Konichiwa, Cyaaz's fans!

#plak

Hri ini ultah Kira & Cagalli tercinta, Cyaaz sengaja update 3 Fic Sekaligus!

Berat sih, sayang dikeluarin bnyk2...

Tp demi saudari Cyaaz tercinta, Poppy yang suka merayu...

Oke lah, hari ini Cyaaz IKHLAS!

:'(

Enjoy, smoga suka dengan Update-tan Cyaaz hari ini...


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…

Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 13


Norma PoV

Di sebuah tempat yang dipenuhi dengan kobaran api, seekor naga raksasa terlihat tengah membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Namun beberapa detik kemudian, kedua mata berwarna cyan milik sang naga tiba-tiba saja terbuka lebar. Naga itu mengangkat kepalanya, mengepakkan kedua sayapnya dan bangkit dari posisinya. Setelah sang naga berwarna keemasan itu berdiri dengan bertumpu pada keempat kakinya, ia mengarahkan tatapan matanya ke langit.

"Dia memanggilku…"

Sebuah senyuman penuh arti menghiasi wajah sang naga. Ia mengangkat kedua kaki depannya, lalu menghentakkannya sekuat tenaga. Ia menciptakan getaran yang cukup kuat hingga mengguncang dan menghancurkan lapisan tanah di sekitarnya. Dari celah retakan lapisan tanah yang telah hancur, dapat terlihat suatu zat cair berwarna oranye kemerahan di bawah tanah. Cairan kental yang mengeluarkan hawa panas tersebut mengalir perlahan menuju tempat sang naga berdiri.

Sang naga masih tersenyum penuh arti ketika cairan panas tersebut sedikit demi sedikit mulai merendam keempat kakinya. Sesaat kemudian ia menarik nafas dalam, lalu menyemburkan nafas api yang sangat panas ke arah gumpalan lahar di sekitar kakinya. Api yang keluar dari rahangnya bukanlah api biasa. Api tersebut berwarna perak, dengan semburat cahaya keemasan. Semburan nafas api yang indah itu berhasil membuat lahar di bawah kaki sang naga menyembur ke segala arah.

Setelah sang naga selesai menghembuskan nafas apinya, suatu benda tiba-tiba saja muncul dari tempat di mana ia mengarahkan semburan apinya tadi. Sebuah benda yang berbentuk seperti tongkat sepanjang 80 centi meter. Tongkat yang mengeluarkan cahaya keemasan tersebut melayang perlahan-lahan hingga sejajar dengan kedua mata sang naga.

"Aku akan meminjamkan benda ini padamu, Kesatria Naga Api…"


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Seorang gadis berambut pirang tengah merentangkan kedua tangannya ke depan, kemudian gadis itu sempat menutup kedua mata amber-nya untuk sesaat sambil menarik nafas panjang. Sesaat kemudian, Cagalli membuka matanya lebar-lebar dan berseru, "Akatsuki!"

Dalam sekejap, tubuh gadis itu diselimuti oleh cahaya berwarna keemasan. Beberapa saat kemudian cahaya tersebut memudar dan sosok sang gadis mulai terlihat kembali, namun kali ini gadis bermata amber itu telah muncul dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya.

Saat ini ia telah mengenakan sebuah bodice lengan pendek berwarna perak yang panjang gaunnya hanya mencapai lutut. Bagian dada dan perut gadis itu telah dibalut dengan sebuah korset berwarna keemasan, ditambah dengan sehelai leather sword belt berwarna hitam di pinggangnya. Kedua lengan bagian bawah Cagalli telah terbalut sepasang deker yang warnanya serupa dengan bodice yang ia kenakan. Sebuah jubah perak dan sepasang pelindung bahu berwarna royal blue juga melengkapi pakaian tempur gadis bermata amber tersebut, kedua tanganya menggenggam sebuah benda sepanjang 90 centi meter.

Gadis berambut pirang itu membuka kedua mata amber-nya yang menatap lurus ke depan. Ia menatap tajam ke arah sekelompok glys yang masih mengejar-ngejar seorang pemuda berambut cokelat. Ia mengeratkan genggaman kedua tangannya, lalu menarik kedua tangannya kevarah yang berlawanan secara bersamaan.

Benda yang saat ini ada di genggaman Cagalli mulai memudarkan cahaya keemasan yang menyelimutinya. Perlahan-lahan benda itu mulai menampilkan wujud aslinya yang sekilas terlihat seperti sebuah tongkat biasa. Benda itu memiliki motif ukiran berbentuk spiral berwarna perak, dengan garis emas di kedua sisinya. Beberapa centi meter dari masing-masing ujung sisinya.

Beberapa detik telah berlalu, Cagalli masih menarik kedua ujung tongkatnya ke arah yang berlawanan. Saat ini barulah terlihat bahwa benda yang ada di genggaman Cagalli adalah sebuah pedang kembar yang menjadi satu kesatuan. Gagang kedua pedang tersebut berbentuk seperti kepala naga berwarna perak, dengan garis emas di lehernya.

Akhirnya Cagalli menggenggam dua bilah pedang sepanjang 45 centi meter di kedua tangannya. Ia menyilangkan kedua pedangnya di depan dada, lalu menebasnya ke udara. Menciptakan hembusan angin yang disertai percikan api di sekelilingnya.

"Kira!" panggil Cagalli, gadis berambut pirang itu mendapati Kira mengangkat wajah untuk menatap ke arahnya. "Minggir!" seru Cagalli.

Pemuda bermata amethyst itu mengangguk kecil, lalu ia melompat tinggi ke udara. Tanpa membuang kesempatan yang ada, Cagalli mengambil ancang-ancang untuk melancarkan serangannya. Ia segera berlari menghampiri sekelompok glys di depannya. Ketika ia telah berada di antara ke-tuju ekor glys, Cagalli langsung berhenti dan memutar tubuhnya. Ia memutar tubuhnya ke kanan hingga berkali-kali seraya mengayunkan kedua pedang peraknya yang terus memercikkan api berwarna keemasan.

Sementara itu Kira mendarat dengan sempurna di jarak yang cukup aman. Ia memutar tubuhnya untuk menyaksikan pertarungan yang tengah melibatkan sahabatnya. Sahabat berambut pirangnya itu kini bergerak dengan lincahnya. Ia berputar, melompat dan bergerak ke sana kemari. Walaupun memang gadis itu sekilas terlihat seperti tengah menarikan sebuah tarian yang sangat indah, Kira tahu pasti bahwa saat ini Cagalli tengah membantai ke-tuju ekor glys yang tengah mengepung dirinya.

Beberapa menit kemudian, Cagalli akhirnya menghentikan tarian indahnya. Saat ini ia masih berada di tengah-tengah ke-tuju ekor glys. Gadis berambut pirang itu memejamkan kedua matanya sambil menyilangkan kedua pedangnya di depan dada. Beberapa saat kemudian ia akhirnya membuka kedua mata amber-nya, bersamaan dengan membaranya api yang tiba-tiba saja menyala dan membakar glys-glys di sekeliling gadis itu.

Senyum tipis menghiasi wajah Kira. Pemuda berambut cokelat itu sangat takjub menyaksikan aksi sahabatnya barusan. Walaupun ia sudah tahu jika Cagalli pastilah memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan mungkin, melebihi dari dirinya. Mengingat kepribadian Cagalli yang memang jauh lebih kuat darinya.

Di saat yang bersamaan, seorang pemuda berambut hijau tengah mengamati keadaan di dalam gua bawah tanah ZAFT castle. Ia terus mengamati pergerakan kedua kesatria naga yang ada di dalam gua dari tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Matanya sempat menyipit ketika ia mendapati sosok Cagalli yang tengah bertarung melawan sekelompok glys.

'Rupanya Tuan Rau benar, gadis itu adalah kesatria naga api.'


- FlashBack…


"Maaf, tapi saya tidak mengerti. Apa maksud Tuan Rau?" Tanya seorang pemuda berambut hijau. Saat ini ia dan seorang pemuda berambut pirang tengah berdiri menghadap seorang pria bertopeng. "Gadis berambut pirang yang datang bersama Athrun Zala… Adalah seorang kesatria naga?"

Rau menganggukkan kepalanya. "Itu benar," jawab Rau singkat. "Kau ingat aura yang dipancarkan oleh gadis itu saat kau dan Rusty pergi ke bagian timur hutan Aprilius?"

Mendengar pertanyan Rau, mata Nicol melebar seketika. "I-iya, Tuan."

"Saat itu kau berkata padaku, aura gadis itu terasa seperti aura yang kumiliki," Rau menarik nafas dalam. "Itu disebabkan karena gadis itu juga merupakan seorang kesatria naga."

"Tapi, Tuan. Hal itu belum bisa membuktikan bahwa gadis itu adalah seorang kesatria na-," kalimat Nicol terpotong oleh Rau.

"Bukan hanya itu," ujar Rau. "Saat itu kau melihat warna dari aura SEED miliknya. aura SEED berwarna keemasan," Rau memberi jeda. "Itu adalah warna aura SEED milik sang naga api."

Seketika itu juga mata Nicol dan Miguel melebar. "Ja-jadi gadis itu…" gumam Miguel.

"Ya," Rau mengangguk kecil. "Tidak salah lagi, gadis itu adalah seorang kesatria naga," Rau tersenyum tipis. "Lebih tepatnya, seorang kesatria naga api."

"Tuan?" panggil Nicol. "Lantas, apa rencana kita?"

Senyuman di wajah Rau menjadi semakin lebar. pria berambut pirang itu melangkah maju, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu kedua anak buahnya secara bersamaan. "Sambut mereka dengan semua yang bisa kita sajikan."


- End of FlashBack…


Senyum tipis tiba-tiba saja terukir di wajah Nicol. Pemuda berambut hijau itu melipat kedua tangannya ke depan dada, lalu ia mengerutkan dahinya. "Baiklah, sudah saatnya bagiku untuk melayani mereka."

Dengan itu, sosok Nicol menghilang. Tubuhnya ditelan oleh segumpal kabut berwarna dark orchid. Segumpal kabut tersebut melenyapkan tubuh pemuda berambut hijau itu beserta dengan aura keberadaannya.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


"Yeah! Berhasil!" sorak seorang gadis berambut pirang. Gadis itu mengangkat salah satu tangannya ke udara, tangan kanan yang masih menggenggam sebilah pedang. "Kau lihat itu, Kira?" serunya sambil menatap sosok seorang pemuda berambut cokelat yang berdiri beberapa meter di sebelah kanannya.

Pemuda yang ditanyai hanya mengukir sebuah senyuman manis di wajahnya, lalu ia mnepukkan kedua telapak tangannya dalam posisi horizontal. "Ya, kau hebat! Luar biasa!"

Mendapati reaksi tersebut dari Kira, Cagalli hanya bisa menyeringai. Gadis bermata amber itu mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Kira. "Lalu, kita harus apa sekarang?"

Kira mengedikkan bahunya. "Entah lah," Kira mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Apa sebaiknya kita mencari Lacus dan Athrun?"

Cagalli menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kira. Lalu gadis itu juga mengedarkan pandangannya untuk sesaat hingga akhirnya ia menemukan sebuah terowongan di salah satu sudut gua bawah tanah tempatnya berada saat ini.

"Lewat sana?" tanya Cagalli sambil menunjuk ke arah terowongan dengan pedangnya.

"Yah…" jawab Kira. "Sepertinya tidak ada jalan lain."

Sekali lagi, cagalli menganggukkan kepalanya. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya. Sedangkan Kira, ia juga bermaksud untuk menyusul langkah Cagalli. Namun baru ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, pemuda bermata amethyst itu tiba-tiba saja merasakan sesuatu.

Slash!

Kedua mata amethyst Kira melebar seketika, gerakannya terhenti saat rasa perih yang luar biasa hinggap di lengan kanannya. Darah segar menyembur untuk sesaat ke segala arah. Cagalli yang saat ini berada di depan segera menoleh karena mendengar suara aneh dari belakang, mata amber gadis itu sontak melebar dan mulutnya setengah terbuka.

"KIRA!" teriak Cagalli, gadis berambut pirang itu menghampiri Kira.

Saat ini pemuda berambut cokelat itu tengah mencengkeram erat lengan kanannya yang telah berlumuran darah. Lengan kanan pemuda itu seolah baru saja tercabik oleh sesuatu dengan sangat dalam.

"Apa yang terjadi?" tanya Cagalli yang saat ini telah berdiri di samping Kira.

"A-aku tidak tahu," jawab Kira. "Rasanya seperti ada sesuatu yang mengoyak lenganku."

Cagalli tersentak kaget, lalu ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk untuk menatap luka sayatan di lengan Kira. "Apa maksudmu?"

Kira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu," Kira mengeratkan giginya, menahan rasa sakit di lengan kanannya.

Cagalli hanya terdiam untuk sesaat, lalu ia terlihat seperti telah menyadari sesuatu. "Ghost-SEED…"

Kira tersentak, lalu menatap lurus ke arah Cagalli. "Nicol Amalfi?"

Plok, plok, plok...

Kira dan Cagalli tersentak, lalu mereka mengedarkan pandangan ke segala arah. Seperti sebelumnya, tidak ada sosok siapa pun yang berhasil tertangkap oleh keempat bola mata mereka.

"Sepertinya kalian sudah mengenalku," ujar Nicol entah dari mana. "Pasti Athrun Zala dan Lacus Clyne telah menjelaskan banyak hal tentangku pada kalian."

Cagalli spontan membalikkan tubuhnya dan menyilangkan kedua pedangnya di depan dada. "Tunjukkan dirimu!"

Slash!

Mata amber Cagalli melebar, saat ini pipi kanannya telah meneteskan darah. Spontan ia mengusap luka sayatan di pipinya dengan punggung tangan kirinya. "Sial…"

"Itu adalah salam perkenalan dariku, kesatria naga api," kata Nicol.

Cagalli hanya mendengus kesal, lalu ia menoleh ke arah Kira. "Kau tunggu saja di situ! Aku yang akan mengurus hantu kecil ini."

"Apa? Tidak bisa, aku juga-," kalimat Kira terputus. Pemuda berambut cokelat itu tiba-tiba saja merasa lidahnya kelu saat ia mendapati sorot kedua mata amber Cagalli yang sangat tajam dan dipenuhi dengan keseriusan.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Cagalli membalikkan tubuhnya. Ia mengambil beberapa langkah ke depan, lalu mengedarkan pandangan matanya ke segala arah. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk berkonsentrasi pada keadaan di sekelilingnya. Saat itulah ia teringat kembali akan pembicaraan di antara dirinya, Kira, Lacus dan Athrun. Tepat sehari sebelum mereka berempat tiba di ZAFT castle.


- FlashBack…


"Sebelum kita sampai di ZAFT castle, aku ingin menjelaskan beberapa hal penting pada kalian berdua," ujar Athrun, sambil menatap serius ke arah Kira dan Cagalli. "Aku ingin menjelaskan tentang SEED dan kemampuan dari prajurit ZAFT yang tersisa."

Kira dan Cagalli menganggukkan kepala mereka secara hampir bersamaan. Mereka berdua mengerti jika apa pun yang akan dijelaskan oleh Athrun setelah ini akan sangat berguna. Mereka membutuhkan informasi serinci mungkin mengenai kemampuan lawan-lawan yang akan mereka hadapi di ZAFT castle keesokan harinya, mengingat bahwa pertempuran tersebut kemungkinan besar akan menjadi pertempuran terakhir mereka.

"Yang pertama adalah Miguel Aiman. Dia memiliki Creature-Crystal di tangannya," ujar Athrun. "Dia adalah pengguna Tamer-SEED."

"Kemampuan dari pengguna Tamer-SEED adalah menjinakkan semua jenis hewan, sehingga mereka bisa mengendalikan hewan apa punvsesuai dengan kehendak mereka," sahut Lacus.

Cagalli tersentak, lalu bertanya, "Jadiclaki-laki berambut pirang yang menyerang kita di danau itu…?"

Lacus mengangguk. "Ya, dia adalah Miguel Aiman. Semua baluer dan juga baluer raksasa yang menyerang kita adalah hewan-hewan yang sudah dijinakkan olehnya."

"Termasuk sekelompok harimau dan elang yang menyerangku?" tanya Kira.

Athrun mengangguk. "Ya, semuanya," Athrun menarik nafas. "Dia bisa mengendalikan ratusan ekor hewan dalam waktu yang bersamaan."

Mata Kira dan Cagalli melebar seketika. Miguel Aiman jelas merupakan seorang lawan yang sangat berbahaya.

"Selanjutnya adalah Nicol Amalfi. Dia adalah laki-laki berambut hijau yang sempat menyekap Lacus," lanjut Athrun. "Tipe kristal SEED miliknya adalah Shadow dan dia adalah pengguna Ghost-SEED."

"Seperti yang pernah aku jelaskan, Ghost-SEED memiliki kemampuan untuk bisa merasakan dan melacak aura SEED seseorang," lanjut Lacus. "Tapi bukan hanya itu kemampuan dari pengguna Ghost-SEED, mereka juga memiliki kemampuan untuk menghilangkan aura SEED mereka."

"Apa hanya itu kemampuan dari Ghost-SEED?" tanya Cagalli.

Lacus menggelengkan kepalanya. "Mereka juga bisa melenyapkan wujud mereka, sehingga serangan mereka benar-benar menyerupai serangan hantu."

Cagalli dan Kira tersentak secara bersamaan. "Maksudmu mereka bisa menghilang?" tanya Cagalli, tidak percaya.

Lacus mengangguk. "Ya, dan mereka juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain hanya dalam sekejap."

"Kemampuan berteleportasi?" kali ini Kira yang angkat suara. Raut wajahnya menunjukkan bahwa pemuda berambut cokelat itu benar-benar terkejut. "Mustahil…"

"Tapi kemampuan berpindah tempat itu memiliki batas jangkauan jarak tertentu dan hanya dapat digunakan untuk dirinya sendiri," sahut Athrun. "Dengan kata lain, mereka tidak bisa membawa orang lain untuk berpindah tempat bersama dengan mereka."

Kira dan Cagalli menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Lalu bagaimana caranya menghadapi orang bernama Nicol itu? Apa ada cara untuk merasakan gerakannya yang tidak terlihat?" tanya Cagalli.

Mendengar pertanyaan dari Cagalli, Lacus dan Athrun sempat bertukar pandangan. Lalu Lacus kembali menatap Cagalli dan menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu… Saat Nicol menghilangkan aura SEED-nya, aku sama sekali tidak bisa merasakan aura keberadaannya."

Cagalli menyangga dagunya dengan tangan kanan. "Pasti ada suatu cara…" gumamnya.

"Apa lawan kita hanya mereka berdua?" tanya Kira tiba-tiba, setelah keheningan sempat tercipta selama beberapa menit.

Athrun tidak langsung menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Kira. Pemuda bermata emerald itu sempat terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan sangat serius, sebelum akhirnya ia menjawab, "Masih ada satu orang lagi. Namanya adalah Rau Le Crueset."

Kira menaikkan alisnya. "Apa kemampuan orang itu?"

Athrun menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu, aku belum pernah bertemu dengannya," Athrun melirik ke Lacus yang duduk di samping kirinya. "Tapi Lacus pernah."

Kira dan Cagalli sontak mengalihkan pandangan mereka ke Lacus, tatapan mata mereka seolah tengah menuntut jawaban dari gadis berambut merah jambu itu.

"Aku hanya pernah bertemu dengan Rau Le Crueset sekali sebelumnya," jawab Lacus. "Beberapa tahun yang lalu, saat itu aku belum menjadi seorang kesatria naga," tatapan mata Lacus berubah menjadi sayu. "Aku bahkan belum menjadi seorang pengguna SEED."

Kira, Cagalli dan Athrun hanya terdiam. Mereka tidak yakin dengan apa yang harus mereka katakana. Raut wajah Lacus telah berubah menjadi lesu dan tidak bercahaya seperti biasanya. Jadi mereka hanya terdiam sambil menunggu Lacus melanjutkan ceritanya.

"Hanya satu hal yang aku tahu pasti tentangnya," lanjut Lacus setelah beberapa saat berlalu. Gadis bermata sapphire itu menatap ketiga temannya dengan serius. "Dia adalah seorang kesatria naga pencipta."


- End of FlashBack…


'Pasti ada suatu cara.'

Cagalli menyilangkan kedua pedangnya di depan dada, bersiap untuk menghadapi serangan yang akan dilancarkan oleh lawannya yang tidak terlihat oleh kedua mata amber-nya. Beberapa saat telah berlalu, Cagalli masih tetap mempertahankan posisinya sambil terus mengamati keadaan di sekitarnya. Saat itulah tiba-tiba saja…

Slash!

Luka sayatan tercipta di pinggang sebelah kanan Cagalli, membuat gadis itu tersentak kaget dan langsung merintih kesakitan.

"Aku akan menyiksamu secara perlahan-lahan, Kesatria Naga Api," terdengar suara Nicol dari samping kiri Cagalli.

Dengan sigap, Cagalli mengarahkan salah satu pedangnya ke samping kiri, namun pedangnya tidak berhasil menyayat apa pun. Sepertinya Nicol tidak bisa diserang semudah itu, membuat Cagalli mengeratkan giginya karena kesal dan marah. Gadis berambut pirang itu harus segera menemukan cara yang tepat untuk menghadapi Nicol, sebelum ia menjadi bulan-bulanan pemuda berambut hijau itu.

Sementara itu, Kira terus memperhatikan gerak-gerik Cagalli dari kejauhan. Mata amethyst-nya tidak pernah berpaling dari sosok Cagalli, sorot mata pemuda itu dipenuhi dengan kekhawatiran. Beberapa saat kemudian, pemuda berambut cokelat itu mengepalkan tangannya. Ia tidak tahan menyaksikan pertarungan yang terjadi di hadapannya. Pertarungan yang lebih tepat disebut sebagai penyerangan dari satu pihak.

Selama beberapa menit, Cagalli terus menerima serangan dari Nicol. Serangan-serangan tersebut berasal dari segala arah, menciptakan beberapa luka sayatan di sekujur tubuh gadis berambut pirang itu.

Kira menajamkan tatapan matanya dan mengeratkan giginya. Lalu ia merobek lengan salah satu bajunya dan membalut luka sayatan di lengan kanannya dengan kain tersebut. Setelah ia selesai membalut lukanya, ia bermaksud untuk menghampiri Cagalli. Namun saat ia baru melangkahkan kakinya, ia teringat akan sosok Cagalli yang telah menatapnya tajam.

Kira menelan ludahnya, ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya. Pemuda berambut cokelat itu mengerti. Gadis bermata amber di hadapannya itu tidak akan memaafkannya jika ia tidak menuruti perintahnya. Namun di dalam hati, Kira telah menetapkan tekadnya. Ia akan membiarkan Cagalli bertarung hingga batas tertentu. Jika batas tersebut telah terlewati, maka ia akan langsung turun tangan tanpa mempedulikan ancaman dari sahabatnya.

Cagalli menatap lurus ke depan. Kemudian ia menutup kedua mata amber-nya dan berusaha untuk berkonsentrasi pada suara-suara yang ada di sekitarnya. Beberapa detik telah berlalu, namun tidak terdengar suara apa pun. Hal tersebut membuat Cagalli akhirnya membuka kedua matanya dan menarik sebuah kesimpulan.

'Cih, apa boleh buat. '

"Tidak ada gunanya kau mencoba untuk merasakan keberadaanku," suara Nicol terdengar lagi. "Bahkan seorang Lacus Clyne tidak bisa merasakan kedatanganku."

Cagalli menebas pedangnya ke kanan, berharap bisa melukai lawannya. "Sebenarnya apa tujuan kalian? Kenapa kalian membuat kekacauan di dunia kalian sendiri?" tanya Cagalli yang tidak berhasil melukai Nicol.

Slash!

Nicol berhasil menyayat bahu kanan Cagalli. "PLANT yang jauh lebih baik tentunya."

Cagalli merintih kesakitan, lalu kembali bertanya, "Apa? Kalian ingin menciptakan dunia yang lebih baik dengan cara menghancurkan PLANT? Kalian gila!" Cagalli mengeratkan giginya.

"Memangnya kau tahu apa? Kalian sama sekali tidak mengerti tentang keadaan dunia ini," jawab Nicol. "PLANT akan menjadi dunia yang sempurna, ketika tiba saatnya dia bangkit."

Cagalli tersentak ketika ia mendengar kalimat terakhir Nicol. "Dia-, ahh…!" Nicol melukai kaki kanan Cagalli, membuat gadis itu jatuh berlutut. "Sial!"

"Seharusnya kalian tidak menghadang jalan kami," kata Nicol. "Jika ingin hidup lebih lama."

Cagalli mengangkat wajahnya. "Tapi kami harus pulang…" gumamnya. "Karena itu, kami akan mengalahkan kalian."

Cagalli segera bangkit dari posisinya. Begitu ia berdiri dengan tegap, gadis berambut pirang itu telah menetapkan hatinya. Ia harus pulang bersama dengan Kira. Apa pun yang terjadi, ia akan memastikan hal itu akan terwujud. Karena itulah, saat ini ia harus segera menyelesaikan pertarungannya.

Beberapa saat kemudian, Cagalli merasakan tusukan sebuah benda tajam di sisi kanan perutnya. Seketika itu juga ia menjatuhkan pedang di tangan kanannya dan berusaha meraih apa pun yang melukainya.

Usahanya berhasil, ia merasakan sebuah benda tajam yang tipis telah berada dalam genggamannya. Sebelum si pemilik benda tersebut sempat bereaksi, Cagalli segera menggerakkan tangannya untuk mencengkeram tangan pemuda berambut hijau tersebut. Kemudian ia menusukkan pedang di tangan kirinya ke depan.

Seketika itu juga teriakan Nicol terdengar jelas oleh telinga Cagalli. Wujud pemuda berambut hijau itu perlahan-lahan mulai terlihat, hingga akhirnya mata amber Cagalli bisa menangkap sosok Nicol di hadapannya dengan jelas.

Saat ini pedang Cagalli telah menusuk paha kanan Nicol. Sedangkan di perut Cagalli, telah menancap sebuah pisau sepanjang 20 centi meter yang telah berlumuran darah. Kedua orang itu sontak menatap lawan mereka dengan tatapan tajam. Kedua mata yang memiliki warna yang hampir sama tersebut memancarkan kemarahan dan kebencian terhadap satu sama lain.

"Kalian tidak akan menang melawan kami," Nicol tiba-tiba saja angkat suara.

"Apa kau tidak menyadari posisimu sekarang?" tanya Cagalli, dengan nada menantang. "Kau sudah tertangkap, Hantu kecil…"

Nicol tersenyum licik. "Ini bukan hanya tentang membunuhku, Kesatria Naga Api. Ini tentang menghentikan ZAFT."

"Cih, kita lihat saja nanti," Cagalli menarik pedangnya, lalu ia menendang perut Nicol dengan sekuat tenaga. Tindakan Cagalli barusan membuat tubuh pemuda berambut hijau di hadapannya terhempas hingga beberapa meter ke belakang.

Cagalli segera memungut kembali pedang yang telah ia jatuhkan, kemudian ia bermaksud untuk menyerang Nicol. Namun saat ia mengangkat wajahnya untuk menatap Nicol, ia mendapati sosok seseorang telah berdiri tepat di belakang pemuda berambut hijau yang masih jatuh terduduk itu. Tanpa sempat mengatakan apa pun, Cagalli menyaksikan orang itu mmemukul kepala Nicol dengan sekuat tenaga dari belakangvmenggunakan gagang pedangnya. Hal tersebut membuat pemuda berambut hijau itu langsung ambruk dan jatuh pingsan.

"Kira! Apa yang kau lakukan?!" geram Cagalli. "Aku sudah bilang, biar aku yang bertarung!"

Pemuda berambut cokelat yang baru saja menumbangkan Nicol mengedikkan bahunya. "Ayo lah, aku hanya melakukan langkah akhirnya saja," Kira menatap ke bawah, mengamati sosok Nicol yang tidak sadarkan diri. "Lagipula, kemenanganmu juga sudah bisa dipastikan."

Cagalli memutar bola matanya. "Justru karena itu! Kau benar-benar mengganggu aksi heroic-ku!"

Kira mengangkat wajahnya dan menatap Cagalli tidak percaya. "Kau ini! Kau bicara seperti semua ini hanya game!" Kira menajamkan tatapan matanya. "Kau baru menghadapi pertarungan sungguhan, Cagalli! Pertarungan dengan taruhan nyawa!"

Mendengar suara seruan yang menggambarkan kemarahan pemuda berambut cokelat itu, Cagalli hanya bisa menunduk sambil bergumam, "Maaf."

Terdengar suara helaan nafas dari Kira. "Berhenti lah main-main! Kau benar-benar membuatku khawatir setiap detik."

Cagalli menganggukkan kepalanya, lalu ia melangkah untuk menghampiri Kira. "Lalu… Kita apakan dia?" tanya Cagalli sambil menunjuk Nicol dengan pedang di tangan kanannya.

Kira ikut memandang sosok Nicol untuk sesaat, lalu ia kembali menatap Cagalli. "Kurasa kita harus melakukan itu."


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Balasan Review.

Titania546: Dasar tukang tagih yg kejam. Udah untung Cyaaz mau update, msih krg puas? -_- karang aja sndiri lah. :p Prasaan klimat itu g ada mnis2nya dwh, bodoh kok dibilang manis? -_- Enk aja update tiap minggu, bs mndidih ni otak. :'( Aku mau libur sebulan, kn udah update 3 Fic dlm sehari. :p Thanks ya udah bc DK. Pantengin aja trus smpe ntah kpn tamatnya. :p

popcaga: Bagus ya? Seneng ya Cyaaz update bnyk gini? -_- Khusus krna kmu nih, dg berat hti Cyaaz update 33nya. :'( Semoga terhibur dg Dic Cyaaz, smoga bpk cpt smbuh... Amin... :D

Erehmi: Hii, Cyaaz sehat2 sja d sini. Smoga d sana jg sehat sllu ya... :D Hahaha. Cyaaz seneng sih kalo bs mmbangkitkn imajinasi dg adanya DK... Fic ini mmang mnuntut bnyk imajinasi, trutama bgi sang author. #plak. Gosaan bikin AsuCaga g skli-2kli dtg, tp Cyaaz sdh mnempatkn mereka d posisi yg pas kok. :D Dan soal AsuLa... Cyaaz sk sih, Cyaaz jg sk KiraCaga. :p Hoo, itu mnarik. Cyaaz jg brusaha mngembangkan char dr para naga. Amntara yg kluar msih Freedom & Akatsuki, Eternal blm diketahui wujudnya. Tunggu aja sampw karatan, baru muncul.:p


Thanks buat smua Reviewers dan silent readers yg msih stia ngikutin DK.

Tinggl dikit lg, 3 Chapter menuju akhir.

Tp Cyaaz g tau kpn mau update, lwlah dg 3 Fic yg lngsung kluar hr ini.

Slhkn sja pihak2 terkait yg menagih Cyaaz d fb, Cyaaz kn jg mnusia biasa yg otaknya rapuh...

DK butuh imajinasi ekstra, sring bikin kpala Cyaaz mau pcah!

:('

Oke, diakhiri sja sblm Cyaaz curcol lbih bnyk lg...

Amoga klian sk, silahkn tingglkn jejak.

See you next time….