AN: Hi, Readers… I'm Back (Padahal, Gak ada yg nyari) -_-'

Maaf karena telah mengecewakan kalian, tapi mulai sekarang Cyaaz akan kembali menghantui fandom ini dengan fic-fic Cyaaz yang super Geje dan aneh, termasuk Fic ini...

:P

Semoga kalian menikmati Chap ini ya…


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 10


Normal Pov

Seorang pemuda yang mengenakan sebuah tunic lengan panjang berwarna hitam terlihat tengah berjalan perlahan melewati pepohonan. Danau yang ia tuju hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya berada saat ini, di mana lagi-lagi ia mendapati beberapa bangkai hewan yang bergelimpangan di tanah. Kondisi bangkai-bangkai seisn tersebut cukup mengenaskan, tidak jauh berbeda dengan kondisi bangkai-bangkai groum yang ia temukan sebelumnya.

Mata emerald pemuda itu hanya sesekali melirik ke arah bangkai-bangkai tersebut, ia tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya. Satu-satunya yang ada di pikiran pemuda itu saat ini adalah, ia harus segera tiba di danau yang ia tuju dan memastikan keadaan teman-temannya. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka semua baik-baik saja.

Pemuda itu menundukkan kepalanya untuk sesaat, sekedar untuk memeriksa keadaan luka sayatan di pinggangnya. Meskipun ia masih bisa merasakan perih, namun sepertinya luka itu telah sedikit membaik. Darah telah berhenti menetes dari luka tersebut, berkat tangan kiri si pemuda yang terus memegangi lukanya untuk menghentikan pendarahan di luka sayatan tersebut. Dengan sedikit mengalirkan hawa dingin dari telapak tangannya, untuk membekukan darah yang mengalir ke luar.

Blast!

Pemuda berambut navy blue itu tersentak kaget, ketika ia mendengar suara keras dari arah danau. Ketika ia mengangkat wajahnya, mata emerald-nya menangkap sebuah pusaran angin yang muncul di dekat danau yang ia tuju. Pemandangan itu membuat ia merasa panik dan langsung memaksakan kakinya untuk mulai berlari.

Ketika ia hampir tiba di tepian danau, pemuda itu langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hal pertama yang menarik perhatian pemuda bermata emerald itu adalah sesosok monster besar yang menenggelamkan sebagian tubuhnya di dalam air danau, seekor baluer raksasa yang tengah menggeliatkan tubuhnya, berada tidak jauh di sisi kanan tempatnya berdiri saat ini.

Sepasang mata emerald milik pemuda itu melebar seketika, bukan hanya karena mendapati sosok sang baluer raksasa tadi, namun juga karena ia menyadari keberadaan sosok lain di hadapan baluer tersebut. Sesosok pemuda tengah berdiri tegap sambil menggenggam sebuah Katana berwarna dim gray di tangannya.

"Kira…" gumam Athrun, setelah ia mengenali sosok pemuda yang ia lihat.

Athrun terus memandangi gerak-gerik teman berambut cokelatnya itu dengan seksama. Kira yang telah berganti pakaian, mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke depan. Lalu ia terlihat seperti tengah mengucapkan sebuah kalimat dengan perlahan. Saat itulah mata emerald Athrun menyadari suatu benda berwarna perak keabu-abuan yang melekat di dada Kira, tepatnya di bagian kiri leather baldric yang dikenakan oleh pemuda bermata amethyst tersebut.

'Kristal Naga?'

Sesaat kemudian, Athrun mendapati Kira mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Pemuda berambut cokelat itu melompat dengan bertumpu pada kaki kanannya. Hentakkan kaki ketika pemuda itu melompat, menghasilkan hembusan angin kencang yang tidak beraturan di sekitarnya, menunjukkan betapa kuatnya pemuda bermata amethyst tersebut.

Kira menghunus pedangnya, saat ia tengah berada di udara, mengayunkan Katana berwarna dim gray miliknya ke wajah sang baluer di hadapannya. Tebasan pedangnya berhasil menyayat mata kanan sang monster, mmembuat monster itu menyemburkan darah dari lukanya dan mengaum kesakitan.

Sesaat kemudian Kira kembali melompat ke tanah, dengan menjadikan leher sang baluer raksasa sebagai pijakan sementara. Pemuda berambut cokelat itu mengusap noda darah di wajahnya menggunakan lengan bajunya, ketika ia telah berhasil mendarat dengan kedua kakinya di tepi danau, dengan posisi membelakangi sang monster.

Roar…!

Kira membuka kedua mata amethyst-nya, lalu membalikkan tubuhnya. Ia kembali berhadapan dengan sang baluer raksasa yang kini tengah menggeliat sambil mengaum kesakitan. Terlihat sebuah luka goresan yang cukup dalam dan panjang telah membekas di kelopak mata kanan monster itu.

Sesaat kemudian mata kiri baluer raksasa tersebut menatap tajam ke arah Kira, seolah ingin menunjukkan kemarahannya kepada pemuda tersebut. Di sisi lain, Kira juga menajamkan tatapan matanya. Lalu pemuda itu kembali mengambil ancang-ancang untuk menyerang, bersamaan dengan sang baluer raksasa yang juga mulai menjulurkan kepalanya ke depan.

Dan begitulah, pertarungan di antara Kira dan sang baluer raksasa terus berlanjut. Dengan lincahnya Kira melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, ia terus mengayunkan pedangnya untuk melukai lawannya. Sedangkan sang monster juga tidak mau kalah, ia terus bergerak menghindari serangan Kira dan sesekali mengibaskan ekornya untuk menjatuhkan pemuda bermata amethyst itu.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Sementara Kira masih sibuk menghadapi sang baluer raksasa, beberapa pasang mata telah mengamati pertarungan di antara mereka dengan seksama. Kelima pasang mata tersebut memancarkan sinar mata yang berbeda-beda, namun sama-sama melebar karena keterkejutan pemiliknya.

"Bedebah! Apa maksud semua ini?" gerutu Miguel yang masih berada di atas punggung heizel peliharaannya. "Laki-laki itu… Siapa dia sebenarnya?!"

Sementara itu, Nicol hanya menatap sosok Kira dalam diam. Walaupun kedua matanya tengah mengamati pergerakan Kira dengan seksama, ia tetap berkonsentrasi dalam mengunci gerakan Lacus.

Gadis berambut merah jambu itu juga hanya terdiam, ia masih terkejut akibat peristiwa yang baru saja ia saksikan dengan kedua mata sapphire miliknya. Lacus sama sekali tidak menyangka bahwa Kira juga merupakan seorang Kesatria Naga, sama seperti dirinya dan Cagalli. Terlepas dari keterkejutannya, Lacus juga merasa lega.

'Syukurlah… Kau selamat, Kira…'

Tidak jauh dari tempat Lacus dan Nicol berdiri, seorang gadis berambut pirang masih membeku di posisinya. Ia sama sekali tidak memiliki inisiatif untuk berdiri, ataupun melakukan apa pun. Mata amber-nya terpaku menatap sosok pemuda berambut cokelat yang sejak tadi bergerak lincah ke sana kemari.

"Kira…" gumam Cagalli. Tanpa disadari, ia telah mengepalkan tinjunya. Berbagai macam perasaan telah meluap-luap di dalam hati gadis bermata amber tersebut. Perasaan marah, sedih, takut, namun ada juga perasaan lega dan senang. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, membuat Cagalli merasa sangat kacau dan tidak bisa berpikir jernih.

Sesaat kemudian Kira berdiri tegap di atas sebuah batu besar di tepian danau, sementara sang monster menggerakkan kepalanya untuk mengikuti pergerakan Kira. Mata amethyst Kira sempat bertemu dengan mata kiri sang monster, keduanya hanya terdiam untuk sesaat. Mereka seolah-olah tengah mengamati kondisi lawannya sambil mengumpulkan tenaga untuk melancarkan serangan berikutnya.

Tubuh sang baluer raksasa kini telah dipenuhi dengan luka sayatan, baik luka sayatan yang ringan mau pun luka sayatan yang cukup dalam. Kira juga mendapatkan beberapa luka memar dan sayatan baru yang menambah jumlah luka-luka di sekujur tubuhnya.

Baluer raksasa tersebut kemudian mengibaskan ekornya ke arah Kira. Tentu saja Kira menahan serangan tersebut dengan Katana miliknya. Walaupun ia sempat tersentak mundur beberapa langkah, namun pada akhirnya ia berhasil menahan serangan tersebut.

Nampaknya baluer raksasa yang menjadi lawan Kira tidak kehabisan akal, tiba-tiba saja monster itu mengangkat ekornya, lalu menjatuhkannya lagi. Ia menghantam-hantamkan ekor bersisiknya itu dengan sekuat tenaga, membuat Kira kewalahan dalam menghadapi serangan bertubi-tubi tersebut.

Pada akhirnya Kira jatuh dengan bertumpu pada satu lututnya, namun ia masih menggenggam erat Katana miliknya dengan kedua tangan di atas kepalanya. Pemuda berambut cokelat itu menggenggam pedangnya dalam posisi horisontal untuk menahan serangan ekor sang baluer. Ia terus bertahan dari serangan sang monster dengan berlindung di bawah pedangnya.

Nafas pemuda berambut cokelat itu mulai tidak beraturan, nampaknya ia telah kehabisan tenaga dan rasa sakit dari luka di sekujur tubuhnya mulai semakin menyiksa. Merupakan suatu keajaiban baginya bisa bertahan hingga sejauh ini, mengingat kondisi tubuh Kira yang memang sangat mengenaskan.

Kira mengeratkan giginya, ia menyadari bahwa dirinya tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Ia harus segera menuntaskan pertarungan ini, sebelum semuanya terlambat. Pemuda berambut cokelat itu melirik ke beberapa arah, mencari sebuah celah yang bisa ia manfaatkan.

Saat itulah mata amethyst-nya kembali bertemu dengan sepasang mata amber yang tidak asing baginya. Mata amber itu menatapnya, masih dengan genangan air mata di sekitarnya, membuat Kira mendadak merasakan kepedihan di dalam hatinya.

Tidak sanggup bertatapan dengan sepasang mata amber tersebut dalam waktu yang lama, akhirnya Kira mengalihkan pandangannya. Ia menundukkan kepalanya sambil menatap lurus ke bawah, berusaha keras memikirkan cara terbaik untuk menuntaskan pertarungan ini dengan sesegera mungkin.

"Apakah dia orangnya?"

Tiba-tiba saja Kira mendengar suara naga yang ia temui sebelumnya.

"Dia, orang yang ingin kau lindungi?"

Kira mengeratkan giginya. Lalu ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang naga.

"Jika demikian, lindungilah dia! Gunakanlah hembusan angin dari kedua sayapku!"

Setelah itu Katana milik Kira mengeluarkan aura perak di sekitarnya, lalu entah bagaimana pedang itu seolah menghasilkan ledakan angin secara mendadak. Sebuah ledakan yang mampu menghempaskan ekor baluer raksasa yang sejak tadi menghantamnya.

Kira berdiri dari posisinya, ia menatap tajam ke arah baluer raksasa di depannya. Warna mata pemuda itu sedikit berubah menjadi lebih gelap dan pucat. Sesaat kemudian, ia mengangkat Katana miliknya. Bibir pemuda itu bergerak-gerak, membisikkan kalimat mantera.

"Strike Freedom!" seru Kira setalah ia menyelesaikan kalimat manteranya, kemudian ia mengayunkan pedangnya ke arah sang baluer raksasa.

Tebasan pedang Kira menghasilkan pusaran angin, sebuah pusaran angin raksasa yang mengarah tepat ke sosok baluer raksasa di hadapannya. Setelah pusaran angin tersebut mencapai tempat sang baluer, terlihat darah mulai menyembur keluar dari beberapa bagian di sekujur tubuh monster itu.

Pusaran angin tersebut bagaikan sebuah pusaran angin yang tercipta dari ratusan, bahkan mungkin ribuan pisau angin yang tajam. Membuat segala sesuatu yang bersinggungan dengan pusaran angin tersebut, akan langsung tersayat, tercabik, bahkan terpotong-potong oleh ribuan pisau angin tersebut.

Setelah beberapa saat berlalu, tubuh baluer raksasa yang masih berada di danau tersebut telah dipenuhi dengan luka sayatan yang serius. Leher monster tersebut bahkan nyaris terpotong setengahnya. Air danau di sekitar baluer tersebut kini bahkan telah berubah warna, tercemar oleh darah sang monster yang mengucur deras. Tubuh baluer itu akhirnya tumbang, masuk dan tenggelam ke dalam air danau. Mengakibatkan air danau langsung menyembur dengan sangat deras, menciptakan hujan air berwarna kemerahan di sekitar danau tersebut.

Keenam orang yang berada di sekitar danau hanya menatap kematian sang baluer untuk sesaat, kemudian seorang pemuda berambut hijau tiba-tiba saja tersentak karena ia baru saja menyadari sesuatu. Ia segera menghilang dari tempatnya, meninggalkan gadis yang sejak tadi ia sekap. Membuat gadis berambut panjang itu terjatuh berlutut di tanah.

"Apa yang?" Lacus mengusap pergelangan tangan kanannya yang sejak tadi dicengkram erat oleh Nicol, lalu ia segera mengambil tongkat putih miliknya.

Lacus mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, lalu ia menemukan sosok orang yang tidak asing baginya. Seorang pemuda berambut navy blue yang saat ini tengah berdiri terpaku di tempatnya yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat Lacus berada. Mengetahui sosok Athrun, Lacus segera bangkit dan bermaksud untuk menghampiri pemuda tersebut.

"Sial!" seru seseorang dari atas ketinggian, membuat Lacus, Kira, Athrun dan bahkan Cagalli mengangkat wajah mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. "Bisa-bisanya kau melakukan ini…" geram Miguel sambil mengeratkan genggaman tangan pada cambuk miliknya.

Mendengar perkataan Miguel barusan, Kira langsung mengarahkan Katana-nya ke atas. Mata amethyst-nya menatap tajam ke arah Miguel, seolah-olah menantang pemuda berambut pirang tersebut. Tentu saja hal tersebut berhasil memancing amarah Miguel, pemuda yang masih berdiri di atas punggung heizen peliharaannya itu langsung mengeratkan giginya.

"Bedebah!" Miguel mengangkat cambuknya tinggi-tinggi ke udara, nampaknya ia siap untuk memanggil peliharaannya yang lain.

"Hentikan, Miguel!" tiba-tiba saja terdengar suara dari belakang, membuat Miguel terkejut dan sontak menolehkan wajahnya.

Di belakang pemuda berambut pirang itu kini berdirilah seorang pemuda lain yang memiliki rambut berwarna hijau, raut wajahnya terlihat serius dan ia melipat tangannya di depan dada.

"N-Nicol?" Miguel benar-benar terkejut mendapati sosok rekannya. "Sejak kapan kau?" tanya Miguel sambil menurunkan cambuknya.

Nicol mengerutkan dahinya. "Kau kira aku tidak menyadari kepergian kalian hah?!" tanya Nicol, sedikit membentak. "Tuan Rau tidak akan senang mendengar apa yang akan aku laporkan kepadanya."

Miguel terlihat sedikit gugup, setelah ia mendengarkan perkataan Nicol. "Nicol, aku dan Rusty hanya-."

"Rusty tewas," potong Nicol.

Kedua mata Miduel melebar seketika. "Apa?!"

"Dia tewas di tangannya," ujar Nicol sambil menundukkan kepalanya untuk memandang ke arah seorang pemuda berambut navy blue yang saat ini juga tengah memandang ke arahnya.

Miguel mengikuti arah pandangan mata Nicol, lalu ia tersentak dan bergumam, "Tidak mungkin…"

Nicol mengangkat kembali kepalanya untuk menatap Miguel. "Kembali ke kastil! Sekarang!"

Miguel tersentak, ia hanya menatap Nicol untuk sesaat, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Menyadari posisi mereka yang telah tidak berada di atas angin, Miguel mengecam cambuknya ke punggung heizen yang ia tunggangi. Membuat heizen tersebut sempat mengeluarkan suara yang melengking, kemudian heizen tersebut mengepakkan kedua sayapnya, terbang melesat menjauh dari danau.

Keempat orang yang tersisa di tepian danau hanya terpaku di tempat mereka selama beberapa saat, kemudian seorang gadis berambut pirang di antara mereka memutuskan untuk bangkit dari posisinya yang sejak tadi tersungkur di tanah. Sepasang mata amber itu langsung tertuju pada sosok pemuda berambut cokelat yang saat ini masih berdiri tegap di tempatnya.

"Kira…" gumam Cagalli, lalu ia segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri pemuda yang baru saja ia sebut namanya. Mulanya ia berjalan dengan perlahan, namun lama-kelamaan ia meningkatkan kecepatannya hingga akhirnya ia berlari. "Kira!" seru Cagalli.

Kira yang mendengar namanya dipanggil, seketika itu juga langsung menolehkan wajahnya. Mata amethyst pemuda itu langsung mendapati sosok Cagalli yang berlari ke arahnya, membuat ia membalikkan tubuhnya, bersiap untuk menyambut kedatangan gadis bermata amber itu.

Tanpa memberi peringatan apa pun, gadis berambut pirang itu langsung menyambar tubuh Kira. Ia memeluk erat-erat sosok pemuda berambut cokelat yang masih menggenggam sebuah Katana di tangan kanannya, samar-samar terdengar suara isak tangis Cagalli yang saat ini tengah membenamkan wajahnya di bahu pemuda bermata amethyst itu.

Sebuah senyuman lembut, tiba-tiba saja terukir di wajah Kira. "Syukurlah, kau tidak apa-apa," bisik Kira sambil membalas pelukan Cagalli.

Mendengar ucapan Kira, Cagalli langsung tersentak. "Dasar bodoh! Kau benar-benar bodoh!" seru gadis berambut pirang itu di sela-sela isak tangisnya. "Jangan lakukan itu lagi!"

Kira tidak menjawab Cagalli, ia hanya semakin melebarkan senyuman di wajahnya sambil membelai rambut Cagalli dengan tangan kirinya. Sesaat kemudian, Kira memandang ke arah tangan kanannya yang masih menggenggam sebuah Katana berwarna dim gray.

'Dengan ini, aku pasti bisa melindunginya…'

Tidak jauh dari tempat Kira dan Cagalli berada, seorang pemuda tengah memandang sosok kedua orang tersebut dengan mata emerald-nya. Pemuda itu terlalu berfokus kepada apa yang ia amati, sehingga ia tidak menyadari kedatangan seseorang.

"Athrun?" terdengar suara seorang wanita dari sisi kiri pemuda berambut navy blue itu. "Kau tidak apa-apa?"

Athrun mengalihkan pandangannya ke kiri dan mendapati Lacus telah berdiri di sampingnya, hadis berambut merah jambu itu tengah memandanginya dengan tatapan khawatir.

"Jangan khawatir," ujar Athrun. Ia menyempatkan dirinya untuk melirik ke luka di pinggangnya untuk sesaat, lalu kembali menatap Lacus. "Luka ini tidak terlalu parah."

Tatapan mata Lacus langsung melembut, setelah ia mendengar jawaban dari Athrun tadi. Gadis itu menganggukkan kepalanya, lalu mengalihkan wajahnya ke kiri. Menatap ke arah sosok Kira dan Cagalli berada.

"Kira…" gumam Lacus. "Rupanya dia juga seorang Kesatria Naga…"

Athrun menganggukkan kepalanya, lalu ia ikut memandang ke arah dua orang yang masih berpelukan di tepian danau.

'Sudah kuduga, dia juga seorang Kesatria Naga.'

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Seorang pria berambut pirang tengah berdiri tegap di hadapan sebuah perapian, pria itu menatap lurus ke arah kobaran api di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di belakang pinggangnya. Pria bertopeng putih itu membelakangi dua orang pemuda yang telah berlutut dengan bertumpu pada satu lutut mereka, seorang pemuda berambut pirang yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya dan seorang pemuda berambut hijau yang mengangkat kepalanya untuk menatap punggung pria di hadapannya.

"Jadi…" gumam Rau, tanpa menoleh sedikit pun. "Rusty telah tewas di tangan Athrun Zala?"

Miguel hanya mengepalkan tinjunya, ketika telinganya mendengar pertanyaan tersebut. Sementara Nicol menganggukkan kepalanya, lalu pemuda berambut hijau itu berkata, "Benar, Tuan Rau. Saya sempat merasakan aura SEED milik Rusty dan Athrun saling berbenturan selama beberapa menit, tetapi saat saya tiba di danau tempat di mana Miguel berada…" Nicol sempat melirik ke arah Miguel, lalu ia kembali menatap punggung Rau. "Aura SEED milik Rusty sudah lenyap."

Hening sempat menyelimuti keadaan di dalam ruangan tersebut, hingga pada akhirnya terdengar helaan nafas dari Rau. "Lalu, apa lagi yang bisa kalian laporkan kepadaku?" tanya Rau.

Nicol menganggukkan kepalanya. "Kami menemukan seorang… Kesatria Naga."

"Maksudmu, gadis yang datang bersama Athrun Zala?" tanya Rau.

Nicol sempat tersentak ketika mendengar pertanyaan Rau. "Tidak, bukan dia orangnya."

Kali ini giliran Rau yang tersentak kaget, sontak pria berambut pirang itu membalikkan tubuhnya dan menatap Nicol. "Apa?!"

"Kesatria naga yang sempat bertarung dengan baluer raksasa peliharaan Miguel tadi adalah seorang pria," jawab Nicol. "Saya juga belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya."

Rau sempat terdiam untuk sesaat, ekspresi wajah pria itu tidak bisa dibaca karena topeng yang ia kenakan. Pada akhirnya pria itu kembali bertanya dengan nada yang datar. "Apa tipe SEED Kesatria Naga itu?"

"Wind-SEED," jawab Nicol singkat.

Mendengar jawaban dari Nicol, Rau hanya menghela nafas panjang, sebelum ia akhirnya berkata, "Ceritakan kepadaku dengan rinci mengenai semua yang terjadi siang ini!"

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Oranye dan emas. Ke mana pun mata memandang, hanya dua warna itu yang akan kalian temukan di tempat ini. Tempat ini adalah sebuah tempat yang tenang, namun dipenuhi dengan hawa panas yang sangat menyengat. Hawa panas tersebut berasal dari kobaran api keemasan yang terus menyala selama ribuan tahun lamanya.

Di antara kobaran api tersebut, terlihat sesosok mahluk yang tengah berbaring tengkurap. Mahluk raksasa berwarna keemasan itu menghembuskan asap di setiap nafasnya, kepulan asap tipis yang mampu membakar kayu dengan mudahnya. Keempat kaki mahluk itu terlipat sedemikian rupa untuk menyangga tubuhnya yang berselimutkan kedua sayap emas yang lebar, ekor panjang berhiaskan beberapa sirip tajam miliknya tergeletak di samping tubuhnya.

Mata mahluk raksasa itu tiba-tiba saja terbuka, menampilkan bola matanya yang bersinar. Sepasang mata berwarna cyan yang berkilauan bagaikan berlian. Sesaat setelah sepasang mata itu terbuka sepenuhnya, mahluk itu mulai mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu, lalu menyipitkan kedua matanya, setelah beberapa detik berlalu dalam kesunyian.

"Cih, bahkan Freedom juga," terdengar suara tenor. Mahluk itu berbicara, entah kepada siapa.

Setelah itu mahluk raksasa tersebut bangkit dari posisinya, ia berdiri tegap dengan bertumpu pada keempat kakinya. Kedua sayapnya ia bentangkan, seolah ingin memperlihatkan sosoknya yang gagah dan perkasa.

"Sampai kapan kau akan membiarkan aku membusuk di tempat ini?!" geram mahluk itu sambil mengayun-ayunkan ekornya. "Cepat serukan namaku dan biarkan aku ikut bersenang-senang, Kesatria Naga Api!"

Mahluk raksasa itu membuka rahangnya lebar-lebar, dari rahang besarnya itu terdengar suara gemuruh yang sangat nyaring. Suara itu merupakan suara auman yang mampu memekakan telinga siapa pun yang mendengarnya, suara auman yang mampu menunjukkan betapa murkanya naga emas tersebut saat ini.

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

Cagalli's PoV

Kedua mataku terbuka lebar seketika. Nafasku terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahku dan jantungku berdebar kencang. Sepertinya aku baru saja bermimpi buruk, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan sambil menutup kedua mataku sejenak. Setelah itu aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, berusaha mengamati keadaan di sekitarku yang tidak begitu terang.

Saat aku menoleh ke kanan, aku melihat Lacus yang tertidur di sampingku. Punggungnya bersandar pada dinding batu, raut wajahnya terlihat damai. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke depan. Di sana berbaringlah seorang laki-laki berambut cokelat, kedua matanya juga tertutup rapat. Terakhir, aku menoleh ke kanan, seorang laki-laki sedang duduk di dekat mulut gua. Laki-laki menyebalkan itu juga terlihat sedang tertidur pulas dengan bersandar pada dinding gua.

"Hhh…" aku menghela nafasku, setidaknya mereka semua baik-baik saja.

Setelah beberapa menit berlalu, aku berdiri perlahan dan melangkahkan kakiku ke depan. Aku menghampiri laki-laki berambut cokelat yang terbaring di lantai gua, lalu berjongkok di hadapannya. Aku menatap wajah laki-laki itu untuk sesaat, lalu mengelus pipinya dengan lembut. Laki-laki itu sempat mengerang pelan, merasakan sentuhan tanganku di wajahnya. Reaksi yang ia berikan berhasil membuatku melembutkan tatapan mataku.

Setelah Kira mengalahkan baluer raksasa tadi siang, aku langsung memeluknya seerat mungkin. Setelah beberapa menit, badan Kira tiba-tiba saja ambruk. Kira jatuh pingsan, tepat di hadapanku. Hal itu tentu saja membuatku sempat panik tidak karuan dan berteriak histeris memanggil namanya. Untung saja ada Lacus yang datang, lalu menenangkanku. Kemudian aku memapah Kira, dibantu oleh si laki-laki menyebalkan. Kami berempat berjalan beberapa ratus meter menjauhi danau, sampai kami menemukan gua ini.

Selama beberapa menit Lacus terus menggunakan kekuatan SEED-nya untuk menyembuhkan luka-luka Kira, kemudian ia beralih untuk menyembuhkan luka si laki-laki menyebalkan dan terakhir, ia menyembuhkan lukaku. Itulah sebabnya, Lacus pasti sangat lelah sekarang. Ia sudah menghabiskan banyak tenaga untuk menyembuhkan semua luka kami.

Aku menyipitkan kedua mataku, lalu bangkit dari posisiku. Aku masih menatap lembut wajah Kira dan Kristal Naganya untuk sesaat, sebuah Kristal Naga berwarna perak yang menempel pada sabuk kulit di dada Kira. Kemudian aku berbalik dan mulai melangkah pergi keluar dari gua, sekedar ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikiranku. Setelah berjalan beberapa meter dari mulut gua, aku duduk di atas sebuah batu.

Aku menyangga daguku dengan kedua telapak tanganku yang bertumpu pada kedua lututku. Mataku menatap kosong ke langit, tidak yakin dengan apa yang sedang ingin aku lakukan sekarang. Aku hanya ingin sendirian, merenungi peristiwa-peristiwa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tiba-tiba aku mendengar suara, setelah beberapa menit duduk diam di tempatku.

Dengan malas, aku melirik ke arah sumber suara. Tanpa melihat pun, aku sudah tahu siapa dia. Si laki-laki menyebalkan berambut biru tua itu sudah berdiri beberapa meter di samping kananku. Aku benar-benar tidak ingin berurusan dengannya sekarang. Jadi aku hanya memutar bola mataku dan menghela nafas, tanpa memberikan respon lain padanya.

"Cepat kembali ke dalam!" laki-laki menyebalkan itu bicara lagi. "Usaha Kira untuk melindungimu tadi akan sia-sia saja, jika kau terus duduk di sini dan menjadi santapan tengah malam hewan buas."

Twitch...

Seketika itu juga aku mengarahkan death-glare-ku pada laki-laki menyebalkan itu. Apa ia tidak mengerti kalau aku sekarang benar-benar tidak ingin diganggu? Apa ia tidak mengerti kalau aku sedang sangat frustasi karena memikirkan diriku yang tidak berguna ini? Aku tahu dan aku menyadarinya. Di antara kami berempat, akulah yang paling tidak berguna.

Kalau bukan karena Kira, aku pasti sudah mati siang tadi. Kira, ia sudah melindungiku. Ia sudah berjuang sangat keras hari ini, sampai-sampai badannya dipenuhi luka. Aku benar-benar merasa bersalah dan sedih, baru kali ini aku melihat Kira terluka sampai separah itu.

Aku mengeratkan gigiku, memikirkan kondisi Kira tadi siang benar-benar membuatku emosi. Sampai kapan aku akan terus membebani Kira dan yang lainnya? Apa aku benar-benar setidak berguna itu? Benar-benar menyedihkan!

"Hey! Apa kau tuli?" lagi-lagi aku mendengar suara si laki-laki menyebalkan itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk menoleh padanya. Laki-laki menyebalkan itu menatapku dengan kedua mata hijaunya. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sedang tidak main-main, ia serius menyuruhku untuk kembali ke dalam gua.

Aku kembali menatap lurus ke depan, mengabaikan ancaman serius yang tersirat di sorot mata hijau laki-laki menyebalkan itu. Sesaat kemudian, aku bertanya, "Bagaimana caranya?" aku tidak mendapatkan respon apa pun selama beberapa detik, mungkin laki-laki menyebalkan itu tidak mengerti dengan apa yang sedang aku tanyakan. "Bagaimana caranya, supaya aku bisa sekuat Kira, Lacus dan juga… Kau?" tanyaku lebih jelas.

Laki-laki menyebalkan berambut biru tua itu, tidak merespon untuk beberapa saat, sampai akhirnya aku mendengar ia menghela nafas dan menjawab, "Pertama-tama, kau harus bisa memanggil sang Naga Api yang ada dalam Kristal Nagamu."

Aku menoleh untuk menatap laki-laki menyebalkan di sampingku. "Bagaimana? Aku sudah berusaha mengikuti semua yang kau suruh saat kau melatihku dan Kira," kataku. "Tapi sampai sekarang, aku bahkan belum bisa menggunakan GUNDAM-ku."

Lagi, laki-laki menyebalkan itu menghela nafas, lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatapku tajam. "Tidak bisakah kau mengingatnya?"

Aku mengangkat alisku, tidak mengerti apa yang ia maksud. "Ingat apa?"

"Perasaan dan apa yang ada dalam pikiranmu, saat kau menyelamatkanku dari serangan Rusty," jawabnya. "Tidak bisakah kau mengingatnya?"

_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Dan yup!

Sekian dulu Chapter ini Cyaaz akhiri...

Trima kasih karena sudah membaca dan mohon meninggalkan jejak di kotak Review bila berkenan...


DK: LiA by DK

11122013