"Lalu dia bertanya, memangnya dimana bisa kucari pelangi yang kau maksud? Aku sudah berjalan ke seluruh penjuru dunia—Utara, Barat, Timur, Selatan, bahkan Tenggara… yang kulihat hanyalah hamparan tanah merah bata tanpa ujung—"

Sakura Haruno menghentikan bacaan saat pria di depannya mulai terpejam. Ketika sadar gadis itu berhenti membaca, Sakumo Hatake kembali membuka kedua matanya dan menghilangkan ekspresi kantuknya.

"Sudahlah, Tuan Hatake. Hari ini cukup sampai disini dulu." Ujar Sakura sambil meletakkan buku tersebut di atas meja. Ia bangkit dan membetulkan posisi selimut pria tua di hadapannya—memastikan infus yang tertanam pada lengan pria itu masih cukup, dan memberikan senyumannya.

"Besok aku akan kembali lagi."

"Baiklah… jangan lupa untuk membaca buku yang itu." Sakumo mengangkat jarinya dengan susah payah—menunjuk sebuah buku berwarna biru lusuh yang berada di atas sofa. "Terima kasih, Sakura."

Sakura mengangguk dan mengganti lampu ruangan tersebut agar menjadi lebih redup. Ketika ia berbalik tepat sebelum melangkah keluar dari kamar itu, Sakumo Hatake sudah menutup kedua matanya dan tertidur.

Ia berjalan kembali ke ujung lorong dan masuk ke dalam ruang perawat. Beberapa perempuan ada disana, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sakura meletakkan buku pemberian Sakumo tadi di atas sudut kerjanya dan segera meraih sebuah papan cokelat tua tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Bagaimana kondisi Tuan Hatake, Sakura?"

Gadis itu terdiam dan enggan untuk menjawab. Melihat ekspresi ragu Sakura temannya mengangguk-angguk paham.

"Kau sudah bekerja dengan sangat baik. Ia terlihat jauh lebih sehat sekarang dibandingkan saat pertama kali datang dulu, 'kan?"

Pikiran Sakura melayang kembali ke pertemuannya dengan Sakumo Hatake beberapa tahun lalu. Pria tua itu datang sendirian ke rumah sakit, wajahnya teramat kurus dan kuyu, dan ia menolak segala hal yang diberikan para perawat kepadanya. Sakumo bersikeras bahwa ia pergi ke rumah sakit hanya untuk menghormati permintaan mendiang istrinya—bahwa ia harus berjanji akan ada orang lain yang mengurusnya jika ia sakit nanti.

Sekarang tulang pipinya tidak terlalu menonjol lagi. Rona wajahnyapun sudah kembali, dan Sakumo bersedia untuk berlama-lama berbicara dengannya. Sakura sampai-sampai banjir pujian karena kerja kerasnya membuahkan hasil.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, Tuan Hatake." Ujar Sakura suatu waktu. "Tidak selama aku sendiri yang merawatmu."

Setelah itu keduanya menjadi teman baik. Sakura akan datang sehabis keliling malamnya selesai dan membaca buku-buku kesukaan Sakumo bersamaan dengan pria itu. Ia memang seorang mantan dosen di universitas ternama, tidak heran Sakumo adalah orang yang sangat pintar.

Suatu hari saat Sakura menanyakan anggota keluarga lainnya pada Sakumo, pria itu malah tertawa kecil.

"Aku memiliki seorang putra, Sakura. Tapi akan lebih baik baginya untuk mengurus dirinya dan orang lain dibanding harus mengurusi laki-laki tua penuh sakit sepertiku."

"Bukankah seharusnya memang ia mengurus ayahnya terlebih dahulu?"

"Ya. Tapi aku tidak mau."

Itulah Sakumo Hatake. Sangat keras kepala, tapi ada begitu banyak hal yang Sakura pelajari bersamanya sejak pertama kali mereka berbicara. Mengunjungi Sakumo bukanlah suatu kewajiban bagi Sakura—ia benar-benar menghargai waktunya bersama pria tua itu. Baginya, ia seperti kembali memiliki seorang ayah.

"Kenapa kau belum menikah, Sakura?"

Saat mendengar pertanyaan tersebut dari orang disebelahnya, Sakura tertawa canggung dan sedikit kesusahan menggantung kantung infus yang sedang dipegangnya.

"Aku tidak memiliki waktu untuk berkencan, Tuan Hatake. Lebih baik aku berbicara denganmu saja disini." Jawab Sakura dengan nada jenaka.

"Kalau kau berbicara seperti itu, seolah-olah aku adalah orang yang menghambat kehidupan kencanmu." Sakumo tertawa kecil. "Kau harus cepat-cepat mencari seorang suami, Sakura. Kurasa dokter akan sangat cocok bagimu—karena kalian, perawat dan dokter, sama-sama selalu bekerja keras sampai lupa waktu."

Sakura hanya tersenyum mengingat semua itu. Waktu itu, mereka menghabiskan seminggu penuh hanya untuk mendekorasi kamar pasien Sakumo. Sakura yakin hal tersebut akan membuat pria tua itu merasa lebih baik. Benar saja, ketika melihat kamar inapnya nyaris sama seperti kamarnya di rumah, kondisi Sakumo langsung membaik.

Lamunannya terhenti ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dengan tidak sabar. Temannya tadi memandang Sakura dengan pandangan panik, dan Sakura segera saja melangkah ke kamar Sakumo tanpa pikir panjang.

Ia dan satu perawat lainnya melihat Sakumo yang tadi dengan susah payah menekan tombol di samping tempat tidurnya sedang terengah-engah. Pria itu tidak pernah menekan tombol tersebut. Jantung Sakura berdetak kencang—ia kembali memastikan tidak ada yang salah dengan semuanya. Gerakan tangan Sakura melambat saat memperhatikan monitor yang terletak di samping Sakumo.

"Tidak… tidak, tidak…" ujar Sakura pada diri sendiri, segera menoleh ke arah temannya. "Segera panggil dokter Senju!"

Sakura memandang pria di depannya yang mulai kehilangan fokus dengan tatapan ngeri. Kedua tangannya segera saja menggenggam tangan Sakumo yang bergetar.

Dingin.

"Tuan Hatake? Tuan Hatake?" panggil Sakura, nyaris menangis. "Tuan Hatake—"

"Aku hanya memintamu… membiarkanku pergi…"

Sakura mematung. Ia menatap kedua mata pria tua itu yang juga sudah berlinang air mata, sementara tangisan pada akhirnya berhasil menguasai dirinya.

Sakura tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Ia hanya ingat temannya yang sudah kembali dengan seorang dokter memegangi kedua bahunya, mengusap punggungnya, sementara matanya dengan kosong memandang Sakumo Hatake saat kehidupan perlahan-lahan mulai pergi meninggalkan tubuhnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, Tuan Hatake… Tidak selama aku sendiri yang merawatmu."

.

.

Sakura nyaris tidak tidur hari itu. Ia juga lupa kalau ia belum makan apapun. Ikatan emosionalnya dengan Sakumo terlalu kuat sampai-sampai kematian pria itu mempengaruhinya sampai sebegini besar. Ia menyendok pisang dan alpukat yang diberikan seorang rekan perawat dan berusaha untuk menelannya sebisa mungkin.

Dua bulan telah berlalu, ia mulai bisa menerima kenormalan baru tanpa mengunjungi ruangan Sakumo Hatake setiap harinya. Saat ia kembali dari kunjungan rutinnya suatu hari, ia melihat ada sebuah kertas lusuh terletak manis di atas sudut mejanya.

Kedua alisnya bertaut… ragu sendiri.

.

.

Sakura memandang pasu putih tersebut sambil menyatukan kedua tangan di depan dada. Foto Sakumo Hatake dengan bingkai kecil bertengger manis di depan pasu tersebut. Meskipun beberapa kali air matanya kembali jatuh dan jatuh, Sakura berhasil menyelesaikan doanya untuk Sakumo.

Sebuah sapu tangan diberikan ke arahnya. Sakura mengangkat kepala, sedikit terkejut melihat orang di depannya.

"Kakashi… Hatake." Ujarnya ragu.

Sekilas, Kakashi benar-benar terlihat mirip ayahnya. Pria itu tersenyum dan meletakkan sapu tangannya ke tangan Sakura saat gadis itu mematung tidak bergerak.

"Sakura Haruno."

Mereka berdua saling bertatapan saat paham bahwa mungkin saja, keduanya sudah mengenal satu sama lain lewat Sakumo. Pertama kalinya dalam beberapa bulan senyuman Sakura terkembang meskipun sangat lemah. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan Kakashi dan mengikuti pria itu berjalan ke tempat duduk.

"Aku… minta maaf karena tidak datang ke upacara pemakaman Tuan Hatake." Ujar Sakura lirih.

"Kurasa dia tidak akan memaafkanmu. Tapi kau datang sekarang, 'kan?"

Sakura tersenyum dan mengangguk. Air matanya masih belum mau berhenti mengalir.

"Ayahku tidak pernah bercerita bahwa kau adalah seorang perawat. Dia hanya bilang kalau dia memiliki seorang teman di rumah sakit untuk menemaninya berbicara dan membawa buku. Aku kira temannya itu adalah pasien lainnya. Kalau tahu kau adalah seorang perawat, aku pasti sudah mengunjungimu untuk memberi salam." Ujar Kakashi panjang lebar, membuka percakapan. "Aku hanya bisa mengunjunginya beberapa minggu sekali, itupun dipagi hari. Kadang ayahku masih tertidur saat aku datang."

"Tapi kau selalu meneleponnya setiap hari, 'kan?" gumam Sakura.

Kakashi mengangguk. Meski mengiyakan, ada raut sesal di wajah pria itu.

"Selama beberapa tahun terakhir ini jadwal operasi selalu terisi penuh."

Sakura menoleh kaget. Sakumo tidak pernah bercerita bahwa putranya adalah seorang dokter. Tentu saja sangat menyakitkan bagi Kakashi karena tidak bisa merawat ayahnya sendiri padahal ia adalah seorang dokter. Mengingat watak Sakumo, pasti Sakumo sendiri-lah yang tidak mau berada di rumah sakit tempat anaknya bekerja.

Melihat raut terkejut Sakura, Kakashi terdiam dan menyadari sesuatu.

Pria itu tertawa kecil.

"Ada apa?" Tanya Sakura bingung.

"Kau harus cepat-cepat mencari seorang istri, Kakashi. Kurasa perawat akan sangat cocok bagimu—karena kalian, perawat dan dokter, sama-sama selalu bekerja keras sampai lupa waktu." Ujar Kakashi pelan, mengingat perkataan ayahnya.

Sakura seakan tersadar bahwa ia pernah menerima kalimat yang nyaris sama dari Sakumo. Perlahan-lahan wajahnya memerah—apakah selama tiga tahun ini adalah program perjodohan terselubung oleh Sakumo?

"Tidak usah terlalu dipikirkan. Ayah memang suka asal bicara." Kata Kakashi cepat-cepat saat menyadari gadis disebelahnya membisu. "Sepertinya sudah sepantasnya aku mentraktirmu makan sekali-kali. Aku tahu restoran yang mi soba-nya enak. Makan siang denganku?"

"Darimana kau tahu aku—"

Sakura menghentikan perkataannya sandiri dan menoleh ke arah pasu Sakumo. Ia tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Baiklah."