"Baiklah… sekali lagi, sebelum hujan!"
Kakashi Hatake berjalan kembali ke tempatnya semula setelah berteriak dan memposisikan kameranya di depan wajah. Model yang berdiri beberapa meter di depannya tampak tidak terlalu suka karena ada satu kali lagi pengambilan gambar yang dilakukan, namun setelahnya ia tetap berpose mengikuti arahan Kakashi.
Rintik air hujan pertama jatuh dan beberapa saat kemudian hujan sedang-lebat mengguyur tempat tersebut. Kakashi menatap layar kameranya dengan puas—lalu memberikan kode bagi beberapa orang disekitarnya untuk bergegas membereskan properti dan barang-barang disekitar mereka.
"Hei, lampu!"
Sakura Haruno setengah menjerit, namun tidak ada yang mendengarkan suaranya. Ia menggeram pelan dan merapatkan jaketnya, berlari cukup cepat untuk menggeser dua tiang lampu tinggi yang bisa saja rusak karena hujan. Dengan tangannya yang kecil, ia menggotong satu persatu lampu tersebut—
Dan tiba-tiba saja ia jatuh karena salah satu kakinya tersandung kabel.
Bunyi pecahan yang cukup nyaring membuat seluruh orang menoleh di saat yang bersamaan. Butuh waktu beberapa menit bagi Sakura untuk memproses apa yang terjadi pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya sepasang lengan menariknya berdiri dari tanah.
"Eh?!" pekiknya kaget. "Hatake-san?!"
"Kenapa listriknya belum dimatikan? Anak ini bisa saja mati tersetrum!"
Sakura sedikit merinding mendengarnya. Benarkah demikian?
Ia kira Kakashi akan langsung memakinya karena menjatuhkan lampu pemotretan yang mahal itu, namun nyatanya ia dibawa masuk ke dalam trailer. Sakura membenarkan posisi duduknya dan menatap punggung Kakashi yang kembali menjauh, mengatur beberapa kru lain agar cepat-cepat menyelamatkan barang-barang lainnya.
Gadis itu berdiri dengan canggung. Ia meraih selembar kertas yang terletak disebelahnya dan mulai mendata barang-barang yang sudah berhasil masuk. Dengan hati mencelos, ia mencoret lampu pemotretan dari daftar dan berpikir, berapa biaya yang harus dikeluarkannya untuk mengganti lampu tersebut…
"Modelnya tampak tidak terlalu senang dengan pemotretan ini."
Sakura mengangkat kepala. Kakashi sudah kembali dan sedang berbicara dengan kepala tata rias di depan trailer. Mereka duduk bersisian dengan masing-masing kopi panas di tangan.
"Dia sendiri terlambat satu jam, 'kan?"
"Ya. Dan dia memakiku karena aku meriasnya terlalu lama," ujar Anko Mitarashi, terkikik. "…dia takut kau akan memarahinya."
Sakura berusaha untuk kembali tempat duduknya semula setenang mungkin. Jangan sampai ia menimbulkan suara—bisa-bisa Kakashi dan Anko akan mengiranya mencuri dengar percakapan mereka dan—
Duk!
"Aduh!"
Sakura memandangi ujung meja yang mencium lututnya dan cepat-cepat menggigit lidah. Sialan, aku malah berteriak!
Beberapa saat kemudian Kakashi masuk dengan selembar handuk di tangan. Ia mengulurkan handuk itu ke arah Sakura—yang diterima gadis itu dengan anggukan canggung—dan duduk di sampingnya.
"Apa model itu mengatakan sesuatu padamu?"
Sakura terdiam sebentar. Ia teringat kembali ucapan tidak menyenangkan Mina Shuuji yang dilontarkan padanya beberapa jam lalu dan ia ingin sekali memberitahukannya pada Kakashi, namun nanti ia bisa-bisa dianggap tukang adu.
Pada akhirnya gadis itu menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Tidak ada. Seperti biasa, semoga kita bisa bekerja dengan baik, bla bla…"
"Hmm… baiklah."
Sakura mengangguk dan kembali bungkam. Ia melirik ke arah pintu trailer—Anko sudah tidak ada disana. Suasana menjadi begitu canggung karena trailer biasanya diisi oleh selusin kru lainnya, namun hanya ada mereka berdua disini dan…
Tenanglah Sakura.
"Kalau besok hujan lagi, tugasmu adalah menyelamatkan kamera-kamera, Sakura. Mengerti?"
Sakura menoleh perlahan. Apakah Kakashi marah karena ia berusaha menyelamatkan lampu-lampu tadi dan malah merusaknya? Gadis itu menggigit bibir, rasa takut menyelimuti dirinya. Ia mengangguk canggung beberapa kali.
"Ya… maaf."
Kakashi tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah mesin pembuat kopi, meletakkan satu cangkir kopi mengepul di depan Sakura, dan meninggalkan gadis itu sendirian.
.
.
Pukul lima pagi.
Sakura sudah berada di tempat pemotretan sejak setengah jam yang lalu dan ia mondar-mandir selama beberapa menit untuk memastikan semua peralatan sudah terpasang baik. Lampu-lampu sudah tertata rapi, properti sudah pada tempatnya, kamera yang biasa digunakan Kakashi sudah ia keluarkan dari tas dan ia pasang di atas stand, kabel-kabel juga sudah dirapikan…
"Haruno."
Sakura menoleh dan tersenyum. "Ya?"
"Merah, atau jingga?" Tanya salah seorang kru, mengacungkan kain tipis berbeda warna di depan Sakura.
"Mmm… jingga." Gumamnya. "Jingga lebih baik."
Bekerja disini—walaupun kontraknya hanya enam bulan—akan membuat resume-nya terlihat sangat cantik. Ia akan lulus dalam waktu dekat dan tentu saja Sakura ingin mendapatkan pekerjaan secepatnya. Saat mendapatkan info lowongan dari salah satu kakak tingkatnya, Sakura sebenarnya tidak terlalu yakin akan diterima, namun…
Kakashi tanpa disangka menerimanya menjadi asisten fotografer.
Kakashi datang setengah jam kemudian dan ia tersenyum samar melihat lokasi pemotretan yang sudah tertata rapi. Matanya berhenti pada sesosok gadis yang sedang terduduk menyandar pada trailer—matanya terpejam namun tangannya masih dalam posisi siap memegang sebundel kertas. Lagi-lagi senyumannya mengembang, namun cepat-cepat ia hapus saat beberapa van milik model-model berdatangan.
Pemotretan berjalan lancar. Seluruh model datang tepat waktu dan pemotretanpun bisa dimulai tepat waktu. Sakura berjalan kikuk mengitari area pemotretan, membagikan gelas-gelas kopi sekali pakai pada orang-orang disana yang sudah ia tempeli kertas kecil warna-warni berisikan ucapan-ucapan menyemangati.
"Membagikan kopi bukanlah tugasmu."
Sakura tertegun beberapa saat ketika Kakashi menyempatkan diri untuk berbicara padanya di sela-sela pemotretan. Biasanya pria itu akan bungkam dan hanya berbicara pada para model.
"Ah, ya… maaf." Gumam Sakura, memposisikan diri di sebelah Kakashi. "Tapi Hatake-san selalu memintaku membawakan kopi…?"
"Ya. Hanya kopiku 'kan?"
Sakura mengangguk-angguk paham, pada akhirnya meletakkan gelas kopi Kakashi di dekat pria itu dan berdiri dalam diam. Ia beberapa kali berjalan mondar-mandir memberikan keperluan Kakashi sebelum akhirnya pemotretan sesi pertama selesai.
"Baiklah, istirahat satu jam."
Seluruh kru beserta model menghela napas lega di waktu yang nyaris bersamaan. Sakura tersenyum dan kembali berputar, memberikan sepotong kue yang dikemasnya dalam mika kepada orang-orang disana.
"Ada apa, Haruno?" Tanya Anko kaget, sambil tertawa kecil.
"Ah… ini… sebentar lagi masa kontrakku selesai, dan…"
"Apa hari ini hari ulang tahunmu?" Tanya Anko dengan nada jahil.
Sakura mengangguk malu. "Ya…"
"Oh, selamat ulang—"
"Ssstt… Mitarashi-san, tidak usah bilang apa-apa. Pemotretan masih belum selesai." Ujar Sakura sambil tersenyum sopan. "Kalau begitu aku permisi." Ujarnya sambil berlalu.
"Ehm… Haruno-san?"
Sakura mengangkat kepala dan tersenyum sopan. "Ya?"
Sementara itu, Kakashi tersenyum ke arah Anko dan mengacungkan kue pemberian Sakura. Ia duduk di samping gadis itu sambil menyeruput kopinya—memperhatikan Sakura dan seorang pria yang merupakan manager dari para model tersebut sedang berbicara serius.
"Kenapa dia membagikan kue seperti ini? Hari ulang tahunnya?" gumam Kakashi sambil terkekeh.
"Ya." Jawab Anko, tersenyum melihat ekspresi terkejut Kakashi. "Aku juga kaget saat mengetahuinya."
"Tapi dia tidak mengatakan apa-apa…"
"Tidakkah kau membacanya di data diri kru pemotretan?"
Kakashi memejamkan matanya dengan kesal. Tentu saja ia tidak pernah membaca hal-hal seperti itu. Seberkas rasa bersalah menjalar dihatinya, membiarkan Sakura bekerja sebegitu keras pada hari ulang tahunnya sendiri. Ia memasukkan sepotong kue ke dalam mulut dan meletakkannya begitu saja di atas meja.
Anko tersenyum lagi. "Apa yang akan kau lakukan, Kakashi?"
"Mempercepat pemotretan." Jawabnya singkat. "Ia tidak akan mau kalau aku memintanya untuk pulang terlebih dahulu."
Kakashipun memenuhi perkataannya. Ia tidak terlalu picky seperti biasanya—ia membiarkan beberapa kesalahan lewat begitu saja dan pemotretan berlangsung cukup cepat. Sebelum pukul delapan malam, seluruh peralatan telah tersimpan rapi di dalam trailer, siap dikirim kembali ke studio.
Sakura merapikan beberapa properti kecil yang tersisa dan terkejut ketika ada sebuah tangan menyentuh pundaknya.
"Hei."
"Ah… ya…?"
"Kami akan pergi minum-minum di bar dekat sini," ujar Kakashi, mengerling ke arah beberapa orang yang berdiri di belakangnya. "Mau ikut?"
Sakura tersenyum enak. "Ah, aku tidak bisa…"
"Apa kau ada acara setelah ini?"
"B-bukan begitu, aku…" ujar Sakura, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku tidak kuat minum..."
Kakashi menahan tawanya melihat wajah Sakura yang memerah. Ia menoleh ke arah orang-orang dibelakangnya sambil mengangguk.
"Haruno akan ikut."
.
.
Sakura memandangi teman kerjanya dengan pandangan melebar. Beberapa sudah mendengkur di atas sofa bar, beberapa sibuk berdansa di tengah bar, beberapa meracau tidak jelas…
Tentu saja gadis itu belum pernah melihat mereka seperti ini.
"Sudah tengah malam. Kau mau pulang?"
Sakura menoleh ke asal suara. Kakashi sudah lengkap dengan jaketnya, berdiri di sebelah meja dan terlihat menjulang seperti pilar. Gadis itu mengangguk pelan.
"Ya… mungkin sebentar lagi."
"Huh?"
Sakura ikut bingung melihat ekspresi bingung Kakashi.
"A… apa ada yang salah?" tanya Sakura pelan.
"Lebih baik kau pulang sekarang. Ini sudah tengah malam."
Sakura tersenyum jengkel. Jelas-jelas Kakashi yang tadi memaksanya untuk ikut minum-minum ke bar ini. Sebenarnya ia ingin sekali mencoba meminum minuman keras, tapi tentu saja tidak akan ada yang bisa menjamin dirinya akan bersikap normal setelah minum, 'kan? Karena itu ia ingin menunggu sampai Kakashi pulang, tapi pria itu malah memintanya secara halus untuk pulang sekarang.
"Ah, ya… baiklah."
Dengan langkah gontai ia berjalan mengekor Kakashi keluar dari klub. Gadis itu meraba saku celananya, lalu berhenti melangkah ketika ia sadar kalau ia melupakan kunci motornya.
"Itu… kunci motorku masih di da—"
"Biarkan saja. Aku akan minta salah seorang disana untuk membawa motormu besok." Ujar Kakashi pelan. "Lagipula ini sudah sangat malam. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi—"
Sakura berhenti berbicara saat Kakashi sudah membalikkan tubuh, tidak mengacuhkannya. Dengan langkah malas, ia berjalan mengikuti Kakashi dan masuk ke dalam mobil tua pria itu yang terparkir tidak jauh dari sana.
Kakashi tidak langsung menyalakan mesin. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menghela napas.
"Apa ada yang salah?" Tanya Sakura pelan.
"Uhm? Tidak."
Pria itu tidak berbicara lagi setelahnya. Ia hanya buka suara untuk menanyakan alamat Sakura pada gadis itu, lalu mereka berdua terdiam di dalam mobil selama satu jam sampai akhirnya mobil tersebut sampai di depan gedung apartment tua Sakura.
"Terima kasih sekali, Hatake-san." Ujar Sakura sambil tersenyum. "Aku—"
Kedua mata Sakura melebar saat Kakashi bergerak mendekat dan menciumnya. Napas pria itu terasa cukup panas—tangannya bergerak kebelakang Sakura dan menarik gadis itu mendekat. Baru saja Sakura ingin mendorongnya menjauh, pria itu melepaskan ciuman dan tersenyum kecil.
"Selamat ulang tahun, Haruno. Kau bekerja dengan sangat baik."
.
.
Pemotretan selanjutnya, tidak ada ada yang aneh kecuali sikap Sakura ke Kakashi setelahnya. Ia jadi canggung melakukan apapun di dekat pria itu—memberikan daftar properti saja Sakura tidak berani. Ia akan meletakkan kertas itu di atas bangku Kakashi dan meninggalkannya begitu saja.
Kakashi juga tampak tidak mengingat ciuman mereka.
Pasti Hatake-san mabuk berat saat itu! Pikirnya menghibur diri.
Sakurapun pada akhirnya memutuskan untuk menghentikan sikap canggungnya dan bersikap seperti biasa. Waktunya bekerja disini tinggal dua minggu lagi, dan ia harus memastikan ulasan Kakashi tentang kinerjanya benar-benar bagus.
"Hei, kemeja yang cantik, Sakura!" puji Anko.
Sakura tesenyum kecil. "Terima kasih… ini hadiah ulang tahun dari sepupuku."
"Oh, ya, malam yang sangat menyenangkan waktu itu! Aku benar-benar mabuk." Ujar Anko sambil menggigit donatnya. "Aku tapi tidak mengingat melihatmu saat keluar dari bar, Sakura… apa kau pulang terlebih dahulu?"
Kedua pipinya mulai merona namun Sakura cepat-cepat mengangguk. "Ya… aku pulang bersama Hatake-san."
"Benarkah? Tidak asyik, Hatake! Kenapa kau pulang lebih dulu?!" cecar Anko pada Kakashi yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada. "Sudah terlalu mabuk, eh?"
Sakura menunduk. Wajahnya memerah sempurna sekarang.
"Huh? Aku tidak minum malam itu."
Kedua mata Sakura membulat sempurna. Apa ia salah dengar?
Sayangnya ketika ia mengangkat kepala, pria itu sudah berlalu dari kursinya, meninggalkan sejuta pertanyaan di benak Sakura.
