Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.
.
.
Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.
.
.
.
.
Ino menarik Sakura menuju tepian pantai. Angin laut menghempas rambut dan pakaian mereka membuatnya bergerak-gerak tak beraturan. Ah rasanya sore ini sangat menenangkan. Seharian grup band Sakura melakukan konser amal untuk acara charity event sebuah panti asuhan. Lumayan sekali pendapatan donasi hari ini sangat banyak. Sayangnya Uchiha Sasuke meminta izin sebentar untuk pergi karena ada urusan, sambil menunggu jemputan Ino dan Lee menyarankan agar mereka melihat pantai sebentar sambil menikmati sore yang indah. Jarang-jarang Sakura bisa menikmati lautan dan ombak yang bisa menyihir perasaannya agar jauh lebih baik.
Gadis pinky itu melirik jam tangan yang ia kenakan, rupanya hari sudah semakin sore.
"Aku harus pulang."
Ino heran karena ini di luar kebiasaan seorang Sakura. Biasanya waktu sore tidak pernah menjadi hambatan bagi mereka. Bahkan mereka sering keluar malam dan pulang selepas dini hari. Jika kebetulan Tsunade sedang tidak di rumah Sakura bisa bebas melakukan apa saja. Walaupun Tsunade berada di rumah, mereka biasa meminta izin dengan mengatakan Sakura akan menginap di kediaman Ino. Maka permasalahan selesai. Jadi apa lagi ini?
"Sepertinya aku tidak bisa menunggu sampai Sasuke datang. Pig, bisa kau antar aku ke stasiun?" Sakura melirik jam dengan gelisah. Sudah pukul empat sore. Naruto sebentar lagi akan menunggunya. Bukannya Sakura merasa kasihan dengan pemuda sialan itu, hanya saja kata-kata Naruto memang benar soal ibunya yang akan khawatir jika ia tidak secepatnya pulang.
"Kau yakin? Sepertinya tidak akan lama?" Kiba menimpali. Sementara Shino sibuk memainkan serangga di atas pasir pantai.
"Aku harus pulang."
"Ini tidak biasa Cherry. Biasanya kita bermain sampai malam tidak ada masalah?"
"Ayolah Pig, kau tahu bagaimana situasiku saat ini dengan Kaa-san 'kan?"
Ah Ino ingat kalau Sakura baru saja berbaikan dengan Tsunade setelah sebelumnya mereka tidak akur karena isu Sakura yang bolos dan ditangkap polisi minggu lalu. Hari semakin sore, Ino melihat matahari mulai turun perlahan di kejauhan sana. Angin yang semilir menggerakkan rambutnya yang diikat satu ke belakang. Padahal dia masih ingin berlama-lama menikmati semua ini.
"Baiklah aku akan mengantarmu ke stasiun. Tapi kami tetap akan menungggu jemputan dari Sasuke karena aku tidak bisa meninggalkan orang itu sendirian menggunakan mobil. Kau tahu hari semakin gelap. Jadi tidak apa-apa jika kau pulang sendiri menggunakan kereta?"
Sakura menggangguk menyetujui arahan Ino. Beberapa kali Sakura pernah bepergian menggunakan kereta dan itu tidaklah buruk. Mereka pun bergegas menuju stasiun kereta yang letaknya tidak jauh dari pantai.
Sesampainya di stasiun, orang-orang terlihat lalu lalang, beberapa membawa koper dan ransel besar namun sebagian lain hanya mengenakan pakaian santai. Di kursi tunggu banyak sekali penumpang yang berdesakan mengincar tempat duduk sementara papan penunjuk arah kelap-kelip di atas sana. Suara bel kedatangan berbunyi dengan merdu seperti pembukaan lagu Sakura no Hanabiratachi yang dulu sangat populer dinyanyikan penyanyi terkenal di Jepang. Setelah antri cukup lama tiba-tiba saja Sakura merasakan perutnya melilit. Sepertinya karena memakan makanan pedas siang tadi di panti.
"Kiba, bisa gantikan aku sebentar. Aku mau ke kamar kecil sebentar."
"Baiklah." Kiba mengangguk paham langsung mengganti posisi antrian Sakura.
Setelah sampai di depan loket tiba-tiba saja ponsel Kiba berbunyi. Ia melihat sederet nomor ibunya memanggil, bergegas pemuda itu membuka panggilan. Sedikit mengabaikan posisinya yang tengah antri.
"Moshi-moshi. Hmm ke mana? Kyoto? Apa? Kyoto? Baiklah Kyoto, Kyoto. Ya ya Kyoto, Kyoto." Kiba menutup panggilan ketika secarik tiket diserahkan ke hadapannya. Ia tidak salah kan? Seingatnya tadi Kiba belum menyebutkan tempat tujuan keretanya tapi tiketnya sudah jadi begitu saja. Tapi ya sudahlah.
Bruk
"Hei hati-hati saat berjalan!"
Entah apa yang membuat Kiba melamun dan nyaris menjatuhkan seorang pria tua yang berjalan di depannya. Pria itu membawa secangkir kopi hitam yang kemudian tumpah mengenai baju dan tiket di tangan Kiba.
"Ma-maaf Ojii-san!" Kiba menunduk tanda menyesal. Sayang sekali tiket yang dibelinya terguyur dan tidak kelihatan.
Sakura menghampiri beberapa saat kemudian. "Bagaimana?"
Kiba nyengir dengan sederet giginya yang didominasi oleh dua taring panjang di sisi kanan dan kiri mulutnya. "Oke. Hanya saja tadi ketumpahan kopi. Apa tidak apa-apa?"
Sakura meraih tiket dari tangan Kiba dan membolak-balik benda tersebut. Rupanya hanya hitam sebagian dan lecek karena terus coba dibersihkan. Untungnya barcode dan waktu datangnya kereta masih bisa terlihat.
"Tidak apa-apa."
"Baiklah."
Sakura teringat satu kancing bajunya yang tadi sempat terlepas. "Pig, maaf bisa tolong pegangi sebentar tasku?"
Saat itulah bel kedatangan kereta berbunyi. Tak lama setelah itu sebuah futsu datang, pintunya terbuka lebar. Semua orang yang menunggu langsung berebut memasuki kereta. Tak terkecuali Sakura yang lari begitu saja memasuki kereta karena takut pintu kereta akan tertutup. Sepuluh menit setelahnya, kereta melaju dengan kecepatan konstan. Sakura mencari tempat duduk yang tertera pada tiket.
Ini melongo menyaksikan Sakura pergi. "Tunggu. Ini tas Sakura, 'kan?"
Lee mengangguk mantap. Jelas-jelas tadi Sakura menitipkan tasnya pada ino. "Hei sepertinya ponselnya juga ada di dalam tas. Bagaimana dengan dompet?"
"Astaga! Semua bendanya tertinggal di sini!" Sudah terlambat. Sakura dan kereta yang membawanya sudah meninggalkan stasiun. Ino melongok papan penunjuk dan menyadari sesuatu setelahnya.
"Tunggu, Kiba, tadi kau pesan tiket ke mana?"
"Tentu saja Tokyo."
"Ya Tuhan! Sepertinya kau salah membeli tiket. Lihat papan penunjuk itu, Sakura menaiki kereta ke Kyoto?"
"Hah itu tidak mungkin!" Kiba menoleh pada papan yang ditunjuk Ini, papan itu membeberkan keterangan bahwa kereta menuju Tokyo akan datang dalam tiga puluh menit. Tubuhnya terasa lemas seketika.
"Inuzuka Kiba!"
Kiba mengingat-ingat tiket yang tadi ia beli. Ia pun teringat pada telpon ibunya yang terus menanyakan perihal perjalanan Kiba ke Kyoto seminggu yang akan datang. Pemuda taring itu menepuk jidatnya, ditambah dompet dan ponsel Sakura yang tertinggal. Matilah ia jika Tsunade tahu putrinya hilang!
"Ini tidak bisa dibiarkan. Ayo kita susul Sakura!"
"Tunggu, kita susul pakai apa?"
"Baiklah kita akan tunggu sampai Sasuke datang."
.
.
.
.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke menoleh pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya. Ia memfokuskan diri pada jalanan yang dilewati. Wanita disampingnya mengaduh merasakan lecet-lecet di sikunya terasa perih.
"Hanya sedikit sakit,"
Tadi tanpa sengaja Sasuke menabrak wanita itu saat ia dalam perjalanan kembali ke Nagoya. Terpaksa Sasuke membawa masuk wanita tersebut ke dalam mobil dan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore, teman-temannya pasti saat ini sedang menunggunya. Ia harus bergegas kembali ke Nagoya.
Sasuke ingat wanita ini bernama Hyuuga Hinata, wanita pendiam yang sering ia lihat bersama dengan Naruto di fakultas kedokteran. Apa yang sedang dilakukannya sendirian di tempat tadi?
"Rumahku tidak jauh dari sini. Sebelumnya terima kasih," ungkap Hinata ragu-ragu.
"Apa kau sedang menunggu sesuatu?" Sasuke tidak bisa untuk tidak bertanya karena ia sangat penasaran. Mata sayu wanita ini seolah menyimpan banyak hal. Wajah sedih dan muram darinya seolah menaruh banyak pertanyaan untuk siapa pun yang melihatnya.
"Aku menunggu seseorang." Hinata menjawab dengan nada yang datar dan wajah tanpa ekspresi.
Sasuke menebak jika Hinata sedang menunggu pria pirang bernama Naruto itu. Apa ia salah? Hinata memalingkan wajahnya ke jendela. Hari yang panjang baginya. Ia hanya merasa begitu lelah.
.
.
.
.
Naruto melihat jam yang sudah menunujukkan pukul tujuh dan tidak ada tanda-tanda Sakura akan datang. Hari sudah gelap. Guguran daun sudah tak terlihat seperti sore tadi. Lalu-lalang orang mulai berkurang dan ia duduk sendirian di halte bis. Harap-harap cemas Naruto melihat terus layar ponselnya. Seharusnya Sakura mengabari jika akan terlambat. Apa yang terjadi? Angin bergerak menyentuh wajahnya dengan lembut. Dedaunan mengeluarkan bunyi desau yang berisik. Pikiran Naruto mengawang-awang entah ke mana.
Siang tadi Hinata sempat mengajak Naruto membetulkan sepatu ke bengkel sepatu namun Naruto membatalkannya karena teringat janji dengan Sakura. Ia tidak bisa menunggu lagi. Ditekannya nama Sakura di ponsel lalu menyambungkan telpon.
Klik
Suara telpon diangkat. Tak ada suara lain yang menyambut di seberang sana selain riuh yang tidak jelas.
"Haruno-san? Kau masih di mana? Apa terjadi sesuatu?"
Tak ada suara menjawab.
"Haruno-san? Jangan buat aku khawatir. Ibu pasti akan menanyakanmu jika aku pulang sendirian? Haruno-san?"
"Naruto? Kau Uzumaki Naruto?"
.
.
.
.
Ino berusaha mencari tempat yang sedikit sepi karena suara dari ponsel Sakura tidak dapat ia dengar. Mereka masih berada di stasiun kereta menunggu Sasuke namun pria itu tak kunjung datang. Tiket kereta menuju Tokyo pun sudah habis dan mereka ketinggalan bis terakhir untuk pulang. Maka Ino, Lee, Kiba, dan Shino pun terjebak tanpa bisa melakukan apa-apa di tempat itu.
"Haruno-san? Jangan buat aku khawatir. Ibu pasti akan menanyakanmu jika aku pulang sendirian? Haruno-san?"
"Naruto? Kau Uzumaki Naruto?" Ino menjauhkan ponsel dari telinganya memastikan nomor yang tertera di layar ponsel, sederet nomor yang belum disimpan. Tapi suara yang ia dengar tidak salah, ini suara Naruto. Ino sangat mengenali suara serak khas pria yang sering bertengkar dengan Sakura setiap kali mereka bertemu.
"Ini siapa?" tanya suara di seberang. "Sakura mana?"
Ino tidak tahu apa sedang terjadi ini. Namun jika sampai Naruto menanyakan Sakura dan juga membicarakan ibunya maka akan lebih baik Ino memberi tahu Naruto perihal kejadian yang menimpa Sakura.
"Tadi Sakura buru-buru pulang, Uzumaki-san. Tapi dia salah membeli tiket ke Kyoto. Dan ... Dan ponselnya tertinggal di sini dengan tas dan dompet." Ino ragu-ragu menjawab.
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Iya kami pun kehabisan tiket dan tertinggal bis terakhir di sini. Jadi kami tidak bisa menyusulnya." Suara Ino terdengar panik.
"Ini ino kan? Ino bisakah kau tanyakan tiket terakhir yang dipesan Sakura menuju stasiun mana?" Naruto bersuara dengan tenang.
Ino berpikir sesaat. Ia tidak terpikirkan untuk bertanya. Setelah itu Naruto memberikan arahan pada Ino untuk mencari tahu ke mana kereta tujuan Sakura lalu sambungan pun ditutup.
"Siapa?" Kiba bertanya setelah Ino kembali ke kelompok.
"Bukan apa-apa." Ino hanya tersenyum. "Sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan Sakura lagi."
Kiba terlihat heran sementara Ino masih saja tersenyum. Forehead kau berhutang cerita padaku! Gerutunya dalam hati.
.
.
.
.
To be continued
Hai hai Author gaje balik. Duh belibet sama UTS kuliah. Tapi gapapa. Mumpung ide lagi ngalir jadi harus buru-buru dituangkan kalau nggak mau mandet nantinya hehe.
Oh ya spesial thanks for : ririn4447 nih udah update cepet 😂😂😂 jangan kapok riviu ya
- Aulshi : bukan kesemsem lagi tapi kecanduan dan sakau 😂😂😂 makasih riviunya
- MonsterOfLogic : You're welcome
- MANASYE : Nih udah next. Thanks for ur review. Jangan kapok mampir sini pokoknya ya.
- BelumLogin : Ahsiyap udah fast belum nih? Mau apdet kapan lagi? Tiap hari? Haha thanks buat riviunya.
Buat yang belum riviu juga ditunggu riviunya buat kemajuan cerita ini. Salam kenal dari saya Author gaje paling ga jelas. Otsukaresamadesu!
