Hola...

Jumpa lagi dg Cyaaz si Author GJ.

Karna lg mood sm Fic Adventure, update lah DK.

Masih ingt kh dg Fic ini?

Mohon maafkan keleletan Cyaaz dlm mng-update Fic ya...

T_T


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 11


Norma PoV

Hutan Aprilius merupakan salah satu hutan terluas dan paling berbahaya di PLANT. Hutan ini dipenuhi oleh berbagai jenis tumbuhan liar, pohon-pohon besar dan berbagai jenis hewan yang berkeliaran di mana-mana. Hutan ini jarang, bahkan hampir tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Hal itu dikarenakan terdapatnya ratusan ekor hewan buas dan bahkan monster yang tersebar di seluruh penjuru hutan, belum lagi ada kabar angin yang mengatakan bahwa markas dari prajurit ZAFT berada di sana. Jauh di bagian utara hutan Aprilius, di mana terdapat sebuah kastil. Sebuah kastil tua yang diselimuti oleh kabut dan aura hitam yang pekat.

Jauh di dalam hutan Aprilius, terlihat beberapa orang tengah mengintip keadaan melalui celah dedaunan tanaman liar. Keempat pasang mata tersebut tengah sibuk mengamati keadaan sebuah kastil besar di depan mereka dengan seksama, sebelum mereka menginjakkan kaki mereka di wilayah sekitar kastil yang diselimuti oleh kabut hitam.

"Kalian lihat?" tanya seorang pemuda di antara keempat orang tadi. "Itu adalah ZAFT castle."

Seorang pemuda berambut cokelat dan seorang gadis berambut pirang langsung menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, setelah mereka mendengar perkataan pemuda berambut navy blue di samping mereka.

"Jadi, apakah kita langsung menyerang dari depan?" tanya seorang gadis berambut merah jambu.

Athrun menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Tidak ada gunanya kita menyerang secara sembunyi-sembunyi," Athrun menoleh ke kanan untuk menatap ketiga temannya yang telah menatapnya. "Nicol pasti sudah menyadari kedatangan kita sekarang."

Lacus menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia mengerti. Kemudian keempat orang itu beranjak dari tempat mereka berada. Keempatnya berjalan lurus menuju ZAFT castle, tempat di mana mereka akan menghadapi pertarungan melawan prajurit ZAFT yang tersisa.

Athrun berjalan di tempat paling depan, memimpin ketiga temannya. Di belakang pemuda berambut navy blue itu, Cagalli dan Lacus berjalan beriringan, sedangkan Kira berjalan di tempat paling belakang. Mereka mulai memasuki wilayah di sekitar kastil yang diselimuti kabut hitam. Setelah berjalan selama beberapa menit, belum ada hal aneh yang terjadi. Walaupun suasana di sekeliling mereka sangatlah mencekam, sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda dari musuh. Suara yang terdengar oleh telinga keempat orang itu hanyalah suara hewan-hewan liar dari kejauhan.

Athrun mengedarkan pandangan mata emerald-nya ke segala arah. Ke kanan dan kiri, di mana terdapat puluhan pohon berdiri dengan kokoh. Pohon-pohon tersebut memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Ada di antaranya yang berbentuk seperti pohon cemara, palem kecil dan pohon maple.

Kemudian ia menolehkan kepalanya ke belakang, sekedar untuk mengintip ke arah mereka datang tadi. Pemandangan yang ia temukan tidaklah jauh berbeda dengan pemandangan di samping kanan dan kirinya, hanya pepohonan dan semak belukar yang lebat.

Ketika ia menyadari keadaan di sekitarnya yang sedikit aneh, Athrun mulai merasakan firasat buruk. Ia sangat yakin bahwa para prajurit ZAFT pasti telah menyadari kedatangannya sejak tadi, namun hingga saat ini tidak ada sambutan apa pun dari mereka.

'Ini terlalu sunyi, ke mana semua prajurit ZAFT?'

'Mungkinkah ini…?'

Plok, plok, plok.

Athrun, Cagalli, Lacus dan juga Kira langsung tersentak. Mereka berempat mengangkat wajah secara bersamaan, menatap tepat ke arah puncak menara utama ZAFT castle.

Di atas atap menara utama tersebut, seorang pemuda berambut pirang tengah berdiri tegap sambil mengukir seringaian kecil di wajahnya. "Selamat datang di ZAFT castle."

Athrun langsung menyipitkan kedua matanya. "Rupanya kau orang pertama yang akan menyambut kedatangan kami, Miguel?"

Seringaian di wajah Miguel menjadi semakin lebar. "Yah…" Miguel memainkan sebuah Kristal SEED berwarna spring green di tangan kanannya. Kemudian kristal itu memancarkan cahaya berwarna hijau. Seketika itu juga, Kristal SEED itu berubah menjadi sebuah cambuk berwarna cokelat keemasan. "Lebih tepatnya, sebagian dari kalian."

Cagalli, Lacus dan Kira tersentak, sedangkan Athrun langsung melebarkan kedua mata emerald-nya. Belum sempat mereka memberikan reaksi lain, Miguel telah mengecam cambuknya ke udara. Kira, Athrun, Lacus dan Cagalli merasakan sesuatu dari bawah kaki mereka, tanah tempat di mana mereka berdiri saat ini tengah berguncang dengan sangat hebat. Sesuatu bergerak dari dalam tanah, tepat di antara kaki-kaki mereka.

Seekor cacing raksasa yang diameter tubuhnya mencapai lebih dari satu meter tiba-tiba saja keluar dari dalam tanah, memecah lapisan tanah dan menciptakan guncangan yang kuat. Hal itu membuat tubuh Athrun dan yang lainnya sontak terhempas ke berbagai arah.

Sang cacing raksasa berwarna hitam sempat mendesis, lalu ia langsung bergerak melesat ke arah Cagalli. Gadis yang baru saja jatuh terduduk itu masih dalam keadaan shock, sehingga ia tidak sempat memberikan reaksi apa pun. Dalam sekejap sang cacing raksasa telah menghampiri sosok Cagalli dan menelan gadis berambut pirang itu bulat-bulat, membuat Kira, Lacus dan Athrun terkejut setengah mati.

"CAGALLI!" teriak Kira, pemuda bermata amethyst itu langsung berdiri dan menghampiri sang cacing raksasa yang tengah menggeliatkan tubuhnya untuk pergi menjauh. Dengan rasa panik yang luar biasa di hatinya, pemuda berambut cokelat itu bermaksud untuk menyelamatkan Cagalli.

Kira berlari mengejar sang cacing raksasa dari belakang. Saat ini cacing raksasa sepanjang 15 meter tersebut tengah melata dengan cepat menuju sisi kanan ZAFT castle, tentu saja dengan membawa Cagalli yang telah berada di dalam perutnya. Sementara Athrun dan Lacus yang sempat terpaku di tempat mereka, akhirnya mulai bangkit dan bermaksud untuk melakukan hal yang sama dengan Kira. Namun ketika mereka berdua baru beranjak sejauh beberapa meter, tiba-tiba saja lapisan tanah di hadapan mereka retak. Sesaat kemudian, cacing raksasa yang serupa dengan cacing yang menelan tubuh Cagalli muncul dari retakan tanah tersebut.

"Cih, glyst keparat!" geram Athrun, ia dan Lacus terpaksa menghentikan langkah mereka karena kemunculan seekor glyst lain yang menghadang tepat di hadapan mereka. Seketika itu juga Athrun menggenggam Kristal SEED miliknya dan mengubahnya menjadi GUNDAM, mengubah kristal berwarna dodger blue tersebut menjadi sebuah Broadsword berwarna perak dengan gagang berwarna hitam.

Dengan kedua tangan yang telah menggenggam Broadsword miliknya, Athrun segera bergerak menghampiri sang glyst. Pemuda bermata emerald itu mengayunkan pedangnya untuk membelah sang glyst dan berhasil. Namun pertarungan belumlah berakhir, tubuh glyst yang terbelah menjadi dua bagian tadi masih menggeliat. Dalam hitungan detik kedua potongan tubuh glyst tersebut tumbuh dan menjadi utuh, melahirkan dua ekor glyst baru dengan ukuran yang sama besarnya.

"Apa yang?" Athrun melompat mundur, menghindari seekor glyst yang menyerang ke arahnya. "Cacing busuk!" geram pemuda bermata emerald itu, setelah ia berhasil mendarat dengan kedua kakinya.

"Ahahaha," terdengar suara tawa dari atas ketinggian. "Asal kau tahu, Zala!" kata Miguel yang masih berdiri di atas menara kastil. "Glyst yang hidup di hutan Aprilius ini sangatlah istimewa," Miguel mengukir sebuah seringaian lebar di wajahnya. "Semakin banyak kau memotong tubuh mereka menjadi bagian-bagian kecil, semakin banyak jumlah glyst baru yang akan terlahir."

Mendengar pernyataan Miguel barusan, Athrun langsung mengeratkan giginya. Kedua tangannya juga semakin erat menggenggam Broadsword miliknya dan tatapan mata emerald-nya juga semakin tajam. Pemuda berambut navy blue itu kesal, benar-benar kesal dan marah.

"Athrun!" panggilan Lacus membuat Athrun tersentak dan menoleh ke kanan, rupanya saat ini Lacus telah berada dalam SEED Mode. "Bersiaplah, mereka datang."

Mata emerald Athrun sempat melebar, namun pemuda itu segera menetapkan hatinya dan mengangguk untuk menjawab Lacus. Kemudian ia kembali menatap lurus ke depan, di mana saat ini telah berjajar beberapa ekor glyst yang siap menyerangnya.

Lagi-lagi, sebuah seringaian lebar terukir di wajah Miguel. "Serang mereka!" Miguel mengecam cambuknya ke udara. Seketika itu juga, sekelompok glyst yang berjajar di halaman depan ZAFT castle bergerak untuk menyerang Lacus dan Athrun.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Kira masih berlari mengejar seekor glyst yang terus melesat dengan kecepatan tinggi, pemuda berambut cokelat itu kini telah berada di depan menara paling ujung ZAFT castle. Ketika kesabarannya mulai hilang, Kira segera meraih Kristal Naga yang melekat pada leather baldric di dadanya. Seketika itu juga sebuah Katana muncul di genggaman tangan kanan pemuda bermata amethyst tersebut.

"Berhenti! Cacing besar!" seru Kira, kemudian ia mengayunkan Katana-nya, menciptakan sebuah pisau angin yang melesat ke arah sang glyst.

Sang glyst menyadari serangan yang datang ke arahnya, membuatnya segera bergerak ke samping untuk menghindari pisau angin ciptaan Kira. Hal itu membuat pisau angin tersebut menghantam dinding kastil dan menciptakan retakan yang cukup parah di dinding berwarna sandy brown tersebut.

Sang glyst langsung membalikkan tubuhnya, lalu melesat cepat ke arah Kira. Pemuda berambut cokelat itu spontan mengangkat Katana-nya, bersiap untuk membelah tubuh sang glyst. Ketika Kira akan menebas pedangnya ke arah sang glyst di hadapannya, tiba-tiba saja sesuatu melintas di benak pemuda bermata amethyst tersebut. Hal itu membuat ia tersentak dan mengurungkan niatnya untuk menebas tubuh sang glyst.

'Bagaimana kalau seranganku mengenai Cagalli?'

Pemikiran itu membuat Kira tidak berani melancarkan serangan kepada sang glyst dengan sembarangan. Ia harus memikirkan suatu serangan yang tidak akan melukai Cagalli yang masih berada di dalam perut sang cacing raksasa. Namun sayangnya, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berpikir dan berdiam diri.

Saat ini sang glyst telah berada di hadapan Kira, bersiap melahap pemuda berambut cokelat itu. Kira masih membeku di posisinya, ia tidak yakin dengan apa yang harus ia lakukan. Akibatnya tubuh pemuda itu berhasil ditelan bulat-bulat oleh sang glyst, sama seperti yang terjadi pada Cagalli. Setelah itu sang glyst kembali meneruskan perjalanannya, ia menghancurkan lapisan tanah dan menggeli lubang di bawah menara paling ujung ZAFT castle, lalu masuk ke dalam lubang tersebut.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Dari dalam salah satu menara bagian depan dari ZAFT castle, seseorang tengah memperhatikan keadaan di luar jendela dengan seksama. Sepasang mata itu mengamati sebuah pertarungan yang tengah terjadi di halaman depan kastil. Pertarungan tersebut melibatkan seorang pemuda berambut navy blue, seorang gadis berambut merah jambu dan sekelompok glyst.

"Sudah dimulai rupanya?" terdengar suara seseorang dari belakang, membuat si pemuda yang sejak tadi menatap ke luar jendela langsung membalikkan tubuhnya.

Pemuda berambut hijau itu langsung menjatuhkan satu lututnya ke lantai dan menundukkan kepalanya, ketika ia mendapati sosok seorang pria berambut pirang yang menggunakan topeng berwarna putih tengah berdiri tegap beberapa meter di hadapannya.

"Ya, Tuan Rau," jawab si pemuda berambut hijau, tanpa mengangkat wajahnya. "Miguel sudah menyambut Athrun Zala dan Lacus Clyne."

Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Rau. "Baiklah," Rau melangkah maju hingga ia berdiri di samping anak buahnya, kedua mata Rau terfokus pada pertarungan sengit yang terjadi di luar kastil. "Ada baiknya kau juga segera pergi, Nicol," Rau menoleh untuk menatap sosok pemuda berambut hijau yang masih bertahan di posisinya. "Beri sambutan yang pantas kepada kedua Kesatria Naga itu."

Nicol langsung mengangguk kecil, lalu sosok pemuda berambut hijau itu lenyap ditelan oleh segumpal kabut berwarna dark orchid, meninggalkan Rau yang kembali menoleh ke luar jendela. Mata pria berambut pirang itu saat ini tengah mengamati pergerakan dari seseorang, seorang pemuda bermata emerald yang kini tengah sibuk mengayunkan pedang besarnya ke sana kemari.

"Athrun Zala ya?" gumam Rau. "Tidak ada salahnya jika aku ikut menyambutnya sebentar."


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Basah, gelap, lengket dan menjijikkan, itulah yang ada di pikiran seorang gadis berambut pirang yang mati-matian menahan rasa mualnya. Saat ini ia tengah berada di suatu tempat yang sempit dan dipenuhi oleh lendir menjijikkan. Gadis itu telah berusaha membenahi posisi tubuhnya yang melingkar tidak karuan, namun gagal karena terbatasnya ruang yang ada dan dinding tempat di mana ia berada selalu bergerak-gerak.

"Sial!" gerutu Cagalli. "Aku harus segera keluar dari perut cacing menjijikkan ini!"

Gadis itu kembali berusaha menggerakkan tubuhnya, berusaha menarik tangan kanannya yang terhimpit di antara kedua kakinya. Ketika ia merasa bahwa usahanya hampir berhasil, tiba-tiba saja ia merasakan guncangan hebat, membuat ia tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya untuk menatap ke depan. Mata amber-nya sempat menangkap seberkas cahaya yang masuk, namun cahaya itu tidak bertahan lama dan langsung menghilang. Sesaat kemudian Cagalli mendengar sesuatu yang semakin mendekat dan…

Bruk!

"Aw…!" sesuatu yang cukup keras telah menghantam kening gadis bermata amber tersebut.

"Aduh…" di saat yang hampir bersamaan, terdengar suara rintihan orang lain.

Ketika ia mendengar dan menyadari siapa pemilik dari suara rintihan tersebut, Cagalli langsung membuka kedua matanya yang sempat tertutup. "Kira?"

"Cagalli? Apa itu kau?" tanya suara yang ada di hadapan Cagalli, kemudian Cagalli merasakan sepasang telapak tangan telah menyentuh kedua sisi wajahnya. "Syukurlah, kau baik-baik saja."

"Kira bodoh!" bentak Cagalli. "Kenapa kau juga sampai tertelan cacing ini?"

"Um, ya…" jawab Kira. "Itu tidak penting," Kira menarik kedua tangannya yang tengah menyentuh pipi Cagalli. "Yang penting sekarang kita harus keluar dari sini."

"Aku pasti sudah keluar dari tadi," sahut Cagalli. "Kalau saja posisiku tidak sekacau ini," Cagalli berusaha menarik tangannya lagi. "Aku pasti sudah membakar cacing menjijikkan ini."

Kira hanya terdiam untuk beberapa saat. Entah bagaimana, Cagalli merasa jika pemuda berambut cokelat itu tengah tersenyum saat ini. Membayangkan Kira tersenyum membuat gadis berambut pirang itu sedikit kesal, bisa-bisanya sahabat baiknya itu tersenyum dan menertawakan keadaannya saat ini.

"Baiklah," tiba-tiba saja Kira angkat suara." Aku akan membelah perut monster ini."

Kira menggenggam Katana miliknya yang sempat ia lepaskan, kemudian menusuk lapisan dinding perut sang cacing raksasa dan segera menarik pedangnya ke atas dengan sekuat tenaga. Ia berusaha merobek perut sang cacing raksasa agar bisa keluar dari tempat menjijikkan itu dan usahanya berhasil, perut sang glyst telah robek hingga hampir sepenuhnya dalam hitungan detik.

Kira langsung berdiri, lalu membantu Cagalli untuk ikut berdiri di sampingnya. Ketika mereka berdua mengamati keadaan di sekeliling mereka, rupanya saat ini mereka telah berada di dalam sebuah lorong yang sangat luas. Lorong tersebut berdinding batu dan nampaknya terbentuk secara alami. Mungkin saat ini mereka tengah berada di sebuah lorong bawah tanah atau semacamnya.

Di sudut-sudut lorong tersebut terlihat ada beberapa bongkahan kristal yang melekat pada dinding dan lantai lorong, kristal-kristal tersebut sebagian besar berbentuk prisma dengan berbagai macam ukuran. Semua kristal tersebut memancarkan seberkas cahaya berwarna cyan, menciptakan penerangan alami yang membuat keadaan lorong bawah tanah tersebut menjadi tidak begitu gelap.

"Tempat apa ini?" tanya Cagalli seraya membersihkan rambutnya yang telah kotor oleh lendir.

Kira hanya mengedikkan bahunya untuk menjawab Cagalli, lalu ia menuntun gadis berambut pirang itu untuk menjauhi bangkai sang glyst. "Sepertinya kita sedang ada di bawah tanah."

"Selamat datang di ZAFT castle, para Kesatria Naga," tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang menggaung di seluruh penjuru lorong, membuat Kira dan Cagalli tersentak, lalu mengedarkan pandangan mereka ke segala arah. "Sekarang kalian berdua berada di dalam gua bawah tanah ZAFT castle."

Kira dan Cagalli telah mengedarkan pandangan mereka ke segala arah berulang kali, namun mereka tidak menemukan sosok orang yang tengah berbicara kepada mereka. "Siapa kau?" tanya Kira. "Tunjukkan dirimu!"

"Sayang sekali," jawab si suara tanpa wujud tersebut. "Sekarang belum saatnya bagiku untuk melayani kalian berdua."

"Apa mak-," kalimat Cagalli terpotong, ketika ia mendengar suara aneh dari belakang. Saat ia menoleh, bangkai cacing raksasa tadi tiba-tiba saja terbelah seutuhnya. Bagian-bagian tubuh tersebut tumbuh dan hidup kembali, sama seperti yang terjadi pada glyst yang ditebas oleh Athrun. "Mu-mustahil…"

"Mereka membelah diri dan berkembang biak?" Kira mengeratkan genggaman pedangnya. "Dasar cacing tanah!"

Kira langsung berlari untuk menghampiri sang cacing raksasa. Tanpa pikir panjang, pemuda berambut cokelat itu langsung menebas pedangnya. Ia membelah seekor glyst yang tengah menyerangnya, kemudian ia segera beralih untuk menyerang glyst yang tersisa, namun seseorang telah menghentikannya.

"Kira, berhenti!" seru Cagalli, ketika ia menahan gerakan Kira dengan mencengkeram lengan baju Kira.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghentikanku?" tanya Kira sambil menatap Cagalli heran.

"Kalau kau teruskan, jumlah mereka akan jadi makin banyak!" seru Cagalli, lalu gadis itu menunjuk ke suatu arah dengan jari telunjuknya. "Lihat!"

Kira menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Cagalli, seketika itu juga mata amethyst Kira melebar. Glyst yang telah tertebas oleh Kira tadi, saat ini telah beregenerasi menjadi dua ekor glyst baru. Dengan demikian, saat ini telah berjajar tiga ekor glyst di hadapan Kira dan Cagalli.

"Sial…" gumam Kira, lalu ia menoleh kepada Cagalli. "Apa yang harus kita lakukan?"

Cagalli menatap Kira, lalu ia mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak yakin," gadis itu kembali menoleh ke arah tiga ekor glyst yang tengah menggeliat. "Apa aku bakar saja mereka?"

Kira mengangguk kecil untuk menyetujui ide Cagalli, kemudian mereka menoleh ke arah ketiga ekor glyst secara bersamaan. Saat itulah seekor glyst langsung melesat untuk menerkam Kira dan Cagalli, untungnya mereka berdua cukup tanggap sehingga berhasil menghindar di waktu yang tepat. Kira melompat ke kiri, sementara Cagalli berlari ke arah yang berlawanan.

Ketika Kira baru berhasil mendarat dengan sempurna, ia langsung disambut oleh dua ekor glyst lain yang telah menghampirinya. Pemuda berambut cokelat itu spontan berlari untuk menghindari serangan kedua ekor glyst tersebut. Sesaat setelah ia berlari, Kira sempat menoleh ke belakang, namun ia hanya mendapati seekor glyst di belakangnya.

Kira sempat menaikkan alisnya ketika ia menyadari keanehan tersebut, kemudian melirik ke arah Cagalli berada untuk sesaat. Dari sudut mata amethyst-nya, ia mendapati gadis berambut pirang itu tengah berlari ke arah lain dengan seekor glyst di belakangnya.

'Ke mana cacing yang satu lagi?'

Saat itulah sesuatu tiba-tiba saja muncul di hadapan Kira. Ketika pemuda berambut cokelat itu kembali menatap lurus ke depan, ia mendapati seekor glyst baru saja keluar dari dalam tanah. Sontak glyst tersebut menjulurkan kepalanya untuk menyerang Kira, membuat pemuda bermata amethyst itu sangat terkejut dan secara refleks mengayunkan Katana-nya ke arah glyst di hadapannya.

Seketika itu juga tubuh glyst di hadapan Kira terbelah menjadi tiga bagian, diakibatkan oleh dua buah pisau angin yang dihasilkan oleh tebasan pedang Kira. Tentu saja Kira langsung menyesal, tindakannya barusan hanya akan menambah jumlah glyst yang mengeroyoknya.

'Ya Tuhan… Ini benar-benar tidak mungkin!'


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Sementara Kira masih sibuk bermain kejar-kejaran dengan beberapa ekor glyst, Cagalli kini juga tengah berusaha menghindari serangan seekor glyst yang mengejarnya. Gadis itu menunggu sebuah kesempatan, kesempatan emas di mana ia bisa mendekati dan membakar tubuh sang glyst.

Gadis berambut pirang itu berdiri membelakangi dinding gua sambil menatap lurus ke arah sang glyst yang tengah melesat ke arahnya. Setelah jarak glyst itu cukup dekat, Cagalli langsung melompat untuk menghindari serangan cacing raksasa tersebut. Tindakannya membuat kepala sang glyst menghantam, menghancurkan dan menembus dinding gua tersebut sehingga kepala cacing raksasa tersebut tersangkut beberapa meter di dalam dinding gua.

Sebelum sang glyst berhasil membebaskan kepalanya, Cagalli segera menghampiri punggung glyst tersebut. Gadis berambut pirang itu meletakkan kedua telapak tangannya di punggung sang glyst, lalu membakar sang glyst dengan api yang keluar dari telapak tangannya.

'Semoga bisa dengan cara ini.'

Dalam hitungan detik kobaran api menjalar ke seluruh tubuh sang glyst. Cacing raksasa tersebut terlihat mendesis kesakitan, merasakan kobaran api di tubuhnya. Mahluk itu menggeliat dengan brutal dan tak beraturan, seolah tidak tahan merasakan panas dari kobaran api yang membakarnya. Menyadari reaksi sang glyst, Cagalli mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya, tanpa segan-segan lagi ia segera meningkatkan kekuatannya, menyalakan kobaran api yang lebih besar dari kedua telapak tangannya.

Sesaat kemudian Cagalli melepas punggung sang glyst, tubuh cacing raksasa itu telah hangus dan perlahan berubah menjadi abu. Beberapa detik Cagalli menunggu, namun tidak terjadi apa pun. Cacing raksasa itu tidak beregenerasi, glyst tersebut benar-benar telah mati.

"Hah, baguslah," kata Cagalli sambil menggosok hidungnya dengan punggung jari telunjuknya. "Ternyata memang berhasil."

"Cagalli?!" Cagalli mendengar suara Kira dari kejauha, membuat ia menoleh ke belakang seketika. "Bisa kau bantu aku sebentar?"

Mendapati sosok si pemuda berambut cokelat yang masih sibuk berlarian ke sana kemari, Cagalli hanya bisa mengerutkan keningnya. Saat ini Kira tengah berlari ke arah Cagalli, diikuti oleh tuju ekor glyst di belakangnya.

"Si bodoh itu…" gerutu Cagalli dengan nada rendah, kemudian gadis bermata amber itu melangkah maju, bermaksud untuk membantu sahabatnya yang dalam kesulitan.

Setelah maju beberapa langkah, Cagalli mengangkat dan merentangkan kedua tangannya ke depan. Gadis itu sempat menutup kedua mata amber-nya untuk sesaat sambil menarik nafas panjang, kemudian Cagalli membuka matanya lebar-lebar dan berseru.

"Akatsuki!"


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Kamus Kecil :

- Cape : Sebuah mantel tanpa lengan.

- Heizel : Nama burung besar yang ditunggangi Miguel.

- Leather Baldric : Sebuah sabuk hias yang biasa dikenakan di dada.


Yah sekian dulu update nya...

Semoga klian mnikmati dan msih mau mnunggu klnjutan Fic GJ ini...

Fic ini udah slesai digarap kok, jd jngn takut mnggantung...

Cm dimohon ksabarannya aja mnunggu Cyaaz mood buat update.

:p

Mind to Review?

See you next time, Guys…

Thanks you...


DK: LiA by DK

06122016