"Naruto di mana Kaa-san?"
Kushina yang tengah meneguk air dari gelas menoleh saat Sakura menghampirinya di dapur. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu lewat tengah malam. Tak disangka anak dan menantunya pulang sangat larut setelah meminta izin menonton festival. Ia pun menunjuk loteng dengan tangannya memberitahukan bahwa Naruto sudah naik ke kamarnya. Sakura melesat naik setelah melihat jawaban Kushina.
"Ngomong-ngomong, kenapa Sakura pulang belakangan?"
.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.
.
.
Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.
.
.
.
.
Sakura tidak pulang belakangan. Sakura hanya meminta ditinggal sebentar di luar rumah. Setelah itu Naruto masuk meninggalkannya. Ia menangkup kedua pipinya dengan tangan. Sialnya dua ciuman di festival tadi sudah sukses membuat wajahnya terus-terusan terbakar. Ia hanya ingin mendinginkan sebentar pikirannya dengan angin malam.
Setelah mendapat jawaban dari Kushina, Sakura masuk ke kamarnya. Ia mendapati Naruto sudah tertidur di tempat tidur mereka. Ia pun menghampiri sisi ranjang tempat Naruto terbaring lantas duduk di tepiannya. Menatap dalam hening wajah damai suaminya yang sudah pulas. Ia tersenyum kecil, sebelah tangannya terangkat menyingkirkan anak rambut Naruto yang menutupi keningnya.
"Oyasumi, Naruto."
Cup
Sakura mendapatkan kening Naruto malam itu. Ia bergegas membersihkan wajah dan berganti pakaian sebelum kemudian bergabung tidur bersama suaminya. Malam yang panjang dan juga menyenangkan. Sakura berharap malam ini ia bermimpi indah. Ia berharap tak pernah bangun dari mimpi itu.
.
.
.
.
Tok tok tok
"Adik? Apa kalian sudah bangun?"
Naruto dipaksa bangun dari tidur ketika suara berisik terus memberondong pendengarannya. Ia mengumpulkan sedikit kesadaran sebelum bangun dengan langkah terhuyung menuju ke arah pintu kamar. Pintu kamar terbuka dan ia melihat salah satu kakaknya berdiri di sana.
"Nii-san? Ada apa?" Naruto mengucek mata.
Gaara memalingkan pandangan tidak suka dengan kebiasaan adiknya bangun siang. Ia melirik isi kamar Naruto yang masih gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Fyuh, pasti adik iparnya pun masih tidur.
"Temanmu, si rambut kuncir dan seorang wanita sedang menunggumu di bawah."
"Aku masih mengan- APA?!" Kalimat Naruto berhenti saat ia melihat jam dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ia kesiangan?
"Cepatlah bersihkan diri, aku akan minta mereka menunggu." Gaara melangkah menjauhi pintu kamar Naruto menuju tangga. Namun Naruto dengan gerakan cepat menahan tangan kakaknya.
"Nii-san tidak bilang apa-apa soal Sakura kan?"
"Aku belum mengobrol dengan mereka."
"Tolong katakan pada Ayah, Ibu, dan Nagato Nii-san untuk tidak mengatakan apa-apa tentang Sakura." Naruto merapatkan kedua telapak tangannya memohon.
Gaara memandang tidak suka dengan permintaan adiknya. "Aku tidak bisa. Kau juga harus pikirkan perasaan Sakura." Gaara menunjuk kamar Naruto dengan dagunya.
Naruto menoleh dan paham yang dimaksud Gaara. "Tapi Sakura masih tidur. Aku tidak akan membangunkannya sampai mereka pergi. Aku mohon."
Gaara sebenarnya benci terlibat dengan konspirasi semacam ini. Ia paling tidak menyukai hal bertele-tele yang mungkin akan menimbulkan masalah lain ke depannya. Dan kali ini pun ia tidak ingin ikut andil untuk permintaan adiknya.
"Aku hanya akan menyampaikannya pada Ibu. Tapi aku tidak mau terlibat." Begitulah kalimat terakhir Gaara sebelum benar-benar meninggalkan Naruto.
Seharusnya kampus tempat Naruto dan Sakura kuliah masih libur, Naruto pun tidak memiliki jam tambahan untuk ia hadiri di hari libur. Namun semalam Shikamaru sempat berkomunikasi dengannya perihal karya tulis yang ditugaskan dosen sebelum libur. Shikamaru hanya tidak suka menunda-nunda pekerjaan selama mereka masih bisa menyelesaikannya lebih cepat, maka secepatnya dikerjakan adalah pilihan paling baik. Pria berkuncir itu menyapa saat Naruto turun dari kamarnya dengan telah lengkap mengenakan kaos dan celana jeans selutut. Naruto sedikit terkejut dengan kehadiran Hinata di sana. Pasalnya, kedua orang tua Naruto pasti mengenali Hinata. Ia pun melirik ibunya yang terlihat tidak peduli dan justru sibuk di dapur, sementara ayahnya terlihat asyik bermain dengan tanaman di taman samping rumah.
"Seharusnya bilang dulu sebelum datang."
"Aku sudah coba mengirim pesan tapi tidak tersambung." Naruto lupa hpnya ia matikan sebelum tidur tadi malam.
"Tidak akan lama. Aku datang buru-buru karena sore aku harus ke Kobe. Apa tidak apa-apa?"
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tentu."
Naruto, Shikamaru, dan Hinata akhirnya memutuskan menyelesaikan tugas di ruang perpustakaan milik ayah Naruto. Di dalam perpustakaan terdapat banyak sekali buku, sebuah meja berkaki pendek, dan karpet berwarna abu-abu. Kushina pun menyiapkan beberapa potong sandwich untuk sarapan.
Sakura menuruni tangga beberapa saat kemudian. Ia langsung bergabung dengan Kushina untuk membereskan dapur.
"Kau belum sarapan, Sakura-chan. Ada beberapa potong roti yang aku sisakan untukmu di meja makan." Kushina meminta agar Sakura memakan sarapan kesiangannya alih-alih membantu membersihkan dapur.
Di ruang keluarga tampak Gaara sedang menonton televisi. Pagi ini Sakura tidak melihat kakak Naruto yang berambut panjang, siapa namanya, ah Uzumaki Nagato. Gadis pinky itu berjalan melewati ruang tengah menuju ke teras di samping. Puluhan tanaman yang disusun sedemikian rupa berikut air mancur dan pepohonan hias membuat suasana taman terasa asri. Sakura duduk di kursi taman, matahari terik mengenai wajahnya.
"Harusnya aku membangun gazebo di sini supaya tidak kepanasan."
Sakura menoleh saat suara yang ia kenali mendekat dari arah taman. Ia adalah Minato yang siang ini tampak macho dengan stelan tukang kebun. Sakura tertawa mendengar penuturan Minato.
"Benar Tou-san. Atau kau bisa buat tempatnya khusus di tengah-tengah bunga itu."
"Bagus tidak?"
"Bagus. Aku paling suka pohon sakura yang ada di sana. Sayangnya ini musim dingin."
Minato ikut bergabung dengan Sakura di kursi taman. "Sangat indah saat musim semi," jelas Minato.
Sakura merasa sedikit canggung mengobrol dengan Minato. Sudah lama sekali sejak ia menyebut seseorang dengan sebutan ayah. Sejak meninggalnya suami Tsunade, Sakura tidak begitu banyak memiliki ingatan dengan ayahnya. Rasanya aneh, namun hangat di saat bersamaan. Tanpa sadar selama ini ia merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Ayah kandung yang telah meninggalkannya terlebih dahulu, ayah angkat yang kemudian juga pergi, dan kini ia memiliki ayah mertua.
"Tou-san lihat Naruto?" Sakura celingukan. Sejak bangun ia tak melihat suaminya di mana pun. Biasanya Naruto pergi ke taman ini saat tidak ada pekerjaan.
"Err, Naruto di perpustakaan."
"Oh,"
Sakura langsung bangkit dan pamit menuju perpustakaan yang dikatakan Minato. Gaara yang awalnya sedang asyik menonton televisi spontan terperanjat, ia langsung menjatuhkan remot di tangannya untuk mengejar Sakura menuju ruangan tempat Naruto dan temannya berada. Seperti mau copot jantung Kushina saat menyadari hal tersebut.
Prang
Kushina tanpa sengaja menyenggol gelas berisi air. Namun ia abaikan dan terus berjalan cepat menerobos dapur. Tidak bisa. Sakura tidak boleh bertemu dengan mereka. Pintu perpustakaan tampak transparan karena dibuat dari kaca buram. Sakura sampai di depan perpus dan perlahan mulai membuka pintu kaca itu, Gaara dan Kushina menahan napas. Tidak sempat!
"Tunggu Sakura-chan!"
"Sa-"
"Sa-kura-san?"
Begitulah seseorang menyambut Sakura di dalam sana. Ia merasa tidak asing dengan suara ini. Suara wanita yang terdengar lembut dan feminim. Sakura mendongak melihat sosok itu tengah duduk di belakang meja berkaki pendek, rambutnya yang panjang sengaja ia urai. Hyuuga Hinata menatapnya dengan ekspresi terkejut. Situasi apa yang sedang terjadi di depannya ini?
Sakura mengernyit heran. "Kalian?"
"Kenapa Sakura-san ada di sini, Naruto?" Shikamaru mengeluarkan komentarnya.
Sementara Naruto hanya melotot tak percaya. Ia belum mempersiapkan diri menghadapi situasi ini. Lagipula kenapa si rambut pinky tiba-tiba masuk tanpa aba-aba. "Di-dia ..."
Hinata sudah memasang pendengaran tajam-tajam. Firasatnya benar-benar tidak baik sejak berangkat pagi tadi. Hinata dan Shikamaru jelas tahu bagaimana hubungan permusuhan antara Naruto dan Sakura yang sudah berlangsung lama. Akan sangat membingungkan jika tiba-tiba saja Sakura berada di rumah Naruto.
"Tunggu, apa dia memerasmu Naruto?"
"Tid-"
"Jangan bilang dia juga mengancam keluargamu?"
Sakura hanya bisa mematung mendengar tuduhan tidak berdasar Shikamaru. Tentu saja kalimat tersebut menyulut api yang awalnya sudah memercik dalam kepala Sakura begitu melihat kehadiran Hinata di rumah mereka. Ya, orang yang seharusnya paling dilarang datang ke rumah ini justru sedang duduk manis dan memakan cemilan. Sakura naik pitam. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi mendekati meja, dan...
Brakk
Seketika itu laptop dan buku-buku di atas meja belajar mereka berhamburan. Shikamaru terperanjat dari tempatnya semula duduk. Begitu pun Kushina dan Gaara yang menutup mata tidak berani melihat pertengkaran mereka.
Sakura meniup poni rambutnya yang menghalangi mata. "Kau pikir kau siapa hah?! Kalau tidak tahu apa-apa jangan sembarangan bicara!"
"Na-Naruto, kau pasti diancam kan?" Shikamaru berbisik takut-takut. Saat itulah Sakura mengambil sebuah buku berukuran cukup tebal yang kemudian ia angkat tinggi-tinggi seperti hendak memukul kepala Shikamaru. Pria kuncir ini perlu pukulan supaya tahu bagaimana cara menggunakan otaknya.
Namun tangan Naruto menahan Sakura. "Hantikan!" Naruto menatap tajam Sakura yang ia anggap sangat tidak punya sopan santun kali ini. Terlebih ia melakukannya di depan Kushina yang tercengang menyaksikan kejadian tersebut. Hinata hanya menutup mulut tak percaya.
Sakura berusaha berontak namun tenaga Naruto lebih kuat darinya. "Lepas!"
"Kubilang hentikan, Haruno. Sakura-san." Suara Naruto merendah.
Baru kali ini semenjak pernikahannya Sakura mendengar suara Naruto sedingin ini. Kedua matanya berkaca-kaca. Jantungnya berpacu cepat. Tangannya gemetar. Tuhan ia sangat marah. Entah ia selalu marah saat dipandang dan dinilai buruk oleh orang lain. Kenapa Naruto tidak bisa memahaminya? Naruto menepis tangan Sakura ke bawah dan menjatuhkan buku yang tadi ia pegang. Laptop dan berkas-berkas tugas yang berserakan ia rapikan satu persatu.
"Sakura ini sepupu jauhku. Hari ini dia sedang menginap di sini. Tolong berhenti mengejeknya. Kau boleh pergi." Naruto memberikan isyarat agar Sakura keluar dari perpustakaan dan meninggalkan mereka. Kedua mata Sakura tidak sanggup lagi menahan air mata yang berdesakan. Ia tidak paham apa yang membuat napasnya tiba-tiba terasa sesak dan hatinya terasa nyeri. Seperti sesuatu meremas perasaannya dengan begitu hebatnya. Ia berbalik. Menemukan Kushina dan juga Gaara yang tengah menatapnya penuh iba. Sialan, ia benci dikasihani. Sakura meyeka pipinya sebelum kemudian berjalan cepat meninggalkan perpustakaan. Naruto hanya menundukkan kepala seraya membuang napas panjang. Apakah keputusannya kali ini salah?
.
.
.
.
.
Hari beranjak menuju sore. Sakura terus berjalan tanpa tujuan, melewati penyeberangan jalan bergabung dengan orang-orang yang melintas sepulang dari pekerjaan yang melelahkan. Ia menelusuri trotoar melewati toko-toko, dan taman di mana banyak orang datang untuk bermain skateboard. Beberapa pemuda berhoodie melakukan dance street, sementara beberapa lain terlihat asyik bermain basket di lapangan. Sakura tidak begitu banyak menyadari ketenangan suasana seperti ini. Belakangan hidupnya berpacu seperti dikejar-kejar oleh sesuatu. Ia menarik napas dalam dan menghirup udara sore dengan segenap perasaan. Ia pun melanjutkan langkahnya hingga sampai di tepian jembatan Kiyosu. Di belakangnya mobil-mobil berseliweran. Ia tidak peduli. Dipandanginya air sungai yang tenang, merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak memahami yang benar-benar ia rasakan. Hanya saja Sakura merasa tidak senang ketika Naruto menyebut dirinya sepupu seperti tadi.
"Pemandangan yang bagus."
Suara yang ia kenali mendekat dan bergabung di sampingnya. Sakura menerawang jauh ke masa lalu. Enam tahun yang lalu.
"Aku ingat, aku mulai membenci Naruto ketika dia pertama kali menyatakan diri menyukai gadis itu."
Gaara menoleh terkejut dengan pernyataan jujur Sakura. Seingatnya memang Naruto sudah diikat perjodohan sejak masih kecil. Mungkin itu pula alasan keduanya tidak begitu asing saat menikah.
"Aku melihatnya menulis surat untuk Hyuuga Hinata, sementara surat yang kutulis untuknya tak pernah ia baca. Menurutmu, apakah tidak wajar jika aku masih menyukainya?" Sakura berbalik menghadap ke arah Gaara, sementara Gaara menatapnya dengan mata yang tidak terdeskripsi. Memang wajar jika Sakura membenci Naruto selama ini.
"Gaara Nii-san, kau mau mengantar aku ke suatu tempat?"
Gaara mengernyit heran. "Ke mana?"
"Sebentar. Antar aku ke panti asuhanku di Fukuoka."
"Hah?"
.
.
.
.
.
To be continued
An : Hai hai Author gaje balik. Gimana kabar kalian di tengah pandemi ini? Btw kebanyakan di sini anak muda atau sudah kerja? Tetap semangat minna-san. Saya up cepat, anehnya semangat sekali karena kalian. Semoga kalian terhibur dan tunggu kelanjutannya... Jangan lupa cek cerita lain di profil Author, semuanya Narusaku kok. Yuk.
Oh ya di sini ada pengguna wattpad atau innovel (dreame)? Jangan lupa follow Author di sana, ada banyak cerita original yang Author post dengan nama shargadiva. Di antaranya Wind of Change, My Secret Marriage, Loveline, dan Friendlove. Hanya saja beberapa sedang hiatus karena kurangnya semangat menulis. Semangat pagi!
Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa
Aushi : hohohohoho senangnya hidupku bikin baper jombs
Giansmoker7 : okey ditampung. Aku coba baca juga buat referensi ya. Btw thanks sarannya
MANASYE : mau ditambah ga momennya?
MonsterOfLogic : Yes, thanks reviewnya kaa
Hitsygaya no ookami : yap, ditunggu kelanjutannya ya kak.
BelumLogin : ditunggu kelanjutannya ya kak. Semoga puas.
Hepi reading!
