Chapter 7

.

Jauh didalam sana...

Tangannya menyentuh dinding es, merabanya dengan halus. dia berjalan diantara paku-paku raksasa yang menahan mahluk itu.

Dia semakin resah...

Esnya hampir meleleh, tidak pernah berhenti. Dia masih membutuhkan banyak tenaga untuk menjaga mahluk ini agar tidak muncul ke permukaan. Freljord sudah pernah menghampiri ajalnya saat itu, ketika semua kekacauan hampir saja mengakhiri dunia ini.

Dia tahu, mata mahluk itu selalu terbuka. Tidak pernah tertutup kecuali hanya bisa melirik di sekelilingnya dari balik es yang dingin.

Belum waktunya, belum...

Dia merabanya lagi, dia bisa merasakan getaran halus dari balik es. Mahluk ini gelisah, dia tersegel ribuan tahun tanpa mengetahui apa yang terjadi di era sekarang ini.


Frostguard Citadel, benteng kuno yang dibangun untuk mengawasi jurang gelap dibawah jembatan Howling Abyss. tempat dimana mahluk asing itu tinggal, mahluk itu adalah saksi bagaimana ia pernah menghancurkan Freljord di masa lalu.

Mereka berkumpul memuja figur yang menjadi legenda utama rakyat Freljord. Salah satu dari tiga bersaudari yang masih hidup saat ini. Ketika ia duduk, dia tidak menggerakan tubuhnya sama sekali. dengan anggun dia hanya diam dan mengetahui semua pasukannya berbaris untuk menghormatinya.

Orang Freljord tidak pernah tahu sejarah dewa dimasa lalu, Semuanya disembunyikan dalam Frostguard Citadel, oleh tangan dinginnya.

Lissandra tahu, Ashe kali ini berhasil menghindarinya.

Dia memang seperti Avarosa

Dia tidak bisa melihat, tapi Lissandra mengetahui keberadaan mereka semua melalui jalur mimpi. Ia melintasi berbagai mimpi orang-orang Freljord dengan segala cara. Lissandra selalu tahu, semua potensi yang ada dalam diri seorang Iceborn. Mereka yang kuat atau mereka yang akan berbahaya dimasa depan.

Avarosa.. Serlyda...

Apakah kedua saudarinya akan memaafkan perbuatan ini? Lissandra tidak pernah mengetahui jawabannya. Kedua saudari tersayangnya, keluarganya, satu-satunya yang ia punya...

Kalian lahir dengan orang yang berbeda. Aku tahu, kalian tidak akan menyerah... bahkan harus mengulang kehidupan selama berabad-abad untuk menghentikanku.

Aku juga, aku juga tidak mau berakhir mengerikan. 'dia' yang bersemayam masih ada disini, didalam segel es...

Dari arah depan, terdengar langkah kaki yang menggema aula Citadel, semua mata langsung menatap sosok pria yang membawa kapak bermata dua. Berjala menuju nona-nya yang ia muliakan. Ketika dia sampai dihadapannya, Dia pun menekukkan satu lutut kebawah dan menunduk penuh penghormatan.

"Nona ku..."

"..."

"Aku menemukan yang anda cari, nonaku" katanya lagi.

"Kau menemukannya?" tanya Lissandra.

"Seseorang yang terlahir kembali..." ucap prajuritnya.

Lissandra tidak menjawab, dia sudah mengerti maksudnya. Avarosa sudah terlahir dengan wujud seseorang yang berbeda, dia adalah seorang wanita muda yang idealis dan memiliki ambisi untuk mempersatukan negeri ini. Tapi pertanyaannya, apakah wanita itu sanggup?

Apakah dia akan mengulangi kegagalan yang sama? seperti yang pernah Avarosa lakukan? Lissandra ingin mengetahui jawaban itu.

"... Baiklah, prajuritku, terima kasih sudah melaksanakan tugasmu" ucapnya.

Lissandra ingin menghentikannya, mereka berdua.


Malam hari

Nyala api berkorbar dengan ganasnya menghanguskan beberapa rumah. Tidak ada benda yang bisa diselamatkan, hanya tombak dan panah yang berserakan, dan darah yang menodakan pakaian orang-orang tak bersalah itu.

Srakk!

Satu hentakan kaki menapak diatas hamparan salju yang kasar. kaki tersebut menendang-nendang kepala seseorang yang sudah tak berdaya, kemudian dia menurunkan kapaknya.

"... Apa yang kalian punya, sekarang adalah milik kami!" ucapnya, nada suaranya terdengar beringas. dia adalah wanita yang memegang kapak tulang yang berukuran 4x besar dari kepalanya sendiri.

"Ku-kumohon! jangan sakiti aku!" seorang pria tua berjalan mundur dan terjatuh dengan putus asa.

"Kau ini mengingatkanku pada suku sebelah yang lebih suka bertani di wilayah selatan. orang lemah tidak akan bisa hidup di Freljord, seperti kau dan wargamu. tidak punya prajurit, bahkan tidak punya seorang Iceborn" ucapnya lagi.

"Era! kita bunuh saja dia!" sahut prajuritnya.

"Ya! bunuh dia!"

"Bunuh!"

"Sukumu telah mengambil ladang yang jadi tempat perburuan milik Winter Claw, seharusnya kalian izin dulu pada kami sebelum mengambil makanan"

Pria tua itu semakin terpojok, dihadapannya ada banyak prajurit Winter Claw yang memegang kapak. Mereka terlalu besar untuk dilawan, kapak-kapak dan tombak ditangan mereka adalah senjata yang paling berbahaya di mata suku kecil.

"Ka-kami tidak mengetahuinya! sungguh!... bahkan kami hanya berburu untuk makan, tidak ada maksud apapun!" dia menggelengkan kepalanya dengan perasaan panik.

"Era, kau akan memberinya ampun?" tanya Urkath.

Dengan senyum miring, Era sengaja menaruh ujung kapak di atas kepala pria tersebut dan memberinya tatapan tajam. "Aku akan mengampunimu kalau kau mengakui dirimu itu lemah" ucapnya.

"Baik... bba-baiklah... kami lemah, kami tidak berdaya menghadapi kalian!" kata si pria tersebut, menunduk putus asa.

"Hahahah! kalau begitu, waktunya menghadapi kematianmu!" Era tertawa dan mengangkat kapaknya, dia akan memecah kepala pria tersebut sampai...

"Era, hentikan" suara tajam menghentikan aksinya.

Era langsung menoleh kebelakang, sosok pemimpinnya hadir di antara kerumunan prajurit Winter Claw.

"Warmother!"

Warmother dari suku Winter Claw, Sejuani, sambil duduk diatas tunggangannya, Bristle. Dia menatap pak tua yang duduk memojok di sudut rumahnya yang hampir rubuh. Cahaya kobaran api disekitarnya memantul jelas di kedua mata sang Warmother. Kemudian, Sejuani turun dari tunggangannya dan masuk ke rumah tersebut.

Isinya kosong, hanya ada alas berbulu dan tiga panci kosong. Pria tua ini tidak mempunyai apa-apa didalam sini.

"Hmmph, Sekarang aku mengerti mengapa kalian membutuhkan makanan. Tapi Winter Claw hidup bukan dengan cara yang lemah" ucap Sejuani.

"Bawa pak tua itu, dia pasti tahu tempat yang bagus untuk berburu dan mencari banyak makanan" Perintah Sejuani sambil berjalan keluar dari rumah.

"Warmother?! kau mengampuninya?!" tanya prajurit yang lain.

Semua mata memandangi Sejuani, tapi nampaknya itu sudah menjadi perintah. Sejuani tidak menjawab sampai ia naik kembali ke atas punggung Bristle.

"Warmother..."

"Jangan khawatir, aku mengerti mana yang lebih baik. Kita harus mencari persediaan. Musim dingin kali ini akan lebih ganas daripada enam bulan yang lalu, kalian paham?"

Urkath memandanginya dengan perasaan heran, tapi Sejuani balik menatapnya. "Apa ada yang salah menurutmu?"

Urkath menggeleng pelan. "Tidak, tidak ada, Warmother. Tapi... ini sudah kesekian kalinya kau mengampuni seseorang, bahkan pak tua Kriek yang pernah kubawa, kau tidak membunuhnya"

Sejuani mendengus. "Aku ini bukan pembunuh. Aku melakukan apapun agar Winter Claw terus bertahan hidup, Urkath"

"Haahh baiklah baiklah! ayo Winter Claw, kita kembali ke suku!"

Bersama tunggangan babi hutan mereka, semua berjalan kembali menuju Suku. Sebelum Sejuani menyuruh Bristle untuk berjalan, Seseorang yang juga menunggangi babi hutan langsung menepuk bahunya.

Sejuani menoleh, Wanita yang menepuk bahunya memberi tatapan heran.

"Akhir-akhir ini kau banyak pikiran" ucap dia.

"Apa aku ini membingungkan bagimu?" tanya Sejuani.

Wanita itu tersenyum miring. Sejuani bisa melihat cakaran luka yang panjang di wajah tersebut, mata kanan wanita itu putih, dia hanya bisa melihat dunia dengan satu matanya saja sekarang.

"Vrynna, Jangan berpikir aku memburu dan membunuh orang" jawab Sejuani.

"Tidak, tapi kau adalah Warmother, semua keputusan berada pada dirimu, Warmother. Kalau kau lambat sekali saja, Semua orang takkan menaruh kepercayaan padamu lagi" sahut Vrynna.

Sejuani terdiam, dia membuka lengan bajunya dan memandangi pergelangan tangannya sendiri. Tangannya kurus, armor dan baju berbulunya ini yang menutupi tubuh kurusnya karena sudah tidak makan selama berhari-hari. Bahkan dia tak ingat kapan terakhir kali ia memakan daging Mammoth. Entah sudah berapa hari...


Malam ini sangat dingin, mungkin yang paling dingin daripada musim sebelumnya. Banyak mulut yang harus diberi makan, Sejuani selalu memikirkan sukunya setiap kali ia harus berjalan keluar untuk berburu. Dia dan prajuritnya kembali ke suku, mengamati warganya sedang memandangi api unggun.

Mereka mungkin membayangkan ada banyak daging yang dimasak dalam api tersebut.

Tapi beruntungnya, Sejuani melihat anak-anak tersebut ada yang makan.

"Warmother, sebaiknya kau beristirahat. Besok akan jadi hari yang panjang, kita harus mencari tempat berburu lagi" ujar Urkath, dia menaruh kapak-kapaknya di samping kayu.

"Kau duluan saja kerumah, Nanti aku menyusul"

Urkath mengangguk pelan, dia dan kawanan prajuritnya berbelok ke kanan menuju rumah sementara Sejuani berjalan menuju api unggun. Warganya langsung memandangi pemimpinnya.

"Warmother! kau membawa makanan?" tanya mereka.

Sejuani menghela nafas berat, Kemudian, tangannya menunjuk ke belakang.

"Tidak begitu banyak, tapi.. prajurit membawa beberapa potong daging. Cepat ambil dan suapi anak-anakmu" ujar Sejuani.

"Terima kasih Warmother!"

Warganya sumringah, mereka buru-buru pergi ke tempat yang di tunjuk Sejuani, sebuah gerobak yang berisi beberapa potong daging. Mungkin makanan tersebut hanya cukup selama tiga hari.

Vrynna langsung menghampirinya, dia duduk di atas batang kayu sambil melempar beberapa serpihan rantainya ke api unggun. "Aku berani bertaruh, daging itu takkan cukup untuk tiga hari" sahutnya.

Sejuani mendengus, dia ikut duduk di atas batang kayu dan langsung melepas helmnya. "Aku tahu, berhenti membicarakan itu"

"Kita tak punya banyak makanan yang cukup. Bahkan idemu untuk menyebarkan beberapa kelompok menjadi kecil masih tak cukup untuk memberikan mereka sesuap makanan. Aku dan lainnya bahkan masih berusaha mencari ladang yang benar-benar bisa di gunakan untuk berburu" ucap Vrynna.

"Ladang? apa kau membicarakan Avarosa?" tanya Sejuani.

Vrynna nampak tidak suka mendengar kata 'Avarosa', sepintas didalam kepalanya adalah Avarosa itu suku yang sangat lemah.

"Kita bukan seperti Avarosa" ucapnya, dia menekankan nada kalimat tersebut seolah membencinya. "Kita ini Winter Claw, bertahan hidup dan menjadi kuat adalah jalan hidup yang sesungguhnya. Cara lama yang seharusnya menjadi tradisi seorang Freljord sejati. Bukan dengan cara bertani, atau menanggul sebuah air sungai"

"Hmmm..."

Sejuani memandang langit, gelap sekali, tidak ada bintang. Hanya awan-awan yang membawa hawa dingin.

"Ku dengar, Avarosa sedang memperluas ladang mereka untuk berternak Elnuk. Kita bisa mencurinya dari mereka, kau mengerti maksudku kan?" kata Vrynna, senyuman angkuhnya terlihat.

"Jika kau dan prajuritmu mampu melakukan itu, pergilah"

"Warmother Ashe itu punya kemampuan memanah yang baik, jelas aku harus berhati-hati padanya. Tapi dia lemah, dia takkan bisa bertarung dengan jarak dekat"

Sejuani terdiam, matanya masih memandangi api unggun.

"Aku tidak ingin membicarakan dia, aku dan Ashe adalah musuh. Suatu hari, aku akan tunjukkan siapa pemimpin yang paling layak untuk Freljord" ucapnya.

Warmother dan Scarmother sama-sama terdiam, mereka duduk didepan api unggun dan hanya melempar serpihan rantingnya saja.

"Apa Ashe itu adikmu?" tanya Vrynna.

Sejuani menggeleng. "Dulunya iya, tapi sekarang tidak. Kami bukan lagi bersaudari"

"Jadi, kapan kau bisa memukul Warmother payah itu?" tanya Vrynna lagi.

"Jika takdir menjawab sekali lagi, mungkin itu akan terjadi" jawab Sejuani. Kali ini, dia berhenti melempar ranting.

"Aku berusaha memikirkan untuk terus hidup sampai besok, dan besoknya lagi, atau mungkin beberapa tahun kedepan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi... akhir-akhir ini.. aku mengalami mimpi buruk"

"Mimpi apa itu?"

Dia diam, Sejuani ingat didalam mimpinya bahwa dia melihat banyak darah. Semua darah di atas salju, es hitam yang menancap diatas tubuh mayat yang bergelimpangan. Dan menyisakan dirinya disana, berdiri sendiri tanpa senjata apapun, bahkan tanpa Bristle.

"... Aku... tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Sejak kecil, aku ingat dongeng tentang 3 bersaudari. Salah satu diantara mereka adalah sosok yang penyihir es, dia memberi berkat untuk prajuritnya dan mengirim mereka berkeliling tempat karena suatu hal. tapi... aku tak percaya itu, karena itu dongeng anak-anak" jawabnya.

Vrynna mengedipkan mata, sedikit heran. "3 bersaudari, maksudmu... tiga orang yang pernah menguasai Freljord dimasa lalu?

"Yah itu, tapi aku tidak percaya jika mereka pernah hidup. Itu cuma legenda kan?" Sejuani bertanya balik.

"Huh" Vrynna berdiri, dia mengambil kapaknya lagi dan hendak pergi. "aku sendiri tidak tahu siapa mereka. Tapi yang kutahu, salah satu diantara mereka bernama Lissandra"

"Lissandra?"

"Seseorang yang mungkin menjadi sosok yang di doakan penduduk Freljord. Tapi, siapa yang tahu? Lissandra mungkin tidak nyata" ucapnya sambil tertawa.

"Lissandra..." Sejuani bergumam.

"Aku ingin berkumpul dengan prajuritku, kau tidak tidur?" tanya Vrynna.

"Nanti aku kerumah setelah duduk disini"

"Hmph"

Vrynna meninggalkan Warmothernya sendirian di api unggun.

Sejuani tetap memandangi api tersebut, sekilas tidak ada yang aneh. dia hanya melihat kobaran api yang membara, panasnya seperti amarah yang siap menggempur. Tapi kemudian, dia seperti melihat sosok yang hampir menerkam dirinya dari balik api tersebut-

"Haahhh?!"

Sejuani terjungkal dari tempat duduknya.

Oh...

Itu hanya percikan api yang nyaris mengenai matanya.

"A-apa yang...!?"

Tadi itu apa?

Sejuani mengambil batang kayu dan menggeser-geser kayu unggun yang hangus. Dia bersumpah melihat sekelebat sesuatu yang hampir menerkam dirinya. Atau mungkin, itu cuma khayalan karena banyak pikiran.

"Aneh, mungkin... aku harus tidur"

Setidaknya, itu pilihan yang tepat.

Tapi Sejuani merasakan auara aneh, bahkan perasaan yang mengganjal hatinya. Seperti ada rasa takut yang menghampiri...

TO BE CONTINUED