Kakashi mungkin terlihat santai dan tidak pedulian, tapi diam-diam dia sedang mengumpulkan informasi dari tim barunya. Tim lamanya adalah mimpi buruk ketika ketiga genin terlalu ribut memutuskan siapa yang paling kuat, dia berharap tim kedua di bawah asuhannya lebih baik. Setidaknya itu yang bisa dia harapkan.
Dan kupikir…. Mereka bertiga sama buruknya dari kemarin, pikir Kakashi mengamati perselisihan tak kunjung reda dari dua orang dan seorang yang kelihatannya tidak menyukai kedua rekannya.
Odawara Yukino adalah gadis narsistik yang bertindak seolah dia bisa melakukan apapun. Percaya diri yang oke sebenarnya, tapi jika tidak diimbangi kesadaran diri, anak itu akan berakhir sia-sia. Dia lulus dengan nilai rata-rata, Ninjutsu yang baik dan sedikit alih di genjutsu tapi payah di Taijutsu. Lalu mata Kakashi beralih ke sosok laki-laki yang dari tadi ribut dengan si gadis narsistik, Inuzuka Shiba. Alih-alih memiliki anjing ninja, Inuzuka ini pergi tanpa bersama anjing. Dari informasi yang Kakashi dapatkan, partner anjing Shiba mati terkena virus mematikan ketika bocah itu masih berusia tujuh tahun. Inuzuka memang sudah menjodohkan anggota klannya dengan anjing sejak anak-anak mereka bisa berdiri dengan kedua kaki. Hubungan dengan hewan yang begitu kuat itu sehingga ketika salah satu mati, yang lain akan menaruh duka mendalam. Meski butuh waktu, tapi biasanya Inuzuka yang kehilangan partner akan dapat menemukannya kembali tapi dalam kasus Shiba tampaknya berbeda. Dia memilih mempelajari teknik Kenjutsu—yang belum pernah terjadi dalam sejarah Inuzuka, selain itu nilai ninjutsu, genjutsu dan Taijutsu cukup dibawa rata-rata.
Kakashi memang sudah mengikuti Naruto sejak bocah itu keluar dari panti asuhan dan dinyatakan cukup untuk hidup sendiri. Pekerjaan sebagai kapten Anbu memang cukup menyita waktu, sehingga beberapa kesempatan dia menugasi bunshin untuk menggantikannya atau beberapa anjing ninja miliknya. Tapi ketika Naruto masuk rumah sakit di usia enam akibat ulah penduduk desa bodoh yang sudah muak melihat Jinchūriki hidup, mencuri kesempatan ketika Kakashi tidak di tempat dan bunshin lenyap saat dia tidak berhati-hati.
Untungnya bocah Uzumaki itu baik-baik saja, tapi sejak hari itu Kakashi memutuskan untuk lebih memperhatikan anak itu. Meski Sandaime mengatakan jika itu semua akan menjadi bekal untuk Naruto, Kakashi jujur tidak menyukai cara Sandaime. Jika bukan status Anbu, Kakashi akan mengadopsi Naruto dan melakukan yang terbaik untuk masa depan anak itu. Satu-satunya warisan senseinya tidak akan pernah lagi dia lepaskan.
Kakashi kembali ke masa sekarang menemukan anak yang lulus dengan nilai terbaik di usia muda. Wajah ceria lenyap sejak insiden itu berganti tatapan kosong dengan intimidasi, tapi kejeniusan ajaib yang mengingatkan Kakashi pada sosok Minato. Wajahnya memang milik Kushina-san, tapi sorot tajam dan ketenangannya… sangat mirip denganmu Minato-sensei.
Akhirnya Kakashi menepuk tangan dan mendapatkan langsung perhatian murid-muridnya. "Aku Instruktur Jounin barumu, Hatake Kakashi. Sebelum memulai yang serius, ayo kita berbincang-bincang santai… pengenalan diri mungkin? Sebutkan nama, kesukaan, ketidaksukaan, hobi dan semacam itu."
Ketiga genin itu menatap dirinya diam-diam dan Kakashi harus menahan dengusan. "Bagaimana kalau Inuzuka satu itu?"
Shiba merengut, tetapi dia melakukannya. "Namaku Inuzuka Shiba, aku menyukai segala jenis senjata, khususnya pedang dan bercita-cita menjadi spesialis senjata terbaik Konoha," dia diam sejenak lalu melanjutkan, "Aku benci diremehkan."
Masuk akal, pikir Kakashi. Anomali perlakuan klan terhadapnya membuat bocah itu punya temperamen cukup keras.
"Berikutnya kamu gadis," Kakashi bisa melihat tatapan berbinar aneh dari gadis itu, tapi dia tidak peduli. Kakashi lebih tertarik dengan prospektif anak laki-laki sensei.
"Namaku Odawara Yukino. Aku menyukai burung dan bertekad memiliki Kuchiyose dengan seekor burung. Mimpiku bisa bertualang dan mengenal dunia ninja."
Mungkin gadis itu narsistik, tapi Kakashi bisa membedakan bualan dan tekad. Yukino terlepas dari kekurangannya, memang tulus tentang mimpinya.
Kakashi mengangguk dan sebelum dia menyebut nama bocah terakhir, Uzumaki pirang sudah lebih dulu mengenalkan diri. "Aku Uzumaki Naruto. Mimpiku menikmati hidup dengan santai apa yang ada di depan mata."
Jika itu Nara, Kakashi tidak begitu terkejut. Tapi sikap tajam dan terkesan dingin itu anehnya memberi kekuatan pada kalimat sederhana yang diucapkan bocah itu. Baiklah, dia anak Minato sensei dan Kushina-san, keduanya unik dengan caranya masing-masing. Jadi kenapa tidak demikian dengan anak laki-laki mereka?
.
'Abaikan dia,' Naruto berkata pada dirinya sendiri. Dia tidak langsung kembali ke apartemen, kakinya berjalan menuju kompleks pertokoan desa. Dibanding ketika dia masih lebih muda, penduduk akan memelototinya berharap dengan tindakan itu Naruto lenyap saat itu juga. Tapi sejak ikat kepala itu sudah berhasil dia dapatkan, intimidasi itu perlahan lenyap meski sejujurnya Naruto menyukai tindakan bodoh orang-orang itu. Naruto menguap, membawa kedua tangan yang terlipat ke belakang kepala. Tujuannya adalah sebuah toko buku kecil di titik paling tidak ekonomis di area pertokoan. Toko buku Kobayashi adalah sebagian kecil dari toko di Konoha yang tidak langsung melempar Naruto dengan sandal sebelum dia mengucap halo. Pemiliknya adalah perempuan seumuran Iruka-sensei, orangnya nyeleneh, tapi menyenangkan diajak mengobrol.
Kakashi masih mengikutinya di belakang. Ini bukan pertama kalinya si rambut perak melakukan hal sama, saat dia masih kecil. Dalam wujud Anbu, Hatake seperti nyamuk. Saat itu dia tidak terganggu, tapi sekarang begitu fakta laki-laki itu adalah instruktur Jounin timnya, Naruto bertanya-tanya kenapa dia belum mengutuknya sekarang. Penjaga toko tersenyum lebar melihat yang datang Naruto dan semakin menggila ketika Kakashi juga ikut masuk. Naruto bersikap normal, dia mengeluarkan buku dari rak yang kelihatan menarik. Membaca sinopsis di cover belakang, dan begitu cocok dia ambil. Naruto berjalan ke rak satu ke rak lainnya. Terhenti lama jika menemukan buku yang sudah lama dia ingin miliki membaca isinya beberapa halaman dan menggabungkan dengan belanjaan yang lain.
"Kamu menyukai novel seperti itu? Itu bukan bacaan yang bagus untuk anak-anak."
"Isinya bagus, bercerita tentang perjuangan seorang ninja di titik terakhir dia tahu akan mati di medan pertempuran," jawab Naruto malas. "Lebih baik daripada buku erotis yang kamu baca sensei."
"Tidak semua yang erotis itu buruk," Kakashi mulai memutuskan untuk mengenal lebih jauh anak senseinya ini. Dan dia pikir dengan mengetahui kesukaan Naruto adalah pilihan yang bagus. "Yang terpenting adalah mutu tulisannya dan bagaimana si penulis bisa membuat cerita itu jadi sangat menarik."
"Ya… seharusnya setiap onsen di dunia ini menempelkan poster wajah Jiraya sebagai orang yang harus diwaspadai."
"Oh, kamu tahu tentang penulis serial icha-icha rupanya."
"Cukup tahu, untuk memastikan menghindari orang semacam itu di luar sana."
Kakashi masih ingat profile yang diberikan Sandaime dan hasil pengamatan yang dia lakukan selama ini. Sebelum insiden, Naruto begitu ceria dan wajah warisan Kushina-san meyakinkan Kakashi bahkan Sandaime kalau Naruto tumbuh, dia akan menjadi pria ceria yang mempengaruhi orang untuk ada di dekatnya. Tapi insiden itu mengubah si bocah. Keceriaan, kepolosan dan kenakalan langsung lenyap diganti kesuraman, jenius dan kelicikan rubah.
Saat Kakashi sibuk memikirkannya, dia tersandung dan jatuh. Lalu tak sampai situ saja kesialannya, buku-buku terjatuh dari rak. Pemilik toko yang mendengar keributan, buru-buru pergi ke tempat Kakashi dan langsung meminta maaf. Si Jounin tersenyum kecil, menenangkan kepanikan perempuan itu dan berkata dia baik-baik saja. Dia melihat kondisi kayu yang kelihatannya keropos. Tapi Kakashi ingat betul, sebelumnya rak itu masih sangat kuat. Bahkan Kakashi sempat menggunakannya sebagai pegangan mengambil buku paling atas. Mungkin aku terlalu kuat tadi.
Kesialan….
Kutukan….
Kakashi menggelengkan kepalanya. Tidak ini hanya kecelakaan kecil.
Rupanya Naruto sudah keluar dari toko. Rasa kebingungan masih terlihat, tapi dia harus mengejar muridnya, Hatake Kakashi tidak menyadari seringai jahat dari wajah bocah sembilan tahun itu. Naruto benar-benar tidak sabar melihat hari segera berlanjut.
