Jauh didalam sana...

Di bawah celah retakan yang besar, sangat gelap. es-es yang berada dalam tebing berwarna hitam pekat, hampir tak terlihat sama sekali.

Satu-satunya yang paling terang dalam kegelapan tersebut adalah dua lengan bercahaya seperti es. dia duduk di atas kursinya, memandang seluruh pasukan Frostguard yang mengawal di sekeliling. mereka ada didalam sebuah aula besar Citadel yang hanya boleh di masuki oleh prajurit tertentu.

"..."

Dia jadi teringat, masa di mana dulu pernah hidup bahagia.

Dia dan kedua saudarinya pernah hidup dimana Freljord saat itu merupakan negeri yang besar dan bersatu. tapi dengan segala kekacauan yang datang, mereka mulai kehilangan semangatnya.

Dia membutuhkan sebuah kekuatan untuk menyatukan kejayaan kembali.

Kedua matanya buta karena beruang petir itu mencakarnya. maka ia memutuskan berjalan dalam mimpi.

"Avarosa, Serlyda..." dia bersuara...

"Terlalu banyak rahasia terkubur di dalam es. tidak ada satupun yang tahu bahwa rahasia tersebut ada disini, bahkan tidak akan pernah sama sekali. aku melihat berbagai kehidupan lewat mimpi, generasi Freljord saat ini... mereka masih hidup dalam pertumpahan darah"

Asap dingin keluar dari permukaan tangannya, menciptakan butiran kristal es yang kecil.

"Tapi... aku melihat kebangkitan, suatu hari... orang-orang Freljord, akan berdiri dan memberontak"

Dan kedua tangan yang tadinya bercahaya biru, menjadi gelap.

.

.

Mereka tergeletak tak berdaya. tubuh-tubuh itu mati di atas hamparan salju tebal.

Panah dan kapak yang tertancap di tanah dan tubuh korban pertempuran tersebut, tidak ada yang selamat.

Dia berdiri, hanya dia yang bernafas. kedua tangannya gemetar, kakinya tak mampu berjalan, seperti lumpuh. hanya tetesan air mata yang mengalir di kedua pipinya...

Dan melihat...

Sosok Legenda yang telah hidup lama itu. dia mendekatinya, dan memberinya seringai senyum yang lembut, namun memiliki makna berbeda. senyum itu, ada rasa kepuasan melihat pertumpahan darah ini. dia lah yang memulai kekacauan mengerikan...

Dengan dua lengan yang membeku itu, dia langsung menyergapnya...

"Selamat tinggal, Ashe"


"HAH!?"

Dia terbangun.

"Hahh.. hhhhah..."

Dia melihat segalanya seperti nyata, Ashe berusaha mengumpulkan nafas, jantungnya berdegup begitu cepat.

Semua darah itu... senjata itu, dan kedua tangan yang hendak mencekiknya hidup-hidup.

Apa yang terjadi? Ashe bergumam.

Di dalam kamar kecilnya, hanya dia yang terbangun. Tryndamere masih tidur pulas disebelahnya. Ashe menarik sebagian selimut menutupi setengah dadanya dan sedikit menundukkan kepala. mimpi buruk yang tadi cukup mengerikan, ini seperti 'gambaran' yang akan terjadi pada dirinya.

Atau jangan-jangan...

Apakah ini pertanda?

'Ini cuma mimpi, tidak ada yang harus ku khawatirkan'

Ashe berusaha untuk tidak mempercayai apa yang ia lihat dalam mimpi tersebut. tapi suara itu terngiang-ngiang dalam kepalanya. seperti suara wanita tua, sangat asing. dia memegangi kepalanya lagi, terasa pusing jika terus memikirkan mimpi tersebut.

Mengapa suara tersebut mengucapkan selamat tinggal padanya? dia yang pergi atau... dirinya yang mati dalam mimpi?

Menghela nafas lagi, dia pun memutuskan untuk berbaring kembali. memeluk suaminya dan tidur dekat ke dadanya.

"Tryndamere..." dia bergumam, dan akhirnya terlelap.


Pagi hari, masih berangin kencang.

"Kita tak bisa menyalakan api unggun, anginnya tidak berhenti berhembus"

Warganya terus berusaha membuat api. tapi setiap kali percikan api menyala, angin tetap saja berhasil memadamkan api tersebut. makanan yang seharusnya di bakar untuk sarapan pagi hampir tak bisa dibagikan karena juga ikut membeku.

"Warmother, cuaca hari ini sangat buruk. kita tak bisa memasak hari ini" kata Edgar, salah satu pemanah terbaik selain Ashe. pemuda berjanggut coklat itu menaruh daging-daging tersebut ke atas papan kayu dan hendak membawanya ke dalam gudang lagi.

"Kita masih bisa memasaknya, hanya di dalam rumah" kata Ashe.

"Apa kau yakin?" tanya Edgar.

"Sisanya di bagikan saja dari rumah ke rumah, kalian tidak perlu repot-repot lagi membuat api unggun diluar" tambahnya lagi.

"Baik, Warmother"

Ashe meyakini ada sesuatu yang akan terjadi. tapi dia tidak bisa menebak apa yang mungkin nanti menimpa dirinya atau sukunya.

Tryndamere yang sedari terus menatapnya pun bersuara. "Ashe, apa ada yang kau pikirkan?"

Ashe menoleh.

"Ti-tidak... tidak ada" gumamnya.

"Sungguh?" tanya si barbar. tetapi Ashe terus menggeleng.

"Ashe, kau nampak gelisah pagi ini. katakan saja apa yang mengganjalmu" Tryndamere berujar.

Ashe menggigit bibir bawahnya. dia tidak harus menceritakan mimpi tersebut pada suaminya. tapi... haruskah? dia tahu bagaimana Tryndamere masih menatapnya. akhirnya... dia menghela nafas berat.

"Tryndamere, menurutmu.. apakah aneh jika aku bermimpi soal darah dan perang?" tanya Ashe.

"Eh?"

Manik birunya menatap suaminya lagi. "Apa kau merasakan sesuatu yang asing pada dirimu dan sekitarnya? apa kau merasakan firasat yang akan terjadi pada kita?"

Tryndamere berusaha mencerna pertanyaan istrinya. dia tidak berpikir lama, hanya... bingung.

"Entahlah, atau mungkin kau yang semalam kurang puas? mau lagi nanti?" tanya si barbar, malah tersenyum nakal.

*Bugghh!

Ashe langsung memukul perut kerasnya dengan busur True Ice, membuat Tryndamere hampir kesakitan karena rasa dingin dari senjatanya tersebut.

"Ughh! Ashe!" Tryndamere merengek.

"Aku ini serius Tryndamere! aku bertanya begini karena aku ingin memastikan kalau kita baik-baik saja! aku khawatir kalau Avarosa akan ada didalam bahaya sekarang!" Ashe menegas, nada suaranya terdengar sedikit panik dan takut.

"Aku melihat banyak panah! darah! dan orang-orang mati dalam mimpi itu, aku melihat semuanya. itu seperti kiamat bagi Freljord, aku tidak mengerti sama sekali... ada suara wanita yang asing dalam mimpi itu, dan kedua tangannya... seperti True ice. dia mencekikku dalam mimpi itu" jelas Ashe.

Angin berhembus semakin kencang. menerpa jubah Ashe yang seolah berayun mengikuti derasnya arus angin.

"... Ashe" Tryndamere berucap lagi.

Ashe menatap suaminya tajam-tajam. kedua tangannya mengepal begitu kuat, hampir terdengar serat-serat kulitnya yang seolah ingin robek.

"Aku takkan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Avarosa. aku tidak ingin semua orang mati sia-sia. semua yang sudah kita perjuangkan, aku tidak mau kehilangan itu lagi. andai saja jalan ini lebih mudah, mungkin Freljord sekarang sudah bersatu. maka aku tidak akan repot-repot hidup seperti ini" kata Ashe.

"Tenanglah" Tryndamere menepuk bahu istrinya. "Ashe, ada aku bersamamu. aku juga tidak ingin Avarosa mati, aku tidak akan membiarkan musuh manapun yang akan menghancurkan kita semua. bebanmu adalah bebanku juga, aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendirian"

Ashe menggeleng cepat, dia hampir menangis. "Tapi... aku selalu ragu jika kau bisa hidup selamanya, kau sudah janji Tryndamere. kau sudah janji hidup selamanya!"

"Aku sudah bersumpah padamu. aku akan terus hidup, tapi kau pasti mengerti kalau aku bisa menembus batasanku. suatu hari, mungkin aku akan lepas kendali. semua yang kulakukan nanti pastinya untuk melindungimu, kau paham?" kata Tryndamere lagi.

Ashe tidak banyak berkata, bibirnya gemetar. hembusan angin masih kencang hampir menerpa tubuh kecilnya.

"Jika mimpi yang kau alami membuatmu gelisah. baiklah, aku percaya padamu. Avarosa tidak akan pernah kehilangan kekuatannya selagi kita masih bersama satu sama lain" kata Tryndamere lagi.

Dan akhirnya ia menangis, Ashe menundukkan kepalanya dan berusaha menghapus air mata yang sudah mengalir. Tryndamere tersenyum kecil, dia hanya tidak ingin bloodsworn tercintanya terus merasa terbebani.

"Ashe... tidak apa-apa. kau tidak sendirian" bisiknya.

Kau tidak sendirian, Avarosa dan Freljord tidak akan pernah sendirian...


Sementara itu, di tempat lain...

Segumpal mahluk berbulu putih yang kecil berjalan di atas danau membeku. ada sebuah kudapan di tengah-tengah permukaan danau. dia menjulurkan lidahnya sebagai penanda rasa lapar ingin mencicip, mahluk tersebut dengan riangnya menghampiri makanan yang tersisa.

Ketika dia hendak mengambilnya-

*KRAAK!

Hentakan keras meretakkan permukaan danau. kaki yang besar, bulu putih yang kusam, taring dan wajah mengerikan itu...

"...!?"

"GRAAAAAAAAAA!"

Poro kecil berlari menjauh dari Yeti. dia akan segera di terkam!

Dia melompat dari danau yang mulai retak dan berlari lagi, tapi Yeti tersebut akan segera menangkapnya dengan satu kepalan tangan.

*BRAKK!

si Yeti terkejut, ada sebuah benda besar berbentuk tameng dengan ukiran domba bertanduk yang menghalanginya.

"Hahahaha! jangan khawatir Poro kecil!" dia berucap dengan nada khasnya yang begitu riang.

"Braum ada disini!"

Braum, si hati Freljord, pahlawannya semua orang.

Yeti menggeram kesal, kukunya sudah siap menerkam. tapi Braum tetap menghadapi mahluk tersebut dengan santai.

"Dulu, Yeti adalah mahluk yang cerdas dan sangat bijaksana. tapi sekarang, keberadaan kalian hampir punah. aku bisa mengerti mengapa kalian ingin hidup normal kembali" kata Braum.

Poro kecil melompat-lompat girang.

Braum tersenyum lebar. "Baiklah! waktunya menjinakkan si Yeti!"

"GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Yeti meraung keras, dia akan segera menerkam Braum.

Sekali lagi, Braum mengangkat pintunya dan langsung menghentakkan ke tanah. membuat jalur es beku tersebut timbul dengan cepat dan mendorong si Yeti sampai terjatuh.

"Hahaha! apakah pintunya Braum terlalu kuat untukmu? jangan khawatir! aku takkan menyakitimu!" kata Braum.

Yeti bangkit lagi, kali ini jauh lebih mengerikan. dia berlari dan segera mencakar Braum.

Braum mengangkat pintunya dan-

*BAHMMM!

Si Yeti menyeruduknya hingga dia tergoyah, pintu itu terlalu keras. akhirnya, mahluk itu tergeletak tak berdaya.

Braum menurunkan pintunya lagi. "Hmm mungkin aku yang terlalu keras..."

Angin berhembus semakin kencang. membuat si Poro hampir saja terbang, tapi Braum berhasil menangkapnya.

"Kupikir Anivia sedang mengepakkan sayapnya, akhir-akhir ini sering terjadi badai salju. kau tidak bisa pergi sendirian, kawan kecil. ikutlah denganku dan kita cari semua keluargamu, hehe!"

Poro bergeliat riang, dia naik ke atas kepala plontosnya, Braum seperti terlihat memakai rambut putih yang bergerak-gerak di atasnya.

"Aku akan ke tempat Ashe, sepertinya ada sesuatu yang harus ku bantu untuknya. jadi kau ikut berpetualang bersama Braum!"

si Poro menjulurkan lidahnya, mahluk imut ini sangat senang.

"Tapi pertama, kita harus membawa Yeti ini ketempat yang aman"

TO BE CONTINUED