AN: Halo, Readers sekalian… :D
Apa Cyaaz telat Update DK lagi? Sepertinya nggak… :P
Panda: - Wakakaka. Jelas2 si Athrun dkk mkn ikan bakar, jg puasalah, Panda... :P - Yaaaaay... Cyaaz seneng, ada fans Kira-sama slain Cyaaz... :D Tapi Panda... Kira g bs SEED Mode... -_- - Haha, ya bgitulh, hubungan KiraCaga dekat di fic ini... :3 - Jangan khawatir, Panda... Cyaaz akan menonjolkan Kira di saat yg tepat... :D - Slamat mmbaca Chap ini... :)
Ren-san: - Syukurlah kalo Ren-san puas... :) - Silahkan menikmati Chap ini... ^_^
Kitty: - Hahaha. Ya, tebakanmu benar... :D - Wakakaka. Maaf, Cyaaz emang aneh... Mana ada naga pink...? Baka Wolfi! T_T - Knp Athrun bkn DK? Karena Cyaaz bukan Fans-nya... :P - Keren mksud e kethek suren tho? Wakakaka. - Syukur kalo mnurut Kitty Chap kemarin bgus... Smoga Chap ini jg mmuaskn... :)
Bunny: - Hahaha. Percaya g percaya, Cyaaz emang g prnah main, Zonny! :P - Athrun jeleeeeeek... :P - Trims koreksiannya... :D - Kmu jg sk mrendah, lbih parah mlh! -_-' - Okay, silahkn bc Chap baru ini... :D
Aeni Hibiki: - Thank you, selamat mnikmati Chap baru ini... Smoga g mngecewakan... :)
Popcaga: Thank you, selamat menikmati... ^_^
JinK 1314: - Bukan, Kira cuma punya SEED, bukan DK. - Trims dan selamat menikmati Chap baru ini... :)
Terima kasih karena kalian masih setia membaca DK, apalagi menyempatkan diri untuk me-review Fic yang Super Aneh ini… :D
Silahkan nikmati Chapter ini ya, Walaupun isinya nggak begitu bagus dan… Kemungkinan besar kalian akan kecewa atau kesal di akhir nanti…
(._. )
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…
Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight: Lost in Aprilius
Chapter 08
Norma PoV
Seorang pemuda berambut hijau terlihat tengah berjalan menelusuri lorong kastil. Ia tengah menyangga dagunya dengan tangan kiri, alis matanya juga berkerut. Siapa pun yang mendapati sosok pemuda itu saat ini pasti langsung mengerti jika pemuda itu tengah memikirkan sesuatu dengan sangat keras.
"Ada apa denganmu, Nicol?" suara seorang pria dari arah belakang berhasil membuat Nicol tersentak.
Nicol membalikkan tubuhnya, dilihatnya seseorang telah berdiri tidak jauh di belakangnya. Seorang pria bertopeng tengah menatap lurus ke arahnya.
"Maaf, Tuan Rau," Nicol membungkukkan badannya, lalu kembali menatap lawan bicaranya. "Saya sedang berusaha mencari keberadaan Rusty dan Miguel. Sepertinya mereka sudah meninggalkan kastil ini tanpa izin."
"Apakah Rusty sudah pulih?" tanya Rau, setelah hening sempat menyergap selama beberapa saat.
Nicol menganggukkan kepalanya. "Luka-luka Rusty sudah pulih semenjak dua hari yang lalu."
Senyuman tipis tiba-tiba saja terukir di wajah Rau. "Jika memang seperti itu, kurasa aku tahu, ke mana mereka pergi," Rau menganggukkan kepalanya perlahan. "Mengingat sifat buruk Rusty."
Nicol tersentak, mata pemuda itu langsung melebar. "Maksud Tuan, apakah mereka…?" Rau menganggukkan kepalanya. "Tuan, izinkan saya untuk menjemput mereka," pinta Nicol sambil menyipitkan matanya.
Rau bisa merasakan aura kemarahan yang dipancarkan oleh lawan bicaranya. "Tidak perlu marah seperti itu," Rau melangkah maju, untuk menghampiri Nicol. "Jika mereka berhasil, hal itu juga akan menguntungkan bagi ZAFT."
"Tapi, Tuan. Mereka-," kata-kata Nicol terpotong oleh Rau.
"Baiklah, kau pergilah menyusul mereka," Rau melangkah maju untuk menghampiri lawan bicaranya. "Tapi jangan lakukan apa pun, cukup awasi saja mereka!" Rau menepuk bahu Nicol. "Jika keadaan memburuk, kau boleh bertindak. Bawa mereka kembali ke kastil."
Nicol sempat terdiam untuk beberapa detik, lalu ia mengangguk. "Baiklah, Tuan Rau."
Setelah itu sosok Nicol tiba-tiba saja menghilang, ditelan oleh kabut berwarna dark orchid yang sempat muncul di sekeliling tubuh pemuda itu. Meninggalkan Rau sendirian di tengah-tengah lorong kastil yang remang-remang dan sunyi.
"Miguel dan Rusty…" gumam Rau. "Setidaknya, aku tidak perlu turun tangan," senyuman licik terukir di wajah Rau. "Aku bisa mengetahui kekuatan kesatria naga baru itu, dengan mengamati pertarungan kalian."
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Sepasang mata amethyst terlihat tengah mengamati keadaan di sekelilingnya, menangkap berbagai jenis pohon, tanaman dan bahkan beberapa mahluk yang melintas di hadapan sang pemilik. Senyum kecil menghiasi wajah pemuda berambut cokelat itu, ketika matanya mendapati beberapa mamalia kecil melintas melewati dirinya yang tengah duduk di atas sebuah batu.
Mamalia kecil tersebut memiliki bentuk tubuh yang menyerupai kucing, namun ukuran tubuh mereka hanya sebesar tupai. Mereka memiliki telinga yang cenderung lebih panjang dan mata bulat berwarna cokelat. Bulu mereka semua berwarna putih, dengan corak berwarna hitam dan kuning yang abstrak. Keunikan terbesar dari mahluk-mahluk kecil tersebut adalah, mereka melintas dengan cara menggelinding. Ya, mereka menggulung tubuh mereka menjadi seperti sebuah bola dan menggelindingkan tubuh mereka untuk berpindah tempat.
"Apa yang sedang kau lihat?" suara seorang pemuda lain, membuat pemuda bermata amethyst itu menoleh ke samping kirinya. Terlihat seorang pemuda berambut navy blue keluar dari balik semak-semak. Setelah ia selesai melakukan apa pun yang telah ia lakukan di balik semak-semak itu.
Kira menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia berdiri dari posisinya. "Bukan apa-apa. Aku hanya memperhatikan keadaan di sekitar sini."
Athrun mengedikkan bahunya, lalu ia membungkuk untuk membersihkan ujung celananya. "Ayo, kita kembali," ujarnya setelah selesai. Pemuda bermata emerald itu kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Kira mengangguk, lalu ia mengikuti Athrun dari belakang. "Hey, Athrun."
"Hm?" jawab Athrun tanpa menolehkan wajahnya.
"Tolong maafkan Cagalli," kata Kira.
Athrun tersentak, lalu sedikit menolehkan wajahnya sambil terus berjalan. "Kenapa kau-."
"Dia memang agak kasar, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik," potong Kira.
Athrun menyipitkan matanya, lalu ia kembali menoleh ke depan. "Wanita itu, dia…"
Sreek…
Tiba-tiba saja Athrun tersentak dan menoleh ke kanan.
"Ada apa, Ath-," panggilan Kira yang terkejut dengan tingkah Athrun terhenti saat Athrun membentangkan tangan kanannya, tepat di hadapan pemuda berambut cokelat itu.
Tanpa berkata apa pun, Athrun segera menggapai belati di pinggangnya. Lebih tepatnya, ia menggapai Kristal SEED miliknya.
Roar!
Sesosok mahluk berukuran cukup besar tiba-tiba saja keluar dari balik semak dan langsung menerkam sosok Athrun, membuat pemuda berambut navy blue itu terjatuh ke tanah.
"ATHRUN!" Kira bermaksud untuk menolong Athrun, namun terhenti ketika ada mahluk besar lain yang muncul di hadapannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Kira segera menggapai Kristal SEED di sakunya. Seketika itu juga, cahaya berwarna dark orange langsung menyelimuti tangannya untuk sesaat. Begitu cahaya itu memudar, Kira telah menggenggam sebuah pedang perak dan ia langsung mengayunkan pedangnya untuk menebas mahluk di hadapannya. Mahluk yang terlihat seperti harimau gigi pedang berwarna dim gray dengan bintik putih itu menangkis serangan Kira dengan taring besarnya. Ukuran harimau itu bisa disetarakan dengan ukuran seekor beruang grizzly yang ada di bumi.
"Hati-hatilah, Kira!" Kira mengintip sosok Athrun di belakang mahluk yang menyerangnya. "Serangan groum sangat cepat dan mematikan," ujar Athrun yang juga tengah bergumul dengan seekor groum besar. Pemuda bermata emerald itu terlihat masih menahan taring sepanjang 45 senti meter groum yang berada di atas tubuhnya dengan Broadsword miliknya.
Sesaat kemudian Athrun mendorong groum yang sejak tadi menindih tubuhnya hingga terhempas. Kemudian ia bangkit dan menusukkan pedangnya ke punggung groum lain yang tengah sibuk menghentikan gerakan Kira, membuat groum itu tumbang dan akhirnya mati tergeletak di tanah.
Selang beberapa detik, seekor groum yang masih tersisa kembali menyerang dari balik punggung Athrun. Kali ini giliran Kira yang mengayunkan pedangnya, tebasan pedang Kira menghasilkan tiga buah pisau angin berbentuk lengkungan pendek. Pisau-pisau angin itu berhasil menyayat bagian depan tubuh groum yang berusaha menyerang mereka, membuat groum itu terluka parah dan tumbang.
"Wah, akhirnya aku bisa menemukanmu, Zala!" terdengar suara seorang pria. Begitu Kira dan Athrun menoleh ke arah sumber suara, mereka mendapati seorang pemuda berambut oranye kemerahan tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Pemuda yang tengah menunggangi seekor groum itu telah mengukir sebuah seringaian lebar di wajahnya.
"Rusty!" Athrun mengarahkan pedangnya ke Rusty. "Apa yang kau inginkan?"
"Bukankan sudah jelas?" Rusty mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya. Cahaya berwarna dark orange muncul, kemudian kepalan tangan Rusty telah terbungkus oleh sarung tangan besi bercakar. "Untuk membalas perbuatanmu kemarin tentunya."
Dengan itu, Rusty melompat dan langsung menyerang Athrun. Spontan Athrun menahan serangan Rusty dengan Broadsword miliknya. Kira baru saja ingin membantu Athrun, namun lagi-lagi ia terhenti oleh serangan seekor groum yang datang dari belakang. Groum itu langsung menerkam tubuh Kira, hingga ia terbaring di tanah.
Kira mendorong groum yang menyerangnya dengan sekuat tenaga, lalu ia segera menusuk perut groum itu. Darah sempat menyembur keluar dari perut groum yang ia tusuk, hingga pakaian dan wajah pemuda bermata amethyst itu dihiasi oleh bercak darah.
"Kau datang bersama sekelompok groum ini," terdengar suara Athrun yang masih berhadapan dengan Rusty. "Itu artinya…"
Rusty menyeringai seketika. "Tepat sekali," ia mendorong Athrun, hingga pemuda bermata emerald itu tersentak mundur.
Athrun mengeratkan giginya, lalu ia melirik ke arah Kira, di belakang Rusty. "Kira!" Kira yang tengah mengusap wajahnya tersentak, lalu menoleh ke belakang. "Pergi! Kembali ke tempat Lacus!" seru Athrun. "Laki-laki sialan ini tidak datang sendirian!"
Mata amethyst Kira melebar seketika, setelah ia menangkap maksud dari ucapan Athrun barusan. Dengan segera ia membalikkan tubuhnya dan mulai berlari, melewati sosok Athrun dan Rusty yang masih bertarung begitu saja.
"Tidak semudah itu!" seru Rusty. Pemuda berambut oranye kemerahan itu menjentikkan jari tangan kirinya yang masih bebas. Sesaat kemudian, beberapa ekor groum datang dari kejauhan dan langsung mengejar Kira.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Sepasang matanya tengah memperhatikan pemandangan di bawah kakinya dengan seksama. Terlihat dua orang gadis tengah berjuang menghadapi beberapa ekor baluer. Seorang gadis berambut panjang tengah meenahan serangan dari seekor baluer dengan tongkatnya, Sedangkan seorang gadis lain yang memiliki rambut pirang tengah membakar punggung baluer lain.
Seringaian kecil terukir di wajah pemuda berambut pirang, yang tengah berdiri di atas punggung seekor burung besar berwarna slate blue. "Sepertinya gadis-gadis itu tidak terlalu buruk," pemuda itu menyipitkan matanya. "Baguslah."
Shrieks!
Suara melengking barusan berhasil menarik perhatian Miguel. Ketika pemuda itu menoleh, ia mendapati seekor burung yang ukurannya lebih kecil tengah melesat ke arahnya, kemudian burung jalak berwarna hitam itu hinggap di bahu Miguel.
"Ada apa?" gumam Miguel. Burung jalak yang hinggap di bahunya itu mengepakkan sayapnya beberapa kali, seolah memberikan isyarat pada tuannya. Setelah burung itu selesai, Miguel mengerutkan dahinya. Lalu pemuda berambut pirang itu menolehkan wajahnya ke belakang sejenak. "Pergilah! Panggil beberapa ekor seisn dan layani dia!"
Dengan itu, burung jalak yang hinggap di bahu Miguel langsung mengepakkan sayapnya dan melesat pergi. Setelah salah satu peliharaannya pergi, Miguel kembali memfokuskan matanya ke arah dua orang gadis yang masih bertarung dengan sengit melawan sekelompok baluer. Perlahan tapi pasti, jumlah baluer yang tersisa semakin berkurang.
"Baiklah…" gumam Miguel. "Ayo kita turun juga."
Suara melengking terdengar dari burung besar yang ditunggangi oleh Miguel, lalu burung itu perlahan-lahan menurunkan ketinggiannya hingga beberapa senti meter di atas permukaan air danau.
Sementara itu, Cagalli dan Lacus masih sibuk dengan pertarungan mereka masing-masing. Cagalli tengah menekan dan menahan kepala seekor baluer di tanah dengan tangannya, ia berusaha membakar kepala mahluk itu dengan api yang ia keluarkan dari telapak tangannya. Membuat kepala baluer di bawah telapak tangannya itu hangus dan berubah menjadi abu dalam hitungan detik.
Sedangkan Lacus tengah mengurung beberapa ekor baluer lain di dalam kubah pelindung ciptaannya. Ia terus mengecilkan ukuran ruang pelindung tersebut, hingga tubuh baluer di dalamnya remuk.
Pertarungan sengit mereka terus berlangsung, sampai telinga kedua gadis itu mendengar suara tepuk tangan dari kejauhan. Begitu mereka menolehkan wajah mereka ke arah danau, mereka menemukan seorang pemuda berambut pirang. Pemuda itu menunggangi seekor burung besar yang bentuknya seperti angsa berleher pendek, angsa itu berwarna biru keabu-abuan.
"Miguel Aiman," gumam Lacus. Cagalli sempat tersentak dan menatap gadis berambut panjang itu. "Ternyata benar, baluer-baluer ini adalah hewan peliharaanmu."
"Tentu saja," jawab Miguel. "Memangnya siapa lagi?" Miguel menyeringai. "Mereka ini masih belum semuanya, Lacus Clyne…" Miguel membuka telapak tangannya, yang telah menggenggam sebuah benda kecil berwarna hijau. Lalu cahaya berwarna spring green muncul sesaat, kemudian lenyap begitu saja. Sekarang tangan Miguel, telah menggenggam sebuah cambuk panjang berwarna cokelat keemasan.
Mata sapphire Lacus melebar, ketika ia memandang sosok Miguel yang tengah mengangkat tangannya. Lalu pemuda itu mengecam cambuknya ke udara, menghasilkan butiran cahaya berwarna hijau muncul yang langsung berjatuhan masuk ke dalam air danau.
"Apa yang-," pertanyaan Cagalli terhenti. Mata amber gadis itu melebar seketika. Sesosok mahluk besar baru saja keluar dari dalam danau, tepat di belakang punggung Miguel.
Mahluk besar itu bentuknya sama dengan baluer, tapi ukurannya benar-benar jauh berbeda. Jika ukuran baluer bisa disetarakan dengan ular piton, maka mahluk besar yang baru saja muncul itu bisa disetarakan dengan ular naga. Panjang keseluruhan tubuhnya mungkin mencapai 30 meter, sedangkan diameter tubuhnya hampir mencapai satu meter.
Sementara Lacus dan Cagalli hanya membeku di tempat mereka, Miguel telah mengukir seringaian lebar di wajahnya. "Baiklah," pemuda berambut pirang itu mengangkat cambuknya. "Serang mereka!" Miguel mengecam cambuknya ke arah Cagalli dan Lacus berdiri.
Seketika itu juga, terdengar suara auman yang benar-benar memekakan telinga. Baluer raksasa di belakang Miguel kemudian melesat cepat ke tepian danau, tepat ke arah Cagalli dan Lacus berdiri.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Seorang pemuda berambut cokelat tengah berlari kencang, diikuti oleh beberapa ekor mahluk berkaki empat di belakangnya. Pemuda itu sempat menoleh dan memandangi tiga ekor groum yang mengejarnya untuk sesaat. Lalu ia kembali memfokuskan mata amethyst-nya ke depan.
Kira mengeratkan giginya, lalu ia menghunus pedangnya. Pemuda itu berhenti berlari dan membalikkan tubuhnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah salah satu groum yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Sebuah pisau angin berbentuk lengkungan panjang langsung melesat dan berhasil membelah tubuh groum itu menjadi dua bagian.
Setelah itu, mata amethyst Kira menyadari kedatangan dua ekor groum yang tersisa. Mereka menyerang dan menyergap tubuh pemuda berambut cokelat itu secara bersamaan. Membuat tubuh Kira terjatuh dengan punggungnya menghantam tanah.
Kira menahan taring-taring tajam yang tepat berada di hadapan matanya dengan pedangnya, namun kedua groum itu tidak menyerah. Salah satu dari mereka bahkan menusukkan cakarnya ke tubuh Kira, menembus kulit bahu kanan pemuda berambut cokelat itu.
"Arrgh…" rintih Kira, merasakan sensasi menyakitkan di bahunya. Sesaat kemudian, ia menyipitkan matanya dan segera memberikan perlawanan pada dua ekor groum yang menyerangnya. Kira menendang seekor groum hingga terhempas, lalu ia segera membelah perut groum yang masih menindih tubuhnya dengan pedang perak miliknya.
Setelah menyingkirkan bangkai groum yang baru ia taklukkan, Kira langsung bangkit dan menatap tajam ke arah groum terakhir yang masih hidup. Groum itu sempat mengaum, lalu segera melompat untuk menyergap Kira. Untungnya pemuda bermata amethyst itu telah siap siaga, ia langsung mengangkat pedangnya dan pedang itu berhasil menusuk leher groum yang menyerangnya.
Kira merasakan nafasnya yang sesak. Kedua mata amethyst-nya terbuka lebar, memandangi tubuh groum di hadapannya yang jatuh ke tanah. Beberapa tetes darah menghiasi pipi pemuda berambut cokelat itu. Sesaat kemudian Kira jatuh terduduk, tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya terengah-engah. Lalu ia menyentuh luka di bahunya, luka yang sampai saat ini masih mengucurkan darah.
Ini benar-benar sulit dipercaya. Seumur hidupnya, pemuda bermata amethyst itu bahkan tidak pernah melukai seekor anak anjing. Namun saat ini, ia baru saja membunuh beberapa ekor harimau besar dengan tangannya sendiri.
Beberapa hari yang lalu, ia hanyalah seorang siswa SMA biasa. Seorang pemuda berusia 16 tahun yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan bersekolah, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarganya, ataupun berkutat dengan teknologi di sekitarnya. Masih teringat jelas olehnya, hari terakhirnya di ORB. Ketika ia masih menjalani harinya dengan normal, ketika ia datang ke kelas paling pagi, ketika ia mengikuti semua mata pelajaran hari itu, dan ketika ia dan Cagalli pergi ke panti asuhan.
'Cagalli?'
Kira tersentak setelah ia teringat pada sahabatnya, lalu ia menatap ke arah danau di mana Cagalli dan Lacus berada. Sesaat kemudian, pemuda berambut cokelat itu bangkit dari posisinya. Ia mulai melangkahkan kakinya dengan tangan kanannya menggenggam pedang, sedangkan tangan kirinya memegangi luka di bahunya.
Sepasang mata amethyst itu terus menatap lurus ke depan. Setelah beberapa menit melangkah, akhirnya ia bisa melihat permukaan air danau dari celah pepohonan. Hanya tersisa beberapa ratus meter lagi, hingga pemuda berambut cokelat itu mencapai danau yang ia tuju.
Langkah kaki pemuda itu tiba-tiba saja terhenti. Mata amethyst-nya melebar dan ia membeku di tempatnya. Dari tempatnya berdiri saat ini, matanya bisa menangkap sesosok mahluk besar di danau itu. Seekor ular? Itu tidak mungkin, ukuran mahluk itu pasti jauh lebih besar. Mengingat jarak di antara dirinya dan mahluk itu saat ini.
Kira langsung mengangkat kaki kanannya untuk mulai berlari, begitu ia menyadari sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Cagalli dan Lacus. Baru saja ia beranjak beberapa meter dari tempatnya, suara melengking terdengar dari belakang. Membuat pemuda berambut cokelat itu menoleh ke belakang.
'Ya Tuhan, jangan lagi…'
Mata amethyst Kira menangkap empat ekor seisn yang baru saja mendarat di dahan pohon. Mahluk-mahluk yang terlihat seperti burung elang berukuran besar, dengan tiga kepala tersebut telah menatap tajam ke arahnya dengan mata biru mereka.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Sementara Kira, Cagalli dan Lacus tengah sibuk dengan pertarungan mereka, seorang pemuda berambut navy blue juga tengah bertarung sengit dengan seorang pemuda berambut oranye kemerahan. Suasana di sekitar mereka terasa sangat mencekam, diselimuti aura kebencian. Tubuh dan pakaian keduanya telah dihiasi oleh bercak darah, begitu juga dengan senjata yang ada di tangan mereka.
Meskipun begitu, mereka terus mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah lawan bertarungnya. Tentu saja dengan tujuan untuk menjatuhkan satu sama lain. Menciptakan suara benturan dan gesekan di antara benda logam, yang dapat terdengar hingga jarak puluhan meter dari tempat mereka.
"Hari ini kau pasti akan mati di tanganku, Zala!" teriak Rusty. Ia berdiri beberapa meter di depan Athrun, setelah serangan darinya berhasil ditahan oleh Athrun.
Athrun menyipitkan matanya sambil mengeratkan genggaman kedua tangannya pada pedang perak miliknya. "Kita buktikan, siapa yang akan mati."
Dengan itu, Athrun mulai melangkahkan kakinya untuk kembali menyerang lawannya. Rusty juga memulai gerakannya untuk menyerang Athrun. Ia melompat untuk menghindari sabetan pedang Athrun, kemudian mengayunkan kedua cakarnya bergantian. Menciptakan beberapa bilah pisau angin yang tipis, namun sangat tajam.
Athrun menahan pisau-pisau angin tersebut dengan pedangnya. Setelah ia berhasil menahan serangan Rusty, ia segera menurunkan pedangnya dan menanamkan ujungnya ke tanah. Seketika itu juga, tanah di sekitar pedang tersebut membeku. Es tersebut menjalar lurus ke depan, tepat menuju ke arah Rusty yang baru saja mendarat sempurna dengan kedua kakinya.
Rusty menyadari kedatangan serangan yang ditujukan kepadanya, namun ia tidak sempat menghindari serangan tersebut. Akhirnya kedua kakinya terperangkap di tanah yang telah membeku, membuat dirinya tidak bisa bergerak ke mana pun. Saat itulah Athrun segera berlari ke arahnya, lalu ia langsung mengarahkan pedangnya ke Rusty.
Namun sayangnya, Rusty bukanlah orang yang bisa diserang dengan semudah itu. Pemuda berambut oranye kemerahan itu, kembali berhasil menepis serangan Athrun dengan cakar tangan kanannya. Yang lebih parahnya lagi, Athrun melupakan sesuatu. Ia lupa bahwa Rusty memiliki dua cakar sebagai senjata, berbeda dengan dirinya yang hanya memiliki sebuah Broadsword.
Dan begitulah, Rusty memanfaatkan keunggulannya. Ia segera menyayat sisi kanan tubuh Athrun dengan cakar tangan kirinya yang masih bebas. Menciptakan beberapa luka sayatan di pinggang dan perut Athrun. Luka sayatan yang seketika itu juga, langsung mengucurkan darah dengan cukup deras.
Athrun langsung mengerang kesakitan, namun ia tetap mempertahankan posisinya. Ia tidak boleh kalah hanya karena luka sayatan semacam itu. Karena itu ia tetap bertahan, bahkan ia mendorong lawannya dengan lebih kuat.
"Kau tidak buruk, Zala," gumam Rusty tiba-tiba. "Tapi kau tetap saja lemah."
Athrun mengeratkan giginya. "Diam!"
Rusty menyeringai. "Bagaimana mungkin seseorang yang terlahir sebagai Zala bisa menjadi sampah sepertimu?" hina Rusty. "Tidak berguna!"
"Diam kataku!" teriak Athrun seraya meningkatkan tenaganya hingga mendorong Rusty selangkah ke belakang. "Memangnya kau tahu apa hah?!"
"Aku tahu semuanya!" sahut Rusty. "Kau hanyalah seorang yang tidak berguna, yang bahkan tidak mampu melindungi orang-orang yang kau sebut keluarga," Rusty mengukir seringaian licik di wajahnya. "Kau benar-benar menyedihkan!"
Seketika itu juga, tubuh Athrun diselimuti oleh aura berwarna dodger blue. Suhu di sekitarnya mulai menurun dan Broadsword milik pemuda bermata emerald itu juga mengeluarkan hawa dingin. Kata-kata Rusty barusan, cukup untuk membangkitkan kemarahan di dalam hati Athrun. Membangkitkan amarah, serta kepedihan yang terpendam jauh di dasar hati pemuda berambut navy blue itu.
Athrun mengangkat wajahnya, matanya menatap tajam ke mata lawan di hadapannya. Sebuah tatapan dari sepasang mata emerald yang dipenuhi dengan rasa benci dan ingin membunuh. "Kau akan menyesal karena sudah mengatakan hal yang membuatku murka, Rusty Mackenzie!"
Rusty kembali menyeringai. "Kita lihat saja."
Sesaat kemudian, hal yang terjadi pada Athrun juga terjadi pada Rusty. Aura berwarna dark orange muncul dan menyelimuti tubuh pemuda berambut oranye kemerahan itu. Kedua pemuda tersebut seolah tengah menghimpun kekuatan SEED mereka, untuk melancarkan serangan mematikan berikutnya.
Athrun mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu. Ia mendorong Rusty hingga terhempas beberapa langkah ke belakang. Setelah itu, kedua pemuda itu kembali mengadu senjata mereka berkali-kali. Dengan aura SEED menyelimuti tubuh, serta senjata mereka. Dengan aura kebencian dan rasa saling ingin membunuh yang jauh lebih pekat dibandingkan sebelumnya.
Athrun mengayunkan pedangnya ke arah Rusty, menciptakan beberapa buah es berbentuk runcing. Di sisi lain, Rusty mengayunkan cakar besinya, membelah dan menghancurkan es-es yang melesat ke arahnya. Kemudian Rusty balik menyerang, ia langsung mengarahkan cakarnya ke wajah Athrun. Tentu saja Athrun kembali menahan serangan tersebut dengan Broadsword miliknya.
Sebenarnya, justru hal itulah yang ditunggu oleh Rusty. Ia sengaja membuat Athrun berkonsentrasi pada serangan cakar tangan kanannya. Sesaat kemudian, Rusty langsung mengangkat cakar tangan kirinya yang masih bebas. Bermaksud untuk kembali menyayat tubuh Athrun, tentunya kali ini dengan serangan yang lebih mematikan daripada serangan sebelumnya.
Namun Athrun bukanlah orang yang bodoh, ia tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena itu, kali ini ia melepas salah satu genggaman tangan yang sejak tadi menggenggam erat gagang Broadsword miliknya. Ia menahan serangan cakar besi Rusty, dengan tangan kanannya. Mencengkeram cakar besi tersebut sekuat mungkin, walaupun darah telah menetes dari telapak tangannya.
Menyadari bahwa rencananya telah gagal, Rusty mengeratkan giginya. Namun pemuda berambut oranye kemerahan itu tidak menyerah. Ia berusaha menarik kembali tangan kirinya, namun Athrun menggenggamnya dengan erat, sehingga usahanya gagal.
Di sisi lain, Athrun tidak bermaksud untuk menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia segera mengalirkan SEED ke broadsword miliknya, membuat pedang berukuran besar tersebut memancarkan hawa dingin yang luar biasa. Hawa dingin tersebut berhasil membekukan cakar besi Rusty, yang masih bersinggungan dengan Broadsword milik Athrun.
Kedua mata Rusty melebar seketika, setelah ia menyadari posisinya saat ini. Kepanikan mulai melanda hati pemuda berambut oranye kemerahan itu, ia terus berusaha membebaskan tangan kirinya dari genggaman Athrun.
"Sudah kukatakan, kau akan menyesal, Rusty," gumam Athrun dengan nada rendah. Suaranya hampir terdengar seperti suara seseorang yang tidak memiliki jiwa.
Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya untuk berbicara ataupun bertindak, Athrun langsung menghentakkan pedangnya. Membuat cakar tangan kanan Rusty patah dan terhempas ke udara. Setelah itu, Athrun langsung melanjutkan serangannya dengan menarik tangan kiri Rusty. Membuat tubuh pemuda berambut oranye kemerahan itu mendekat kepadanya dan menusukkan Broadsword miliknya ke dada, hingga menembus punggung pemuda itu.
Darah mengucur dari kedua sisi tubuh Rusty, mulut pemuda berambut oranye kemerahan itu juga mulai mengeluarkan darah. Sesaat kemudian Athrun melepaskan cakar besi tangan kiri Rusty, lalu mencabut pedangnya dengan paksa. Membuat tubuh lawannya langsung jatuh tergeletak di tanah.
"Kau lemah, Zala…" gumam Rusty, setelah beberapa saat berlalu. "Walaupun kau… Berhasil membunuhku…" pemuda berambut oranye kemerahan itu mulai kehabisan nafasnya. "Itu tidak akan mengubah fakta… Bahwa kau lemah…" saat ini kedua mata pemuda itu mulai tertutup, namun senyuman tipis yang licik masih terukir di wajahnya. "Dan bahwa kau… Gagal melindungi keluargamu…"
Saat itulah, mata emerald Athrun melebar. Ia menatap ke arah tubuh Rusty yang tergeletak di hadapannya. Pemuda berambut oranye kemerahan itu kini telah menutup kedua matanya, pemuda itu akhirnya tewas.
Setelah beberapa saat Athrun tetap berdiri dengan nafas yang sesak, akhirnya ia menjatuhkan kedua lututnya ke tanah. Ia menegakkan Broadsword miliknya di samping tubuhnya, lalu menghantamkan kedua tinjunya ke tanah sambil menundukkan kepalanya.
Pemuda berambut navy blue itu berkali-kali merintih, mengerang dan bahkan berteriak frustasi. Suara teriakan pemuda itu, benar-benar terasa menyayat jiwa. Suara teriakan yang disebabkan oleh rasa penyesalan, kepedihan dan juga kebencian terhadap dirinya sendiri. Suara teriakan akibat penyesalan terhadap kenangan masa lalu, di mana ia merasa sangat lemah dan tidak berguna.
Beberapa menit telah berlalu, Athrun telah berhenti berteriak dan ia juga mulai tenang. Ia mengeratkan kepalan tangannya yang masih melekat di tanah, kemudian bangkit dari posisinya dan mencabut pedangnya.
Ia sempat memandangi mayat Rusty untuk sesaat, lalu segera membalikkan tubuhnya. Pemuda bermata emerald itu mulai melangkahkan kakinya. Ia tidak boleh membuang waktunya di sini, masih ada seorang lagi yang harus dibereskan.
'Aku tidak akan membiarkan mereka mati…'
'Aku yang sekarang, sudah jauh berbeda dengan aku yang dulu.'
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Gimana, Chapter ini semakin membuat pusing ya?
Maaf sudah mengecewakan, Cyaaz bener-bener kesulitan di battle scene-nya...
Haha.
Dasar Author nggak bakat, tapi nekad...
Okay, seperti biasa, mohon review dan bimbingannya..
Thanks and See ya, Guys…
DK: LiA by DK
31072013
