Maafkn Cyaaz yg telat update...

Mau lebaran, RL mnggila. Tp akhirnya sempet jg buat update, g pngen mnunda lg.

Cyaaz bhkn g smpat bca fic2 baru, pdhl pengeeeen!

T_T


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…


Disclaimer: GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight: Lost in Aprilius

Chapter 14


"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Cagalli sambil menatap Kira dengan serius.

Kira mengedikkan bahunya. "Tidak ada salahnya mencoba 'kan?" Kira menunduk untuk menatap sosok Nicol yang masih tidak sadarkan diri. "Aku tidak ingin membunuh orang."

Tatapan mata Cagalli melembut. "Kau benar, aku juga tidak ingin melakukan hal itu."

Kira mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lembut kepada Cagalli. "Kalau begitu, akan kulakukan sekarang."

Kira membungkukkan tubuhnya, lalu ia memungut sebilah pisau yang ada di genggaman tangan kanan Nicol. Setelah mengamatinya sejenak, pemuda berambut cokelat itu meletakkan pisau tersebut di atas sebuah batu.

"Semoga ini berhasil," gumam Kira. Ia mengangkat katana-nya secara vertikal, lalu menusuk GUNDAM milik Nicol tersebut.

"Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan," tanya Kira. "Apa yang terjadi kalau SEED-Crystal… Um, maksudku Kristal Nagaku hancur?"

Athrun dan Lacus saling bertukar pandangan untuk sesaat, lalu mereka kembali menatap Kira. "Kau akan kehilangan kekuatanmu," jawab Athrun datar. "Hal itu juga berlaku padaku, jika SEED-Crystal ataupun GUNDAM milikku dihancurkan oleh musuh."

"Karena itu kalian harus berhati-hati," ujar Lacus. "Jangan sampai prajurit ZAFT berhasil menghancurkan Kristal Naga milik kalian."

Kira telah menusuk SEED-Crystal beserta GUNDAM milik Nicol denhan katana-nya, namun sebuah prisai pelindung muncul sebelum ia berhasil mencapai pisau tersebut.

"Apa SEED-Crystal dan Kristal Naga bisa dihancurkan semudah itu?" tanya Cagalli.

Athrun menggelengkan kepalanya. "Setiap SEED-Crystal memiliki tameng yang akan melindungi GUNDAM ataupun SEED-Crystal tersebut."

Kira menghentakkan pedangnya untuk meningkatkan kekuatan SEED yang ia alirkan ke dalam GUNDAM-nya. Samar-samar terlihat aura tipis berwarna perak mulai menyelimuti katana milik pemuda bermata amethyst tersebut.

"Kalau begitu, bagaimana cara menghancurkan perisai itu?" Kira bertanya dengan tegas, sebisa mungkin ia tak ingin mengalahkan musuh dengan membunuh.

Sekali lagi, Athrun dan Lacus saling memandang untuk sesaat. Sebelum akhirnya mereka memberikan jawaban yang diinginkan oleh Kira.

'SEED-ku harus lebih kuat dari SEED-nya.'

Kira mengeratkan gigi sambil terus menekan pedangnya ke bawah. Pemuda berambut cokelat itu terus berkonsentrasi untuk mengalirkan SEED ke dalam katana abu-abu di tangan kanannya. Sesaat kemudian, retakan kecil muncul di permukaan prisai transparan yang melindungi GUNDAM milik Nicol. Perlahan-lahan, retakan tersebut semakin meluas dan akhirnya pecah.

Tameng yang melindungi pisau sepanjang 20 centi meter itu hancur berkeping-keping. Ujung katana berhasil menyentuh dan menghancurkan sebuah SEED-Crystal berwarna dark-orchid beserta dengan GUNDAM-nya.

"Berhasil!" seru Cagalli.

Kira mengangkat pedangnya, lalu menoleh pada Cagalli di samping kirinya. "Ya, berhasil," pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah Nicol yang masih terbaring di tanah. "Dengan begini kita tidak perlu membunuhnya."

Cagalli tersenyum tpips dan mengangguk. "Yup," gadis berambut pirang itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Jadi sekarang, kita cari yang lain?"

Kira mengangguk. "Ya. Mungkin saja mereka butuh bantuan kita," Kira menatap sosok Cagalli. "Tapi apa kau tidak apa-apa? Lukamu itu?"

Cagalli menundukkan wajahnya untuk mengamati luka di pinggangnya. "Benar juga, aku sampai lupa."

Kira menggelengkan kepalanya perlahan. Bisa-bisanya gadis itu melupakan luka tusukan seperti itu. "Kau ini benar-benar… Ah, entahlah!" seru Kira frustasi. Pemuda itu merobek lengan tunic-nya, lalu membalut luka Cagalli seadanya sekedar untuk menghentikan pendarahan di pinggang gadis itu.

Setelah itu Kira dan Cagalli melangkah menuju sebuah lorong yang mungkin akan membawa mereka kepada Lacus dan juga Athrun. Keduanya pergi meninggalkan Nicol yang masih terbaring tidak sadarkan diri di lantai gua yang dingin.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Sekelompok creeuz yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor beterbangan di halaman depan ZAFT castle. Dengan kecepatan tinggi, beberapa ekor creeuz melesat terjun tepat ke arah sesosok pemuda berambut navy blue di bawah kaki mereka. Seekor dari mereka telah membuka rahangnya selebar mungkin untuk menerkam dan mencabik kulit mangsanya.

Pemuda bermata emerald yang menjadi incaran sekelompok creeuz, tidak mengizinkan mereka untuk melukai dirinya dengan mudah. Ia segera menebas broadsword miliknya ke udara dan berhasil membelah beberapa ekor creeuz yang melayang tepat di atas kepalanya. Ia pun menebaskan pedang ke segala arah untuk mengusir dan menumbangkan creeuz lain yang telah mengerumuninya.

Tidak jauh dari tempat pemuda itu berdiri, seorang gadis berambut panjang tengah menghadapi situasi yang tidak kalah gentingnya. Gadis itu berhadapan dengan sekelompok creeuz yang berusaha menerkam sosoknya. Andai saja gadis berambut merah jambu itu tidak menciptakan sebuah prisai pelindung di saat yang tepat, ia pasti telah menjadi santapan lezat bagi sekelompok creeuz tersebut.

Setelah ia berhasil melindungi dirinya dengan prisai pelindung ciptaannya, Lacus mengalirkan SEED-nya secara mendadak untuk menciptakan hentakkan pada dinding luar prisai hingga menghempaskan tubuh para creeuz yang menyerangnya. Kemudian gadis bermata sapphire itu menciptakan beberapa kubah medan energi di sekelilingnya, mengurung puluhan ekor creeuz di dalam kubah-kubah tersebut di saat yang bersamaan.

Lacus mengayunkan tongkat putihnya ke kanan. Gerakan itu seolah menjadi pemicu yang mengakibatkan kubah-kubah medan energi ciptaannya mengecil hingga meremukkan tulang serta menghancurkan tubuh para creeuz di dalamnya.

Beberapa menit berlalu, jumlah creeuz yang menyerang Lacus dan Athrun mulai berkurang. Saat ini hanya tersisa beberapa ekor creeuz saja yang masih berusaha mengeroyok kedua orang tersebut. Menyadari hal tersebut, seorang pemuda berambut pirang terlihat mengerutkan dahinya.

"Tidak aku sangka, mereka bisa bertahan dari serangan 270 ekor creeuz peliharaanku," gumam Miguel. "Sepertinya aku memang terlalu meremehkan mereka."

Miguel menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, lalu memandangi sosok seorang pemuda bermata emerald. Pemuda itu terlihat mulai kesulitan dalam menghadapi beberapa ekor creeuz yang menyerangnya, sepertinya ia benar-benar hampir mencapai batasnya. Miguel tersenyum licik ketika menyadari kondisi lawan yang melemah,. pemuda berambut pirang itu melompat dari punggung heizel yang ia tunggangi ke hadapan Athrun Zala.

Tanpa memberikan kesempatan untuk bereaksi, Miguel langsung menendang perut Athrun dengan sekuat tenaga. Hal itu membuat tubuh Athrun yang penuh luka terhempas mundur hingga beberapa langkah.

"Uhuk, uhuk," Athrun mengusap bibirnya yang telah berlumuran darah dengan punggung tangan kiri, kemudian ia menatap tajam ke arah Miguel. "Kau!"

Miguel menyeringai dengan angkuh. "Sudah kehabisan tenaga, Zala?"

Athrun membuang ludah bercampur darah ke tanah, lalu ia kembali menatap Miguel. "Jangan cemas, aku masih sanggup menghabisimu," jawab Athrun sambil mengangkat Broadsword-nya.

"Bedebah!" Miguel mengangkat cambuknya, lalu ia melangkah menghampiri Athrun. Pertarungan di antara keduanya pun dimulai.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Cagalli dan Kira telah berjalan menelusuri lorong gua bawah tanah selama puluhan menit, namun mereka belum mencapai ujung lorong tersebut. Sepanjang perjalanan mereka, tidak ada hal lain yang mereka temukan selain bongkahan-bongkahan kristal berwarna cyan menghiasi dinding lorong. Kristal-kristal itu terlihat indah di mata Cagalli, namun ia mengerti jika saat ini bukanlah saat yang tepat untuk terkagum-kagum. Ia dan Kira harus segera mencari Lacus dan Athrun, mengingat adanya kemungkinan bahwa mereka saat ini berada situasi yang genting.

Klotak!

Cagalli dan Kira tersentak kaget, mereka mendengar suara dari belakang. Saat mereka menoleh, mereka tidak menemukan apa pun. Ketika keduanya baru merasa aman, beberapa buah kerikil tiba-tiba saja jatuh beberapa meter di depan mereka. Ketika mengangkat kepala secara bersamaan, kedua mata Cagalli dan Kira menangkap sesosok mahluk bergelantungan di langit-langit gua.

Mahluk hitam itu menatap tajam ke arah Kira dan Cagalli sambil perlahan-lahan mulai menggerakkan keempat kakinya yang berada di antara celah stalaktit gua. Sesaat kemudian mahluk itu mendesis dan mengepakkan kedua sayap kelelawarnya. Mahluk yang berpenampilan seperti anjing hitam bersayap itu membalikkan tubuh dan langsung melesat ke arah Kira dan Cagalli.

Kira bermaksud untuk menghadapi mahluk hitam itu, namun Cagalli lebih dulu melangkah dan berlari ke arah mehluk aneh tersebut. Gadis itu langsung memainkan kedua pedang di tangannya, bertarung sengit dengan lawannya. Berkali-kali pedang Cagalli berbenturan dengan taring dan terkadang bersinggungan dengan cakar sang mahluk aneh.

Beberapa saat kemudian, sang mahluk aneh menghindari serangan Cagalli dengan mengepakkan kedua sayapnya dan bergelantungan di antara stalaktit gua. Hal itu tentu saja membuat Cagalli kesal, ia menyemburkan api dari salah satu pedangnya untuk menyerang. Semburan api keemasan tersebut berhasil mengenai dan membakar tubuh mahluk aneh tersebut. Mahluk itu sempat menggeliat kesakitan sambil merintih. Kemudian mahluk itu terjatuh di lantai, tepat di hadapan Cagalli.

Setelah mendapati lawannya berhenti bergerak, Cagalli membalikkan tubuh dan tersenyum. Senyuman itu dibalas dengan tatapan lega dari seorang pemuda berambut cokelat di depan Cagalli. Namun tatapan pemuda itu tiba-tiba berubah, ketika ia melihat sosok mahluk lain bergerak di belakang punggung Cagalli.

"Cagalli, awas!" Kira berseru, menyadari kedatangan mahluk lain yang serupa dengan mahluk aneh yang baru saja ditaklukkan oleh Cagalli

Cagalli tersentak kaget, lalu secara reflek ia membalikkan tubuhnya. Kedua mata amber-nya melebar seketika, sesosok mahluk hitam telah berada di hadapannya sambil mengangkat kedua cakar depannya. Kemunculan mahluk aneh itu terlalu mendadak, membuat Cagalli shock dan tidak sempat bereaksi untuk melindungi dirinya sendiri.

Mendapati sosok Cagalli yang hanya membeku di tempatnya, Kira merasa panik dan mengeratkan giginya. Secara spontan dan tanpa pikir panjang, Kira melemparkan katana-nya ke arah mahluk hitam di hadapan Cagalli. Saat katana tersebut masih melesat di udara, tiba-tiba saja cahaya perak muncul dan menyelimuti pedang itu. Sesaat kemudian GUNDAM Kira berhasil menikam lawan, namun kini bentuknya telah berubah.

Cagalli sempat berkedip dan tersentak mundur ketika beberapa tetes darah sang mahluk aneh mengotori pipinya. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan lengan kanan dan menatap bangkai sang mahluk aneh. Mahluk itu tergeletak di lantai dengan sebuah tombak menembus kepalanya.

"A-apa ini?" tanya Cagalli seraya ia menyatukan pedang kembarnya menjadi satu bagian. Ia mencabut sebuah tombak berwarna abu-abu dari bangkai. "Kira? Ini punyamu?" tanya Cagalli sambil membalikkan tubuh dan menunjukkan tombak penyelamat hidupnya kepada Kira.

Mata amethyst Kira melebar. "A-apa?" Kira melangkahkan kakinya untuk menghampiri Cagalli.

"Tadi kau melempar tombak ini 'kan?" Cagalli membolak-balikkan tombak di kedua tangannya. "Sejak kapan kau membawa benda ini?"

Ketika Kira tiba di hadapan Cagalli, ia langsung merebut tombak di tangan Cagalli dan mengamati benda itu dengan seksama. "Ti-tidak, aku tidak melempar tombak ini," Kira menatap Cagalli. "Tadi aku melempar pedangku dan…" tatapan Kira kembali berfokus kepada sebuah tombak berwarna abu-abu di tangannya. "Pedangku berubah jadi tombak ini?"

Cagalli menaikkan alisnya. "Apa? Bagaimana bisa?"

Kira mengangkat wajahnya, lalu menjawab, "Aku juga tidak tahu."

Kira kembali menatap ke arah katana yang telah berubah menjadi sebuah tombak. Cagalli juga ikut mengamati benda tajam tersebut, keduanya terlalu sibuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka hingga...

"Seperti itu rupanya," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah yang tidak jelas. "Kau juga memiliki kemampuan Creator-SEED."

Kira dan Cagalli mengedarkan pandangan mereka ke segala arah hingga akhirnya kedua mata mereka menangkap sosok seorang pria berambut pirang. Pria bertopeng itu duduk di atas sebuah bongkahan kristal berukuran besar yang terletak beberapa meter di belakang mereka. Pria tersebut mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya.

"Senang bisa bertemu dengan kalian berdua," pria itu melompat dan mendarat di lantai gua. "Para Kesatria Naga."

Spontan Cagalli dan Kira mempersiapkan diri mereka. Cagalli memisahkan kedua pedang kembarnya dan menggenggamnya erat-erat. Sementara Kira langsung mengarahkan tombak di tangannya pada sang pria bertopeng.

"Siapa kau?" tanya Kira tegas.

"Namaku adalah Rau Le Crueset," Rau merogoh saku mantel berwarna putih yang ia kenakan saat ini. Ia mengeluarkan sebuah jam saku berwarna cokelat keemasan dan mengangkat jam saku tersebut ke depan wajahnya. Ia memperlihatkan salah satu sisi jam saku miliknya kepada Kira dan Cagalli. Sebuah sisi yang dihiasi dengan sebuah kristal berwarna slate-gray. "Aku adalah seorang Kesatria Naga Pencipta."


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Sebilah pedang perak berukuran besar tengah beradu dengan sehelai cambuk panjang. Masing-masing pemilik dari senjata tersebut mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk menjatuhkan lawan. Seorang peemuda berambut pirang dengan cambuk emasnya, berhadapan dengan seorang pemuda bermata emerald dengan Broadsword-nya.

Miguel menarik cambuk keemasannya yang terlilit di mata pedang Athrun dengan sekuat tenaga, berusaha untuk memisahkan dan menjauhkan Broadsword tersebut dari tangan sang pemilik. Tentu saja pemuda berambut navy blue yang menggenggam gagang pedang tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika sampai ia kehilangan satu-satunya senjata miliknya dan terlibat dalam pertarungan tangan kosong, ia akan mudah dikalahkan oleh sang lawan. Apalagi stamina dan kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya mulai menipis, luka-luka pun bertebaran.

'Sial…'

'Aku harus mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan terakhir!'

Athrun menarik Broadsword-nya secara paksa sekuat tenaga, membebaskan pedang tersebut dari jeratan cambuk emas milik lawan. Kemudian ia mengambil beberapa langkah mundur, memasang kuda-kuda untuk melancarkan serangan terakhir dengan sisa kekuatan yang ia miliki saat ini.

Pemuda berambut navy blue itu menghentakkan kaki kanannya di belakang punggung, sementara kaki kirinya sedikit ia tekuk di depan tubuh. Tangan kanan menggenggam erat gagang Broadsword-nya, menarik pedang perak itu ke belakang secara perlahan. Sementara itu jari-jari tangan kirinya sibuk membasuh mata pedangnya dari pangkal hingga ujung. Bibir pemuda itu juga sempat membisikkan kalimat mantera, sebelum akhirnya ia menatap tajam ke arah orang yang ingin ia kalahkan.

Miguel menatap balik Athrun dengan serius. Ia menyadari bahwa lawannya akan melancarkan serangan kuat yang ditujukan langsung ke arahnya. Oleh sebab itulah ia pun tengah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi serangan tersebut.

Dalam hitungan detik, Athrun mengayunkan dan mengarahkan ujung pedangnya ke Miguel. Sebuah kilat berwarna putih kebiruan muncul dari ujung pedang tersebut dan melesat langsung ke arah pemuda berambut pirang yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Cahaya petir tersebut membekukan apa pun yang dihantamnya, menghasilkan sebuah bongkahan es berbentuk kristal berukuran besar. Kemudian bongkahan es tersebut meledak dan menjadi serpihan-serpihan es kecil yang menyebar ke segala arah.

Sang pemilik Broadsword jatuh dan bertumpu pada lutut kanannya seketika. Nafasnya semakin terasa berat, tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Kedua tangannya menggenggam erat pedang yang ia tanamkan di tanah untuk menopang tubuhnya, sementara kedua matanya menatap kosong ke tanah.

"Kau benar-benar menyedihkan!"

Kedua mata emerald Athrun melebar seketika. Pemuda itu hendak mengangkat wajahnya untuk mencari tahu asal suara tersebut, namun tiba-tiba saja sesuatu menghantam punggungnya dengan sangat kuat. Hal itu membuat ia terhempas hingga menghantam sebuah batu besar, beberapa meter dari tempatnya berada sebelumnya. Genggaman kedua tangan pada pedang miliknya pun terlepas, hingga Broadsword itu ikut terlempar ke arah yang berbeda.

Sesaat kemudian, Athrun mengangkat wajahnya perlahan. Pandangan matanya kabur, namun samar-samar ia masih bisa melihat apa yang ada di hadapannya. Seekor heizel berwarna biru tua tengah mengepakkan kedua sayapnya,iguel berdiri tegap di atas punggungnya.

"Kau… Ba-gaimana-?"

"Seranganmu itu terlalu lambat, Zala," potong Miguel. "Bahkan seekor kura-kura akan mampu menghindar dari serangan yang menyedihkan itu."

Athrun mengeratkan giginya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Miguel dapat menghindari serangan tadi dengan mudah. Gawat, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan. Jangankan untuk itu, untuk berdiri dan menyelamatkan dirinya pun ia sudah tidak sanggup. Ia benar-benar tamat.

"ATHRUN!"

Athrun tersentak, lalu menoleh ke kiri dan mendapati sosok gadis berambut merah muda berlari menghampirinya.

"Athrun, kau tidak apa-apa?" tanya Lacus, ia berjongkok di samping Athrun. Suara gadis itu terdengar sangat prihatin, kedua mata sapphire-nya juga digenangi air mata. "Athrun…" panggilnya lirih.

Athrun menatap wajah Lacus yang memancarkan kesedihan dan keprihatinan, lalu setelah ia mengambil nafas dalam dan mengumpulkan sedikit tenaga di dalam tubuhnya, ia menjawab, "Jangan cemaskan aku, Lacus… Aku baik-,"

"Tidak!" Lacus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau tidak baik-baik saja, Athrun…"

Tatapan mata Athrun melembut, lalu ia mengangkat tangan kirinya perlahan untuk menggapai pipi gadis yang telah menangisi keadaannya. "Lacus… Aku…"

"Kalian benar-benar memuakkan!" suara Miguel berhasil menarik perhatian Athrun dan Lacus. "Akan aku akhiri permainan ini sekarang juga!" Miguel mengecam cambuknya, menghasilkan butiran-butiran cahaya berwarna hijau yang menyebar ke segala arah.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari belakang Miguel. Puluhan ekor glys muncul dari dalam permukaan tanah di sekitar tempat Miguel, disertai dengan kedatangan kawanan creuz dari dalam hutan. Ratusan ekor mahluk bersayap tersebut beterbangan memenuhi langit di sekitar ZAFT Castle.

Kedua mata Athrun dan Lacus melebar seketika. Mereka berdua hanya sanggup menatap kemunculan ratusan ekor hewan buas di hadapan mereka selama beberapa saat. Sempat terbersit di dalam hati mereka masing-masing, perasaan kaget, bingung dan bahkan takut. Keduanya takut membayangkan apa yang akan terjadi kepada diri mereka, kepada orang yang saat ini berada di samping mereka juga.

Athrun mengeratkan giginya. Suasana hati pemuda berambut navy blue itu saat ini telah benar-benar kacau. Ia telah kehabisan seluruh tenaganya. Tidak ada lagi kekuatan untuk melawan, bahkan untuk menyelamatkan diri. Terlebih lagi, ia sangat mencemaskan seorang gadis yang saat ini masih berada di sisinya.

'Sial! Aku tidak akan membiarkan Lacus mati di sini!'

Dengan susah payah Athrun mulai berusaha untuk bangkit, namun terhenti ketika ia merasakan sentuhan tangan seseorang di bahunya. Hal itu membuatnya menoleh ke arah gadis bermata sapphire di sampingnya. "Lacus?" tanyanya sambil menatap Lacus bingung.

Di sisi lain, Lacus menatap ke dalam mata emerald Athrun dengan serius. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak mengizinkan Athrun untuk melakukan apa pun. "Aku yang akan menyelesaikannya," ujarnya setelah beberapa saat terdiam.

Kedua mata emerald Athrun langsung melebar. "Apa? Tapi kau-."

"Mengertilah perasaanku, Athrun…" potong Lacus dengan nada yang sedikit lirih. "Aku juga tidak ingin kehilangan siapa pun lagi."

Athrun hanya terdiam. Untuk sesaat ia teringat akan kenangan pahit di masa lalu yang menyesakkan dada, kemudian ia melembutkan pandangannya dan mulai memahami bagaimana perasaan Lacus saat ini. "Tapi-."

"Aku akan baik-baik saja," Lacus berdiri, lalu mengambil beberapa langkah ke depan. "Percayalah padaku," lanjutnya tanpa menoleh kepada Athrun.

Mendengar ucapan Lacus, Athrun akhirnya pasrah. Ia sempat memejamkan kedua matanya untuk sesaat sambil menghirup dan menghembuskan nafas panjang. Kemudian ia menatap lurus ke arah punggung Lacus yang berdiri beberapa langkah di depannya.

"Aku percaya padamu," ucap Athrun sambil tersenyum lembut. "Selalu dan akan terus percaya padamu, Lacus."

Beberapa detik kemudian tubuh Lacus diselimuti aura merah muda yang bercahaya, rambut panjang gadis itu melambai-lambai dengan perlahan. Gadis itu kemudian mengangkat kedua tangannya yang telah menggenggam tongkat putih ke depan dada, mata sapphire-nya ia pejamkan dan bibirnya mulai membisikkan kalimat mantera.

"Bintang keabadian, Eternal!"


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


'Kesatria Naga Pencipta?'

Cagalli mengeratkan genggaman tangan pada kedua pedangnya. Saat ini ia dan Kira berhadapan dengan Rau di gua bawah tanah ZAFT Castle. Kedua mata amber gadis itu masih sibuk mengamati sosok pria bertopeng tersebut.

"Jadi kau adalah Rau Le Crueset, pemimpin ZAFT?" tanya Kira tiba-tiba.

Rau mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya, lalu ia sedikit membungkukkan tubuhnya. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan dua orang Kesatria Naga lain di tempat ini."

Cagalli dan Kira langsung tersentak. "Kau…" geram Cagalli.

"Kita lewati saja basa-basinya" sahut Rau. Pria itu menggenggam jam saku milikya, lalu tiba-tiba cahaya berwarna slate-grey terpancar dari jam saku tersebut. "Aku akan membereskan kalian berdua secepat mungkin," lanjutnya. Cahaya dari jam saku milik Rau menjadi semakin terang, bahkan cahaya tersebut mulai menjalar ke tangan dan seluruh tubuhnya. "Sebelum kalian berdua menjadi penghalang besar bagi kami."

Kira dan Cagalli secara reflex mengarahkan senjata mereka kepada Rau, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengambil inisiatif untuk menyerang. Mereka hanya terdiam di tempat mereka sambil menatap sosok Rau. Sosok pria tersebut seolah-olah tertelan oleh cahaya yang dipancarkan oleh jam saku miliknya. Hingga akhirnya cahaya tersebut mulai memudar dan memunculkan kembali sosok Rau yang telah berubah.

"Mari kita habisi mereka, Providence…"


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T – B – C


Balasan Review:

Popcaga: Halo, Bebh! I'm back ini, lngsung hbis baca & Rev ficmu. Sblm ketunda lg update-nya. Haha. Iya ini jg strong, smangat 45! Sama2 brjuang ramaikn fandom. Tak terror trus kmu nnti. :p

Erehmi: Halo, Ehremi! Mksih udah baca dan rev. Haha. Cyaaz klo g dipksa sm Poppy jg g bkl update skligus gt. ^^a Gpp lah g hrus pas ultah KiraCaga, yg pnting ttp aktif. Wah iya, bnyk typo. Mmang ngedit dr hp, sdh lma g pke pc. Hahaha. Mksih ya koreksinya, akn lbih brhti2. Kmrin buru2 jg sih, revisi 3 fic. :( Wah, kebalik... Yg lbih sepuh & kalem itu jstru si Freedom. Cyaaz krg tgas dlm pnggmbran char-nya ya? Hicks. Aduh, kok mlh ksih spoiler soal Nicol...? Tp ntah lah, scene itu bhkn blm dibuat, baru rencana. Hahaha. Ehremi jg smangat ya... Mksih udah ajak ikutan Takabur, mkin ramw deh nnti fandom ini. Hehe.

Titania: Skli2 curcol lah... :p Hahaha. Jngn jealous, kmu sllu mmiliki tmpat trsndiri d hati Cyaaz. #plak. Haha. Mmang KiraCaga the best, Athrun lupain aja, oke? :p Oke2, ini ku update DK-nya, g perlu glisah lg. G perlu nyulik Cacha sgala, dy lg hamil! -_-

Bunny: Yah ni anak kyk hntu, tiba2 muncul trus ilang lg. G prlu kubls ya rev-mu, udah tiap hr nge-chat d wa. :p


Thank you buat semua readers, terutama yg review.

Ttp setia nungguin DK: LiA ya, cm lrg 2 Chapter lg.

See you!