Halo, Cyaaz kembali membawa Chapter baru...
#plak
Silahkan yg udah terror Cyaaz sejak berbulan2 lalu, dibaca Chap 12 ini dg seksama.
Kalau mngecewakan, Cyaaz mohon maaf...
Tp smoga fans Athrun bakal suka sama pertarungannya dia d Chap ini.
Happy Reading, enjoy...
:D
Warning!
AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…
Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…
Selamat Membaca…
Dragon Knight: Lost in Aprilius
Chapter 12
Norma PoV
Lacus dan Athrun masih bertarung sengit dengan puluhan ekor glyst yang dikendalikan oleh Miguel. Saat ini jumlah glyst yang mereka hadapi telah bertambah banyak akibat regenerasi yang dilakukan oleh beberapa ekor glyst, membuat pertarungan yang terjadi di halaman depan ZAFT castle tersebut tidak dapat diakhiri dengan mudah.
Athrun memang berhasil membekukan beberapa ekor glyst dengan tebasan Broadsword-nya, namun itu saja belum cukup. Jumlah glyst yang ia bekukan jauh di bawah jumlah glyst yang sengaja membelah diri mereka sendiri untuk beregenerasi, membuat usaha Athrun terasa sia-sia.
Di sisi lain Lacus senantiasa mendukung pergerakan Athrun dengan melindunginya ketika pemuda berambut navy blue tersebut tidak sempat menghindar dari serangan para glyst. Ia juga sempat meremukkan beberapa ekor glyst dengan kemampuan yang ia miliki, namun hal tersebut justru membawa malapetaka. Tubuh glyst yang telah remuk akan segera memisahkan dirinya menjadi bagian-bagian kecil, lalu mereka akan tumbuh dan terlahir sebagai glyst-glyst yang baru. Karena itulah, Athrun meminta gadis berambut merah jambu itu untuk menghentikan serangannya.
Saat ini Athrun tengah berada di tengah-tengah sekelompok glyst yang mengepungnya, nafas pemuda bermata emerald itu terengah-engah karena mulai kehabisan tenaga. Kedua tangannya masih menggenggam erat Broadsword miliknya, sepasang mata emerald-nya menatap tajam ke sekelompok glyst yang berjajar di hadapannya.
Athrun memasang kuda-kuda, ia menyeret kaki kirinya ke belakang dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Broadsword-nya ia tarik ke belakang, disejajarkan dengan kaki kirinya. Bibir pemuda berambut navy blue itu sempat membisikkan kalimat mantera, kemudian ia mengayunkan pedangnya ke depan secara horisontal. Gerakannya barusan menciptakan sebuah cahaya berwarna dodger blue berbentuk busur panjang dengan butiran es putih, cahaya dengan butiran es yang membentuk busur teraebut melesat ke arah beberapa ekor glyst di hadapannya.
Tubuh para glyst yang terkena tebasan cahaya tadi membeku seketika. Bukan hanya itu, sesaat setelah berubah menjadi es bongkahan-bongkahan es tersebut akan pecah dan menghasilkan kepingan-kepingan es yang berhamburan di mana-mana.
Athrun terus melancarkan serangan serupa untuk meminimalisir jumlah glyst yang tersisa, hingga akhirnya pemuda berambut navy blue itu benar-benar kehabisan tenaga. Ia sempat tersentak mundur ketika seekor glyst menjulurkan kepalanya untuk menyerang.
"Athrun?" panggil seseorang dari belakang. Ketika Athrun melirik, ia mendapati sosok Lacus yang tengah menatapnya khawatir. "Kau sudah melampaui batasmu," ujar gadis berambut merah jambu yang kini berada tidak jauh di belakang Athrun. "Biarkan aku me-."
"Tidak!" potong Athrun. "Kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu sepenuhnya, Lacus," Athrun mengeratkan genggaman tangan pada Broadsword-nya. "Jangan lakukan itu sampai kita benar-benar terdesak."
Mendengar ucapan Athrun barusan, Lacus hanya dapat melembutkan tatapan mata sapphire-nya. Sebenarnya ia ingin sekali membantu pemuda bermata emerald itu, namun apa yang baru saja dikatakan oleh Athrun memang ada benarnya.
Hiss!
Tiba-tiba saja seekor glyst datang menyerang. Ketika Athrun hendak mengayunkan pedangnya ke arah glyst tersebut, sebuah dinding medan energi muncul dan melindunginya. Sesaat kemudian Athrun merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya. Tubuhnya bercahaya dan luka-lukanya terasa sedikit perih, Lacus tengah memulihkan kondisi tubuh pemuda berambut navy blue itu.
Ketika Athrun menoleh ke belakang, lagi-lagi ia mendapati Lacus tengah menatapnya. Hanya saja, tatapan mata sapphire gadis itu kali ini terlihat prihatin. "Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu saat ini, Athrun," gumam gadis itu.
Athrun melembutkan tatapan matanya, lalu tersenyum tipis dan mengangguk kecil. "Terima kasih."
Beberapa saat berlalu, Athrun dan Lacus masih berlindung di balik kubah medan energi dari para glyst yang sejak tadi berusaha menyerang mereka berdua. Hingga suatu ketika, tiba-tiba saja Athrun mendapati Lacus tersentak dan menatap ke suatu arah. Kedua mata sapphire-nya tertuju ke sisi kanan ZAFT castle, tepat di mana Kira mengejar glyst yang melahap Cagalli hidup-hidup beberapa menit yang lalu.
Athrun sempat mengikuti arah tatapan mata Lacus, lalu ia kembali menatap gadis berambut merah jambu itu. "Mereka akan baik-baik saja," Lacus menoleh kepada Athrun. "Mereka adalah Kesatria Naga," Athrun mengerutkan dahinya. "Karena itu, mereka pasti bisa menghadapi apa pun yang menghadang mereka di sana."
Lacus mengangguk kecil untuk menyetujui pernyataan Athrun, lalu ia kembali menatap ke sisi kanan ZAFT castle. Athrun juga melakukan hal yang sama, ia menatap sebuah lubang yang ada di bawah menara paling ujung kastil dengan serius.
'Ya, mereka pasti baik-baik saja.'
'Kira dan juga… Wanita bodoh itu…'
- Flashback…
"Perasaan dan… Apa yang aku pikirkan?" tanya Cagalli sambil menatap Athrun tidak mengerti.
"Ya, apa kau tidak bisa mengingatnya sama sekali?" tanya Athrun. "Mungkin jika kau bisa mengingatnya, kau akan bisa memanggil kekuatan nagamu," Athrun mengambil selangkah maju untuk mendekati Cagalli. "Mengingat bahwa saat itu adalah saat pertama kalinya kau berhasil menggunakan kekuatan SEED."
Cagalli hanya terdiam untuk sesaat sambil menatap mata emerald Athrun. Kemudian gadis berambut pirang itu berdiri dan membalikkan tubuhnya, membelakangi sosok Athrun. "Saat itu aku… Marah. Ya, aku benar-benar marah," gumam Cagalli.
Athrun menaikkan alisnya. "Marah? Kenapa?"
Cagalli membalikkan tubuhnya, lalu mata amber-nya menatap tajam ke arah Athrun. "Saat itu kau terluka parah karena si laki-laki berambut oranye itu," Cagalli mengalihkan pandangannya ke tanah. "Dan itu semua karena kau melindungiku," gumamnya.
Athrun mengedipkan matanya, ia baru akan bertanya sesuatu ketika Cagalli menambahkan. "Aku kesal karena lagi-lagi harus berhutang," Cagalli kembali menatap Athrun. "Padahal aku belum sempat membalasmu karena sudah menolongku dari serangan monster kaki seribu."
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Cagalli berhasil membuat pemuda bermata emerald di hadapannya merasa geli. Seketika itu juga Athrun tertawa, ia sama sekali tidak menyangka jika gadis yang ada di hadapannya saat ini memiliki pemikiran seperti itu. Selama ini gadis berambut pirang itu terlihat sangat acuh dan dingin padanya, Athrun bahkan sempat berpikir bahwa gadis itu membenci dirinya.
"Kenapa kau malah tertawa begitu?" bentak Cagalli, terlihat samar-samar rona merah telah menghiasi pipi gadis itu. "Aku serius!"
Ketika Athrun akhirnya bisa menghentikan tawanya, ia langsung menatap mata amber Cagalli dan menjawab, "Bukan apa-apa," dengan nada datar. "Sudah, sebaiknya sekarang kau cepatlah mengingat-ingat kembali peristiwa di hutan itu!"
Cagalli sempat terdiam sambil menatap Athrun, lalu gadis itu menyangga dagunya dengan tangan kanan. Gadis bermata amber itu mengerutkan dahinya, ia berusaha mengingat-ingat semua yang terjadi saat itu. Ia mengingat kembali detik-detik ketika dirinya berlari menjauh dari tempat Athrun yang tengah menahan serangan Rusty, ia mengingat kembali detik-detik ketika beberapa bilah pisau angin melesat ke arahnya. Hingga pada akhirnya, ia teringat akan sosok Athurn yang berdiri tegap melindungi dirinya.
Seketika itu juga kedua mata amber Cagalli melebar. Ia bisa merasakannya, perasaan yang meluap di dalam hatinya saat itu. Bagaimana ia merasa bersalah karena membuat Athrun terluka parah. Bagaimana ia merasa kesal dan marah kepada orang-orang yang menyerang dirinya dan Athrun saat itu. Bagaimana ia merasa kecewa dan marah kepada dirinya sendiri karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa.
'Perasaan ini…'
Cagalli menurunkan tangan kanannya, kedua tinjunya mengepal dan ia juga mengeratkan giginya. Perasaan ini, perasaan yang ia rasakan saat itu. Perasaan ini serupa dengan perasaan yang ia rasakan ketika ia mengira bahwa Kira telah tewas diterkam oleh seekor baluer raksasa di tepian danau tadi siang. Ini adalah perasaan yang dalam sekejap langsung membuat Cagalli naik darah dan nafasnya terasa sesak. Gadis berambut pirang itu akhirnya memejamkan kedua matanya, berusaha meredam perasaan yang meluap di dalam hatinya.
'Kekuatan! Aku membutuhkannya!'
Saat itulah Cagalli tiba-tiba saja merasakan sesuatu telah terjadi. Ia merasa seperti tengah terjatuh ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam, membuat tubuhnya diterpa oleh hembusan angin kencang dari bawah. Itu adalah hembusan angin yang lama-kelamaan terasa semakin hangat dan panas.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Gadis berambut pirang itu membuka kedua mata amber-nya, ia segera mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati kobaran api berwarna oranye keemasan di sekelilingnya. Seketika itu juga ia sadar bahwa dirinya telah berada di tempat yang pernah ia datangi sebelumnya. Setidaknya ia memang pernah ke sini, walaupun hanya dalam mimpinya.
Roar…!
Cagalli mendengar suara auman dari kejauhan, membuat gadis itu menoleh ke kanan, di mana suara gemuruh itu berasal. Mata amber-nya langsung menangkap sosok bayangan di atas ketinggian, bayangan sesosok mahluk besar bersayap yang kini tengah melesat terbang menghampirinya.
Cagalli hanya terdiam di tempatnya, ia tahu pasti bahwa mahluk itu adalah seekor naga, sang naga api yang bersemayam di dalam Kristal Naga miliknya. Karena itulah ia harus menemui dan berbicara dengan mahluk raksasa itu, karena Cagalli membutuhkan kekuatan sang naga api untuk membantu teman-temannya.
Beberapa saat kemudian, naga raksasa itu akhirnya berada tidak jauh dari tempat Cagalli. Naga berwarna kuning keemasan itu masih berada di atas kepala Cagalli, menatap tajam ke arah gadis berambut pirang itu. Kemudian sang naga perlahan-lahan menurunkan ketinggiannya, hingga akhirnya mendarat beberapa meter di hadapan Cagalli.
Dengan seksama, Cagalli terus memperhatikan sosok naga raksasa di hadapannya. Naga tersebut mengepakkan kedua sayapnya, menghasilkan hembusan angin panas di sekitarnya. Nafasnya mengeluarkan kepulan asap putih dan mata naga itu berwarna cyan. Sang naga berdiri dengan bertumpu pada keempat kakinya, mengayun-ayunkan ekor panjangnya ke sana kemari.
Cagalli sempat menelan ludahnya dengan berat, sosok naga setinggi kurang lebih 25 meter itu benar-benar membuatnya takjub dan bahkan bergidik ngeri. Jika ingin, naga raksasa itu dapat dengan mudah mengoyak tubuh Cagalli dengan cakar-cakarnya yang besar dan tajam.
"Akhirnya kau datang lagi, huh?" suara tenor sang naga membuat Cagalli terkejut dan tersentak mundur selangkah. "Apa kau bisa mendengarku sekarang?"
Cagalli sempat membeku untuk beberapa saat, lalu akhirnya ia mengangguk kecil.
"Cih, baguslah," naga keemasan itu langsung mengukir sebuah senyuman sambil mengangkat lehernya. "Aku sudah tidak tahan lagi."
Cagalli tersentak, setelah ia menyadari sesuatu. "Kau? Kau yang berbisik padaku saat itu? Saat aku dan Athrun diserang beberapa hari yang lalu?"
Ya, Cagalli masih bisa mengingatnya. Sesaat setelah ia menatap sosok Athrun yang jatuh berlutut di hadapannya saat itu. Cagalli sempat mendengar suara yang berbisik kepadanya, suara yang berkata, "Kau menginginkan kekuatan?" dan "Jika kau menginginkan kekuatan, maka aku akan meminjamkan kekuatanku padamu."
Lagi-lagi, naga keemasan di hadapan Cagalli tersenyum. "Kau mengingatnya?" Cagalli mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang naga. "Ya, itu memang aku," sang naga mengepakkan kedua sayapnya. "Apa kau menerima tawaranku itu?"
Mata amber Cagalli sempat melebar, namun ia segera menyipitkannya kembali. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau bersedia meminjamkan kekuatanku padaku?" tanya Cagalli.
Sang naga mengedipkan kedua mata berwarna cyan miliknya. "Apa pengaruhnya bagimu, jika kau mengetahui alasanku?" Cagalli hanya terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. "Jika kau memang ingin tahu alasanku," sang naga menurunkan kepalanya untuk mendekati sosok mungil Cagalli. "Aku tidak ingin membusuk di tempat ini, sementara Eternal dan Freedom sudah bersenang-senang di luar sana bersama dengan kalian, para Kesatria Naga."
Cagalli tersentak kaget. "Eternal? Freedom?" gumamnya. Sesaat kemudian barulah ia teringat akan nama Eternal yang merupakan nama naga yang bersemayam di dalam Kristal Naga milik Lacus, sedangkan Freedom…
'Apa itu nama naga Kira?'
"Hey, Bocah!" suara sang naga membuat Cagalli mengangkat wajahnya untuk menatap mahluk raksasa tersebut. "Bagaimana? Kau menerima tawaranku?"
Cagalli mengedipkan matanya beberapa kali, lalu raut wajahnya berubah menjadi serius. Ia telah memikirkannya, gadis berambut pirang itu memang membutuhkan kekuatan. Ia membutuhkan kekuatan sang naga api untuk bisa membantu teman-temannya dalam pertarungan mereka. Dengan begitu ia bisa menaklukkan ZAFT sesegera mungkin dan kembali ke dunia tempat asalnya.
"Ya, aku terima tawaranmu," jawab Cagalli.
Seketika itu juga, sang naga api mengepakkan kedua sayapnya. Ia mengangkat kepalanya ke atas untuk sesaat, lalu menarik nafas dalam sambil menutup kedua matanya. Hal yang selanjutnya terjadi adalah, sang naga menyemburkan api berwarna oranye keemasan tepat ke arah Cagalli, membuat gadis berambut pirang itu spontan menyilangkan kedua tangannya ke depan untuk melindungi dirinya dari semburan api sang naga.
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
Athrun masih menatap lurus ke arah gadis yang berdiri di depannya, gadis berambut pirang itu tengah berdiri tegap sambil memejamkan kedua matanya. Ia terlihat tengah berkonsentrasi pada sesuatu, membuat Athrun tidak berani melakukan tindakan apa pun karena takut jika ia akan mengganggu gadis itu.
Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apa pun, membuat Athrun mulai kehilangan kesabarannya dan menjadi penasaran. Ketika ia mulai membuka mulutnya untuk memanggil nama gadis itu, tiba-tiba saja mata emerald-nya menangkap sesuatu.
Tubuh gadis berambut pirang di hadapannya saat ini tengah mengeluarkan aura tipis berwarna keemasan. Perlahan namun pasti aura itu meluas dan semakin terang, diikuti dengan hawa panas yang samar-samar menyelimuti tubuh gadis itu.
Sesaat kemudian,Cagalli membuka kedua mata amber-nya perlahan. Ia menatap lurus ke depan sambil mengangkat kedua tangannya. Saat itulah, gadis berambut pirang itu membisikkan kalimat mantera. Tubuh Cagalli sontak diselimuti cahaya keemasan, membuat Athrun hanya membeku di tempatnya sambil menatap gadis itu dengan sepasang mata emerald yang telah terbuka lebar.
- End of Flashback…
Athrun menyipitkan kedua mata emerald-nya, kondisi tubuhnya telah pulih sepenuhnya berkat Lacus yang juga telah melindungi mereka. Setelah Lacus selesai memulihkannya, Athrun segera melangkah keluar dari kubah pelindung ciptaan Lacus. Ia mulai lelah bermain dengan puluhan ekor glyst di hadapannya, karena itu ia bermaksud untuk segera mengakhiri pertarungannya.
Ia mengayunkan Broadsword-nya secara horisontal hingga membentuk sebuah busur panjang, sekedar untuk menciptakan hembusan hawa dingin untuk memukul mundur beberapa ekor glyst di sekitarnya. Kemudian Athrun menanamkan pedangnya ke tanah, memejamkan kedua matanya dan membisikkan kalimat mantera.
Aura berwarna dodger-blue muncul di sekeliling tubuh Athrun. rambut navy blue pemuda itu bergerak-gerak akibat hembusan angin yang datang entah dari mana. Sesaat kemudian pemuda itu membuka kedua mata emerald-nya dan menghentakkan pedangnya, membuat Broadsword perak tersebut tertanam lebih dalam, menembus lapisan tanah hingga puluhan centi meter.
Seketika itu juga lapisan tanah di sekitar Athrun retak, retakan besar tersebut menjalar ke arah puluhan ekor glyst yang berjajar di depan Athrun. Retakan-retakan itu bukanlah retakan biasa, dari dalam celah retakan tersebut terlihat seberkas cahaya berwarna dodger blue, diikuti hawa dingin yang terasa menusuk hingga tulang.
Begitu retakan-tetakan tersebut telah meluas ke berbagai arah, Athrun memutar Broadsword-nya hingga 60 derajat ke kanan. Kristal-kristal es besar berbentuk runcing keluar dari celah retakan-retakan tadi, menciptakan menara-menara es yang menjulang tinggi ke udara tanpa terhentikan oleh apa pun. Kristal-kristal tersebut menusuk, mencabik dan menembus tubuh puluhan ekor glyst secara membabi buta.
Para glyst yang tertusuk oleh menara-menara es tadi ikut terangkat hingga beberapa meter di atas ketinggian, kemudian tubuh mereka membeku satu per satu. Beberapa saat berlalu, seluruh glyst yang terperangkap dalam menara es Athrun telah berubah menjadi bongkahan es. Saat itulah bongkahan-bongkahan es tersebut pecah secara bersamaan, diikuti oleh menara-menara es yang juga hancur berkeping-keping. Peristiwa tersebut menciptakan butiran-butira es yang menghujani halaman depan ZAFT castle, menciptakan sebuah pemandangan hujan salju yang indah untuk beberapa saat.
Saat ini Athrun tengah dalam posisi berlutut dengan bertumpu pada satu lututnya, tangan kanannya menggenggam erat broadsword miliknya yang masih tegak di tanah. Sedangkan tangan kirinya telah ia istirahatkan di tanah, beberapa centi meter di depan lutut kirinya. Kepala pemuda berambut navy blue itu sedikit tertunduk dan nafasnya terengah-engah, nampaknya serangan tadi sangat menguras tenaganya.
"Athrun!" panggil seseorang dari belakang. Begitu Athrun menoleh, ia mendapati sosok Lacus tengah berlari ke arahnya. "Athrun, kau tidak apa-apa?"
Athrun tidak menjawab, ia hanya memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya. Senyuman yang seolah berkata 'aku baik-baik saja' atau 'tidak ada yang perlu dikhawatirkan'.
Lacus mengerti akan arti senyuman yang diberikan oleh Athrun, namun ia tetap saja merasa khawatir pada kondisi teman sejak kecilnya itu. Ia segera menghampiri sosok pemuda berambut navy blue itu dan bermaksud untuk memulihkan kondisinya, namun ketika ia baru akan mengangkat tongkat putihnya perhatiannya teralihkan oleh hal lain.
"Wah, wah, wah…" terdengar suara seorang pria dari arah kastil, membuat Athrun dan Lacus mengangkat wajah mereka untuk menatap sosok seorang pria bertopeng di sebelah Miguel. "Jadi ini kah kekuatan dari seorang Athrun Zala?"
Athrun tersentak kaget ketika namanya disebut oleh seorang pria yang tidak ia kenali. Pemuda bermata emerald itu baru akan mengatakan sesuatu ketika Lacus tiba-tiba saja bergumam "Rau Le Creuset…"
Ucapan Lacus barusan berhasil membuat Athrun kembali tersentak dan langsung menoleh ke arah gadis berambut merah jambu itu, kemudian ia kembali mengarahkan tatapanya ke arah dua orang berambut pirang yang kini berdiri di atas menara utama ZAFT castle.
'Jadi dia orangnya?'
'Kesatria Naga Pertama yang menyerang Junius Seven saat itu.'
Athrun menyipitkan kedua mata emerald-nya, lalu ia segera berusaha bangkit dari posisinya. Ia berdiri dan langsung mencabut Broadsword miliknya. "Jadi kau orang yang memimpin ZAFT, Rau Le Creuset?"
Rau mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Merupakan suatu kehormatan bagiku," Rau membungkukkan tubuhnya. "Bisa bertemu dengamu, Athrun Zala," Rau kembali mengangkat wajahnya dan menatap Athrun, kemudian ia tersenyum licik. "Kau benar-benar mirip dengan mendiang Ratu Lenore Zala."
Mendengar perkataan Rau, Athrun merasa murka. Ia mengeratkan genggaman tangannya dan juga giginya, matanya menatap sosok Rau dengan tatapan ingin membunuh. "Kau…" geram Athrun. "Turun dan hadapi aku!"
Lagi-lagi Rau mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya. "Sayang sekali, tapi sekarang Miguel lah yang akan menemani kalian bermain," Rau mengarahkan pandangannya ke arah Lacus. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Nona Lacus Clyne. Rupanya kemampuanmu sudah jauh berkembang dibanding saat terakhir kali kita bertemu."
Lacus sontak mengeratkan genggaman kedua tangan pada tongkat putih miliknya. "Aku sengaja melatih kemampuanku untuk menghentikanmu, Rau Le Creuset."
"Benarkah?" tanya Rau dengan nada sedikit menantang. "Aku akan dengan senang hati melayani kalian," Rau sedikit menoleh ke belakang. "Setelah aku menyambut para Kesatria Naga yang lain."
Mendengar kalimat terakhir Rau, Athrun tersentak dan menjadi semakin murka. "Apa katamu?! Jangan melarikan diri! Turun dan hadapi aku sekarang juga!"
Rau sempat menoleh kembali untuk menatap Athrun yang telah menatapnya tajam, kemudian pria berambut pirang itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Maaf, tapi kedua Kesatria Naga itu jauh lebih menarik dibandingkan denganmu, Athrun Zala."
Setelah itu Rau membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi, meninggalkan Miguel sendirian di puncak menara utama ZAFT castle, bersama dengan Lacus dan Athrun yang terus menatap kepergian Rau dari bawah.
"Hey! Kembali!" teriak Athrun.
Pemuda berambut navy blue itu benar-benar telah termakan oleh amarah di dalam hatinya. Ia mulai melangkahkan kakinya untuk mengejar sosok Rau, tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang telah kehabisan tenaga. Ketika pemuda itu ingin mempercepat langkahnya, seseorang tiba-tiba saja mencengkeram lengan bajunya dan membuat ia terpaksa berhenti.
"Lacus, apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku!" bentak Athrun.
Lacus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau tidak mungkin bisa menghadapinya dengan keadaanmu yang sudah seperti sekarang ini, Athrun!" ujar Lacus dengan nada yang sedikit tinggi, nampaknya gadis bermata sapphire itu juga telah terbawa perasaan.
"Aku harus membunuh orang itu, Lacus!" teriak Athrun.
Lacus mempererat cengkraman tangannya pada lengan baju Athrun. "Hentikan, Athrun! Kendalikan dirimu!"
Saat itulah Athrun menyadari sesuatu, kedua mata sapphire Lacus saat ini telah berlinangan air mata. Gadis berambut merah jambu itu menatapnya dengan tatapan memohon. Tangan Lacus bergetar dan wajahnya juga mulai pucat, membuat Athrun seketika itu juga berusaha meredam amarahnya, lalu melembutkan tatapan mata emerald-nya. Pemuda berambut navy blue itu meraih tangan kanan Lacus yang tengah mencengkeram erat lengan bajunya, ia mulai menyesali dirinya yang hampir termakan amarah.
"Maaf, Lacus…" bisik Athrun. "Aku sudah tidak apa-apa," Athrun mengusap punggung tangan Lacus yang masih mencengkeram lengan bajunya. "Terima kasih…"
Mendengar ucapan Athrun barusan, Lacus menjadi sedikit tenang. Tangannya mulai berhenti bergetar dan perlahan-lahan ia melepaskan lengan baju Athrun. Air mata gadis itu juga perlahan-lahan mulai berhenti mengalir keluar. Selama beberapa saat, mata sapphire-nya terus bertatapan dengan mata emerald milik Athrun.
"Pemandangan yang sangat mengharukan," suara Miguel berhasil membuat Athrun dan Lacus menoleh ke arahnya. "Kalian benar-benar membuatku muak!"
Athrun melepaskan tangan Lacus, lalu melangkah maju. Ia berdiri di depan Lacus, membelakangi gadis berambut merah jambu tersebut. "Diam kau!" seru Athrun.
Miguel mendengus, lalu ia menjentikkan jarinya. Seketika itu juga seekor heizel datang menghampiri tempat Miguel, kemudian pemuda berambut pirang itu naik ke atas punggung heizel yang dipanggilnya itu.
"Mari kita lanjutkan permainan kita, Athrun Zala!" seru Miguel yang saat ini telah berdiri di punggung heizel, di mana sang heizel telah mengepakkan kedua sayapnya dan membawa pemuda berambut pirang itu melayang di udara.
Sesaat kemudian Miguel mengecam cambuknya ke udara. Kecaman cambuk tersebut mengundang kedatangan ratusan ekor mahluk terbang dari balik menara ZAFT castle. Mahluk-mahluk itu berbentuk seperti gabungan antara burung dan cheetah. Mereka memiliki empat kaki yang dilengkapi dengan cakar elang. Kedua sayap mereka sangat lebar dan kepala mereka berbentuk seperti kepala cheetah.
Menyadari kedatangan mahluk-mahluk berbahaya tersebut, Athrun segera mengangkat Broadsword-nya. Ia pun memberi gerak isyarat kepada Lacus agar ia mundur dari tempatnya, sebelum sekumpulan creeuz itu mencapai tempat mereka dan menyerang secara membabi buta.
"Aku tidak akan mati di sini, tidak akan!"
_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._
T – B – C
Yuhu...
Sampe sini dulu ya, ntar lanjut lg d Update selanjutnya.
Smoga Readers mnikmati Chap ini.
Erehmi: Haha. Snang bs kmbli k Fandom tersayang ini. Cyaaz pngen fandom ini ttp ramai spanjang masa. ^_^ Mkin intense, Yes! Bnyk action, Yes! #alh stu yg bikin Cyaaz ssh krjain fic ini adl scene action-nya. Lacus in Action, Yes! Tp blm saatnya. :p Untuk KiraCaga... Tunggu lah, mreka blum bnyk nongol d sini. Hihi. Smangat jg, Cyaaz akn baca dan Rev karya2 Ehremi-san. :D
Titania: Iya2, ini jg Update. Jngn libatkn Cacha. -_- G sbran bngt jd org? :p Gmn, Athrun bnyk nongol kn? Puas? :o
Oya, mnanggapi bbrapa prtanyaan d Review...
Ending DK: LiA... Udah lumayan dkt, 5 Chapter terakhir (termasuk Chap ini), jadi g usah cemas akan digantung.
Cyaaz udah menyelesaikan DK: LiA kok.
Trus buat yg nanyain AsuCaga...
Um, ini genre-nya adventure ya, Cyaaz g gt fokus k romance d sini.
Bkn brarti g ada, tp ya... Hrap mnyesuaikn dg genre.
:)
Trima ksih ya udah mau setia baca dan ikutin DK.
Cyaaz sllu snang mndapat review dan dukungan dr Readers sklian...
See you next time...
