Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

Naruto menoleh saat seseorang menyodorkan kotak bekal di hadapannya. Ia mendapati Hinata tersenyum ke arahnya lalu mendekat dan duduk di kursi bawah pohon tempat Naruto biasa mengerjakan tugas. Hari sudah sore, awan yang berarak di langit berwarna keemasan karena cahaya senja. Usai diguyur hujan semalaman, sepertinya sore ini tidak ada tanda-tanda akan hujan. Naruto menepikan laptopnya untuk berbalik.

"Apa ini?" Ia meraih kotak bekal kemudian membukanya.

"Pir, apel, dan jeruk."

Naruto tertawa melihat susunan buah-buahan yang ditata Hinata membentuk wajahnya dengan jeruk berwarna orange sebagai rambutnya.

"Sayang sekali ini kalau aku makan ini?" Diambilnya satu potongan jeruk dari dalam kotak tersebut.

Hinata memang biasa membawakan bekal untuk Naruto entah itu buah-buahan, nasi, atau sushi. Memang tidak banyak, tapi Naruto selalu suka perlakuan Hinata itu. Hubungan mereka telah berjalan selama dua tahun dan tentu saja orang tua Naruto selalu menentang Hinata. Sampai pada puncaknya ayah dan ibu Naruto menikahkan Naruto dengan Sakura.

"Err Hinata-chan. Aku ingin mengatakan sesuatu,"

Haruskah Naruto mengatakan perihal masalah ini? Ia harus menceritakan apa adanya pada Hinata bahwa ia telah menikah dengan Sakura, meskipun ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Dengan beralasan seperti itu mungkin Hinata akan memahami dirinya karena mereka bersama sudah cukup lama. Seharusnya Hinata mengerti kan?

Gadis itu menoleh pada Naruto. Namun sebelum sempat ia menanggapi kalimat Naruto, ponsel milik Naruto berdering cukup kencang. Membuyarkan suasana di tengah-tengah keduanya.

Naruto melihat deretan nama Sakura di layar ponselnya.

"Moshi-moshi, hmm, ke mana? Aku tidak bisa. Aku sedang sibuk."

Klik

Naruto mematikan ponsel dan menaruhnya kembali ke atas meja.

"Tadi Naruto-kun mau bilang apa?" Hinata bertanya cepat sembari mengambil satu potongan buah pir dan ikut melahapnya. Rasa manis dan segar menyentuh lidahnya membuat Hinata sedikit rileks.

Namun ponsel Naruto kembali berdering, kali ini nama Tsunade yang tercetak di sana. Naruto terperanjat dan langsung meraih ponselnya cepat.

"Ya, Kaa-san? Apa? Oh tentu saja. Aku berangkat sekarang, ahahaha."

Hinata hanya memiringkan kepala tanda heran dengan tingkah laku Naruto yang aneh kali ini. Selesai menelepon Naruto langsung membereskan laptop dan buku-bukunya yang berserakan.

"Sepertinya aku harus pulang duluan, ada hal penting." Naruto menyengir.

Hinata hanya mengangguk paham. Lagipula selama ini Hinata tidak pernah berani menginterupsi perintah orang tua Naruto pada Naruto. Terlebih ia tahu kedua orang tua Naruto masih belum bisa menerima dirinya.

"Baiklah."

.

.

.

.

.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kita mengambil paket milik Kaa-san?"

Sakura menoleh pada Naruto yang duduk bersebelahan dengannya di dalam bis. Kesal sekali saat Naruto pada awalnya menolak ajakan Sakura jika tidak ada Tsunade yang membantunya. Sakura tahu Naruto sedang berduaan dengan gadis Hyuuga itu di taman kampus.

"Apa kau harus membeda-bedakan perlakuan tergantung dari siapa yang memintanya?" Sakura memicing tidak suka.

"Baiklah maafkan aku."

"Maaf karena sudah berpacaran dengan wanita lain di belakang istrimu atau maaf karena sudah mengabaikan permintaan istrimu?"

Naruto membuang napas tidak terima. "Jangan bawa-bawa Hinata ke dalam masalah ini."

Entah kenapa Sakura alergi mendengar Naruto menyebut-nyebut nama wanita itu dan membelanya. Ia berhenti menanggapi dan memainkan ponsel. Mengabaikan Naruto. Sampai mereka tiba di butik tujuan yang diminta Tsunade, sampai mereka tiba di rumah. Sakura menyerahkan kotak pesanan Tsunade setelah itu langsung naik untuk mandi. Naruto terus memperhatikan sikap Sakura yang mendiamkannya. Bahkan Tsunade tidak berani berkomentar, ia hanya meminta Naruto untuk menyusul Sakura dan menyelesaikan permasalahan mereka.

Naruto keluar dari kamar mandi dengan telah mengenakan piyama sementara Sakura sudah pulas di tempat tidur. Wanita itu bahkan mengabaikan susu yang sudah dibawakan Tsunade sebelumnya. Setelah mengeringkan rambut, Naruto naik ke atas tempat tidur. Mendekati Sakura.

"Kau marah? Hm?"

Sakura sebenarnya hanya berpura-pura sudah tidur. Ia membuka mata saat Naruto menyapanya.

"Aku mengantuk."

"Baiklah, selamat tidur."

Sakura mengingat kembali pemandangan yang dilihatnya sore tadi. Saat Naruto tersenyum sangat tulus pada wanita itu. Saat Naruto tertawa, dan saat keduanya terlihat saling menyayangi. Sakura meraba hatinya yang terasa sedikit sesak. Perasaan apa ini? Kenapa rasanya sakit? Kenapa rasanya perih? Padahal Sakura tidak pernah mengharapkan apa pun dari pernikahan ini dan dari Naruto. Harusnya Sakura tidak merasakan apa-apa. Ada apa dengan dirinya?

.

.

.

.

.

"Apa?!"

Ino menyemburkan es teh yang baru saja ia minum ketika dirinya sedang mengobrol berdua dengan Sakura, dan sahabatnya itu mengatakan sesuatu yang mustahil.

Sakura mengambil tissue untuk menyeka wajahnya. Ino sialan membuat make up nya luntur saja. "Pig! Pelan-pelan kalau minum!"

Ino menghentakkan gelas minumannya ke atas meja, membuat bunyi berisik yang menarik perhatian beberapa orang. "Yang benar?! Ka-kau?!"

"Sttt, jangan berisik Ino. Aku hanya mengatakannya padamu saja!"

"Tapi bagaimana bisa? Ini tidak masuk akal!"

"Benar kan? Tidak masuk akal kan? Tapi aku bisa apa?"

"Kau kan punya hak buat menolak Forehead! Kau tidak bisa pasrah begitu saja! Ini melanggar hak asasi manusia! Kau bodoh ya?"

Sakura memicingkan mata pada Ino. Sialnya sahabatnya malah memaki dirinya dan bukan memberikan solusi.

"Jadi kalian membuat kesepakatan pernikahan?"

"Tidak, aku sudah mencobanya. Naruto tidak mau."

Ino membuang napas kasar. "Jadi kalian berniat menikah sungguhan?"

"Tidak juga. Aku tidak mencintainya." Sakura memalingkan pandangan dari Ino dan menatap mocca lattenya yang sudah mencair. Tapi kenyataannya mereka memang sudah menikah sungguhan, sudah mendaftarkan pernikahan di kantor distrik dan sudah mengucapkan janji pernikahan pada upacara di depan pendeta.

"Terus mau kalian apa kalau begitu? Bukan karena kalian pernah melakukannya kan?" Ino menyatukan dua tangannya memberi isyarat.

"Me-melakukan apa?" Awalnya Sakura belum mengerti maksud perkataan Ino.

"Itu lho, melakukan i-tu." Ino memberikan isyarat kembali dengan tangannya.

Blush

Sakura langsung menutup wajahnya malu begitu ia menyadari maksud perkataan Ino. Tentu saja, jangankan hal seperti itu, melakukan yang lebih kecil dari itu saja tidak pernah! Ya tidak pernah selain ciuman singkat di malam upacara pernikahan mereka.

"Ti-tidak mungkin!"

"Benarkah? Kau yakin tidak terjadi apa-apa sementara kalian sudah mulai tidur satu ranjang, bahkan di Kyoto kalian hanya berdua! Aku yakin tidak ada pria yang akan tahan begitu dengan wanita."

"Tidak Pig-"

"Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali?"

Saa itulah tiba-tiba Lee datang bersama dengan yang lainnya. Membawa nampan makanan dengan wajah yang kusut. Terutama wajah Uchiha Sasuke yang terlihat tidak berselera melakukan apa-apa. Sementara Kiba dan Shino langsung mengambil tempat duduk untuk bergabung dengan semuanya.

"Hah kalian enak sekali bisa bolos kelas dan mengobrol di sini." Kiba bergerutu.

Ino hanya menyengir, ia dan Sakura memang sengaja bolos di kelas terakhir mereka karena saking penasaran dengan cerita yang akan diberitahu Sakura perihal hubungannya dengan Naruto. Rupanya memang benar cerita Sakura tidak sesederhana yang dibayangkan. Namun Sakura meminta Ino merahasiakan masalah ini dari yang lain. Sakura hanya belum siap harga dirinya sebagai anggota band dan musuh bebuyutan Uzumaki Naruto akan jatuh karena hal ini. Hanya saja, Ino tidak menyangka hubungan Sakura dan Naruto ternyata sudah dimulai jauh sebelum Ino mengenal Sakura. Sangat tidak diduga.

"Sore ini kita jadi pergi ke tempat karaoke?" celetuk Lee yang langsung direspon antusias oleh yang lain.

"Tentu saja!" Kiba merespon.

Ino melirik Sakura. Seolah memberikan isyarat apakah Sakura baik-baik saja jika mereka pergi ke tempat karaoke? Sakura menjawabnya dengan tersenyum. Ia baik-baik saja. Memangnya menikah akan membuat perubahan pada dirinya? Tentu saja tidak. Sakura bebas melakukan apa yang dia mau sebanyak mungkin. Naruto baka itu tidak akan bisa melarangnya!

.

.

.

.

.

Hujan turun deras malam itu. Naruto menutup laptop yang sejak tadi ia geluti di meja perpustakaan. Shikamaru menguap lelah usai menyelesaikan satu makalah penelitian yang ditugaskan pagi ini. Melihat wajah Naruto yang muram membuat Shikamaru penasaran dengan sahabatnya

Namun ia tidak berani mengusik kehidupan pribadi Naruto. Minggu lalu saat Naruto tidak masuk kuliah saja ia tidak menanyakan alasan Naruto. Ia pikir setiap orang memiliki privasi yang berhak mereka jaga, dan Shikamaru tidak ingin mengganggu Naruto sampai pria itu mau menceritakan sendiri masalahnya pada Shikamaru.

"Kau pulang sendiri?"

Naruto menoleh pada jendela yang basah disentuh hujan. Sakura sudah pulang belum ya?

"Ya, aku sendiri." Naruto menjawab tanpa menoleh.

Shikamaru menguap lagi. Ia butuh tidur. Mereka pun keluar bersamaan dari gedung perpustakaan. Rupanya di luar langit sudah sangat gelap. Naruto melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sepertinya Sakura sudah pulang di jam segini. Ia membuka payung dan mulai berjalan menuju halte, berpisah dengan Shikamaru yang menuju ke arah lain.

Bis datang, Naruto melipat payung dan naik ke dalam bis. Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi hujan yang turun cukup deras. Tak lama lagi musim dingin akan bertandang. Saat salju turun, jalanan yang saat ini basah akan berubah warna menjadi putih.

Sesampainya di rumah, ia masuk dan Tsunade menyambutnya di ruang tengah.

"Mana Sakura?"

Naruto melongo. Ia kira Sakura sudah pulang mendahuluinya karena hari sudah malam.

"Sakura belum pulang Kaa-san?"

Tsunade melihat jam, sudah pukul sembilan. Sepertinya ia tahu ke mana putrinya pergi jam segini. "Sepertinya dia bermain ke tempat karaoke di Shibuya. Naruto tolong susul anak itu. Oh ya, jangan lupa besok ibu dan ayahmu meminta kalian menginap di rumah mereka."

"Iya Kaa-san, tadi Tou-san sudah memberitahuku."

Karaoke? Ah, istrinya menyusahkan saja. Naruto mengeluarkan mobil dari bagasi karena akan memakan waktu jika ia menggunakan bis atau taksi. Ia merogoh ponsel dan berusaha menghubungi Sakura namun tak ada jawaban. Jangan bilang mereka karaoke sambil mabuk? Naruto menepuk jidatnya. Ia teringat pada Ino dan mencoba menghubungi gadis pirang itu.

"Ino-san, kalian di mana? Baiklah aku segera datang."

Naruto meluncur menuju ke halte terdekat dari rumahnya. Ia melihat Sakura dibopong oleh Ino keluar dari taksi.

"Naruto-san?"

Naruto melihat Sakura yang bahkan sudah kesulitan berdiri. Ia menggedong Sakura lalu memasukkannya ke dalam mobil. "Terima kasih Ino-san."

Ino hanya tersenyum kecil. Ia tidak percaya apa yang dikatakan Sakura memang sungguhan, melihat Naruto menjemput Sakura dan bahkan sampai mau menggendongnya semakin membenarkan pernyataan Sakura soal pernikahannya.

"Tolong jaga Sakura." Ino berucap sebelum Naruto menutup pintu mobil. Naruto hanya menjawab dengan anggukan.

Naruto melemparkan tubuh Sakura ke tempat tidur. Ia melepaskan kaos kaki istrinya dan juga tas yang ia kenakan. Mahasiswa macam apa yang mabuk-mabukan seperti ini!

Mata Sakura terbuka dan melihat ke arah Naruto. "Kau, Naruto?" Ia pun berusaha bangun dan berdiri sempoyongan.

"Sakura, tidurlah. Kau mabuk. Bau sekali!"

Sakura malah mendekati Naruto dan dengan gerakan cepat mencium bibir Naruto. Mengalungkan dua tangannya di leher suaminya. Naruto mual merasakan mulut Sakura yang berbau alkohol. Ia berusaha melepaskan diri dengan mendorong Sakura.

"Apa yang kau lakukan?!" ia menyeka bibirnya yang barusan diraup Sakura tanpa aba-aba.

"Naruto," Sakura meraih wajah Naruto dan menatapnya dengan mata yang merah. Ia menangis sambil memandangi pria itu. "Naruto?"

"Kau menangis?"

Sakura menyeka air matanya. "Aku tidak menangis."

Naruto menuntun Sakura kembali ke tempat tidur, namun Sakura menarik tangan Naruto sampai pria itu jatuh dan terbaring di sampingnya. Sialnya Naruto terkunci dan tidak bisa keluar dari pelukan tangan Sakura. Ia menghela napas. Baiklah malam ini biarkan begini. Ia menyerah, berbalik dan membalas pelukan Sakura sambil menarik selimut agar tidak kedinginan. Hujan masih setia turun membasuh bumi. Suara bising menyamarkan detak jantung Naruto yang berdentum keras. Malam ini udara sangat dingin, namun ia tidur dalam keadaan hangat. Pelukan Sakura sangat hangat.

.

.

.

.

To be continued

An : Hai hai Author balik. Apa. Kabar kalian? Btw Author ada sedikit koleksi cerita yang sudah tamat adakah yang mau membaca? Tentu saja Narusaku yang sebelumnya sudah pernah dipost dan saya hapus wkwkwkwk karena tidak pede. Baiklah nanti akan saya post ulang. Tapi jangan lupa review nya ya minna-san!

Happy reading!

Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa

Aushi : apa tuh yang gosong manis? Pisang bakar coklat ya hahahhaa

Kurome Irushia Aindra : yap pengennya ga lama-lama update, maap ya banter seminggu sechapter. Tapi saya usahain lebih dah, kalau kerjaan lagi ga banyak hehehe. Semoga menghibur. Baca dan review terus yaa

Giansmoker7 : memang review itu ga tau kenapa bikin tambah semangat nulis. Mungkin ada energi positif yang disalurkan reader kali yak wkwkwk ngomong apasih

BelumLogin : iya cewek ini teh. Wkwkwk tenang, ada waktunya si forehead tobat nanti.

Raizo : Asiyap, jangan lupa review dan follow nya y ka

Hime : Ya, Naruto memang Naruto. Aku bahkan sudah tidak menganggapnya sejak serial Boruto tayang. Baiklah gimana ga semangat kalau disemangatin gini. Nanti coba kupost ulang ceritanya yaa jangan lupa login terus follow nya kaa biar tau apdetan cerita ini. Thanks for ur review.