Chapter 5

.

Di Freljord, jangan mencoba menutup mata meski malam sedang tenang.

Karena mereka akan datang.

Mereka datang beramai-ramai dengan kapak, tombak dan pedang, lalu menjarah segalanya. Mereka juga membawa tunggangan hewan buas untuk memberi ancaman yang mengerikan dan takkan membiarkan siapapun menyaksikan kehancuran tersebut. Orang-orang lemah dengan lingkungan yang keras tidak akan bisa bertahan hidup.

Dan Ashe selalu tahu masalah itu.

Dia tidak berada di dalam pondok, hanya duduk menatapi api unggun yang hangat di temani suara percikan apinya. si pemanah es tersebut tidak ingin tidur, dia tidak ingin memejamkan matanya sekejap saja.

Dia takut mimpi buruk itu datang lagi.

Berkali-kali ia menguatkan diri untuk tidak tertidur, dia berusaha mengusap kedua matanya kuat-kuat dan mencoba untuk menyadarkan diri.

"Ashe? kenapa kau belum tidur?" Tryndamere memanggil dari belakang.

Ashe menggeleng pelan. "Aku tidak tidur, kau duluan saja"

"Ashe, kau sudah kelihatan lelah" kata Tryndamere lagi.

si Warmother tersebut tidak menoleh ke arah suaminya, dia terus menatap api unggun. "Aku tidak bisa tidur, aku takut mimpi buruk lagi" ucapnya.

Tryndamere duduk di sebelah, dia melihat lingkaran hitam di bawah mata istrinya yang terlihat jelas, Ashe berusaha menahan rasa kantuk yang sangat berat. manik birunya terlihat kelabu meski terpantul cahaya api unggun didepannya.

"Ashe, aku mengerti apa yang kau takutkan. Kali ini mimpimu tidak buruk, kau harus berusaha menjernikan pikiranmu dari hal-hal itu" jelas Tryndamere.

Ashe menghembus nafas ringan.

"Braum dimana?" tanya dia.

"Braum belum tidur, dia di aula pondok sedang bercerita dengan anak-anak" jawab Tryndamere.

"Ohh"

Jeda lagi.

"Aku melihatnya" Ashe bersuara, membuat Tryndamere melirik ke arahnya lagi.

"Aku melihat itu semua. perang itu, darah dimana-mana.. dan tangan es itu... semuanya nyata. kedua tangan es itu mencengkram diriku" ucapnya dengan nada pelan.

"Mimpi itu lagi?"

Ashe sedikit menunduk. "Aku benar-benar melihatnya dalam pikiranku"

"Aku hanya ingin kau tetap tenang Ashe" kata Tryndamere, tangannya menepuk lembut punggung istrinya. "Jangan khawatir, aku bersamamu"

"Terima kasih"

"Ngomong-ngomong, mereka sedang menunggumu, Bjorg dan kawan-kawan. kurasa kalian akan membicarakan sesuatu yang penting" kata Tryndamere, dia beranjak dari duduknya.

Ashe langsung menoleh "ada apa?"

"Temui prajuritmu, aku akan mengantarmu kesana" ucapnya lagi.

Ashe agak berkedip pelan, tapi dia mengikuti suaminya pergi menemui semua pasukan sukunya.


Berjalan menapaki salju yang tebal, Ashe dan Tryndamere melihat prajurit Avarosa sedang duduk melingkari api unggun. Masing-masing dari mereka memegang senjata, tapi mereka tidak menggunakannya untuk persiapan perang malam ini.

"Warmother Ashe" Bjor menyambut.

Mereka adalah punggawa utama Avarosa. Bjorg si kapak es, Hildrun si palu es, Reka Silvertounge, seorang Shaman bernama Krez dan satu pemanah terbaik selain Ashe, Grunhild. duduk sembari mengeliling api unggun kecil di tengah hembusan angin yang dingin menusuk.

"... Maaf aku tidak menghampiri kalian sejak tadi, sepertinya ada yang kulewatkan dari pembicaraan penting ini" kata Ashe.

"Tidak apa-apa Warmother, kami tetap menunggumu disini" sahut Hildrun.

"Jadi.. ada yang kalian ingin bicarakan?" tanya Ashe.

"Grunhild" Hildrun memberi gestur pada Grunhild untuk berbicara. Dengan rasa gugup, Grunhild mengangkat sebuah karung kecil dan membuka isinya.

Sebuah pecahan es berwarna hitam.

"Ini... warna hitam?" tanya Ashe.

"Benar, Warmother. Es ini warna hitam, aku menemukannya ketika sedang berburu tadi" kata Grunhild. Kemudian dia menyuruh temannya untuk membuka karung yang satunya lagi, dan isinya serpihan es-es berwarna hitam. Terlihat mengkilat karena pantulan cahaya bulan, tapi warna hitamnya sangat pekat. Ini berbeda dari es yang pada umumnya.

"Aku belum pernah melihat warna es seperti ini..." Ashe agak bergumam.

"Aku dan lainnya tidak sengaja menemukan seekor Wildclaw yang sudah mati tertancap oleh es hitam, Aku sangat tidak mengerti darimana asal es ini, kupikir jika aku membawa ini padamu... kau akan mengerti, Warmother. Pastinya seorang Iceborn bisa merasakan hal-hal sihir bukan?" tanya Grunhild.

"Aku tidak pernah mengetahui hal ini" Ashe menjawab, tangannya mengambil serpihan tersebut dan menatapnya. "Es hitam... tidak ada sejarah yang pernah menceritakan ini"

"Tentu saja ada sejarahnya, aku mengetahui sedikit soal itu" sahut Krez, si Shaman.

Krez adalah Shaman di suku Avarosa, selain menjadi penasihat Warmother, dia adalah tabib paling terbaik didalam suku. Pria itu sudah berumur, hampir 70 tahun. Dia hanya bisa berjalan dengan tongkatnya namun masih memiliki jiwa yang segar untuk beraktivitas.

Ashe menatapnya. "Sungguh? bagaimana kau akan menjelaskannya?"

"Kurasa kau harus mendengarkannya baik-baik Warmother, semuanya mungkin berhubungan dengan dirimu" jawab Krez.

Ashe agak terdiam, dia sedikit menurunkan tangannya yang masih memegang serpihan es. apa mungkin ini ada hubungannya dengan mimpi buruk yang sering dialami?

Krez menghela nafas, bibirnya sedikit gemetar menahan hembusan angin malam yang dingin.

"Dia akan bangun..." Krez berucap.

"Dia?" tanya Ashe lagi.

"Dia dan 'tuannya'... biasanya dengan banyak es hitam ini menunjukkan bahwa dia akan bangkit. Kalian yang disini mungkin tahu tentang 3 bersaudari kan?" kata Krez.

"3 Bersaudari? Avarosa, Serlyda dan Lissandra maksudmu?" tanya Reka Silvertounge, dia melipatkan kedua tangannya dan sedikit bersandar ke dinding batu. Dia adalah prajurit Avarosa yang sangat pandai menggunakan kapak besar, salah satu yang menjadi kepercayaan Ashe untuk diandalkan.

"Benar, Dahulu.. sejarah berkata bahwa Avarosa dan Serlyda meninggal dalam pertempuran yang mengerikan" jelas Krez.

Ashe baru teringat soal 3 bersaudari ini dari Braum tadi sore, dia menegakkan kepalanya dan kembali mendengarkan perkataan Shaman-nya.

"Didalam sana... jauh di kegelapan, ada mahluk yang entah berasal darimana tempatnya. Mahluk itu dulu pernah bangkit dan hampir menghancurkan Freljord. Wujudnya cukup mengerikan, mahluk itu memiliki 6 lengan dan satu mata yang menyala. Lissandra pernah membangkitkan mahluk tersebut, tapi kemudian dia berusaha menyegelnya.. dengan mengorbankan Avarosa dan Serlyda"

"..!?"

Semua yang mendengar kisah tersebut agak terkejut. Hanya suara percikan api unggun yang mengisi keheningan mereka semua.

"A-apa..." Ashe agak terdiam.

"Dulu, dikatakan mahluk itu membuat kesepakatan dengan Lissandra. Dia memberi imbalan yaitu sebuah kekuatan hebat yang dapat membuat seorang manusia tahan dari segala musim dingin yang ganas. Kekuatan tersebut dinamakan.. Iceborn"

"Iceborn?!" Ashe terkejut lagi.

"Benar, mahluk itulah yang memberi kekuatan tersebut pada Lissandra, Tapi pertemuan dia dengan mahluk tersebut sangat rahasia. Lissandra tidak pernah memberitahu Avarosa dan Serlyda. Sampai suatu hari... kedua saudarinya mengetahui bahwa mahluk tersebut hanya memanfaatkan mereka demi kepentingan dunia. aku sejujurnya masih belum mengerti alasan apa mahluk itu bangkit kedunia, tapi... sepertinya hanya Lissandra yang tahu"

"... Lalu apa yang terjadi lagi?" tanya Ashe.

"Avarosa membuat pemberontakan. Dia memperjuangkan kebebasan bersama seluruh pengikutnya yang juga Iceborn. Dia dan Serlyda membawa pasukan ke benteng Lissandra dan perang mulai terjadi. Balestrider dan para Troll, sampai mahluk itu naik ke permukaan, menghancurkan segalanya..

Karena tak ada pilihan lain, Lissandra membuat keputusan... dia mengorbankan Avarosa dan Serlyda masuk kedalam jurang bersama mahluk itu menjadi segel esnya"

Semua menjadi hening lagi, tidak ada yang bersuara.

"Avarosa mati tanpa memenangkan perang, tapi semangatnya tidak padam. Dia menjadi inspirasi sisa pengikutnya yang masih bertahan hidup demi melanjutkan keturunan. Mereka membangun suku lagi, dan menamainya sebagai 'Avarosa', hingga sekarang.. nama suku kita masih berpegang teguh atas perjuangan Avarosa"

"..."

Tryndamere sedikit melirik ke istrinya, dia melihat Ashe sedikit menggertakan gigi. Jarinya meremas serpihan es hitam seperti berusaha menahan rasa marah.

"Kurasa cukup tragis" sahut Hildrun, sedikit menutup mulutnya yang hampir kemasukan angin salju.

Reka menyenggol bahu Hildrun, memberinya tatapan tajam. "Bodoh, kau ini Iceborn juga tahu. Seharusnya kau bersedih dengan apa yang terjadi pada leluhur kita"

"Meskipun aku Iceborn, bukan berarti aku orang yang hebat. Jika aku melawan mahluk tersebut, sudah pasti aku akan mati dalam sekejap" ucap Hildrun, jarinya langsung menunjuk ke arah Ashe.

"Warmother Ashe, Warmother kita... dia adalah reinkarnasi dari Avarosa. Kita beruntung bisa memilikinya"

"Avarosa memang seorang Iceborn pemberani, Dia menjadi tempat kita untuk berdoa" sambung Grunhild, dia menutup kembali sarung tersebut.

"Aku sangat bersyukur Warmother Ashe mengadopsi suku ku untuk menjadi bagian dari Avarosa" sahut yang lainnya.

Ashe meremas serpihan es tersebut kuat-kuat, menjadi debu. Semua langsung terdiam menatapnya.

"Aku tidak pernah menyebut diriku sebagai reinkarnasi dari Avarosa, Tapi...setelah kau menceritakan kisah aslinya, aku mengerti kenapa Avarosa bersusah payah mempertahankan Freljord dari kehancuran" ucapnya, nada suaranya sedikit geram.

"Pantas saja ibuku berambisi pada makam Avarosa, Jika dia mengetahui cerita ini, mungkin reaksinya akan berbeda. Dan pasti dia masih hidup sampai sekarang" dia bergumam, memejamkan matanya.

Hildrun tersenyum kecil. "Aku yakin ibumu adalah Warmother yang hebat, kau pasti mewarisi bakatnya"

"Tidak, dia bukan Warmother yang hebat. Ibuku hanya terlalu berambisi, dia sangat keras kepala mendengarkan nasihat-nasihat dari Shaman-nya dulu. Dan aku tidak ingin hal itu berulang lagi, aku pasti akan mendengarkan kalian sampai kita membuat keputusan" jelas Ashe, dia membuka tangannya dan langsung membuang serpihan es hitam yang baru saja dia remas.

"Mulai sekarang kita harus berhati-hati, karena kita menemukan es hitam ini, berarti keberadaan pasukan Lissandra berada disekitar sini" kata Krez pada seluruh prajurit yang berkumpul mengelilingi api unggun.

"Kita harus menjaga Warmother Ashe, Lissandra punya pasukan yang mungkin kapan saja akan menangkap pemimpin kita. Jika itu terjadi, kita akan kehilangan harapan untuk bertahan hidup"

"Benar! jangan biarkan mereka masuk ke dalam suku kita!"

"Lindungi Warmother kita!"

"Yaa! Yaaa!"

"Hidup Avarosa!"

"Hidup!"

Mereka sama-sama bangun dari tempat duduknya dan meneriakkan sorakan setuju.

"Tapi Krez, bukankah kau adalah salah satu mantannya pelayan Lissandra? aku yakin para Shaman juga pernah datang dari tempat yang sama" sahut Reka Silvertounge.

"Memang benar, Tapi aku sudah bersumpah kalau aku akan menjaga Warmother Ashe. Aku mengerti segalanya tentang Lissandra dan pasukan Frostguard, percayalah padaku... apapun yang terjadi, kita tidak bisa lengah sedikitpun"

"Terima kasih atas informasinya Krez, aku benar-benar percaya padamu" Ashe memberinya senyuman.

Krez menghela nafas lagi, dia balas tersenyum. "Semua untuk dirimu, Ashe"

"Kurasa aku bisa tidur nyenyak malam ini. Ayo Tryndamere, kita kembali kerumah" ucapnya, Tryndamere langsung mengikuti istrinya dari belakang.

"Ashe, apa kau tidak takut soal kisah itu?"

Ashe menggeleng cepat. "Tidak, tapi aku geram... aku ingin melanjutkan perjuangan Avarosa"

Tryndamere agak terdiam, dia sebenarnya ragu jika Ashe masih bisa mempertahankan dirinya dari segala tekanan negara ini. Tapi, dia tidak boleh berkecil hati... dia juga menaruh harapan besar dari Ashe.

Setelah pertumpahan darah ini selesai, dia ingin membangun keluarga bersama Ashe.

TO BE CONTINUED