa saja Sakura lari saat ini dan meninggalkan semua orang di meja konyol itu. Namun ia tidak bisa melakukannya. Tidak pada Tsunade yang telah membesarkan Sakura sampai hari ini. Ia memang nakal dan pembangkang, tapi satu yang tidak bisa Sakura lakukan, menyakiti Tsunade. Itulah kenapa pertunangan antara dirinya dan Naruto terjadi sebelumnya. Sakura menunduk, apa yang bisa ia lakukan?
"Kaa-san, aku mohon. Beri kami waktu. Tidak bisa seperti ini?" Naruto berusaha menyangkal.
"Naruto, Sakura, dengar. Semakin pernikahan ini kalian tunda akan semakin banyak halangan yang harus dilalui. Lagipula saat ini kalian tidak diberatkan oleh apa pun. Kami tidak akan benar-benar melepaskan kehidupan kalian sampai kalian bisa menjalaninya sendiri.
Naruto menyenggol Sakura yang hanya diam seribu bahasa. Ia tidak menyangka anak kasar seperti Sakura ternyata tidak berani menentang keputusan orang tuanya.
"Baiklah anggap kita akan menikah secepatnya, tapi apa harus malam ini juga?"
"Hanya tanda tangan dan pembacaan janji. Aku sudah membawa enata rias sekalian." Kushina menyahuti.
"Kaa-san!"
Tidak bisa. Tidak bisa seperti ini. Namun belum genap Naruto berpikir, beberapa pelayan restoran masuk membawakan buket bunga, baju, dan riasan. Naruto nyaris lupa kalau restoran ini milik keluarganya, jadi ayahnya akan bebas melakukan apa saja di sini. Ia melirik Sakura yang juga tampak pucat karena terkejut.
Setelah itu Naruto dirias menggunakan tuxedo hitam dengan dengan dasi yang selaras, sementara Sakura mengenakan gaun putih yang katanya sudah dipesan jauh hari dari desainer ternama langganan Tsunade. Seolah ibunya memang sudah menyiapkan pernikahan ini sejak lama. Semakin dipikirkan semakin membuat Sakura frustasi.
Selesai dengan riasan keduanya digiring menuju sebuah altar portabel yang baru dipasang berikut bunga-bunga hiasan. Sementara di altar tersebut seorang pendeta sudah menunggu keduanya. Sakura menggandeng tangan ibunya, berjalan mendekati Naruto yang menunggunya di atas altar. Beberapa pengunjung restoran yang melihat hal tersebut merasa tertarik dan menonton di kejauhan. Meskipun keadaan restoran sepi karena memang sengaja dipesan untuk acara pernikahan ini.
Air yang menggenang memburamkan pandangan Sakura. Di depannya kini Naruto telah berdiri, ia melepaskan lengan ibunya dengan berat hati. Benarkah ibunya setega itu melepaskan Sakura? Namun pertanyaan itu lenyap ketika Sakura melihat ibunya juga menangis melepaskannya.
Naruto memaksakan senyuman. Jika memang ini yang harus dilakukan. Ia meraih tangan Sakura dan menuntun wanita itu sampai ke depan pendeta. Beberapa saat ia melihat catatan ucapan janji yang tadi mendadak ditulis oleh ayahnya.
"Saya, Uzumaki Naruto, membawamu, Haruno Sakura, untuk menjadi istri saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormatimu sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita,"
Naruto tidak tahu jika janji pernikahan akan terasa sesakral ini. Kata-kata di dalan janji itu tidak bisa dipermainkan. Ia meraba hatinya, bisakah ia melepaskan Hinata?
"Saya, Haruno Sakura, membawamu, Uzumaki Naruto, untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormatimu sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita,"
Sontak tepuk tangan dari dua keluarga dan semua pelayan juga beberapa pengunjung yang menonton pecah. Suasana berubah hari saat Tsunade dan Kushina menangis. Sakura dan Naruto berbalik seraya tersenyum. Setengah tidak percaya detik ini mereka telah terikat janji untuk selamanya.
Naruto membalik Sakura dan memasangkan cincin di jarinya, begitupun sebaliknya. Setelah itu Sakura tidak begitu sadar ketika dengan cepat Naruto menyapu bibirnya. Ia mengerjap beberapa saat. Ini, ciuman pertamanya!
"Baka!" bisik Sakura.
Naruto hanya menyeringai penuh kemanangan.
.
.
.
.
Malam ini langit terlihat terang. Guguran dedaunan kering berwarna coklat jatuh menyentuh tanah, bergabung dengan daun-daun kering lain yang telah lama kedinginan. Mobil yang membawa Sakura dan Naruto menghempas jalanan Tokyo yang lengang. Keduanya bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sejak masuk ke dalam mobil. Namun pikiran mereka dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang entah tidak menemukan jawaban. Naruto konsentrasi pada stir mobil sambil berpikir keras tentang yang terjadi malam ini, beberapa menit yang lalu. Sakura menatap langit malam sambil termenung diam. Rasanya langit gulita jauh lebih menarik dari papa-papan iklan di sepanjang jalan yang mereka lalui. Melihat langit malam membuatnya merasa tenang.
Ini tidak masuk akal. Berapa pun ia memikirkan semua ini tetap tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang tua Naruto dan Sakura dengan cekatan telah mempersiapkan semuanya, sehingga pernikahan terjadi dengan mudah dan real! Pertama saat penandatanganan surat pendaftaran pernikahan, kedua upacara pernikahan di dalam restoran yang telah diatur sedemikian rupa. Sakura mau gila rasanya jika mengingat hal itu.
Ia menghela napas. Menoleh pada lelaki di sampingnya —lebih tepat jika kini disebut sebagai suami— yang masih bungkam karena fokus menyetir.
"Ini gila! Apa aku salah? Mungkin ini mimpi?"
Naruto balas menghela napas cukup panjang. Wajahnya menunjukkan kelelahan. "Jika ini mimpi, aku tidak akan sefrustasi ini."
Sakura menyerah menyangkal jika semua yang terjadi hanya mimpi. Ia menatap cincin yang tersemat indah di jari manis tangannya. Lebih dari sepuluh tahun seingat Sakura ia telah mengenakan cincin ini. Dulu Sakura tidak menyadari jika cincin indah di dalam jarinya berarti lebih dari sekadar cincin hiasan. Ia tidak terlalu mengingat bagaimana awalnya semua ini bermula. Ia hanya ingat ibunya yang seringkali mengingatkan jika cincin di jarinya adalah simbol sebuah ikatan. Bukankah Tsunade sungguhan gila telah menjodohkan anaknya di usia bahkan sebelum ia memahami apa itu cinta?
Sekarang ia tahu arti cincin ini begitu mengekang hidupnya, membatasi langkahnya, bahkan kadang membuatnya merasa terbebani.
"Apa kau ingat bagaimana awalnya kita bisa menggunakan cincin yang sama?"
Naruto menoleh sebentar menanggapi pertanyaan Sakura. Lantas menggeleng lemah. "Entahlah, aku pun tidak yakin."
Ini adalah pertama kalinya setelah sepuluh tahun Sakura dan Naruto mengobrol secara normal. Normal dalam arti yang sebenarnya. Karena biasanya jika bertemu dua orang ini akan berperang kata-kata atau paling tidak saling melempar tatapan benci. Tapi malam ini keduanya sedikit tenang. Angin malam mengempas guguran daun di jalan. Sakura kembali mengalihkan perhatiannya pada langit malam. Ia tidak mendapatkan apa pun dari jawaban Naruto. Ia sangat lelah. Tanpa disadari kedua matanya terpejam. Kepalanya bersandar pada bingkai jendela mobil sesekali bergerak saat mobil berbelok di jalan atau berhenti.
Tak lama kemudian Naruto dan Sakura sampai di kediaman Sakura. Naruto memarkirkan mobil di depan. Mematikan mesin mobil lalu menoleh pada istrinya yang justru tertidur pulas di kursi penumpang.
"Hey, kita sudah sampai." Naruto memerhatikan rumah yang sudah gelap dari dalam. Mungkin Tsunade sudah sampai duluan dan tidur. Malam yang sudah larut membuat suasana hening dan senyap.
"Haruno-san?" Naruto menggoyangkan tubuh Sakura. Perlahan kedua mata Sakura terbuka. Wajahnya memperlihatkan kebingungan usai dipaksa bangun dari mimpi indah. Tapi kemudian kedua matanya tertutup lagi. Sepertinya gadis itu sudah terlalu lelah untuk bangun. Naruto berdecak, tidak ada pilihan lain, ia harus menggendongnya sampai ke dalam.
.
.
.
To be continued
Hai hai siapa yang nunggu apdetannya?
