Keesokan hari, tim genin yang baru dibentuk sudah menunggu di area latihan sesuai perjanjian kemarin sebelum Kakashi membubarkan ketiga genin. Malam itu memang naas, dan rupanya berita tentang kebakaran apartemen Kakashi juga sampai di telinga murid-muridnya. Yukino pertama yang menyapa ketika instruktur tim datang paling terlambat, gadis itu dengan jelas menunjukan empatinya dan Kakashi berterima kasih untuk itu. Shiba Cuma diam, tapi anak laki-laki itu juga menunjukkan empatinya dengan cara yang menurutnya nyaman. Pandangan Kakashi bertemu dengan Naruto yang mengamatinya dengan minim emosi. Sungguh jika dia dari Ne, Kakashi akan percaya.
Ada bagian diri Kakashi bahwa Naruto ada hubungannya denga kebakaran itu, tapi sisi subjektifnya yang lagi-lagi terbayangi beban kematian senseinya berharap jika Naruto tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kemarin malam. Itu Cuma rumor, Kakashi tidak akan jadi ninja elit jika percaya rumor begitu saja. Tapi godaan itu terlalu berat untuk dilupakan.
"Tesnya cukup sederhana. Kalian harus bisa merebut dua lonceng ini dariku," Kakashi mengeluarkan dua bende kecil itu dan menggoyangkan sedikit. "Waktunya sampai tengah hari. Dan yang kalah akan diikat ke tiang itu melihat kedua rekannya makan lalu kalian semua akan kembali ke akademi untuk belajar kesalahan kalian hari ini."
"Apa!?" Shiba pertama yang merespon dengan suara keras. "Itu gila!"
"Tidak ada yang gila, ini kekalahan yang lunak. Di luar sana, jika kalian kalah di hadapan musuh maka kematian adalah hadiahnya. Apa kalian pikir jadi ninja itu menyenangkan? Mungkin ini bukan jaman perang, tapi ninja harus siap mati apapun itu misinya." Sungguh mengejutkan, sikap pria yang habis tertimpa musibah, tiba-tiba menjadi tegas dan kejam. "Oh, setiap Instruktur punya cara mereka masing-masing dan Hokage sudah memperbolehkan apapun yang kami pilih. Ini caraku."
Naruto tersenyum dalam hati. berbeda dari kebanyakan versi. Kakashi yang ini jelas langsung menunjukkan maksud hatinya secara terang-terangan. Apakah sekali lagi waktu dunia ini berjalan ke jalur berbeda atau hati si Jounin sedang buruk setelah kebakaran malam itu. Naruto tidak memikirkannya, dia hanya fokus dengan rencana yang sudah mereka buat.
.
"Kita butuh rencana," mungkin itu kata-kata pertama Naruto kepada kedua rekan timnya sejak tim itu terbentuk. Dua orang lainnya tersentak kaget.
"Apa maksudmu?" tanya Shiba dengan pandangan menyipit.
"Mungkin pelatihan Kakashi hari ini melibatkan pertempuran tim untuk menguji kerja sama kita. Dia memperlambat kedatangannya agar kita membangun strategi untuk melawannya. Bahkan aku yakin mungkin dia sedang bersembunyi untuk mengawasi kita."
"Aku tidak mencium apapun," jawab Shiba mengendus seperti anjing.
"Dia Jounin elit, dia tahu bagaimana cara menyembunyikan aroma tubuh. Apalagi setelah ada anggota tim dari Klan Inuzuka yang ahli dalam pelacakan, ketika ninja tahu informasi musuhnya, dia harus memanfaatkan itu sebaik mungkin."
Alis Shiba kembali mengkerut tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Yukino mendekat ke kedua anak laki-laki, "Mungkin dia sibuk gara-gara rumahnya terbakar."
"Gadis bodoh," kata Shiba. "Apa kamu tidak dengar kata Naruto tadi? Informasi itu penting bagi shinobi. Kalau kamu terlena gara-gara apa yang kamu tahu, musuh bisa jadi memanfaatkan itu untuk menyerang balik sisi lemah kita."
Yukino hendak membalas, tapi Naruto sudah menyela sebelumnya. "Baik ini rencanaku, pertama aku ingin memastikan kemampuan kalian berdua, Yukino kamu bisa menggunakan jutsu Katon bukan?"
"Ya, tapi Katon milikku tidak begitu kuat," jawabnya dengan aksen yang sedikit berantakan, ada kegugupan di setiap kata-katanya.
"Tidak masalahnya aku bisa mendukungnya dengan Futon yang kumiliki. Dan seberapa kamu yakin dengan kemampuan genjutsu?"
"Hm, 70% mungkin?" Shiba hendak mengeluarkan pendapatnya, tapi segara dipotong dengan suara Naruto. "Itu cukup, Shiba jenis senjata apa yang kamu kuasai sekarang?"
"Aku menggunakan tanto ku," dia menunjukkan dengan bangga pedang di balik sarung belakang punggung. "Aku bisa mengalirinya dengan Raiton, meski tidak bisa dipakai dalam waktu lama."
Naruto merenung sedikit, "Baiklah, cukup gunakan tanto mu seperti biasa, dan jika harus menggunakan Raiton, aku percayakan keputusannya padamu. Kemampuanku sendiri, adalah Futon dan gerakan Taijutsu. Kita bertiga akan menunjukkan kerja sama tim ini pada sensei."
Rekan timnya saling bertukar pandangan. Shiba cukup masa bodoh dengan klannya sejak orang-orang itu tidak lagi melihatnya berjuang hanya karena masalah anjing dan pilihan karir ninjanya, tapi dia tidak menutup telinga mendengar desas-desus kematian sepupunya Kiba ada hubungannya dengan Naruto yang dikenal sebagai pembawa kutukan. Awalnya dia tidak memperdulikan, kehadiran bocah muda itu di tim, tapi dia juga membenci orang-orang jenius seperti Naruto.
Namun kata-kata anak itu menggetarkan sesuatu di hati Shiba yang sudah lama membeku, anak itu percaya pada kemampuannya.
"Baiklah jenius, apa rencanamu?"
.
Tapi tidak ada yang sempurna di dunia ini, bahkan di hadapan makhluk ratusan tahun. Naruto memang sudah menyusun rencana menghadapi Kakashi. Memberi porsi masing-masing rekannya untuk melahirkan peluang merebut lonceng. Naruto memuji keduanya bukan tanpa sebab. Manusia senang jika apa yang dimilikinya dipuji dan dianggap istimewa oleh orang lain. Pujian bisa membeli kepercayaan dan Naruto melakukannya. Tapi sehebat dia mempengaruhi orang, dia bukan pembaca pikiran yang bisa tahu apa yang dipikirkan orang lain. Naruto tidak senaif itu jika berpikir Shiba dan Yukino akan mengikuti rencana dengan benar. Bahkan pikiran jika keduanya mengkhianati Naruto sudah ada sebelumnya.
Tapi jika itu terjadi, aku sudah punya cara lain, pikir Naruto. Meski itu akan membuat peluang lebih kecil dan ada kemungkinan Kakashi tahu aku bisa menggunakan kekuatan Bijuu.
Tetapi kelegaan awal muncul ketika Kakashi memberi aba-aba dan ketiganya saling mengangguk lalu membubarkan diri dengan cepat menjauh dari Kakashi. Mengarahkan cakra di kedua kakinya, Naruto melompati beberapa dahan mencari lokasi tinggi untuk mengawasi. Dia menemukan sebuah pohon lebih tinggi dan bersembunyi di balik daun-daun. Naruto memeriksa lokasi Kakashi dan menemukan Jounin elit masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Dia menyeringai melihat kesombongan kuno para orang dewasa.
Bahkan jika Kakashi disana hanyalah bunshin, itu tidak masalah. Naruto juga mendapatkan tatapan menyelidiki Kakashi sejak dia akhirnya datang. Orang itu sedang menyelidiki Naruto terkait insiden kebakaran. Dia tidak bodoh dalam membuat masalah itu, mengutuk meski hanya sekedar memberi peringatan mungkin bisa merugikan melihat Jounin elit adalah calon Hokage potensial di masa depan. Tapi tidak ada bukti bagaimana Naruto bisa melakukan itu, dan sekedar rumor buruk tentangnya terlalu rendah digunakan sebagai bukti yang menyeretnya ke dalam masalah.
Bunyi denting perkelahian dua senjata logam adalah sinyal pertama rencana mereka bertiga.
Mengangkat tangannya dan membentuk segel, Naruto melancarkan jutsu Daitoppa, menghembuskan angin ribut keluar dari mulutnya dan langsung menuju Kakashi yang bergulat dengan Shiba. Naruto tidak kaget jika tadinya Kakashi disana rupanya adalah tiruan. Ketika angin ribut menghilang, alih-alih tubuh manusia, sebagai gantinya adalah batang pohon. Rencananya adalah memberi serangan kejutan ke Kakashi, meski tidak berharap satu serangan awal bisa langsung merobohkannya. Rencana ini juga punya kerugian karena Naruto akan memberitahu posisi dia bersembunyi dan nyatanya benar. Begitu dia mendarat di tanah, wujud lain juga ikut muncul di belakang tubuhnya.
"Tidak buruk," kata Kakashi di belakangnya.
.
"Tidak buruk," kata Kakashi.
"Kamu yakin?" Naruto tidak menoleh, tapi Jounin elit tahu muridnya menyeringai. Meski kunai sudah ada satu senti di belakang leher bocah itu, dia tidak mengambil gerakan apapun. Diam. Tapi sikap ini justru mencurigakan dan ketika wujud Naruto lenyap digantikan batang kayu dengan sepuluh kertas peledak yang aktif. Kakashi tersenyum sambil berpikir jika muridnya terlalu berlebihan menggunakan kertas peledak. Itu bisa membunuh chunin yang ceroboh.
Kakashi dapat membaca gerakan lawan dan mengambil langkah tanggap untuk menghindari serangan. Meski tanpa sharingan, dia bisa melakukannya dengan baik. Ketika tanda kertas peledak aktif dia langsung mundur menghindar. Ketika Jounin berputar di udara, sosok rambut pirang keluar dari semak-semak dan menerjang langsung ke arahnya. Mengangkat lengannya tepat pada waktunya memblokir tendangan, Kakashi mengeluarkan tangan bebasnya untuk menutup gerakan bocah itu. Tetapi bahkan ketika tangannya meneyentuh di sekitar pergelangan kaki Naruto, anak itu berputar di udara. Mengayunkan kaki lainnya ke leher Kakashi. Dipaksa melepaskannya untuk menghindari serangan mematikan, ia memuji ketangkasan Taijutsu yang dipakai anak Senseinya. Tidak Cuma Futon dengan pelepasan kontrol cakra yang baik, dia melatih Taijutsu sebagai tambahan yang cukup mengesankan.
Kakashi menemukan Naruto mendarat dengan gesit di salah satu dahan pohon dan tanpa memberikan jarak waktu, dia melemparkan tag peledak lain ke arah Jounin sehingga Kakashi perlu melompat ke samping untuk menghindarinya. Ia melihat Naruto mengeluarkan tag peledak lagi dan Kakashi bertanya-tanya berapa banyak persediaan yang sudah disiapkan anak itu sebelumnya. Kakashi mendarat dan nyaris terlambat mengambil keputusan ketika matanya terlalu tertuju pada wujud Naruto yang melemparinya tag peledak. Di tempat lain di dekat Kakashi mendarat. Sosok Yukino dan wujud Naruto lain berdiri bersamaan dan masing-masing membentuk segel berbeda. Kakashi sudah melewati serangkaian pertarungan hidup dan mati. Dia tahu kapan harus menggunakan mata kirinya. Lawan di depannya memang genin, tapi sejak perseteruan awal, setiap gerakan yang diambil murid-muridnya adalah gerakan membahayakan nyawa. Serangan kejutan awal Shiba dengan tanto yang terampil dan seakan membuat Kakashi terkecoh, dia mengalirkan listrik di bilah tantonya. Lalu beberapa saat hembusan angin kencang dari Naruto menyerang tanpa ragu karena wujud Shiba yang melawannya itu hanyalah sebuah klon. Kini di depannya dua wujud segera mengaktifkan jutsu berbeda. Sharingan membacanya…. Katon…. Dan Futon…. Sialan!
Futon: Daitoppa.
Katon: Kaen Senpū.
Dibanding serangan angin sebelumnya, yang ini lebih lemah. Tapi itu dimaksudkan untuk mendukung teknik api Yukino, sehingga dua serangan elemen itu bergabung menjadi kobaran api besar yang siap membakar Kakashi hidup-hidup. Ditariknya masker wajah, Kakashi menggunakan teknik Suiton untuk meredakan serangan gabungan genin-geninya.
Tadinya latihan memang ingin melihat seberapa baik kerja sama tim. Apa yang sudah diberikan murid-muridnya hingga sekarang menunjukan maksud tujuan latihan ini telah terpenuhi. Kakashi yakin dari perjumpaan awal, tim memiliki ikatan buruk. Dia juga berpendapat jika segalanya akan diambil alih oleh Naruto. Itu yang juga mengarahkannya pada maksud tersembunyi latihan ini adalah untuk mengawasi genin itu. Kakashi sudah mempelajari catatan perkembangan Naruto selama di akademi. Dia tersenyum ketika tahu Naruto menguasai Futon—mirip ayahnya, dan itu semua sudah ditunjukkan bocah Uzumaki selama latihan ini. Semua gerak Naruto adalah apa yang ditunjukkan di akademi, tentu dengan perkembangan di sana-sini.
Tapi bocah tetaplah bocah. Berbeda dengan Jounin yang memiliki ratusan pengalaman. Bocah masih bisa ceroboh. Kakashi menunggu kesempatan sewaktu-waktu Naruto melakukan kesalahan yang membuka rahasia anak itu. Rumor kutukan…. Koral seperti milik Sanbi… pengendalian cakra bijuu.
Tapi semua itu nihil dalam latihan tempur ini. Daitoppa… Taijutsu… semua itu hal wajar. Bahkan jika kontrol cakranya baik, lalu kenapa? Kakashi sendiri sewaktu di usia yang sama juga dipuji dengan kontrol cakra baik. Naruto menunjukkan semua keterampilan genin berbakat. Dia pintar, dia yang mengatur strategi untuk tim. Dia bisa menghubungkan tim dengan caranya sendiri. Percaya diri pada teknik miliknya dan teknik rekan timnya. Rumor atau kegelisahan Sandaime…. Kakashi dalam hati bersorak mengesampingkan itu semua.
Minato sensei… jika kamu masih hidup kamu pasti bangga betapa anakmu sangat mirip denganmu. Kushina-san, mungkin kamu kecewa dia tidak seperti Obito yang kamu harapkan… tapi dia tetap punya semangat Obito…. Dia menggabungkan perbedaan anggota tim menjadi satu.
Dalam asap akibat bentrokan dua elemen bertolak belakang, menyembunyikan wajah bangga Kakashi terhadap murid-muridnya.
Baiklah…. Saatnya ini menujukan perbedaan antara Jounin dan genin…
Wujud Naruto menerjang ke dalam asap memberi pukulan tepat ke arahnya yang dihindari Kakashi dengan melompat ke dahan lain. Tapi dengan cepat disambut dua puluh kunai menuju ke arahnya. Oh, aku juga punya dua murid lain yang harus diawasi kan?
Lagi-lagi Kakashi harus menghindarinya dan Naruto yang bebas tidak memberi kesempatan untuk Jounin bernapas lega. Kakashi serius kali ini dan sharingan membaca serangan Naruto, dia menendang yang menghasilkan kepulan asap dan batang kayu sebagai gantinya. Kakashi mendarat di dahan dan menganalisis serangan barusan. Dua puluh kunai dari Shiba…. Baunya tertangkap oleh penciuman nya yang tajam sehingga Kakashi tahu dimana murid Inuzuka itu bersembunyi. Naruto samar-samar, tapi masih terendus dari hidungnya. Yukino di sisi lain tampak lenyap. Itu salah satu kebutuhan utama seorang ahli Genjutsu untuk menyamarkan keberadaannya. Gadis itu mungkin bukan spesialis genjutsu… tapi dia arah menuju ke sana dan latihan ini menunjukkan gadis itu punya alasan menjadi spesialis Genjutsu. Aku akan mencoba dia untuk meminta nasihat Kurenai nanti…
Kakashi menatap kesunyian menakjubkan setelah konfrontasi barusan. Menebak siapa yang akan menyerang lagi. Shiba masih ada di tempatnya, kemungkinan kecil dia akan melakukannya. Naruto bisa jadi, dan Yukino lebih mungkin karena keberadaannya yang lenyap itu bisa memberi kejutan yang baik.
Yukino dengan baik memberi kejutan. Muncul dari belakang dan nyaris meraih lonceng. Kakashi mengeluarkan kunai dan berbalik ketika Shiba muncul dari arah depan dengan tanto dialiri listrik. Kakashi tangkas menghindari keduanya dan melihat dua genin itu panik ketika tahu akan bertabrakan. Kakashi meringis tersenyum melihat pertama kali kepanikan ketika harus tanggap menghadapi serangan kejutan Naruto dari bawah tanah. Bocah rambut pirang muncul mengayunkan kepalan. Kakashi menghindarinya dia meraih tangan Naruto, namun seketika berubah menjadi asap. Kagebunshin. Tadi itu hanya klon!
Naruto yang asli tetap bersembunyi. Kakashi langsung menyebarkan pandangan ketika gemercing lonceng tertangkap kedua telinganya. Tangan kanannya meraba dan menyadari satu lonceng sudah hilang. Berikutnya matanya menemukan Naruto yang ada di belakangnya menatapnya sambil menunjukkan lonceng di tangan kanannya.
Dia memanfaatkan kejutan dengan baik. Bahkan Jounin bisa terkecoh karena itu. Pertama dimulai ketika Shiba dan Yukino gagal dan karena kesenangan sesaat Kakashi ditemukan dengan serangan mendadak Naruto. Efek itu membuat kewaspadaan mengendur sehingga tidak menyadari ada wujud lain bersembunyi memanfaatkan momen singkat itu meraih lonceng. Mungkin dua detik, momen itu muncul. Tapi genin jenius memanfaatkan momen itu sebaik mungkin. Sejak awal dia memang meremehkan genin. Fakta jika mereka bertiga membuat rencana, melakukannya dengan baik dan Kakashi sama baiknya menghindari semuanya. Berpikir jika genin akan menyerah, karena tahu rencana yang dibangun gagal. Tapi satu genin sudah mendapatkan momentum yang diciptakan Kakashi sendiri. Matanya tertutup mengingat sosok Yondaime. Cara bertarung sederhana, ditambah wajah terkesan ramah dan tidak mengancam. Namikaze Minato memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan itu diwariskan kepada anak laki-lakinya.
"Baiklah, kurasa cukup sampai disini. Naruto yang merebut lonceng, artinya genin lainnya harus terikat di tiang," Kakashi membuka matanya. Bunyi sisa lonceng bergemercing di belakang. Shiba berteriak membalas keputusan Kakashi, Yukino memiliki rasa kekecewaan dalam di wajahnya. "Tapi bercanda. Kalian sudah menunjukkan terbaik sebagai pasukan genin dalam kerja sama tim. Semuanya lulus."
Setelah menginstruksikan semua anggota tim Kakashi untuk istirahat persiapan misi besok, Kakashi bersiap membuat laporannya ke Hokage. Tapi sebelum itu kakinya melangkah ke tugu peringatan, bertemu dengan nama-nama yang lebih dulu meninggalkan dunia ini. Kakashi mengatupkan tangan dan memejamkan mata lalu berdoa. Biasanya dia kesana bukan untuk berdoa, tapi bercerita apa yang sudah terlewati di dunia ini dan merenungi alasan kematian mereka. tapi khusus hari ini dia berdoa. Berharap agar timnya tidak bernasib sama seperti tim miliknya dulu
