AN: Hi semuanya... Cyaaz dateng dengan Chapter baru DK LiA. :D Maaf karena sudah membuat kalian lama menunggu. Cyaaz akhir2 ini sibuk dengan Skripsi dan bla3x. Hehe.
Thanks buat semuanya yang udah ngikutin Fic ini, terutama yang udah nyempetin diri buat kasih Review... Review dan dukungan kalian sangatlah berarti buat Cyaaz... :)
Kitty: Hwaaaah... Mirip Athena? Wkwkwk. Kapan2 aku kasih liat gambar fan-art yg jd inspirasi Cyaaz buat pakaian2 di Fic ini lwt FB. :P Ahaha, yah... Rasanya sudah sangat umum kalo seorang tokoh utama akan hilang kesadaran setelah mmakai kekuatannya untuk yg pertama kalinya... ^^v
Panda: Ahahaha. Yah, scene itu g tau dulu Cyaaz dapet dari mana. Tp g mungkinlah Cyaaz bikin Athrun langsung melakukan hal2 yang aneh sma Cagalli. -_-' Haha, Cyaaz bikin Nicol jd OOC di sini. Gomenn. Tp Cyaaz g tau lg mau make siapa... -_- Typo-nya dimana...? T_T
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), Confusing, OOC, Typo(s), Etc…
Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight: Lost in Aprilius
Chapter 05
Normal PoV
Kira terpaku menatap ke arah sosok Lacus, yang masih berdiri sambil memegang sebuah tongkat putih di tangannya. Gadis itu kini telah mengenakan pakaian yang berbeda dari yang ia kenakan sebelumnya. Membuat Kira terkejut, dan menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi dengan tanda tanya.
"La-Lacus?" panggil Kira.
Lacus menyipitkan mata sapphire-nya, lalu ia menoleh kepada Kira. "Kira, kau tidak apa-apa?"
Kira hanya terdiam untuk beberapa saat, lalu ia mengangguk dan berkata, "Apa yang-."
Roar…!
Kira dan Lacus sontak mengalihkan pandangan mereka kepada sang dalvo, yang baru saja mengaum. Dalvo itu mengangkat dan mengayunkan kedua cakarnya terus menerus, untuk bisa menghancurkan dan menembus dinding medan energi yang saat ini melindungi Kira dan Lacus.
"Mahluk apa ini?" tanya Kira. Ia tercengang melihat sosok besar sang dalvo di hadapannya, yang masih terus mengamuk.
"Itu adalah dalvo," jawab Lacus. "Mereka adalah salah satu mahluk buas, yang tinggal di hutan Aprilius in-," serangan sang dalvo tiba-tiba saja menjadi semakin kuat, membuat Lacus sempat tersentak. "Ah…" Lacus menggigit bibir bawahnya.
"Lacus? Kau baik-baik saja?" tanya Kira khawatir.
"Dalvo ini sangat kuat…" ujar Lacus. "Aku rasa, aku harus-," Lacus tersentak kaget. "Kira? Apa yang kau lakukan?!"
Saat ini, Kira telah berlari keluar dari kubah medan energi yang diciptakan oleh Lacus. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk menjauhi tempat Lacus. Kaki pemuda berambut cokelat itu secara spontan berlari begitu saja, ketika mata amethyst-nya mendapati sosok Lacus, yang mulai kesulitan dalam menahan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh mahluk yang disebut dalvo.
"Hey kau, mahluk besar!" Kira berteriak, setelah ia berada di jarak yang cukup aman. Mambuat sang dalvo sontak menoleh kepadanya. "Kemarilah!" Kira memancing sang dalvo untuk mengejarnya, dengan cara mengayunkan jari-jarinya ke atas.
"Kira! Apa yang kau lakukan?!" teriak Lacus. "Kau dalam bahaya!"
Sang dalvo mengaum, lalu ia berpaling dari Lacus untuk mengejar Kira. Membuat pemuda bermata amethyst itu langsung berbalik dan mulai berlari.
"Lari, Lacus!" teriak Kira, tanpa menoleh kepada Lacus. "Tolong temukan Cagalli!" Kira berlari sekencang-kencangnya ke dalam hutan, diikuti oleh sang dalvo di belakangnya.
"Kira!" panggil Lacus. Terlihat sorot mata Lacus, memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Bagaimana bisa seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan SEED, akan bertahan dari serangan seekor dalvo?
"Aku harus menolongnya," gumam Lacus. Lalu gadis itu, menyusul langkah Kira ke dalam hutan.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Kira's PoV
'Sial!'
"Hhh… Hhh… Hhh…"
Roar…!
Aku mengeratkan gigiku, lalu menoleh sejenak ke belakang. Sekedar untuk menatap sosok mahluk besar yang disebut dalvo berlari mengejarku.
'Aku pasti sudah gila!'
Aku kembali menatap lurus ke depan dan terus berusaha mempertahankan kecepatan lariku. Sepertinya kemampuanku sebagai seorang pelari di SMA benar-benar berguna di saat-saat seperti sekarang ini.
Tapi sampai kapan aku harus terus berlari? Rasanya sulit sekali untuk bisa melepaskan diri dari monster sebesar dan secepat itu. Apa sebaiknya aku mencari tempat sembunyi?
'Benar, tempat sembunyi.'
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, berusaha mencari tempat yang bisa aku jadikan sebagai tempat untuk bersembunyi dari monster di belakangku. Kemudian aku menemukan sebuah pohon yang cukup besar, berjarak beberapa meter dari tempatku.
Spontan aku mempercepat lariku, menjauhi monster di belakangku dan bersembunyi di balik pohon itu. Saat aku merasakan kedatangan monster yang mirip dengan beruang raksasa itu, aku segera menyembunyikan diriku di balik batang pohon. Kebetulan aku menemukan sebuah lubang, yang cukup besar untuk dimasuki orang dewasa di batang pohon itu. Membuatku sontak masuk dan bersembunyi di dalamnya.
Aku mendengarkan suara langkah monster yang makin mendekat dengan seksama, berharap monster itu tidak menyadari keberadaanku di sini. Dengan nafas yang masih terengah-engah dan keringat yang bercucuran di wajahku, aku terus menunggu dan mendengarkan suara-suara di sekitarku.
Monster itu datang, dia makin mendekat. Beberapa saat kemudian, aku melihat kaki depan monster itu, dari celah lubang pohon. Jantungku berdetak makin kencang tidak karuan. Apa aku akan selamat, atau aku akan mati di sini dan menjadi santapan monster itu?
Beberapa saat berlalu, aku melihat keempat kaki monster itu sudah melangkah melewati pohon di mana aku bersembunyi. Perlahan-lahan detak jantungku mulai kembali normal, sampai akhirnya aku menarik dan menghembuskan nafas lega.
"Kretak!"
Tiba-tiba saja aku merasakan pohon tempatku bersembunyi, berguncang hebat. Sesaat kemudian, aku mendengar suara auman keras dari luar.
'Sial! Dia menyadari keberadaanku.'
Sesaat kemudian, aku tersentak kaget karena melihat cakar sang monster, berusaha menyerang ke dalam lubang. Untungnya lubang pohon ini tidak cukup besar untuk cakar monster itu, jadi dia tidak bisa menggapaiku untuk sementara. Sebelum dia menghancurkan pohon ini dengan kekuatannya.
Lagi-lagi aku mengeratkan gigiku, memikirkan segala kemungkinan yang ada. Aku tidak boleh mati di sini. Kalau aku mati di sini, tidak ada orang yang akan menjaga Cagalli. Setidaknya aku harus memastikan Cagalli pulang ke dunia kami dengan selamat.
Beberapa saat kemudian, aku tersentak karena merasakan ada sesuatu yang aneh di belakangku. Saat aku menoleh, aku melihat sebuah cahaya kecil berwarna oranye tiba-tiba saja muncul dari balik akar pohon.
Entah kenapa, mataku seolah terhipnotis oleh kilauan cahaya itu, membuatku mengulurkan tanganku dan menggenggam cahaya itu.
"Ini…" aku membuka telapak tanganku untuk melihat cahaya berwarna oranye itu. Mataku melebar, saat aku menyadari benda apa yang sekarang ada di tanganku "Ini Kristal SEED."
"Kriek…"
Aku kembali tersentak kaget. Batang pohon tempatku bersembunyi, sekarang sudah patah. Bagian atas pohon ini sudah diangkat dan dibuang oleh sang monster. Aku hanya terdiam, menatap lurus ke arah sang monster yang mengaum di hadapanku.
Aku melihat monster itu mengangkat cakarnya, kemudian menurunkannya ke arahku. Aku mengeratkan genggaman tanganku dan juga gigiku. Apa yang bisa aku lakukan dengan Kristal SEED ini? Bagaimana cara menggunakannya?
"Kira!" lagi-lagi aku mendengar suara itu memanggilku, suara Lacus.
Dan saat itulah, aku menyadari bahwa serangan dari monster di hadapanku sudah dihentikan oleh sesuatu yang mengelilingiku. Mungkin ini adalah sebuah perisai? Perisai yang dibuat oleh Lacus, dengan kekuatan SEED-nya?
"Kira! Gunakan kekuatan SEED milikmu!" teriak Lacus yang sekarang berdiri agak jauh di belakangku.
"Apa?" aku menoleh pada Lacus. Lalu beralih menatap Kristal SEED, yang masih ada di tanganku. "Bagaimana caranya?"
Lacus sepertinya sedang mati-matian mempertahankan posisi berdirinya. Mungkin dia sudah kehabisan tenaga? Atau serangan monster ini memang benar-benar kuat?
"Berkonsentrasilah untuk… Mengetahui…" Lacus mengeratkan giginya. "Tipe SEED milikmu…"
"Eh?" aku hanya menaikkan alisku.
Cracks…
Saat aku kembali menatap ke arah monster yang menyerangku, aku menyadari kalau perisai yang sejak tadi melindungiku sudah mulai retak. Makin lama, retakan itu makin meluas, seiring dengan datangnya serangan bertubi-tubi dari sang monster.
Sampai pada akhirnya, perisai berwarna putih itu pecah. Membuat sang monster kembali mengaum, seolah dia sedang bersorak puas atas keberhasilannya. Sesaat kemudian, monster itu kembali menatapku dengan mata merahnya, lalu monster itu mengayunkan cakarnya ke arahku.
"KIRA!" aku mendengar Lacus meneriakkan namaku. Sepertinya kali ini, aku benar-benar tamat.
Slash!
Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya, melintas di depanku. Sesaat kemudian aku melihat cakar monster, yang diarahkan padaku terjatuh ke tanah. Mataku melebar, saat aku melihat cakar itu perlahan-lahan berubah wujud.
"Apa ini?" gumamku. "Cakarnya… Membeku?"
Roar…!
Aku mengangkat wajahku. Kulihat monster di hadapanku sepertinya sedang mengaum kesakitan, sambil melangkah mundur. Darah menyembur keluar dari bagian lengannya, yang terpotong tadi.
"Cih…" aku mendengar suara seseorang, membuatku menoleh ke arahnya. "Sepertinya aku tepat waktu."
Mataku melebar, aku melihat sosok pria berambut biru berdiri tidak begitu jauh dari tempatku. Pria itu menggenggam sebuah pedang besar di tangan kanannya dan menggendong seseorang di pundaknya, seseorang yang sepertinya sedang tertidur.
'Cagalli?'
"Athrun!" aku mendengar Lacus memanggil nama pria itu.
Pria bernama Athrun itu menoleh pada Lacus. "Sudah kukatakan, tunggulah di gubug!" Athrun menoleh padaku. "Kenapa kalian justru ada di sini?"
Aku tersentak dan menjawab, "Eh? Yah, aku, kami…" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, aku mendengar monster di hadapanku kembali mengaum.
"Ck, dalvo menyusahkan!" aku mendengar Athrun berkata begitu.
Sesaat kemudian, aku melihat Athrun melangkah menghampiriku. Setelah dia berdiri tepat di depanku dengan posisi membelakangiku, barulah aku menyadari keadaan fisiknya. Baju Athrun sekarang sudah compang-camping tidak karuan. Selain itu, aku juga melihat noda darah di beberapa bagian badannya. Apa dia baru saja menghadapi sebuah pertarungan? Lalu, apa yang terjadi pada Cagalli? Kenapa dia bisa sampai tidak sadarkan diri?
Athrun mengangkat pedangnya, lalu mengayunkan pedang itu ke arah sang monster di depan kami. Lagi-lagi aku melihat sebuah cahaya berwarna biru dengan kilauan putih, mengarah pada sang monster.
Cahaya itu berhasil mengenai pundak kiri sang monster, menyayat sampai bagian perut dan kaki monster itu. Membuat monster itu terjatuh di tanah sambil mengaum keras-keras.
Aku terus memperhatikan sang monster yang ada di depanku. Seperti sebelumnya, bagian di sekitar badan sang monster yang tertebas tadi berubah menjadi es. Lama-kelamaan es itu menjalar sampai membekukan sebagian besar badan monster itu.
'Inikah kekuatan SEED itu?'
"Hey!" aku tersentak saat mendengar suara Athrun. "Sampai kapan, kau hanya berdiam diri di situ?" Athrun menyipitkan matanya. "Ayo berdiri! Kita kembali ke gubug."
Aku berkedip, lalu bangkit dari posisiku yang sejak tadi berlutut di tanah. Mataku sekarang terfokus pada sosok Cagalli, yang masih memejamkan matanya.
"Athrun? Kau baik-baik saja?" Lacus tiba-tiba saja datang dan melewatiku dari belakang, lalu dia menghampiri Athrun.
Athrun mengangguk, lalu balik bertanya, "Kau sendiri? Apa kau terluka?" Lacus menggelengkan kepalanya. "Kenapa kalian ada di sini?"
"Aku merasakan aura SEED milik prajurit ZAFT, karena itu aku bermaksud untuk menyusulmu," Lacus menundukkan wajahnya sejenak, lalu dia kembali menatap Athrun. "Kau yakin, tidak apa-apa? Luka-luka di tubuhmu itu…"
Athrun mengangguk. "Ya," jawab Athrun. "Nicol dan Rusty tiba-tiba saja muncul di hadapan kami," Athrun mengayunkan pedangnya ke udara, lalu cahaya berwarna biru tiba-tiba menyelimuti pedang itu. Sesaat kemudian, cahaya itu menghilang bersama dengan pedang milik Athrun. "Kami sempat bertarung," Athrun melirik ke kiri, tepat ke arah Cagalli, yang masih digendong olehnya. "Lihat liontin milik wanita ini, Lacus!"
Aku melihat Lacus menuruti perintah Athrun. Dia memandang ke arah sebuah kalung, yang dipakai oleh Cagalli.
'Tunggu, apa Cagalli memakai kalung?'
Mataku sontak tertuju ke arah leher Cagalli. Memang benar, ada sebuah kalung melingkar di lehernya, tapi ada yang aneh dengan kalung emas itu. Bentuk kalung itu terasa aneh dan tidak biasa bagiku. Lagipula, sejak kapan Cagalli memakainya? Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya sebelum ini?
"Astaga…" tiba-tiba suara Lacus membuatku tersentak. Aku melihat matanya melebar dan dia sedang menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Jadi dia…"
"Ya, kurasa kau benar," aku melihat Athrun mengangguk.
Apa maksud perkataan mereka? Ada apa dengan Cagalli? Apa kalung itu berarti sesuatu?
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Normal PoV
"Bagaimana, Nicol?" seorang pria berambut pirang yang mengenakan topeng berwarna putih bertanya kepada Nicol, yang saat ini berdiri di hadapannya. "Apa yang kau dan Rusty temukan, saat kalian pergi ke bagian timur hutan Aprilius? Kenapa Rusty bisa terluka sampai seperti itu?"
Nicol mengangkat wajahnya untuk menatap lawan bicaranya. "Kami bertemu dengan Athrun Zala," lawan bicara Nicol langsung tersentak. "Rusty sempat bertarung melawannya."
"Athrun Zala?" tanya lawan bicara Nicol. "Maksudmu, Athrun Zala sekarang berada di dalam hutan Aprilius?" gumamnya sambil menyangga dagu. "Menarik."
"Tuan Rau? Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan," Nicol kembali angkat suara.
"Ada apa?" tanya Rau, sambil menatap Nicol serius.
"Mengenai aura aneh, yang menyerupai SEED…" gumam Nicol.
"Apakah aura itu berasal dari SEED milik Athrun Zala?" potong Rau.
Nicol menggelengkan kepalanya. "Bukan. Aura itu berasal dari SEED milik orang lain," Rau terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan Nicol. "Aura itu berasal dari SEED milik seorang gadis, yang datang bersama dengan Athrun Zala."
"Maksudmu, Lacus Clyne?" tanya Rau.
Lagi-lagi, Nicol menggelengkan kepalanya. "Gadis itu bukanlah Lacus Clyne. Saya belum pernah melihat gadis itu sebelumnya," Nicol menyangga dagunya. "Tapi aura SEED, yang terpancar darinya terasa familiar."
Rau menatap anak buahnya dengan serius dan heran. "Apa maksudmu dengan 'familiar'?"
Nicol mengangkat wajahnya untuk kembali menatap Rau. "Aura SEED gadis itu, mirip dengan aura SEED milik Lacus Clyne dan…" Nicol mengerutkan dahinya."Tuan Rau?"
Rau hanya terdiam, ekspresinya sama sekali tidak bisa dilihat karena topeng yang ia kenakan. "Seperti itu rupanya," Rau menghela nafas dan berbalik membelakangi Nicol. "Kau boleh pergi."
Nicol mengangguk kecil, lalu ia berbalik dan keluar dari ruangan. Meninggalkan Rau, yang kini telah tersenyum kecil sambil menatap ke luar jendela kastil.
'Sepertinya seorang lawan yang kuat baru saja terlahir…'
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Setelah keluar dari ruangan Rau, Nicol berjalan menyusuri salah satu lorong kastil, yang penerangannya tidak terlalu baik. Hanya ada beberapa obor kecil yang melekat di dinding, yang menerangi lorong itu. Langkah pemuda itu akhirnya terhenti di depan sebuah pintu kayu berukuran besar, yang dihiasi oleh ukiran-ukiran klasik.
"Sial!"
Terdengar suara teriakan dari balik pintu kayu tersebut. Suara seorang pria yang terus meneriakkan makian dan rintihan sakit. Pemuda yang masih berdiri di depan pintu itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah ia mendengarkan teriakan rekannya, yang ada di dalam ruangan.
Pemuda berambut hijau itu akhirnya melangkah maju dan membuka pintu di hadapannya. Begitu ia masuk ke dalam ruangan tersebut, ia mendapati beberapa sosok orang di dalam ruangan tersebut. Salah satunya adalah seorang pemuda berambut pirang yang tengah bersandar di dinding. Pemuda itu menatap ke kiri, di mana seorang pemuda berambut oranye kemerahan, terlihat tengah terbaring di sebuah ranjang.
"Kau sangat berisik, Rusty," Nicol menghampiri tempat Rusty terbaring. "Suaramu bisa terdengar sampai di depan ruangan Tuan Rau."
"Cerewet kau, Nicol!" bentak Rusty. Ia menatap Nicol tajam. "Kau tidak lihat lukaku ini?!" Rusty melirik ke arah perutnya, yang tengah mendapatkan perawatan dari seorang wanita berambut coklat pendek. "Aku benar-benar akan membalas si keparat Zala dan gadis pirang sialan itu!"
"Itu salahmu sendiri," sahut Nicol.
"Apa katamu?! Kau bukannya membantuku saat itu, tapi justru-," kata-kata Rusty terpotong oleh Nicol.
"Kau seenaknya saja menyerang mereka. Padahal tugas kita hanyalah mencari tahu sumber aura SEED yang aku rasakan," potong Nicol.
Rusty mengerutkan dahinya. "Tapi tetap saj-."
"Sudahlah! Jika kau terus berteriak seperti itu, lukamu tidak akan sembuh," ujar pemuda berambut pirang, yang sejak tadi hanya terdiam. "Kau bisa membuat perhitungan dengan Zala, setelah kau pulih, Rusty."
Rusty mendengus, lalu ia mengalihkan pandangannya. Beberapa saat kemudian, wanita yang merawat luka Rusty, berdiri dari posisinya. Setelah ia selesai memberikan perawatan kepada luka di perut Rusty, wanita itu pamit dan keluar dari ruangan tersebut.
"Sedang apa kau di sini, Miguel?" tanya Nicol tiba-tiba. Ia menatap seorang pemuda berambut pirang di depannya dengan serius.
Pemuda yang dipanggil Miguel itu mendengus. "Aku hanya singgah untuk melihat keadaan Rusty sebentar. Apa itu dilarang?"
Nicol menyipitkan matanya, lalu ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan. "Jika kau sudah puas, segera kembali laksanakan tugasmu!" perintahnya tanpa menoleh. Lalu ia keluar dari ruangan dan menutup pintu.
Miguel dan Rusty hanya menatap kepergian sang pemuda berambut hijau tersebut, lalu mereka sempat bertukar pandangan dan Miguel mengedikkan bahunya.
"Dia memang selalu seperti itu," ujar Miguel. "Memang terkadang sangat memuakkan, tapi kita bisa apa?"
"Cih, hanya karena dia adalah orang kepercayaan Tuan Rau," Rusty mengerutkan dahinya. "Bukan berarti dia bisa seenaknya pada kita."
"Hahaha. Sudahlah, lupakan saja dia!" sahut Miguel. Pemuda itu menatap luka di perut Rusty dengan seksama. "Setelah kau pulih, aku akan membantumu untuk membuat perhitungan dengan Zala."
Rusty menaikkan alis matanya. "Ada angin apa? Sampai kau menawarkan bantuan padaku."
Miguel sempat tertawa, lalu ia menjawab, "Aku sedang bosan. Akhir-akhir ini tugasku hanyalah menyerang beberapa kerajaan kecil," Miguel mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Pasti akan menarik, jika aku bisa bertarung dengan Athrun Zala."
"Cih, aku yang akan membunuh si keparat itu!" seru Rusty, sambil menatap tajam ke arah Miguel.
Miguel mengangkat kedua tangannya di depan dada. "Baiklah, baiklah…" kata Miguel. "Bagaimana jika aku mengurus yang lainnya?"
Rusty sempat mengerutkan dahinya, namun akhirnya ia menjawab, "Lakukan saja sesukamu."
Mendengar jawaban dari Rusty, Miguel kembali tersenyum tipis. Di dalam benaknya, ia telah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang sengaja ia siapkan untuk saat-saat yang menarik.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Cagalli merasakan kehangatan di sekeliling tubuhnya. Sebuah kehangatan, yang terasa semakin lama menjadi semakin memanas. Telinganya tidak bisa mendengar apa pun selain suara gemuruh yang asing baginya.
Perlahan-lahan, Cagalli membuka kedua mata amber-nya. Satu-satunya yang tertangkap oleh matanya saat telah sepenuhnya terbuka, hanyalah warna oranye keemasan. Membuat mata amber-nya melebar dan ia bangkit seketika.
'Di mana lagi ini?'
Cagalli mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada apa pun, selain kobaran api yang mengelilinginya. Kobaran api yang membuat tubuhnya merasakan hawa panas sejak tadi.
Cagalli berdiri dari posisinya, lalu ia kembali memeriksa keadaan di sekelilingnya. Cagalli benar-benar terperangkap dalam kobaran api saat ini. Bagaimana bisa, ia berada di tempat seperti ini? Bagaimana caranya untuk keluar dari sini?
Blaze…
Cagalli tersentak, lalu menoleh ke belakang. Terlihat kobaran api yang berada jauh di belakangnya menjadi semakin besar, namun ada sesuatu yang aneh di sana. Cagalli mendapati sebuah sosok bayangan yang muncul dari balik kobaran api tersebut.
"Siapa?" tanya Cagalli sambil membalikkan tubuhnya.
Bayangan itu tidak menjawab. Saat itulah, Cagalli baru menyadari bahwa ukuran bayangan itu sangat besar. Mungkin tingginya mencapai 20 meter, atau bahkan lebih. Padahal jarak bayangan itu dengan tempat Cagalli berdiri saat ini cukup jauh. Bentuk bayangan itu menyerupai sesosok mahluk yang memiliki sayap dan leher yang cukup panjang.
Sesaat kemudian, Cagalli mendengar sesuatu. Mungkin bayangan itu tengah mengajaknya berbicara, namun entah kenapa Cagalli tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Suara mahluk itu hanya terdengar seperti bisikan yang lemah di telinganya.
"Cagalli?"
Tiba-tiba Cagalli mendengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Membuat gadis berambut pirang itu, mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana, hanya ada dirinya dan bayangan besar di depannya. Setelah Cagalli memastikan bahwa memang tidak ada siapa pun di sekelilingnya, Cagalli kembali menatap ke arah bayangan besar tadi.
Bayangan itu terlihat semakin kabur di mata amber Cagalli. Aneh, apa ini karena hawa panas di sekelilingnya? Cagalli mengusap kedua matanya, namun pandangannya tetap kabur dan justru menjadi semakin parah. Hingga akhirnya, Cagalli merasa tubuhnya menjadi semakin lemah lalu ia tidak sanggup lagi untuk berdiri tegap.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
"Cagalli?"
Mata amber Cagalli perlahan mulai terbuka, dilihatnya sepasang mata amethyst telah menyambutnya dengan sorot mata yang dipenuhi dengan rasa khawatir.
"Kira...?" panggil Cagalli, setelah ia menyadari siapa sosok yang berada di hadapannya. "Apa yang…?" Cagalli mengusap kedua matanya dengan punggung tangan kanan.
"Kau tidak apa-apa, Cagalli?" tanya Kira.
"Ya. Kurasa, aku tidak apa-apa," Cagalli bangkit untuk duduk. "Apa yang terjadi padaku?"
"Kau pingsan sejak beberapa jam yang lalu," jawab Kira, yang membantu Cagalli untuk duduk. "Apa kau tidak ingat, apa yang terjadi padamu?"
Cagalli hanya terdiam untuk beberapa saat. Ia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Saat itu ia dan Athrun tengah mencari benda yang disebut Kristal SEED di dalam hutan dan…
"Athrun?!" Cagalli tiba-tiba saja menyebut nama pemuda, yang tadi pergi bersamanya. "Di mana Athrun?" tanya Cagalli sambil menatap Kira.
"Aku di sini," suara seorang pria, membuat Cagalli dan Kira menoleh ke arah sumber suara tersebut. Terlihat Athrun tengah duduk di kursi kayu, yang terletak di salah satu sudut ruangan. "Ada perlu apa denganku?"
Mulut Cagalli setengah terbuka saat ia mendapati sosok Athrun, yang tengah duduk santai di kursi kayu tua itu. Pemuda bermata emerald itu saat ini terlihat baik-baik saja, ia bahkan telah mengganti pakaiannya dengan sebuah tunic lengan panjang berwarna hitam.
"Kau? Kau baik-baik saja?" tanya Cagalli. Ia sangat terkejut, tercengang dan bingung. "Tapi tadi, luka sayatan…"
"Tidak perlu cemas," Athrun bangkit dari kursinya. "Luka-luka itu sudah hilang."
Lagi-lagi mulut Cagalli setengah terbuka karena tercengang. "Bagaimana bisa?"
Athrun tersenyum tipis. "Lacus sudah menyembuhkanku."
Cagalli hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Athrun. Ia bisa mengerti jika Athrun mengatakan bahwa Lacus merawat luka-lukanya, namun jika menyembuhkannya dalam waktu sesingkat ini?
"Mereka menggunakan kekuatan sihir, yang disebut dengan SEED, Cagalli…" Kira tiba-tiba angkat suara, seolah ia mengerti bahwa Cagalli saat ini tengah merasa kebingungan.
Cagalli menoleh ke arah Kira yang duduk di sampingnya. "SEED?"
"Kau tidak ingat?" sahut Athrun. "Kau bahkan juga sempat menggunakan SEED untuk menahan serangan dari Rusty."
"Apa? A-aku menggunakan SEED?" Cagalli kembali tersentak kaget. "Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak mengerti, apa itu SEED."
Athrun menaikkan alisnya, lalu ia terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
'Sepertinya dia belum menyadari SEED, yang dia miliki.'
"Kita sudah terlibat dalam masalah yang benar-benar rumit, Cagalli," Kira membelai rambut pirang Cagalli, sambil tersenyum lembut. "Tapi kurasa kita tidak punya pilihan."
Cagalli hanya berkedip beberapa kali. Baru ia ingin membuka mulutnya untuk bertanya, tiba-tiba terdengar suara pintu gubug yang dibuka dari luar. Membuat semua orang menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Wah, rupanya Nona Cagalli sudah sadar?" Lacus memasuki gubug sambil membawa beberapa mangkuk di tangannya. "Kebetulan, supnya sudah matang," ujarnya sambil melangkah ke salah satu sudut ruangan, di mana terlihat ada sebuah tungku api kecil di sana. "Ayo kita makan?"
Cagalli hanya terdiam, sementara Kira dan Athrun mengangguk untuk menjawab tawaran Lacus. Setelah itu, mereka berempat memakan sup buatan Lacus bersama-sama.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Well, udah bisa ngira2 'kan?
Apa kekuatannya si Athrun Zala, Lacus Clyne dan Cagalli Yula Athhe…? :D
Hmmph… Lalu gimana dengan kekuatannya Kira dan yang lainnya?
Baca aja terus, kelanjutan dari Fic Gak jelas nan Membosankan ini… :P
See ya, Guys…
DK: LiA by DK
04062013
