9.59

"El tren partirá pronto! El tren partirá pronto!" (Kereta akan segera berangkat! Kereta akan segera berangkat!)

"Sialan!"

Sakura meletakkan gelas kopinya di atas bangku dan berlari dengan cepat ke arah kereta besar di depannya. Ia kira kereta akan berangkat 10 menit lagi. Ia baru saja membuang uang hanya untuk membeli segelas besar kopi yang hanya disesapnya beberapa kali.

Sakura melemparkan tasnya begitu saja ke dalam dan mengernyitkan dahi. Kenapa ia melemparkan tasnya seperti itu? Kalau ia tidak bisa masuk ke dalam kereta itu, barang-barangnya juga akan hilang!

"Baiklah, bisa atau tidak… terserah."

Sakura melompat ke dalam kereta dan jatuh dengan suara bedebam yang cukup besar. Seorang kondektur yang berdiri cukup jauh dari tempatnya terjatuh memandangnya terkejut—ia tidak sadar bahwa akan ada seorang perempuan gila yang nekat melompat masuk ke dalam kereta yang sedang berjalan seperti ini.

"Miss, are you okay?" (Nona, apakah kau baik-baik saja?)

"I am." (Ya.) Jawab Sakura sambil terkekeh, menahan nyeri pada kaki kirinya yang tadi ia jadikan tumpuan. Dengan langkah terseok-seok ia bergerak untuk mengambil tasnya.

"Let me escort you to your compartment. May I have your ticket, please?" (Aku akan mengantarmu ke kompartemen. Boleh kulihat tiketnya?)

Sakura tersenyum kecil dan memberikan tiket lusuhnya ke arah sang kondektur. Ia hanya bisa berterima kasih beberapa kali pada pria tua itu saat tas beratnya dengan susah payah berhasil di angkat olehnya. Sialnya, kompartemennya berada di gerbong yang berbeda tempat ia melompat masuk dan mereka harus berjalan cukup lama.

"Akhirnya." Gumam Sakura pada diri sendiri, memandang sang kondektur yang dengan susah payah meletakkan tas Sakura di atas kursi kompartemen.

"Thank you so much. Is it appropriate if I tip you?" (Terima kasih banyak. Apakah sopan kalau aku memberimu tip?) tanya Sakura sambil merogoh saku celananya.

"…it's not." (Tidak.)

Mereka berdua saling berpandangan selama beberapa saat. Suasana canggung menguar sampai akhirnya kondektur itu tersenyum dan mengangguk pelan.

Sakura menghela napas dan menutup pintu kompartemen. Untungnya, bilik kecil itu kosong dan ada ruang baginya untuk meluruskan kaki.

"Aku tidak menyangka tiket kereta akan semahal ini. Untung saja kupon diskon itu bermanfaat," ujarnya pada diri sendiri. Ia menggeser tasnya ke ujung kursi dan merebahkan tubuhnya disana. Ia akan berada disini selama tiga puluh satu jam—tidur adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya sekarang.

.

.

12.15

Tidur lelapnya terusik karena suara beberapa orang yang sedang berbicara tidak jauh dari tempatnya sekarang. Saat kedua matanya terbuka sempurna, Sakura baru sadar bahwa kompartemennya sudah terisi penuh empat orang—dirinya dan tiga orang asing lainnya—dan dua orang diantaranya adalah penyebab tidurnya terusik.

Mereka masih asyik berbicara dengan bahasa Spanyol yang hanya bisa dipahami Sakura sedikit. Saat menyadari ada satu orang lagi yang sedang memperhatikan mereka, kedua orang tersebut berhenti berbicara dan memandang Sakura.

"Ocúpate de tus propios asuntos, ¿no?" (Urus urusanmu sendiri, okay?)

Sakura tersenyum kecil dan memalingkan wajah. Ia tidak mengerti apa yang mereka katakan, namun nada bicara yang diterimanya tidak terlalu enak. Ia kembali berusaha untuk memejamkan matanya dan melanjutkan tidur. Niatnya itu dengan cepat terhenti ketika tersadar ada benda asing di kakinya.

Astaga!

Ya, kedua kakinya terletak manis di atas paha seorang pria yang tidak dikenalnya.

Sakura menelan ludah, berusaha menarik kakinya dari sana, namun kaki kirinya yang ternyata sudah mulai membiru dan bengkak nyaris mati rasa sehingga sukses mengantuk lantai dengan suara yang cukup keras.

"Aw!" jeritnya tertahan. "Oh, sialan…"

Kedua orang di depannya sukses menoleh dan mereka segera saja mengomeli Sakura dengan bahasa Spanyol yang lagi-lagi tidak dimengerti olehnya. Setelah puas bersungut-sungut didepannya, mereka berdua pergi dari situ dan sedikit membanting pintu geser kompartemen.

Suara bantingan pintu membuat orang disebelahnya terbangun. Sakura dan orang tersebut saling memandang dengan bingung.

"Sorry…" (Maaf…) ujarnya dengan nada berat, mengusap kedua matanya yang merah.

"N-no, I'm sorry for…" Sakura berdeham pelan, memandang kakinya yang bengkak dan biru. "…for my feet." (…untuk kakiku.)

Sakura meringis ketika menyadari kakinya masih nyeri sampai ketika ia berhenti berbicara.

"Sial, sakit sekali." Gumamnya pelan.

"Hm?"

Sakura menoleh mendengar suara orang di sebelahnya. "Pardon me?" (Maaf?)

"Wajahmu memang terlihat seperti orang Asia, tapi aku tidak menyangka kau orang Jepang."

"Kau bisa bahasa Jepang?!"

"Aku orang Jepang."

Sebuah senyuman mengembang di wajah Sakura. Pria disebelahnya ikut tersenyum dan melepas kaca mata hitamnya. Dari situlah terlihat bahwa orang disebelahnya ini memanglah orang Jepang—terlihat dari garis wajahnya yang tegas dan matanya yang sedikit meruncing di ujung.

Wow, pikir Sakura.

"Aku tidak menyangka akan menemukan orang Jepang disini." Ujar Sakura sambil memutar tubuhnya. Ia sedikit mengernyit saat rasa nyeri kembali muncul. "Siapa namamu? Dan dari kota apa kau berasal? Kenapa kau bisa sampai di Valencia?"

"Kau selalu bersemangat seperti ini, eh?"

Sakura meringis kecil. "Maafkan aku… aku menanyakan informasi pribadi, ya?"

"Tidak, tidak. Tidak apa-apa." Ujarnya sambil tersenyum. "Namaku Kakashi Hatake. Aku lahir di Fukuoka. Dan kau…?"

"Sakura Haruno!"

Mereka berdua berjabat tangan. Memang menyenangkan rasanya bertemu dengan sesama orang Jepang di luar negeri seperti ini.

"Jadi, apa yang kau lakukan disini?"

.

.

15.30

"Apa kau tidak merindukan Jepang?"

Kakashi terdiam mendengar pernyataan tersebut. Sakura yang sedang asyik menyendok kentang tumbuknya tidak terlalu memperhatikan ekspresi pria itu yang perlahan-lahan berubah. Setelah terdiam selama beberapa menit, pada akhirnya pria itu angkat bicara.

"Tidak." Gumam Kakashi.

Sakura seperti menyadari ada nada muram dari ucapan pria itu. Ia mengangkat kepala dan memandang Kakashi bingung.

"Tidak…?"

"Tidak." Ujar Kakashi. "Aku sudah tinggal di Paris selama delapan tahun lebih. Aku tidak merindukan Jepang."

Sakura menggigit bibirnya sekilas. Ia mengangguk-angguk pelan.

"Baiklah…"

"Kau bilang kau seorang seniman, 'kan? Apakah ada karyamu yang mungkin kuketahui?"

"Errr… kurasa tidak. Lukisanku tidak ada apa-apanya dibanding teman-temanku yang lain." Ujar Sakura sambil meringis. "Ini akan menjadi liburan terakhirku sebelum aku kembali ke Jepang. Pada akhirnya aku bisa menyelesaikan studiku di tahun keenam—kukira aku tidak akan pernah bisa lulus."

Kakashi mengangkat satu alisnya. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Aku memutuskan untuk lulus tahun ini karena aku tidak memiliki uang untuk membayar biaya kuliah lagi, Kakashi. Bukankah itu motivasi yang menyedihkan?"

Kakashi mau tidak mau tertawa kecil melihat senyuman sedih Sakura.

"Motivasi yang rasional." Hibur Kakashi.

"Ya, ya, terserah," Sakura mengangkat bahunya.

"Omong-omong, Sakura, sepertinya kakimu harus segera diobati." Ujar Kakashi sambil memperhatikan mata kaki Sakura yang berwarna biru dan ungu. "Tunggu sebentar."

Sakura memandang punggung Kakashi yang menghilang beberapa saat kemudian. Ruam birunya memang sudah berubah menjadi ungu tua, dan ia baru menyadari bahwa lengannya juga mendapat beberapa ruam biru kecil.

Tidak apa-apa, masih untung aku tidak tertinggal kereta.

Untung juga teman satu kompartemennya adalah seorang dokter. Sakura mengangkat kepala dan tersenyum kepada orang yang membuka pintu tersebut—namun senyumannya menghilang ketika melihat dua orang yang tadi memandangnya dengan dengki telah kembali.

"Bien. Este tonto de nuevo." (Bagus. Si bodoh ini lagi.)

Sakura tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. "Hi too you too." (Hai untukmu juga.)

"Apesta quedarse contigo." (Menyebalkan sekali karena harus terperangkap disini denganmu) ujar sang perempuan dengan nada halus, tersenyum ke arah Sakura. "¿Por qué no se sienta en el inodoro en su lugar?" (Kenapa kau tidak duduk ditoilet saja?)

"Bien, detente. Los llevaré a los dos a la tercera clase." (Baiklah, hentikan. Aku akan memindahkan kalian ke kelas tiga.)

Sakura dan dua orang tersebut menoleh ke arah suara. Kondektur yang tadi membantunya berdiri di ambang pintu—wajah ramahnya yang tadi ia perlihatkan ke arah Sakura berubah menjadi cukup menyeramkan. Tadinya ia merasa bahwa kondektur tadi berbicara padanya, namun rasa khawatirnya hilang saat dua orang di depannya tiba-tiba saja marah.

"¡Pero nosotras pagamos por la primera clase!" (Tapi kita membayar tiket kelas pertama!)

"La tercera clase, o te dejaré en la estación más cercana." (Kelas tiga, atau aku akan menurunkan kalian di stasiun terdekat."

Sakura benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan—namun dua orang di depannya dengan kesal meraih tas mereka dan pindah dari kompartemen tersebut. Kondektur tadi mengangguk sopan ke arah Sakura—menyingkap Kakashi yang ternyata sedari tadi berdiri di belakangnya.

"Baiklah, apa yang baru saja terjadi?" Tanya Sakura bingung.

Kakashi yang sedang membuka kotak obat di depannya berhenti sebentar sebelum akhirnya tersenyum.

"Mereka berada di kompartemen yang salah."

.

.

23.58

"Pacarku selalu bilang bahwa aku tidak memiliki kemampuan seni sama sekali. Walaupun begitu, aku tetap ingin percaya bahwa suatu saat nanti aku bisa mengadakan pameranku sendiri."

"Huh? Bukankah dia seharusnya sedikit lebih suportif?"

Sakura tertawa kecil. "Mungkin sebenarnya dia merasa tersaingi oleh kemampuanku. Dia adalah teman sekelasku juga."

"Ah… begitu…"

Kakashi memandangi lusinan sketsa yang berada di buku dalam genggamannya. Ia memang tidak mengerti seni sama sekali, namun menurutnya sketsa dan lukisan Sakura tidaklah jelek. Tentu saja ada banyak ruang bagi gadis itu untuk berkembang, tapi selebihnya lukisan gadis itu sudah terlihat bagus.

"Kau sendiri, Kakashi, apakah tunanganmu pernah… kau tahu…"

"Menentang hal yang kusukai?"

"Ehm… lebih ke, meragukan kemampuanmu."

Kakashi memandangi gadis di depannya. Sakura terlihat sedikit menyedihkan sekarang. Sekali lihat saja, ia bisa tahu bahwa Sakura tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Ia tersenyum kecil dan pada akhirnya mengangguk.

"Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai kita setiap waktu, Sakura." ujar Kakashi pelan. "Yang paling penting, kau harus selalu menyukai dirimu sendiri."

Mereka berdua terdiam setelahnya. Sedikit sekali pemandangan yang bisa dilihat waktu malam seperti ini—dominasi warna hitam menghiasi jendela dan keduanya tampak tidak mau lagi memandangi jendela tersebut. Sakura meraih bantal yang terletak di rak atas kursi sementara Kakashi menutup tirai tersebut. Keduanya berbaring di masing-masing kursi beberapa saat setelahnya.

"Kakashi."

"Hm?"

"Beri tahu aku satu rahasiamu."

Kakashi menoleh ke arah Sakura dan tersenyum kecil. "Dan kenapa aku harus melakukannya?"

Sakura ikut menoleh dan mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Aku tidak tahu."

Keduanya kembali terdiam. sebenarnya Sakura sendiri juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ia bertanya seperti itu ke Kakashi. Matanya hampir saja tertutup ketika sebuah kalimat singkat keluar dari bibir Kakashi.

"Aku tidak akan pernah kembali ke Jepang."

Sakura menoleh—matanya bertabrakan dengan mata pria yang hanya terpisah setengah meter darinya itu. Di kedua bola mata itu, ia menemukan luka, amarah, dan kesedihan yang tercampur jadi satu.

"Beri tahu aku satu rahasiamu." Ujar Kakashi, nyaris berbisik.

Mata mereka masih bertatapan. Tanpa berkedip, Sakura menjawab pria itu dengan suara yang sedikit bergetar.

"Aku membenci diriku sendiri."

.

.

09.00

"Kau mau minuman?"

"Uhm… ya. Cokelat panas?"

Kakashi memberikan beberapa lembar uang pada petugas disebelahnya dan mengambil segelas cokelat panas. Ia meletakkan gelas kertas besar tersebut di atas meja dan mengambil segelas lagi kopi hitam.

"Gracias." (Terima kasih.)

Petugas tersebut tersenyum dan berlalu dengan kereta dorongnya. Kakashi memperhatikan Sakura yang sedang sibuk mencoret-coret buku sketsanya—sejak terbangun dua jam yang lalu, gadis itu sudah membuat tidur Kakashi terganggu dengan bunyi aduan pensil dengan kertas gambar.

"Ada apa, Sakura? Kau kerasukan?" Tanya Kakashi jenaka.

Sakura tertawa kecil dan menggeleng. "Aku sedang merasa sangat fokus. Momen yang baik untuk melukis."

"Hei, kau melukis pantai Malvarrosa?"

"Huh? Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku mengunjunginya saat di Valencia. Aku dan tunanganku sedang mensurvei tempat pernikahan." Ujar Kakashi.

"Ya… Malvarrosa adalah satu-satunya pantai yang dikunjungi. Aku ingin sekali mengunjungi pantai yang lain saat aku pergi ke Valencia lagi. Suatu saat nanti."

Mereka kembali hening. Kakashi membaca koran yang diberikan sang petugas troli tadi kepadanya, sementara Sakura menambahkan tekstur pada sketsa pasirnya. Mereka berdua sama-sama nyaman terdiam disana sampai akhirnya sebuah suara terdengar.

Kakashi tertawa kecil sementara wajah Sakura memerah sempurna.

"Kau tidak mau makan dulu, Sakura?" Tanya Kakashi, masih tertawa.

"Ugh… memalukan sekali." Sakura mengutuk perutnya sendiri sambil menggeleng. "Tidak. Jam makan siang masih cukup lama."

"Sekarang pukul satu."

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap jam dinding. Ia menghela napas dan pada akhirnya mengangguk, menyadari bahwa ia sudah lupa waktu.

Makanan pesanan mereka datang setengah jam kemudian. Keduanya kembali sibuk bercerita tentang apa yang akan mereka lakukan setibanya di Paris nanti, apalagi kesamaan yang keduanya bisa temukan berbekal dari cerita-cerita kuno, dan juga membicarakan lebam biru di kaki Sakura.

"Jadi kau akan pulang ke Jepang tiga hari lagi?" Tanya Kakashi.

Sakura mengangguk. "Aku tidak akan ikut wisuda. Aku akan langsung kembali ke rumah—yang penting aku sudah mendapatkan ijazahku sehingga aku bisa dengan cepat mencari kerja."

"Bagaimana dengan barang-barangmu?"

"Sudah kukirim sejak seminggu yang lalu."

Kakashi mengangguk-angguk. Roti lapis terakhirnya sudah habis sementara Sakura masih memiliki dua lagi di atas piringnya.

"Kau tahu," ujar Kakashi membuka pembicaraan. "Gambarku sangatlah jelek."

"Huh? Omong kosong. Tidak ada karya seni yang jelek." Ujar Sakura sedikit tidak terima. "Kemarilah."

"Untuk?"

"Kemariiii…"

Kakashi pada akhirnya menurut dan berpindah duduk di sebelah Sakura. gadis itu membuka lembaran baru pada buku sketsanya dan menggeser buku itu sehingga berada tepat di depan Kakashi. Belum hilang rasa bingung pria itu, Sakura kembali memberinya pensil yang sedari tadi dipakainya.

"Gambar apa saja."

"Kau tahu, saat aku bilang gambarku sangatlah jelek, aku tidak bermaksud untuk memintamu mengajariku." Ujar Kakashi bingung. "Gambarku memang sangatlah jelek."

Sakura menghela napas dan menarik tangan Kakashi sampai ia memegang pensil yang diberikannya. Dengan gerakan lembut, ia menuntun pria itu menggores garis demi garis di atas kertas.

.

.

17.01

Sakura menerima uluran tangan Kakashi dan berjalan keluar dari kereta. Keduanya berdiri mematung di depan peron, sibuk dengan pikiran masing-masing, bingung bagaimana mereka harus mengucapkan selamat tinggal untuk satu sama lain.

"Baiklah…" ujar Sakura akhirnya, memandang Kakashi. "Sukses untuk pernikahannya, Kakashi. Dan terima kasih karena sudah merawat lukaku. Kau benar-benar dokter yang hebat."

Kakashi tersenyum kecil. "Sama-sama. Selamat bertemu kembali dengan keluargamu."

Sakura menganggukkan kepala. Mereka kembali terdiam—masih enggan untuk berpisah.

"Aku akan pergi sekarang." Ujar Sakura sambil tersenyum. "Terima kasih sekali. Memiliki teman satu kabin sepertimu benar-benar menyenangkan."

Setelah itu, entah siapa yang memulai duluan, keduanya berpelukan cukup lama. Sakura menghirup dalam-dalam aroma sandalwood dari kemeja Kakashi tersenyum kecil. Mereka, 'kan, tidak akan bertemu lagi. Berpelukanpun adalah budaya orang Barat—dan mereka sedang berada di Paris sekarang, bukan Jepang. Tidak ada salahnya, 'kan?

"Sampai jumpa, Kakashi." Ujar Sakura sambil meraih tasnya, melambaikan tangan.

"Sampai jumpa… Sakura."

Keduanya berpisah di stasiun tersibuk Paris sore itu, dengan sejuta perasaan berkecamuk di dalam hati masing-masing.