"Biarkan Naruto yang mengurus Sakura, Sasuke-kun. Biarkan Sakura diurus oleh suaminya sendiri."

"APA?!"

Terdengar suara terkejut dari semua orang yang berada di lokasi. Kiba merasakan kakinya lemas dan Lee memelototkan matanya sampai nyaris keluar. Apa yang Ino maksud dengan semua ini?

Sasuke menarik tangannya dan berdiri. Perlahan kakinya mundur menjauhi Ino, Sakura, dan Naruto. Ia menggeleng kemudian berbalik pergi meninggalkan mereka.

"Sasuke tunggu!"

Ino menepuk pundak Naruto dan mengangguk memberi isyarat agar Naruto membawa Sakura sementara ia akan mengejar Sasuke. Sebisa mungkin akan menjelaskan situasi ini padanya sampai setidaknya ia mengerti. Bahwa sejak lama sudah ada garis yang tidak bisa dilewati Sasuke bahkan jauh sebelum Sasuke mengenal Sakura. Hubungan Naruto dan Sakura telah berlangsung sangat lama.

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC (Maybe), Author Newbie, NaruSaku.

Summary : Cincin pertunangan sudah tersemat di jari manisnya sejak Sakura masih muda. Kisah cinta sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum dirinya memahami apa itu cinta. Lalu setelah dewasa ia pun memahami bahwa cincin tersebut lebih dari sebuah beban janji yang harus ditanggungnya.

"Kalian gila! Bagaimana bisa kalian menyembunyikan fakta sebesar ini sebagai rahasia?!" Sasuke kalap. Kedua matanya memerah menahan perasaan yang sesak menjalar dalam dadanya.

"Sasuke dengarkan aku,"

Sasuke menarik napas panjang. Berusaha menenangkan diri. Ia tidak paham apa yang mendorong dirinya bertindak sampai sejauh ini. Seharusnya biarkan saja jika memang Sakura sudah menikah, lalu apa masalahnya?

"Sakura dan Naruto sudah dijodohkan sejak usia dua belas tahun."

Sasuke terkejut. Kebenaran apalagi kali ini yang membuatnya menyimpan banyak sekali pertanyaan tak terjawab. Alasan Naruto dan Sakura sudah bertunangan sejak kecil, alasan ikatan itu bertahan sampai bertahun-tahun lamanya, bahkan alasan mengapa Sakura ataupun Naruto tidak menolak semuanya jika mereka tidak pernah menaruh perasaan satu sama lain.

"Sakura mencintai Naruto sejak saat itu."

Deg

"Apa maksud-"

"Sakura mencintai Naruto pada pandangan pertama bahkan sebelum keduanya diperkenalkan. Katanya Naruto adalah anak laki-laki berpayung yang memayungi saat Sakura menangis di bawah hujan karena kepergian kedua orang tuanya dalam kecelakaan."

Kalimat yang hendak Sasuke ungkapkan menggantung begitu saja di udara. Sasuke kehilangan kata-kata hanya karena penjelasan Ino barusan.

"Tapi karena Naruto tidak pernah mencintai Sakura, karena Naruto tidak suka diikat oleh cincin pertunangan, dan lebih ingin kehidupan yang bebas di mana dia bisa mencintai siapa saja tanpa paksaan, karena itu Sakura berpura-pura membenci Naruto selama ini. Sakura tidak pernah benar-benar membenci Naruto. Gadis itu terlalu mencintai untuk melihat betapa jahatnya pria yang ia cintai. Bahkan untuk membuat Naruto merasa bebas, Sakura akan menjaga jarak dalam radius dua meter jika ada Naruto maka ia akan menjauh. Dan jika mereka tanpa sengaja berpapasan maka Sakura akan memakinya dan bersikap kasar agar Naruto berpikir bahwa Sakura tidak pernah menginginkan dirinya, dengan begitu Naruto bisa bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Meskipun pada dasarnya sikap Sakura memang kasar, aku yakin kau tahu Sakura tidak pernah bertindak kasar pada orang-orang dekatnya. Dia sangat menghargai ikatan dan persahabatan lebih dari siapa pun."

"Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?"

Ino menelisik. Mencari dari tatapan Sasuke yang kentara sekali. "Karena aku tahu bagaimana perasaanmu selama ini pada Sakura."

Sasuke balas menatap Ino dengan tajam. Ia meraih gagang pintu dan keluar dari tempat itu. Meninggalkan Ino begitu saja.

Sakura terbangun dengan kepala yang terasa sangat pusing. Pelan ia mengumpulkan kesadaran, berusaha menangkap benda pertama yang dapat ia lihat saat bangun. Ingatannya melayang pada kejadian di halaman panti ketika tubuhnya tiba-tiba tertabrak cukup keras hingga membuatnya terjembab dan ia tidak dapat mengingat apa-apa lagi. Wajah seseorang adalah objek pertama yang ia tangkap. Sepuluh detik otaknya mencerna tentang siapa sosok yang berbaring tepat di sampingnya. Wajah tegas yang familiar dengan alis blonde yang sangat ia kenal. Naruto. Suaminya tidur di samping Sakura seraya memeluknya cukup rapat. Sementara wajah Sakura berhadap-hadapan dengan wajahnya. Begitu dekat. Sampai ia dapat merasakan napas Naruto mengenai wajahnya.

Apa yang sedang terjadi ini? Ia tidak sadarkan diri berapa lama? Saat itulah Sakura melirik jam pada dinding kamar tempat dirinya dan Naruto tidur, pukul tiga dini hari. Entah kenapa dada Sakura masih merasakan sakit, terlebih saat mengingat bagaimana suaminya sendiri lebih mencintai wanita lain daripada istrinya. Bagaimana Naruto lebih banyak tersenyum dengan wanita lain daripada dirinya. Apa mungkin Sakura telah gagal dalam upayanya selama ini? Rasanya sia-sia Sakura berjuang seorang diri. Percuma berusaha sendirian ketika orang yang ia perjuangkan justru berjalan ke arah lain. Entah sampai kapan Sakura akan berhenti dari perjalanan panjang yang seolah tanpa ujung ini. Mata Sakura menggenang. Mengingatnya sedikit saja membuat perasaannya terluka. Sakura meraih wajah Naruto. Menangkup sisi wajah itu menggunakan telapak tangan dan jemarinya. Hangat. Tiba-tiba Sakura merasakan gelenyar aneh menjalari tubuhnya. Tuhan, ia sangat merindukan wajah ini.

Perlahan mata Naruto terbuka. Ia melihat Sakura menangis sambil menatap pedih ke arahnya.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Naruto bertanya dengan suara yang terlampau pelan.

Sakura menggeleng. Ia sedang tidak baik-baik saja seharusnya Naruto bisa tahu hanya dengan melihatnya. Naruto meraih kepala istrinya, merapatkan wajah Sakura ke dadanya. Ia bukan tidak memahami apa yang Sakura rasakan, hanya saja kadang Naruto tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat berada di tengah situasi seperti ini. Anehnya, Naruto merasa dadanya sesak dan hatinya sakit melihat Sakura menangis. Apakah terlalu melelahkan mencintai seorang Naruto? Malam itu tanpa suara tanpa isyarat, keduanya larut dalam keheningan. Tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Rasanya komunikasi keduanya jauh lebih baik jika tanpa kata-kata. Banyak pertanyaan yang ingin Naruto ajukan. Pun Sakura tak paham mengapa suaminya ada di tempat ini. Semua itu dibiarkan berjalan terlewatkan waktu. Mungkin benar jika yang mereka butuhkan saat ini bukan berusaha saling memahami yang berakhir dengan kesalahpahaman, melainkan saling memberi waktu untuk memahami dengan sendirinya.

Sakura memejamkan kembali kedua matanya. Malam ini saja, kali ini saja ia ingin merasakan ketenangan seperti ini. Bolehkah?

Beberapa tahun lalu, pada musim semi, Sakura tengah bersiap berangkat ke sekolah seraya telah rapi menggendong sebuah ransel berukuran cukup besar, sepatu kets kesayangannya, dan pin dengan nama Haruno Sakura pada seragam sekolahnya. Setelah merasa semuanya lengkap, ia melangkah menuju ke pintu keluar. Pagi ini bis datang pukul tujuh pagi dan cuaca sangat cerah, rasanya terlalu sempurna untuk Sakura memulai hari.

"Tunggu!"

Namun sebuah suara menahan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang dan melihat ayahnya berjalan mendekat.

"Kau melupakan ini?"

Jiraiya mengangkat kotak bekal yang biasa Sakura bawa setiap pagi. Lebih tepatnya kotak bekal ganda yang sengaja ia siapkan untuk diberikan pada seseorang. Sakura menggeleng. "Aku sengaja meninggalkan itu."

"Bukannya ini untuk Naruto?"

Sakura hanya mengangguk. Jiraiya melihat sebentar sebelum kemudian menyerah untuk bertanya lebih jauh tentang alasan Sakura meninggalkan bekal yang biasa ia siapkan untuk Naruto di sekolah. Setelah itu Sakura melangkah pergi seraya memandangi langit dan kelopak bunga sakura yang berjatuhan di sepanjang trotoar jalan. Hari ini semuanya tampak sempurna, cuaca, pakaian, dan pagi. Hanya saja perasaannya yang tidak terasa baik. Pasalnya baru kemarin Sakura tanpa sengaja mendengar pembicaraan Naruto dengan ibunya di halaman rumah Naruto.

Sore itu Sakura diminta Jiraiya untuk mengantarkan beberapa dokumen penting pada Minato yang merupakan ayah Naruto. Selesai ia menyerahkan berkas yang dititipkan oleh ayahnya, Sakura tanpa sengaja melihat Naruto di halaman teras rumah Namikaze. Naruto tampak menepis tangan ibunya yang berusaha berbicara. Wajahnya terlihat sangat marah entah karena apa. Sakura hanya mendengar kalimat terakhir yang Naruto ucapkan pada ibunya saat itu,

"Aku benci dikekang. Aku benci diikat, terlebih oleh cincin ini!" Setelah mengatakan hal tersebut Naruto beranjak pergi meninggalkan Kushina. Sakura sebisa mungkin bersembunyi agar Naruto tak melihatnya. Ia merasa dadanya sesak, ada sesuatu yang menyakitkan ia rasakan begitu mendengar ucapan Naruto. Ia kemudian melihat cincin yang melingkar di jarinya, melepaskan cincin tersebut lalu menaruhnya di dalam saku baju. Ia pun pergi dari rumah Naruto dengan perasaan campur aduk. Kebingungan itu membuatnya tak bisa tidur semalaman. Oleh karena itu, Sakura sengaja meninggalkan bekal makan yang biasa ia siapkan untuk Naruto.

Di dalam bis Sakura memandangi jalanan, taman-taman yang dipenuhi pengunjung, toko-toko yang dipadati pelanggan, dan halte yang riuh oleh pelajar. Pandangannya menerawang. Mengingat kembali kalimat Naruto yang terngiang-ngiang di telinga.

"Aku juga benci," Sakura menarik ingusnya yang meler tanpa disadari. "Aku benci Naruto." Namun entah hatinya sakit saat mengatakan hal tersebut. Ia ingin membenci Naruto jika bisa. Ia ingin menjadi orang yang paling membenci Naruto selama hidupnya. Mungkin dengan cara itu mereka tidak akan pernah dekat apalagi hidup bersama nantinya. Mungkin hanya dengan membencinya, Naruto tidak akan merasa terikat atau terkekang oleh status mereka.

Naruto menggeliat, perlahan kedua matanya terbuka. Tempat di sebelahnya kosong. Ia menyapu seisi ruangan, tak ada tanda-tanda Sakura berada di kamar. Ia pun turun dan melihat Ino di bawah. Tentu saja bersama semua anggota band mereka tengah berbincang sambil memakan sesuatu di atas meja, Lee tampak fokus menonton televisi. Namun perhatian semua orang beralih begitu menyadari kehadiran Naruto.

"Apa kalian melihat Sakura?"

"Err..." Kiba berpikir panjang seolah ragu untuk mengatakan atau tidak mengatakan.

"Sakura meminta kami tidak memberitahumu kalau dia sudah pulang duluan ke Tokyo."

"Hah?"

Jeda sejenak sampai Naruto menangkap maksud ucapan Ino. Ia pun berlari ke kamar dan mengambil barang-barangnya.

"Kau mau pulang juga?"

"Aku harus bertemu Sakura." Tanpa menoleh Naruto pun keluar dari bangunan panti. Hingga tubuhnya lenyap di balik pintu masuk.

Ino hanya menggeleng sementara Kiba, Lee, dan Shino saling bergilir melempar pandangan heran.

"Orang itu sedang dimabuk cinta ya?" celetuk Kiba.

Ino tersenyum kecil. Sepertinya ia tahu jawaban dari pertanyaan yang selama ini selalu Sakura lontarkan padanya. "Kau benar-benar sudah menang telak Forehead..." gumamnya dengan diri sendiri.

To be continued

Selamat membaca!

Jangan lupa follow juga akunku yang lain,

Dreame/Innovel : Shargadiva

Wattpad : Shargadiva