"Itu tidak mungkin."

Naruto mengedipkan mata tanpa emosi, ketika mendengar bisik-bisik diantara para dokter melihat sesuatu yang mungkin tidak diharapkan. Mengesampingkan para medis yang antara takut atau enggan berada di dekatnya. Naruto mengamati ruangan itu, satu jendela besar yang menghadap pemandangan desa. Kasurnya ada di dekat jendela sehingga dia bisa melihat desa Konoha berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Ada tiga kasur di ruangan itu, tapi hanya Naruto saja yang memakainya. Perabotannya juga minimalis, kebutuhan yang hanya ditunjukkan untuk pasien. Naruto sempat berpikir dia akan berada di ruangan penuh segel dan jeruji, tapi tampaknya dunia ini termasuk kategori normal. Tidak seperti dunia asli miliknya.

Salah satu dokter memberanikan diri mendekat ketika Naruto merasakannya dan menoleh kearahnya. Dia menyeringai dan memamerkan tubuh segar bugar yang malah membuat dokter itu terhenti langkah kakinya memasang ekspresi ketakutan, tapi dia terus maju dan memeriksa kondisi tubuhnya, Naruto bisa merasakan ketakutan luar biasa dari si dokter. Para medis lain semakin berbisik dan salah satunya, mengatakan jika Rubah sudah mengambil alih anak itu.

Itu tidak sepenuhnya salah, pikir Naruto. Jiwa asli anak ini sudah tenang di alam lain dan tubuh bocah lima tahun kini milik jiwa baru yang lebih tua. Naruto berpikir apakah para medis itu sudah memeriksa aliran cakranya, bertanya-tanya apakah mereka menemukan keanehan. Meski subjek jiwa mereka sama, Naruto tua dan Naruto mudah jelas berbeda. Tapi dia yakin pengobatan dunia ini belum begitu maju, hanya Rinnegan yang bisa membedakan pola itu.

Tangan si dokter masih bergetar dan Naruto tergoda untuk mengatakan 'halo' untuk melihat reaksi apa yang bakalan terjadi.

Esoknya, Hokage datang menjenguk. Itu sesuatu yang tidak mengejutkan, tentunya pemimpin desa ninja harus mengecek senjata manusia mereka. terlepas dari sikap peduli kakek tua itu, di mata Naruto keputusannya masih terbelenggu oleh rasa khawatir. Di berbagai kehidupan, cuma satu fase Sandaime Hiruzen Sarutobi benar-benar peduli dan melindungi Naruto untuk tetap berada di sampingnya. Garis besar itu kehidupan yang menyenangkan, meski Perang Dunia keempat terjadi lebih cepat dan Akatsuki bukanlah dalang penyebab perang itu.

Dia menepuk lalu mengusap rambut kuning si bocah. Tersenyum tulus, tapi juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sudah diceritakan para medis itu? Naruto bertanya-tanya.

"Bagaimana perasaanmu Naruto?" dia bertanya dalam kepedulian murni.

Bagaimana perasaanku? Naruto bertanya-tanya reaksi seperti apa yang biasa diberikan Naruto kecil di dunia ini. Ceria dan masa bodoh? Naruto bukan tipe yang mudah merubah emosi dengan mudah.

"Baik. Aku seperti terlahir kembali," dia mengucapkannya dengan emosi netral.

Sejenak ada mimik kecil yang berubah dari wajah Sandaime, tapi segera hilang dan kembali tersenyum. "Bagus, anak sehat dan kuat harus selalu tetap optimis. Nah jika kamu berjanji mendengar kata dokter, aku janji lusa kamu bisa keluar dari rumah sakit."

Naruto mendengarkan saja kata-kata itu dan mengangguk jika diperlukan. Sandaime bertanya tentang apa saja yang diingat Naruto saat dia di sungai. Bocah itu menjawab jika dia hanya bermain mengikuti arus sungai.

"Hanya itu?" tanya Sandaime.

"Ya. Aku hanya mengikuti aliran sungai… lalu mungkin aku terlalu lelah hingga ketiduran disana dan begitu membuka mata, aku sudah ada disini."

Sandaime diam sejenak sebelum mengucapkan terima kasih dan mendoakan kesehatannya. Orang nomor satu di Konoha beranjak untuk mengobrol dengan seorang dokter pria. Itu laki-laki baru yang Naruto lihat, berbeda dari dokter biasanya, laki-laki baru ini memiliki emosi terkontrol, bahkan saat dia mengecek Naruto sore itu, dia tidak takut sama sekali. Dia bertanya kondisinya, apakah dia merasakan sakit, bahkan saat Naruto menyeringai ketika menjawab., laki-laki itu tetap tenang mencatat semuanya ke laporan di atas papan klip.

Mungkin dia dari anbu…

Sekarang dia hanya menunggu untuk dipulangkan dari Rumah sakit. Sandaime menepati janjinya ketika lusa datang, dia sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Naruto menyeringai membayangkan kehidupan baru di dunia ini. Oh, Aku akan bersenang-senang. Bocah lima tahun itu meninggalkan rumah sakit tanpa satupun yang mengantar, membawa kantung bersisi obat dan sekantung uang. Sandaime mengatakan jika seminggu dia tidak perlu masuk akademi, dia boleh beristirahat untuk memulihkan keadaannya. Naruto mengangguk menerima penjelasan itu dan tanpa bertanya apa-apa dia pergi. Jujur apa yang dipikirkan orang-orang ini? Membiarkan bocah lima tahun hidup sendiri? Terlepas pergerakan Anbu yang mengawasinya, Naruto tua tidak bisa berpikir kenapa di beberapa kehidupan Naruto, tidak ada satupun yang bertanya-tanya bagaimana bocah lima tahun hidup sendirian.

Seminggu Naruto tidak meninggalkan rumah. Anbu di luar cukup gelisah sehingga beberapa kali dia mendekat dari jarak normal, memastikan si bocah masih hidup. Di sisi lain Kurama tidur seperti orang mati. Ketika dia bosan, Naruto akan mengunjungi mindscape melihat Rubah mendengkur dengan nafas tenang dan panjang. Naruto masih memiliki semua kekuatan masa lalunya, meski itu harus dikompromikan dengan tubuh kecil umur lima tahun. Jutsu-jutsu miliknya bisa digunakan cukup baik, meski tidak sekuat ketika dia berada di wujud dewasa. Segala sesuatu tampak jauh lebih besar di mata anak-anak dan dia berharap tubuh ini akan tumbuh lebih cepat.

"Nah, Apa kamu sudah menyiapkan besok senin Naruto? Rindu akademi?" malam di minggu akhir, Sandaime tiba-tiba datang dan mengajak Naruto makan ramen Ichiraku. Tentu mereka makan di rumah, sehingga tidak menarik perhatian. Naruto mengangkat kepalanya begitu Sandaime mangajaknya bicara. "Kamu sudah sehat dan tentu saja kamu rindu dengan akademi dan teman-temanmu disana."

Kehidupan Uzumaki Naruto nyaris mendapatkan pengalaman buruk tentang hubungannya dengan penduduk desa. Anak-anak yang tidak mau bermain dengannya, kondisi terbelakang sehingga dicap sebagai murid terbodoh… tentu itu adalah gambaran besar kehidupan Naruto, mungkin di dunia ini Naruto lebih diperhatikan, meski Naruto tua tidak yakin jika kehidupan ini tidak jauh beda dari apa yang dia tahu.

.

Naruto menyeringai penuh kebencian, hampir ingin menghancurkan seisi Akademi dan kalau perlu Konoha dari peta. Dia memelototi Mizuki, guru berlevel chunin yang dengan sengaja mempermalukan nya di depan kelas. Tangannya mengepal mengesampingkan rasa sakit tertusuk kuku jarinya sendiri. Tidak ada teman di kelas ini, mereka semua pengganggu. Anak-anak dibawah pimpinan Inuzuka Kiba mendorongnya, mengejeknya bahkan menyembunyikan tas miliknya. Mata birunya tidak menemukan angkatan geninnya kecuali Kiba, Shino dan Ino di kelas itu. Fakta tidak adanya bocah Nara dan Akimichi menambah deret perbedaan di dunia baru ini. Naruto mencoba mengambil tas di dalam tong sampah ketika anak lain dengan sengaja mendorongnya hingga terjatuh. Mereka tertawa, mengejek tanpa satupun mau menolong. Naruto diam tanpa melawan, tapi tatapan pupil binatang buas meski tetap biru sangatlah menusuk.

"Aka kubuat kau menderita!" Naruto menjerit. Memelototi pimpinan bocah sialan itu. "Akan kumulai dari anjing baumu itu!"

"Mengutuk kami? Memang apa yang bisa kamu lakukan bocah rubah? Menggigit kami dengan taring kecilmu?" lalu semua tertawa dan kali ini semakin keras. Guru pelajaran lain, seorang wanita berkacamata menyuruh anak-anak duduk. Naruto masih terpaku selama beberapa detik sebelum dia kembali duduk di meja panjang kosong untuk dirinya sendiri. Kalian menggali kuburan kalian sendiri.

Guru baru tidak seburuk Mizuki, tapi tidak ragu untuk mengesampingkan Naruto dengan menganggapnya tidak ada.

Dua hari kemudian, Konoha digemparkan dengan tiga anak-anak dan seekor anjing yang mati terjebak dalam koral bening sehingga mereka yang menemukannya bisa melihat ekspresi horor dari ketiga wajah itu. Tidak hanya terbungkus lapisan batu, anak-anak itu mati dalam keadaan tragis. Seorang bocah berambut abu-abu memiliki kepala pecah seakan baru saja dihantam benda tumpul yang keras, anak berambut coklat menggaruk lehernya kesakitan seperti orang tercekik, bocah satu lagi bersamanya anjingnya yang paling mengenaskan. Tubuh mereka ter mutilasi membeku dalam koral.

Klan Inuzuka mengamuk mendapati pewaris muda mereka mati mengenaskan. Ibu Kiba menuntut desa menyelidiki kematian anaknya dan Naruto menjalani hidup dengan normal serta anak-anak lain yang kali ini tidak menghiraukannya. Tidak ada lagi yang mau mendekatinya sejak ditemukannya jasad Kiba bersama antek-anteknya.

"Itu pembunuhan tersadis yang pernah aku lihat,"

"Kamu sendiri sudah pernah menginjak-injak manusia seperti semut, Kurama."

"Jadi kamu juga punya kekuatan ekor tiga?"

"Aku punya kekuatan dari kalian bersembilan."