The Ring of Destiny 2

Wedding Night

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

Sakura mengerjapkan matanya. Hari sudah terang dan cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden menyentuh wajahnya. Ia mengucek mata. Mengedarkan pandangan ke seisi kamar. Ah ini kamarnya. Tapi aneh, ia merasa ada yang berbeda dari kamarnya. Sakura berguling ke samping dan menemukan gundukan selimut serta wajah seseorang yang masih pulas menghadap ke arahnya. Satu. Dua. Tiga, begitu nyawanya terkumpul sepenuhnya, kedua matanya terbuka lebar seperti hendak meloncat, Sakura pun menjerit.

"K-KAU!" Sakura mengambil guling di sampingnya lantas memukuli wajah Naruto.

Bugh

"Aw! Hey!"

Naruto melindungi diri dengan beranjak dari tempat tidur menjauhi Sakura.

Sakura masih terus melempari Naruto dengan bantal sampai bantal di sekitarnya habis barulah ia berhenti. Otaknya mencerna beberapa detik peristiwa yang sedang terjadi di depannya. Saat nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, barulah Sakura menutup mulut tidak percaya.

"Ma-maaf!"

Naruto memegangi tangannya yang sedikit sakit karena dipukuli. Ia membuang napas kasar menahan kesal lantas beranjak menuju kamar mandi. Hari ini mereka masih ada jadwal kuliah yang harus diselesaikan.

Selesai dengan sarapan yang disediakan Tsunade, Naruto dan Sakura berangkat ke kampus berdua. Mereka lebih memilih transportasi bis alih-alih mobil pribadi milik Naruto. Bukan hanya karena canggung, berduaan di dalam mobil pun membuat perasaan Sakura tidak nyaman. Ia masih merasa kejadian semalam adalah mimpi jika saja saat bangun ia tak menemukan Naruto berada di tempat tidurnya. Kejadian semalam itu terlalu mendadak dan membuat kepalanya pening setiap kali teringat akan hal itu.

Sakura tidak mendapat tempat duduk, ia berdiri berdampingan dengan Naruto di dalam bis. Di sampingnya, seorang wanita hamil terlihat kesusahan menjaga keseimbangan tubuhnya yang bergoyang-goyang karena laju bis. Sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang telah membesar. Naruto sendiri tidak tega melihat hal itu, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Belum sedetik sejak ia berpikir dan merasa kasihan pada wanita hamil tersebut, suara nyaring wanita di sampingnya sedikit membuat Naruto terkejut.

"Permisi Oji-san. Bisa tolong berikan tempat duduk prioritas yang Anda duduki untuk Oba-san ini?" Sakura tampak meraih pundak pria berbadan besar dengan perut yang buncit ke depan. Pria itu hanya menoleh tanpa menggubris kalimat Sakura.

"Permisi Oji-san, apakah Anda tidak bisa mendengar?" Sakura hanya memastikan karena tidak adanya respon dari si pria.

"Kau tidak lihat aku sedang duduk?!" Suara pria berperut buncit itu meninggi, sampai membuat beberapa penumpang lain menoleh padanya.

"Hey Pak Tua, apakah kaki Anda terlalu tua untuk mengalah pada wanita hamil?!" Suara Sakura ikut meninggi. Tontonan menarik, beberapa pemuda dan siswi yang melihat mengeluarkan gawainya untuk merekam kejadian di dalam bis ini.

"APA KAU BILANG?!"

"P-A-K T-U-A?" Sakura mengeja dengan nada mengejek.

Sontak pria itu naik pitam diejek wanita muda di depan banyak orang. Ia pun berdiri membusungkan dadanya yang bidang dan besar di depan Sakura. Berpikir Sakura akan merasa takut padanya. Namun Sakura justru balik menatapnya dengan tatapan nyalang, membuat pria itu semakin naik darah.

"KAU!"

Nyaris saja tangan besar itu mengenai wajah Sakura jika tidak ada tangan Naruto yang menahannya. Sakura memekik kaget rupanya pria itu bertindak sangat berani di depan banyak orang. Ia dengan cepat bersembunyi di belakang punggung suaminya. Ya suaminya. Terasa geli hanya dengan menyebut pria sialan ini dengan kata 'suami'.

"Permisi Pak, tenangkan diri Anda. Saya bisa laporkan Anda ke polisi karena melakukan kekerasan di depan umum. Banyak saksi di sini." Naruto menyela.

Pria itu tampak celingukan baru menyadari semua penumpang melihat ke arahnya, beberapa ada yang memegang ponsel dengan posisi merekam. Tidak mau menambah masalah pria itu pun meminta bis berhenti dan turun di halte terdekat. Sakura mempersiapkan wanita hamil tadi untuk duduk.

"Kau tidak harus melakukannya dan hampir terluka. Terima kasih, Nak."

"Tidak apa-apa Oba-san. Kursi ini memang hak bagi penumpang prioritas."

Wanita hamil itu tersenyum senang. "Dan pria pemberani di sampingmu, sepertinya kau sangat beruntung menjadi wanitanya."

Mulut Sakura terbuka lebar. "A-Apa? Wa-Wanitanya? Tung-gu. Sepertinya Anda salah paham. Kita tidak saling mengenal." Sakura memasang cengiran lebar meski suaranya terbata-bata.

Wanita hamil itu hanya tertawa geli. Pasalnya sejak dua muda-mudi ini naik ke dalam bis, ia menyaksikan beberapa kali si pemuda yang sengaja berdiri di belakang Sakura telah mengusir pria mana saja yang hendak berdiri berdempetan dengannya. Ia tidak tahu alasan Sakura menyangkal tentang Naruto, yang jelas dua orang di depannya jelas-jelas adalah sepasang kekasih.

Sementara di belakang Sakura, Naruto mencuri tatap sesekali. Ia tidak pernah menyangka, di balik sifat kasar dan penampilan urakan Sakura, gadis ini memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Tanpa sadar Naruto mengulas senyuman tipis.

.

.

.

.

Keduanya turun di halte tak jauh dari kampus. Sakura berjalan cepat di depan, berusaha memperlebar jarak dengan pria pirang musuh bebuyutannya selama lima semester ini. Iuhh ia tidak mau sampai ada yang curiga dengan hubungan mereka. Mau ditaruh di mana wajah Sakura yang notabenenya adalah anggota band kampus paling berkuasa di seluruh angkatan, dan paling tidak sudi barang sesenti tersentuh Uzumaki Naruto, kini harus memiliki hubungan dengan Naruto? Imagenya benar-benar akan turun sampai ke dasar paling bawah. Hancurlah reputasinya yang selalu menjunjung tinggi egoisme! Tidak bisa! Tidak boleh! Apa yang akan dikatakan Ino? Kiba? Shino? Lee? Sasuke? Argh memikirkannya saja sudah membuatnya pening.

"Sakura?!"

Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara pria yang memanggil namanya. Sakura menghentikan langkah dan menoleh. Sasuke berlari ke arahnya seraya menyampirkan ransel gitar di bahunya. Keren. Itulah satu kata yang cocok diungkapkan saat Sakura melihat sosok Sasuke. Tidak hanya keren, Uchiha Sasuke sang vokalis band memang sudah terkenal tampan, cerdas, dan tentunya crazy rich! Perusahaan Uchiha yang telah melanglang buana sejagat Jepang tidak main-main sepak terjangnya! Pria inilah the most wanted 2020 versi Sakura.

Naruto menatap tidak suka dengan cara Sakura memandang Sasuke. Ia pun mempercepat langkahnya sampai di samping Sakura. Sasuke sempat menghentikan langkahnya, heran melihat Naruto berada di dekat Sakura. Biasanya pada jarak sepuluh meter saja Sakura sudah bisa merasakan kehadiran Naruto dan sebisa mungkin menjauh dari pria itu.

"Bagaimana persiapannya?"

"Sudah oke!"

"Tapi sepertinya aku akan terlambat sampai. Kalian gunakan kendaraan umum terlebih dahulu baru nanti kita pulang bersama menggunakan mobilku."

"Err baiklah kalau begitu. Sampai jumpa di sana, Sasuke-kun!"

'Kun?'

Mata Naruto melebar. Jujur Naruto tidak suka mendengar sufiks seakrab itu diucapkan Sakura terhadap orang lain sementara Sakura terus memanggilnya dengan nama Uzumaki.

"Kita bicara sebentar," Naruto menarik lengan Sakura.

"Tunggu?" Sasuke terheran-heran dengan situasi di depannya. Benar-benar tidak biasanya. Naruto berada di samping Sakura saja sudah 'tidak biasa', maka Naruto berbicara berdua dengan Sakura lebih tidak biasa lagi. Ada yang tidak beres.

"Ada apa? Kau diancam oleh orang ini?"

"Hah?" Sakura kebingungan. Ia tidak mengira Sasuke akan berpikir sampai sejauh itu.

"Katakan?" Sasuke mendesak sambil memegang bahu Sakura, membuat mata Naruto semakin melotot.

"Aku perlu bicara dengan Haruno-san sebentar. Penting," tekan Naruto berusaha membuat Sasuke pergi.

Sakura hanya menggangguk mengiyakan dan menggeleng tanda tidak ada hal buruk yang terjadi. Lalu Sakura mengikuti langkah Naruto menuju ke sudut di pelataran parkir kampus. Tempat yang sedikit aman dan sepi dari lalu-lalang orang.

"Apa yang kau bicarakan dengannya?"

"Bukan urusanmu, Pirang! Sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku untuk ke depannya. Oh ya, aku lupa bahwa kita perlu membuat kesepakatan untuk ini. Aku tidak pernah menginginkan hubungan ini!"

"Haruno Sakura!"

"Lepas! Aku mau kembali ke kelas!"

"Harusnya kau katakan itu sesaat sebelum mengucapkan janji di depan orang tua kita! Kenapa semalam kau hanya diam tanpa membantah sedikit pun?"

Hati Sakura memanas. Naruto tidak paham bagaimana perasaannya semalam. Ialah orang yang paling ingin pergi dari situasi semalam. Ialah yang paling ingin lari dari pernikahan ini dan dari ibunya. Tapi Sakura benar-benar tidak berdaya. Tiba-tiba saja air menggenang di pelupuk mata Sakura. Perasaan sakitnya tidak bisa ia katakan melalui ucapan.

"Apa kau bisa melakukannya?" Sakura menunjuk dada Naruto. "Mengecewakan orang tuamu? Apa kau bisa melakukannya? Aku tidak!"

Melihat wanita menangis selalu menjadi kelemahan Naruto. Ia tidak bisa berhadapan dengan air mata wanita. "Baiklah. Jangan menangis." Naruto mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyeka air mata istrinya.

"Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Tapi setidaknya kau harus katakan jika ingin bepergian ke mana pun padaku. Bukan karena aku merasa menjadi suamimu, tapi ibumu sudah mempercayakan kamu padaku, Haruno-san. Aku tidak bisa pulang sendiri tanpa tahu kau sedang berada di mana? Apa yang harus aku katakan pada Kaa-san?"

Sakura mengambil sapu tangan Naruto dan menyeka wajahnya yang basah.

"Hanya charity event di Nagoya."

"Hah? Ke luar kota?"

"Iya, aku, Rock Lee, Inuzuka Kiba, Yamanaka Ino, Aburame Shino, dan Uchiha Sasuke. Kita diundang untuk konser amal di salah satu panti asuhan."

Wajah Naruto melembut. Lagi-lagi ia ditunjukkan sisi lain dari seorang Sakura hanya di satu pagi ini saja. Namun tetap saja Naruto tidak bisa mengizinkan Sakura bepergian ke luar kota apalagi sampai bolos jam kuliah. Menurutmu berapa jam perjalanan ke Nagoya?

"Jam 5, aku sudah ada di Tokyo. Kalau kau takut pada ibuku, tunggu aku di halte kampus jam 5. Aku akan bisa pulang bersama denganmu."

Alis Naruto berpaut. Apakah ia bisa mempercayai ucapan Sakura? Kalau diingat-ingat Naruto pun ada jadwal kelas sampai jam lima sore sehingga kemungkinan mereka bisa pulang bersama-sama.

"Baiklah. Jam 6. Jangan lewat dari waktu yang sudah disepakati. Aku akan menunggu sampai kau datang."

.

.

.

To be continued

Special thanks for : ririn4447 nih udah update cepet 😂😂😂 jangan kapok riviu ya