AN: Yay, Chap baru! :D
Special buat merayakan Ultah Kira & Cagalli tentunya...

Thank you buat semua Reader dan Double Thanks buat semua Reviewer...


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 04

Normal PoV

Athrun melangkahkan kedua kakinya, menuju ke tempat di mana ia menemukan Cagalli, bersama dengan gadis itu. Lebih tepatnya Cagalli mengikuti pemuda bermata emerald, yang berjalan sedikit lebih cepat darinya dengan susah payah. Luka yang ia dapatkan dari serangan stroge tadi, masih meninggalkan rasa sakit di kakinya. Walaupun saat ini luka-luka tersebut telah mendapatkan perawatan medis dari Athrun.

Athrun sempat mencuri pandang ke arah gadis berambut pirang di belakangnya. Dari ujung mata emerald-nya, Athrun mendapati gadis itu berjalan dengan sedikit pincang dan wajahnya masih tertunduk lesu. Kemudian Athrun kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Entah kenapa, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepala pemuda berambut navy blue itu.

"Cepatlah sedikit!" suara Athrun, membuat Cagalli mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke arah punggung Athrun. "Dasar wanita lamban!"

Ucapan Athrun barusan, tentu saja berhasil membuat Cagalli kesal. Apakah ia lupa, jika kaki gadis berambut pirang itu terluka? Apakah pemuda itu tidak mengerti, jika gadis yang berjalan di belakangnya, memiliki banyak hal yang membebani pikirannya? Memikirkan bagaimana ia bisa berada di tempat asing seperti saat ini. Memikirkan bagaimana keadaan adik semata wayangnya, yang ia tinggalkan di dunia asalnya, dan juga memikirkan bagaimana cara untuk bisa kembali ke dunianya sendiri.

"Heh! Laki-laki mesum!" seru Cagalli. "Kau tidak lihat? Kakiku sedang terluka!" ia meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Dasar! Kau tidak membantuku, kau malah seenaknya saja mengataiku begitu."

Athrun tiba-tiba saja berhenti melangkah, membuat Cagalli tersentak dan ikut berhenti melangkah. Sesaat kemudian, pemuda berambut navy blue itu berbalik dan menatap Cagalli tajam.

Athrun melangkah maju, untuk menghampiri Cagalli. Masih dengan tatapan tajam yang berhasil membuat Cagalli sedikit panik. Gadis itu hanya melangkah mundur, hingga langkahnya terhenti ketika punggungnya menyentuh batang pohon di belakangnya.

Setelah Athrun berhasil menyudutkan gadis di hadapannya, ia tiba-tiba saja meletakkan tangan kanannya di batang pohon dan tersenyum. Senyuman seorang pria yang terkesan licik, di mata Cagalli. Membuat bulu kuduk gadis itu, sempat berdiri untuk sesaat.

"Ma-mau apa kau?" tanya Cagalli gugup. Entah kenapa, di kepala gadis itu tiba-tiba saja terlintas beberapa kemungkinan buruk yang mungkin terjadi padanya. Mengingat bahwa pemuda yang ada di hadapannya saat ini, adalah seseorang yang ia beri predikat sebagai seorang laki-laki mesum.

"Sejak tadi kau terus memanggilku dengan sebutan 'laki-laki mesum'," Athrun mendekatkan wajahnya ke wajah gadis di hadapannya. "Apa kau ingin tahu, apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki mesum ini padamu?"

Mata amber Cagalli langsung melebar dan wajahnya memerah karena malu, sekaligus juga marah. "Apa kau bilang?!" Cagalli menatap Athrun dengan death-glare-nya. "Kau ingin merasakan tinjuku lagi hah?!"

Cagalli mengangkat tinju kanannya, namun Athrun langsung menggenggam pergelangan tangan gadis berambut pirang itu dengan sangat erat. Menyadari hal tersebut, Cagalli segera mengangkat tinjunya yang satu lagi, namun lagi-lagi Athrun berhasil menangkap pergelangan tangannya.

Cagalli sempat berusaha keras melakukan perlawanan agar kedua tangannya bisa terlepas dari genggaman Athrun, namun sia-sia. Kekuatan yang dimiliki oleh Athrun, rupanya jauh melebihi kekuatan yang dimiliki oleh Cagalli. Membuat gadis bermata amber itu terlihat tidak berdaya.

"Salahkan saja dirimu sendiri, karena sudah memancingku," Athrun tiba-tiba berkata demikian, ia masih mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya.

Jantung Cagalli berdetak kencang karena ketakutan. Bagaimana ini? Apakah pemuda itu akan benar-benar melakukan hal buruk padanya? Apa yang bisa ia lakukan untuk bisa lari dari situasi ini?

Merasa tidak ada yang bisa ia lakukan, Cagalli menutup kedua matanya. Terlihat setitik air mata di ujung mata gadis itu. Beberapa saat kemudian, Cagalli tidak merasakan apa pun. Ia justru mendengar suara tawa penuh kepuasan dari pemuda, yang masih menggenggam erat kedua pergelangan tangannya.

Cagalli membuka kedua mata amber-nya, dilihatnya Athrun masih tertawa keras. Sesaat kemudian Athrun melepaskan kedua tangannya dan berbalik membelakangi Cagalli. Membuat gadis berambut pirang itu merasa heran dan bingung.

"Dasar wanita bodoh!" Athrun berkata tanpa menoleh pada Cagalli. "Kau berpikir bahwa aku benar-benar akan melakukan hal serendah itu?" Athrun mulai melangkahkan kakinya. "Asal kau tahu saja, aku ini bukan seorang laki-laki mesum seperti yang kau katakan!"

Cagalli hanya terdiam membeku di tempatnya, jantungnya masih berdetak kencang karena kelakuan Athrun tadi. Sesaat kemudian, akhirnya gadis itu tersadar dan menatap Athrun tajam. "Brengsek! Kau laki-laki menyebalkan!" serunya. Terlihat wajah Cagalli kini telah memerah cukup parah.

"Namaku Athrun Zala," suara Athrun, membuat Cagalli tersentak, lalu menatap lawan bicaranya yang berdiri beberapa meter di depannya. "Bukan 'laki-laki mesum', ataupun 'laki-laki menyebalkan'."

Cagalli mendengus, lalu ia melangkahkan kakinya untuk menyusul Athrun. "Kalau begitu, kau juga harus berhenti memanggilku 'wanita bodoh'! Karena aku juga punya namaku sendiri," mata amber Cagalli bertatapan langsung dengan mata emerald Athrun, setelah ia berhasil menyusulnya. "Namaku Cagalli Yula Athha."

Athrun tersenyum tipis, ketika mendengar jawaban dari gadis yang berada di sampingnya. Sepertinya idenya tadi cukup berhasil untuk membuat gadis itu melupakan apa pun yang membuatnya berwajah murung, sekaligus juga membawa kembali semangat berapi-api yang ia miliki.

"Ayo jalan!" Athrun kembali menatap ke dalam hutan. "Kita hampir tiba," kemudian ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Cagalli yang masih terdiam.

Setelah beberapa saat hanya memandangi punggung Athrun, yang telah melangkah pergi. Akhirnya Cagalli mengikuti pemuda itu dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya ia katakana sejak tadi.

"Terima kasih," Athrun tersentak, lalu menoleh kepada Cagalli. "Karena sudah menolongku dan merawat lukaku," gumam Cagalli, sambil sedikit menundukkan wajahnya.

Lagi-lagi, senyum tipis penuh kepuasan langsung terukir di wajah tampan Athrun. "Ya," jawabnya singkat, lalu ia kembali menoleh ke depan. "Apa kau ingat, Kristal SEED... Maksudku benda yang kita cari saat ini?" Cagalli mengangkat wajahnya dan menatap punggung Athrun. "Apa warna benda itu?"

Cagalli berkedip, lalu menjawab, "Um, kurasa oranye."

"Rupanya tipe Earth," gumam Athrun. "Dari mana kau mendapatkan benda itu?"

"Cahaya putih yang bicara padaku… Cahaya itu yang memberikan benda itu," jawab Cagalli.

Athrun menyangga dagunya dengan tangan kiri, sambil terus melangkah. Apakah itu artinya, gadis berambut pirang itu juga merupakan seseorang yang terpilih untuk mengendalikan kekuatan Kristal SEED? Apakah cahaya putih yang dikatakan oleh gadis itu, adalah sosok sang Haumea?

"Di sekitar sini!" seruan Cagalli, membuat Athrun tersentak dan menoleh kepada gadis itu. Saat ini Cagalli tengah berdiri di dekat sebuah pohon besar sambil menatap Athrun. "Kurasa aku menjatuhkannya di sekitar sini."

Athrun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, rupanya saat ini mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju. "Baiklah, ayo kita mulai mencari," jawabnya.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Beberapa puluh menit telah berlalu, namun Cagalli dan Athrun belum juga berhasil menemukan Kristal SEED, yang mereka cari. Saat ini Cagalli tengah sibuk mencarinya di dalam semak belukar, sementara Athrun mencari di antara akar pohon.

"Kau yakin, ini tempat yang benar?" tanya Athrun tiba-tiba. Ia mulai merasa tidak sabar karena telah cukup lama mereka mencarinya, namun belum juga menemukan apa pun.

"Iya, aku yakin…" jawab Cagalli tanpa meninggalkan aktivitasnya. "Pasti ada di sekitar sini."

Athrun memutar bola matanya, lalu ia kembali meneruskan kesibukannya untuk mencari Kristal SEED di antara rerumputan. Beberapa saat kemudian Athrun tiba-tiba saja merasakan firasat buruk, lalu ia mendengar…

"Wah, wah… Lihat siapa yang kita temukan di sini, Nicol," terdengar suara seorang pria dari arah belakang.

Ketika Athrun dan Cagalli menoleh ke arah sumber suara, mereka mendapati dua orang pemuda tengah berdiri di atas salah satu dahan pohon besar, yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Seorang pemuda berambut hijau dan seorang lagi memiliki rambut berwarna oranye kemerahan.

"Jadi SEED yang kau rasakan tadi itu adalah dia, Nicol?" tanya si pemuda berambut oranye kemerahan.

Nicol menggelengkan kepalanya. "Aku mengenali SEED miliknya, Rusty," Nicol mengalihkan pandangannya ke Athrun. "Aku yakin jika aura yang aku rasakan tadi bukan hanya berasal dari SEED miliknya."

Mata emerald Athrun melebar, ketika ia mengetahui sosok kedua pemuda tersebut. "Kalian berdua…" gumamnya.

"Lama tidak bertemu, Athrun Zala!" seru si pemuda berambut oranye kemerahan, yang bernama Rusty. "Senang sekali rasanya, bisa bertemu denganmu di tempat ini."

Athrun menyipitkan matanya, lalu ia segera melangkah untuk menghampiri Cagalli. Gadis bermata amber itu hanya terdiam sambil menatap punggung Athrun, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Athrun serius.

"Apa yang kami lakukan di sini?" Rusty melipat kedua tangannya di depan dada. "Seharusnya kamilah yang bertanya seperti itu padamu," Rusty menyeringai. "Apa kau tidak tahu? Hutan Aprilius adalah daerah kekuasaan kami."

Athrun mengerutkan dahinya sambil mengeratkan giginya. "Aku datang ke sini untuk menghentikan kalian, yang terus membuat kekacauan di PLANT."

Seketika itu juga suara tawa keras Rusty, terdengar jelas oleh kedua telinga Athrun. Membuat pemuda berambut navy blue itu menggapai belati di pinggangnya dengan tangan kanan. Ia berusaha menggapai liontin Kristal SEED berwarna dodger blue miliknya, yang melilit di gagang belati tersebut.

Rusty berhenti tertawa dan menatap Athrun tajam, kemudian sosok pemuda berambut oranye kemerahan itu tiba-tiba saja menghilang. Dalam sekejap, sosok Rusty telah berpindah tempat. Pemuda itu kini berada tepat di hadapan Athrun. Membuat Athrun tersentak, dan Cagalli bahkan melangkah mundur karena terkejut.

Rasty mengepalkan tangannya, lalu kedua kepalan tangan pemuda itu tiba-tiba saja diselimuti oleh cahaya berwarna dark orange. Sesaat kemudian, kedua tangan Rusty telah mengenakan sarung tangan besi berwarna hitam, yang masing-masing dilengkapi dengan tiga buah cakar putih sepanjang 20 centi meter.

Rusty langsung mengarahkan cakar tangan kanannya untuk menyerang Athrun. Serangan cakar besi tajam, yang tepat diarahkan ke wajah pemuda bermata emerald itu. Untunglah Athrun telah menduga datangnya serangan tersebut. Dengan sigap, Athrun telah menggenggam Kristal SEED-nya.

Dalam sekejap, tangan Athrun telah menggenggam Broadsword miliknya. Ia langsung mengangkat pedang itu untuk menahan serangan dari Rusty, serangan yang nyaris berhasil melukai wajahnya.

"Tang…!"

Saat ini Athrun tengah dalam posisi menahan serangan dari Rusty, ia menggenggam erat Broadsword miliknya dengan kedua tangan. Sementara di sisi lain, Rusty tengah berusaha menumbangkan pertahanan lawannya. Pemuda berambut oranye kemerahan itu terus meningkatkan kekuatannya untuk mendorong Athrun.

"Kau yakin bisa menghentikan kami, hanya dengan kekuatanmu yang menyedihkan ini, Athrun Zala?" tanya Rusty, di tengah-tengah adu kekuatannya dengan Athrun.

Athrun menyipitkan matanya. "Jangan pernah meremehkan kekuatanku!" Athrun mendorong lawannya dengan lebih kuat, sehingga Rusty sedikit terdorong ke belakang. Terlihat aura tipis berwarna biru, muncul dan menyelimuti Broadsword milik Athrun.

"Tang…!"

Saat ini Rusty menahan serangan Athrun dengan kedua tangannya.

"Kekuatanmu memang lemah, Zala!" Rusty menambah kekuatannya, sehingga kali ini Athrun yang terdorong mundur.

Sementara rekannya tengah sibuk beradu kekuatan dengan lawannya, seorang pemuda berambut hijau hanya terdiam di atas dahan pohon. Matanya terlihat tengah mengamati ketiga orang, yang berada di bawah tempatnya berdiri.

Nicol menyipitkan matanya, ketika ia menyadari sosok seorang gadis berambut pirang yang berada di belakang Athrun. "Siapa gadis itu?" gumamnya.

Saat itu, Cagalli hanya bisa terdiam di balik punggung Athrun. Ia hanya bisa memperhatikan pertarungan yang tersaji di hadapannya, tanpa bisa melakukan apa pun. Walaupun sebenarnya ia ingin membantu Athrun saat ini, ia tidak tahu bagaimana caranya. Apakah ada hal yang bisa ia lakukan? Apakah jika ia menemukan benda yang mereka cari, ia bisa membantu Athrun?

Tiba-tiba saja, Cagalli tersentak. Benar juga, benda kecil berwarna oranye itu. Mungkin benda itu bisa berguna. Jika benda itu bukanlah benda yang penting, Athrun pasti tidak akan bersikeras menyuruhnya untuk mencari benda itu 'kan?

Cagalli menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari Kristal SEED, yang ia jatuhkan. Saat itulah, Athrun juga melirik ke arah gadis itu, ia baru teringat jika saat ini ia tidak sendirian di sana.

"Cepat lari!" perintah Athrun.

Cagalli tersentak, lalu menatap Athrun bingung. "Apa?"

"Cepat lari kataku!" bentak Athrun, tanpa menoleh pada Cagalli. Ia masih sibuk beradu kekuatan dengan Rusty.

"Hoo? Siapa gadis itu?" tiba-tiba Rusty angkat suara. "Apa dia kekasih barumu?"

Athrun mengerutkan dahinya. "Itu bukan urusanmu!"

Rusty menyeringai, lalu ia meningkatkan kekuatannya secara mendadak untuk mendorong Athrun. Sehingga tubuh pemuda berambut navy blue itu terhempas, bahkan Cagalli juga ikut terhempas ke arah lain.

"Hahaha, dasar lemah!" seru Rusty.

Athrun kembali berdiri sambil menggenggam erat Broadsword-nya. Dilihatnya Cagalli saat ini masih berusaha bangkit dari posisinya, yang terjatuh akibat serangan Rusty. Athrun mengeratkan giginya, lalu ia berlari untuk menyerang Rusty.

"Cepat lari, dasar wanita bodoh!" teriak Athrun. Saat ini ia kembali beradu kekuatan dengan Rusty. "Pergilah ke tempat Lacus dan temanmu berada!"

Cagalli hanya menatap ke arah sosok Athrun untuk sesaat. Lalu ia mengeratkan giginya dan berdiri tegap. Ia akhirnya memutuskan untuk menuruti perintah Athrun, walaupun dengan berat hati. Dengan langkah gemetaran, Cagalli akhirnya mulai beranjak pergi.

Ketika Cagalli baru beranjak beberapa langkah, ia merasakan sesuatu menggores pipinya. Darah langsung menetes dari pipi kiri Cagalli, membuat gadis berambut pirang itu tersentak kaget dan berhenti berlari.

"Kau ingin lari ke mana, gadis pirang?" tanya Rusty yang masih berada di hadapan Athrun, namun ia telah mengarahkan cakar tangan kirinya ke arah Cagalli.

"Jangan libatkan dia!" Athrun meningkatkan kekuatannya untuk mendorong Rusty. "Wanita itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini."

"Huh, memangnya aku peduli?" Rusty menyeringai, lalu ia mengayunkan cakar tangan kirinya, menghasilkan beberapa bilah pisau angin, yang langsung melesat tepat ke arah Cagalli.

Cagalli hanya terdiam di posisinya, samar-samar matanya bisa menangkap bentuk dari beberapa buah pisau angin yang kini melesat ke arahnya. Sesaat sebelum pisau-pisau itu berhasil melukainya, Cagalli menutup kedua mata amber-nya serapat mungkin. Ia terlalu panik, sehingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk menghindari serangan pisau-pisau angin itu.

Beberapa detik berlalu, Cagalli tidak merasakan apa pun. Ketika ia membuka mata amber-nya, ia mendapati sosok Athrun, telah berdiri di hadapannya. Pemuda itu saat ini berdiri membelakangi Cagalli sambil membentangkan kedua tangannya ke samping.

Sesaat kemudian, darah menetes dari beberapa bagian tubuh Athrun. Pisau-pisau angin yang seharusnya ditujukan kepada Cagalli, rupanya telah tertahan oleh tubuh Athrun. Menciptakan beberapa luka sayatan yang cukup dalam, di sekujur tubuh pemuda berambut navy blue itu.

"KEPARAT KAU, ZALA!" terdengar suara Rusty dari kejauhan. Rupanya, saat ini ia masih berada di tempatnya. Hanya saja, Broadsword milik Athrun telah bersarang di perut pemuda berambut oranye kemerahan itu.

Rusty segera mencabut dan kemudian membuang Broadsword di perutnya ke tanah, membuat darah pemuda itu sempat bercucuran. Pemuda berambut oranye kemerahan itu terus merintih kesakitan sambil memegangi bagian perutnya yang terluka.

"Kau benar-benar akan mati di tanganku, Zala!" teriak Rusty. Saat ini pemuda itu tengah mengambil ancang-ancang, lalu ia segera berlari menghampiri Athrun untuk menyerangnya.

Mata amber Cagalli semakin melebar, ketika ia mendapati Athrun jatuh berlutut di depannya. Pemuda itu memegangi perut dan dadanya yang tersayat tadi, sambil mengerang kesakitan.

"Apa yang kau lakukan?!" tiba-tiba Cagalli mendengar suara Athrun. "Aku menyuruhmu untuk lari!" Athrun sedikit menolehkan wajahnya untuk menatap Cagalli. "Cepat lari!"

Cagalli hanya membisu, ia benar-benar shock mendapati kondisi Athrun saat ini. Tubuh Athrun benar-benar berlumuran darah, nafas pemuda itu juga terengah-engah.

'Kenapa?'

'Karena aku?'

Cagalli mengeratkan giginya. Karena dirinya, Athrun menjadi terluka parah seperti ini. Karena ingin melindungi Cagalli, pemuda bermata emerald itu harus mengalami semua ini. Apakah benar-benar tidak ada hal yang bisa ia lakukan untuk menolong Athrun?

'Kau menginginkan kekuatan?'

Cagalli tersentak, ketika ia tiba-tiba saja mendengar suara asing di telinganya.

'Jika kau menginginkan kekuatan, maka aku akan meminjamkan kekuatanku padamu.'

Seketika itu juga, pikiran Cagalli menjadi kosong. Warna mata amber gadis itu mendadak juga berubah, menjadi lebih gelap dan pucat. Warna mata yang sama seperti yang dilihat oleh Kira, ketika Cagalli memasuki cahaya aneh di hutan kota ORB.

"MATILAH KAU!" teriak Rusty, yang kini telah berada di hadapan Athrun dan bersiap menyerang pemuda bermata emerald, yang hanya terdiam menatap cakar besi di hadapannya.

"Tang…"

Lagi-lagi, terdengar suara logam yang saling berbenturan dengan keras.

Mata emerald Athrun melebar. Dilihatnya sosok Cagalli telah berdiri di hadapannya. Gadis itu tengah membelakangi Athrun, sambil menahan serangan dari Rusty dengan menyilangkan dua buah benda yang ia genggam. Kedua benda tersebut terlihat seperti tongkat, cahaya keemasan bersinar terang menyelimuti sepasang tongkat tersebut.

"A-apa yang?" Rusty sangat terkejut. Ia menatap gadis berambut pirang, yang berdiri tegap di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Siapa kau sebenarnya? Gadis keparat!"

Cagalli tidak menjawab, ia hanya meningkatkan kekuatannya untuk mendorong Rusty lebih kuat lagi. Membuat pemuda berambut oranye kemerahan itu terhempas beberapa meter ke belakang.

"Sial! Awas kau!" Rusty baru akan kembali menyerang Cagalli, namun terhenti karena Nicol tiba-tiba saja berdiri di hadapannya, sambil membentangkan tangan kirinya untuk menghentikan pergerakan Rusty. "Apa yang kau lakukan, Nicol?! Cepat menyingkir!"

Nicol menatap ke arah Rusty dengan tatapan tajam untuk sesaat, membuat Rusty sedikit bergidik ngeri. Akhirnya pemuda berambut oranye kemerahan itu, mengurungkan niatnya untuk menyerang. Setelah itu, Nicol mengalihkan pandangannya kepada Cagalli dan Athrun.

"Kalian beruntung," Nicol menjatuhkan sebuah benda kecil berwarna hitam ke tanah, kemudian cahaya berwarna slate grey muncul di sekitar kakinya. Sebuah hoverboard berwarna hitam yang ukurannya beberapa kali lipat lebih besar dari ukuran normal, muncul di bawah kaki Nicol, bersamaan dengan lenyapnya cahaya tadi. "Hari ini kami hanya datang untuk memeriksa keadaan."

Rusty kemudian naik ke atas hoverboard hitam itu bersama dengan Nicol, lalu mereka mulai melayang perlahan. "Lain kali, aku tidak akan membiarkan kalian hidup," gumam Rusty.

Sesaat kemudian, hoverboard hitam itu melesat terbang ke arah utara. Membawa Nicol dan Rusty pergi, meninggalkan Athrun bersama dengan Cagalli di tempat itu.

"Kau…" Athrun akhirnya angkat suara, setelah ia hanya terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Semua yang terjadi hari ini terasa aneh dan mengejutkan baginya. "Kau bisa menggunakan SEED?"

Cagalli tidak menjawab, gadis itu hanya terdiam. Hingga sesaat kemudian, sepasang tongkat yang ada di tangan gadis itu menghilang bersama dengan cahaya keemasan yang menyelimutinya. Kemudian tubuh Cagalli terjatuh begitu saja.

Secara refleks, Athrun menangkap tubuh Cagalli di pelukannya. Gadis itu jatuh pingsan. Athrun memperhatikan sosok gadis berambut pirang yang kini terbaring di pelukannya, dilihatnya sebuah liontin emas telah melingkar di leher gadis itu.

Mata emerald Athrun melebar, ketika ia menyadari bentuk dari liontin yang samar-samar masih memancarkan cahaya keemasan tersebut. "Tidak mungkin, dia…"

Roar…!

Athrun tersentak, ia menolehkan wajahnya ke arah timur. Tepat ke arah sumber suara auman keras yang baru saja ia dengar. Sorot mata emerald Athrun mendadak berubah, setelah sesuatu terlintas di benaknya.

"Lacus?!"

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Lacus berlari sekuat tenaga di dalam hutan, diikuti oleh Kira di belakangnya. Mereka telah meninggalkan gubuk di mana seharusnya mereka menunggu kedatangan Athrun dan Cagalli sejak beberapa menit yang lalu.

"Lacus?" panggil Kira dari belakang. "Sebenarnya ada apa?"

Tanpa menoleh, Lacus menjawab, "Aku merasakan SEED mereka di sekitar sini."

"Mereka? Maksudmu Athrun dan Cagalli?" tanya Kira bingung. Wajar saja jika yang dimaksud oleh Lacus adalah Athrun, namun jika Cagalli?

Kira mendapati Lacus menggelengkan kepalanya. "Bukan, maksudku adalah SEED, milik para prajurit ZAFT."

"Prajurit ZAFT? Siapa mereka?" tanya Kira.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya," Lacus melirik ke arah Kira. "Yang jelas, mereka adalah orang jahat."

Mata amethyst Kira melebar seketika. "Apa?!"

"Aku merasakan SEED mereka beberapa menit yang lalu," Lacus sedikit menundukkan wajahnya. "Dan juga SEED milik Athrun."

"Apa arti semua itu? Apa yang terjadi pada Athrun dan Cagalli?" tanya Kira. Pemuda berambut cokelat itu mulai panik karena memikirkan keadaan Cagalli, yang pergi bersama Athrun.

Lacus menundukkan wajahnya lagi. "Kemungkinan besar… Athrun sedang bertarung dengan mereka," Lacus sempat terdiam. "Tapi aku juga merasakan aura SEED lain yang sangat kuat, beberapa saat yang lalu."

Mata amethyst Kira lagi-lagi melebar. "Apa?! Yang ben-," belum sempat Kira menyelesaikan kalimatnya, ia terhenti ketika mendengar suara nyaring dari samping kirinya.

Roar…!

Lacus dan Kira sontak terkejut dan berhenti berlari. Ketika mereka menoleh ke arah sumber suara nyaring barusan, mereka mendapati sosok seekor monster tiba-tiba saja keluar dari balik pepohonan.

Monster itu sekilas terlihat seperti seekor beruang hitam, namun ia memiliki ukuran yang tiga kali lebih besar. Monster itu juga memiliki beberapa ciri fisik lain yang berbeda dari beruang biasa. Telinga monster itu berujung runcing seperti telinga kucing dan terdapat banyak duri tajam di punggungnya. Monster itu memiliki banyak sekali bekas luka di sekujur tubuhnya dan ia memiliki kedua mata tajam berwarna merah menyala.

Roar…!

Lagi-lagi monster itu mengaum. Memperlihatkan gigi taringnya, yang sanggup mengoyak daging manusia dengan sangat mudah.

"Mo-monster?!" Kira mengeratkan giginya, ia membeku seraya menatap lurus ke arah monster beruang besar di hadapannya.

"Kira! Ayo lari!" seru Lacus. Gadis itu segera menggenggam pergelangan tangan Kira, kemudian menarik pemuda bermata amethyst itu untuk berlari bersamanya.

Kira langsung tersadar dan mengikuti Lacus untuk berlari menjauhi monster beruang, yang kini mengangkat cakar-cakarnya ke udara. Sesaat kemudian, beruang itu mengejar tepat di belakang sosok Kira dan Lacus.

"Kita harus lari ke mana?" tanya Kira di sela-sela aktivitasnya, yaitu berlari sekencang-kencangnya.

"Aku juga tidak yakin," jawab Lacus. "Yang jelas, kita harus lari."

"Apa? Yang benar saja!" Kira sangat terkejut dengan jawaban dari Lacus. Hal tersebut membuat pemuda itu kehilangan konsentrasinya dalam berlari. Sehingga ia tersandung sebuah batu dan membuatnya terjatuh.

"Kira!" Lacus menoleh ke belakang. Dilihatnya Kira telah jatuh tersungkur di tanah.

"Sial…" Kira berusaha bangkit dari posisinya, namun terlambat. Sang monster hitam telah berdiri tepat di belakang Kira. Ia mengangkat cakarnya dan bersiap untuk menyerang pemuda berambut cokelat itu.

"Eternal!"

Tepat sesaat sebelum cakar tajam monster itu turun dan menyentuh sosok Kira, sebuah dinding penghalang tiba-tiba saja muncul. Sebuah dinding medan energi berbentuk kubah, yang berhasil menahan serangan dari sang beruang hitam.

Mata amethyst Kira melebar, ketika ia menyadari bahwa dirinya telah dilindungi oleh sesuatu. Ketika ia menoleh ke belakang, ia mendapati Lacus berdiri di sana. Gadis berambut merah jambu itu berdiri dengan tegap sambil menggenggam sebuah tongkat di tangannya. Sebuah tongkat berwarna putih, dengan corak abstrak berwarna merah jambu. Panjang tongkat itu mencapai 60 centi meter dan ujungnya berbentuk seperti dua helai bulu angsa yang terbentang ke arah yang berlawanan.

"La-Lacus?" Kira terbata-bata, memanggil nama Lacus. Ia ragu karena saat ini penampilan Lacus berbeda dengan yang sebelumnya.

Gadis yang tadinya mengenakan sebuah chemise berwarna putih dan korset berwarna sienna itu, kini berganti mengenakan sebuah gaun dengan vest ungu dan bodice lengan pendek berwarna lavender blush. Gadis berambut merah jambu itu juga mengenakan sepasang sarung tangan berwarna putih, yang menutupi telapak tangan hingga sikunya.

Lacus mengeratkan genggaman tangannya, ia menatap lurus ke arah monster beruang hitam yang terus membentur-benturkan cakarnya ke dinding medan energi, berusaha untuk menghancurkan kubah pelindung yang melindungi Kira dan gadis bermata sapphire itu.

'Kenapa dalvo ini harus muncul sekarang?'

Lacus menggigit bibir bawahnya, lalu ia melirik ke arah lain untuk sesaat.

'Athrun, apa kau baik-baik saja?'

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Kamus Kecil :

- Bodice: Salah satu model gaun di abad pertengahan. (Cyaaz nyari pengertian yg tepat untuk istilah ini d Google, tp g nemu. Gomenn).

- Chemise: Salah satu model pakaian wanita di abad pertengahan. Modelnya seperti gaun tipis dan sederhana dibandingkan dengan Bodice.

- Hoverboard: Sejenis papan luncur, tanpa roda.


Uh, Chap ini jelek ya?

Gomenn, kayaknya Cyaaz emang g bakat bikin Fic fantasy, tp masih aja maksain... T_T

Sampai jumpa lg ya, Minna... ^^v


DK: LiA by DK

18052013