"Hei, Hatake! Urus yang ini saja… biar aku urus pria itu."
Kakashi Hatake berdecak pelan. Orang itu, ia memintanya untuk berganti tugas setiap hari dan promosinya semakin ditunda. Kakashi memberikan kode pada orang di depannya untuk pergi ke meja rekan kerjanya tadi dan memandang tiga orang anak perempuan muda—lengkap dengan seragam sekolah—yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Kemari." Ujar Kakashi, nadanya terdengar lelah. Pukul sebelas malam, kenapa mereka bisa sampai ke kantor polisi begini?
"Kau, ambil kur—"
"Tidak perlu. Aku akan berdiri."
Salah satu alisnya terangkat. Ia ingin memarahi gadis itu, namun niatnya ia urungkan begitu saja. Dua orang lainnya tampak duduk dengan nyaman di hadapan meja. Mereka bahkan sempat untuk berbicara selama beberapa saat sebelum akhirnya Kakashi berdeham.
Ia menerima selembar kertas dari rekan kerjanya dan lagi-lagi mengangkat alis.
"Kenapa kalian bisa bertengkar?" tanyanya tanpa minat.
"Perempuan jalang ini, dia—"
"Hei." Potong Kakashi dengan nada sedikit berbahaya. Ia berdecak tidak suka. "Kau pikir ini dimana, hah?"
"Ma-maaf…"
Kakashi melipat kedua tangan di depan dada. "Satu orang saja. Ceritakan apa yang terjadi."
Ketika mereka bertiga kompak untuk tutup mulut, Kakashi kembali menghela napasnya. Ia menunjuk gadis berambut hitam panjang dan memberinya kode untuk mulai bercerita.
"Jadi… tiba-tiba saja Sakura memukulku dan Yuki." Ujarnya dengan nada memelas. "Ketika kutanya kenapa, ia tidak menjawab dan tetap memukuli kami. Ka-kami bahkan sudah berteriak meminta maaf! Tapi, Sakura seperti monster yang—"
"Pfft."
Mereka bertiga sontak menoleh ke arah suara. Sakura—nama gadis yang berdiri itu—membuka mulutnya dan menatap gadis berambut hitam itu dengan tatapan tidak suka.
"Aku akan membunuhmu." Desisnya.
"Li-lihat dia! Hiiii, tolong selamatkan kami!"
Ugh, aku hanya ingin minum bir dan tidur, pikir Kakashi malas. Ia melambaikan tangan kepada seorang opsir wanita dan memintanya untuk mengurus dua gadis di depannya, sementara ia sendiri meminta gadis yang satu lagi untuk duduk lewat tatapan.
"Jangan berbicara seperti itu di kantor polisi. Dan ceritakan padaku sekarang."
"Memangnya akan ada gunanya?"
Kakashi berhenti membaca kertas di depannya dan menatap orang di depannya bingung.
"Apa maksudmu?"
"Ini bukan sekali dua kalinya, …Hatake-san." Gumamnya setelah membaca papan nama Kakashi di atas meja. "Dan akulah yang selalu berakhir di dalam sel."
Kakashi mengangkat alisnya. "Lalu sekarang? Kau juga ingin langsung masuk ke dalam sel?"
"Ya. Disini hangat. Sayangnya kalian hanya menahanku semalam."
Anak aneh, pikir Kakashi bingung.
"Jadi, Sakura Haruno," ujar Kakashi setelah membaca nama gadis itu dari kertas yang digenggamnya. "Apa kau bersalah?"
.
.
"Selamat datang."
Kakashi Hatake mengangguk dan memandangi sekeliling toko bunga dengan tatapan tidak berminat. Sedari tadi, kedua matanya hanya terfokus pada seorang pria yang mondar-mandir di dalam toko ini dengan sebuah tas besar di punggung. Ia telah membuntuti orang itu selama sebulan penuh dan ia sedang mencari momentum untuk membawanya ke kantor polisi.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan? Apa bunga yang kau cari?"
"Ehm…" Kakashi menggaruk tengkuknya tidak yakin. Ia memandang sekeliling toko, lalu menunjuk asal segerombol bunga berwarna merah. "Terima kasih."
Pelayan tersebut tersenyum dan mengangguk. "Berapa tangkai tuan? Buket? Dan untuk kertasnya—"
"Buket." Potong Kakashi cepat. "Tolong buatkan yang cantik."
"Aaah… pasti kekasih baru, ya?" ujar sang pelayan sambil terkikik. "Baiklah… akan dibuatkan satu buket yang super cantik!"
Kakashi tersenyum sekenanya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tersadar dari lamunannya saat pelayan tadi menyentuh lengannya, memintanya untuk berjalan ke bagian perangkaian bunga karena bunganya sudah selesai dirangkai.
"Bagaimana, Tuan? Cocok?"
Kakashi menatap bunga tersebut dan tertegun. Perempuan yang duduk di depannya tampak dengan tenang memotong kertas—ia seperti tidak menyadari kehadiran Kakashi disini.
"Tuan?"
"Ah, ya…" gumam Kakashi, tersadar. "Aku harus bayar berapa?"
"Untuk buket ini, em—"
"Kartu ucapan?"
Kakashi kembali tertegun saat perempuan itu mengangkat kepala. Ia masih mengingat suara itu—suara yang bertahun-tahun lalu bergetar karena tangis yang tidak kunjung reda walaupun sudah berjam-jam lamanya. Berbeda dengan tujuh tahun lalu saat ia masih sangat terlihat menyedihkan dan tidak berdaya, perempuan di depannya ini terlihat sangat… bahagia. Sehat. Bersinar.
Kakashi membuka bibirnya, namun ia ragu perempuan itu masih mengingatnya. Pada akhirnya ia hanya mengangguk.
"Apa yang harus kutulis?" tanyanya lembut.
"Uhm… cepat… sembuh?"
Sakura Haruno mengangguk dan menuliskan sesuatu di atas kartu. Beberapa saat kemudian, ia menyerahkan buket bunga tersebut dan Kakashi menerimanya dengan canggung.
Kedua alisnya bertaut saat membaca tulisan tangan rapi di depannya.
Apa pintunya perlu kukunci, Hatake-san?
.
.
"Impresif, Kakashi. Tidak sia-sia kau menguntitnya selama satu bulan." Puji Asuma Sarutobi sambil menyelipkan rokok dibibir. Kakashi mengacungkan koreknya ke arah pria itu—ia menatap orang yang dikuntitnya tengah diringkus dan dibawa pergi oleh beberapa mobil polisi.
"Kau ingin kembali ke pos?"
"Ya, tentu saja." Ujar Kakashi. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti dan ia berdeham pelan.
"Ehm, sepertinya aku akan berjalan-jalan disini sebentar." Ujar Kakashi. "Kau tahu, menikmati penyamaranku sebelum harus kembali benar-benar bekerja."
"Sikap yang bagus! Aku juga senang melakukannya! Aku bahkan—"
"Ya. Sampai bertemu di kantor."
Kakashi membalikkan tubuh dan berjalan beberapa meter sampai akhirnya ia kembali berada di depan toko bunga tadi. Lewat pintu kaca, ia dapat melihat Sakura sedang kembali merangkai bunga. Ekspresinya begitu tenang—tidak akan ada orang yang menyangka kalau perempuan itu baru saja membantunya meringkus seorang kriminal.
Merasa diperhatikan, Sakura mengangkat kepalanya. Sepasang mata hijau yang bertahun-tahun lalu penuh kebencian itu sekarang terlihat sangat hangat. Senyuman gadis itu terkembang dan ia berjalan keluar dari toko, berhenti tepat di depan Kakashi.
"Buketmu, Hatake-san." Ujarnya lembut, memberikan rangkaian bunga mawar merahnya ke arah Kakashi. "Tertinggal."
"Ah, ya, berapa yang harus kubayar?"
"Tidak perlu. Ini ucapan terima kasihku padamu."
Kakashi mengangkat alisnya. "Terima kasih? Kau yang baru saja membantuku, 'kan?"
"Ya… betul." Ujar Sakura lirih. Ia menatap jalan berpaving yang mereka injak lalu menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga. "Kau juga membantuku… dulu—kau adalah orang pertama yang benar-benar bertanya aku, apa aku bersalah atau tidak…"
Kakashi bisa melihat kedua pipi perempuan itu yang merona. Mau tidak mau bibirnya tersenyum.
Sakura Haruno sebenarnya tidak menyangka bahwa ia akan bertemu Kakashi lagi. Orang pertama yang membuatnya bisa terbuka pada orang lain. Kakashi mendangarkannya bercerita semalam suntuk tanpa sekalipun menghakiminya.
Cinta pertamanya kini muncul lagi.
Hatinya berdebar tidak karuan sekarang. Ia sedikit menyesali kartu yang baru saja ia tulis ulang tadi.
"Baiklah," gumam Sakura. "Kalau begitu aku masuk dulu. Hati-hati di jalan, Hatake-san."
Ia membalikkan tubuh tanpa menatap pria itu lagi. Baru saja kakinya melangkah untuk masuk, Kakashi menahan lengannya dan memberikannya satu tangkai mawar.
"Kau juga… selamat bekerja kembali. Haruno-san."
Sakura menatap punggung pria itu yang berangsur-angsur menjauh. Ia masuk ke dalam sebuah mobil—mungkin mobil temannya, Sakura tidak tahu—dan mobil tersebut segera saja berlalu dari area pertokoan tersebut. Sakura tersenyum kecil. Ia menatap tangkai mawar yang diberikan Kakashi dan menyadari bahwa kartu yang diberikannya terikat rapi di tangkai tersebut.
Apa kau mau… kapan-kapan pergi minum kopi denganku, Hatake-san?
Tentu saja. Aku akan menjemputmu pukul tujuh.
