Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

"Ino?" Sakura memanggil Ino dari pintu masuk tenda tempat alat-alat musik disimpan. Ino menoleh saat menemukan sahabatnya datang di acara kali ini.

"Tadi kau bilang tidak bisa-" pandangannya beralih pada sosok pria yang mengikuti langkah Sakura di belakangnya. Kalimat tidak selesai Ino pun diakhiri dengan anggukan paham. Rupanya Sakura bisa datang ke acara festival karena diantar oleh Naruto. Ia cekikikan membayangkan betapa manisnya pasangan baru ini.

Pletak

Satu jitakan mendarat di kening Ino, Sakura memelototinya yang terus cekikikan tidak jelas.

"Aku mau menyerahkan ini,"

Ino mengambil flashdisk yang diserahkan Sakura. Ia sudah hapal betul bahwa isi flashdisk tersebut adalah aransemen intro lagu yang biasa Sakura edit sebagus mungkin sebelum diadakan acara live musik. Ino hanya tidak menyangka Sakura sempat-sempatnya mempersiapkan semua ini padahal belakangan ia terlihat sibuk karena pernikahannya.

"Terima kasih."

Saat itu ponsel Ino mengeluarkan bunyi dering yang panjang tanda panggilan masuk. Lagu Heartache yang dibawakan One Ok Rock mengalun memenuhi isi ruangan tenda yang dipadati peralatan musik. Ino melihat sederet nama Uchiha Sasuke dari layar ponselnya. Ia pun menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Ada apa Sasuke-kun? Oh stick gitarmu? Ah ada di sini? Apa? Ke sini? Tidak usah, biar aku bawakan untukmu. Apa? Kau sudah di dekat tenda alat musik?"

Ino mulai panik begitu mendengar Sasuke akan masuk ke tenda itu.

"Apa apa Ino-chan?"

"Sakura, Naruto, cepat sembunyi. Sebentar lagi Sasuke akan masuk!"

Sakura pun mau tak mau ikut panik. Ia masih belum siap jika ada yang melihat dirinya dengan Naruto atau mengetahui hubungannya dengan Naruto. Sontak tangannya menarik lengan Naruto menuju ke tumpukan alat-alat musik, tepatnya di belakang papan baliho. Mereka merapatkan diri agar muat di tempat sempit antara sebuah papan berukuran besar dengan dinding tenda.

Tak lama kemudian Sasuke masuk ke dalam tenda.

"Kau sedang mengobrol dengan siapa?" tanyanya saat sebelumnya mendengar suara berisik di dalam tenda.

"A-aku sendiri. Aku sendiri sejak awal. Ini stick gitarmu." Ino menyodorkan benda yang dicari-cari oleh Sasuke sejak tadi. Ia pun mengambil stick gitar tersebut.

Di tempat persembunyian Naruto dan Sakura, keduanya menahan napas sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara. Sepertinya hanya detak jantung yang kian bertambah cepat yang memenuhi suara dalam pikiran keduanya. Saat itulah Naruto melihat seekor kecoa jatuh ke pundak Sakura, hewan kecil menjijikan itu melompat ke arahnya. Ia nyaris memekik keras jika saja Sakura tidak cepat tanggap membekap mulutnya. Kedua matanya melotot memberikan isyarat agar Naruto tidak mengeluarkan suara. Namun kecoa itu terus berjalan dengan santainya di pundak Naruto dan naik ke dekat lehernya. Ia pun tak bisa menahan suaranya lagi, dan...

"Apa kau mendengar suara? Sesuatu?" Sasuke menoleh ke arah bunyi gedubrak kecil yang dihasilkan Naruto.

Ino mengangkat falshdisk di tangannya. "Ini!"

"Apa itu?"

"Aransemen intro kita, dari Sakura." Ino mengeluarkan cengiran miring. Sial. Senyumnya pasti terlihat sangat aneh saat ini.

"Sejak kapan?"

"Aku sudah membawanya sejak awal. Ayo kita dengarkan sebentar sebelum penampilan kita dimulai." Ino mendorong paksa Sasuke keluar dari tenda itu.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Sakura melepaskan ciuman bibirnya pada Naruto. Naruto melotot kaget dengan spontanitas Sakura. Gadis ini sengaja membukam mulut Naruto dengan mulutnya agar Naruto tidak berteriak dan melupakan kecoa di badannya. Sambil mengusir si kecoa, Sakura membawa Naruto ke dalam arus yang semakin dalam, semakin jatuh, kemudian Naruto lupa bahwa kecoa tadi sempat membuatnya takut. Hanya suara napas yang keras menyentuh wajahnya, dan debar jantung yang berdetak seirama detik pada jam tangannya. Waktu seakan berhenti, cecap bibir Sakura entah terasa manis di bibirnya. Membuatnya lupa sejenak pada dunia.

Napas Sakura memburu. Kedua matanya berkunang-kunang. Udara mendadak panas di sekeliling mereka, namun keduanya tak ada niat untuk memisahkan diri. Saat itu ponsel Sakura berdering. Ia mengangkat panggilan Ino tanpa mengalihkan pandangannya dari safir biru Naruto yang indah dalam keremangan.

"Ya?"

"Kau baik-baik saja kan Forehead?"

"Ya, aku sangat baik." Sakura menyeringai, menahan suaranya dengan napas terengah-engah.

"Baiklah. Aku sudah membawa Sasuke pergi. Kalian aman."

"Terima kasih Ino. Sudah memberi kita tempat yang 'aman'."

Klik

Sakura mematikan sambungan. Menaruh kembali ponselnya ke dalam saku dan mulai mengalungkan tangannya pada leher Naruto. Ino tidak benar-benar tahu bahwa tempat persembunyian mereka memang benar-benar 'aman' untuk dua orang itu.

"Lagi?" tanya Sakura ambigu.

Naruto hanya menggangguk kecil. Ia tidak tahu jika bibir wanita bisa membuatnya kecanduan seperti obat. Lain kali akan coba ia jadikan bahan penelitian untuk karya tulisnya. Ya, lain kali.

.

.

.

.

Sakura hanya tersenyum saat Naruto protes karena ia menyeretnya ke tengah kerumunan penonton yang bersiap menyaksikan penampilan Uchiha Sasuke dan kawan-kawan. Jarang sekali Sakura bisa menikmati festival sebagai pengunjung bukannya tamu acara. Kali ini ia hanya ingin menonton dan bermain sebentar lalu pulang. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, band sebentar lagi akan tampil membawakan lagu. Sakura menghirup aroma malam yang menyejukkan usai diguyur hujan. Seolah langit tak ingin mengganggu kegiatan festival malam ini, awan-awan hanya bergerak tapi tidak menurunkan hujan. Kerlip lampion di sepanjang jalan seakan memberikan hiasan di antara lalu-lalang. Stand-stand makanan dan aksesoris berjejer menyambut pengunjung festival. Di ujung jalan, sebuah panggung dipasang untuk menunjukkan penampilan beberapa pemusik dan teater. Kabarnya acara akan diakhiri dengan kembang api tepat pada pukul 12 malam.

Sakura tidak percaya band yang ia urus selama bertahan-tahun memang terlihat keren di atas panggung sana. Sasuke dengan gitar dan suaranya yang berat. Ino dengan bassnya, Lee dengan drum, dan yang lainnya tampak berpadu-padan berikut lagu merdu yang mereka bawakan. Tanpa terasa perutnya keroncongan, ia menarik keluar Naruto dari kerumunan.

"Aku lapar,"

Tak jauh dari mereka terdapat sebuah stand yang menjual gurita bakar. Naruto menyadari Sakura menginginkan makanan itu, ia pun mengajak Sakura membelinya.

"Kau suka gurita?" Naruto meniupi satu tusuk gurita bakar yang hendak ia makan.

"Sangat. Semua jenis makanan laut. Aku suka."

"Haha dasar aneh."

Mereka pun berkeliling mencari stand menarik yang bisa disinggahi. Misalnya stand photobox, stand gantungan kunci, hingga stand yang menjual udon. Sejak awal sampai akhir Sakura terus membeli setiap makanan yang ia inginkan, dan menghabiskannya sendirian. Naruto menyodorkan sebotol air mineral untuk wanita itu. Ia menyerah, ia tidak sanggup memakan apa pun lagi. Perutnya sudah kenyang.

"Kau makan terus tapi kenapa badanmu masih kurus?" Naruto heran. Ia sering mendengar Hinata mengeluhkan berat badannya jika naik beberapa ons saja. Ia pikir semua wanita itu sama, setidaknya mereka sangat memperhatikan penampilan. Terutama berat badan.

Sakura memenuhi mulutnya dengan satu gigit udon, "Entahlah. Badanku tidak pernah gendut meskipun aku makan banyak."

Wah, Naruto berdecak kagum. Hebat sih. Tapi apa hal ini adalah sesuatu yang pantas dibanggakan?

"Naruto,"

"Hm?"

"Ayo kita cari tempat untuk menonton kembang api?"

"Hah?"

Naruto terus memperhatikan tingkah Sakura yang bisa dibilang sedikit aneh. Sejak mereka terjebak di Kyoto, tidak, sejak keduanya terikat oleh pernikahan entah ada yang berbeda dari Sakura. Berbeda dari Haruno Sakura yang biasa memaki dan mengumpat dirinya dengan kata-kata kasar jika bertemu, atau wanita yang sering memukulinya jika mereka bertengkar. Sebelumnya Naruto bahkan menyebut Sakura dengan sebutan wanita kasar. Ia tidak percaya akan menemukan sisi lain dari seorang Sakura. Kebaikan hatinya saat menolong wanita hamil di bis, ketakutannya saat ia tersesat di Kyoto, keluguannya saat ia mabuk, manis bibirnya, bahkan senyumnya saat ini. Semuanya bukan hal yang dapat Naruto temukan sebelum mereka terikat pernikahan.

Sakura menarik Naruto menuju ke pojokan dekat dengan jembatan. Mereka mencari tempat yang sedikit sepi dari pengunjung. Hanya sepasang muda-mudi tak jauh di depan, dan beberapa orang yang duduk di sebelah kiri dan belakang. Naruto dan Sakura duduk di atas hamparan rumput. Udon yang dipegang Sakura masih tersisa beberapa tusuk lagi. Sebentar lagi pertunjukan kembang api akan dimulai.

"Kau tahu mitos tentang hanabi, Naruto?"

"Kembang api?"

Sakura menggangguk antusias. Diabaikannya kotak udon yang sejak tadi ia pegang. Menatap dalam iris jernih safir Naruto yang berkilat terkena cahaya lampion. Seketika membekukan saraf-saraf motorik dalam tubuhnya. Sakura mengerjap beberapa saat, mengembalikan kesadarannya yang sempat disedot oleh keindahan mata itu. Ia baru sadar bahwa mata Naruto sangat indah jika dilihat pada jarak yang sangat dekat seperti ini. Hal yang tidak pernah ia sadari selama sepuluh tahun hubungan pertunangan mereka.

"Katanya," lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan, "pasangan yang melihat kembang api bersama-sama saat festival musim dingin tidak akan terpisahkan jika pasangan itu saling berciuman."

Naruto mengerjapkan matanya. "Apa?"

Saat itulah bunyi psiuu duarr dari kembang api terdengar dan langit festival dipenuhi api yang pecah menyilaukan mata. Menyajikan warna-warni kembang api yang indah, saling bersahutan, dan mekar di langit sana. Sakura terpana melihatnya, meskipun bukan yang pertama kalinya melihat kembang api, namun malam ini entah menyaksikan kembang api berdua dengan Naruto terasa sangat menyenangkan. Ia merasa sangat bahagia. Bulir air mata pun tanpa terasa menetes dari matanya, tak pernah ia merasa lebih terharu daripada ini. Sakura menyenderkan kepalanya pada lengan kekar Naruto. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang kacau karena menangis.

"Kau menangis?"

Naruto meraih wajah Sakura. Menangkup wajah kecil itu ke dalam genggaman tangannya yang besar. Tanpa aba-aba. Tanpa instruksi. Naruto menarik Sakura ke dalam sebuah ciuman yang dalam. Jauh di dalam hatinya, benarkah ia berharap mitos itu benar-benar nyata? Baiklah, lupakan Hinata untuk saat ini. Lupakan pernikahan paksa, dan lupakan hubungan buruk mereka sejenak. Naruto hanya ingin menikmati sebentar saja ciuman di bawah riuh kembang api saat festival musim dingin. Tidak apa-apa kan?

.

.

.

.

.

To be continued

A/n : Fyuhhh akhirnya selesai. Sebenarnya dalam membuat cerita itu harus dengan beberapa pertimbangan plot. Plot awal cerita ini awalnya tidak seperti ini. Tapi ternyata proses penulisan itu kondisional. Tergantung mood saat kita menulis. Bisa saja plotnya melenceng jauh meskipun tetap pada jalur tema awalnya. Baiklah dukung terus cerita ini dengan klik follow dan favorit. Jangan lupa review untuk perkembangan cerita ini... Tapi thanks minna-san. Hepi reading!

Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa

Aulshi : kok takut? Kan buat edukasi wkwkwkwk kali aja baca malam pertama berakhir ketemu jodoh kan.

Ririn4447 & giansmoker7 : nih udah up, gimana menurut kalian chapter ini? Ada saran buat plot selanjutnya kah? Lebih bagus kritik pedas biar membangun wkwkwk

Nana Rindang : kayak Narusaku ya, benci-benci ngangenin wkwk

Guest : sip saran ditampung!

Hime : duh belum pede buat apdet gimana ya. Nanti coba kuedit beberapa scene nya biar enakan dikit ya. Sabar.

Happy reading