Oke, stlah lama g nongol lg ni Fic...

Cyaaz balik lg dg DK!

Ada yg nungguin? #narsis

Trimz bngt buat Popcaga! Tanpamu Cyaaz g bs update!

Langsung saja dinikmati DK chap 15...


Warning!

AU, Boring, Anime Adventure(?), OOC, Confusing, Hard Word(s), Typo(s), Etc…


Disclaimer : GS/D Bukan milik Cyaaz…

Selamat Membaca…


Dragon Knight : Lost in Aprilius

Chapter 15


Norma PoV

"Mari kita bereskan mereka, Providence…"

Saat ini Rau telah berdiri tegap dengan mengenakan sebuah Medieval shirt lengan panjang berwarna abu-abu, hooded cape dan sepasang sarung tangan dim gray. Kedua sarung tangan Rau masing-masing dihiasi dengan ornament yang unik. Sarung tangan kirinya berhiaskan beberapa lempengan hitam dengan beberapa bentuk dan ukuran yang berbeda, sedangkan sarung tangan kanannya berhiaskan Kristal Naga berwarna slate grey.

Kira dan Cagalli tersentak mundur karena perubahan sosok Rau ke dalam SEED Mode. Untuk pertama kalinya mereka akan berhadapan dengan sesama Kesatria Naga dari pihak lawan, tentunya mereka harus benar-benar siap untuk menghadapi pertarungan sengit.

Rau mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya, lalu tangan kanannya meraih punggung tangan kiri berbalut leather-glove. Pria bertopeng itu meraih dan mencabut salah satu lempengan hitam di punggung sarung tangan kirinya, lalu melemparkan lempengan berbentuk lingkaran itu ke udara.

"Apa yang-," kalimat Cagalli terhenti, kedua mata amber-nya mendapati lempengan hitam tadi tiba-tiba saja membelah diri menjadi beberapa buah. Sesaat kemudian lempengan-lempengan itu berubah bentuk dan ukuran, mereka menjadi lempengan berjeruji dengan diameter 40 centi dan melesat tepat ke arahnya berada.

"Awas!" seru Kira sambil menyambar tubuh Cagalli, membuat keduanya jatuh ke tanah dan berhasil terhindar dari serangan Rau.

Ketika yakin bahwa mereka telah aman, Kira dan Cagalli memalingkan wajah mereka secara hampir bersamaan ke arah lempeng berjeruji tadi. Di luar dugaan mereka, lempengan-lempengan itu berbalik arah ke arah mereka bagai bumerang.

"Sial!" Kira mengayunkan pedangnya ke arah salah satu dari 5 buah lempengan berjeruji yang sedang melesat ke arahnya. Pisau angin yang tercipta dari ayunan Katana-nya berhasil membelah dan menjatuhkan lempengan yang dikenainya.

"Ayo berdiri, Cagalli!" serunya sambil menarik pergelangan tangan Cagalli untuk membantu gadis berambut pirang itu berdiri.

"Aku tahu!" jawab Cagalli sambil berdiri, lalu ia dan Kira melompat ke arah yang berlawanan untuk menghindari serangan lempengan berjeruji milik Rau.

Ke-empat lempengan berjeruji tadi berpencar ke arah yang berbeda, 2 buah menuju Cagalli dan sisanya melesat ke arah Kira. Hal tersebut membuat kedua Kesatria Naga itu secara reflex menangkis serangan dengan pedang mereka masing-masing.

"A-apa-apaan ini?" ucap Cagalli setelah ia menangkis sebuah lempengan yang melesat ke arahnya Di saat yang bersamaan, Kira telah berhasil membelah lempengan lain menjadi 2 bagian dengan Katana-nya.

"Jangan remehkan senjataku," ucap Rau, membuat Kira dan Cagalli menoleh padanya.

"Mereka berbeda dengan pedang tumpul kalian."

'Mereka?'

Kira mengeratkan genggaman tangan pada pedangnya untuk sesaat, kemudian menatap tajam ke arah Rau. "Rau Le Crueset! Turun dan hadapi kami!"

Rau mengukir senyuman tipis di wajahnya. "Dengan senang hati," jawabnya sambil meraih lempengan berbentuk runcing dan lempeng lain berbentuk segitiga dari sarung tangan kirinya.

Rau melemparkan salah satu lempengannya ke tanah, sebuah lempengan berbentuk segi tiga yang langsung berubah menjadi hoverboard di bawah kakinya. Kemudian ia mengayunkan cepat tangan kanannya yang menggenggam lempengan lain, membuat lempengan berbentuk runcing tersebut memancarkan cahaya berwarna slate grey untuk sesaat dan berubah bentuk menjadi 2 buah pedang rapier.

Pria bertopeng itu langsung melesat dengan hoverboard-nya ke arah Kira dan Cagalli, menyerang mereka berdua secara bersamaan dengan kedua pedangnya. Kira dan Cagalli yang menyadari datangnya serangan dari Rau segera memposisikan pedang mereka, Kira menegakkan katana-nya dan Cagalli menyilangkan kedua pedangnya untuk menahan pedang rapier milik Rau.

Adu pedang pun dimulai di antara ketiganya, Kira dan Cagalli secara bergantian berusaha menyerang Rau dari segala arah. Di sisi lain, Rau selalu berhasil menghindari atau menangkis serangan yang ditujukan ke arahnya. Pria berambut pirang itu justru menampakkan sebuah senyuman, seolah-olah ia menganggap pertarungan ini adalah sebuah permainan belaka.

"Inikah seluruh kemampuan kalian?" tanya Rau di tengah adu pedang mereka. "Tadinya kukira kalian lebih dari ini."

Ucapan Rau tentu saja berhasil membuat Cagalli kesal, membuat gadis berambut pirang itu langsung meningkatkan intesitas serangan yang ia lakukan. Cagalli terlalu berkonsentrasi dalam serangannya sehingga ia melupakan pertahanannya, kesempatan itu tentu saja dimanfaatkan oleh sang lawan. Rau segera mengarahkan salah satu pedangnya ke perut Cagalli, sebuah serangan yang cepat dan mematikan dari pria bertopeng itu.

Di saat pedang Rau hampir menyentuh tubuh Cagalli, Kira segera melindungi sahabatnya dengan menahan serangan Rau menggunakan katana-nya. Setelah berhasil menggagalkan serangan Rau, pemuda bermata amethyst itu segera balik menyerang dengan mengayunkan katana ke lawan. Serangan Kira berhasil mengenai Rau, sisi kiri pria itu tersayat oleh katana-nya.

"Hmm," Rau mengamati lukanya sejenak, setelah ia tersentak mundur beberapa meter. "Menarik…" lanjutnya sambil menatap Kira.

"Berhenti main-main!" seru Cagalli sambil menatap tajam ke arah Rau.

"Ayo selesaikan pertarungan ini secepatnya!" tambahnya sambil mengangkat pedang di tangan kanannya dan mengarahkannya pada Rau.

Rau tidak menanggapi ucapan Cagalli, ia hanya menyeringai kecil ke arahnya. Seringaian licik itu semakin menambah kekesalan Cagalli, membuatnya semakin ingin membakar habis sosok pria bertopeng di hadapannya. Gadis bermata amber itu tengah bersiap untuk menyerang, namun langkahnya terhenti oleh tangan kanan Kira yang terbentang di depan.

"Hentikan, Cagalli!" seru Kira sambil menatap Cagalli dengan serius. "Kendalikan dirimu!"

Cagalli menyipitkan matanya. "Apa yang kau lakukan? Ayo segera kalahkan dia dan kita kembali ke OR-."

"Aku tahu!" potong Kira dengan tegas. "Aku tahu perasaanmu, aku mengerti…" ucapnya lirih. "Tapi tenangkanlah dirimu… Jangan bertindak ceroboh, Cagalli…"

Seketika itu juga tatapan mata Cagalli melembut, ia merasa bersalah karena telah membuat Kira khawatir. Cagalli terlalu berfokus pada keinginannya untuk segera kembali ke ORB, untuk segera pulang dan menemui adik kesayangannya. Hal itu membuat ia menjadi tidak sabaran, bertindak gegabah dan membahayakan dirinya sendiri.

"Maaf," ucap Cagalli pelan, kemudian ia memejamkan kedua matanya sejenak dan membukanya kembali. "Aku sudah tidak apa-apa, Kira."

Kira tersenyum lembut pada Cagalli. "Syukurlah," lalu ia kembali menatap sang Kesatria Naga Pencipta. "Ayo kita kalahkan dia dan kembali ke ORB."

Cagalli mengangguk untuk merespon Kira, kemudian keduanya segera beranjak dari posisi mereka untuk menyerang Rau secara bersamaan. Adu pedang pun kembali terjadi di antara ketiga Kesatria Naga tersebut, hanya saja kali ini gerakan Kira dan Cagalli menjadi semakin cepat, terorganisir dan sulit ditebak oleh Rau. Perkembangan pergerakan kedua lawannya membuat Rau sedikit terkejut, ia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan dapat menjadi semakin kuat dalam waktu sesingkat ini.

"Mereka benar-benar menarik"'

"Mereka akan jadi lawan yang sangat merepotkan jika tidak kuhabisi sekarang"

Senyuman kecil yang licik terukir kembali di wajah Rau saat ia masih sibuk menghadapi serangan bertubi-tubi dari Cagalli dan Kira. Sesekali ia berhasil melukai dan bahkan memukul mundur lawan-lawannya hingga terjatuh, namun tak jarang pula ia sendiri harus melangkah mundur atau melayang dengan hoverboard-nya untuk menghindari serangan yang datang.

Di sisi lain, Cagalli dan Kira juga mengalami hal yang hampir serupa. Mereka berdua dengan lincahnya terus berusaha melukai sekaligus menghindari lawan mereka. Serangan mereka berdua semakin lama menjadi semakin selaras, meski tidak ada komunikasi lisan di antara keduanya. Hal tersebut tentu saja membuat Rau kesulitan menghadapi mereka hingga beberapa luka sayatan pun melekat di tubuhnya.

Pertarungan sengit di antara ketiganya terus berlangsung, hingga suatu ketika Kira menemukan sebuah kesempatan. Ia mendapati Rau yang mulai kelelahan dan sedikit lemah, menciptakan sebuah celah kecil yang mungkin akan membawa kemenangan baginya dan Cagalli.

Dengan keyakinan penuh di dalam hati, Kira segera mengambil kesempatan emasnya. Ia mengarahkan bilah Katana-nya pada bagian belakang tubuh Rau yang saat ini tengah sibuk dengan Cagalli. Walaupun masih ada sebagian kecil dari dirinya yang menolak untuk menyakiti, bahkan membunuh seseorang, pemuda berambut cokelat ini harus melakukannya. Ia harus mengakhiri pertarungan ini dengan kemenangan baginya agar ia dan sahabatnya dapat kembali ke ORB.

"Berakhir sudah!" ucap Kira saat ujung pedangnya hampir menyentuh tubuh sasaran.

Jerk!

Tiba-tiba saja seluruh gua berguncang hebat, membuat Kira kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sementara Cagalli tersentak mundur dan Rau menaikkan ketinggian hoverboard-nya hingga beberapa meter di udara. Ini bukanlah guncangan biasa, bukan guncangan yang diakibatkan oleh gempa bumi atau semacamnya. Guncangan hebat yang luar biasa ini terasa begitu mendadak dan… Tidak alami.

"A-apa yang terjadi?" Cagalli mengedarkan pandangannya ke segala arah dari posisi duduk, mengamati dinding gua yang bergetar dan kristal-kristal yang berjatuhan.

"Gempa?" gumam Kira yang saat ini tengah berada dalam posisi tiarap.

Kira segera mengedarkan mata amethyst-nya ke segala penjuru, didapatinya dinding gua yang mulai retak akibat dahsyatnya guncangan yang masih terasa hingga saat ini. Dengan segera pemuda berambut cokelat itu berdiri, lalu ia menghampiri Cagalli dan membantunya berdiri.

"Ayo, Cagalli," ucapnya sambil menarik pergelangan tangan kanan Cagalli, ia segera membawa gadis berambut pirang itu ke bawah sebuah batu besar yang membentuk terowongan pendek di dalam gua. "Sepertinya tempat ini akan runtuh," ucapnya setelah ia dan Cagalli berada di bawah naungan terowongan batu yang melindungi mereka dari reruntuhan dinding gua.

"A-apa?" Cagalli tersentak, lalu mengeratkan giginya. "Apa yang harus kita lakukan, Kira?"

Kira menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak tahu…" jawabnya jujur. "Tapi kurasa kita lebih baik berlindung di sini untuk sementara."

Cagalli kemudian menatap mata amethyst Kira, jarak di antara wajah keduanya sangatlah dekat. "Kir-."

"Awas!"

Kira segera memeluk erat tubuh Cagalli dan merunduk ketika sebuah batu besar menghantap atap terowongan tempatnya berlindung dan mengakibatkan guncangan yang cukup hebat di sekitar mereka. Ia mendekap erat tubuh gadis berambut pirang itu, berusaha melindunginya dari segala macam bahaya yang mengancam. Ia menjadikan tubuhnya sebagai perisai yang melindungi Cagalli dari serpihan dan pecahan batu yang datang menghujan, apa pun rela ia lakukan untuk melindungi gadis bermata amber yang tubuhnya mulai bergetar di dalam dekapannya.


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


Di tengah-tengah hujan batu dan kristal yang berkilauan di dalam gua bawah tanah ZAFT castle, seorang pria berambut pirang masih tetap kokoh di tempatnya. Ia berdiri di atas hoverboard berwarna hitam, tatapan matanya tertuju pada retakan-retakan dinding gua yang semakin melebar.

Sesaat kemudian ia mendapati sebuah kristal yang jatuh tepat menuju ke arahnya, membuatnya meraih sebuah lempengan berbentuk persegi yang melekat pada sarung tangan kirinya. Ia melemparkan lempengan itu ke udara, mengubah lempengan itu menjadi sebuah perisai transparan yang melindunginya dari hujan batu dan kristal.

Selama beberapa menit kedua matanya masih tertuju ke atas, mengamati atap gua bawah tanah yang mulai runtuh dan dinding gua yang semakin hancur. Diamatinya baik-baik, pemandangan langit malam hutan Aprilius yang mulai nampak dari lubang-lubang yang tercipta di atap gua.

Langit malam di atas ZAFT castle saat ini nampaknya sedikit berbeda, butiran-butiran cahaya putih nampak menghiasi langit gelap itu. Itu bukanlah butiran-butiran bintang yang biasa menghiasi langit malam, mereka bergerak secara perlahan.

Ekspresi wajah Rau tiba-tiba saja berubah, nampaknya ia baru saja menyadari sesuatu. Ia menundukkan wajahnya, mengamati kehancuran gua bawah tanah ZAFT castle. Kemudian ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya begitu saja.

"Rupanya dia benar-benar menjadi semakin kuat," gumam Rau. "Tidak kusangka dia telah mampu mengendalikan kekuatan ini."

Rau kembali mengangkat wajahnya untuk menatap langit berhiaskan butiran-butiran cahaya putih yang semakin terlihat jelas dari tempatnya.

"Kesatria Naga Bintang, Lacus Clyne."


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._


ZAFT castle merupakan sebuah bangunan tua berbentuk menyerupai benteng atau kastil bergaya abad ke-10 yang terdapat jauh di kedalaman hutan Aprilius. tidak ada seorang pun yang mengetahui pasti, kapan dan bagaimana bangunan tua itu didirikan. Begitu juga dengan siapa sang pendiri dan untuk apa bangunan dengan dinding berwarna sandy-brown itu didirikan.

Letaknya yang berada jauh di kedalaman hutan paling berbahaya di seluruh penjuru PLANT membuat ZAFT castle menjadi semakin misterius dan sangat sulit dijamah manusiaa. Bahkan sebelum beredar kabar bahwa ZAFT telah menjadikan kastil itu sebagai markas mereka, jarang sekali ada orang yang sengaja menerjang bahaya yang tersaji di hutan Aprilius untuk mengunjungi ZAFT castle.

Hanya ada segelintir orang yang mengaku bahwa mereka pernah melihat atau mendatangi kastil tua itu. Kesan-kesan mereka yang telah menatap langsung ZAFT castle hampir sama, "Itu adalah sebuah bangunan tua yang megah, namun begitu mengerikan."

Rasanya tidak aka nada yang mengira bahwa kastil megah dan kokoh itu saat ini tidak utuh lagi. Sebagian besar dinding, menara dan bangunannya telah hancur. Hanya tersisa sebuah menara dan beberapa meter dinding batu di bagian paling ujung kiri kastil, sementara bagian-bagian kastil yang lainnya telah runtuh dan sebagian besar telah rata dengan permukaan tanah.

Keadaan di sekeliling puing-puing kastil itu pun pora-poranda, puluhan batang pohon tumbang dan terdapat banyak retakan bahkan lubang pada lapisan tanah di sekelilingnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi di tempat itu? Bencana macam apa yang mampu meruntuhkan kemegahan serta kekokohan ZAFT castle?

Di sudut paling belakang reruntuhan ZAFT castle, terlihat reruntuhan batu dan dinding kastil berbaur dengan bongkahan-bongkahan kristal berwarna cyan. Meski bentuknya telah hancur dan tidak beraturan lagi, kristal-kristal tersebut sama sekali tidak kehilangan kemilaunya. Kilauan cahaya yang berasal dari kristal-kristal tersebut mampu menerangi sekelilingnya, memberikan secercah cahaya di tengah kegelapan.

Di antara bebatuan dan bongkahan kristal yang berserakan, terlihat beberapa buah batu yang bergerak-gerak. Batu-batu itu seolah terdorong oleh sesuatu di bawahnya, membuatnya beberapa kali tergerak ke atas.

"Aarrrgh…" tiba-tiba saja muncul sosok seorang pemuda dari balik reruntuhan tersebut, rupanya ialah yang telah memberontak di bawah bebatuan tadi.

Setelah berhasil membebaskan dirinya, pemuda itu segera menunduk dan berusaha menyingkirkan bebatuan di sekitarnya. Setelah itu ia membantu sahabatnya untuk terbebas dari reruntuhan gua, lalu membantunya berdiri di hadapannya.

"Kau baik-baik saja, Cagalli?" tanya pemuda berambut cokelat itu, dengan sorot mata amethyst yang dipenuhi kekhawatiran.

"Hm," jawab Cagalli sambil mengangguk kecil, lalu ia menatap orang yang telah membantunya. "Bagaimana denganmu?"

"Aku tida-," pemuda itu tiba-tiba saja mengerang karena punggungnya terasa sakit, hampir seluruh bagian tubuhnya sekarang telah dipenuhi luka memar akibat menahan reruntuhan yang jatuh menimpanya.

"Kira?!" Cagalli berusaha membantu Kira yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan dengan cara memegangi kedua lengan pemuda itu, berusaha membantu dengan menopang tubuhnya yang hampir ambruk. Saat ini kedua Kesatria Naga itu tidak lagi dalam SEED Mode, senjata-senjata keduanya pun tidak berada di tangan mereka.

Kira menatap Cagalli dan tersenyum lembut. "Aku tidak apa-apa."

Cagalli masih tetap menatap mata amethyst Kira, ia sangat mengkhawatirkan kondisi pemuda itu. Selain itu, ia juga merasa sangat bersalah karena telah membuat Kira menjadi seperti ini. Karena Kira berusaha melindunginya dari reruntuhan gua, pemuda berambut cokelat itu lagi-lagi harus mendapatkan luka di sekujur tubuhnya.

"Maaf, Kira…" bisik Cagalli sambil menundukkan wajahnya.

Kira menghela nafas, lalu mengusap puncak kepala Cagalli. "Tenanglah, aku tidak apa-apa."

Seketika itu juga Cagalli kembali menatap mata Kira, kemudian ia langsung memeluknya. Sekali lagi, ia berhutang nyawa pada pemuda berambut cokelat itu. Sekali lagi, pemuda itu berkorban untuk melindungi dirinya. Kenapa selalu begini? Kenapa ia begitu tidak berguna? Kapankah ia akan bisa membalas segala kebaikan dan pengorbanan Kira? Apakah selamanya ia akan selalu menjadi beban bagi pemuda bermata amethyst itu?

Di sisi lain, Kira hanya bisa membalas pelukan dan membelai lembut rambut pirang Cagalli, ia tidak tahu apa yang harus ia katakana pada gadis itu. Beberapa saat kemudian barulah ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mengamati kondisi sekelilingnya yang pora-poranda.

'Sebenarnya tadi itu apa?'

'ZAFT castle dan bahkan gua bawah tanahnya sampai hancur seperti ini…'

Kira kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan dari siapa pun yang mungkin ia temukan. Namun sayangnya, ia tidak menemukan siapa pun. Hanya puing-puing kastil dan beberapa batang pohon tumbanglah yang berhasil ia temukan.

"Kira…" Cagalli tiba-tiba saja memanggil namanya sambil perlahan melepaskan diri dari pelukannya. "Terima kasih…"

Kira tersenyum tipis, masih dengan tangan kanannya yang berada di puncak kepala Cagalli. "Ya, syukurlah kalau kau tidak terluka."

Cagalli membalas senyuman Kira dan mengangguk, lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Apa yang sudah terjadi?"

"Entahlah," jawab Kira. "Sebaiknya kita mencari Lacus dan Athrun."

Cagalli mengangguk untuk merespon Kira, lalu mereka berdua mulai melangkah untuk mencari keberadaan Lacus dan Athrun. Kira dan Cagalli sangat mencemaskan keadaan kedua teman baru mereka, setelah gempa hebat yang baru saja terjadi… Mereka cemas jika Lacus dan Athrun tidak sempat menyelamatkan diri mereka dan…

"Ke mana kalian akan pergi?"

Tiba-tiba saja terdengar suara dari kejauhan, membuat Kira dan Cagalli tersentak kaget dan langsung membalikkan tubuh mereka. Beberapa puluh meter di depan mereka saat ini, berdirilah seorang pria bertopeng di atas hoverboard hitamnya. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum angkuh pada mereka.

"Apa kalian lupa?" lanjut Rau sambil melepaskan lipatan tangannya. "Pertarungan kita belum berakhir."

Seketika itu juga Kira dan Cagalli menajamkan tatapan mereka pada Rau, kemudian menggapai Kristal Naga mereka masing-masing. Secara hampir bersamaan, Kristal Naga mereka memancarkan cahaya dan mengubah pemiliknya masing-masing ke dalam SEED Mode.

"Ternyata kau masih hidup," ucap Cagalli, masih dengan sorot mata amber-nya yang tajam pada Rau.

"Tentu saja," jawab Rau. "Aku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini," ujarnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Tapi aku cukup terkesan, rupanya gadis itu bisa melakukan ini."

'Gadis itu?'

Cagalli menyipitkan kedua matanya, siapa yang dimaksud "Gadis itu" oleh Rau? Apakah mungkin… Lacus?

"Berhati-hatilah, Cagalli," ucapan Kira berhasil menghentikan pemikiran Cagalli dan membuatnya berpaling. "Jangan lengah."

Cagalli mengangguk, lalu ia menoleh pada Rau. Diperhatikannya sosok pria bertopeng itu, sosoknya terlihat tidak jauh berbeda dengan saat terakhir ia melihatnya. Aneh, pria itu sama sekali tidak terluka, sama sekali tidak ada bekas luka memar atau bahkan goresan akibat tertimpa reruntuhan. Apakah pria itu juga berlindung di suatu tempat?

"Baiklah," Rau kembali angkat suara. "Mari kita lanjutkan permainan kita," ucapnya sambil meraih sebuah lempengan di sarung tangannya. "Ke tahap selanjutnya."

Kira dan Cagalli segera bersiap di posisi mereka, kedua tangan mereka telah menggenggam senjata-senjata mereka dengan seerat mungkin. Kedua mata mereka terfokus pada setiap pergerakan Rau, mengamati pria berambut pirang yang tengah melemparkan sebuah lempengan berbentuk bintang ke udara.

"Aktifkan DRAGGON System!"


_…..-…._ Dragon ..- * -.. Knight _...-….._

T - B - C


Yosh! Cyaaz nggak nyangka udah sampe sini... Thank you buat Readers yg masih setia baca dan terlebih review...

Buat Popcaga skli lagi thank you! :D

Cyaaz menyadari DK banyak swkali kekurangannya, kaku, g jlas, alay dll.

Tapi DK adalah salah 1 karya pertama Cyaaz, Cyaaz bangga pd DK.

Di kesempatan / Fic selanjutnya Cyaaz akan semakin koreksi diri dalam menulis. Setidaknya diperhalus dan ya... Belajar menuangkan perasaan / feel dlm tulisan2 Cyaaz.

Sekian dr Cyaaz, sekali lg trima ksih, Minna-san!

See you & silahkan review!