Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.
.
.
Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.
.
.
.
.
Libur panjang telah berakhir. Rencana Sakura dan Naruto untuk mengunjungi Fukuoka batal karena mereka pikir waktu tiga hari tidak akan cukup untuk pulang pergi ke sana. Jadi keduanya memutuskan menghabiskan sisa libur di rumah. Setelah itu mereka kembali ke kediaman Sakura, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Pagi ini langit tampak sedikit mendung dari biasanya, Naruto memilih untuk mengantar Sakura menggunakan mobil alih-alih bis yang biasa mereka tumpangi. Sesampainya di pelataran kampus Naruto mematikan mesin mobil dan bergegas turun. Sayang sekali mereka tanpa sengaja bertemu dengan Shikamaru yang juga baru turun dari mobil.
"Wah tidak kusangka kalian benar-benar sepupu jauh." Shikamaru mendekati Naruto beberapa saat setelah melihat temannya keluar dari mobil.
Sakura menatap tidak suka pada Shikamaru, mengingat kejadian tempo hari di rumahnya yang membuat Sakura sangat marah. Namun setelah itu Naruto menjelaskan bahwa sebisa mungkin hubungan mereka jangan dipublikasikan terlebih dahulu sebelum kelulusan, karena keduanya harus fokus pada pelajaran dibandingkan berita yang nantinya viral tentang mereka. Karena Naruto tidak suka jadi pusat perhatian, ia meminta Sakura paham mengapa ia mengatakan pada Shikamaru kalau mereka adalah saudara jauh.
"Kau sudah datang, bagaimana kalau kita bergegas karena sepertinya sebentar lagi Yugao-sensei akan masuk. Kau tahu bagaimana killer-nya dia?"
Shikamaru hanya menyeringai, Naruto mengalihkan pembicaraan mereka dengan tepat. Tapi bukan urusannya hubungan apa antara Naruto dan Sakura." Baiklah."
"Aku duluan." Naruto tersenyum pada Sakura yang kemudian dibalas Sakura dengan anggukan halus.
Hari ini Sakura masuk lebih siang dari biasanya. Setelah berpisah dengan Naruto ia berjalan menuju kantin, tadi ia tidak sempat sarapan karena bangun siang. Sakura membayangkan bagaimana melelahkannya aktifitas 'malam'nya dengan Naruto membuatnya tidak punya energi sekadar pergi kuliah. Harusnya hari ini bolos saja. Sakura lelah sekali.
Setelah kejadian datangnya Hinata dan Shikamaru ke rumah Naruto, hubungan Sakura dengan suaminya berangsur membaik. Naruto tidak lagi menghindar darinya dan mereka lebih banyak membuka diri dari biasanya. Bahkan Sakura sudah menceritakan bagaimana ia bisa hidup sebagai yatim piatu dan diangkat oleh keluarga Tsunade. Hanya saja, Sakura masih merasakan adanya dinding tipis antara dirinya dan Naruto. Sebuah dinding yang menghalangi Naruto untuk membuka diri sepenuhnya. Entah dinding macam apa itu, yang pasti Sakura sudah memutuskan dirinya akan melanjutkan hubungan dengan Naruto dan akan berusaha membuat Naruto mencintainya sepenuhnya. Sakura bersiul. Langkahnya sampai di depan pintu kantin. Ia melihat Ino sedang menunggunya di meja paling pojok.
"Jadi?" Ino menyeruput americano yang ia pesan hangat.
Sakura meraih sandwich dan sebotol air mineral. "Jadi apa, Pig?"
"Kau bilang ada sesuatu yang ingin dikatakan padaku? Aku tahu, pasti soal Naruto kan? Dari yang kudengar, sepertinya hubungan kalian semakin erat?" Ino memberikan isyarat dengan dua telunjuk yang disatukan. Wajah Sakura sontak memerah. Memang feeling sahabatnya adalah yang paling kuat sejauh ini.
"Err tidak begitu juga." Sakura menundukkan kepalanya.
"Ah aku yakin pasti lebih erat dari yang kubayangkan." Ino tertawa meledek.
"Erat apa?"
Tiba-tiba saja suara dari laki-laki yang mereka kenali sebagai suara Uchiha muncul dari belakang punggung Sakura. Ia menatap dua wanita di depannya dengan penuh tanda tanya.
Ino membuang napas kasar. "Kau ini sangat senang muncul tiba-tiba begitu ya?" Protes Ino, tidak suka obrolannya diinterupsi.
Sasuke duduk tepat di samping Sakura seraya menaruh sebungkus sandwich dan sebotol air mineral. Ia lalu melahap makanannya. Sasuke sudah menyadari ada yang tidak beres dengan Sakura beberapa waktu ini. Ia sadar karena selama ini dirinya banyak memperhatikan Sakura. Caranya bersikap, caranya bicara, bahkan cara Sakura tersenyum atau berbohong. Entah Sasuke hanya mulai merasa perlu memperhatikan hal tersebut. Ia hanya mulai merasa tertarik pada wanita berambut pinky satu ini.
"Erat apa?" Sasuke mengulangi pertanyaannya. Ia menelan potongan terakhir sandwich di tangannya.
"Bu-bukan apa-apa." Sakura menjawab sedikit gugup.
"Ngomong-ngomong, empat minggu lagi kita akan tampil di acara amal, kau tidak lupa kan?"
Sakura menoleh dan sedikit terkejut, ia nyaris lupa dengan hal itu.
"Kau tidak berencana untuk tidak ikut lagi kan? Sebelumnya kau tidak pernah absen mengikuti acara. Tapi beberapa waktu ini sepertinya-"
"Aku ikut kok. Aku pasti ikut." Sakura memamerkan cengirannya. Ia melirik jam, sudah hampir pukul sepuluh siang, sebentar lagi jam makan siang. Kira-kira Naruto akan ke kantin atau tidak ya?
"Kalian tidak mau masuk kelas?" Ino beranjak dan membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Hn, bisa ikut aku sebentar Sakura?"
"Ke mana?"
"Tidak jauh dari sini."
Sakura menoleh pada Ino yang menggeleng lemah memberikan isyarat agar Sakura menolak. Tapi sepertinya Sasuke curiga pada gelagat mereka, jadi Sakura tidak bisa membiarkan Sasuke semakin curiga. Akan repot nantinya jika hubungan antara Sakura dan Naruto terekspos di kampus.
"Baiklah." Sakura menyetujui. Ino membuang napas pasrah. Ia serahkan pada Sakura, semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ino berjalan keluar dari kantin ketika langkahnya berpapasan dengan Naruto. Ia melirik Hinata yang berdiri di samping pria pirang itu. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Ino, persis seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Ino-san?" sapa Naruto kaku.
Ino hanya tersenyum miring. Ia hanya tidak nyaman saat perasaan Sakura dipermainkan seperti ini. Tentu ia tahu Naruto dan Hinata sudah berpacaran sejak lama. Hanya saja ia tidak suka melihatnya masih berhubungan ketika status Naruto adalah suami Sakura. Sudah pasti Sakura akan merasa sakit hati melihat suaminya sendiri bersama wanita lain meskipun mereka tidak melakukan hal-hal di luar batas.
"Naruto-san." Ino melirik Hinata dengan tatapan tidak suka. "Barusan aku melihat Sakura pergi dengan Uchiha Sasuke berdua ke belakang kampus. Kurasa Uchiha Sasuke sudah lama menyukai Sakura, aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan sekarang."
Naruto membatu. Apa yang sedang coba Ino sampaikan? Hinata terlihat kebingungan karena tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi. Dan, sejak kapan Naruto dan Ino seakrab ini?
"Aku permisi." Naruto pergi begitu saja seraya menarik tangan Hinata memasuki kantin. Aneh sekali melihat Naruto menggenggam tangan Hinata justru malah membuat hati Ino yang panas seperti terbakar. Ah Naruto baka!
"Ada apa Sasuke-kun?"
Taman di belakang kampus cukup luas dan terawat. Terdapat sebuah kursi di bawah lampu taman, sebuah pohon besar, dan berbagai jenis tanaman hias. Biasanya taman belakang kampus ini adalah tempat yang nyaman untuk menyendiri, tempat biasa Sasuke bersembunyi. Sakura tidak begitu tahu kalau ada tempat seindah ini di sini.
"Aku merawat tanaman-tanaman ini."
Sakura melihat bunga-bunga disusun gradasi sesuai warnanya. Bunga dengan warna tergelap berada di bagian luar lingkaran sementara bunga berwarna paling terang berada di tengah-tengah. Sakura tidak percaya Sasuke yang melakukan semua ini sendiri.
"Aku tidak tahu kau suka hal seperti ini."
"Kau ingat, bagaimana awalnya aku bisa masuk grup band ini?"
Sakura tersenyum mengingat hari itu. "Itu saat aku tanpa sengaja mendengarmu menyanyi di perpustakaan."
Sasuke tertawa. "Entah aku menyukai semua hal yang berhubungan dengan keindahan. Entah itu seni musik, seni rupa, bahkan tatanan tanaman hias seperti ini. Semua hal indah ini mengalihkan aku dari pikiranku tentang ayah atau keluargaku."
Sakura tertegun. Jarang sekali mendengar seorang Sasuke bercerita tentang dirinya secara pribadi. Selama ini Uchiha Sasuke hanya selalu terlihat tampan, keren, dan tenang. Seperti orang yang tidak pernah memiliki masalah. Rupanya ia hanya orang yang pandai menyembunyikan masalahnya sendiri.
"Setelah aku bergabung dengan grup band yang kau dirikan, aku merasa menemukan diriku sendiri, musik adalah pengalihan terbaik. Aku menemukan teman-teman baru dan juga dirimu. Sakura, aku menyukaimu."
Sakura membeku. Dua matanya melebar karena tidak percaya. Ia tidak sedang salah dengar kan?
"Siapa kau, bilang suka pada Sakura?"
Sebuah suara tiba-tiba saja muncul dari arah masuk taman. Sakura menoleh dan melihat Naruto sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. Sejak kapan Naruto berdiri di sana?
"Sejak awal kalian datang, dan aku mendengar semuanya."
Seolah bisa mendengar pertanyaan di benak istrinya. Naruto melangkah mendekat ke arah Sakura dan Sasuke. Matanya tidak bisa melepaskan sosok Sasuke yang juga tengah menatapnya tajam. Pandangan marah karena perbincangannya diganggu oleh Naruto.
"Uzumaki Naruto?"
"Aku mencari Sakura sejak tadi, rupanya kalian sedang di sini. Taman yang indah."
Sakura bungkam. Tidak bisa memikirkan kata-kata untuk ia ucapkan. Apa yang harus dikatakan pada Naruto dan apa yang harus ia lakukan terhadap Sasuke? Semuanya benar-benar memusingkan.
"Dan kau siapa kau memotong perbincangan kami?"
"Aku?"
"Hn."
Sepertinya situasi menjadi tidak terkendali saat ini dan jujur adalah pilihan terbaik agar mereka tidak berkonflik untuk ke depannya. Sakura harus mengatakan pada Sasuke kalau Naruto adalah suaminya. Mereka sudah sah menikah secara hukum negara sebagai suami dan istri, karenanya Naruto berhak marah atas ucapan Sasuke barusan. "Sasuke-kun, Naruto ini-"
"Aku sepupu jauh Sakura!"
Sontak Sakura menoleh kaget pada jawaban Naruto. Begitu pun Sasuke yang sepertinya tidak menyangka bahwa Naruto memiliki hubungan dengan Sakura.
"Aku melarangmu mendekati Sakura."
Naruto menarik tangan Sakura dan menyeretnya keluar dari taman itu. Ia terus membawa kakinya berjalan melewati lorong koridor kampus, melalui berbagai gedung terpisah, hingga akhirnya sampai di pelataran parkiran tempat mobil mereka berada.
Sakura berusaha menepis tangan Naruto namun gagal. Cengekramannya sangat kuat. Sakura bisa merasakan kemarahan dari cara Naruto memegang tangannya dan terus membelakanginya.
"Lepas Naruto! Ini sakit!"
Naruto menghempaskan tangan Sakura dan menatap wajah istrinya dengan penuh kemarahan. Ia tidak mengerti mengapa dadanya terasa sangat panas dan kepalanya seperti akan meledak. Ia mendesak Sakura sampai punggung wanita itu menabrak tiang. Tempat parkiran itu gelap dan sepi, tidak satu pun mahasiswa atau dosen yang akan berada di sana selama kelas masih berlangsung, kecuali jika seorang penjaga masuk ke sana untuk berpatroli. Naruto meletakkan tangan kirinya pada tembok tiang tepat di samping wajah Sakura, dan tangan kanannya menarik tengkuk sang istri. Mendongakkan wajah Sakura agar betatapan langsung dengan matanya.
"Aku tidak mengerti kenapa aku begini?" Naruto memejamkan mata berusaha mengendalikan emosinya. Apa yang sedang ia lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat mereka dengan posisi itu? Maka habislah ia.
Sakura bisa merasakan napas Naruto yang tidak teratur karena menahan emosi.
"Ini perasaan yang sering orang sebut sebagai cemburu."
Sakura menyeringai. Naruto membuang napas pelan. Tidak mungkin. Naruto tidak mungkin cemburu pada Sakura.
"Yang artinya kau sudah mulai mencintaiku."
Naruto semakin membuang kasar napasnya merasa omongan Sakura sangat tidak masuk akal. Ia harus berhenti. Tidak bisa seperti ini. Saat Naruto hendak menjauh dan melepaskan diri, Sakura justru menarik tengkuk Naruto dan menciumnya. Membuat Naruto membeku beberapa saat, ia tidak bisa mencerna dengan cepat situasi ini. Namun bibir Sakura terasa manis seperti biasanya dan ia menyukai itu. Kali ini Naruto memperdalam pagutannya dengan lebih agresif, seolah menyalurkan amarah yang ia pendam pada Sakura. Pun Sakura dapat merasakan rasa marah itu lewat ciuman Naruto yang sedikit kasar. Beberapa menit sampai keduanya melepaskan diri dengan napas teputus-putus.
"Katakan saja jika kau tidak ingin aku mendekati Uchiha Sasuke. Aku akan melakukannya untukmu. Tapi, kau jangan terus-terusan menahan diri seperti ini," Sakura menunjuk tepat di dada Naruto. "Jangan pernah katakan aku sepupu jauhmu lagi. Aku ini istrimu. Hari ini dan sampai kapan pun."
Naruto melihat air yang menggenang di mata Sakura. Terlihat jelas bagaimana wanita itu terluka kembali oleh dirinya.
"Aku hanya... Sakura jangan menangis?"
"Aku akan pulang sendiri menggunakan bis. Kau pulang saja duluan sore nanti. Beri aku waktu untuk sendiri." Sakura tersenyum, ia sempatkan mengecup singkat pipi Naruto sebelum melenggang pergi meninggalkan Naruto yang tertegun karenanya. Perasaannya seperti dijungkir-balikkan oleh istrinya itu. Sesaat setelah ia merasa marah, ia merasa senang, kemudian merasa sangat bersalah. Tuhan, apa yang sudah terjadi pada Naruto?
.
.
.
.
.
Hari sudah gelap dan jalanan sudah sangat sepi. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan Naruto masih menyetir mobilnya di jalanan. Mata Naruto memerah menahan pusing yang menjalar ke seluruh kepalanya. Apa mungkin ia terlalu banyak minum? Seharusnya Shikamaru tidak membiarkannya membawa mobil sambil setengah mabuk. Naruto terus menggelengkan kepala berusaha memusatkan konsentrasinya pada jalanan. Sampai akhirnya ia bisa tiba di rumah Sakura. Naruto masuk menggunakan kunci cadangan yang dipegang oleh masing-masing anggota rumah. Ia melihat ruang tengah dan ruang tamu yang sudah gelap. Tak ada tanda-tanda orang yang masih bangun. Naruto berjalan sempoyongan menuju ke lantai atas tempat kamar mereka berada. Membuka pintu kamar, melihat Sakura tertidur sambil duduk di kursi belajar dengan kepala yang disenderkan ke meja. Di atas meja terdapat banyak robekan kertas berisi sketsa bertuliskan acara amal. Tidak tega melihat istrinya tidur dengan posisi duduk, Naruto berinisiatif mengangkat Sakura, menggendongnya menuju tempat tidur.
Naruto membaringkan Sakura di tempat tidur. Saat kemudian tangan Sakura justru mengunci leher Naruto yang tadi menggendongnya. Kemudian kedua mata wanita itu terbuka perlahan dan menatapnya. Iris hijau yang berkilau dalam keremangan.
"Kau mabuk?" Sakura mengangkat sebelah alisnya heran. Setahunya Naruto tidak pernah mabuk.
"Aku tidak mabuk." Naruto menyangkal.
"Aku bisa mencium bau alkohol di mulutmu."
"Aku tidak mabuk."
Naruto berusaha melepaskan diri dari kuncian tangan Sakura namun Sakura tak melepaskannya.
"Kau bau sekali Naruto. Kau mabuk."
"Sudah kubilang aku tidak mabuk!" Naruto tidak tahan lagi. Kepalanya berdenyut-denyut merasakan pusing. Kedua matanya semakin memerah dan mulai kehilangan kesadaran.
"Baiklah kita buktikan apakah kau mabuk atau tidak?"
Sakura membanting Naruto ke sampingnya sampai pria itu terlentang. Naruto mulai kehilangan fokus dan meracau sendiri. Sakura menyeringai, ia tahu kalau Naruto mabuk. Meskipun ia tidak tahu alasan kenapa seorang mahasiswa kedokteran yang biasanya sok suci ini justru pulang dalam keadaan mabuk.
"Apa mungkin kau mulai merasa takut mencintaiku, Naruto?" Sakura menduduki perut Naruto. Kedua tangannya bertumpu pada dada suaminya.
"Aku pikir cincin dan pernikahan ini saja sudah cukup membuatmu berada di sisiku. Rupanya tidak. Jangan marah padaku jika aku melakukan lebih, ya?"
Sakura mulai menciumi Naruto dan membuka kancing demi kancing baju suaminya. Naruto yang setengah sadar merespon dengan cepat dan membalas perlakuan istrinya. Malam ini ia akan membuat Naruto tidak pernah melupakannya.
.
.
.
.
Tsunade terduduk sendiri di meja makan. Ia mengoleskan selain kacang pada dua potong roti yang sudah dikupas kulitnya. Sambil sesekali melirik jam dan kemudian beralih pada tangga. Susah pukul sembilan pagi dan dua anaknya belum ada yang turun.
"Apa yang mereka lakukan sampai sudah siang begini masih belum bangun?" Tsunade menghela napas kasar. "Sepertinya tidak apa-apa jika sekali-kali membolos."
Tsunade melanjutkan sarapan. Ia bukannya tidak menyadari masalah yang terjadi di antara Naruto dan Sakura. Keduanya menikah karena perjodohan jadi sudah pasti akan banyak konflik yang mereka lalui. Jika hari ini dua anaknya bisa lebih akur maka bolos sehari saja tidak menjadi masalah bagi Tsunade. Setelah menandaskan sarapannya, ia beranjak keluar untuk berangkat mengajar. Biarkan saja Naruto dan Sakura memiliki waktu mereka sendiri.
.
.
.
.
.
Naruto mengerjap saat cahaya matahari dari celah-celah gorden mengenai wajahnya. Panas sekali. Ia membuka mata dan merasakan tubuhnya yang pegal seperti habis berlarian. Lelah sekali. Nyaris ia terperanjat saat melihat jam dinding sudah berputar pada angka tiga. Maksudnya jam tiga sore? Naruto berusaha bangun namun kemudian kepalanya terasa sakit menusuk. Ia kembali berbaring. Argh apa yang sudah terjadi padanya? Pandangannya beralih pada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, dan kepala si pemilik tangan bersandar pada dadanya.
Sakura?
Apa yang sudah mereka lakukan? Naruto berusaha mengingat namun nihil. Ia tidak bisa ingat sampai dirinya membawa mobil masuk ke rumah.
"Sakura, sudah jam tiga sore?"
"Hm, benarkah?" Sakura menggeliat dan malah semakin merapatkan kepalanya pada dada Naruto.
"Sakura kau tidak mau bangun?"
"Aku lelah sekali Naruto."
"Benar, aku juga lelah."
"Tidur lagi saja." Sakura memeluk Naruto.
"Sakura, sudah sore aku harus mandi." Takut-takut Naruto menanyakan sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Karena bagaimana pun ia bersusah payah mengingat, Naruto tidak bisa ingat apa yang terjadi. "Apa... semalam kita melakukannya... tanpa pengaman?"
"Hm, iya."
"Apa?!" Naruto tersentak dan langsung bangun. Ia melenguh saat kepalanya kembali terasa pusing. Alkohol sialan! Seharusnya ia tidak coba-coba dengan minuman berbahaya itu. Semuanya gara-gara Shikamaru yang mengikuti saja keinginan Naruto untuk pergi ke bar tanpa menahannya.
"Ka-kau tidak bercanda kan?"
"Berisik sekali. Tidurlah lagi jika kau masih ingin tidur, dan bangunlah kalau memang mau mandi. Naruto baka!"
"Tapi Sakura? Ka-kau... Argh kita masih kuliah kau tahu kan? Bagaimana kalau kau..."
Sakura membuka mata dan memikirkan perkataan Naruto. Pada awalnya mereka satu pemikiran tentang hal itu. Naruto dan Sakura ingin menunda untuk memiliki bayi karena status keduanya yang masih kuliah. Tapi beberapa teman Sakura yang sudah menikah saat sedang kuliah banyak yang sudah mengandung dan bahkan memiliki anak. Beberapa hamil tanpa ayah. Entah apa yang dipikirkan Sakura semalam sampai ia bertindak nekad. Meskipun begitu Sakura tidak merasa menyesal melakukannya.
"Berisik sekali." Sakura beranjak bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Meninggalkan Naruto yang tercenung dengan apa yang terjadi hari ini. Sakura sudah benar-benar gila!
.
.
.
.
To be continued
An
Hai hai Author kembali. Maaf untuk update yang lama. Seminggu lalu Author sempat sakit dan tidak fokus menulis. Terlebih sebentar lagi UAS dan harus mulai belajar lagi. Semoga kalian suka. Tidak akan lama sampai cerita ini tamat. Jangan lupa baca juga cerita Author yang lain.
Wattpad : Shargadiva
Dreame/Innovel : Shargadiva
Special thanks for : ririn4447, aulshi, MonsterOfLogic, MANASYE, BelumLogin, giansmoker7, Hime, Guest, Nana Rindang, Kurome Irushia Aindra, Raizo, Spanenx, Sky As17, Paijo Payah, GoldLuck, kntlsuper, Awy77 Andrian, WelPlay, hikaruuuu011002, Uzumaki Family, dan kalian semua silent reader yang setia menunggu cerita ini. Jangan lupa login dan follow, fav, juga review yaaaaa
ririn4447 : dah up nih. Maap ya kelamaan
Hikaruuuu011002 : mulai sekarang mulai review ya, supaya othornya semangat 💪💪💪 thanks udah sempetin baca cerita gajeku. Mampir juga di cerita lain.
Uzumaki Family : Terima kasih sudah review!
Nana Rindang : aku kira tulisan gaje ini g ada yang nunggu wkwkwk
BelumLogin : hari ini chapter cendol dawet kolak
WelPlay : next terus sampe tamat. Thanks buat review nya ya
Awy77 Andrian : Iyap emang Sakura udah dari awal mereka kenal pas kecil udah punya rasa sama Naruto. Dia itu kayak, pengen mencintai orang yang dijodohin sama dia. Begitulah. Cuma perasaannya ia sembunyikan dalam kata-kata benci karena tahu Naruto pacaran dengan Hinata.
GoldLuck : makasih nih udah nyempetin baca juga. Btw sebenernya aku ga spesialis di Fanfiction, dulu suka fanfiction itu ya karena suka Pair crack nya Naruto Sakura. Jangan lupa ditunggu terus yaaa
Paijo Payah : ha ha ha Ino kan cerdas. Pasti dia tau
MANASYE : sebenernya Author ga handal bikin lime. Bisanya bikin lemon tea wkkwk
Kurome Irushia Aindra : Warning! Yang ini mengandung gula juga.
Sky As17 : Naruto masih bingung-bingung tapi mau huuuu
Hepi reading!
