Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

Hujan sore itu turun sangat lebat. Pepucukan bergoyang-goyang dihantam tetesan air. Jalanan menggenang, jendela-jendela rumah basah, dan sepatu milik gadis kecil yang berdiri di depan gerbang sekolah menengah itu pun ikut basah. Ia menutup kepala dengan tangan mungilnya namun tak cukup untuk menutupi dirinya dari hujan. Baju seragam yang ia kenakan perlahan basah, begitu pun ransel yang ia gendong. Langit semakin gelap dan tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Ia pun berjongkok berusaha memperkecil efek basah dari hujan yang mengguyur tubuhnya.

Gadis kecil itu mendongak ketika tetesan hujan di depannya menghilang. Sebuah sepatu berukuran besar yang dikenakan sepasang kaki berkulit tan yang menarik perhatian. Ia mendapati anak muda berambut pirang berdiri di depannya, memegangi payung untuknya. Saat itu wajah pemuda itu tampak cerah di mata si gadis meskipun si pemuda tidak menunjukkan senyuman.

"Pakai ini!" Ia menyerahkan payung miliknya pada si gadis pinky.

Tetesan hujan seolah melambat. Orang-orang yang berjalan membawa payung melambat. Juga anak-anak yang baru keluar dari gerbang. Waktu seolah melambat ketika ia menatap wajah pemuda baik hati di depannya. Haruno Sakura meraih payung yang diserahkan Naruto, sambil tersenyum ia berdiri.

"Bagaimana denganmu?" Hujan turun semakin deras. Sakura kecil menunjukkan raut khawatir.

Si pemuda tersenyum lebar. "Aku pakai ini," seraya memasangkan tudung hoodie di kepalanya.

"Tunggu." Sakura meraih lengan Naruto, menahannya agar tidak pergi. "Kita pakai bersama sampai ke halte."

Naruto melirik lengannya yang dipegang Sakura. Hujan semakin deras, tidak ada pilihan lain, ia pun ikut Sakura di bawah satu payung yang sama. Mereka berjalan bersama-sama. Wajah Sakura berubah sumringah. Dadanya membusung senang. Pelan ia miringkan payung yang dipegangnya ke samping. Membiarkan sebagian bahunya sendiri kebasahan. Tak apa, selama pemuda di sampingnya tidak kehujanan. Selama Naruto tidak basah, ia tak apa.

.

.

.

Sakura membuka mata, ia tidak sadar ketika tangannya melingkari tubuh Naruto. Pria itu masih pulas, hari masih terlalu pagi. Kamar mereka pun masih gelap. Wajah Naruto menghadap ke atas, mulutnya terkatup rapat. Sakura menyentuh bibirnya sendiri, semalam ia tidak terlalu mabuk untuk melupakan ciumannya pada Naruto. Ia baru tahu bahwa ciuman sepihak saja sudah bisa terasa membekas di bibirnya seperti ini. Wajah Sakura memerah, sial, ia malu membayangkan kejadian semalam.

Sakura mengangkat tangannya menyentuh wajah Naruto, dua matanya, hidungnya, sampai ke bagian bibirnya. Ia tidak ingat tepatnya kapan pertama kali ia mengenali pria ini. Sepuluh tahun yang lalu? Awal mula dirinya diadopsi oleh pasangan Tsunade dan Jiraiya? Awalnya Sakura diberitahu bahwa dirinya sudah dijodohkan dengan Naruto. Atau tujuh tahun yang lalu, saat pemuda ini memberikan payung padanya dan mereka berjalan di tengah hujan di bawah satu payung yang sama. Atau saat Sakura mengetahui isi hati Naruto tidak pernah untuknya? Melainkan untuk orang lain. Entah sejak kapan awalnya Sakura mulai membenci pria ini.

Jemari Sakura tertahan di bibir Naruto. Saat itulah kedua mata Naruto terbuka.

"Apa belum cukup yang semalam?" gumam Naruto dengan suara serak, kata-katanya ambigu. Sakura sontak menarik tangannya. Berusaha melepaskan diri dari Naruto. Namun terlambat, Naruto dengan cepat menangkap tangannya mengunci Sakura di antara tubuhnya. Ini kesempatan Naruto untuk membalas kejadian semalam.

"Ohayou, Nyonya Uzumaki? Morning kiss sepertinya cocok untuk kita," Naruto menyeringai. Ia meraih bibir Sakura ke dalam ciuman yang mendadak. Sakura melebarkan kedua mata karena terkejut tidak diberikan kesempatan untuk merespon.

"Na-ruto." Sakura berusaha keras keluar dari kuncian Naruto. Sialnya tenaganya saat baru bangun tidur tidak cukup kuat untuk menolak. Apa yang ia lakukan semalam sampai membuat Naruto sejengkel ini?

Naruto melepaskan diri dengan napas yang terputus-putus.

"Brengsek!" Sakura mendorong Naruto sampai pria itu nyaris jatuh dari ranjang. Ia menyeka bibirnya dan berlari menuju kamar mandi.

Naruto hanya menundukkan kepala. Tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya tidak bisa menahan dirinya.

"Sialan manis." Wajah Naruto semakin menunduk dan tenggelam.

.

.

.

Hari ini kampus mereka mulai libur untuk beberapa hari ke depan. Naruto turun dari kamarnya setelah selesai mandi dan mengenakan kaos berwarna putih. Dari tangga ia dapat melihat Sakura yang sedang memasak sesuatu di dapur bersama ibunya.

Sakura memasak?

Ini hal baru. Sebab sejauh pernikahan mereka yang baru berumur beberapa minggu, Naruto tidak pernah melihat sekali saja Sakura memasak. Wanita itu kelihatan lebih sibuk dari anak kedokteran dengan acara-acara musik band miliknya. Bahkan ketua senat sekelas Shikamaru saja kalah sibuk dengan kegiatan band Sakura.

Naruto mengambil tempat duduk di meja makan. Di sana sudah tersedia semangkuk nasi, segelas air putih, dan sumpit. Tak lama kemudian Sakura membawakan sepiring omelet yang sudah dipotong-potong membentuk roll. Ia menyerahkan satu piring untuk Naruto, satu untuk ibunya, dan satu untuknya.

Naruto ragu-ragu menyumpit telur buatan Sakura tersebut. Sakura yang menyadari tingkah Naruto hanya tersenyum sinis. "Tenang saja aku belum berencana memasukkan racun ke makananmu."

Naruto mengernyit tak terima. "Belum?" Ia melihat Sakura yang tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya. Menyebalkan. Akhirnya Naruto memakan telur tersebut dengan resiko kemungkinan akan kehilangan nyawanya jika benar Sakura menaruh racun, namun lidahnya menyambut dengan baik makanan buatan Sakura.

"Enak," gumamnya seraya melahap potong demi potong omelet hingga tandas.

Sakura memperhatikan Naruto yang sedang makan dengan lahap makanan buatannya. Seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya, ia senang. Entah kenapa ia senang Naruto menyukai makanannya. Tsunade yang memperhatikan hal tersebut pun ikut tersenyum. Ia tahu hubungan buruk anak-anaknya yang bisa dibilang menikah karena paksaan. Tapi jujur ia senang jika melihat mereka perlahan dapat membiasakan diri satu sama lain.

"Sore ini bersiaplah." Tsunade berceletuk setelah makanannya habis.

Sakura teringat janji pada kedua orang tua Naruto untuk menginap di rumahnya saat libur kuliah. Kalau dipikir-pikir Sakura belum pernah sekali pun berkunjung ke rumah Naruto sejak mereka menikah. Kira-kira akan ada apa di rumah suami baka-nya ini?

"Aku sudah siapkan pakaian ke dalam koper."

Sakura menoleh kaget. "Sejak kapan?" ia saja belum memegang barang-barang sejak pagi tadi.

"Sejak sebelum turun dan sarapan," cibir Naruto dengan nada sedikit mengejek. "Hanya siap-siap saja, aku yakin akan berantakan jika mendadak dibereskan sore nanti."

Tsunade tersenyum senang mendengar tanggapan Naruto. Memang bisa dibilang Sakura adalah yang paling berantakan di antara mereka yang ada di meja makan ini. Dari mulai penataan kamarnya, jadwal sehari-harinya, hingga hidupnya sendiri pun Naruto berpikir Sakura adalah wanita paling berantakan di dunia. Tidak ada lagi. Sementara selama ini hidup Naruto berpegang teguh pada prinsip bekerja keras dan memiliki banyak prospek hidup untuk ke depannya, Sakura sama sekali nihil. Wanita seperti Sakura seolah tidur, makan, dan hidup untuk hari ini saja. Tidak ada keinginan untuk sukses dan tidak memiliki target yang ingin dicapai. Tidak mau berusaha memperoleh sesuatu, dan yang lebih penting, Sakura tidak berprinsip. Hidupnya seperti mengikuti arus yang ada di sekitarnya. Seperti layangan putus yang mengikuti ke mana saja angin bertiup, tak ada tujuan.

Jidat Naruto pun sukses menjadi korban toyoran tangan Sakura yang jengkel. "Kau pikir hidupku seberantakan itu apa?"

"Hah? Aku tidak bicara apa-apa?"

"Na-ru-to, baka!"

Bahkan di depan Tsunade keduanya tidak menjaga image baik untuk pernikahannya. Tsunade hanya bisa menghela napas panjang. Ia yakin, akan ada waktunya nanti mereka akan saling mencintai lebih dari yang seharusnya. Tsunade yakin semua akan indah pada waktunya.

.

.

.

.

"Ino, aku tidak bisa pergi. Mungkin untuk beberapa hari ke depan." Sakura memelankan suaranya, berharap Naruto yang tengah menyetir mobil tidak dapat mendengar obrolan dirinya dengan Ino di telpon.

"Memangnya kenapa? Sakura acara ini penting lho. Kau sebagai produser seharusnya hadir."

"Aku diminta menginap di rumah orang tua Naruto, Pig!"

"Hah? Ah aku lupa. Pernikahan sialan!" umpat Ino dari seberang.

"Kau bisa gantikan aku kan, Pig? Lagipula keberadaan produser tidak begitu penting dalam acara live. Gomenne." Sakura memelas. Kali ini ia tidak berkutik ketika yang meminta adalah orang tua Naruto, mana berani ia menolak.

Ino terdengar membuang napas kasar. "Baiklah akan aku coba. Huh."

Telpon pun terputus. Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Naruto pukul tiga sore. Ayah dan ibu Naruto menyambut keduanya dari depan pintu.

"Akhirnya kalian datang," Kushina tersenyum lega. Ia merengkuh Sakura ke dalam pelukannya. Membuat Sakura mematung canggung karena tidak terbiasa dipeluk.

"Ayo masuk, biarkan pelayan yang bawakan koper kalian. Kemarilah." Kushina langsung menuntun Sakura dan Naruto menuju ke ruang tengah.

Sakura celingukan melihat-lihat dekorasi rumah Naruto yang minimalis namun mewah. Di ruang tengah rumah terdapat rak-rak buku yang tinggi, layar televisi ukuran besar yang menempel pada dinding, dan lemari pajangan berisi piala dan medali penghargaan. Di tengah ruangan terdapat meja berkaki pendek yang dikelilingi oleh sofa berwarna pastel. Sakura suka dengan desain rumah Naruto. Ada kue tart dengan lilin menyala di atas meja, Sakura pikir ada yang sedang berulang tahun.

"Ini kue penyambutan untuk menantu kami,"

Tak hanya Kushina dan Minato, di dalam ruang keluarga itu juga terdapat dua pria lain berambut merah persis seperti Kushina. Naruto sendiri terkejut melihat dua sosok itu duduk menunggu mereka.

"Nii-san?!" pekik Naruto seraya berlari menghampiri dua orang itu.

Kakak Naruto?

Sakura hanya tersenyum kecil karena merasa asing dengan dua laki-laki itu.

"Sakura-chan. Ini Uzumaki Nagato, dan Uzumaki Gaara. Mereka kakak Naruto, selama ini tinggal di luar negeri. Nagato-kun, Gaara-kun ini Sakura-chan istri Naruto."

"Wah wah Baka Otoutou-ku ternyata dapat istri secantik ini." Nagato menyodorkan tangan pada Sakura. "Senang berkenalan denganmu, aku Nagato. Kakak Naruto."

Sakura bisa menebak jika dua kakak Naruto ini adalah kembar jika dilihat dari usia mereka yang sepertinya seumuran. Hanya saja salah satunya yang berambut pendek sepertinya pendiam dan dingin. Sakura merasa bodoh seketika mengingat dirinya tidak tahu apa-apa tentang Naruto dan keluarganya. Selama ini Sakura memang cenderung menghindari mengetahui sesuatu tentang Naruto, untuk pria yang paling dibencinya di dunia, sebisa mungkin Sakura tidak ingin tahu apa-apa.

"Baiklah sepertinya kalian harus segera meniup lilinnya yang mulai mencair." Nagato mempersilakan Sakura dan Naruto untuk duduk berdampingan. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa datang saat acara pernikahan keduanya, untuk itu mereka mengadakan acara perayaan kecil ini.

"Jadi kapan?" Nagato berceletuk, "Aku diberi keponakan?" Spontan Naruto tersedak makanannya sendiri. Nii-san baka! Umpatnya dalam hati.

Wajah Sakura berubah merah. Nyaris menyamai rambut orang-orang dari keluarga Uzumaki. Rupanya kakak Naruto yang satu ini sangat ceplas-ceplos tanpa tahu tempat saat bertanya.

"Hahaha, kami masih belum terpikirkan." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sementara Naruto masih sibuk mencari minuman untuk melancarkan tenggorokannya.

Kushina dan Minato menyahuti jawaban Sakura. "Ya, kalian kan belum lulus kuliah."

"Tapi di tempat kuliah bukannya tidak dilarang untuk menikah dan punya anak?"

Ingin rasanya Naruto menjahit mulut rombeng kakaknya. Seandainya semua kakak di dunia seperti Gaara yang pendiam, maka hidup Naruto akan tenang. Ia lupa kalau kehadiran Nagato selalu membuat hari-harinya berisik. Ia lupa karena terlalu lama dua saudaranya tinggal di luar negeri.

"Ayolah Nii-san. Apa tidak ada pembahasan lain selain itu?"

"Tema kita malam ini kan pernikahan kalian? Naruto-kun, atau kalian mau bercerita saja?"

Naruto punya firasat tidak baik dengan kata-kata kakaknya. "Cerita apa?"

"Bagaimana pengalaman malam pertama kalian?"

Byur

Sakura menyemburkan air yang sedang ia minum, tepat mengenai wajah Naruto yang duduk di sampingnya. Naruto dengan wajah jengkel meraih tissue untuk menyeka wajahnya. Ia pun berdiri dengan perasaan kesal.

"Kaa-san, Tou-san, sore ini kami izin pergi sebentar."

"Mau ke mana?" Kushina tidak begitu senang saat Naruto yang baru saja datang justru meminta izin untuk pergi lagi.

"Sebentar saja, hanya ke acara festival musim dingin."

Sakura menoleh kaget. Sambil terbatuk-batuk usai menyemburkan air minum, ia berpikir ulang. Sepertinya Naruto mendengar semua obrolannya dengan Ino di mobil tadi. Acara festival musim dingin kan acara yang akan dihadiri oleh band miliknya? Naruto tidak sedang terbentur sesuatu kan?

.

.

.

.

To be continued

An : Fyuhh selesai juga. Maaf jika wordnya hanya sedikit. Adakah di sini pembaca wattpad minna-san? Jika ada jangan lupa untuk follow dan vote di akunku shargadiva 😁😁😁 ada apdetan cerita juga di sana. Hanya tidak seaktif di sini karena saya lebih seneng nongkrong di ffn.

Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa

Aushi : wkwkwk iya cewek tipe-tipe mau-mau tapi gengsi 😂

MANASYE : dah up nih, puas ga?

ririn4447 : thanks dah kalian dah setia baca dan komen paling awal terus. Lanjoottt

Happy reading