Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

Mimpi apa semalam Sakura sampai harus mengalami kejadian nahas ini berturut-turut dalam kurun waktu berdekatan. Setelah apa yang terjadi semalam bersama kedua orang tua Naruto dan Kaa-san nya, sial sekali dia pun harus terpaksa tersasar sampai di Kota Kyoto yang arahnya jelas berlawanan dengan Tokyo. Kiba baka itu memang baka! Bagaimana bisa tiket keretanya tertukar padahal jelas-jelas tulisan Tokyo dan Kyoto berbeda. Sakura membuang napas kasar, tangannya gatal ingin memukul kepala bodoh temannya.

Saat di kereta Sakura sempat protes dan meminta diturunkan di stasiun terdekat namun kondektur menolaknya mentah-mentah karena itu akan mengganggu perjalanan kereta secara keseluruhan. Lebih disayangkan lagi adalah karena Sakura memilih naik futsu yang sedikit lamban dibandingkan shinkansen. Alhasil pukul tujuh malam Sakura baru sampai di stasiun tujuan.

"Shit! Di mana ini?! Argh ponselku! Dompetku!"

Ia melihat deretan kursi tunggu lalu beranjak untuk duduk di sana. Orang-orang hanya melewatinya, beberapa ada yang masuk ke kereta saat kereta datang, dan beberapa lainnya turun lalu berbaur dengan kerumunan lain. Ada penumpang yang membawa ransel besar disambut beberapa orang, ada pula yang berpakaian sederhana tanpa barang bawaan. Sakura menghela napas kembali, merasakan perutnya yang mulai keroncongan. Rasanya ia ingin menangis. Apa yang harus Sakura lakukan?

Sakura memberanikan diri keluar dari stasiun berharap dapat menemukan tempat untuknya bermalam. Berkali-kali ia melirik beberapa motel dan penginapan namun urung saat teringat dirinya tidak membawa uang barang sepeser pun. Ayolah ini bukan drama di mana saat tokoh utama tersesat akan tanpa sengaja bertemu orang baik yang akan memberikan tumpangan untuk menginap.

Akhirnya ia pun duduk di taman stasiun memperhatikan lalu-lalang kendaraan di jalan dan orang-orang yang mulai berkurang jumlahnya. Ia melirik jam di dinding stasiun, berkeliling sebentar rupanya sudah menghabiskan waktu. Saat ini hampir tengah malam dan Sakura masih belum menemukan cara untuk keluar dari situasi ini. Ia membungkukkan tubuhnya ke depan seraya menutup wajah dengan kedua tangan. Ia takut. Ia kesal. Sakura menangis sesegukan di kursi taman malam itu. Seandainya ia menurut pada larangan Naruto semuanya mungkin tidak akan seperti ini. Jarak Kyoto ke Tokyo sangat jauh, tidak dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Tanpa ponsel dan dompet ia tidak bisa apa-apa. Mungkin menunggu pagi nanti ia bisa meminta pertolongan orang-orang di sini untuk meminjamkan uang.

Malam semakin larut, suara jangkrik semakin jelas. Seorang security menepuk pundaknya membuat Sakura terperanjat. Seingatnya stasiun ini buka dua puluh empat jam, apakah ia akan diusir?

"Nona?"

Sakura mendongak dan terhenyak saat melihat sosok tegap berdiri di samping security tersebut. Pria berambut pirang yang sangat ia kenali. Wajah yang sebelumnya sering ia ejek jika bertemu.

"Naruto!"

Sakura melompat dan langsung memburu ke pelukan Naruto. Ia menangis sesegukan di dada bidang suaminya. Ya, suaminya yang datang kali ini dan menyelamatkan Sakura.

Naruto mengangkat kedua tangannya, mengelus rambut pink istrinya. Memberi perasaan aman. "Aku di sini." Naruto menoleh pada security yang sudah membantunya mencari Sakura lalu mengangguk sebagai tanda terima kasih.

Beberapa menit mereka terjebak pada posisi itu. Gerimis perlahan turun menetes pada pucuk-pucuk dedaunan. Semakin lama tetesan itu semakin kerap dan banyak.

"Kita cari tempat berteduh dulu, Sakura."

Sesuatu berdesir di hati Sakura ketika nama 'Sakura' itu diucapkan oleh Naruto. Selama ini mereka saling memanggil dengan nama marga dan panggilan formal. Tapi malam ini keduanya lupa dengan panggilan yang biasa mereka lontarkan saat bertengkar.

Keduanya sampai di sebuah penginapan bergaya tradisional. Bangunan yang terbuat dari kayu yang dihiasi lampion-lampion indah itu terletak tidak jauh dari stasiun. Bahkan penginapan itu menyediakan pemandian air panas yang bisa dinikmati oleh pelanggan di sana. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Naruto masuk dan memasang dua futon untuk mereka tidur. Naruto merebahkan diri. Hari ini sangat melelahkan. Padahal ia masih memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan.

Ia memejamkan mata. Malam sudah sangat larut dan ia lelah. Kemudian ia mendengar Sakura bergerak di sampingnya untuk bergabung tidur. Namun Sakura beringsut mendekati Naruto, dua tangan wanita itu menyusup di atas perutnya, sementara kepala Sakura bersandar di dada kiri Naruto. Pria itu bingung, apa yang sedang Sakura lakukan?

"Aku sangat takut." Sakura berbisik di tengah keheningan kamar. Naruto merasakan jantungnya berdebar. "Begini sebentar, tidak apa-apa 'kan Naruto?"

Suara detak jantung Naruto semakin mengeras dan berdentum tidak karuan. Sepertinya Sakura dapat mendengar suaranya.

"Iya, tidak apa-apa." Naruto berdehem, berusaha memejamkan matanya. Sial, suara jantungnya sangat berisik!

.

.

.

.

.

Pagi beranjak. Matahari bergerak naik perlahan-lahan. Sakura membuka jendela penginapan dan melihat pemandangan asri di luar sana. Sangat menenangkan. Ia tidak tahu di kota besar seperti Kyoto justru memiliki pemandangan seindah ini. Rupanya stasiun pemberhentian tempat Sakura tersasar tidak jauh letaknya dari tempat wisata kuil dan taman di sini. Sakura menoleh saat melihat Naruto bangun sambil menggosok matanya.

"Ohayou, Naruto."

Pria itu menoleh dan sedikit terganggu oleh cahaya dari luar jendela. "Hm, ohayou."

"Cepatlah mandi. Kita akan pergi melihat taman di dekat sini."

"Err memangnya kita tidak pulang?"

"Sebentar saja. Kaa-san juga tidak akan marah. Anggap saja ini bulan madu kita? Kapan lagi bisa jalan-jalan seperti ini?"

"Kau sudah menghubungi Kaa-san?"

"HPku kan tidak ada,"

"Baiklah nanti akan aku beri tahu." Setelah mengatakannya Naruto beranjak menuju pemandian. Sementara itu Sakura berbenah dengan perasaan yang sedikit membuncah. Entah kenapa pagi ini ia bangun dengan dipenuhi energi yang menyenangkan. Sepertinya ia bisa melakukan kegiatan apa saja di hari ini.

Setelah berganti pakaian dengan kaos oblong yang mendadak dibelikan Naruto semalam mereka berjalan berdampingan menuju ke arah Taman Shosei yang terkenal indah di wilayah sini. Sakura takjub melihat danau yang jernih dihiasi pohon teratai yang bunganya belum mekar. Daun-daun momiji berguguran menghampar di sepanjang taman. Ranting-ranting pepohonan telah gundul. Beberapa waktu lagi akan menghadapi musim dingin.

"Whoah!" Sakura tidak bisa menyembunyikan raut takjubnya. Ia meraih tangan Naruto menariknya menuju ke suatu tempat.

"Ayo, Naruto!"

Naruto melihat sebuah bangunan kuil yang terletak tidak jauh dari taman. Bangunan yang didominasi oleh ornamen kayu yang di cat cokelat dengan ukiran bunga-bunga itu sangat indah terlihat berada di tengah-tengah taman. Sakura terus menarik Naruto sampai mereka tiba di depan gapura kuil. Tampak seorang pendeta yang sedang membunyikan lonceng dan menyalakan dupa. Pendeta tersebut berbalik dan tersenyum menyapa Naruto juga Sakura.

"Apa kalian datang untuk berdoa?" Pendeta itu menyodorkan beberapa batang dupa pada Sakura dan Naruto.

Sakura meraih benda itu lalu melirik Naruto. Mereka melangkah melewati gapura dan mendekat pada tempat berdoa.

"Aku mendoakan kelanggengan dan kebahagiaan untuk pernikahan kalian." Pendeta itu berucap. Sakura sempat terkejut karena pendeta itu tahu kalau Sakura dan Naruto sudah menikah. Asap dari dupa mengepul terbang dan bergabung dengan udara. Bergabung dengan angkasa. Seolah mengaminkan doa dua insan yang baru memulai kehidupan. Selesai dari tempat berdoa keduanya melanjutkan berkeliling kuil dan diakhiri dengan duduk di tepian danau. Ah hari sudah siang, tidak terasa waktu yang berjalan. Sudah saatnya mereka untuk kembali pulang ke Tokyo.

.

.

.

.

"Hari ini Forehead tidak masuk ya?" Ino menepuk keras pundak Kiba. Sementara Sasuke tampak diam dan hanya memperhatikan Ino.

"Kau yakin Sakura baik-baik saja?" Sasuke berpekulasi sedikit sangsi dengan Ino yang bersi keras mengatakan bahwa Sakura tidak perlu bantuan mereka untuk dijemput dari Kyoto.

"Apa aku terlihat seperti sahabat yang tega membiarkan sahabatnya kelaparan?"

Shino mengangguk. Seingatnya memang di antara mereka, hubungan Sakura dan Ino adalah yang paling dekat. Bahkan lebih dekat dibandingkan Sasuke dengan Sakura yang kelihatannya sering bersama. Mereka selalu percaya apa yang dikatakan Ino jika itu berkaitan dengan Sakura.

Ino mulai merasa sedikit gelisah. Pasalnya sejak telpon terakhir dari Naruto, ia tidak lagi mendengar kabar dari Sakura.

"Aku ke kamar kecil sebentar."

Ino meraih ponsel dan mencari-cari nomor Naruto yang sengaja ia simpan di hpnya setelah kemarin pria itu menelepon ke ponsel Sakura. Entahlah, Ino hanya merasa menyimpan nomor Naruto menjadi salah satu hal yang penting. Suara dering terdengar di kejauhan kemudian sambungan diangkat.

"Naruto-san? Ini aku Ino?"

"Ino-san?"

"Siapa? Kaa-san?"

Ino jelas mendengar suara yang ia kenali sebagai suara Sakura dari sebelah Naruto. Gadis berambut pirang itu tersenyum kecil, memang ada sesuatu yang tidak diceritakan Sakura padanya. Apa pun itu, Ino akan menunggu sampai si rambut pinky itu mau menceritakan semuanya.

"Ah, tadinya aku ingin menanyakan kabar Sakura. Tapi sepertinya dia baik-baik saja."

"Err iya."

"Baiklah, sampai jumpa."

Ino menggenggam ponselnya dengan penuh keyakinan. Syukurlah apa yang dikhawatirkan teman-temannya tidak terjadi.

.

.

.

"Si-siapa? Ino?"

Sakura melotot kaget setelah mendengar jawaban Naruto. Ah ia tidak sampai berpikir bahwa Naruto dapat menemukan Sakura di Kyoto adalah karena bantuan Ino. Ia tidak berpikir sampai ke situ! Sialnya saat menelepon tadi Sakura malah bersuara. Maka matilah ia kini. Sakura sudah tidak akan bisa menghindari pertanyaan Ini sepulang nanti.

Naruto meraih tangan Sakura yang bersandar pada pangkuannya. Lalu tersenyum, "Kau bisa mempercayai Ino."

Benarkah ia bisa mempercayai Ino? Sakura menatap lekat wajah Naruto dari dekat di dalam kereta. Ia tidak sadar selama ini, wajah yang selalu bermusuhan dengannya, ia tidak sadar jika dilihat dari dekat wajah itu sangat polos dan juga lembut. Sakura terjebak dalam pikirannya sendiri sebelum ia sadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak. Tidak bisa begini. Ia tidak boleh jatuh pada pesona si Uzumaki.

"Kau baik-baik saja?" Naruto heran melihat tingkah Sakura yang aneh, ya memang aneh sejak mereka bertemu di stasiun malam tadi.

"Naruto, ayo kita membuat kesepakatan pernikahan?!"

"Hah?"

Naruto mengernyit. Memang benar ada yang salah dengan otak Sakura.

.

.

.

To be continued

.

.

A/n Hai Author kembali dengan fict yang entah ditunggu atau ngga ini. Sepertinya otakku sedikit terganggu selesai UTS yang memuakkan. Seharian ini moodku anjlok seanjlok-anjloknya sampai aku tidak mood menulis padahal tinggal beberapa kalimat saja. Kabar tentang spoiler chapter 51 serial Boruto benar-benar membuat spot jantung. Arghhh bahkan rasanya aku masih belum bisa move on dari memikirkan spoiler itu. Ayolah, shipku sudah kandas setelah di serial resmi Naruto tidak berakhir dengan Sakura, dan sekarang haruskah aku juga kehilangan Naruto? Kenapa harus Naruto? Okelah Naruto diharuskan meninggal agar serial Boruto menarik, katanya, tapi jujur, aku lebih suka tidak ada serial Boruto dibandingkan harus kehilangan Naruto! Aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Bagaimana pendapat kalian tentang ini? Kuharap kalian sependapat denganku. Aku tidak rela kehilangan Naruto. Sungguh.

Special thanks for,

ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa

Aulshi : wkwkwk aku pun greget punya temen begitu, minta direbus 😂😂😂

Giansmoker7 : Aduh permintaannya berat. Sekarang seadanya dulu yaaa, abis UTS riweh soalnya, kapan-kapan pasti ditambah

Hime : Sarang juga, eh emang ada yang nunggu ya fictnya? Aku kira ga ada yang suka, karena reviewnya yang sangat sedikit. Jadi aku hapus karena tidak pede. Hemmmm, gimana apakah mau di up ulang? Atau mau baca versi ori di wattpad?

BelumLogin : makin brengsek makin konyol dari hari ke hari ya sekolah daring. Aku setuju wkwkwk enaknya Hinata jadi sad girl atau fuck girl ya? 😂✌️✌️✌️

Oh ya, sekadar info, saya ini cewek 😁. Aduh plis reader tercinta jangan panggil bang atau pak😂 wkwkwk hepi riding semuanya!