Itu malam tenang yang akhirnya Naruto dapatkan setelah seharian bersama Hatake. Jujur dia lebih suka menghadapi pria itu di balik topeng Anbunya dibanding masker konyol itu. Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan pulang, tapi begitu sampai di depan pintu apartemen, akhirnya laki-laki itu mengucapkan salam perpisahan seakan kejadian di toko buku tidak pernah terjadi. Hatake mengatakan tentang tidak sarapan besoknya dan langsung membawa makanannya ke tempat latihan. Naruto menjawab 'ya' tanpa banyak bertanya, sudah belasan kali dia melihat skema latihan lonceng membosankan ini.
Naruto melepas baju dan memasukannya ke mesin cuci. Memastikan detergen dan pewangi masih ada pada tempatnya, dia menyalakan mesin dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Berendam beberapa menit membantu akal sehatku.
Malam itu dia membuat salad sayur dan makan potongan ikan sisa pagi hari yang dipanaskan. Menikmati makan malam dalam tenang dan menyelesaikannya dengan cepat. Membaca buku yang dibeli lalu mempersiapkan semua alat untuk pelatihan besok. Menjadi makhluk Limbo membantu Naruto dalam urusan makan. Mungkin jika dia adalah bocah biasa, keterlambatan sarapan akan mengurangi stamina seperti yang diharapkan si Hatake. Huh! Kita lihat siapa yang tertawa nanti, dia tidak sabar untuk latihan besok.
"Kurama~ tidak bisakah kamu sekali saja tidak membuat air ku menguap? Aku tidak segemuk kamu dalam jumlah cakra," Isobu si Sanbi menggerutu, kolam yang dia pakai sebagai rumah semipermanen selalu lenyap berkat keberadaan rubah panas yang tidak mau berbagi dengan saudaranya. Naruto kini sedang berkunjung ke mindscape-nya. Memastikan dua bijuu itu rukun, meski kemungkinannya kecil.
"Kamu bukan siapa-siapa disini! Kamu Cuma numpang lewat dan aku pemilik rumah ini. Jadi buang omong kosong mu itu!" Rubah ratusan tahun mungkin terlihat tertidur, tapi mata dan telinga tetap terbuka setiap saat.
"Buu~ Kakak yang menyedihkan. Kamu harus banyak belajar dari Gyuki dan Matatabi."
Kurama tidak menjawab. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengomentari ekor yang jumlahnya lebih kecil. Di sisi lain, Naruto sudah membangun gazébo imitasi di tengah-tengah dua monster raksasa. Memastikan mereka tidak melempar ekor.
"Kau nyaman dengan danau itu sekarang Isobu?"meski di depannya adalah bijuu ekor tiga, itu tak lebih dari cakra tipis. Wujud masa lampunya yang memiliki semua cakra sembilan bijuu, memampukan Naruto untuk menarik dengan mudah cakra bijuu di dunia ini. Tapi itu hanya sebatas cakra tipis tanpa wujud fisik seperti Kurama, dan hanya bijuu yang tidak tersegel yang bisa dia tarik. Setelah kematian Nohara Rin, tampaknya Kiri masih belum menemukan Sanbi hingga detik ini. Naruto tidak tahu garis waktu kapan tepatnya Yagura dijadikan Jinchūriki. Dia sendiri juga belum pernah bermain dengan tanah air. tapi melihat kesulitan menjangkau cakra Seiken membuktikan jika Rokubi masih tersegel dalam tubuh manusia.
Naruto belajar sejak kematian Kiba, waktu dunia ini pelan-pelan melenceng. Dia yang direkomendasikan lulus lebih cepat, tidak sekelas sejak awal dengan Shikamaru, Chouji dan beberapa angkatan anak-anak biasanya. Kakashi menjadi Jounin instruktur timnya tapi dengan dua rekan lain yang bukan Sasuke dan Sakura…. Jika Akatsuki, Obito atau bahkan Madara asli juga berbeda. Naruto tidak terkejut.
Dia sendiri sudah memutuskan hidup santai dan menikmati apa yang di depan matanya.
"Kau yakin bisa hidup sesantai itu Gaki?"
"Aku mencoba untuk mewujudkannya Kurama," Naruto menanggapinya enteng.
"Si licik Tua itu sudah terkencing-kencing ketika melihat mu tadi. Aku bisa merasakan sharingan di balik penutup kainnya itu menyalah terang," kata Kurama.
"Aku sedang memikirkannya… menurut mu jika aku bergabung dengan Ne dan mendekati Danzo lalu mencuri mata Shisui, bagaimana menurutmu?"
"Memang apa yang ingin kamu lakukan dengan mata itu?" Kurama bertanya curiga.
"Memakainya? Kotoamatsukami ditakuti bukan tanpa sebab."
"Buang jauh-jauh pikiran itu! Aku mengutuk semua hubungan dengan keturunan kotor Madara!"
"Apa salahnya dengan Sharingan? Ayah juga punya itu sebelum berubah menjadi Rinnegan?" tanya Isobu.
"Ayah dan cacing busuk Uchiha berbeda! Naruto, mungkin kamu sudah tua dan punya banyak rahasia, tapi tubuh bocah ini masih menjadi rumahku dan tidak adanya segel Yondaime, membuatku aku bisa leluasa bebas bergerak. Ingat itu."
"Tenang Kurama, aku tidak sungguh-sungguh. Tapi aku tetap ingin memberi pelajaran pada si elang tua itu. Dia menyebabkan Naruto dunia ini menderita dengan membangkang perintah Sandaime." Naruto sudah mengantongi beberapa nama yang perlu dia beri pelajaran di dunia ini. Khususnya di Konoha.
"Ne Naru-chan, kapan kamu bisa menyegelku. Aku ingin segera berada disini dengan wujud fisiku."
"Aku masih belum tahu Isobu, posisiku masih genin baru yang belum mendapat misi keluar desa. Aku mungkin bisa membuat klon khusus, tapi tubuh bocah sembilan tahun ini masih butuh banyak penyesuaian dulu."
"Aku tidak suka ini, setiap hari aku selalu merasa ada yang mengawasiku dan itu menyebalkan. Aku tidak mau kembali ke Kiri."
"Kamu bijuu, anak dari Rikudo! Bersikaplah berani dengan ketiga ekormu."
"Jangan samakan aku denganmu rubah! Kau tidak tahu apa-apa soal penderitaan kami, sejak awal kamu selalu egois dan mendapat lebih banyak keberuntungan. Lihat dua wanita Uzumaki mu itu? Desa ini, mereka tidak memperlakukan Jinchūriki dengan buruk. Jinchūriki ku sebelumnya adalah laki-laki menyedihkan yang selalu berusaha ingin terlihat baik di mata Mizukage, dia mati konyol. Aku dipindahkan ke tubuh gadis lain dan juga mati konyol. Apa kamu tahu rasanya hidup seperti barang yang dilempar-lempar begitu saja!?"
Kurama hendak membalas, tapi Naruto melerai kedua bijuu itu.
"Aku berjanji akan membawamu ke sini, tapi sekarang bukan saatnya. Tolong bersabarlah Isobu."
Kura-kura itu diam, tapi dia mengerti. Kedua bijuu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Isobu menciptakan koral dan bermain dengannya. Kurama diam, tapi Naruto bisa merasakan jika rubah itu memikirkan sesuatu. Melihat mereka berdua, Naruto menganggap dia seperti ayah saja.
.
Kakashi masih tetap di sekitar apartemen Naruto. Titik sudut yang biasa dia pakai untuk mengawasi anak sensei-nya. Bocah kuning itu tidak melakukan tindakan mencolok. Dia mencuci bajunya sendiri, mandi, menyiapkan makan malam sendiri dan membaca beberapa buku. Semua tindakan yang biasa Naruto lakukan sejak Kakashi mengamati kehidupan bocah itu. Kakashi sempat memutuskan untuk menyudahi kegiatannya ketika Naruto naik ke ranjang, tapi tidak langsung tidur. Dia duduk lalu menutup mata, bertapa seperti biksu mencari ketenangan. Nah ini baru, Kakashi merasakan euforia kecil menemukan sesuatu yang menarik tapi segera hilang ketika Naruto hanya duduk di posisi sama selama hampir setengah jam. Menenangkan pikiran bukan hal asing bagi shinobi. Kakashi juga sering melakukannya ketika pikirannya terlalu kacau dan kerinduan pada timnya serta sensei dan istrinya. Anak itu mungkin menemukannya dari buku-buku yang dibacanya.
Kakashi masih mengamati Naruto beberapa saat sebelum memutuskan untuk pergi melapor ke Hokage.
.
"Dia pendiam, seperti saat di akademi. Tampak tidak berbaur dengan dua rekan timnya. Tapi harus aku akui dia pengamat yang baik. Ketika dia melihatku pertama kali, dia seperti sedang menilai ku. Aku jujur akan mengatakan dia seperti sedang menilai apakah aku ancaman atau bukan. Dan begitu juga dia melihat dua rekannya, seolah dia memikirkan apa mereka bisa berguna atau tidak."
Hiruzen Sarutobi mungkin tampak acuh ketika Kakashi melaporkan perkembangan misinya mengawasi Naruto. Tapi sebagai mantan kapten Anbu dan berada di sekitar beliau, Jounin elit menyadari Hokage mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Bagaimana reaksinya ketika dipasangkan dengan sepupu Kiba?" tanya Hiruzen.
Harus Kakashi akui, di masa tuanya Hokage masih punya sisi kelicikan. Tidak setajam Danzo, tapi tetap ada dan kadang membuat kesal. Tapi Kakashi hanyalah anak buah, dia tidak bisa melawan perintah. Apalagi dari pemegang kekuasaan tertinggi di desa. "Biasa saja, bahkan ketika Shiba mengatakan ingin menjadi ahli Kenjutsu dibanding spesialis seperti klannya, Naruto tidak menampilkan banyak emosi khusus kecuali ketertarikan lumrah pada hal baru."
Hiruzen menutup matanya, mendorong tubuhnya ke sandaran kursi sehingga timbul decitan nyaring. Orang tua itu tampak semakin kecil di mata Kakashi.
"Ada lagi?"
Kakashi diam sejenak, sedikit ragu sebelum akhirnya mengucapkannya. "Dia suka membaca novel, beberapa diantaranya biasa saja meski terlalu dalam untuk anak sembilan tahun… tapi siang ini ketika dia mampir ke toko buku, dia membeli buku 'bagaimana hidup akhir seorang shinobi'" Kakashi masih punya kendala ketika menyebut buku itu, sebuah bacaan yang pernah dia dedikasikan sebagai kitab kehidupan sejak kematian Obito dan Rin. "Aku tidak tahu bagaimana buku itu masih diperjual belikan sampai sekarang… tapi Naruto langsung mengambilnya dari banyak deretan buku di rak. Mungkin tertarik dengan sampul punggungnya yang berwarna hitam dibanding buku lain. Tapi ketika dia membacanya, bocah itu seperti menemukan ketertarikan sendiri."
Hiruzen tidak mengatakan apa-apa, dia masih terus menatap Kakashi.
"Dia juga tampaknya punya rutinitas bertapa di sesi malamnya."
Ada perubahan kecil mimik Hokage yang Kakashi peroleh. "Terjadi sesuatu atau kamu merasakan sesuatu ketika dia melakukan itu?"
"Tidak sama sekali. Itu wajar, seperti biasa orang lakukan mencari ketenangan batin."
"Kamu tidak menangkap fakta jika dia tahu status Jinchūriki?"
"Tidak Hokage sama, meski aku tidak begitu yakin lagi. Naruto sering berkunjung ke perpustakaan akademi dan membaca buku sejarah. Memang disana hanya berisi buku yang bisa diakses orang umum dan karena statusnya genin-nya mungkin akan bisa mengakses lebih, tapi informasi sensitif seperti Kyuubi tentu tidak akan ada disana. Tapi informasi umum seperti Yondaime mengalahkan Kyuubi selalu bisa ditemukan di banyak buku bacaan umum.
"Lalu fakta melihat dia juga tertarik catatan jutsu, baik itu ninjutsu, Taijutsu, genjutsu dan sekilas tentang Fuinjutsu… aku menarik kesimpulan jika dia bisa membuat hipotesis sendiri. Naruto anak sensitif, dia juga berpikir luas dan pengamat yang baik. Tentu ini Cuma teori ku saja."
Hokage mendesah. "Satu lagi bocah jenius dengan awal kehidupan yang suram."
Kakashi diam, dia tahu siapa yang dimaksud Hokage. Seorang bocah yang juga dikenal Kakashi cukup dekat.
Uchiha Itachi…
"Kakashi mungkin kamu sudah bosan dengan kata-kataku ini, tapi alasan aku menjadikanmu pengawas Naruto baik sebagai Anbu dan sekarang sebagai Jounin tim adalah karena kamu satu-satunya murid Minato yang masih hidup. Kamu kenal baik Minato dan Kushina, sisi itu akan membantu dalam mengawasi anak itu, tapi itu juga kelemahan dari pengambilan keputusan, meski aku tahu kamu bisa membedakan mana objektif dan subjektif. Aku percayakan itu padamu."
"Tentu Hokage-sama."
"Tapi ketika terjadi sesuatu yang merugikan desa…. Mana yang kamu pilih, satu-satunya warisan Minato atau Konoha?"
Kakashi tahu Hokage sangat mencintai anak itu. Jika bukan jabatannya sekarang, dia akan mengadopsi Naruto dan mengajarnya segala aspek yang dibutuhkan seorang ninja. Sesuatu yang Kakashi juga akan lakukan. Tapi kata-kata yang barusan Sandaime ucapkan adalah kata-kata seorang Hokage, objektif.
"Saya jamin Naruto tidak akan mengkhianati desa. Dia adalah shinobi Konoha sejati. Sama seperti ayah dan ibunya."
"Kita semua juga berpikir sama tentang Itachi. Anak yang berdedikasi tinggi dan seorang shinobi yang memahami arti shinobi di usia belia. Jenius, dan diharapkan menjadi daun hijau Konoha. Terampil dan bisa diandalkan di setiap misi. Tapi pada akhirnya kita tidak tahu apa-apa soal Itachi, sampai malam berdarah itu."
"Hokage-sama—"
"Tim intel yang kubuat sudah menyampaikan hasil investigasi nya tentang koral yang membuat tiga bocah malang itu meninggal dalam kondisi seperti itu. Aku belum memberikannya pada Tsume. Kamu adalah orang pertama yang tahu selain aku dam tim yang kubentuk."
"Dan?" tanya Kakashi.
"Itu koral yang sama dengan yang bisa dilakukan oleh seorang Jinchūriki… tepatnya Jinchūriki ekor tiga."
Nama itu sudah cukup meruntuhkan setengah pertahanan Kakashi. Sanbi… bijuu yang dipakai Kiri untuk membuat Rin menjadi bom waktu. Bijuu yang menjadi alasan Rin terbunuh, Kakashi membunuhnya dan tidak bisa menepati janji pada Obito.
"Ini bukan ulah Kirigakure asal kamu tahu. Kiri sendiri sudah kehilangan Sanbi sejak kasus Nohara Rin. Meski itu sudah cukup lama, Sanbi rupanya pintar bersembunyi dan Kiri nyaris gila untuk mengambil kembali senjatanya. Ini bukan rahasia umum, hampir setengah desa ninja sekarang berburu diam-diam ekor tiga. Danau-danau ditutup dengan alasan tidak masuk akal, pesisir laut ditutup dengan alasan sama."
"Apa hubungannya dengan Naruto? Dia Jinchūriki Kyuubi, bukan Sanbi. Tsume wanita cerdas dia tahu perbedaan ekor tiga dan sembilan," kata Kakashi.
"Kita tidak tahu banyak soal bijuu maupun Jinchūriki. Dua Jinchūriki Konoha sebelumnya bukan seperti senjata hidup yang dibuat oleh Iwa dan Kumo. Shodaime, Nidaime, dan aku sepakat untuk menghormati Mito-sama dan Kushina. Kami tidak memaksa mereka menggunakan kekuatan Kyuubi meski unsur militer desa menginginkan Jinchūriki bisa menggunakan kekuatan Kyuubi secara optimal."
"Itu tidak menjelaskan Naruto bisa disalahkan dalam kasus kematian anak Tsume."
"Tapi jika pihak lain memanfaatkan masalah ini? Ketidaktahuan adalah senjata, di tangan orang yang bisa memanfaatkannya."
Kakashi sudah menjadi Anbu selama hampir dua belas tahun. Dia sudah banyak menjalankan misi dan mengenal desa secara luar dan dalam. Dia juga tahu bagaimana politik berjalan dan sistem desa ini terus bisa bertahan. Jika ada cahaya, maka selalu ada bayangan di sampingnya.
"Danzo?"
"Aku sudah menempatkan Yamato untuk mengawasi Danzo, tapi sebelum ini, rupanya kita kecolongan dan dia sudah berinteraksi dengan Naruto," Sandaime buru-buru menambahkan ketika melihat tatapan gelap Jounin elit. "Dia hanya bertanya, tentang apa yang harus dilakukan seorang shinobi di pilihan yang sulit."
"Dan?"
"Dia hampir seperti Itachi muda."
Keduanya terdiam. Malam sudah larut, tapi jam kerja Hokage adalah seharian.
"Kakashi aku percaya kamu bisa menilai Naruto dengan baik. Aku percaya kamu tidak pernah merugikan Konoha dan selalu seperti itu. Aku sendiri juga berjanji pada Kushina untuk menjaga anak laki-lakinya. Aku tidak mau anak seorang pahlawan tercemar hanya karena kita tidak bisa banyak mengambil keputusan. Orochimaru… Itachi… adalah awal dan akhir dari kejahatan seorang jenius yang melihat dunia lebih dalam. Aku membunuh diriku jika menemukan wajah Naruto di buku bingo sebagai nukenin dari Konoha."
Keduanya diam sebelum ketukan pintu menyadarkan keduanya. Itu adalah Naori. Asisten penerima tamu Hokage.
"Kakashi-san, kami mendapat laporan kalau rumahmu terbakar!"
.
Kakashi diam menatap api yang sudah dipadamkan. Untungnya apartemennya tidak rusak begitu banyak, barang-barang pribadinya juga masih banyak yang selamat. Foto timnya masih ada disana, dan sesaat Kakashi menangis seperti anak kecil memeluk foto itu. Dia sekarang berada di markas Anbu, menerima tawaran Yamato untuk menginap di rumahnya.
Pertama ketika dia segara menuju rumahnya Kakashi menabrak Guy dan sungguh sial dia tidak bisa menahan kekuatan kakinya lalu tergelincir jatuh, tidak ada luka, tapi itu tetap menyakitkan. Lalu ketika petugas pemadam sudah selesai menjinakkan api, Kakashi langsung memastikan keadaan rumahnya. Meski tidak hancur, itu tidak bisa ditinggali untuk beberapa hari. Buku-bukunya sebagian hangus, lemari pakaiannya juga sudah tak tersisa, bagian kamar tidur hancur tertimpa atap reruntuhan dan secuil masa lalu Kakashi secara ajaib masih ada disana. Sebuah pigura kecil, potret tim Minato sebelum melihat dunia Shinobi yang lebih kejam. Lalu ketika dia menyelamatkan barang-barangnya, dia mendapati jebakan di lantai lain aktif dan nyaris membunuhnya. Melihat ke bawah lantai dia beruntung. Jika dia benar-benar terjatuh, tak dapat dipungkiri bahwa dia akan keluar hidup-hidup, tapi dengan beberapa luka. Kakashi mengutuk dirinya sendiri, menarik ikat kepalanya ke bawah untuk menyembunyikan matanya. Pikiran skenario melintas di kepalanya. Jika dia masih bertahan lama, tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa hal itu akan menimpanya tanpa dia sadari dan dia mungkin telah tersingkir secara efektif. Mungkin rumor itu ... benar.
.
Naruto dan Isobu tertawa terbahak-bahak saat melihat Kakashi nyaris terluka gara-gara jebakan itu. Mengamati dengan seksama apa yang baru saja terjadi dan berpikir sangat dalam. Lucu melihat mantan Anbu bertingkah seperti ini dan dia hampir mulai gemetar dalam usaha menahan diri. Kakashi jelas mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi, yah, kemalangan setelah terjadi kemalangan terhadap orang-orang. Mata birunya yang geli menatap melalui tatapan klon khusus yang dia kirim untuk mengikuti Kakashi. Isobu masih tertawa dan nyaris membuat mindscape banjir akibat terlalu senang. Kurama juga ikut melihat, tapi tidak berkomentar apa-apa dan setelah semua selesai dia meminta semuanya pergi karena ingin tidur.
Sepertinya dia akan bersenang-senang selama beberapa hari berikutnya dalam upaya menyingkirkan gangguan barunya. Meskipun dia terkesan bahwa Anbunya telah mampu menghindari semua usaha sialnya, sebuah pertanyaan tetap tersimpan di kepalanya. Berapa lama Kakashi ini akan bertahan melawan dia? Toh, Kakashi hanyalah musuh yang menyebalkan yang perlu diurus. Dia mungkin bukan kehadiran yang membahayakan, Cuma mengganggu kehidupan damai Naruto.
