Chapter 2
Summary: Sudah banyak tanda-tanda... waktunya akan tiba untuk Freljord.
.
.
.
Pagi hari kemudian.
Tidak ada sinar matahari yang keluar melalui celah-celah awan tebal. pagi ini masih turun salju, hawanya semakin dingin.
"Anivia pasti sedang mengepakkan sayapnya. cuaca semakin dingin"
Pak tua itu duduk di atas batu, dia menggigil. kulit keriputnya tidak mampu menahan hawa yang begitu tajam. jenggotnya hampir sebagian membeku karena serpihan-serpihan kristal es yang menempel. meskipun negri ini adalah daratan beku yang tak pernah meleleh, tak semua penduduk Freljord tahan dalam dinginnya cuaca. mereka yang sakit dan rapuh tidak akan bisa bertahan hidup.
Ashe memberinya jaket bulu yang tebal padanya. "Sekarang, kau dan sukumu adalah Avarosa"
"Terima kasih Warmother, kau memang harapan kami semua. orang-orang meyakini bahwa kau adalah reinkarnasi dari Avarosa..."
Mereka selalu berkata begini... Ashe bergumam.
Sebagian orang memandangnya sebagai 'Avarosa' yang terlahir kembali. tapi Ashe merasa, dirinya bukan reinkarnasi dari legenda 3 Saudari tersebut. dia hanya menjadi manusia biasa yang bertanggung jawab dan ingin mempersatukan Freljord.
Ashe menghela nafas ringan.
"Aku tidak ingin kalian memandangku sebagai 'Avarosa'. pandanglah aku sebagai Ashe, itu adalah namaku"
"Aku sangat berharap semoga 3 Saudari memberkatimu hari ini, Warmother Ashe" ucapnya lagi.
"Semoga pagi ini juga memberkatimu" Ashe membalas doa.
"Sebagian wargaku masih menetap disana, apa kalian akan menjemput mereka semua?" tanya si pak tua.
Ashe menggangguk cepat. "Iya, serahkan semuanya padaku. aku dan pasukan lainnya akan menjemput wargamu secepat mungkin, jadi kau tidak perlu khawatir"
"Terima kasih banyak, Warmother"
Hembusan angin semakin kencang, menerpakan jubah birunya. Ashe sejenak saja melihat ke atas langit...
Apakah Anivia sedang resah hari ini?
.
Tidak semua orang Freljord bisa bertahan hidup.
Mereka yang tidak bertahan hidup bukan mati karena rasa dingin yang menusuk, tetapi karena sebagian dari mereka tidak ada yang mampu untuk bertarung mempertahankan diri dan sukunya. mereka yang berjuang demi keluarga, telah mati sebagai pahlawan yang di hormati.
Freljord tidak pernah jauh dari kata 'aman' untuk menjadi rumah tinggal, selama 'musuh-musuh' itu masih terus menghantui.
Ashe dan para Avarosa mendatangi sebuah suku kecil yang tempatnya tak begitu jauh dari kediaman mereka.
Dan dia terdiam.
Suku itu benar-benar hancur, rumah mereka sebagian sudah hangus menyisakan abunya saja. bahkan ada banyak jejak darah yang sudah menghitam di atas salju.
"Apa yang terjadi..." Ashe bergumam.
"Mereka benar-benar di bantai.." kata Gjura si palu, dia berdiri sebelah Ashe.
Kehancuran ini membawa Ashe hanyut ke masa lalu. dimana ketika ia pulang, suku Avarosa pertama sudah habis di bantai oleh suku lain. suku Avarosa yang lama... kala itu... hanya dia yang satu-satunya masih hidup.
Kami hidup bersama
Berburu bersama
Makan bersama
Sebagai keluarga besar
Tapi semua berakhir seperti ini...
Ashe menarik tudungnya lagi, angin terus menerpa jubahnya. dia berjalan dengan perasaan kosong dan melihat jejak-jejak darah.
Manik birunya melihat sebuah boneka yang tergeletak dekat reruntuhan kayu. boneka rajut yang kusam berwarna coklat, hampir hitam. dia mengambil benda tersebut dan mengusapnya pelan-pelan. pastinya, boneka ini dulu pernah menjadi bagian dari kebahagiaan anak-anak.
"..."
Matanya melirik lagi ke sebuah pondok kecil yang hangus. dia bisa melihat sisa-sisa pakaian dan makanan yang membeku didalam sana.
Bahkan ada banyak panah yang menancap di lantai.
Jika terus seperti ini, bagaimana Freljord akan mencapai kejayaannya?
"Warmother" salah satu andalannya datang menghampiri.
"Apa yang kau temukan?" tanya Ashe.
Pasukannya terdiam, dia membentangkan sebuah baju kecil yang sobek dan penuh darah.
Kedua matanya melebar, batinnya tersentak begitu tahu bahwa baju tersebut adalah milik seorang anak kecil yang tak bersalah. Ashe berusaha untuk tidak goyah dalam emosi yang menyedihkan ini. dia berusaha untuk tetap tenang, selayaknya Warmother yang bijaksana.
"Kurasa... mereka di bantai oleh suatu kelompok yang tak biasa..." kata pasukannya.
"Begitu ya..." Ashe bergumam pelan.
"Kita menemukan orang-orang yang tersisa dari kekacauan ini, mereka sembunyi di rumah yang tak terbakar"
Dan Ashe tidak menjawab lagi.
Dia mulai tidak tahan dengan kondisi menyedihkan seperti ini. dia memegang busur True ice dengan genggaman yang sangat kuat. genggaman penuh kesedihan, marah dan juga penyesalan.
Andai saja dia lebih cepat lagi...
"Bawa mereka sekarang juga"
"Baik, Warmother"
Angin berhembus lagi, kali ini lumayan kencang.
Ashe hanya menatap ke langit dan melihat butiran salju turun lagi...
.
.
.
Avarosa membawa sebagian orang-orang yang berasal dari suku tersebut untuk pulang.
Selama perjalanan, Ashe hanya diam. dia tidak mengeluarkan perintah atau membuat obrolan, tapi dia hanya diam.
Pikirannya seperti di penuhi beban yang berat. beban yang tidak mungkin ia tanggung sendirian. semua kehancuran itu, darah itu, para korban itu... menghantui isi kepalanya. Ashe meyakini bahwa malam ini dia tidak akan bisa tidur. menyatukan Freljord rasanya akan menjadi impian yang mustahil untuk di raih.
Sampai langkah kakinya berpijak kembali ke tanah sukunya, dia melihat Tryndamere dan beberapa warganya sedang membangun pondok kecil. ada Sigra si Battlemaiden yang juga bersamanya.
Ah dia sudah berubah lebih baik ya...
Dahulu, Tryndamere adalah pria Barbar yang suka mencari masalah (sekarang juga masih sering bikin masalah). orang Barbar mempunyai ciri khas yang tidak pernah padam dalam diri mereka: Ganas dan Kuat. Tryndamere di takdirkan sebagai Raja barbar yang suatu hari memimpin orang-orangnya menjadi yang terkuat di Freljord, namun telah musnah semenjak mahluk asing itu membantai sukunya
Tryndamere pernah bercerita, mahluk asing itu bewarna merah. pedangnya nampak seperti jantung yang berdetak hidup.
Bagi semua orang yang melihat Tryndamere untuk pertama kalinya, sudah pasti mengira bahwa orang Barbar adalah orang yang mengerikan. tapi hal itu di tepis semenjak ia bergabung dengan Avarosa.
Dia adalah pria yang baik. Tryndamere melakukan apapun untuk melindungi Bloodsworn dan sukunya, dia sudah bersumpah.
"Mereka sudah pulang!"
Tryndamere menoleh ke belakang dan mendapati istrinya telah kembali.
"Ashe..." dia tersenyum.
Ashe membuka tudungnya "Apa yang kau lakukan dengan pondok itu?"
"Nampaknya Salju malam ini akan turun sangat lebat, mereka butuh atap yang tebal" kata Tryndamere, tangannya langsung memaku ke ujung batangan kayu yang paling atas dan memalunya dengan kuat.
"Bloodsworn! hati-hati! kau akan merubuhkan pondoknya" kata Sigra.
"Hei anak kecil, aku yang memperbaiki pondok ini. tugasmu hanya memegang paku saja!" kata Tryndamere.
"Aku bukan anak kecil, aku ini sudah Battlemaiden" kata Sigra, cemberut.
"Sigra benar, kalau kau merubuhkan pondoknya, itu bukan tanggung jawabku" sahut Ashe, tersenyum.
Tangannya masih sibuk memalu paku. "Jangan khawatir, dulu aku sangat pandai memperbaiki atap pondok-"
*BRAAAAAAKHH!
"..."
Oh, Pondoknya rubuh.
"Sudah kubilang kan!" kata Sigra.
Tryndamere menghela nafas berat. "Baik baik! tapi kau memberi paku yang salah!"
"Semua pakunya sama saja! kau sendiri yang memalunya terlalu kuat!"
Ashe tertawa. "Baiklah, segera perbaiki pondoknya" dia menyentuh pundak suaminya dan mengelusnya. "kita ada rencana malam ini kan?"
Tryndamere agak bengong, tapi lama-lama wajahnya memerah.
"Ba-baiklah Ashe, tunggu sebentar lagi ya.. hehehehheeehhehe..."
Sigra yang mendengar percakapan tersebut juga ikut memerah. aahh baiklah, itu urusan suami-istri, tidak mungkin dia menanyakan hal lebih detail soal itu.
"Oke, apa kau akan memperbaikinya lagi?" tanya Sigra.
"Baiklah, kau bawa kayunya lagi ya" kata Tryndamere.
Sigra terkejut. "A-apa?! aku yang bawa!?"
Ashe tertawa kecil, yahh mungkin sesekali mereka harus bekerja sama untuk membangun pondok tersebut.
Angin berhembus semakin kencang, tiba-tiba api unggun yang baru saja di nyalakan langsung mati. semua terasa hening.
"..."
"Hei! nyalakan api unggunnya lagi!" perintah salah satu warganya.
"Ughhh anginnya kencang sekali, sepertinya tidak mungkin api bisa menyala dalam keadaan begini..."
Ada mitos yang berkata, bahwa kencangnya angin ini adalah kepakan sayap Anivia. mahluk Crycrophoenix dari salah satu 3 Demigod Freljord yang pernah hidup dalam masa jayanya kala itu. Ashe sedikit mengangkat tangannya ke atas dan merasakan kencangnya hembusan ini. terlalu dingin untuk orang biasa, tapi tidak bagi dirinya yang seorang Iceborn.
Jika memang ini kepakan sayap Anivia, apa ada sesuatu yang dia sampaikan?
"Anivia..." dia berucap pelan.
TO BE CONTINUED
