AN: Yeah, tiba saatnya Update DK... :D
Koala: Haha. Benrkh sperti dlm game? Syukurlah... :) Dark orchid itu nama warna... Setara dengan ungu tua... :D Semua pertanyaanmu ttg Kira akan terjawab di Chap ini... :P
Aeni Hibiki: Trima kasih ya, senang kalo Chap kemarin memuaskn... ^_^ Selamat menikmati! :D
Bunny: Your Prince, eh? Udah bukan 'kan? :v Ya, ya, kamu emang suka banget sma kekuatan es-nya si Zala... #acak2 rambut. :P Ah, kata2mu sudah tidak bisa dipercaya... Bentar2 bilang 'TiI is the best', trus ganti 'DK paling keren!', trus ganti lg 'SC kesukaanku...' -_-' Dsar Zonny! #jitak. :v
Panda: Alergi? Lol! :v Yalah, Kira tetep yang paling keren, biar gimana pun jg... :3 Cyaaz juga sjak liat Kira pertama kali lngsung jtuh cinta... :D Hahaha. Iya, Kira terlalu cakep, jd binatang2 liar pun ngefans sma dy... :v Wakakaka. Cyaaz waktu mnciptakn mahluk2 lucu di DK juga rasanya pengen pelihara smua... :3
Kitty: Hahaha. Sekarang cuma kamu yg muja Athrun, Kitty... Zonny udah berpindah ke lain hati... :v Wah, smua pada blg kyk main game... Syukurlah klo gt... Sana main PS aja gpp! :v Hey, btw... Cyaaz akan menepati janji Cyaaz (soal gambar2 tentang detail DK) padamu, jd ntar ingetin d FB ya! Ntar Cyaaz upload. :D Thank you atas koreksiannya... :)
Ritsu-ken: Hehe. Syukurlah kalo suka Chap kemarin, sneng juga bisa menemukan Fans Kira yang lain... ^_^ Kalo Ritsu-san suka Chap kemarin karna bnyk Kira-nya, Ritsu-san akan menyukai Chap ini jg, smoga... Hehe. ^_^ Thank you atas pujiannya. Selamat menikmati... :D
JinK 1314: Jenis senjata Kira & Rusty berbeda, senjata Rusty adl cakar besi, sedangkn Kira adl sbuah Katana. Hanya sja SEED mereka sama tipe-nya, yaitu tipe angin. Karena itu mereka sama2 bisa menciptakan pisau angin. Tapi Cyaaz nggak akan memberikan kekuatan sesederhana itu untuk Kira-sama tercinta... :D Tentang masa lalu Athrun... Ceritanya panjang, sngt panjang dan Cyaaz jamin g akn terungkap dlm wktu dekat... ^_^ Soal Romance... Cyaaz g bs mnjanjikan apa-apa... :P
Jeffrey Simanjuntak Inversy: Trima kasih atas Review-nya... Soal pairing dan Romance, Cyaaz g bisa kasih tau dan menjanjikan apa2... Jeffrey-san harus cari tau tentang hal itu sendiri dg trus mmbca DK... :P
Terima kasih karna udah setia mengikuti Fic ini...
Special thanks buat kalian yg udah Review...
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…
Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight: Lost in Aprilius
Chapter 09
Norma PoV
Suasana di dalam hutan Aprilius terlihat cukup damai dan tenang. Angin bertiup dengan lembut, menerpa dedaunan dan ranting pohon. Hewan-hewan penghuni hutan juga terlihat sibuk dengan kegiatan mereka, mulai dari berburu mangsa hingga bermalas-malasan di padang rumput. Namun suasana damai dan tenang tersebut nampaknya gagal mencapai suatu tempat di tengah hutan tersebut. Di mana terdapat sebuah danau yang luas, dikelilingi oleh pepohonan yang cukup rindang.
Roar…!
Terlihat seekor baluer raksasa tengah menggeliatkan tubuhnya di dalam air, kemudian mengibaskan ekornya ke depan. Ekor bersisik tajam milik monster tersebut mengarah tepat ke seorang gadis berambut pirang di tepi danau. Sisik-sisik yang keras dan tajam tersebut nyaris melukai gadis bermata amber itu, namun sebuah dinding energi berbentuk kubah muncul dan melindunginya tepat pada waktunya.
"Cagalli! Kau tidak apa-apa?" terdengar suara Lacus dari belakang.
Cagalli menoleh, lalu mengangguk. Sesaat kemudian gadis itu kembali menghadap ke depan dan melangkahkan kakinya. Ia berlari menembus dinding energi yang melindunginya, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di bagian bawah ekor monster yang menyerangnya.
Beberapa saat kemudian, api langsung keluar dari kedua telapak tangan Cagalli. Kobaran api tersebut menjalar dengan cepat, membakar ekor baluer raksasa di hadapannya. Spontan baluer raksasa itu mengaum, lalu mengangkat ekornya yang mulai terbakar. Kemudian menjatuhkan ekornya ke dalam air untuk memadamkan api yang membakar sisiknya.
Air danau langsung memercik bagaikan hujan di sekitar tepian danau, tempat di mana Lacus dan Cagalli berdiri. Mengetahui apa yang baru saja dilakukan oleh sang baluer raksasa tadi, Cagalli menjadi kesal dan mengeratkan giginya.
'Sial! Kalau begini terus, bagaimana kami bisa mengalahkan monster ini?'
"Hahaha," terdengar suara dari atas ketinggian. Terlihat seorang pemuda berambut pirang tengah berdiri di atas seekor heizel berwarna slate blue. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengukir seringaian lebar di wajahnya. "Percuma saja kau melakukan itu," ejek Miguel dengan nada menantang. "Kecuali kau bisa langsung membakar seluruh tubuh baluer itu sekaligus."
Mendengar pernyataan barusan, Cagalli hanya bisa semakin mengeratkan giginya. Pemuda itu memang benar. Berapa kali pun Cagalli membakar bagian tubuh baluer itu, monster itu akan mencelupkan bagian tubuhnya yang terbakar ke dalam air. Membuat usaha Cagalli menjadi sia-sia. Seandainya baluer raksasa itu tidak berada di dalam danau.
Karena Cagalli, Lacus dan Miguel sangat berkonsentrasi pada pertarungan mereka, ketiganya tidak menyadari kemunculan seseorang di sisi lain tepian danau. Gumpalan kabut berwarna dark orchid baru saja muncul di atas sebuah batu besar. Kemunculan kabut tersebut merupakan pertanda dari datangnya seseorang.
Seorang pemuda yang muncul dari dalam kabut berwarna dark orchid tadi, kini telah berdiri tegap di atas batu sambil melipat kedua tangannya ke belakang. Pemuda berambut hijau itu segera memfokuskan pandangannya ke dalam pertarungan yang tersaji di depannya. Memperhatikan setiap detil dari pertarungan tersebut untuk dilaporkan kepada pimpinannya.
"Sepertinya Miguel tidak mengalami masalah," gumam pemuda itu. "Bagaimana dengan Rusty?"
Pemuda berambut hijau itu meletakkan kedua jari tangan kanannya di antara kedua alis, lalu ia juga memejamkan kedua matanya untuk sesaat. Setelah beberapa detik berlalu, pemuda itu terlihat tersentak dan mengerutkan dahinya. Lalu ia menurunkan jarinya dan membuka kedua matanya perlahan.
"Rusty yang malang…" gumam pemuda itu lagi, lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Tuan Rau pasti tidak senang mendengar hal ini."
Setelah beberapa saat pemuda itu menundukkan kepalanya, ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Sepasang mata pemuda itu memperhatikan gerak-gerik seorang gadis berambut panjang dengan seksama. Senyuman kecil tiba-tiba saja terukir di wajah pemuda itu, lalu ia berkata, "Yah, kurasa tidak ada salahnya ikut bermain sebentar."
Dengan itu, tubuh pemuda berambut hijau itu lansung ditelan oleh kabut berwarna dark orchid. Kemudian sosoknya menghilang, bersamaan dengan memudarnya kabut tersebut.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Seorang pemuda tengah berjalan melewati pepohonan. Tangan kanan pemuda itu menggenggam sebuah Broadsword dengan erat. Sedangkan tangan kirinya berada di pinggang kanannya, berusaha menekan pendarahan akibat luka sayat di sisi kanan tubuh pemuda tersebut.
Perlahan namun pasti, pemuda bermata emerald itu terus melangkahkan kedua kakinya. Walaupun nyeri dan perih yang luar biasa telah ia rasakan di sekujur tubuhnya. Walaupun darah terus menetes dari luka sayatan di pinggangnya dan walaupun kepedihan di dalam hatinya masih belum hilang sepenuhnya. Pemuda itu terus melangkah lurus ke arah danau yang terletak ratusan meter di depannya.
Beberapa menit kemudian, mata emerald-nya disuguhi oleh sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan. Di hadapan pemuda itu, terdapat beberapa bangkai hewan buas yang bergelimpangan di tanah. Bangkai-bangkai hewan tersebut memiliki luka sayat di beberapa bagian tubuh mereka. Darah yang belum sepenuhnya mengering, juga berceceran di sekitar bangkai hewan-hewan tersebut. Nampaknya hewan-hewan tersebut baru saja dibantai oleh sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.
Sepasang mata emerald milik pemuda itu langsung menyipit, memperhatikan kondisi bangkai-bangkai groum yang ada di hadapannya. "Kira…" gumam pemuda berambut navy blue itu.
Sesaat kemudian, Athrun langsung mengangkat wajahnya. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk menghampiri tempat di mana teman-temannya berada, dengan langkah yang lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Sepasang mata sapphire tengah mengamati pergerakan seorang gadis berambut pirang di depannya dengan seksama. Gadis berambut pirang tersebut terlihat frustasi, namun ia tetap memberikan perlawanan kepada baluer raksasa yang menyerangnya. Sesekali gadis pirang itu jatuh berlutut di tanah setelah ia menerima serangan dari sang baluer raksasa, namun gadis itu segera berdiri dan kembali berusaha mengalahkan baluer raksasa tersebut.
Gadis pemilik sepasang mata sapphire itu menghela nafas panjang. Ia sempat memejamkan kedua matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada sebuah tongkat putih, berhiaskan sebuah permata berwarna biru tua di ujungnya.
"Aku rasa aku harus melakukannya," gumam gadis berambut merah jambu itu.
Lacus menurunkan tongkat yang sejak tadi ia angkat di depan dadanya. Mata sapphire miliknya kembali menatap Cagalli untuk sesaat, lalu ia mengambil beberapa langkah maju dan kemudian berhenti. Gadis berambut merah jambu itu terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan serius untuk beberapa saat, lalu ia kembali menghela nafas panjang.
"Baiklah…" gumam Lacus. Ia kembali mengangkat tongkat miliknya ke depan dada dengan posisi horisontal. "Tolong bantu aku, Eternal."
Lacus memejamkan matanya, kemudian ia membisikkan kalimat mantera. Perlahan-lahan tubuh gadis bermata sapphire itu dikelilingi oleh aura berwarna light pink. Rambut panjang gadis itu melambai-lambai, seolah tertiup oleh hembusan angin yang berasal dari bawah tanah.
Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka kedua matanya. Kedua mata itu telah berubah warna, menjadi lebih gelap dan pucat. Sepasang mata itu langsung menatap tajam ke arah baluer raksasa di dalam danau.
"Wahai bintang-bintang di langit PLANT!" seru Lacus, sambil mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi. "Atas per-, hmmph…"
Kalimat Lacus langsung terhenti, ketika ia merasakan ada sesuatu yang membekap mulutnya. Sesuatu yang tidak terlihat oleh kedua matanya, sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang tidak ia rasakan keberadaannya. Hal yang selanjutnya terjadi adalah, Lacus menyadari bahwa ia telah menjatuhkan tongkatnya ke tanah. Gerakannya juga telah terkunci, oleh seseorang yang mencengkeram erat pergelangan tangan kanannya di belakang punggungnya.
"Sayang sekali, Lacus Clyne," terdengar suara seseorang. Suara yang tidak asing di telinga Lacus, membuat kedua mata sapphire miliknya melebar seketika. "Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu sekarang."
Sesaat kemudian, kabut berwarna dark orchid tiba-tiba saja muncul. Setelah kabut itu lenyap, sosok telapak tangan yang membekap mulut Lacus, sekaligus orang yang mengunci pergerakan gadis itu langsung terlihat. Seorang pemuda berambut hijau yang telah mengukir sebuah senyuman kecil di wajahnya. Pemuda itu telah berdiri tegap, tepat di belakang punggung Lacus.
'Nicol Amalfi…'
Lacus langsung meronta untuk membebaskan dirinya, ketika ia mengetahui siapa sosok yang telah berdiri di belakangnya. Gawat, Lacus sama sekali tidak menyadari kedatangan orang itu. Ia terlalu berkonsentrasi dalam manteranya. Atau mungkin orang itu telah menghilangkan aura keberadaannya, sehingga Lacus tidak bisa merasakan kedatangannya sama sekali.
Yang mana pun sama saja, yang jelas saat ini Lacus benar-benar dalam bahaya. Belum lagi Cagalli terlihat mulai kelelahan dalam menghadapi baluer raksasa di hadapannya. Gadis pirang itu kini terlihat tengah berlutut di tanah dengan kepala yang tertunduk.
'Cagalli…'
Gadis yang dipanggil Lacus dalam benaknya tersebut tengah berusaha bangkit dari posisinya. Mata amber-nya menatap lurus ke depan, ke arah baluer raksasa yang masih merendam sebagian tubuhnya di dalam danau. Nafasnya terengah-engah dan tubuhnya sedikit gemetaran, mungkin gadis itu benar-benar kehabisan tenaga.
"Sial!" gumam Cagalli, gadis berambut pirang itu mengeratkan giginya. "Seandainya aku bisa menggunakan GUNDAM-ku."
Sesaat kemudian, akhirnya Cagalli berhasil berdiri tegap dengan bertumpu pada kedua kakinya. Gadis itu masih menatap lurus ke arah sang baluer raksasa di depannya, berusaha memikirkan sebuah cara yang tepat untuk menaklukkan monster itu. Saat itulah tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu, ia teringat akan keberadaan seorang temannya yang sejak tadi bertarung bersama dengan dirinya.
Seketika itu juga, Cagalli menolehkan wajahnya ke belakang. Mata amber-nya langsung melebar, ketika ia mendapati Lacus telah disekap oleh seorang pemuda berambut hijau.
"La-," panggilan Cagalli terputus, ketika ia merasakan sesuatu telah melilit tubuhnya. Saat ia menyadarinya, rupanya perutnya telah dililit oleh ekor besar sang baluer raksasa di belakangnya.
Tanpa sempat melakukan perlawanan, tubuh Cagalli telah terlilit sepenuhnya. Kedua tangannya juga ikut terlilit, sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak. Dalam sekejap tubuh mungil gadis bermata amber itu langsung terangkat ke udara. Sang baluer raksasa telah mengangkat tubuh Cagalli, mendekat ke arahnya.
"Sial…" geram Cagalli di tengah-tengah nafasnya yang sesak karena lilitan ekor sang baluer yang sangat kuat di tubuhnya.
Mengamati pemandangan yang tersaji di hadapannya, mata sapphire milik Lacus mulai digenangi air mata. Di saat temannya dalam bahaya, ia tidak bisa melakukan apa pun. Gerakannya terkunci, ia sama sekali tidak bisa beranjak dari tempatnya. Meskipun ia telah meronta dan berusaha melepaskan dirinya, namun kekuatannya tidak sanggup menandingi kekuatan pemuda yang mengunci gerakannya.
"Hahaha, cepat bunuh dia!" seru Miguel. Pemuda berambut pirang itu sejak tadi hanya mengamati pertarungan yang melibatkan Cagalli dan hewan peliharaannya dari atas ketinggian. Ia sangat menikmati pertarungan yang ia saksikan, sampai-sampai ia juga tidak menyadari kedatangan rekannya, Nicol Amalfi.
"Sial…!" teriak Cagalli. Ia sempat mencoba mengeluarkan api dari telapak tangannya, namun langsung terhenti ketika baluer raksasa yang menangkapnya, melilit tubuhnya semakin erat. Membuat nafas gadis berambut pirang itu semakin sesak.
Perlahan-lahan baluer raksasa itu mendekatkan tubuh Cagalli ke wajahnya. Mengendus-endus gadis yang telah siap ia santap untuk sesaat. Kemudian Cagalli menyadari bahwa jarak di antara dirinya dan gigi taring raksasa milik sang baluer raksasa hanya tersisa beberapa senti meter lagi.
"LEPASKAN DIA!" terdengar suara dari kejauhan. Membuat semua orang tersentak, termasuk sang baluer raksasa yang telah membuka rahangnya lebar-lebar.
Slash…!
Sebuah pisau angin tiba-tiba saja melintas di hadapan mata Cagalli. Seketika itu juga, pisau itu berhasil menggores rahang sang baluer raksasa. Membuat sang baluer raksasa mengaum kesakitan sambil mengibaskan ekornya, menghempaskan tubuh Cagalli ke tepian danau dengan cukup keras.
Dengan tubuh yang lemas dan bergetar hebat, Cagalli berusaha untuk mengangkat kepalanya. Ia mendapati sosok seorang pemuda tengah berjalan perlahan dari arah hutan. Kondisi pemuda itu tidaklah baik, sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Bahu, perut, kaki serta pelipis pemuda itu telah mengucurkan darah. Bahkan mata kanan pemuda itu telah keruh karena air matanya telah bercampur dengan darah yang mengalir masuk.
"Kira…" panggil Cagalli dengan susah payah, sepasang mata amber-nya kini telah digenangi air mata.
Pemuda yang ia panggil namanya, sempat menoleh ke arahnya, memastikan kondisi gadis berambut pirang itu. Ketika ia selesai, ia langsung memfokuskan pandangan mata amethyst-nya ke arah sang baluer raksasa. Walaupun kaki kirinya telah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang sangat menyiksa, namun pemuda itu tetap melangkahkan kakinya. Walaupun ia harus berjalan dengan pincang, ia tetap melangkah perlahan ke tepian danau.
'Aku harus melindunginya…'
Pemuda berambut cokelat itu perlahan-lahan mengangkat pedangnya, kemudian mengeratkan genggaman tangannya. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menaklukkan monster di hadapannya. Meskipun nyawa adalah taruhannya, ia harus melindungi gadis berambut pirang itu.
"Ck, ck, ck. Tidak kusangka dia bisa mengalahkan seisn-seisn yang kukirim," gumam Miguel. "Tapi dia bisa apa dengan kondisinya yang sudah seperti itu?"
Di tempat lain, Lacus juga telah memperhatikan gerak-gerik Kira. Ia menyadari kondisi tubuh Kira yang sangat mengenaskan. Membuat air mata gadis berambut panjang itu pada akhirnya menetes, membasahi kedua pipinya. Sementara itu, Nicol juga memfokuskan pandangannya ke arah pemuda bermata amethyst tersebut. Ia memperhatikan sosok pemuda yang belum pernah ia temui sebelumnya itu dengan seksama.
Roar…!
Setelah mengaum cukup keras, sang baluer raksasa langsung menjulurkan kepalanya, melesat cepat ke arah Kira. Beruntunglah pemuda berambut cokelat itu masih sempat menghindar, sehingga tidak terkena serangan sang monster. Ketika taring sang monster menancap di tanah dan tersangkut, Kira mengambil kesempatan tersebut untuk balik menyerang.
Kira menghunus pedangnya, lalu menusukkannya di sisi kiri leher sang monster. Membuat sang monster mengucurkan darah segar dan spontan mengaum kesakitan. Setelah itu sang baluer raksasa langsung mengangkat kepalanya dan menghantam tubuh Kira dengan keras, membuat pemuda bermata amethyst itu terhempas hingga punggungnya menghantam sebuah batu besar.
Darah langsung menyembur dari mulut pemuda berambut cokelat itu. Berkali-kali ia memuntahkan darahnya sendiri sambil berlutut di tanah, sementara sang baluer raksasa telah menggeliatkan tubuhnya, bersiap untuk melancarkan serangan terakhirnya.
Kira sempat mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah sang baluer. Lalu ia menoleh ke arah lain, di mana seorang gadis berambut pirang masih tersungkur di tanah. Mata amber gadis itu menatap lurus ke arahnya, menatapnya dengan tatapan sedih dan khawatir. Air mata telah mengalir deras, membasahi pipi gadis itu.
Seketika itu juga, mata amethyst Kira melebar. Tanpa ia sadari, air matanya juga telah menetes. Tidak bisa, ia tidak boleh mati di sini. Masih ada seseorang yang harus ia lindungi, masih ada hal yang harus ia lakukan. Pemuda berambut cokelat itu benar-benar tidak boleh berakhir di sini.
Kira mengeratkan giginya, lalu menggenggam erat pedang miliknya. Dengan air mata yang terus menetes, ia berusaha berdiri tegap dengan segenap kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya. Mata amethyst-nya kini menatap sang baluer yang telah mengambil ancang-ancang untuk menyerang dirinya.
Dengan tangan serta tubuh yang bergetar, pemuda berambut cokelat itu menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya. Ia bersiap menghadapi apa pun yang akan datang menghampirinya. Walaupun kemungkinan baginya untuk bertahan sangatlah kecil, namun ia telah menetapkan hatinya. Ia tidak akan mundur, tidak selangkah pun.
'Karena aku ingin dan harus melindunginya…'
Dan dalam sekejap, sang baluer menerkam pemuda bermata amethyst itu. Disaksikan oleh empat pasang mata. Dua pasang mata yang dipenuhi dengan air mata, dan dua pasang mata lainnya yang dipenuhi kepuasan.
"KIRA…!" teriak Cagalli, ketika mata amber-nya menyaksikan peristiwa yang terjadi di depannya.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
'Apa ini?'
'Sesuatu mengalir di sekitar badanku.'
Perlahan-lahan sepasang mata itu terbuka, menampilkan sepasang mata yang tidak lagi jernih, namun tetap bercahaya. Sepasang mata amethyst yang selalu memancarkan cahaya kelembutan hati sang pemilik mata tersebut.
'Angin?'
Kira merasakan tubuhnya melayang dan terombang-ambing di suatu tempat. Ketika ia membuka matanya sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya telah berada di suatu tempat yang tidak ia kenali. Tempat di mana hanya terdapat gumpalan-gumpalan kabut perak di sekitarnya. Tubuhnya merasakan hembusan angin yang lembut, hembusan angin yang bertiup dari berbagai arah menerpa seluruh tubuhnya.
"Wah, wah…" tiba-tiba saja Kira mendengar sebuah suara, Suara bariton yang terkesan bijaksana.
Kira langsung bangkit dari posisinya, ia mengedarkan pandangannya yang masih sedikit kabur ke segala arah. Hingga akhirnya ia menemukan sosok yang menjadi sumber suara barusan, sesosok mahluk besar yang tengah duduk di samping kiri pemuda berambut cokelat itu.
"K-kau…?" mata amethyst Kira melebar seketika. Mahluk yang ada di sampingnya saat ini ukurannya sangatlah besar, tingginya mencapai 25 meter atau bahkan lebih.
Mahluk besar berwarna perak keabu-abuan tersebut menarik kedua sisi mulutnya ke atas, mungkin ia tengah mengukir sebuah senyuman saat ini. Sesaat kemudian mahluk itu membentangkan kedua sayapnya, lalu mengangkat lehernya untuk mengangkat kepalanya.
"Apa kau benar-benar yakin dengan tekadmu?" tanya mahluk itu.
Kira masih terdiam, ia masih takjub dengan kehadiran sosok mahluk raksasa yang mengajaknya berbicara. Ia sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan bertemu mahluk seperti ini. Mata amethyst-nya bertatapan langsung dengan mata light goldenrod sang naga raksasa di hadapannya.
"Anak muda! Aku tanya sekali lagi," suara naga tersebut akhirnya berhasil menyadarkan Kira. "Apa kau yakin dengan tekadmu?"
Kira masih tetap terdiam membisu, ia tidak yakin dengan apa yang ditanyakan oleh naga raksasa di hadapan matanya.
"Aku bertanya padamu, Anak muda!" seru sang naga, sepertinya mahluk itu mulai kehilangan kesabarannya. "Apa kau yakin dengan tekadmu untuk melindungi orang yang penting bagimu?"
Mendengar kalimat itu, Kira langsung tersentak dan spontan ia menganggukkan kepalanya. Tidak ada sedikit pun keraguan yang tersirat di dalam sorot mata amethyst-nya. Pemuda berambut cokelat itu benar-benar serius dengan tekadnya. Ia akan mengorbankan dirinya untuk melindungi orang yang sangat berharga baginya.
Naga raksasa di hadapan Kira kembali mengubah ekspresi wajahnya, matanya menyipit dan kedua sisi mulutnya tertarik ke atas. Sesaat kemudian naga itu mengangkat kepalanya lebih tinggi sambil mengepakkan kedua sayapnya, menciptakan hembusan angin kencang di sekitarnya.
"Baiklah… Jika memang seperti itu," ujar sang naga sambil menatap Kira. "Pergi dan lindungilah dia! Aku akan mendampingimu."
Dengan itu, seluruh tubuh sang naga langsung diselimuti oleh cahaya perak. Cahaya yang sangat terang hingga menyilaukan kedua mata Kira, mengharuskan pemuda berambut cokelat itu menutup kedua mata amethyst-nya untuk sesaat. Ketika ia menutup matanya, Kira merasakan hembusan angin yang sangat kencang menerpa tubuhnya. Hembusan angin itu seolah mampu menembus masuk ke dalam tubuhnya.
'Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?'
Sesaat kemudian Kira mendengar sesuatu, kedua telinganya mendengar suara bisikan dari seseorang. Walaupun bisikan itu terdengar sangat lemah, namun Kira masih bisa menangkap setiap kata yang ia dengar. Tanpa ia sadari, bibirnya telah mengucapkan beberapa kata terakhir yang ia dengar.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
"Kira…" suara Cagalli terdengar lirih, memanggil-manggil nama itu. Gadis berambut pirang itu masih bertahan di posisinya, setelah ia menyaksikan peristiwa menyakitkan yang baru saja terjadi. Ia mengepalkan tinjunya, menghantamkannya ke tanah berkali-kali. Air mata terus mengalir deras dari kedua mata amber-nya.
Bagaimana ini bisa terjadi? Kira tidak boleh mati! Kira tidak mungkin akan mati dan meninggalkannya sendirian di sini! Semua ini tidak mungkin terjadi! Cagalli mengeratkan giginya, hatinya saat ini telah dipenuhi oleh rasa sedih, marah dan benci. Sedikit demi sedikit, kemarahan dan kebencian itu semakin menumpuk. Tanpa ia sadari, tubuhnya perlahan-lahan telah diselimuti oleh aura tipis berwarna keemasan.
Blast!
Cagalli tersentak kaget, lalu ia mengangkat kepalanya untuk memastikan apa yang tengah terjadi. Mata amber-nya menatap lurus ke tempat di mana kepala sang baluer berada, tepat di tempat baluer tersebut menerkam sosok Kira. Beberapa detik kemudian sebuah pusaran angin besar tiba-tiba saja muncul di tempat itu, menghempaskan kepala serta tubuh sang baluer raksasa masuk ke dalam air danau.
Mata amber Cagalli melebar seketika, kedua mata gadis itu mendapati sesosok pemuda tengah berdiri tegap, tepat di balik pusaran angin yang baru saja muncul. Pemuda itu memiliki rambut berwarna cokelat dan sepasang mata amethyst yang indah, walaupun sebelah matanya telah keruh oleh darah yang mengalir dari pelipisnya.
"Ki-Kira…?" gumam Cagalli. Ia hanya membeku sambil menatap sosok Kira, yang ternyata masih hidup. Pemuda itu bahkan terlihat lebih gagah dan berkharisma dibandingkan sebelumnya.
Pemuda berambut cokelat itu berdiri tegap di tempatnya. Ia menggenggam sebuah Katana berwarna dim gray di tangan kanannya, sebuah Katana yang panjangnya mencapai 75 senti meter. Pakaian yang ia kenakan saat ini juga telah berganti, ia telah mengenakan sebuah cape berwarna royal blue yang panjangnya mencapai pangkal paha si pemuda.
Di pinggang pemuda tersebut telah melingkar sebuah leather sword belt berwarna cokelat keemasan, di dadanya juga telah melingkar sebuah leather baldric berwarna saddle brown secara horisontal. Tubuh pemuda tersebut telah dibalut oleh sebuah tunic lengan panjang berwarna putih, dengan garis hitam di bagian pergelangan tangannya. Pemuda itu mengenakan celana katun bergaya abad pertengahan berwarna cokelat tua. Sebagai sentuhan akhirmya, sebuah jubah berwarna indian red yang panjangnnya mencapai mata kakinya telah melingkar dikerah leher cape yang tidak terlipat.
Sepasang mata amethyst milik pemuda yang kini terlihat bagaikan seorang kesatria pada abad pertengahan itu menatap lurus ke depan, menatap sosok sang baluer raksasa yang baru saja mengeluarkan dan mengangkat kepalanya dari dalam air danau.
Roar…!
Kira mengeratkan genggaman tangannya pada Katana miliknya, lalu ia mengangkat Katana tersebut dan mengarahkannya ke baluer di hadapannya.
"Tunjukkan hembusan anginmu padaku, Freedom!"
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Kamus Kecil:
- Cape: Sebuah mantel tanpa lengan.
- Leather Baldric: Sebuah sabuk hias yang disampirkan di bahu atau di dada.
So, gimana dengan Chap ini?
Kira akan menunjukkan kekuatannya di Chap depan... :D
Oya, kalo kalian kurang bisa membayangkan detail (mulai dari senjata, kostum para char di saat biasa ataupun saat dalam SEED Mode) kalian bisa hubungi Cyaaz via FB (lihat di halaman profil Cyaaz)...
Nanti Cyaaz akan tunjukkan beberapa gambar yang bisa membantu kalian membayangkan setting dari Fic ini... :D
PS: Selamat Merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia tercinta... :D
DK: LiA by DK
17082013
