AN: Hi2…! Akhirnya tiba juga Saatnya Update Fic yang satu ini! :D

Adakah Reader yang menunggu kelanjutan Fic yang nggak jelas ini? Kalau nggak ada, ya sudahlah… Anggap saja Fic ini sebagai angin lalu… -_-'

Thank you buat semuanya, yang udah me-review dan membaca Fic gak jelas ciptaan Cyaaz ini. Hehe.

BTW, mulai dari Chap ini, akan bermunculan istilah2 asing. Cyaaz akan kasih pengertian dari beberapa istilah yang tidak umum.


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 02

Normal PoV

Seorang pemuda berperawakan tinggi dan gagah terlihat tengah mengamati pergerakan seekor rusa kecil, yang masih sibuk menikmati makan siangnya. Perlahan namun pasti, pemuda yang mengenakan tunic lengan pendek itu mengendap-endap di antara semak belukar, untuk dapat mendekati rusa tersebut. Setelah ia merasa bahwa jarak di antara dirinya dan rusa buruannya cukup dekat, pemuda itu segera mengeluarkan sebilah pisau belati sepanjang kurang lebih 25 centi meter dari sarungnya, yang terikat pada sabuk kulit di pinggangnya.

Sesaat kemudian, pemuda itu segera berdiri dari posisinya, yang sejak tadi hanya berjongkok sambil mengintai buruannya. Ia segera melompat dan menyergap rusa kecil, yang tidak sempat bereaksi terhadap serangan tiba-tiba pemuda tersebut. Pemuda itu mengunci leher si rusa dengan lengan kirinya. Sedangkan tangan kanannya telah bersiap untuk menggorok leher rusa kecil, yang terus meronta agar bisa terlepas dari cengkeraman sang pemburu.

Slash…

Darah segar mengucur deras dari leher rusa yang malang itu, berceceran mengotori rerumputan di sekitar tempatnya berada. Beberapa saat kemudian, rusa yang lehernya telah tergorok itu akhirnya kehabisan tenaga dan perlahan mati. Kemudian sang pemburu, menancapkan belatinya di tanah dan melepaskan lengan kirinya dari leher buruannya. Lengan kekar, yang telah berlumuran darah segar buruannya.

Pemuda yang mengenakan tunic berwarna firebrick itu segera mengambil sebuah botol berisikan air, yang menggantung di pinggangnya. Lalu ia membasahi lengan kirinya dengan air tersebut, untuk membersihkan darah rusa yang mengotori kulitnya.

Setelah lengannya bersih dari bercak darah, pemuda bermata emerald itu mencabut belatinya. Kemudian ia segera membelah perut rusa, yang telah mati dan tergeletak di sampingnya. Ia mengiris dan menyisihkan beberapa organ dalam, serta beberapa iris daging rusa tersebut. Setelah ia merasa cukup, pemuda itu membungkus potongan-potongan daging rusa tersebut dengan selembar kain berwarna cokelat tua dan membawanya pergi.

Setelah beberapa menit pemuda itu berjalan ke arah timur hutan, akhirnya ia tiba di depan sebuah gubuk kecil. Senyum tipis tiba-tiba saja terukir di wajah tampan pemuda itu, ketika ia mendapati sosok seorang gadis berambut panjang tengah sibuk mencuci sayuran di tepi sungai, yang berada tepat di samping gubuk reot tersebut.

"Kau sudah kembali?" suara lembut gadis itu, sedikit mengejutkan si pemuda yang kini tengah melangkahkan kakinya untuk menghampirinya di tepi sungai.

Rupanya gadis itu menyadari kedatangan pemuda berambut navy blue di belakangnya. Padahal gadis berambut panjang berwarna merah jambu itu tidak menoleh sedikit pun, langkah kaki pemuda itu juga sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"Ya," jawab si pemuda. "Hari ini aku mendapatkan daging rusa," ujarnya sambil meletakkan kain berisi potongan daging, yang beratnya mencapai dua hingga tiga kilo gram, beberapa centi meter di samping lawan bicaranya.

Gadis itu melirik ke arah bungkusan yang ada di sampingnya dengan mata sapphire miliknya. "Sebanyak ini?" tanyanya. "Kita hanya berdua, Athrun."

Pemuda bernama Athrun, duduk di samping kanan gadis yang baru saja menyebutkan namanya. "Kita bawa saja untuk perbekalan," jawabnya.

Gadis di samping Athrun hanya menggelengkan kepalanya perlahan. "Tetap saja, ini terlalu banyak," ia membuka bungkusan kain di sampingnya, lalu mulai mencuci potongan-potongan daging tersebut di dalam aliran air sungai. "Kita tidak akan sempat menghabiskan semuanya, karena daging-daging ini akan segera membusuk."

"Hah, kau benar," Athrun membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. "Ya sudahlah, Buang saja sisanya!"

Gadis yang tengah sibuk membersihkan darah yang tersisa di pori-pori potongan daging rusa tadi, tiba-tiba saja terdiam. "Athrun?"

"Ya, ada apa?" tanya Athrun. Ia terus memandangi hamparan langit biru, yang dihiasi oleh gumpalan-gumpalan awan putih dengan berbagai ukuran dan bentuk.

"Kau tidak seharusnya pergi bersamaku," gumam gadis bermata sapphire itu.

Athrun menarik nafas panjang. "Tapi ini sangat berbahaya, Lacus."

"Aku tahu," gadis yang dipanggil "Lacus", menolehkan wajahnya untuk menatap ke arah Athrun. "Tapi tetap saja, tidak seharusnya kau-."

"Aku tidak bisa hanya berdiam diri di tempatku," potong Athrun. "Sementara seluruh penjuru PLANT sedang dalam keadaan kacau," Athrun menatap serius ke arah Lacus. "Dan kau mempertaruhkan nyawamu, dengan pergi ke hutan ini sendirian."

Lacus hanya terdiam untuk sesaat, lalu ia kembali menatap potongan daging yang berada di tangannya. "Terima kasih, Athrun."

Athrun menghela nafas panjang. Ia sempat memejamkan kedua matanya untuk sesaat, hingga ia mendengar suara Lacus, yang lagi-lagi memanggil namanya.

"Athrun…" panggil Lacus dengan nada rendah.

Athrun membuka mata dan menatap sosok Lacus dari sudut mata emerald-nya. Ia mendapati Lacus hanya membeku, sambil menatap ke arah langit di seberang sungai. Membuat Athrun heran dan akhirnya bangkit dari posisinya.

"Ada apa?" tanya Athrun.

"Awan tebal itu…" gumam Lacus.

Athrun ikut memandang ke arah pandangan mata Lacus dan ia menemukan segumpal awan abu-abu yang memercikkan kilatan petir berwarna putih. "Sepertinya, akan turun hujan."

Lacus sontak menoleh kepada Athrun. "Itu bukan awan biasa," ujar Lacus. "Aku merasakan sesuatu yang aneh dari dalam awan itu," tambahnya.

Mata emerald Athrun melebar. "Apakah itu mereka?"

Lacus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aura yang terpancar dari awan itu, berbeda dari aura milik mereka."

Athrun hanya berkedip, lalu ia bangkit dari posisinya dan berkata, "Kau tunggulah di sini! Aku akan pergi memeriksanya," kemudian ia melompat di antara bebatuan untuk menyeberangi sungai dan berlari menuju gumpalan awan, yang dimaksudkan oleh Lacus.

"Hati-hati, Athrun!" seru Lacus.

Lacus kemudian membereskan sayuran dan potongan daging yang berada di sekitarnya, memasukkan semuanya ke dalam sebuah keranjang dan ia segera menuju ke gubuk tua, yang terletak tidak jauh dari tempatnya. Namun ketika ia membuka pintu gubuk tersebut, langkah Lacus terhenti karena lagi-lagi ia merasakan sesuatu yang aneh.

Ia menoleh ke belakang dan rupanya, terdapat sebuah gumpalan awan lain yang serupa dengan awan yang tadi ia tunjukkan kepada Athrun. Lacus hanya membeku di tempatnya sambil menatap awan tebal, yang melayang di langit barat hutan itu. Gadis berambut merah jambu itu terlihat tengah berpikir keras untuk beberapa saat.

Hal yang selanjutnya dilakukan oleh Lacus adalah meletakkan keranjangnya di lantai, lalu ia beranjak pergi meninggalkan gubuk itu. Ia memutuskan untuk memeriksa apa yang menjadi sumber aura aneh yang ia rasakan, dengan mata kepalanya sendiri. Karena itulah saat ini ia berlari ke arah barat, tepat ke arah salah satu gumpalan awan tebal yang memancarkan aura yang tidak biasa baginya.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Seorang gadis berambut pirang terlihat tengah tidak sadarkan diri. Tidak ada yang aneh dari sosoknya, yang aneh adalah tempat di mana ia tertidur saat ini. Tempat itu kosong, hampa dan tidak terisi oleh apa pun. Membuat tubuh gadis berambut pendek itu melayang dan terombang-ambing tanpa arah.

"Cagalli…" terdengar suara lembut seorang wanita, yang menggaung.

Gadis yang dipanggil itu perlahan mulai membuka matanya. Samar-samar ia bisa mendengar suara lembut itu terus memanggil namanya sejak tadi. "Siapa?" gumam gadis itu.

Ketika mata amber-nya terbuka lebar, gadis itu langsung tersentak kaget. Ke mana pun ia memandang, yang ia dapati hanyalah warna ungu kebiruan. Seketika itu juga, ia menggerakkan tubuh dan kedua tangannya untuk menggapai sesuatu, namun tidak menemukan apa pun. Ia seperti tengah berada di ruang hampa, terombang-ambing tidak menentu.

"A-apa ini?" Cagalli terus mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap bisa menemukan sesuatu, atau mungkin seseorang. "Tempat apa ini?"

Sesaat kemudian, Cagalli menemukan setitik cahaya putih di depannya. Cahaya itu terlihat semakin mendekat. Cagalli hanya terdiam, tidak yakin dengan apa yang harus ia lakukan. Jadi ia hanya menunggu hingga cahaya itu benar-benar berada di hadapannya.

Cahaya putih itu akhirnya berada di hadapan Cagalli, rupanya ukuran cahaya itu hanyalah seukuran bola tenis. Tidak terjadi apa pun selama beberapa menit, membuat Cagalli mulai kehabisan kesabarannya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh cahaya itu, namun ketika tangan kanan gadis bermata amber itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba saja cahaya itu mengejutkan Cagalli.

"Tolonglah kami…" terdengar suara dari dalam cahaya tersebut. Suara yang dikenali oleh Cagalli, sebagai suara misterius yang memanggil namanya sejak tadi pagi.

Cagalli terkejut dan menarik tangannya. "A-apa?" ia mengedipkan matanya beberapa kali. "Kau ini apa? Di mana aku?"

"Tolong kami, selamatkanlah PLANT."

Lagi-lagi Cagalli hanya bisa mengedipkan kedua matanya. "Apa maksudmu?"

Tidak ada jawaban dari cahaya putih di hadapan Cagalli, namun beberapa saat kemudian sesuatu terjadi. Sebuah cahaya oranye yang ukurannya lebih kecil, tiba-tiba muncul dari dalam cahaya putih tersebut. Cahaya berwarna dark orange tersebut terbang dan berputar-putar mengelilingi tubuh Cagalli, membuat gadis itu bingung. Setelah beberapa kali memutari tubuh Cagalli, cahaya tersebut akhirnya berhenti tepat di depan wajah gadis berambut pirang itu.

Karena rasa ingin tahunya, Cagalli mengatupkan kedua tangannya untuk menangkap cahaya berwarna dark orange tersebut. Ketika ia membuka telapak tangannya, yang ia temukan adalah sebuah benda kecil berwarna oranye yang berbentuk seperti sebuah benih tanaman.

"Apa ini?" tanya Cagalli.

"Aku percayakan semuanya pada kalian," lagi-lagi, cahaya putih di hadapan Cagalli, mengeluarkan suara. "Para Kesatria Naga."

Cagalli tersentak dan mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah cahaya putih, yang sejak tadi berbicara kepadanya. Ia mendapati cahaya itu tiba-tiba saja membesar dan semakin terang, hingga menyilaukan kedua matanya. Membuat Cagalli spontan menutup kedua matanya rapat-rapat.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Beberapa saat kemudian, Cagalli membuka matanya perlahan. Ia sangat terkejut ketika kedua mata amber-nya, menangkap pemandangan yang tersaji di hadapannya. Saat ini ia mendapati beberapa pohon besar, berdiri kokoh di sekitarnya. Ketika ia menoleh ke belakang, ia menyadari bahwa dirinya kini telah duduk di atas akar sebuah pohon besar.

"A-apa maksudnya ini?" tanya Cagalli kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Ia juga sama sekali tidak mengenali tempat ini. Hutan di mana ia berada saat ini, sangatlah berbeda dengan hutan kota di mana seharusnya ia berada. Hutan ini terlihat jauh lebih lebat dan menakutkan, dengan pohon-pohon yang tidak ia kenali jenisnya.

Tiba-tiba saja, Cagalli mendengar suara gesekan daun dari arah samping kirinya, membuat ia sedikit merinding ketakutan.

"Kira? Apa itu kau?" tanya Cagalli. Ia bangkit dari posisinya dan beranjak mendekati sumber suara tadi. Tanpa ia sadari, tangan kanannya masih menggenggam erat sebuah benda berwarna dark orange, yang ia dapatkan tadi. Ia terus melangkah perlahan, berharap bahwa sesuatu yang berada di balik semak-semak di hadapannya saat ini adalah Kira.

Ketika Cagalli mengulurkan tangan kirinya untuk menyingkirkan tanaman liar di hadapannya, tiba-tiba saja sesuatu keluar dari balik semak-semak. Sesuatu yang besar dan tinggi, atau mungkin lebih tepat disebut panjang. Cagalli benar-benar terkejut, hingga ia jatuh terduduk. Ketika ia mengangkat wajahnya, mata amber-nya melebar seketika.

"Ka-kaki seribu?" Cagalli menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mana ada kaki seribu sebesar ini?!" serunya.

Memang benar, seekor kaki seribu yang berada di hadapan Cagalli saat ini ukurannya ratusan, bahkan mungkin ribuan kali lebih besar daripada ukuran kaki seribu yang seharusnya. Panjangnya mencapai 11 hingga 12 meter, membuat kaki seribu itu bisa disebut sebagai monster.

Kaki seribu raksasa tersebut mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu mendesis dan menggerakkan beberapa kaki depannya. Beberapa tetes lendir berwarna kuning yang berasal dari tubuh kaki seribu tersebut, jatuh tepat di wajah Cagalli. Sesaat kemudian, monster itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang gadis yang masih membeku di hadapannya.

Cagalli sempat mengeratkan giginya untuk sesaat, lalu secara refleks ia berdiri, membalikkan tubuhnya dan berlari ke belakang. Membuat kepala sang monster menghantam tanah dengan sangat keras, hingga meremukkan lapisan tanah di sekitarnya. Sementara itu, tubuh Cagalli terhempas beberapa meter akibat serangan barusan. Membuatnya tanpa sengaja menjatuhkan benda kecil berwarna dark orange miliknya.

"Apa-apaan ini?!" seru Cagalli, seraya ia berusaha untuk bangkit. Ketika ia menoleh ke belakang, ia mendapati kaki seribu raksasa di belakangnya telah bersiap untuk menyerangnya lagi.

"SIAL!" seru Cagalli. Sontak ia berdiri dan berlari sekencang-kencangnya, untuk menjauhi kaki seribu raksasa di belakangnya.

Beberapa saat kemudian, monster itu kembali menyerang Cagalli, yang terus berlari tanpa arah yang jelas. Kali ini serangan monster itu, berhasil menyayat kaki kanan Cagalli. Membuat gadis bermata amber itu sempat terjatuh dan merintih kesakitan.

Dengan nafas yang masih terengah-engah karena berlari, Cagalli bangkit dari posisinya. Tanpa menghiraukan rasa sakit akibat luka di kaki kanannya, ia kembali berlari untuk menjauh dari monster itu. Namun kali ini gerakannya menjadi lebih lambat, karena gadis itu berlari dengan pincang.

Hal tersebut tentu saja sangat menguntungkan bagi sang monster, yang terus mengejar Cagalli. Dalam sekejap monster itu telah berada tepat di belakang Cagalli dan ia menerjang ke arah gadis malang itu. Untung saja Cagalli sempat menghindar lagi, namun tubuhnya terhempas cukup keras, hingga ia menghantam sebuah batang pohon dan kepalanya terbentur sangat keras.

Cagalli jatuh tersungkur di depan sebuah pohon, yang baru saja ia hantam. Darah mengalir dari pelipis kirinya dan pandangan matanya juga mulai kabur. Gadis itu benar-benar tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan saat ini, tubuhnya telah tidak sanggup lagi ia gerakkan.

Samar-samar mata amber-nya masih bisa menangkap sosok sang kaki seribu raksasa di hadapannya, yang telah mengambil ancang-ancang untuk menerkam dirinya. Gadis berambut pirang itu merasa tidak sanggup lagi bertahan, matanya telah terasa sangat berat untuk dibuka. Ia akhirnya pasrah dengan keadaannya saat ini. Perlahan-lahan, kesadaran Cagalli mulai menghilang.

Disaat-saat terakhir, mata amber Cagalli sempat menangkap sebuah sosok yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya, walaupun pandangannya telah benar-benar kabur. Sosok seseorang yang berdiri membelakangi Cagalli, tepat di antara dirinya dan kaki seribu raksasa yang sejak tadi mengejarnya. Sosok seseorang yang mengenakan pakaian berwarna merah tua.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Seorang pemuda tengah berlari menyusuri hutan. Pemuda berambut navy blue itu berlari lurus ke arah utara, tepat di mana gumpalan awan aneh yang ia cari berada. Ketika ia telah berada cukup dekat dengan gumpalan awan yang ia tuju, tiba-tiba saja ia mendengar suara gaduh dari kejauhan.

Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara gaduh barusan. Mata emerald-nya menangkap sosok dari seekor kaki seribu raksasa di antara celah pepohonan. Monster itu terlihat tengah bergerak dengan cepat melewati pepohonan.

"Stroge itu…" gumam Athrun sambil memperhatikan kaki seribu raksasa, yang terlihat sibuk dengan kegiatannya. "Apakah stroge itu sedang mengejar sesuatu?"

Sesaat kemudian Athrun tersentak. Apa yang tengah dikejar, atau mungkin diburu oleh monster itu? Seekor rusa, kerbau atau jangan-jangan…

"Aah!" Athrun mendengar suara teriakan, membuat pemuda itu menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seseorang tengah berlari, tepat beberapa meter di depan monster yang tadi ia lihat.

"Bocah itu…" dengan segera, Athrun berlari ke tempat di mana orang yang terlihat tengah menjadi incaran sang kaki seribu raksasa berada. "Kenapa bocah seperti dia berada di tempat berbahaya seperti ini?"

Athrun segera mempercepat larinya, ketika ia mendapati sosok bocah berambut pirang yang ingin ia selamatkan terhempas hingga menghantam sebuah batang pohon. Ia mengeluarkan sebuah liontin kristal berwarna dodger blue dari balik bajunya dan menggenggamnya dengan erat.

"GUNDAM!" seru Athrun sambil tetap berlari menghampiri kaki seribu raksasa, yang terlihat tengah bersiap-siap untuk menerkam mangsanya.

Seketika itu juga tangan kanan Athrun diselimuti oleh cahaya, yang warnanya serupa dengan kristal yang masih ia genggam. Kemudian cahaya itu memudar dan memperlihatkan tangan kanan Athrun, yang telah menggenggam sebuah pedang berukuran besar.

Beberapa saat kemudian, Athrun telah tiba di hadapan sang kaki seribu raksasa yang siap menyerang. Ia menggenggam pedang miliknya dengan kedua tangannya. Menggenggam sebuah Broadsword perak, yang panjangnya mencapai 100 centi meter.

Athrun mengeratkan genggaman tangannya pada gagang pedang miliknya, lalu ia segera melompat dan menebas kaki seribu raksasa di hadapannya. Tebasan pedang Athrun berhasil membelah tubuh lawannya menjadi dua bagian. Mengakibatkan darah segar bercampur lendir sempat menyembur ke segala arah.

Setelah berhasil mendarat dengan kedua kakinya, Athrun memandangi sosok monster yang baru saja berhasil ia taklukkan. Terlihat kaki-kaki monster itu masih sesekali menggeliat, namun lama-kelamaan gerakannya menjadi semakin lemah dan akhirnya berhenti.

Setelah memastikan bahwa lawannya telah mati, Athrun menurunkan pedangnya. Cahaya berwarna dodger blue, kembali menyelimuti tangan beserta dengan Broadsword milik pemuda itu. Lalu pedang itu menghilang dari tangan Athrun, bersamaan dengan memudarnya cahaya tadi. Menyisakan sebuah liontin kristal berwarna dodger blue di tangannya.

Perlahan-lahan, Athrun melangkahkan kakinya untuk menghampiri sosok yang kini masih terbaring di dekat sebuah pohon. Setelah ia berada di jarak yang cukup dekat, Athrun menyadari sesuatu yang aneh. Sesuatu yang membuatnya terkejut dan sempat memalingkan wajahnya.

'Seorang wanita?'

Athrun mengedipkan matanya beberapa kali, samar-samar terlihat rona merah telah menghiasi wajah tampannya. Sesaat kemudian ia kembali menolehkan wajahnya untuk menatap gadis, yang baru saja ia selamatkan. Gadis itu memiliki rambut pirang yang pendek, pakaiannya aneh dan robek di beberapa bagian. Mungkin hal itu disebabkan karena ulah monster yang tadi mengejarnya.

Athrun tiba-tiba saja teringat akan tujuan awal ia datang ke tempat ini. Ia mengedarkan pandangannya ke langit di sekitarnya, namun tidak menemukan apa yang ia cari. Awan aneh yang ia tuju, kini telah menghilang.

Athrun menarik nafas panjang, lalu membuangnya. Ia kembali memandangi sosok gadis yang terlihat terluka di beberapa bagian tubuhnya. Sesaat kemudian, Athrun berjongkok dan memperhatikan gadis aneh di hadapannya dengan lebih seksama.

"Kenapa wanita ini berada di sini?" mata emerald Athrun menelusuri tubuh gadis itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Cara berpakaian yang aneh..."

Athrun sempat menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti dengan selera berpakaian gadis itu. Gadis berambut pirang itu mengenakan atasan berwarna putih yang tidak biasa, serta mengenakan bawahan yang menurutnya sangatlah pendek. Terlalu pendek hingga kedua mata emerald Athrun, sempat menangkap pakaian dalam gadis itu, secara tidak sengaja tentunya.

Lagi-lagi Athrun menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia mendesah pelan. Setelah itu, ia mengangkat tubuh gadis yang baru saja ia selamatkan. Pemuda berambut navy blue itu memanggul tubuh gadis itu di bahunya.

Athrun merasa tidak tega meninggalkan gadis itu begitu saja, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang luka-luka seperti saat ini. Karena itulah Athrun memutuskan untuk membawa gadis itu ke gubuk di mana Lacus berada, dan bermaksud untuk merawat luka-luka gadis malang itu.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Di tempat yang berbeda, Lacus masih menyusuri pepohonan untuk mencari tahu apa yang menjadi sumber aura aneh yang ia rasakan. Lacus sempat mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun awan yang ia tuju kini telah menghilang bersamaan dengan aura anehnya.

Lacus menundukkan wajahnya, ia merasa tidak tenang karena tidak berhasil menemukan apa pun. Perhatian gadis berambut merah jambu itu tiba-tiba saja teralihkan, ketika ia mendengar suara patahan ranting dari balik sebuah pohon.

"Siapa?" tanya Lacus. "Keluarlah sekarang!"

Tidak ada jawaban apa pun, membuat Lacus semakin penasaran. Walaupun ada sedikit rasa takut di dalam hatinya, perlahan-lahan ia melangkah untuk memastikan apa yang sumber dari suara yang tadi ia dengar.

Ketika Lacus tiba di samping sebuah pohon besar, ia mendapati sesosok orang yang tengah terbaring di balik pohon tersebut. Tanpa pikir panjang, Lacus menghampiri orang yang rupanya tidak sadarkan diri tersebut. Ia berjongkok di samping orang itu dan menatapnya khawatir.

Sosok yang kini tengah terbaring di hadapan Lacus, adalah sosok seorang pemuda berambut cokelat. Lacus memperhatikan pemuda itu dengan seksama dan berusaha merasakan aura yang dipancarkan oleh pemuda itu.

Karena tidak merasakan adanya aura jahat, Lacus menghela nafas lega. Lalu ia meletakkan tangan kanannya di bahu pemuda itu, mengguncang-guncangkan perlahan tubuh pemuda tersebut untuk membangunkannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lacus perlahan. "Tuan? Bangunlah…"

Beberapa saat kemudian, pemuda berambut cokelat itu membuka matanya perlahan. Kemudian Lacus mendapati mata amethyst milik pemuda itu, telah terbuka sepenuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lacus lagi.

Pemuda itu hanya terdiam, mungkin kesadarannya belum kembali sepenuhnya. "Apa yang…" pemuda itu mengusap kedua matanya dengan lengan kanan. Sesaat kemudian, pemuda itu tiba-tiba saja bangkit dan duduk. Membuat Lacus sempat tersentak kaget.

"Cagalli?!" seru pemuda itu.

Lacus hanya memiringkan kepalanya sedikit, karena heran mendengar seruan pemuda itu. Kemudian ia tersenyum lembut, dan kembali menyentuh bahu pemuda di hadapannya.

"Tenanglah…" ujarnya.

Pemuda yang terlihat panik itu menoleh kepada Lacus. "Kau siapa?"

"Namaku Lacus Clyne," jawab Lacus.

Pemuda yang menjadi lawan bicara Lacus hanya terdiam sesaat, lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. "Ini di mana?" gumam pemuda itu.

Lagi-lagi, Lacus merasa heran dengan tingkah laku pemuda di hadapannya. "Kita sedang berada di Aprilius," jawabnya.

"Aprilius? Di mana itu?" tanya si pemuda.

"Eh? Tentu saja di PLANT," jawab Lacus.

"PLANT?" pemuda bermata amethyst itu terlihat semakin bingung. Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

"Maaf," Lacus tiba-tiba angkat suara. "Jika aku boleh bertanya, kau siapa? Sedang apa di tempat ini?"

Lawan bicara Lacus menoleh kepadanya. "Um. Namaku Kira Yamato," jawabnya. "Aku di sini sedang…" tiba-tiba saja, mata amethyst Kira melebar. "Astaga! Cagalli!" ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat.

"Ada apa?" tanya Lacus.

"Apa kau melihat seorang gadis? Rambutnya pirang sebahu dan…" Kira terlihat sangat kebingungan dan panik. "Tingginya hampir sama denganku."

Lacus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apakah kau terpisah dari temanmu?" Kira mengangguk. "Tenanglah, aku akan membantumu untuk mencarinya."

Kira tersentak. "Benarkah?"

Lacus mengangguk. "Tapi sebelumnya, aku harus menemui seseorang," Lacus berdiri dari posisinya. "Setelah itu, aku akan membantumu."

Kira terdiam untuk sesaat, lalu ia mengangguk. Setelah itu ia juga berdiri dan mengikuti Lacus, yang telah berjalan di depannya.

Kira mengedarkan pandangan matanya ke segala arah, mengeksplorasi pemandangan yang tersaji di sekelilingnya. Ia tidak mengenali tempat ini, nama tempat yang tadi disebutkan oleh Lacus juga tidak pernah ia dengar sebelumnya.

'Sebenarnya di mana ini? Apa Cagalli juga ada di sini?'

Kira menundukkan wajahnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Ada di mana ia sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?

Kira mendesah pelan, lalu ia kembali memfokuskan pandangannya lurus ke depan. Ia menatap punggung seorang gadis, yang berpenampilan aneh. Rambut panjang gadis itu berwarna merah jambu, dan pakaian yang ia kenakan juga aneh. Sebuah gaun yang terkesan seperti gaun kuno, berwarna putih di bagian atas dan cokelat tua di bagian bawahnya. Pakaian gadis itu, serupa dengan pakaian-pakaian yang dikenakan para tokoh wanita di film-film bertemakan abad pertengahan.

'Siapa wanita ini?'

'Apa yang sebenarnya terjadi padaku dan Cagalli?'

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Di dalam sebuah ruangan berukuran besar, yang memiliki desain interior bergaya Eropa pada abad pertengahan. Terlihat seorang pria berambut pirang tengah duduk di sebuah kursi besar antik berwarna merah. Pria itu terlihat tengah terlarut dalam pemikirannya sendiri.

"Tok, tok, tok."

Pria yang mengenakan topeng berwarna putih itu mengangkat wajahnya. "Masuklah!"

Dari balik sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu, munculah sesosok pemuda berambut hijau. Pemuda itu memasuki ruangan dan berdiri beberapa meter di depan pria yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.

"Ada apa, Nicol?" tanya pria bertopeng yang kini bangkit dari kursinya.

Pemuda yang ditanyai, membungkukkan tubuhnya untuk sesaat. Lalu ia menjawab, "Beberapa saat yang lalu, saya merasakan kemunculan aura aneh dari arah timur hutan."

"Maksudmu?" tanya pria berambut pirang di hadapan Nicol. "SEED milik seseorang?"

Nicol mengedikkan bahunya. "Memang ada kemiripan dengan aura yang dipancarkan oleh Kristal SEED, tapi ini sedikit berbeda," tatapan Nicol sedikit berubah. "Aura ini terasa aneh, tapi juga sangat kuat."

Lawan bicara Nicol hanya terdiam selama beberapa saat. Kemudian senyum tipis tiba-tiba saja terukir di wajah pria bertopeng itu. "Pergilah bersama Rusty dan periksa apa yang menjadi sumber aura itu!" pria berambut pirang itu menjulurkan tangan kanannya, bermaksud untuk menyerahkan sebuah benda kecil berbentuk segitiga kepada Nicol.

Nicol mengangkat wajahnya untuk menatap lawan bicaranya, lalu ia menerima sebuah benda berwarna hitam tersebut dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Tuan Rau Le Creuset."

Setelah itu, Nicol berbalik dan melangkah keluar dari ruangan. Meninggalkan Rau sendirian di dalam ruangan tersebut. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding. Lukisan yang menggambarkan dua ekor naga, yang tengah bertengger di atas tebing. Seekor naga di antaranya berwarna putih, sedangkan yang lainnya berwarna hitam. Keduanya bertengger di ujung tebing batu yang saling berhadapan. Di atas tempat kedua naga tersebut berdiri, terlihat beberapa ekor naga dengan berbagai warna beterbangan menghiasi langit senja.

"Mungkinkah itu kalian?"

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Kamus Kecil:

- Broadsword: Salah satu jenis pedang kesatria di abad pertengahan yang digunakan oleh para kesatria di Eropa. Pedang yang ukurannya cukup besar, panjangnya berkisar antara 80 hingga 100 centi.

- Tunic: Salah satu jenis pakaian yang dikenakan di abad pertengahan. Modelnya seperti kemeja, yang panjangnya biasanya mencapai pinggul atau di atas lutut.


Yah, beginilah akhir dari Chap 2 dari 'Dragon Knight: Lost in Aprilius'

Gimana menurut Kalian? Seru atau Membosankan? -_-'

To Bara no Chikai: Hey, guess what? You're WRONG… :P That wasn't Athrun, who whispered Cagalli's name. But at least, I gave him the honor to save Cagalli's life! :D By The Way, I've finished the E version. Do you still want to read it or not? Hehe.

To Nelshafeena: Dan ternyata… Harapan dan Tebakan Nel-San tidak ada yang benar… :P Sebenernya dulu sempet pengen bikin Lacus yang manggil Cagalli, tapi karena beberapa alasan… Cyaaz akhirnya mengubah rencana dan alur Fic ini. :D

To Lezala: Yah, soal siapa yang manggil Cagalli… Cyaaz rasa Lezala-San nggak akan menemukan jawabannya dalam waktu dekat. :P Cyaaz tau apa yang Lezala-San pikirkan soal KiraCaga dan Cyaaz yakin banyak Reader lain yang memikirkan hal itu. Well, mengenai itu... Cyaaz serahkan saja pada imajinasi reader masing2. :)

Okay, that's all…

See ya latter and Don't forget to Review! :D


DK: LiA by DK

17042013