AN: Hi, semuanya... Cyaaz Update Chap baru nih... :D

Cyaaz seneng banget waktu baca Review kalian di Chap kemarin. Banyak yang menduga2 Alur dari Fic ini. Sepertinya Fic ini alurnya g begitu mudah untk ditebak ya... Baguslah. :P

Selain itu, Cyaaz jg seneng dan makin cinta sama GS/D. Apalg sejak gabung dan sering nimbrung di group AsuCaga d FB... Hhh, senangnya bs kumpul ama banyak penggemar GS/D. :D

Thank you bwt smua pembaca, terutama yg udah me-review, mem-follow dan mem-favorite-kan Fic ini... :)


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 03


Normal PoV

Samar-samar Cagalli mulai merasakan pusing yang melanda kepalanya. Ia juga merasa nyeri dan perih di beberapa bagian tubuhnya yang lain, seperti di bagian kaki, lengan dan punggungnya. Perlahan-lahan gadis berambut pirang itu berusaha untuk membuka kedua mata amber-nya, yang sejak tadi tertutup rapat.

Ketika ia membuka matanya, ia langsung menatap langit-langit kayu yang terlihat kotor. Masih dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya, Cagalli menolehkan wajahnya ke kanan. Dengan pengelihatan yang masih sedikit kabur, Cagalli mendapati sebuah perapian kecil yang menyala di salah satu sisi ruangan.

"Akhirnya kau bangun," tiba-tiba Cagalli mendengar suara seorang pria.

Gadis bermata amber itu tersentak, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang pemuda berambut navy blue tengah duduk di ujung ranjang kecil di mana ia berbaring saat ini. Pemuda itu tidak menghadap ke arah Cagalli, ia terlihat tengah sibuk memainkan sebilah belati kecil yang berada di tangannya.

Mata amber Cagalli melebar, ia segera bangkit dan berusaha untuk duduk. Seketika itu juga, ia merasakan pusing yang sangat hebat dan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Membuat ia sontak memegangi kepalanya, yang rupanya telah terbalut perban sambil merintih kesakitan.

"Tubuhmu penuh dengan luka," ujar si pemuda sambil menoleh kepada Cagalli. "Sebaiknya, kau tidak banyak bergerak untuk sementara," sekarang pemuda itu berdiri dari posisinya.

Cagalli tidak menjawab untuk sesaat. Ia hanya berkedip beberapa kali sambil berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kemudian Cagalli mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mengetahui di mana ia berada saat ini. Setelah beberapa saat mengedarkan pandangannya ke segala arah, Cagalli menyadari bahwa ia tengah berada di dalam sebuah ruangan yang luasnya tidak seberapa.

Ruangan tersebut terlihat tua, sederhana dan sedikit kotor, meski masih tertata dengan rapi. Di dalam ruangan tersebut hanya terdapat sebuah perapian kecil, sebuah tungku di sudut ruangan, dua buah kursi kayu, sebuah meja kecil dan sebuah ranjang yang ia tempati. Semua perabotan tadi terlihat seperti perabotan yang berasal dari museum. Perabotan-perabotan antik yang sudah tua dan tidak terurus lagi.

Setelah puas mengeksplorasi keadaan di sekelilingnya, Cagalli akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap pemuda yang berdiri di dekatnya. "Siapa kau?" tanya Cagalli.

"Seharusnya akulah yang bertanya seperti itu padamu," jawab si pemuda sambil menghampiri Cagalli. "Siapa kau? Kenapa kau ada di tengah hutan?"

"Um, aku…" Cagalli terlihat berusaha mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah. "Monster! Monster kaki seribu!" Cagalli terlihat panik.

"Tenanglah! Kau sudah aman sekarang," ujar si pemuda, berusaha menenangkan Cagalli. "Aku sudah membunuh stroge itu."

Cagalli menoleh untuk menatap lawan bicaranya, lalu berkedip beberapa kali. "Stro-, apa?"

"Stroge, mahluk yang menyerangmu tadi," sahut si pemuda. "Aku sudah membunuhnya."

Lagi-lagi, Cagalli mengedipkan matanya beberapa kali. "Kau? Membunuh monster itu?" tanyanya tidak percaya.

Pemuda bermata emerald yang berdiri di hadapan Cagalli, menaikkan alisnya. "Kenapa? Kau tidak percaya?"

"Tentu saja! Mana mungkin orang sepertimu bisa mengalahkan monster besar semacam itu!" jawab Cagalli. Mustahil jika orang biasa seperti pemuda ini bisa mengalahkan, bahkan membunuh monster kaki seribu tadi 'kan?

Pemuda berambut navy blue yang masih setia berdiri tepat di hadapan Cagalli itu langsung mengerutkan dahinya. "Bukannya berterima kasih karena sudah diselamatkan, tapi kau justru meremehkanku," ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berkata, "Padahal aku bahkan juga sudah merawat luka-lukamu."

Cagalli berkedip, ia memproses kalimat yang baru saja diucapkan oleh si pemuda di dalam otaknya. Lalu Cagalli mengalihkan pandangannya untuk mengamati keadaan tubuhnya. Rupanya memang benar, luka-luka yang didapat oleh Cagalli, akibat serangan monster tadi telah mendapatkan perawatan medis. Kaki kanan, lengan kanan dan kepala Cagalli, saat ini telah dibalut perban dengan sangat rapi.

"Kau wanita yang aneh!" suara si pemuda, membuat Cagalli kembali menoleh ke arahnya. "Pakaian apa, yang kau kenakan itu?"

Cagalli hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh si pemuda. Memangnya apa yang salah dengan pakaiannya? Pakaian yang ia kenakan saat ini, adalah seragam sekolahnya. Justru pakaian yang dikenakan oleh si pemuda itulah yang terlihat aneh. Pakaian itu terlihat kuno dan pantas untuk dipajang di dalam musium.

"Pakaianmu itu terlalu tipis dan pendek," si pemuda memalingkan wajahnya. Terlihat semburat rona merah tipis, telah menghiasi pipinya. "Jangan salahkan aku, yang tanpa sengaja sudah melihat pakaian dalammu! Salahkan saja cara berpakaianmu, yang aneh itu!" gumamnya.

Mata amber Cagalli langsung melebar, setelah ia mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh si pemuda.

Punch!

Tinju kanan Cagalli seketika itu juga melayang dan mendarat tepat di wajah si pemuda. Membuat si pemuda yang sama sekali tidak menduga serangan tersebut, tersentak mundur beberapa langkah dan merintih kesakitan.

"Apa-apaan kau!" seru si pemuda, sambil mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah dengan punggung tangan.

"Laki-laki mesum!" teriak Cagalli. Gadis itu sontak menarik kedua lututnya dan memeluk dirinya sendiri dengan erat. Wajah gadis itu saat ini telah berubah warna menjadi merah padam karena rasa malu, sekaligus rasa marah yang ia rasakan.

"Wanita tidak tahu diri!" bentak si pemuda. Ia baru akan menghampiri Cagalli, ketika terdengar suara pintu ruangan di mana ia berada dibuka dari luar.

"Athrun?" terdengar suara seorang wanita dari arah pintu.

Pemuda yang dipanggil itu menoleh ke arah pintu dan ia mendapati seorang gadis bermata sapphire tengah menatapnya. "Lacus? Kau dari mana saja?"

Lacus mendesah pelan. "Saat kau pergi, aku melihat awan aneh lain di sebelah barat," Lacus memasuki ruangan tersebut. "Jadi aku pergi untuk memeriksanya dengan mataku sendiri."

Athrun menatap Lacus, dengan tatapan serius. "Kau tidak seharusnya pergi sendirian seperti itu. Hutan ini sangat berbahaya, Lacus."

"Maaf," gumam Lacus. "Ada apa denganmu?" tanya Lacus. Ia memperhatikan luka memar di bibir Athrun, lalu ia melirik ke sudut ruangan dan mendapati sosok seorang gadis yang terlihat ketakutan tengah menatapnya. "Siapa dia?"

Athrun melirik ke arah Cagalli untuk sesaat, lalu ia mendengus dan memalingkan wajahnya. "Dia…"

"Nona, apa yang terjadi?" suara seorang pria, berhasil menarik perhatian ketiga orang di dalam ruangan tersebut. Terlihat seorang pemuda berambut cokelat tengah berdiri di depan pintu. "Kenapa kau tiba-tiba saja-."

"Kira!" panggil Cagalli.

Kira tersentak, lalu ia mencari sumber suara yang sangat ia kenal. Akhirnya mata amethyst-nya menemukan sosok Cagalli di sudut ruangan. "Cagalli?!"

Kira langsung menghampiri Cagalli, tanpa mempedulikan keberadaan Athrun dan Lacus. Ia langsung mengambil posisi duduk di samping Cagalli. "Ya Tuhan, Cagalli…" kemudian ia memeluk erat tubuh gadis itu.

Cagalli membalas pelukan Kira. "Kau ke mana saja? Dasar bodoh!"

Kira membelai rambut pirang Cagalli dengan lembut, selama beberapa saat. Lalu ia melepaskan pelukannya, ketika ia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan keadaan sahabatnya itu. "Apa yang terjadi padamu?" Kira mengamati perban, yang membalut kepala Cagalli. "Ya ampun, Cagalli…" ia menyentuh pelipis kanan Cagalli, dengan tangan kirinya.

"Um… Apa kau percaya, kalau aku bilang…" Cagalli terlihat bingung dalam menjelaskan jawabannya. "Kalau aku dikejar-kejar monster kaki seribu, yang panjangnya lebih dari 10 meter?"

Kira menaikkan alis matanya. "Apa?!"

"Wanita itu," Athrun angkat suara. Membuat Kira dan Cagalli menoleh kepadanya. "Aku menyelamatkan nyawanya dari seekor stroge," Athrun menyipitkan matanya. "Tapi dia justru memukul wajahku. Dasar sial!"

Cagalli sontak mengarahkan death-glare-nya pada Athrun. Sementara Kira justru memasang ekspresi wajah kebingungan. "Apa?" tanya Kira. "Apa kau sudah gila?" pemuda berambut cokelat itu kembali menatap Cagalli.

"Yah, mungkin saja…" jawab Cagalli. "Mengingat kalau tadi, kepalaku membentur pohon," gadis itu mengusap-usap keningnya. "Gara-gara monster sialan itu!"

Kira menatap Cagalli, dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu? Kau serius?"

"Tentu saja, bodoh!" Cagalli menjitak kepala Kira. "Hari ini aku benar-benar sial! Setelah dikejar-kejar monster menjijikan itu," Cagalli menatap tajam ke arah Athrun. "Aku malah bertemu dengan laki-laki mesum semacam dia!"

Athrun tersentak, ia mengerutkan dahinya. "Apa katamu? Dasar kau wanita tidak tahu berterima kasih!" bentaknya. "Seharusnya tadi aku tidak-."

"Hentikan! Tenanglah, Athrun!" seru Lacus tiba-tiba. "Bukan saatnya berdebat mengenai hal yang tidak penting seperti itu."

Cagalli dan Athrun langsung terdiam, mereka mengalihkan pandangan mereka ke lantai secara bersamaan. Mendapati kedua orang tersebut telah tenang, Lacus menghela nafas panjang. Kemudian ia menatap ke arah Cagalli dan Kira dengan serius.

"Maaf. Jika boleh aku bertanya, kalian ini siapa dan dari mana kalian berasal?" tanya Lacus.

Kira dan Cagalli saling memandang untuk sesaat, lalu mereka menatap ke arah Lacus. "Seperti yang aku bilang tadi, namaku Kira Yamato," Kira menoleh ke arah Cagalli. "Dia adalah temanku yang aku cari tadi. Namanya adalah Cagalli Yula Athha," Kira kembali menatap Lacus. "Kami berasal dari ORB."

Mata Lacus dan Athrun melebar secara bersamaan. "ORB?" tanya Athrun. "Aku tidak pernah mendengar nama tempat seperti itu."

"Kami juga tidak pernah melihat tempat seaneh ini sebelumnya," sahut Cagalli ketus.

"Lalu, bagaimana kalian bisa ada di sini?" tanya Lacus.

"Um, kami…" Kira mencoba untuk menjawab. Tiba-tiba saja ia teringat akan penyebab dari semua keanehan yang ia alami. Spontan ia menoleh kepada Cagalli dan menjitak kepala gadis berambut pirang itu dengan keras. "Semua ini gara-gara kau!"

"Ahh…" rintih Cagalli. "Apa maksudmu?" ia mengusap kepalanya yang sakit.

Kira menyipitkan kedua matanya. "Gara-gara kau menyentuh cahaya misterius itu."

Cagalli menaikkan alis matanya. "Apa?"

"Gara-gara kau, yang tidak menghiraukan panggilanku di hutan tadi," jelas Kira. "Bukannya menjauhinya, tapi kau malah menghampiri cahaya misterius itu."

"Cahaya apa maksudmu?" tanya Cagalli heran.

Kira menaikkan alisnya. "Kau tidak ingat?" Cagalli menggeleng. "Saat kita di hutan tadi, aku melihat ada cahaya misterius mendekatimu dari belakang. Aku berusaha memanggilmu, tapi kau malah berbalik dan memasuki cahaya itu," jelasnya.

Cagalli hanya mengedipkan kedua matanya, lalu ia menyangga dagunya dengan tangan kanan. "Seingatku tadi aku…" Cagalli berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. "Seperti terlempar di sebuah ruang hampa…"

"Ruang hampa?" tanya Kira.

Cagalli mengangguk. lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Kira. "Benar juga. Aku sempat bicara dengan sesosok cahaya putih."

"Apa? Cahaya itu bicara?" Kira semakin bingung.

"Ya, tapi aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan," gumam Cagalli. "Setelah itu aku sudah berada di hutan," tambahnya.

Hening sempat menyelimuti suasana di ruangan tersebut untuk beberapa saat. Hingga Lacus akhirnya angkat suara. "Jadi… Kalian berasal dari dunia lain?"

Cagalli, Kira dan Athrun tersentak, lalu menatap Lacus. "Dunia lain?" tanya Athrun.

Lacus mengangguk. "Hanya itu kesimpulan yang bisa aku ambil saat ini," Lacus menatap lurus ke arah Kira dan Cagalli. "Berdasarkan apa yang kalian berdua katakan tadi."

"Dunia lain?" mata amber Cagalli melebar. "Y-yang benar saja!" gadis itu memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Stellar! Bagaimana dengan Stellar? Aku tidak bisa terdampar di tempat semacam ini," Cagalli mengacak-acak rambutnya karena frustasi. "Ugh, bagaimana ini bisa terjadi padaku?"

Kira meraih kedua tangan Cagalli, kemudian ia berusaha untuk menenangkannya. "Tenanglah! Aku yakin dia tidak apa-apa," Cagalli terlihat akan memprotes, namun Kira langsung menambahkan. "Kalau aku pulang terlambat, orang tuaku pasti akan menghubungi rumahmu. Dengan begitu mereka pasti akan tahu kalau kau juga belum pulang dan Stellar sendirian di rumah. Mereka pasti akan langsung ke rumahmu dan menjaga Stellar."

Cagalli terlihat sedikit tenang setelah mendengarkan penjelasan Kira, ia menganggukkan kepalanya perlahan.

"Sekarang yang terpenting adalah…" Kira menoleh ke arah Athrun dan Lacus. "Apa kalian bisa membantu kami untuk kembali ke dunia kami?"

Lacus dan Athrun saling memandang untuk sesaat, lalu mereka menggeleng-gelengkan kepala mereka. "Maaf, tapi kami sama sekali tidak tahu apa-apa," ujar Lacus.

Ekspresi wajah Kira dan Cagalli langsung berubah, setelah mereka mendengar pernyataan dari Lacus. Athrun memandangi wajah gadis berambut pirang, yang telah ia selamatkan. Wajah gadis itu terlihat murung dan layu, sangat berbeda dengan wajah yang terlihat penuh semangat dan aura kehidupan saat gadis itu memukul wajahnya tadi.

Entah kenapa, Athrun tiba-tiba merasakan sensasi aneh di perutnya. Pemuda berambut navy blue itu kemudian segera mengalihkan pandangannya ke Lacus. "Apakah ini adalah perbuatan mereka?" tanya Athrun.

Lacus tersentak, lalu ia mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu," Lacus mengalihkan pandangannya. "Tapi jika memang semua ini ada hubungannya dengan mereka, bukankah seharusnya mereka sudah ada di sini?" gumamnya.

Athrun menganggukkan kepalanya. Lacus benar, jika memang mereka yang membuat kedua orang ini datang ke PLANT, seharusnya mereka sudah menunjukkan diri mereka di sekitar sini.

"Sekarang aku mengerti…" gumam Lacus. "Aura aneh yang aku rasakan tadi, rupanya berasal dari kalian berdua," Lacus menatap ke arah Kira dan Cagalli.

Kira dan Cagalli langsung menatap heran ke arah Lacus, sementara Athrun menaikkan alisnya dan bertanya, "Apa maksudmu?"

"Apakah kau menemukan gadis itu di dekat awan yang aku tunjukkan padamu?" tanya Lacus kepada Athrun, yang mendapatkan jawaban berupa anggukkan. "Aku juga menemukan Tuan Kira di tempat awan aneh yang satu lagi," ujarnya.

"Jadi mereka berasal dari awan-awan itu?" gumam Athrun.

Lacus mengangguk. "Padahal aku sempat menduga, jika aura aneh tadi adalah SEED," Lacus menundukkan wajahnya. "Tapi sepertinya aku salah."

"SEED?" Athrun tersentak. "Mungkin yang kau rasakan itu adalah SEED milikku," ujar Athrun. "Tadi aku memang menggunakan GUNDAM-ku untuk membunuh seekor stroge."

Lacus menggeleng. "Aku tahu kau menggunakan SEED," Lacus menatap Athrun dengan serius. "Tapi aku juga sempat merasakan kemunculan aura SEED lain sebelum kau menggunakannya."

Mata emerald Athrun melebar. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun terpotong oleh Kira. "Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan?" Lacus dan Athrun menoleh kepada Kira. "Apa itu SEED?" tanya Kira.

Lacus menghela nafas. "SEED adalah kekuatan kami, para penduduk PLANT," lalu ia mengambil sebuah liontin berwarna dodger blue, yang melilit gagang sebuah belati kecil di sabuk Athrun. "Ini adalah Kristal SEED, milik Athrun."

Mata Cagalli melebar seketika. "I-itu…"

Lacus, Athrun dan Kira menoleh ke arah Cagalli secara hampir bersamaan. "Ada apa?" tanya Kira.

"Benda semacam itu…" Cagalli merogoh-rogoh sakunya untuk mencari sesuatu. "Tadi aku membawa benda seperti itu bersamaku."

Sontak mata Athrun, Kira dan Lacus melebar karena terkejut. "Kau yakin itu benda yang sama?" tanya Athrun.

Cagalli mengangguk, kemudian ia berkata, "Ugh, sepertinya aku menjatuhkannya."

Athrun dan Lacus saling memandang satu sama lain, lalu Lacus menganggukkan kepalanya. Membuat Athrun menyipitkan matanya, lalu ia kembali menatap Kira dan Cagalli. "Kita harus mencarinya," ujar Athrun.

Kira dan Cagalli langsung menoleh ke arah Athrun. "Eh?" Cagalli menaikkan alisnya.

Athrun melangkah menghampiri Cagalli, kemudian ia mengulurkan tangan kanannya. "Tunjukkan di mana kau menjatuhkannya!" ia meraih dan menarik tangan Cagalli, sehingga gadis itu berdiri. "Kita harus segera menemukan Kristal SEED itu."

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Kira's PoV

Sudah beberapa menit yang lalu, Cagalli pergi bersama pria berambut biru itu. Pria itu bersikeras meminta Cagalli untuk menunjukkan padanya, tempat di mana Cagalli menjatuhkan benda yang dia sebut dengan 'Kristal SEED'. Padahal kondisi badan Cagalli masih dipenuhi luka begitu. Apalagi kalau memang di hutan ini, benar-benar ada monster seperti yang Cagalli ceritakan…

"Hhh…" aku menghela nafas berat, kemudian menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan. Percuma saja aku memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, hanya akan membuat perasaanku jadi makin tidak tenang.

"Mereka akan baik-baik saja," aku mendengar suara seorang wanita dari belakang. Membuatku sontak menoleh padanya. "Athrun pergi bersama gadis itu," seorang wanita berambut merah muda, sekarang berdiri tidak jauh di belakangku. "Jadi aku yakin, gadis itu akan baik-baik saja."

Aku menganggukkan kepalaku untuk merespon, meski sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan pria berambut biru itu. Bagaimana bisa, aku percaya pada orang yang dipanggil 'laki-laki mesum' oleh Cagalli?

Lagi-lagi aku menghela nafas berat sambil sedikit mengacak rambut cokelatku. Sebenarnya aku juga ingin ikut dengan mereka, tapi pria berambut biru itu melarangku. Dia menyuruhku menunggu mereka di sini bersama Nona Lacus.

Nona Lacus Clyne, adalah wanita berambut merah muda yang sekarang juga sedang menunggu di gubug kecil ini. Aku bertemu dengan wanita ini tadi siang di hutan, setelah aku memasuki cahaya misterius berwarna putih untuk mengejar Cagalli.

Aku memejamkan sejenak kedua mataku, lalu membukanya kembali untuk menatap lurus ke arah sungai. Beberapa detik kemudian, aku merasakan kalau Nona Lacus sedang berjalan menghampiriku.

"Tuan Kira?" aku mendengar Nona Lacus memanggilku. Membuatku menoleh padanya, yang sekarang sudah berdiri di sampingku. "Bolehkah aku duduk di sini?"

Aku tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja," Nona Lacus duduk di sampingku. "Dan tolong, panggil aku 'Kira' saja!" tambahku.

Nona Lacus mengangguk kecil, lalu berkata, "Baiklah, kau juga cukup memanggil namaku saja."

Aku mengangguk, lalu mengalihkan pandanganku ke sungai. Setelah beberapa menit kami berdua hanya terdiam, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya, "Dunia ini… Dunia yang bagaimana?"

Untuk sesaat, aku tidak mendengar respon apa pun dari Lacus. Mungkin dia sedang mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaanku. Yah, aku memang benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini. Bukan hal yang lazim bagi siswa SMA sepertiku dan Cagalli, pergi ke dunia lain yang benar-benar asing bagi kami.

"PLANT, adalah dunia yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pegunungan, perairan dan juga hutan. Terdapat beberapa kerajaan yang berdiri di beberapa tempat," aku mendengar suara Lacus, membuatku menoleh padanya. "Kebanyakan dari hutan-hutan yang ada, dihuni oleh berbagai jenis hewan buas atau bahkan monster."

Aku tersentak mendengarnya. Jadi monster kaki seribu, yang diceritakan Cagalli itu benar-benar nyata?

"Mengenai kerajaan, ada banyak kerajaan yang tersebar di seluruh penjuru PLANT," Lacus menolehkan wajahnya padaku. "Tapi hanya ada beberapa kerajaan di antaranya, yang bisa dikatakan cukup besar dan berkuasa."

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, sebagai tanda kalau aku mengerti. Sepertinya selain hutan-hutan yang dihuni oleh monster, dunia ini tidak jauh berbeda keadaannya dengan dunia kami. Hanya saja dunia ini, terlihat seperti dunia kami di abad pertengahan dan…

"Oya, lalu…" aku teringat pada suatu hal yang ingin aku tanyakan. "Bagaimana dengan SEED? Bisa kau jelaskan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan SEED padaku?"

Sesaat kemudian, Lacus menganggukkan kepalanya. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, SEED adalah kekuatan bagi kami."

"Kekuatan? Maksudmu seperti kekuatan sihir?" tanyaku.

"Ya, aku rasa… SEED bisa disetarakan dengan sihir," jawab Lacus.

Aku hanya berkedip, lalu kembali bertanya, "Apa semua orang di dunia ini bisa menggunakan sih-, maksudku SEED?"

Lacus menggeleng. "Hanya orang-orang yang memiliki Kristal SEED saja, yang bisa menggunakan SEED."

"Kristal SEED? Maksudmu, benda kecil berwarna biru yang tadi kau tunjukkan padaku dan Cagalli?" tanyaku sambil berusaha mengingat kembali benda yang aku lihat tadi.

"Ya. Itu adalah Kristal SEED bertipe Sky," jawab Lacus.

"Tipe? Sky?" aku bingung dengan perkataan Lacus.

"Kristal SEED memiliki beberapa tipe," ujarnya. "Masing-masing tipe Kristal SEED, mengandung beberapa jenis kekuatan SEED yang berbeda."

Aku menganggukkan lagi kepalaku. "Lalu, bagaimana caramu bisa mendapatkan Kristal SEED? Apa benda itu dijual di suatu tempat?"

Lacus tertawa kecil setelah mendengar pertanyaanku, sepertinya pertanyaanku tadi terdengar bodoh ya?

"Tentu saja tidak…" jawabnya setelah beberapa saat tertawa. "Konon katanya seseorang akan mendapatkan Kristal SEED miliknya sendiri, jika ia dianggap mampu untuk mengendalikan kekuatan SEED oleh Haumea."

"Haumea? Siapa dia?" banyak sekali pertanyaan yang aku lontarkan pada Lacus.

"Haumea adalah dewa kami," Lacus menatap ke arah langit. "Tidak ada yang tahu pasti, kapan dan Kristal SEED tipe apa yang akan diberikan oleh Haumea kepada seseorang," Lacus kembali menatapku. "Tapi banyak orang berkata jika hal itu tergantung pada kekuatan hati dan sifat orang tersebut."

Aku terdiam untuk sesaat, karena aku tidak begitu mengerti dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh Lacus. Baru aku ingin menanyakan hal lain pada wanita di sampingku ini, aku melihat dia tiba-tiba saja tersentak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah dia menyadari sesuatu yang membuatnya kaget. "Ada apa, Lacus?" tanyaku.

Lacus terdiam untuk sesaat, lalu dia memandangku dengan tatapan yang sedikit aneh menurutku. "Mereka di sini…"

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Oke... Sekian Chapter 03-nya.

Gimana, ada yg bingung? Silahkan review dan tanyakan saja. Cyaaz akan menjawabnya sebisa mungkin. Soalnya ada beberapa hal yang harus dijaga kerahasiaannya. :P


DK: LiA by DK

02052013