.

Tubuhnya terjun bebas, matanya melihat keatas celah terbuka... retakan besar dimana-mana, bongkahan es runtuh, tubuh-tubuh banyak yang berjatuhan kebawah, tidak ada yang bisa menyelamatkan diri.

"Lissandra..."

Lissandra berdiri diatas sana, dia tidak melakukan apapun. kedua tangannya menenggelamkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada dirinya.

"LISSANDRA!"

"Maafkan aku" Lissandra berucap, nada suaranya terdengar pedih. "Maafkan aku, saudariku"

Dirinya terjatuh kedalam jurang. dirinya berusaha mengulurkan tangan ke atas akan tetapi Lissandra tidak menolongnya. dia hanya meminta maaf...

"Lissandra..."

"LISSANDRAAAAAAA!"


"AAAAAAAAA!?"

Ashe langsung terbangun.

a-apa yang terjadi?

Ashe meyakini bahwa mimpinya terasa nyata. Dia melihat sosok itu, seorang wanita yang nyaris membuat Freljord berada di ambang kehancuran. Ashe berusaha mengumpulkan nafas dan mencoba setenang mungkin. rasanya mengerikan, dia merasakan itu semua...

Jarinya tak sengaja menyentuh sisi matanya, dia menyadari bahwa dirinya menangis.

Air mata?

"Kenapa aku menangis?" Ashe bergumam.

Dia menoleh ke jendela, Sekarang sudah pagi.

"..."


Mungkin ini pertanda, ada suatu pesan yang disampaikan dalam mimpi itu.

Ashe mengangkat busur es dan mengamatinya dengan perasaan murung. Dia tidak pernah menduga bahwa segala masalah saat ini menjadi tanggungannya. Kehidupan suku, semua orang... bahkan perang yang tidak pernah berhenti.

Waktu kecil, Ashe tak pernah ingin menjadi Warmother. itu semua beban, sebagus apapun motivasi dan segala kalimat mutiara dari keluarganya, itu tidak akan pernah mendorong Ashe untuk bangkit. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam dan hanya duduk memojok sendirian.

Apa waktu itu Ashe bahagia? Tidak.

Mengingat ambisi ibunya yang terlalu percaya pada mitos telah mengubah jalan hidupnya. dia sudah tidak mau berurusan dengan tujuan yang berlebihan.

'Kau akan jadi Warmother yang hebat' ucap Yrael saat itu, Ayah yang paling tertua dari ayah-ayah lainnya, suaranya yang lembut sangat dirindukan.

Tapi setidaknya, ibu mati dengan mata terbuka... bukankah itu kematian paling terhormat bagi seorang prajurit?

Dia menghela nafas lagi, Ashe yakin... sosok itu sedang menunggunya dari sana. dia bernama Lissandra.

Ashe berjalan keluar dari pondoknya, dia melihat suaminya sedang bermain lempar kayu bersama Avarosan lainnya, sementara Braum dan poro bermain dengan anak-anak. Suasana pagi di Avarosa nampaknya baik-baik saja, meskipun angin hari ini terasa lumayan kencang, tapi sepertinya tidak ada masalah.

Lihat wajah-wajah ceria mereka...

Seandainya saja Freljord bisa sedamai ini, maka tidak akan ada pertumpahan darah lagi. inilah harapannya.

Kuharap kebahagiaan ini tidak pernah berakhir

"Warmother!" Hildrun memanggil dari arah kiri.

"Ada apa?"

Hildrun menghampiri Ashe dengan langkah cepat, wanita yang lebih jangkung daripada si Warmother datang dengan ekspresi wajah yang nampak serius, kemudian dia langsung berbicara.

"Kami menemukan sesuatu, kau harus melihat ini"


Angin pagi ini lumayan kencang. Dalam perjalanan menuju lokasi yang di tujukan Hildrun, Ashe sampai harus memegang tudungnya agar tidak diterpa angin. si Warmother terus mengikuti beberapa pasukannya ke arah barat, tak terlalu jauh dari wilayah utama, langkah kakinya menapak sekali lagi diatas salju tebal, hampir setinggi lutut.

Dia melihat pemandangan tak biasa didepan matanya.

"Apa itu?" tanya Ashe.

"Kurasa mereka akan datang..." Hildrun setengah berbisik.

Es hitam dimana-mana. esnya sangat mengkilap sampai mereka bisa melihat pantulan diri dalam pecahan tersebut. para Avarosa mendekati beberapa bongkahan tersebut dan mengamati semua pemandangan aneh ini.

"Kalian yakin ini bukan fenomena alam?" sahut salah satu prajurit.

Krez yang sedari terus mengamati semua bongkahan es hitam tersebut, dia menyentuh permukaannya: Dingin dan penuh aura magis.

"Warmother, ini es yang seperti kita lihat semalam" Krez berucap.

"Benar, bagaimana semua pecahannya bisa berada dekat sini?" Ashe bertanya balik.

Mata Krez tidak berkedip mengamati sekeliling, es hitam ini tidak biasanya muncul di tempat yang terbuka. Sangat mustahil jika 'dia' berani melakukannya. Krez bisa merasakan aura kekhawatiran si Warmother begitu tahu suku sedang dalam bahaya.

"Aku tak mengerti, aku masih meyakini bahwa 'dia' tidak mengirim pasukannya kemari"

Ashe langsung menatapnya, terkejut. "Dia? maksudmu..."

Krez balik menatapnya, eskpresinya terlihat serius.

"Warmother, kita harus melindungi diri. Avarosa sedang tidak aman"

Ashe terdiam, ada sesuatu yang masih mengganjal isi pikirannya: Apa benar ini karena Lissandra? legenda Tiga bersaudari itu? Matanya mengamati tanah dan mendapati ada pecahan es yang seolah menjadi jalan untuk menuntunnya ke suatu tempat.

Jangan-jangan...

"Suruh Tryndamere dan Braum kesini, aku akan periksa wilayah sekitar!" Perintah Ashe, dia langsung berlari mengikuti arah pecahan es tersebut.

"Warmother! tunggu!" Krez berusaha memanggil tetapi Ashe terlanjur pergi sendirian.

"Warmother!"

"Apa yang dia lakukan?!" tanya Hildrun.

Krez mendengus kesal. "Warmother selalu saja menempatkan dirinya dalam bahaya, cepat! panggil bloodsworn-nya dan Braum! kita harus melindungi Warmother!"


Aku yakin... Dia pasti ada disekitar sini, Lissandra...

Dengan rasa geram, Ashe terus berlari sambil memegang busurnya erat-erat. Yang terpenting adalah dia tidak ingin mengorbankan prajurit Avarosa dalam bahaya. Tidak dari mereka semuanya adalah Iceborn, maka Ashe yang harus jadi perisai bagi sukunya.

Kencangnya angin salju hampir membutakan jarak pandang, Ashe terus berlari, tetapi langkahnya semakin lama melambat karena tebalnya salju yang ia pijak. dia menggunakan lengan kanannya untuk menutupi setengah wajah dari terpaan butiran salju dan terus melangkah.

Sekilas, Ashe melihat sosok hitam dari balik kencangnya angin. sosok besar membawa kapak bermata dua dengan setitik sinar biru ditengahnya..

Si-siapa dia-?!

Sosok itu berdiri tegap, Dia mungkin nampak sendirian tanpa membawa pasukan, tapi kemudian angin salju langsung menutupi sosok asing tersebut disana.

Ashe menatap kebawah, jejak esnya berakhir ditempat ia berdiri.

Jejaknya berhenti disini, dia bergumam.

Langkahnya menapak di atas pecahan kristal hitam, sekarang dia berdiri di tengah-tengah area pohon yang sudah rontok rantingnya dan semakin deras angin yang terus menerpakan jubah. Mata birunya tidak berhenti melihat ke kanan dan kiri, Ashe berusaha untuk waspada. Dia bisa merasakan aura dingin dari busur yang ia pegang.

"Tunjukkan dirimu! aku sudah berada disini!" dia berucap dengan lantang.

Tapi tak ada sahutan sama sekali, hanya suara angin.

"Aku takkan membiarkanmu mengganggu Avarosan! Kemarilah selagi aku berada disini!" Ashe menyeru lagi.

Tidak ada suara yang menjawab sahutannya.

Ashe tahu ini jebakan, tapi dia tidak akan lengah. Tidak sampai sosok hitam itu ternyata berdiri di belakangnya...

"..!?"

Dengan reflek cepat, Ashe berbalik dan langsung melesatkan satu panah ke belakang, sosok hitam itu langsung menghilang di balik angin salju.

"Svaag!" dia merutuk kesal.

Tidak salah lagi, dia memang ada disini!

Ashe mulai memfokuskan diri, dia berjalan sedikit mundur dan matanya tidak berhenti mengamati semua yang di sekelilingnya. Tidak ada yang mencurigakan, busur esnya yang menyala-nyala seolah memberi tanda keberadaan orang yang tadi.

"Kemarilah! kau berhadapan dengan seorang Iceborn!" kata Ashe, dia membidik ke arah depan begitu sosok itu muncul lagi.

Terdengar langkah berat yang berjalan, Suara hentakannya seperti meretakkan tanah. bahkan salju-salju yang tebal pun dengan mudah disingkirkan sosok tersebut dengan satu ayunan kapak.

Akhirnya dia menampakkan diri.

Sosok asing dengan armor hitam dan helm tanduk bersimbolkan satu mata di tengahnya. Ashe sangat mengenal simbol tersebut, itu adalah lambang dari Frostguard.

"Aku tidak takut denganmu" kata Ashe.

Sosok tersebut tidak berbicara, tapi dia mengayunkan kapaknya ke arah Ashe.

"...!?"

*BRAKHH!

Ashe berhasil menghindar, ayunan kapak tersebut hampir meretakkan tanah.

Hampir saja kena, jika dia tidak menghindar... mungkin tulang-tulangnya akan retak. kemudian, dia melepaskan dua panah bersamaan. Pria itu menangkis semua lesatan panah tersebut, panah iceborn seperti tidak berefek pada dirinya. Tapi Ashe tidak menyerah, dia akan melancarkan targetnya secara beruntun, sampai ia melesatkan 5 panah es. Pria tersebut masih bisa menghindar.

"Ugghh! aku tidak mengerti siapa dirimu! tapi katakan apa yang kau mau?!" tanya Ashe.

Pria itu mengangkat kapaknya lagi ke atas bahu.

"... Jawab aku!" Ashe membentak.

"Nonaku ingin kau mati" ucap sosok tersebut.

Ashe terkejut. "A-pa...?"

"Karena Avarosa terlahir kembali" Sosok itu berkata lagi, dan sekarang dia berjalan lebih cepat menuju Ashe.

Ashe terus melesatkan panahnya berkali-kali, meski panah esnya tidak bisa menembus tubuh si pria tersebut, Tapi setidaknya kekuatan magis dari busurnya masih bisa menahan langkah dia. Mereka hanya berdua dalam pusaran angin yang sangat kencang.

"Apa seseorang mengirimu kesini untuk membunuhku?!" tanya Ashe.

Satu panah hampir saja menembus helm besinya.

"Dunia ini akan terkubur dengan es. dan kau, Avarosa... kali ini kau akan gagal" ucap dia.

Pria itu mengangkat kapak dan segera mengayunkannya lagi ke arah Ashe.

Gawat!

Ashe terus menghindar. Pria itu semakin mengerikan, titik biru yang menyala di kapak bermata dua tersebut seperti menunjukkan bahwa... apakah dia dia juga seorang Iceborn? cuma Iceborn yang bisa memegang es magis yang dingin sekalipun.

"Ugghhh! Svaag!" Ashe mendengus kesal. ditambah kencangnya angin salju, ini benar-benar menghalangi jarak pandangnya untuk terus menghindari ayunan kapak tersebut.

Dia terus mengayunkannya berulang kali, Bahkan Ashe tak sempat membuat bidikan karena terus dikejar olehnya.

*BRAKHH!

Ujung kapak meretakkan tanah algi, ada efek es hitam yang menjalar seperti sulur-sulur hitam yang menggerikan.

Dia berbahaya! Aku tidak boleh kena pukulan kapaknya! Ashe bergumam panik, tapi dia berusaha fokus. Sampai sang Warmother berjalan sedikit menjauh, barulah ia mengangkat busurnya lagi dan siap memberi target.

"Aku takkan membiarkanmu menyentuh Avarosa! Kau berhadapan denganku!" teriak Ashe.

"Tapi nonaku yakin kau tidak akan bisa selamat" ucap dia.

"Omong kosong!"

*Settt!

Ashe langsung melesatkan satu panah dan berhasil menancap ke armor si Frostguard itu, setengah dari tubuhnya langsung membeku.

"Kau takkan bisa kemana-mana!" kata Ashe.

Tapi pria itu berhasil melepaskan diri dari perangkap es, kemudian dia langsung berlari menuju Ashe. dia akan mengayunkan kapaknya lagi.

"hah?!"

Ashe tidak sempat membidik, dia berlari ke arah kanan untuk menghindari ayunan kapak bermata dua, Pria itu tidak bisa dihentikan, Ashe berusaha berlari tetapi dia langsung tergelincir, busur es terpisah dari tangannya.

"Ahh! Tidak!" Ashe mulai panik.

Ini kesempatan baginya, Mengeksekusi warisan Avarosa yang terlahir kembali untuk mati ditempatnya.

"Selamat tinggal, Avarosa" ucap dia.

Dan kemudian...

Gunungan es tiba-tiba menjalar dari arah kiri dan langsung menabrak sosok tersebut sampai terjatuh.

"BRAUM!" Ashe menyeru.

"Ashe! kau disana?!" tanya Braum.

Disusul raungan amarah Tryndamere yang langsung menghajar pria berkapak tersebut sampai tanah yang mereka pijak retak sebagian. Sebagian prajurit Avarosan yang lain datang menyelamatkan Warmother mereka. secara beramai mereka melesatkan panah ke sosok tersebut tanpa henti.

Tapi pria itu kebal, tubuhnya sangat kebal.

"Menjauh dari bloodsworn-ku!" teriak Tryndamere.

Sekarang giliran Tryndamere yang berduel dengan si pria berkapak, mereka saling berhadapan, bersiap menggenggam senjata masing-masing.

"Apa yang kau lakukan kemari?!" tanya Tryndamere.

Pria itu tidak mengangkat kapaknya, tapi dia nampak berusaha menyiapkan diri dari serangan pedang milik Tryndamere.

"AAAAAAAAAAAA!"

Dengan kedua tangannya yang mengangkat pedang, Tryndamere langsung menebasnya. Namun sayang sekali, sebelum mengenai tubuh si Frostguard, angin salju langsung menghalangi jarak pandang si barbarian, membuat pria berkapak tersebut langsung menghilang seolah termakan hembusan angin yang kencang. Tryndamere mencoba mencarinya lagi, tapi dia sudah tidak ada.

"Dia sudah menghilang..." kata Braum, dia membantu Ashe untuk berdiri.

Ashe berusaha menarik nafas, kalau saja tidak ada yang datang menyelamatkannya, dia akan mati disini.

"Ashe, apa yang kau lakukan? kau tidak boleh sendirian!" ucap Tryndamere, nadanya terdengar marah.

"Pria yang tadi dari Frostguard, dia sangat berbahaya. tidak mungkin aku mengorbankan kalian untuk bertarung dengan orang mengerikan itu" jawab Ashe.

"Frostguard?! kau yakin yang tadi dari Frostguard?" tanya Tryndamere.

Ashe mengangguk cepat, matanya terlihat yakin. "Benar, dia datang untuk mengincarku!"

"Warmother! berhentilah bergerak sendiri! kalau kau mati, ini akan menjadi kesalahan kami semua karena tak bisa melindungimu" sahut Hildrun.

Ashe agak menunduk, semua mata menatap dirinya. memang benar, bukankah seorang pemimpin harus menjadi perisai bagi sukunya? sepertinya Ashe belum bisa menjalankan prinsip ini dengan baik.

"Baiklah, maaf jika aku membuat kalian khawatir. tapi... kita sedang dalam bahaya"

Dan semunya pun terdiam.

"Frostguard ada di sekeliling kita, itulah alasan kenapa banyak pecahan es hitam yang kalian temukan selama berburu. Pria berkapak itu, dia pasti tidak sendirian. Masih banyak yang mengincar iceborn terutama diriku, aku yakin... legenda itu yang mengirimnya kesini" jelas Ashe.

Tryndamere berkedip cepat, agak bingung. "Legenda? maksudmu..."

"3 Bersaudari! salah satu diantara mereka adalah Lissandra. Aku yakin Lissandra sedang mengawasi kita melalui pasukan-pasukan yang ia sebar! Untuk itulah, aku kesini hanya memastikan bahwa pasukannya tidak menyentuh kalian semua..." tambahnya lagi.

"Warmother, kupikir kita perlu penjagaan yang ketat. Jika kau melihat Frostguard disini, itu berarti tanda bahaya untuk kita semua" kata Hildrun, dia kemudian berbalik berhadapan dengan prajurit Avarosan lainnya. Sambil mengangkat kedua palu yang ia namai Joatbane, dia menyeru.

"Avarosan! kita harus melindungi Warmother apapun yang terjadi! jika kalian menemukan tanda bahaya, maka bersiaplah, kita harus membunuh musuh yang akan menghancurkan kedamaian suku kita!"

"Yaaaa!"

Braum menghela nafas, matanya mengarah kedepan melihat angin disekelilingnya yang masih berhembus. "Setiap hari selalu ada bahaya, tapi... jika kau bergerak sendiri, tidak ada yang tahu apakah takdir bisa menyelamatkanmu atau tidak, Ashe"

"Aku ingin kalian memperketat penjagaan di dalam suku, kita kumpulkan prajurit dan bicarakan hal ini" perintah Ashe.

Semua mengangguk patuh.

Tapi mereka tidak tahu, bahaya masih terus mengincar.

TO BE CONTINUED