AN: Chapter baru...
Kemungkinan Chapter ini akan membuat kalian sangat kebingungan...
Gomenasai, sepertinya kemampuan Cyaaz emang terbatas...
(_ _')
Maaf, Cyaaz g sempat bales Review kalian kali ini...
Tapi thank you, All...
Review dari kalian smua Luar Biasa!
^^d
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…
Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight : Lost in Aprilius
Chapter 06
Normal PoV
"Jadi…?" Cagalli tiba-tiba saja angkat suara. "Apa ada yang ingin kalian jelaskan padaku?" tanya Cagalli sambil menaikkan alisnya.
Saat ini Cagalli, Kira, Athrun dan juga Lacus tengah duduk di dalam sebuah gubuk yang hanya memiliki satu ruangan di dalamnya. Ruangan tersebut tidaklah luas, namun cukup nyaman untuk diisi oleh keempat orang yang kini telah selesai menyantap makan malam mereka.
Makan malam mereka hanyalah semangkuk sup sederhana. Sup yang berisikan potongan beberapa jenis sayuran dan juga beberapa irisan daging. Sup hangat yang cukup nikmat disantap pada malam hari yang dingin layaknya malam ini.
Kira berdehem, lalu ia meletakkan sendoknya di mangkuk dan menatap ke arah Cagalli. "Ya, banyak sekali yang harus kau ketahui."
Cagalli mengedipkan matanya. Sepertinya saat ini hanya dirinyalah yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
"Sebaiknya kita jelaskan mengenai SEED terlebih dahulu," ujar Lacus. Gadis berambut merah jambu itu tengah duduk di sebuah kursi kayu di dekat perapian. "Nona Cagalli, apa kau ingat benda berwarna oranye yang kau cari bersama Athrun?" Cagalli mengangguk. "Itu adalah sebuah Kristal SEED. Sebuah kristal yang mampu menghasilkan kekuatan yang kami sebut dengan SEED."
"Eh? Kekuatan SEED?" tanya Cagalli bingung.
"Ya," sahut Kira. "Kau ingat 'kan, kita sekarang ada di dunia lain," Cagalli tersentak, namun akhirnya ia mengangguk. "Dunia ini disebut dengan PLANT. SEED adalah sebuah kekuatan yang mungkin bisa disamakan dengan sihir," tambah Kira.
Cagalli mengangguk-anggukan kepalanya setelah beberapa saat berpikir. "Jadi, pedang besarmu," Cagalli menoleh ke arah Athrun yang duduk di samping Lacus. "Dan cakar besi si laki-laki berambut merah tadi…?"
"Itu adalah GUNDAM," ujar Athrun. "GUNDAM adalah benda perwujudan dari SEED. GUNDAM milik setiap orang bentuknya berbeda-beda, tergantung pada SEED dan karakteristik orang itu," Cagalli hanya memasang ekspresi wajah yang datar sambil mendengarkan penjelasan dari Athrun.
"Ada beberapa tipe SEED," kali ini Lacus yang bersuara. "Yang terkandung dalam Kristal SEED yang juga terbagi menjadi beberapa tipe. Kau bisa membedakan tipe Kristal SEED dengan melihat warnanya."
Cagalli tersentak kaget. "Eh? Jadi ada macam-macam tipe? Apa bedanya?"
Lacus mengangguk. "Setiap tipe SEED memiliki kemampuan yang berbeda-beda."
"Kau lihat ini?" tanya Athrun sambil mengangkat belati kecil miliknya. Ia menunjukkan sebuah Kristal SEED berwarna dodger blue miliknya. "Kristal milikku, adalah Kristal SEED bertipe Sky," Athrun menurunkan kembali belatinya. "Sedangkan Kristal SEED berwarna oranye milik kalian berdua bertipe Earth."
Cagalli menaikkan alisnya. "Kami berdua?" ia menoleh ke arah Kira dan mendapati pemuda itu tersenyum tipis sambil mengangguk. "Kira, kau juga?" tanya Cagalli sambil menatap Kira tidak percaya.
"Ya," Kira mengeluarkan Kristal SEED miliknya dari saku celana dan menunjukkannya kepada Cagalli. "Aku juga baru saja mendapatkannya."
Cagalli sempat terdiam untuk beberapa saat sambil terus menatap Kira. Hingga akhirnya, ia kembali menatap Athrun. "Bagaimana kami berdua bisa mendapatkan Kristal SEED?"
Athrun mengedikkan bahunya. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau mendapatkan kristal itu dari sesosok cahaya putih?"
Cagalli mengangguk kecil. "Iya, tapi…" gadis bermata amber itu sempat memberi jedah. "Maksudku, kenapa kami bisa mendapatkannya? Kami bahkan bukan berasal dari dunia ini."
Athrun hanya mengerutkan dahinya. Jujur saja, ia juga tidak mengerti mengenai hal itu. Kenapa mereka berdua terdampar di PLANT? Kenapa mereka berdua mendapatkan Kristal SEED? Terlebih lagi, gadis berambut pirang itu adalah…
"Mengenai hal itu, kami juga tidak mengerti," sahut Lacus tiba-tiba. "Kami juga tidak mengerti, kenapa kalian bisa mendapatkan Kristal SEED," Lacus melembutkan tatapan matanya. "Mungkin ini adalah kehendak Haumea."
Cagalli menaikkan alisnya. "Haumea?"
Lacus mengangguk. "Haumea adalah Dewa tertinggi di PLANT."
Cagalli sedikit mengacak-acak rambut pirangnya. "Hhh… Ini benar-benar membingungkan," gerutunya. "Lalu, apa beda antara Kristal SEED tipe Sky dengan Earth yang kalian sebutkan tadi?" tanya Cagalli setelah beberapa saat terdiam.
"Earth-Crystal mengandung kekuatan elemen-elemen dasar bumi," jelas Lacus. "Air, tanah, angin dan api."
"Sedangkan Sky-Crystal menyimpan kekuatan elemen-elemen dasar langit," sahut Athrun. "Misalnya adalah Kristal SEED milikku yang menyimpan Snow-SEED di dalamnya."
"Snow-SEED? Maksudmu salju?" Athrun mengangguk untuk menjawab pertanyaan Cagalli. Gadis berambut pirang itu terdiam untuk beberapa saat, lalu kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan Kristal SEED-ku dan Kira? Apa kristal oranye kami… Mengandung kekuatan elemen api, angin, tanah dan air? Keempatnya sekaligus?"
Lacus menggelengkan kepalanya. "Hanya salah satunya. Setiap Kristal SEED hanya mengandung satu jenis elemen SEED."
Lagi-lagi Cagalli mengangguk, lalu tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Oya, ngomong-ngomong… Di mana Kristal SEED-ku? Apa tadi kita sudah menemukannya?"
Athrun dan Lacus sempat saling memandang satu sama lain, lalu mereka kembali menoleh kepada Cagalli dan mengangguk secara bersamaan.
"Ya, kita sudah menemukannya," jawab Athrun. "Hanya saja…"
Cagalli menaikkan alisnya. "Ada apa?"
"Cagalli?" panggil Kira tiba-tiba. "Coba kau lihat kalung di lehermu!"
Cagalli berkedip karena bingung, tapi ia menuruti perintah Kira dan mata amber-nya langsung melebar. "Ka-kalung apa ini? Sejak kapan aku memakainya?"
"Itu adalah Kristal SEED milikmu, Nona Cagalli," ujar Lacus. "Hanya saja, bentuknya sekarang sudah berubah."
Cagalli tersentak dan menatap Lacus bingung. "Apa? Bagaimana bisa berubah jadi begini? Apa artinya? Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?" tanya Cagalli berturut-turut.
Memang benar, Kristal SEED berwarna dark orange milik Cagalli saat ini telah berubah bentuk. Kristal SEED itu saat ini berubah menjadi sebuah kalung bermatakan sebuah kristal emas berbentuk seekor naga berukuran kecil.
"Kau adalah seorang Kesatria Naga," gumam Athrun. "Kristal SEED milikmu sudah berubah menjadi Kristal Naga."
Cagalli menaikkan alisnya. "Kesatria… Apa?" tanyanya tidak yakin. Entah kenapa, rasanya ia pernah mendengar hal ini di suatu tempat sebelumnya.
"Kesatria Naga," sahut Lacus."Mereka adalah orang-orang yang mampu membangkitkan kekuatan SEED, hingga ke tingkat yang lebih tinggi," ujarnya. "Hingga mampu membangkitkan kekuatan para naga dalam legenda."
Mata amber Cagalli langsung melebar. "Na-naga?"
Lacus mengangguk. "Legenda PLANT menceritakan bahwa SEED pada mulanya adalah kekuatan yang dimiliki oleh para naga di masa lalu," Lacus memindahkan mangkuk yang sejak tadi ia bawa di pangkuannya ke meja di dekat tempat ia duduk. "Tetapi karena terjadi keributan di antara naga-naga tersebut, Haumea menjadi murka dan menyegel para naga beserta kekuatan mereka ke dalam Kristal SEED. Lalu menganugerahkan Kristal SEED kepada manusia untuk dimanfaatkan dengan sebaik mungkin."
"Kekuatan naga-naga tersebut sangatlah luar biasa," kali ini Athrun yang meneruskan penjelasan dari Lacus. "Tidak ada orang yang mampu membangkitkan kekuatan para naga, sampai beberapa tahun yang lalu."
Cagalli tersentak lagi. "Tu-tunggu dulu! Maksudmu ada orang lain sebelum aku?"
Tatapan Lacus dan Athrun seketika itu juga berubah menjadi sayu.
"Ya, beberapa tahun yang lalu... Muncul seorang Kesatria Naga," jawab Lacus pelan setelah beberapa saat. "Tapi sayangnya, orang itu adalah orang jahat yang berambisi untuk menghancurkan seluruh PLANT."
Mata Cagalli melebar. "Memangnya ada orang seperti itu?" tanyanya.
"Ya, ada segelintir orang yang seperti itu. Mereka menamai diri mereka ZAFT," sahut Athrun. "Sampai saat ini, mereka terus menyerang dan berusaha menghancurkan kerajaan-kerajaan di PLANT. Banyak sekali nyawa penduduk PLANT yang menjadi korban," lalu pemuda berambut navy blue itu menundukkan wajahnya.
"Kau ingat orang yang menyerangmu tadi siang?" tanya Lacus. "Mereka adalah Rusty Mackenzie dan Nicol Amalfi, dua orang prajurit ZAFT."
Cagalli menaikkan alisnya. "Jadi orang-orang tadi…" Cagalli menyipitkan mata amber-nya, menatap ke arah Athrun dan Lacus. "Untuk apa mereka melakukan hal semacam itu?"
Lacus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kami juga tidak mengerti. ZAFT muncul begitu saja dan mereka langsung menyerang kerajaan kami secara brutal."
"Cih, orang-orang macam apa itu?" gumam Cagalli setelah beberapa saat terdiam. "Bukannya berusaha menciptakan dunia yang lebih baik, tapi mereka malah menghancurkan dunianya sendiri."
Mata emerald Athrun melebar saat ia mendengar perkataan Cagalli. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan mata emerald-nya kini menatap lurus ke arah mata amber Cagalli. Athrun bisa melihat cahaya keemasan yang terpancar dari mata itu. Cahaya keemasan yang seolah menggambarkan kesungguhan hati dan semangat si pemilik mata tersebut.
'Menciptakan dunia yang lebih baik ya?'
"Karena itulah, Nona Cagalli," suara Lacus berhasil menarik perhatian Athrun. "Tolong bantu kami."
Cagalli tersentak. "Apa?"
"Bantulah kami untuk menghentikan ZAFT," pinta Lacus.
Mata amber Cagalli melebar untuk yang kesekian kalinya. "Apa? Ta-tapi aku…" Cagalli terlihat bingung dan juga shock. "Aku tidak tahu apa-apa soal sihir ataupun SEED. Aku juga tidak bisa ilmu bela diri apa pun."
Lacus tersenyum lembut. "Aku dan Athrun akan mengajarkanmu, bagaimana cara menggunakan SEED," ujar Lacus. "Aku yakin kalian memang ditakdirkan untuk membantu kami."
Cagalli kembali tersentak dan menatap Lacus. "Apa maksudmu?"
"Kedatangan kalian berdua ke PLANT," jawab Lacus. "Aku yakin Haumea sendirilah yang sudah memanggil kalian ke sini untuk menghentikan kekacauan yang terjadi di PLANT," Lacus melembutkan tatapannya. "Cahaya putih yang kau ceritakan tadi… Mungkin saja itu merupakan jelmaan dari Haumea."
Cagalli hanya terdiam, ia memproses perkataan Lacus barusan. Walaupun sebenarnya ada sebagian dari dirinya yang ingin membantu Lacus dan penduduk PLANT dalam menghadapi permasalahan ini, namun tetap saja ia hanyalah seorang gadis berusia 16 tahun biasa.
"Cagalli?" suara lembut Kira mengalihkan perhatian Cagalli. "Kita tidak punya pilihan. Kalau memang apa yang diceritakan Lacus dan Athrun itu benar," Kira menarik nafas dalam. "Mungkin kita baru bisa pulang saat kita berhasil membantu mereka menyelesaikan masalah di PLANT."
Mata amber Cagalli kembali melebar. Benar yang dikatakan Kira. Seandainya memang ia dan Kira dipanggil ke sini oleh Haumea untuk membantu penduduk PLANT, maka satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan membereskan semua kekacauan yang terjadi di sini.
Cagalli menghela nafas panjang. "Sepertinya memang tidak ada pilihan lain."
Kira dan Lacus seketika itu juga tersenyum lebar. "Terima kasih, Nona Cagalli," kata Lacus.
"Ya, tidak masalah," jawab Cagalli. "Oya, panggil saja aku Cagalli!" Cagalli tersenyum pada Lacus.
"Hm. Baiklah, Cagalli," jawab Lacus sambil mengangguk.
Kira mengangkat tangan kanannya dan membelai rambut Cagalli. "Baguslah, dengan begini kita juga bisa sekalian menolong orang lain 'kan?"
Cagalli menatap Kira dengan wajah cemberut. "Kau dan sifatmu yang kelewat baik hati itu…" gerutunya.
Kemudian Cagalli dan Kira tertawa secara bersamaan, sedangkan Athrun dan Lacus hanya memandang keduanya dalam diam untuk sejenak.
"Dengan ini, sudah ada dua orang Kesatria Naga di pihak kita," gumam Lacus.
"Jangan senang dulu!" sahut Athrun. "Wanita itu masih belum bisa mengendalikan SEED-nya."
"Kau benar," Lacus menoleh ke arah Athrun. "Karena itulah kita harus membimbingnya."
Athrun hanya mengangguk. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Lacus. Mata emerald-nya terus memandangi sosok Kira dan Cagalli di depannya.
'Kesatria Naga dari dunia lain ya?'
'Mungkinkah…?'
Mata emerald Athrun terfokus pada pemuda berambut cokelat di depannya yang masih sibuk bersenda gurau bersama sahabatnya.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Udara pagi di hutan Aprilius terasa sangat dingin, namun juga menyegarkan. Sayup-sayup terlihat cahaya kuning keemasan sang mentari pagi, menerobos masuk ke dalam hutan melalui celah pepohonan. Cahaya mentari pagi yang memberikan setitik kehangatan di dalam hutan Aprilius yang lebat dan dipenuhi oleh berbagai macam mahluk hidup.
Di dalam sebuah gubuk kecil yang terlihat tua, seorang gadis masih tertidur pulas di ranjangnya. Seperti biasanya, wajah gadis berambut pirang itu terlihat damai dan tenang di kala tidur. Menyembunyikan kobaran semangat yang terpancar dari wajah dan sinar matanya, di saat sepasang mata amber itu terbuka.
Samar-samar gadis itu mulai bisa mendengar suara kicauan burung yang merdu dari luar. Suara kicauan burung yang bagaikan alunan musik tersebut membuat gadis itu semakin enggan untuk membuka kedua matanya. Hingga akhirnya ia merasakan sesuatu menyentuh wajahnya.
Sentuhan hangat dan lembut. Seseorang kini tengah menyentuh wajah gadis itu. Mengusap-usap pipinya dengan perlahan selama beberapa saat. Hingga akhirnya, gadis berambut pirang itu harus rela meninggalkan alam mimpinya.
Kedua mata amber itu perlahan mulai terbuka, meskipun sebenarnya si pemilik masih sangat enggan untuk membukanya. Mata amber itu sempat bergerak ke sana kemari untuk mengidentifikasi keadaan di sekelilingnya.
"Kira…" gumam si pemilik mata amber tersebut. Suaranya masih terdengar lesu.
Pemuda yang kini tengah asyik mengusap-usap pipi gadis bermata amber itu hanya bisa tersenyum lembut. "Ayo bangun, Cagalli…" Cagalli mengedipkan matanya beberapa kali. "Kita harus segera berangkat."
Mata amber Cagalli melebar seketika, lalu gadis itu bangkit dari tidurnya. "Ah, benar juga," Cagalli berdiri di samping ranjang. "Aku lupa kalau ini bukan di rumah," tambahnya.
Kira menatap Cagalli sambil tertawa kecil. "Bisa-bisanya kau lupa?"
Cagalli menoleh ke arah Kira. "Hahaha, entahlah..."
Kriek…
"Hey, apa yang kalian lakukan?" seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Suaranya yang cukup lantang membuat Cagalli dan Kira menoleh ke orang itu, yang ternyata adalah Athrun. "Cepat bersiap! Kita harus berangkat secepatnya."
Cagalli mendengus sambil menatap Athrun dengan tatapan kesal. "Iya, iya. Aku mengerti, Tuan Zala."
Athrun menyipitkan matanya, namun ia hanya diam dan menutup kembali pintu gubuk tersebut dari luar.
"Hey, Cagalli," panggil Kira. "Kau tidak seharusnya bertengkar terus dengan Athrun."
Cagalli menatap Kira, lalu ia mendengus. "Dia duluan yang cari gara-gara denganku."
Kira menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Tapi dia juga yang sudah menolongmu 'kan?"
Mendengar ucapan Kira, Cagalli menjadi semakin kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada. "Ck, aku tahu itu…" Cagalli sempat mengalihkan pandangannya ke lantai, lalu ia kembali menatap Kira. "Ngomong-ngomong, Kira… Baju apa yang kau pakai itu?" tanya Cagalli setelah ia menyadari ada yang aneh dengan pakaian yang dikenakan oleh Kira.
Kira mengedipkan mata amethyst-nya, lalu ia menyempatkan dirinya untuk mengamati penampilannya sendiri saat ini. Ia menatap celananya yang telah berganti dengan celana wol berwarna hitam. Lalu ia menatap pakaian yang ia kenakan. Sebuah tunic lengan panjang berwarna cream yang dihiasi garis hitam di bagian bahu, pergelangan tangan dan kerah lehernya.
"Kenapa?" tanya Kira sambil kembali menatap Cagalli. Senyum tipis telah terukir di wajah pemuda berambut cokelat itu. "Aku keren 'kan?" tanyanya lagi, lalu ia melepaskan tawa dari bibirnya.
Cagalli memutar bola matanya. "Bajumu itu konyol!" jawabnya. Ia segera memalingkan wajahnya, tidak ingin Kira menyadari semburat rona merah di pipinya. Memang benar, pakaian yang dikenakan Kira saat ini membuat pemuda bermata amethyst itu terlihat gagah dan lebih mempesona dari biasanya.
"Hahaha. Enak saja!" Kira bangkit dari ranjang yang ia duduki sejak tadi. "Seragamku kemarin sudah lusuh dan kotor seperti baju gelandangan. Karena itu Athrun meminjamkan baju ini padaku," ujarnya sambil menghampiri Cagalli. "Lagipula, baju ini tidak seburuk itu 'kan?"
Cagalli langsung tertawa setelah mendengarkan penjelasan Kira. " Jadi begitu? Ya, ya, terserah kau saja."
Kira mengacak-acak rambut Cagalli dengan tangan kanannya. "Kau ini!" lalu ia mengambil sesuatu yang ada di atas meja di dekat ranjang. "Kau juga sebaiknya ganti bajumu dengan ini!" suruh Kira sambil menyodorkan sebuah pakaian yang masih terlipat dengan rapi kepada Cagalli.
Cagalli menaikkan alisnya, namun ia tetap menerima pakaian dari Kira. "Ini baju siapa? Lacus?"
Kira mengangguk. "Tentu saja, Bodoh! Memangnya siapa lagi? Athrun?"
Lagi-lagi Cagalli hanya bisa tertawa setelah mendengar ucapan Kira. Ia bahkan memegangi perutnya yang mulai terasa sakit, setelah terlalu banyak tertawa pagi ini.
Kira hanya bisa mendesah, memperhatikan tingkah gadis berambut pirang di hadapannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, lalu melangkah menghampiri pintu gubuk. "Cepat ganti bajumu! Aku dan yang lain akan menunggu di luar," ujarnya, lalu ia keluar dari gubuk dan menutup pintunya.
Beberapa saat kemudian, Cagalli akhirnya berhenti tertawa. Ia segera memandangi pakaian yang masih ada di tangannya. "Semoga baju ini tidak sekonyol yang aku pikirkan," gumamnya.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
"Cagalli?" panggil Kira sambil mengetuk pintu gubuk. Beberapa menit telah berlalu, namun Cagalli belum juga keluar dari gubuk reot tersebut. "Kau belum selesai?"
Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Kira menaikkan alisnya.
"Wanita itu…" suara Athrun dari belakang membuat Kira menoleh kepadanya. "Jangan katakan jika dia tertidur lagi."
Kira hanya mengedikkan bahunya untuk menanggapi Athrun. Dilihatnya saat ini Athrun tengah memainkan belati miliknya, tidak jauh di depannya. Di sisi kanan pemuda berambut navy blue itu, seorang gadis berambut merah jambu tengah tersenyum lembut sambil menatap Athrun.
"Sabarlah sedikit, Athrun…" ujar Lacus. "Sebentar lagi Cagalli pasti akan keluar."
Athrun hanya mendengus setelah ia mendengarkan Lacus. Pemuda itu tidak habis pikir, bagaimana Lacus bisa sesabar dan selembut itu? Atau mungkin dirinyalah yang akhir-akhir ini menjadi tidak sabaran?
Sementara itu, Kira hanya bisa mendesah pelan. Kemudian ia kembali menatap pintu gubuk dan mengetuknya. "Cagalli?" panggilnya lagi.
"Kira…" akhirnya gadis yang dipanggil itu menjawab. "Aku tidak suka baju konyol ini!"
Kira menaikkan alisnya. "Memangnya kenapa dengan baju itu?" tidak ada jawaban. "Ayo keluar, Cagalli…"
Beberapa saat kemudian, akhirnya pintu gubuk itu terbuka. Seorang gadis berambut pirang muncul dari balik pintu tersebut. Gadis itu kini tengah mengenakan sebuah kirtle lengan panjang yang panjang gaunnya mencapai mata kakinya. Gaun itu berwarna hitam di bagian bahu dan pinggangnya, sedangkan bagian dada dan bagian bawah gaun tersebut berwarna kuning keemasan.
Kira, Athrun dan Lacus hanya tertegun selama beberapa saat, begitu mereka mendapati sosok Cagalli yang terkesan sangat berbeda. Sebelumnya gadis bermata amber itu nyaris terlihat seperti seorang bocah laki-laki, namun sekarang ia terlihat seperti seorang putri kerajaan. Hanya saja putri yang satu ini tidak mengenakan perhiasan dan tata rias wajah yang mencolok.
"Jangan melihatku begitu!" suara Cagalli berhasil mengejutkan sekaligus menyadarkan ketiga orang di hadapannya.
Semburat merah langsung terlihat di wajah kedua pemuda yang sejak tadi hanya terdiam menatap sosok Cagalli. Kedua pemuda itu spontan memalingkan wajah mereka ke arah lain, sementara Lacus tetap menatap Cagalli sambil mengukir senyuman lebar di wajahnya.
"Kau terlihat sangat cantik, Cagalli," ujar Lacus, masih dengan senyuman manis di wajahnya.
Mendengar pujian dari Lacus, wajah Cagalli spontan memerah. Ia juga sempat memalingkan wajahnya sejenak, hingga akhirnya kembali menatap Lacus. "Yang benar saja! Baju ini benar-benar tidak cocok untukku," Cagalli mengalihkan pandangannya ke Kira. "Ya 'kan, Kira?"
Kira yang wajahnya masih memerah, tiba-tiba saja tersentak dan menoleh kepada Cagalli. "Uh, em…" Kira menggaruk-garuk pipinya dengan satu jari. "Yang jelas, itu bukan dirimu…"
Cagalli mengangguk. "Benar 'kan?" ia kembali menatap Lacus. "Apa tidak ada baju lain, yang lebih… Sederhana dari baju ini."
Lacus menggelengkan kepalanya perlahan. "Sayang sekali, hanya itu pakaian yang aku bawa."
Cagalli langsung menepuk dahinya dengan telapak tangan kanan. "Ini tidak mungkin…"
"Sudahlah! Memangnya apa yang salah dengan pakaian itu?" tanya Athrun tiba-tiba setelah ia hanya terdiam selama beberapa saat. "Pakaian itu jauh lebih baik dibandingkan dengan pakaian aneh yang kau kenakan sebelumnya."
Seketika itu juga, Cagalli mengarahkan death-glare-nya pada Athrun. "Baju ini benar-benar kelihatan konyol!" seru Cagalli. "Lagipula, pasti akan susah bergerak di dalam hutan dengan baju semacam ini."
"Kau benar-benar banyak bicara!" sentak Athrun dengan nada kesal. "Hanya itulah pakaian yang tersisa," Athrun mengangkat belati yang sejak tadi ia mainkan dan memasukkanya ke dalam sarungnya. "Jadi berhentilah mengeluh! Kita harus berangkat sekarang."
Ucapan Athrun barusan tentu saja membuat Cagalli semakin naik darah dan kesal. Gadis bermata amber itu baru akan membalas Athrun, namun terhenti ketika mata amber-nya menangkap sesuatu. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepala gadis itu.
Dengan wajah cemberut, Cagalli melangkah maju untuk menghampiri Athrun. Tindakannya membuat si pemuda berambut navy blue menaikkan alisnya. "Apa yang-, Hey!"
Tanpa berkata apa pun, Cagalli langsung merebut belati dari tangan Athrun, lalu ia langsung berbalik dan pergi begitu saja.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!" seru Athrun, menatap punggung Cagalli.
Cagalli tidak menjawab, ia terus melangkah memasuki gubuk. Kemudian ia membanting pintu gubuk itu, membuat Kira yang masih ada di depan pintu hanya bisa tercengang.
Beberapa menit telah berlalu, Athrun, Kira dan Lacus masih terdiam. Tidak ada di antara mereka yang berani beranjak dari tempat mereka saat ini. Mereka bahkan sama sekali tidak mengeluarkan suara apa pun. Mereka hanya diam membeku sambil menatap pintu gubuk yang masih tertutup.
Samar-samar mereka bertiga bisa mendengar suara gaduh dari dalam gubuk itu selama beberapa saat. Hal itu tentu saja membuat mereka bertanya-tanya, apa yang tengah dilakukan oleh si gadis bermata amber di dalam sana.
Kriek…
Akhirnya pintu gubuk itu terbuka. Sekali lagi, seorang gadis berambut pirang keluar dari gubuk reot tersebut, namun pakaian yang ia kenakan saat ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Kirtle lengan panjang berwarna hitam dan kuning keemasan itu, kini bagian lengannya terpotong hingga hanya tersisa beberapa centi meter dan panjang gaun itu hanya mencapai lutut Cagalli. Ujung-ujung lengan dan bagian bawah gaun itu terlihat sedikit tidak rapi, bahkan ada beberapa helai benang pendek yang terurai begitu saja.
"Hey, lihat!" seru Cagalli sambil memainkan belati milik Athrun di tangan kanannya. Tentu saja belati kecil tersebut telah terbungkus sarungnya. "Bagaimana kalau begini?" tanyanya sambil sedikit memutar tubuhnya.
Kira, Athrun dan Lacus kembali tercengang dengan penampilan Cagalli untuk sesaat. Mulut Athrun kini telah terbuka setengahnya, sementara Lacus hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Sedangkan Kira yang berdiri di hadapan Cagalli, langsung tertawa sambil memegangi perutnya.
"Hahaha, kau ini!" Kira masih kesulitan menahan tawanya.
"Kenapa?" tanya Cagalli. "Bagaimana penampilanku sekarang?"
Kira akhirnya bisa mengendalikan tawanya. Ia tersenyum lebar ke arah Cagalli dan mengacungkan kedua ibu jarinya. "Jauh lebih baik dari yang tadi."
Mendengar pujian dari Kira, rona merah langsung menghiasi wajah gadis berambut pirang itu.
"Dasar!" suara Athrun berhasil mengalihkan perhatian Kira, Cagalli dan Lacus. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpakaian kalian," Athrun menatap lurus ke mata amber Cagalli. "Kembalikan belatiku! Seenaknya saja kau mengambilnya."
Cagalli mendengus. "Cerewet!" ia melemparkan belati kecil di tangannya ke arah Athrun. Tentu saja belati tersebut bisa ditangkap dengan mudah oleh sang pemilik. "Terima kasih."
Athrun mendengus, lalu ia mengikatkan belati itu di sabuknya. "Ayo berangkat!" serunya sambil membalikkan tubuhnya.
Lacus hanya mengangguk untuk menjawab Athrun, lalu ia berjalan mengikuti Athrun. Sementara Kira dan Cagalli, mereka sempat bertukar pandangan. Hingga beberapa saat kemudian, mereka juga mulai melangkah untuk mengikuti Lacus dan Athrun masuk ke dalam hutan.
Beberapa saat kemudian, senyuman tipis yang penuh arti tiba-tiba saja terukir di wajah gadis berambut merah jambu yang terus melangkah sambil menatap lurus ke arah punggung pemuda berambut navy blue di depannya. Seolah-olah ia baru saja menyadari adanya suatu hal baik terjadi pada diri pemuda tersebut.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Kamus Kecil :
- Kirtle : Sebuah model gaun di abad pertengahan.
AN: Gimana, bingung? Kalo ada yang ingin ditanyakan, silahkan tanyakan...
Jangan lupa Review...
Thank you...
DK: LiA by DK
01072013
