Naruto menerima rekomendasi melompati kelas sehingga di usia sembilan dia sudah ada di kelas tingkat terakhir dan bersiap mengikuti ujian Genin. Meski cukup beresiko, Naruto tidak mau menghabiskan waktunya di akademi dan mengulang teori yang tidak lebih sebiji kubis dibandingkan pengalaman ratusan tahun. Naruto ingin segera lulus, urusan menjadi ninja seperti apa bisa dipikirkan lain waktu. Tapi bocah laki-laki tidak bodoh, dia membuat rencana untuk memastikan peningkatannya tidak terlihat janggal. Naruto mendekati Iruka yang selalu jadi tokoh kunci di semua universe. Guru itu di dunia ini memang tidak memiliki hubungan dekat dengannya, tapi masih melihat Naruto sebagai seorang 'murid' dan mau meladeninya.

Ada perbedaan antara anak-anak yang lahir dari klan dengan berlatar masyarakat sipil. Meski aturan desa tidak melarang kelahiran sipil menjadi ninja, nyatanya hanya 60% anak-anak sipil yang lulus dan siap menghadapi dunia ninja yang kejam. Sisanya akan memilih mundur dan mencari jalan lain. Berbeda dengan anak-anak klan ninja. Mereka semua telah dilatih sejak dini, beberapa yang menguasai kekkai genkai kuat memiliki prioritas menjadi ninja. Tapi ada juga beberapa kondisi anak-anak klan tidak sebaik anak-anak kelahiran sipil. Namikaze Minato adalah sederet contoh kecil kasus itu, di angkatannya, Minato yang yatim piatu dan besar di panti asuhan tanpa catatan darah klan ninja dianggap jenius dan Hokage pertama yang lahir dari warga sipil.

Naruto memiliki semua kekuatan dan pengalaman untuk melewati semua itu. Dia adalah sosok lain yang berada di luar nalar manusia saat itu. Tapi meski dia mampu, Naruto perlu membangun kondisi kalau kepintaranya murni hasil kerja keras dan semua rekayasa Umino Iruka adalah kunci rencananya.

Kecerdasannya masih ada di dalam kepalanya dan juga dia masih hapal dengan semua teknik jutsu miliknya. Meskipun, beberapa teknik tidak bisa dipakainya karena faktor kondisi fisiknya. Akses cakra Bijuu masih tetap, tapi tidak seperti versinya sendiri di dunia ini Naruto tidak bisa bertemu dengan para bijuu selain Kurama dan Isobu yang baru terjalin koneksi dua bulan yang lalu. Selebihnya, Naruto masih mematikan dan kuat.

Memanfaatkan koneksi Iruka, Naruto melakukan apa yang dilakukan Namikaze Minato di masa lalu. Dia sering berkunjung ke perpustakaan dan membaca segala gulungan dan buku. Meski akses yang diberikan masih terbatas, itu sudah cukup untuk sebuah alibi. Dia perlahan menaikkan nilai kualitasnya di akademi, khususnya membuat Iruka terkesan. Ada beberapa guru, seperti Mizuki yang menutup mata dengan perkembangan Naruto. Tapi bagi guru yang masih memiliki 'otak' akan melihat perkembangan itu sebagai aset. Hokage juga masih mengontrol Akademi dan akan segara tahu seberapa unggul kualitas perkembangan Naruto. Sisanya, biarlah angin yang menuntun masa depan.

Kematian Inuzuka Kiba tentu merubah aliran waktu di dunia baru ini. Tim Kurenai mungkin tidak akan sama atau tidak pernah ada, Hyuga Hinata dan Aburame Shino mungkin akan berbeda dari versi umumnya. Naruto juga yakin Uchiha Sasuke akan tumbuh berbeda. Klan Uchiha masih tetap dibantai oleh Itachi, para dewan khususnya Danzo juga masih mencurigakan. Di versi umumnya, sejak Sasuke sendirian, Naruto akan tertarik pada Sasuke dan berusaha mendekati. Tapi di dunia ini Naruto memutuskan untuk tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan bocah Uchiha. Apakah itu berdampak buruk atau tidak, Naruto tidak begitu memikirkannya sekarang.

Selain semua masalah faktor fisik dan pergesekan waktu di dunia ini, Naruto harus selalu menahan diri agar orang-orang, khususnya Anbu juga tidak menaruh curiga. Urusan akademi dia memiliki Iruka, tapi di luar itu ada Anbu perak yang selalu mengikutinya seperti anjing. Naruto perlu hati-hati dalam berlatih, membuat rekayasa jauh lebih sulit dibandingkan membunuh saat itu juga. Menjaga batasnya, menggunakan jutsu yang sekiranya bisa dilakukan level genin, tapi dianggap istimewa (misal Kagebunshin, dan beberapa teknik ninjutsu elemen level D hingga C) Naruto kadang meski sebal, harus membuat latihannya terlihat gagal. Dia tahu Anbu pengawalnya punya mata yang bagus.

Hari-hari berlalu cepat. Semua dramanya juga masih berjalan lancar. Anbu tidak mencurigai apapun dan Iruka terus menjadi 'aset' bagus untuk rencananya.

Meski ada beberapa kutu yang mengganggu seperti Mizuki yang menuduhnya curang. Atau anak-anak yang tidak mau menerima perubahan dirinya.

Sudah banyak kesabaran Naruto lakukan untuk menahan diri memberi kutukan pada orang-orang sialan itu. Sejak insiden Kiba, Naruto paham Konoha menaruh curiga padanya. Anbu yang mengikutinya tidak lagi hanya si rambut perak, dia juga merasakan cakra mirip Hokage pertama dan beberapa cakra lain. Anbu selalu berganti-ganti, tapi cakra perak hampir selalu mengikutinya. Lalu ada orang-orang yang Naruto tebak berasal dari Ne.

Mengutuk dan menciptakan kemalangan adalah bagian yang paling dia sukai. Sejak menjadi bagian Limbo, sisi manusianya lenyap dan melihat manusia tak lebih dari sekedar tikus percobaan. Makhluk-makhluk kecil yang sesumbar bisa memiliki apapun hanya karena secuil cakra, tapi begitu didorong depresi dan ketakutan nyali besar itu langsung ciut dan berubah menjadi boneka yang mudah dikendalikan. Kesombongan adalah awal dari kehancuran. Manusia adalah bibit kehancuran.

tapi sekuat apapun dia mencoba menahan diri, Naruto tetap akan bermain-main memberi hukuman bagi mereka yang mengolok-oloknya. Meski Kiba adalah contoh awalnya, kebodohan manusia tetap sesuatu yang menarik. Beberapa orang-orang bodoh itu mencoba untuk melukainya. Siswa tingkat akhir dari Klan Hyuga melempar gulungan yang sedang dibacanya ke dalam kolam. Awalnya dia bisa menahan diri, tapi ketika bocah mata pucat itu mengatakan hal buruk soal Iruka, Naruto memutuskan untuk menodai tangannya kedua kalinya sejak di datang di dunia ini.

Suatu pagi bocah Hyuga yang melempar gulungannya ke kolam ditemukan tewas di dalam hutan dengan kedua mata hilang dari soketnya. Rupanya karena dia bukan dari cabang utama, bocah itu tidak begitu diperhatikan dan ketika pergi terlalu jauh, seorang pencuri organ datang di waktu yang tepat untuk mendapatkan beberapa stok Byakugan.

Seiring waktu, orang belajar untuk menghindarinya dan rumor tidak sekedar bocah iblis rubah, Naruto dikenal sebagai bocah kutukan. Sandaime juga semakin memperhatikannya sejak rumor itu meluas, dia lebih sering menemani Naruto entah itu hanya makan atau jalan-jalan di tempat yang sepi. Sekali-kali Hokage akan mencari informasi, tetapi Naruto sudah biasa mempermainkan emosi orang lain. Mizuki dan beberapa orang lain rupanya tidak begitu menghiraukan rumor, berusaha mencoba untuk mengganggu dan tentu hasilnya akan semakin memperkuat rumor itu.

"Nah, Naruto bagaimana perasaanmu?" Iruka bertanya. Sesi ujian genin selesai dan Naruto lulus dengan nilai memuaskan. Dia mempraktekkan semua jutsu dalam ujian dan ketika diminta membuat bunshin, Naruto malah membuat Kagebunshin. Sandaime yang menjadi penguji bertanya darimana Naruto belajar teknik itu dan dia menjawabnya dari riset di beberapa gulungan yang dibacanya lalu mencoba ini dan itu. Pertanyaan selesai disitu.

"Entahlah, rasanya tidak masuk akal aku lulus dari akademi."

Iruka tertawa menepuk pundaknya. "Itu bukti kalau kamu sudah berjuang keras. Jujur aku selalu berpikir jika kamu akan menjadi yang paling buruk sampai hari dimana kamu meminta ku akses ke perpustakaan…. Jangan-jangan kamu dirasuki hantu ya?"

Mereka berdua tertawa. Meski tidak sepenuhnya salah.

"Nah sekarang kamu sudah jadi genin Konoha. Ini bukan akhir dari semuanya, malah ini awal untuk meniti cita-citamu. Uzumaki Naruto dari Konoha," kata Iruka dengan nada bangga.

Kedua orang itu masih berbicara sedikit sebelum Naruto meminta ijin pergi. Iruka mengatakan besok tim akan diumumkan dan Naruto harus datang tepat waktu. Dia berjalan meninggalkan akademi melewati kebun bunga yang ditemani murid-murid perempuan ketika matanya menangkap sosok bayangan sedang mencabut setangkai bunga. Pria gelap itu sama sekali tidak cocok dengan bunga, bahkan cahaya akan menjauhi laki-laki itu. Shimura Danzo, menatap bunga itu sebelum berbalik menemukannya.

"Apa kamu Uzumaki Naruto?" Naruto bertanya-tanya apakah sharingan Shisui di balik perban wajah kanannya menyala terang, atau di balik lengan tersembunyi itu sudah terpasang beberapa sharingan?

Naruto menatap lurus ke mata pria itu. Meski bersikap normal, tetap pembawaan wujud aslinya sulit dilenyapkan. Elang tua tersenyum, "Aku bisa melihat kekuatan dari sorot itu."

Benarkah

"Kamu dijuluki bocah terkutuk. Orang-orang yang di sekitarmu satu persatu berakhir dalam keadaan tragis," kata Danzo.

"Kalau begitu, sebaiknya Anda juga berhati-hati pak tua. Kalau tidak ingin celaka."

"Aku jamin, Aku bisa menjaga diriku nak. Nah apakah kamu tidak keberatan menjawab pertanyaan dariku? Kudengar kamu lulus di usia sembilan tahun…. Itu rekor."

Naruto tidak mengatakan apapun. Tapi dirinya tahu pria itu tidak akan pergi sebelum memuaskan nafsunya.

"Kalian bersepuluh terjebak dalam gua di tengah musuh mengepung gua kalian. Salah satu dari kalian bersepuluh terkena racun dan racun itu rupanya bisa menyebar ke orang lain melalui sentuhan. Apa keputusanmu jika kamu adalah kapten dari kesepuluh orang ini?"

Naruto ingin tahu apa maksud tersembunyi Danzo bertanya pertanyaan seperti ini. Di berbagai kehidupan, Danzo nyaris tidak pernah tertarik pada Jinchūriki secara langsung, tapi laki-laki itu tidak segan membuat hidupnya seperti neraka. Elang tua ini terlalu bahaya dan pintar.

"Aku akan ingat kembali siapapun yang bersentuhan dengan orang yang diracuni itu. Pertama aku akan membunuh orang itu karena dia tetap akan mati. Beberapa mungkin terjadi kerusuhan dengan saling menuduh… tapi karena aku kapten aku punya wewenang untuk menjernihkan masalah, bahkan jika nyawa adalah caranya. Aku sendiri akan bunuh diri jika aku bersentuhan dengan orang itu."

Elang tua itu tersenyum, tampaknya mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia membuang bunga itu seakan itu bukan apa-apa. "Kuharap kita bisa mengobrol lebih lama," dia hampir berbisik saat melewati Naruto.

Jinchūriki Kyuubi bertanya-tanya apa yang bakalan terjadi di masa depan sewaktu memandang pria itu berjalan menjauh lalu menghilang di balik tembok pagar akademi.

.

"Baiklah anak-anak bandel, mulai sekarang mari kita bersenang-senang."

Ketiga genin muda menoleh ke arah sosok pendatang yang tiba-tiba muncul. Tim mereka berada di sebuah lapangan latihan dan sudah dua jam menunggu kedatangan Jounin yang akan menjadi pembimbing tim. Naruto memilih diam ketika percekcokan dua rekan lain meletus karena terlalu lama menunggu kedatangan Jounin, dan seakan memang disengaja Jounin yang ditunggu datang di waktu yang diharapkan. Naruto dengan hati-hati mengamati pria itu. Dia tidak mengharapkan Hatake Kakashi tetap menjadi guru baginya di dunia ini mengingat kelulusannya lebih cepat dari Sakura dan Sasuke. Hatake Kakashi adalah Anbu yang bertugas mengawalnya. Dia tidak bodoh untuk lupa cakra seseorang yang paling penting dalam kehidupan Uzumaki Naruto. Apapun peran Hatake Kakashi di berbagai macam kehidupan, Pria itu selalu ada di samping Naruto.

"Kenapa kamu bisa terlambat sampai dua jam?"

Inuzuka Shiba…

Dia adalah bocah yang sempat mencari gara-gara sejak Naruto dipindahkan di kelas tingkat akhir. Anak laki-laki itu tidak jauh berbeda dari si kecil Kiba, tapi Inuzuka senior lebih cerdas dan tidak secara langsung mengganggu Naruto lalu berhenti di waktu yang tepat. Jadi dia selamat.

Kakashi tidak menjawab, tapi gadis lain mewakili kebisuan si Jounin.

"Mungkin dia sibuk. Bagaimanapun juga dia seorang Jounin Desa Konoha."

Ada satu orang lagi, seorang gadis yang beberapa waktu lalu berdebat dengan Shiba. Namanya adalah Odawara Yukino, dia setingkat sama dengan Shiba. Gadis itu bukan asli Konoha, yang Naruto tahu, dia adalah kerabat Daimyo yang tertarik dan ingin menjadi seorang ninja.

"Bisa diam gak sih?" Shiba melototi Yukino. "Kenapa kamu tidak diam seperti Naruto daripada ikut campur urusan orang lain?"

"Huh, kamu cuma bocah sok yang menggonggong seperti anjing liar. Kamu hanya iri dengan kejeniusan Naruto dan marah karena ditempatkan satu tim dengannya. Oh maksudku, kamu yang paling rendah bukan? Tim selalu terdiri dari si bodoh dan si pintar," jawab Yukino dengan aksen yang sedikit berbeda dari biasa dipakai orang desa.

"Diam!" kata Shiba. "Kamu Cuma gadis dan asal tahu saja kamu menyebalkan, dengan aksenmu yang sangat kacau itu. Tahukah kamu kalau anak-anak di kelas mengejekmu gara-gara aksenmu yang aneh itu!"

"Maaf saja ya, saya baru empat tahun tinggal di Konoha dan sedang belajar memahami desa ini!" Yukino teriak, mengerucutkan bibirnya.

Kakashi tidak melakukan apapun, malahan Jounin itu dengan sengaja melihat kedua anak itu bertengkar.

"Dimanapun cewek selalu sama saja. Suka dengan tipe yang diam dan sok keren."

"Huh kamu sinting ya? Naruto masih berusia sembilan dan aku tiga belas tahun. Mana bisa aku menyukainya."

"Usia tidak masalah dalam hal cinta kan!"

"A-apa maksudmu? Kau aneh!"

Jounin yang hanya peduli dunianya sendiri dan rekan tim yang tidak bisa diharapkan. Naruto mendesah melihat masa depannya dibuntuti awan kusam.