"Kami baru pertama kali melihatnya, mereka seperti mengincar sesuatu dari kami!"

Di hadapan semua Avarosa, si pak tua menceritakan segala kejadian yang di alami sukunya.

Ashe yang duduk berhadapan dengannya pun mengangguk pelan, berusaha memahami semua peristiwa penyerangan suku tersebut.

Mereka semua berkumpul di aula pondok. Avarosa berkumpul untuk mendengar segala kronologi yang mereka hadapi akhir-akhir ini. hampir sama seperti suku-suku lain yang mati terbakar dan banyak dari mereka yang musnah karena tidak pernah mendapatkan perlindungan.

"Suku kami tidak mempunyai seorang Iceborn. sebagian dari kami banyak yang mati, terutama anak-anak. aku.. bahkan... cucuku juga tidak selamat disana. dia masih berusia di bawah 2 musim. aku tidak mengerti mengapa mereka harus menghancurkan semuanya..." ucapnya lagi sambil terisak.

"Bisa kau sebutkan ciri-ciri pasukan yang menyerang sukumu?" tanya Gjura.

si Pak tua masih menunduk.

"Mereka... berseragam hitam, jumlahnya banyak. mereka seperti mempunyai senjata berbentuk es abadi"

True Ice? Ashe agak terkejut.

Tunggu dulu, jika senjata es abadi tersebut adalah sebuah true ice, maka...

"Frostguard" Ashe berucap, semua mata di dalam ruangan langsung menatapnya.

"Kalau mereka memegang True Ice, berarti mereka semua... adalah Iceborn. tapi mustahil ada Iceborn dengan jumlah orang yang banyak" jelas Ashe lagi.

"Iceborn adalah ras langka, kurasa tidak semua suku mempunyai seorang iceborn yang lahir. apalagi.. keberadaan manusia dengan kekuatan Iceborn hampir jarang kita temukan di Freljord" sahut pria bertubuh besar yang duduk di sebelah Ashe, dia bernama Hjelk.

Ashe sedikit memberinya tatapan. "Hjelk, yang kau katakan memang benar, tapi aku masih meyakini ada beberapa Iceborn di Freljord, mereka hanya belum menyadarinya saja"

"Ini pernah terjadi pada suku ku, sekarang sudah tidak ada. mereka telah mati karena mahluk asing" Tryndamere bersuara, semua mata melirik ke arah sang Bloodsworn Warmother mereka.

Mata emerald si Barbar agak kelabu, tapi dia berusaha tetap untuk bersikap bijak menyembunyikan rasa tersebut.

"Freljord mempunyai banyak orang Barbar. kami biasanya bertahan hidup untuk bertarung dan berburu, tapi kebetulan.. di malam itu. ketika ada mahluk asing yang datang, dia langsung membunuh semua petarung-petarung terbaikku. dia berwarna merah, dan juga membawa pedang yang seperti jantung hidup... dia membunuhku dan aku mati di malam itu" kata Tryndamere.

"Tapi.. bagaimana.. kau bisa masih hidup?" tanya salah satu dari mereka.

"Aku tidak mengerti. ketika aku bangkit, dibangunkan oleh amarah yang besar, aku seperti monster yang lapar. dan saat itulah aku menyadari, yang kulihat hanya darah dimana-mana" ucapnya lagi.

Ashe menepuk bahu suaminya, memberi usapan yang lembut. Tryndamere sedikit menoleh dan memberinya senyum kecil, dia selalu tahu Ashe sedang berusaha menghiburnya.

"Aku sudah aman bersama Ashe sejak pertama kali kita bertemu. aku selalu percaya padanya. Freljord tidak akan mati selama masih ada harapan yang hidup. suatu hari, kita akan benar-benar hidup untuk bersatu"

Ashe tersenyum lagi.

"Warmother Ashe, kami sangat berharap banyak padamu. kami tidak ingin lagi hidup dibawah ketakutan, kami akan melakukan apa saja untuk Avarosa" kata si pak tua tersebut, dia langsung bersujud di hadapan Ashe.

"Tenanglah, jangan menunduk seperti ini. aku bukan seorang dewi, aku ini hanya manusia" kata Ashe.

Pak tua itu menegakkan kepalanya lagi, bibirnya masih gemetar karena kedinginan tetapi dia tetap berusaha untuk tersenyum penuh harap. "Aku tidak akan pernah meragukanmu, Warmother. Freljord sekarang membutuhkan seorang pemimpin... seseorang yang nantinya akan menyatukan kejayaan kita kembali. seperti cerita kakekku terdahulu"

Ashe sedikit menghela nafas. sebenarnya dia tidak ingin terlalu menjanjikan kejayaan Freljord.

Yang ia inginkan adalah persatuan.

Melihat semua wajah yang penuh raut kecemasan dan rasa takut, Ashe bisa mengerti mengapa orang-orang Freljord sulit untuk bertarung. semua ancaman dan perang saudara masih menjadi 'racun' bagi tempat ini.

Terutama Winter Claw.

Ashe selalu mendengar bagaimana suku Winter Claw sering membakar suku-suku kecil. dia belum mempunyai banyak solusi agar mereka mau berbicara, jika Sejuani tidak menolak.

"Warmother Ashe!"

Salah satu warganya berlari ke pintu, wajahnya nampak sumringah.

"Braum ada disini!"

Semua yang mendengar itu pun terkejut.

"Braum?!"

Ashe tahu Braum akan segera datang kemari.

Tameng Pintu tersebut berada di sebelahnya, wajah yang selalu tersenyum. dia adalah satu-satunya pria berhati hangat yang hanya ada di Freljord. sambil menurunkan seekor Poro dari kepala, Braum menyahut lagi.

"Braum ada disini!" kata dia.

Ashe sudah meyakini bahwa pria berhati besar itu akan segera tiba. Braum menepati janjinya.

"Braum! apa yang kau lakukan disini?!" tanya warga Avarosa, mereka sama-sama mengerumuni si pahlawan berkumis dengan perasaan bahagia.

"Aku ingin bertemu dengan Ashe, apa dia ada disini?" tanya Braum.

"Warmother ada didalam pondok yang besar. kami akan mengadopsi suku baru!" ucap salah satu Avarosa.

Oooohhh... Braum mengangguk-angguk paham. dia selalu suka bagaimana Ashe mau menerima siapapun untuk bersama sukunya. setidaknya, ini akan memunculkan harapannya agar suatu hari Freljord bisa bersatu.

Anak-anak Avarosa terus memanggil namanya dan langsung berkerumun mendekat ke arah Braum. ingin sekali minta di gendong oleh pahlawan yang terkenal dalam dongeng mereka.

"Braum! Braum! ceritakan kisah hebatmu!" kata salah satu anak.

"Apa kau pernah melawan monster besar!?"

"Apa kau mau minum susu bersama kami?!"

"Braum! gendong akuuuu!"

Braum tertawa. "Hahaha! Braum ada disini untuk anak-anak!"

"HOREEE!"

Mereka berteriak girang.

Ashe melangkah keluar dari pondoknya dan berjalan menghampiri Braum. "Aku tadinya tidak yakin kau bisa datang, Braum" kata Ashe.

"Braum selalu ingat apa yang pernah kita janjikan, heehhehe!" ucapnya.

"Apa kau akan menetap sementara disini?" tanya Ashe lagi.

Braum menurunkan Poro dari kepalanya, membiarkan Poro kecil tersebut bermain dengan anak-anak Avarosa.

"Yah.. sepertinya... ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, Ashe" kata Braum.


Braum menyandarkan Tameng pintunya didekat dinding rumah, sementara Ashe duduk di atas batangan pohon. tangannya sedikit iseng mengambil serpihan salju dan meniupnya.

Angin memang tidak berhenti berhembus.

"Tryndamere ingin mengajakmu minum-minum. aku yakin kau tidak keberatan" kata Ashe.

Braum terkekeh "Aku lebih suka minum susu, Ashe. bahkan Poro kecil juga menyukainya"

"Kita terakhir bertemu 3 bulan yang lalu. aku tak menyangka kau benar-benar datang kemari. padahal Avarosa sempat berniat untuk pindah karena wilayah ini tak aman"

"Tapi kau baik-baik saja kan?" tanya Braum.

Ashe agak menegakkan kepalanya, dia membuka mulut untuk berbicara, tapi...

Dia teringat mimpi itu lagi...

"..."

Ashe langsung menutup mulut. tangannya berhenti meraup butiran salju.

"Aku... tidak... apa-apa" ucapnya dengan nada kecil.

"Apa?"

Dia nampak terdiam.

"Apa kau tahu cerita 3 Saudari?" tanya Ashe lagi.

Braum memerhatikan gestur tubuh Ashe yang nampak sedikit gelisah, tapi Braum mengabaikan itu. dia pun menjawab.

"Aku tahu, itu cerita tentang Avarosa, Serlyda dan Lissandra" jawab dia.

"Kau pasti sudah tahu kan tentang Avarosa?" Ashe bertanya lagi.

Braum mengangguk cepat. "Tentu saja, kau sendiri yang menceritakan semuanya padaku, Ashe"

"Maksudku... aku bermimpi" kata dia.

"Aku tidak tahu siapa dalam mimpi itu, tapi... dia tahu namaku. dia sepertinya tahu apa yang akan terjadi pada Freljord, semuanya terasa nyata. aku melihat semua pemandangan dalam mimpi itu penuh darah" dia menjelaskan dengan suara yang agak kecil.

Braum berkedip cepat. "Sungguh?"

"Aku tak bisa menebak, tapi... aku harus melindungi semua orang. nanti aku akan menyuruh wargaku untuk terus berjaga-jaga" kata Ashe, dia mengangkat busur panahnya ke atas batang pohon yang ia duduki.

"Pasti terasa berat bagimu Ashe, tapi jangan khawatir" Braum tersenyum. "Ada Braum disini!"

Ashe tertawa kecil "Braum, aku tahu kau pasti melindungi semua orang. tapi yang ini sudah berbeda, aku yakin sewaktu-waktu akan ada penyerangan besar. dan kita tidak bisa diam saja disini"

"Yahh... kurasa untuk saat ini" Braum menoleh ke atas, butiran salju turun semakin deras. baru kali ini Freljord mendapatkan cuaca yang tidak bersahabat sekarang. bahkan awan saja seperti menghitam.

"Selama perjalanan, aku melihat banyak Yeti liar, mereka menyerang manusia. aku tidak pernah mengerti bagaimana Yeti-Yeti itu bisa hidup dengan keberadaan mereka yang langka" ucap Braum.

"Yeti? jadi... Yeti itu ada?" tanya Ashe, penasaran.

"Dulu Yeti adalah mahluk yang cerdas. mereka mempunyai ilmu magis yang membuat mereka dapat berbicara layaknya manusia, tapi... entah kenapa semuanya berubah dengan cepat. mereka sekarang menjadi monster" ucapnya lagi.

"Begitu ya..."

Keduanya sama-sama hening, hanya suara hembusan yang mengisi suasana jeda tersebut.

"Sekarang apa yang kita lakukan?" Braum bertanya lagi.

"Avarosa sedang mengadopsi suku baru. jadi, untuk sementara kita harus menetap dulu" jawab Ashe.

Tangannya pun mengambil butiran salju lagi, tapi kemudian sekelebat ingatan asing masuk kedalam pikirannya. mimpi buruk itu, sebuah tangan es abadi sedang mencengkram wajahnya

'..hah...?!'

Dia terdiam, tangannya belum meraup salju dibawah.

"Ashe?" Braum memanggil, melihat Warmother tersebut tiba-tiba terdiam tanpa kata.

Kedua matanya terlihat kosong tanpa rasa, Ashe berusaha menenangkan diri. dia tidak mengambil serpihan salju.

"A-aku... tidak apa-apa" ucapnya.

Semua akan menjadi nyata

TO BE CONTINUED