Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.
.
.
Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.
.
.
.
.
Pagi yang cerah untuk mereka yang menikmati hembusan angin hangat, daun-daun dan ranting-ranting pohon yang bergoyang, di bawah sebuah pohon rindang. Sakura dan anggota band kali ini sedang bersantai ria. Beberapa menyiapkan desain poster untuk acara amal yang akan berlangsung beberapa minggu ke depan. Sakura hanya duduk di kursi sambil menyadarkan punggungnya pada meja, tangannya bergerak memutar-mutarkan cincin di jarinya. Dari kejauhan ia bisa melihat Naruto melintas, berjalan bertiga dengan Hyuuga Hinata dan Nara Shikamaru. Tampak asyik mengobrolkan sesuatu. Pandangan Sakura menyipit, bahkan setelah semua yang terjadi suaminya masih saja berhubungan dengan wanita indigo itu. Dadanya memanas melihat bagaimana Naruto tersenyum cerah bersama Hinata, sedangkan wajah yang selalu ditunjukkan padanya hanya wajah datar dan wajah marahnya saja. Jika pun tersenyum di depannya tampak tak senatural ini."Ada apa?" Suara Ino membuyarkan lamunan Sakura yang mengawang jauh. Sakura menoleh dan celingukan bingung.
"Apa?"
Ino membuang napas sedikit kesal. "Aku tanya ada apa?"
"Oh," Sakura melemparkan kembali pandangan pada rombongan Naruto yang kemudian lenyap di balik pintu gedung fakultas.
"Apa ada masalah?" Ino juga mencari direksi yang dipandangi Sakura sejak tadi sampai tidak memperhatikan sekelilingnya. Namun tidak menemukan apa-apa.
Sakura hanya membalas dengan senyuman kecil. Sialnya melihat Naruto dengan Hinata di saat seperti ini membuat mood Sakura memburuk seketika.
"Dia lagi?" Ino menyadari sikap Sakura seperti ini karena Naruto.
Sakura langsung berdiri dan menyambar tas di atas meja lalu pergi dari tempat itu. Kiba yang sejak tadi sibuk mendesain poster dan brosur di laptop menoleh heran. Begitu pun Shino yang tidak memahami apa yang sedang terjadi. Semua orang mendadak menoleh pada Ino dengan pandangan curiga.
"Tidak! Tidak! Aku tidak bertengkar dengannya!" Ino membela diri. Fyuh entah masalah apa yang sedang dihadapi Sakura saat ini, Ino hanya berdoa untuk kebaikan sahabatnya.
Naruto melongok dari balik pintu kamar saat dilihatnya Sakura yang sedang duduk dengan posisi menunggu sesuatu. Sepertinya menunggu kepulangan Naruto. Melihat jam di dinding masih pukul tujuh malam, rasanya Naruto tidak terlalu malam pulang kali ini.
"Okaeri, Naruto."
Naruto masuk dan menutup pintu. "Tadaima. Kau sedang apa?" Ia melepaskan coat panjang yang ia gunakan lalu menyampirkannya pada gantungan jaket. Sementara ranselnya ia taruh di meja belajar.
"Menunggumu." Gerakan Naruto yang sedang membuka kancing kemeja terhenti begitu Sakura menjawab. Ia menoleh pada Sakura.
"Kita perlu bicara." Sakura bersedekap dada. Naruto bisa merasakan perbedaan dari cara Sakura bicara. Tidak seperti biasanya. Setelah duduk di samping Sakura, Naruto mendongak menatap wajah sang istri yang terlihat lebih dingin dari biasanya.
"Tadi siang aku melihatmu."
Mata Naruto terbelalak. Ia tidak menyangka Sakura akan memergokinya seperti itu. "Siang tadi aku hanya makan siang bersama Hinata dan Shikamaru karena mereka mengajakku. Tidak enak jika aku menolak."
"Bukan itu."
Naruto tidak paham arah pembicaraan Sakura.
"Maksudku, aku ingin menanyakan padamu, sebenarnya kau masih belum putus kan dengan wanita itu?"
"Itu..."
"Kenapa?"
"Sakura..."
"Aku hanya baru menyadari seberapa brengseknya dirimu."
Naruto menautkan dua alisnya. "Maaf, apa?"
"Ya kau brengsek! Apa aku salah?" Sakura mengeratkan pelukan tangannya, dadanya sesak untuk alasan yang ia sendiri tidak paham. Melihat mata Naruto yang tampak sama sejak dulu selalu membuatnya goyah setiap kali ia akan mengeluarkan sikap kasar dirinya. Seorang Sakura, pemimpin grup band paling ganas di kampus, wanita kasar yang bahkan ditakuti banyak pria, hanya pada pria ini ia selalu menjadi lemah. Kedua mata Sakura menggenang. Kenapa rasanya sakit sekali mengingat senyuman Naruto siang tadi pada kekasihnya itu?
"Tunggu Sakura. Aku benar-benar hanya makan siang-"
"Jangan sentuh aku, brengsek!" Mata Sakura nyalang. Bukan main Naruto melihat amarah yang memuncak dari wajah istrinya. Ia tidak habis pikir Sakura akan semarah ini. Sefatal apa kesalahannya sampai membuat Sakura mengamuk seperti ini?
Sakura bangkit dan membuka pintu kamar. Sejenak ia berhenti untuk menoleh pada suaminya. "Aku akan tidur di kamar tamu sementara kau pikirkan, mana yang seharusnya kau pilih. Aku atau wanita itu?"
Brakk
Pintu ditutup dengan keras. Naruto merenung seraya menatap lantai di bawah kakinya. Sepertinya kali ini ia sudah sangat keterlaluan.
Paginya Naruto bangun dan telah siap-siap untuk berangkat ke kampus. Ia melihat Sakura yang sedang memanggang roti di pantry dapur. Naruto turun dan duduk di meja makan. Sakura berbalik mengambil selai dan pisau di meja lalu kembali ke depan panggangan roti. Membuka tutup selai strawberry lalu mengoles roti dengan selai tersebut. Sementara roti yang dibakar sudah matang ia mengeluarkan potongan roti untuk ia oles kembali dengan selai. Tunggu. Ada yang salah. Sikap Sakura yang diam berbeda dari pagi-pagi biasanya. Kemarin Sakura masih menyapa dengan ucapan selamat pagi saat Naruto turun. Sekarang menoleh saja tidak. Selesai mengoles selai Sakura menaruh dua potong roti di depan Naruto, segelas susu, dan wadah bekal berisi roti yang ia masukkan ke dalam ransel miliknya. Tanpa mengatakan apa-apa, Sakura melengos begitu saja dari hadapan Naruto.
"Apa yang salah?" Naruto mengangkat bahu. Ia harus menghabiskan dulu rotinya, lapar membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Naruto pikir Sakura hanya sedang uring-uringan karena semalam. Tidak lama lagi istrinya akan kembali seperti semula. Biasanya memang seperti itu.
Namun tebakan Naruto meleset. Sikap Sakura tidak berubah bahkan setelah dua hari berjalan. Sakura seperti kembali pada dirinya sebelum pernikahan mereka. Sakura kembali menjadi wanita yang menunjukkan tatapan nyalang setiap kali melihat Naruto, berbicara dengan nada tinggi dan membentak. Sakura kembali menjadi Sakura yang kasar dan membenci Naruto sebagaimana mereka sering bertengkar di kampus selama beberapa tahun ke belakang.
Pagi ini Naruto tanpa sengaja membuat Sakura menumpahkan susu coklat ke bajunya. Wanita itu mendelik dengan pandangan tidak suka.
"Sial! Kau membuatku harus berganti baju lagi!"
"Ma-maaf, aku tidak sengaja."
Sakura meletakkan piring berisi sandwich yang hendak ia berikan pada Naruto dengan kasar sampai mengeluarkan bunyi keras 'prang' di atas meja marmer. Naruto terperanjat karena kaget. Nyaris tangan Sakura terangkat hendak memukul wajah suaminya sendiri. Namun urung, Sakura menghentakkan kaki lalu berjalan menuju kamar mereka. Naruto hanya tertegun tanpa bisa mengatakan apa-apa.
Sudah tiga minggu berjalan dan masih belum ada tanda-tanda Sakura berdamai dengannya. Tsunade sempat memanggil keduanya untuk membicarakan masalah mereka namun tidak menemukan jalan keluar. Seperti halnya malam ini, ketika Sakura belum juga sampai ke rumah padahal malam sudah lumayan larut. Naruto melirik jam dinding, sudah pukul sepuluh malam dan Sakura belum juga kembali.
"Apa Sakura mengatakan akan pergi ke suatu tempat?" Naruto melemparkan pertanyaan saat melihat Tsunade memasuki dapur.
Ibu angkat Sakura itu menoleh dengan tatapan kaget. "Memangnya Sakura tidak bilang padamu kalau hari ini ada acara konser amal di Fukuoka? Katanya mereka menginap dua malam di sana." Kedua alis Tsunade bertaut, ia tidak menyangka hubungan anak dan menantunya serenggang ini.
"Tolong berikan aku alamatnya Kaa-san?"
"Panti asuhan tempat Sakura dulu dibesarkan. Nanti aku kirim melalui pesan. Kau akan pergi menyusulnya?"
"Tentu saja. Banyak hal yang harus aku dan Sakura selesaikan."
"Bagus."
Naruto menyambar kunci mobil dan berlari keluar. Ia mengecek GPS di dalam mobil, letaknya lumayan jauh. Tidak akan bisa cepat sampai jika menggunakan mobil. Naruto langsung membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat di ponsel. Ia harus pastikan sampai di sana malam ini juga. Setelah itu Naruto membawa mobilnya keluar dari garasi rumah.
Pikirannya terbang ke mana-mana. Apa mungkin Naruto sudah terlalu jahat dan brengsek seperti yang Sakura bilang di pembicaraan terakhir mereka? Naruto memang tidak memiliki keberanian untuk melepaskan Hinata, pun juga ia merasa tidak ingin kehilangan Sakura. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya? Naruto mengacak rambut frustasi. Apa yang sedang ia hadapi ini? Sungguh bodoh apa yang Naruto lakukan pada Sakura. Juga pada Hinata. Tidak seharusnya ia biarkan Sakura terluka berlarut-larut seperti ini. Membuat Sakura menangis sendiri di dalam hati tanpa bisa mengatakan apa-apa. Kemarin Naruto mendengar cerita Tsunade tentang bagaimana Sakura yang dulunya ceria dan baik tiba-tiba berubah menjadi nakal dan kasar. Sikap Sakura itu berangsur berubah tak lain setelah kematian ayah angkatnya yaitu Tuan Jiraiya. Dibandingkan Tsunade, Sakura jauh lebih dekat dengan Jiraiya. Mereka sudah seperti anak dan ayah kandung selama beberapa tahun kebersamaan keduanya, sampai pada saat Jiraiya divonis sakit keras kemudian meninggal.
Saat itu usia Sakura masih baru beranjak remaja. Ia menangis setiap hari sendirian di kamar peninggalan ayahnya. Sakura sering diam-diam pergi ke pemakaman Jiraiya dan menangis di sana. Gadis kecil yang ceria pun perlahan berubah menjadi kasar. Tsunade paham rasa sakit yang dirasakan anaknya, seberapa besar rasa sayang Sakura pada Jiraiya, sebesar itu pula rasa sakit yang ia rasakan saat kehilangan ayahnya. Tsunade memahami Sakura karena itu ia tidak memprotesnya. Jika suatu hari Sakura membenci Naruto, itu bukan karena Sakura sangat membenci Naruto. Melainkan karena Sakura terlalu mencintai Naruto dan telah kehilangan Naruto di dalam hatinya. Perasaan kehilangan yang sangat besar itu yang merubah cinta menjadi benci. Naruto harus bisa memahami Sakura sampai ke titik itu.
Mobil pun melaju menembus jalanan yang lembap oleh salju. Seharusnya malam ini angin terasa sangat dingin karena suhu mencapai minus derajat. Namun apa yang Naruto rasakan adalah kebas berkepanjangan, ia tidak tahu akan sedahsyat ini efek kepergian Sakura pada dirinya.
"Ini lagu terakhir. Setelah ini kita harus membereskan barang-barang."
Ino berjalan menghampiri stand tempat Sakura menampung sumbangan yang datang dari para penonton melalui tiket dan souvenir yang mereka siapkan. Selain stand tempat tiket, kru Sakura pun membuat beberapa stand lain yang menjual makanan dengan harga minimum yang ditentukan dan pengunjung bebas membayar lebih untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan sisanya. Sakura menunjukkan monitor tab pada Ino, selanjutnya tersungging senyuman dari wajah gadis pirang itu.
"Aku tidak menyangka akan mendapatkan hasil sebanyak ini." Ia ber-high five dengan Sakura. Di stand lain tampak pemilik panti asuhan, beberapa anak-anak panti turut membantu menjadi panitia konser. Tak sedikit yang datang tentu karena tertarik dengan band yang dipimpin Uchiha Sasuke. Selain karena tampan, Sasuke juga memiliki suara yang merdu.
Lagu terakhir telah selesai dimainkan. Para pengunjung berangsur pulang sampai akhirnya tempat konser berubah sepi dalam sekejap. Sudah lewat tengah malam, semua orang yang terlibat dalam acara membantu membereskan panggung, dan lain sebagainya. Ino dan Sakura menggulung kabel di atas panggung. Hari ini cukup melelahkan.
"Kau yakin baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat beberapa waktu ini. Aku juga tidak melihatmu makan sejak pagi. Atau sejak kemarin?"
Sakura tersenyum. Ia memang kehilangan nafsu makan di tengah masalahnya dengan Uzumaki. Naruto sialan telah mengacaukan hidupnya sampai seperti ini.
"Aku baik-baik saja."
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja."
Saat itu Lee dan Kiba berlarian di dekat Sakura. Kiba membawa stick gitar kesayangan Lee dan mengejek gambar gadis pirang yang ia tempel di sana.
"Aku tahu, ini pasti si Shion dari fakultas hukum kan?"
"Tidaakkkk! Bukan!"
"Hahahaha ayolah kau menyukainya kan? Nanti kita datangi sama-sama?"
"Kembalikan Kiba Baka!"
"Coba ambil kalau bisa!"
"Hey kalian berhenti becanda!" Ino berteriak namun tidak digubris.
Kiba berlari menghindari Lee saat kakinya tersandung kabel tubuhnya oleng ke belakang, dan...
Bruk
Kiba jatuh menimpa Sakura yang kebetulan sedang berjongkok di belakangnya. Ino memekik kaget, memukul Kiba agar cepat bangun. Namun mata Sakura terpejam dan tidak menunjukkan pergerakan apa-apa.
"Forehead! Forehead? Kau baik-baik saja kan?" Ino mengguncang tubuh Sakura berkali-kali namun tidak juga bangun. Ia mulai panik. Beberapa orang yang mendengar kegaduhan itu mendekat tak terkecuali Sasuke yang sebelumnya sedang melepaskan tenda di bawah sana.
"Apa yang terjadi?" Sasuke menyingkirkan orang-orang yang berkerumun. Ia sedikit terkejut saat melihat Sakura tidak sadarkan diri.
"Sakura kenapa Ino?"
Ino mengusap air matanya menoleh pada Sasuke. "Aku tidak tahu. Sakura hanya terdorong sedikit oleh Kiba tapi tiba-tiba dia begini."
"Sebaiknya kita bawa dulu ke dalam."
Saat Sasuke hendak mengangkat tubuh Sakura, tangan seseorang menahannya. Orang itu berjongkok dan menepis tangan Sasuke pada tubuh Sakura.
"Biar aku."
Sontak semua orang yang berada di situ seperti Kiba, Lee, Shino dan Sasuke terkejut karena kehadiran pria berambut blonde yang tiba-tiba menerobos dan mengusir Sasuke begitu saja.
Sasuke dengan gerakan cepat memegang dan menahan tangan Naruto. "Apa maksudmu?" tatapannya yang tajam beradu dengan tatapan dari iris biru Uzumaki Naruto. Namun Sasuke tidak gentar, tidak untuk kali ini, ia tidak akan dengan mudah melepaskan Sakura untuk laki-laki lain terlebih itu Naruto.
"Kubilang menyingkir!" Suara Naruto yang penuh penekanan membuat suasana di antara keduanya semakin mencekam. Naruto menoleh pada Ino, "Katakan padanya biar aku yang urus Sakura."
Ino meraih tangan Sasuke dan meminta Sasuke melepaskan Naruto. Sasuke menoleh kebingungan tanda tidak paham dengan sikap Ino. "Jelaskan?" Sasuke menuntut.
"Biarkan Naruto yang mengurus Sakura, Sasuke-kun. Biarkan Sakura diurus oleh suaminya sendiri."
"APA?!"
Terdengar suara terkejut dari semua orang yang berada di lokasi. Kiba merasakan kakinya lemas dan Lee memelototkan matanya sampai nyaris keluar. Apa yang Ino maksud dengan semua ini?
Sasuke menarik tangannya dan berdiri. Perlahan kakinya mundur menjauhi Ino, Sakura, dan Naruto. Ia menggeleng kemudian berbalik pergi meninggalkan mereka.
"Sasuke tunggu!"
Ino menepuk pundak Naruto dan mengangguk memberi isyarat agar Naruto membawa Sakura sementara ia akan mengejar Sasuke. Sebisa mungkin akan menjelaskan situasi ini padanya sampai setidaknya ia mengerti. Bahwa sejak lama sudah ada garis yang tidak bisa dilewati Sasuke bahkan jauh sebelum Sasuke mengenal Sakura. Hubungan Naruto dan Sakura telah berlangsung sangat lama.
To be continued
A/n
Hai ka, lama tidak bertemu. Salam dariku untuk reader semua. Maaf jika aku tiba-tiba lama update, setahun ya sejak 2020 dan sekarang sudah 2021. Cerita ini akan mulai aktif diupdate sampai tamat. Tunggu saja apakah akan aku up setiap hari sisanya atau seperti biasa seminggu sekali. Kisaran 2 sampai 3 chapter lagi cerita ini akan tamat. Ditunggu kelanjutannya yaaa stay save dan happy reading!
Jangan lupa ikuti akun lainnya milik Author juga,
Wattpad : Shargadiva
Innovel/Dreame : Shargadiva
