Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

.

.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

.

.

.

.

"Ketika kau sudah menjatuhkan hatimu pada seseorang, kau harus menerima kejatuhan itu dengan segala konsekuensinya. Entah perasaan bahagia yang tidak wajar, atau bahkan perasaan sakit yang juga tidak wajar. Tidak ada yang terlihat wajar di dunia ini ketika itu berhubungan dengan cinta."

Sakura tidak tahu jika kakak Naruto yang terlihat pendiam ini justru memiliki sikap yang bijak. Pria itu memfokuskan dirinya pada stir dan jalanan. Lagi-lagi Sakura meraba perasaannya yang entah merasakan apa. Kenapa sesakit ini hanya karena si Naruto Baka itu. Hanya saja menyakitkan saat Sakura mulai ingin membuka hati kembali untuk Naruto, pria itu justru melontarkan penolakan yang tidak bisa diterima.

Perjalanan menuju rumah terasa singkat. Gaara meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan Sakura ke perfektur Fukuoka di mana panti asuhannya dulu berada. Perjalanan ke sana memakan waktu, dan lagi Gaara merasa tidak tepat jika Sakura pergi ke tempat penting itu dengannya, bukan dengan suaminya.

"Jangan selalu lari dari masalah. Itu tidak menyelesaikan apa-apa. Hadapilah, aku yakin kalian masih bisa berbicara empat mata."

Begitulah tutup Gaara sebelum Sakura keluar dari mobilnya. Rumah berukuran besar milik keluarga Uzumaki menyambutnya dari gerbang. Hari sudah gelap. Sakura berjalan menuju ke samping rumah tempat kursi taman berada, ia bisa melihat Naruto yang sedang duduk menunggu.

"Sa-kura?" Pria itu berdiri begitu melihat Sakura mendekat. Suara air mancur terdengar jelas di malam hari. Pada beberapa pepohonan dipasang lampu-lampu berukuran kecil yang menerangi wajah Naruto dalam kegelapan. Raut itu, Sakura bisa melihat wajah menyesal Naruto. Tidak. Sepertinya ia salah melihat kali ini. Ia hanya menampik bahwa Naruto akan meminta maaf atas perbuatannya.

Berpaling, berusaha melihat-lihat lampu yang indah di antara pepohonan. "Maaf karena tadi aku bersikap kasar." Sakura menoleh dan pandangan mereka bertemu.

"Duduklah." Naruto mempersilakan tempat kosong di sebelahnya. "Maafkan aku juga." Ia menunduk tak berani menatap wajah Sakura.

"Menurutmu, apakah pernikahan ini layak dipertahankan?"

Tiba-tiba saja Sakura memulai topik pembicaraan yang cukup berat. Memang pertanyaan inilah yang paling ingin Sakura tanyakan pada Naruto. Apakah layak ia menyerahkan hidupnya untuk pernikahan yang tidak didasari oleh cinta ini?

"Maksudmu?"

"Kau tahu pernikahan ini hanya berlandaskan perjanjian antara ayahmu dan ayahku. Aku sudah memikirkan ini bahkan jauh sebelum kita menikah. Saat Tou-san memberiku sebuah cincin dan mengatakan bahwa aku akan menikah denganmu suatu hari nanti. Padahal saat itu usiaku baru dua belas tahun. Menurutmu apa yang aku pikirkan saat itu? Aku pikir Tou-san bercanda hanya karena ingin memberiku sebuah cincin. Tapi rupanya cincin ini tidak sesederhana yang aku bayangkan. Banyak hal, banyak perasaan, dan banyak kejadian yang aku lalui hanya karena cincin ini. Sekarang aku bertanya padamu, Naruto. Menurutmu apakah pernikahan ini layak dipertahankan?"

Sakura tidak sadar bahwa semuanya akan serumit ini. Sewaktu pertama kali ayahnya memberikan cincin itu, Sakura sempat berpikir untuk menolak. Saat itu ayah Sakura memberikan pilihan, jika Sakura menolak maka semuanya akan dibatalkan. Namun yang terjadi, Sakura merasa tertarik dengan hal yang belum terjadi. Ia ingin tahu seperti apa seorang Naruto, dan apa yang akan terjadi jika ikatan ini tidak ia lepaskan. Memang salah Sakura pada awalnya. Oleh karena itu ia akan menanggungnya seberat apa pun nanti. Meskipun perasaannya harus bertepuk sebelah tangan.

"Aku..."

Naruto ragu-ragu menjawab. Apa yang mesti ia jawab? Saat ini apa yang ia rasakan terhadap Sakura?

"Maafkan aku."

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Tidak percaya bahwa jawaban yang paling tidak ingin Sakura dengar justru diucapkan Naruto. Perasaan bukan sesuatu yang dapat ia bendung. Begitupun perasaan Naruto terhadap kekasihnya. Tapi bagaimana dengan dirinya? Tetap saja Sakura merasa sakit di hatinya. Tetap saja ia tidak terima jika kenyataannya Naruto lebih memilih Hinata dibandingkan Sakura.

Ia berusaha menghapus air mata yang tiba-tiba saja berjatuhan. Mencoba tersenyum dan menerima keadaan.

"Lalu, apa maumu denganku? Kenapa saat aku menawarkan kesepakatan pernikahan, kau menolak Naruto?"

Naruto menerawang. "Aku tidak yakin, tapi aku juga tidak berniat melepaskanmu."

Sakura menoleh terkejut. "Maksudmu? Tidak bisa, Naruto. Kau tidak bisa memegang keduanya. Kau harus memilih antara aku atau wanita itu?"

Naruto tidak pernah berpikir akan mengakhiri pernikahannya dengan Sakura, di sisi lain ia juga tidak bisa melepaskan Hinata semudah itu. Hinata sudah menjadi bagian hidupnya selama dua tahun ini, tidak, lebih dari itu. Jadi apa yang harus Naruto lakukan?

"Kurasa kau harus berpikir ulang, siapa yang sebenarnya paling ingin kau pertahankan?"

Sakura berdiri sembari mengusap air mata yang jatuh terus-menerus. "Aku akan memberimu waktu. Temukan jawabannya secepat mungkin."

Namun saat Sakura hendak meninggalkan Naruto di kursi taman, pria itu menahan tangan Sakura. Tidak membiarkannya melangkah lebih jauh. Ia berdiri menyamakan tinggi dengan istrinya. Wajah yang sembab dan pandangan yang sendu, dirinyakah alasan air mata itu? Naruto menyeka air mata Sakura. Menggenggam sisi wajah istrinya, dan menarik diri. Membawa Sakura pada sebuah ciuman yang entah apa artinya. Sakura hanya merasa tidak dapat memahami isi pikiran Naruto. Namun ia terhanyut, bibir lembut suaminya terasa kelat. Tetap saja Sakura menerima ciuman yang diberikan Naruto bahkan dalam keadaan mereka sedang bertengkar.

"Aku tidak mengerti." Naruto menempelkan keningnya pada kening Sakura. Menatap lekat iris hijau zamrud istrinya dari jarak sangat dekat. Merasakan hangat napas yang saling beradu di antara wajahnya. "Aku tidak mengerti kenapa aku sangat menyukai bibirmu."

Deg

Naruto mengatakan sesuatu yang tidak dipahami Sakura. "Aku tidak ingin melepaskanmu, aku mohon. Cherry."

Untuk pertama kalinya Sakura mendengar suaminya memanggil dengan sebutan yang terdengar manis. Ia tidak dapat bertahan lebih lama dari ini. Sakura tidak bisa terus menahan egonya untuk menolak Naruto. Ia menjinjitkan kakinya, satu kali lagi tidak masalah kan? Kini ia sadar, yang perlu dilakukan Sakura, hanya terus mengikat Naruto. Ya, ikat Naruto seerat mungkin sampai ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara jangkrik memenuhi keheningan, begitupun derak reranting yang terempas angin. Naruto mengunci pintu kamar mereka dan berjalan menghampiri Sakura. Kamar mereka ber-ac, terlebih memasuki musim dingin udara dari luar terasa sampai ke dalam, namun entah keduanya justru merasa hangat. Naruto kembali meraup bibir istrinya. Menuntun Sakura untuk berbaring di ranjang. Dua bola matanya berkilat, terlihat jernih di tengah-tengah keremangan. Mereka bisa merasakan masing-masing napas keduanya yang memburu. Memaksa perlu menyelesaikan sesuatu.

Sakura sempat menahan dada bidang Naruto, mengingat banyak hal di antara mereka yang belum benar-benar ia pastikan. Tentang perasaan Naruto padanya, tentang wanita itu, dan tentang semuanya. Namun Naruto mendesak, bibirnya mulai mencium bagian lain pada wajah Sakura. Apa harus secepat ini?

.

.

.

.

.

"Kau terlihat sangat pucat Sakura-chan. Apa kau baik-baik saja?" Kushina mendekat ketika Sakura duduk di kursi makan dan menyiapkan sandwich untuk sarapan.

"Err, aku baik-baik saja, Kaa-san."

"Apa perlu aku antar ke klinik?" Minato ikut bergabung di meja makan.

Sakura kebingungan. Apakah terlihat sejelas itu? Padahal dirinya hanya sedikit... begadang.

"Kaa-san dan Tou-san ini seperti tidak pernah muda saja," celetuk Nagato tiba-tiba. Ia tampak sedang melahap potongan sandwich dengan menggunakan garpu. Sementara Gaara hanya bertukar pandang tidak mengerti dengan Naruto.

Kushina maupun Minato juga sama-sama tidak memahami kalimat Nagato yang ambigu. Pria berambut merah panjang itu memutar bola mata tidak suka. Keluarganya berisi orang-orang yang tidak asik sama sekali. Itulah kenapa Nagato tidak begitu betah berada di rumah.

"Sakura dan Naruto habis begadang Kaa-san. Itu lho 'begadang'." Nagato menekankan kata begadang dalam kalimatnya

Naruto menyemburkan air putih yang tengah ia minum. Tepat mengenai wajah Gaara di hadapannya.

"A-apa?" Respon Naruto terdengar tidak normal.

"Pelan-pelan kalau minum! Adik!" Gaara tidak terima.

Seketika itu wajah Sakura memerah bak kepiting rebus. Seperti seluruh darah naik ke wajahnya. Ia menundukkan kepala malu.

Kushina dan Minato berangsur paham, mereka pun ber-oh ria bersamaan. Rupanya itu maksudnya. Sakura pasrah, ia sudah tidak punya muka di depan keluarga Naruto dan juga di depan mertuanya sendiri. Kami-sama, mimpi apa ia semalam harus memiliki kakak ipar seusil ini.

"A-haha. Kalian masuk kuliah hari ini kan?"

"Be-belum. Kaa-san. Masih dua hari lagi." Naruto menjawab canggung.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian pergi ke suatu tempat?" Saran Minato di tengah perbincangan mereka.

"Kudengar, panti asuhan tempat Sakura dulu tinggal berada di perfektur Fukuoka. Mereka bisa berlibur sambil berkunjung."

Entah apa yang terjadi pagi ini dengan keluarga Naruto yang semuanya terdengar sangat menyebalkan di mata Sakura. Sialnya ia tidak dapat mengatakan apa-apa untuk menyangkal semuanya.

"Ide bagus," dan bodohnya Naruto menyetujui ide bodoh tersebut. Apa yang harus Sakura lakukan?

.

.

.

.

.

"Kau tidak akan percaya ini, Ino Pig!"

"Memangnya apa?"

Terdengar suara Ino dari seberang panggilan. Sakura sedang duduk di kursi meja riasnya, menghadap cermin. Menaruh ponsel yang tersambung pada Ino di atas meja.

"Nanti akan aku ceritakan padamu kalau kita bertemu langsung."

"Ah Forehead, kau membuatku penasaran saja. Jangan bilang kau mau mengatakan semuanya pada yang lain?"

Sakura diam, sebentar kemudian cekikikan. Sudah bisa ditebak.

"Sungguh? Apa tidak akan apa-apa jika kau mengatakan pernikahanmu pada mereka?"

Sakura mengangguk meskipun tidak terlihat oleh Ino. "Aku akan bertahan di pernikahan ini."

"Kau tidak sedang sakit kan Sakura? Atau si Uzumaki itu mengancammu?"

"Berbicara dengan siapa?" Naruto masuk dari pintu kamar. Ia berjalan mendekati Sakura dan menaruh tangannya di pundak Sakura.

Wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu tersenyum menyambut, tak pernah Naruto melihat senyuman Sakura lebih cerah dari ini.

"Ino,"

"Oh" Tangan Naruto bergerak memeluk Sakura dari belakang. Menyesap shampo rambut istrinya yang terasa nyaman dan khas. Naruto suka wangi rambut Sakura. Wangi parfum Sakura. Bahkan wangi Sakura sendiri.

"Naruto lepas, jangan begitu. Geli."

"Hehe, habisnya aku suka memelukmu seperti ini."

"Tunggu sebentar, Ino, kita lanjutkan nanti. Bye."

Klik

Ino tertegun di tempatnya. Ia tidak salah dengar kan? Arghhh Sakura meracuni pikirannya sampai setengah gila seperti ini! Bagaimana? Kenapa mereka tidak bertengkar lagi seperti dulu? Apakah keduanya sudah menyerah pada pernikahan mereka? Entahlah, hanya Naruto dan Sakura yang tahu.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Forehead!"

.

.

.

.

.

To be continued

Author Note : Masih ada yang menunggukah cerita ini? Mwehehehe semoga iya. Maaf untuk wordnya yang terbatas. Btw Author sedang so sibuk sama tugas kuliah jadi maap ya kalo lama up begini. Semoga part selanjutnya bisa lebih cepet. Yossha happy reading!

Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, Spanenx, Sky As17, Paijo Payah, GoldLuck, kntlsuper, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaa

ririn4447 : nih udh up nih. Baca ampe kelar ya wkwkwk

Spanenx : tuh ya aku ge greget sendiri sama Naru nih. Maunya apa sih dia? Btw thanks reviewnya. Mampir juga ke ceritaku yang lain ya.

Sky As17 : se-uwu Authornya ga? Wkwkwk thanks udah mampir. Tunggu kelanjutannya ya.

Aulshi : Ga Like pokoknya, tapi Like kan sama ceritanya hehe

Paijo Payah : Hai ka, konflik sesuai takaran. Ngga terlalu panjang kok. Tunggu kelanjutannya ya

GoldLuck : yap ffn lagi sedikit error kayaknya. Kemarin juga masih ga bisa buka review.

Kurome Irushia Aindra : Wkwkwk keliatan dong, kan pake mata batin. Tunggu kelanjutannya ya kaa

kntlsuper : ditunggu kelanjutannya ya kaa, Arigatou!

Kimme Hime : Gapapa ya kubikin Naruto plin plan. Emang sengaja. Kan yang agresif di sini Sakura wkwkwk.

Jan lupa follow Author di platform lain juga ya

Dreame/Innovel : Shargadiva

Wattpad : Shargadiva

Happy reading!