Sakura Haruno sudah berkendara selama tiga belas jam lebih. Jika sampai sesuai estimasinya, sekitar dua jam lagi ia akan bisa merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kamar hotel ditemani lilin aroma terapi.
Sakura bersenandung mengikuti alunan musik mobilnya. Bibirnya tersenyum kecil melihat hamparan sawah hijau disekitarnya sekarang.
"Akita." Ujarnya pada diri sendiri setelah melihat peta. Matanya sedikit memicing saat menyadari bahwa ada gumpalan awan abu-abu pekat di depannya. Ia berusaha untuk memfokuskan pikiran pada aspal di hadapannya, namun rintik pertama hujan yang diikuti oleh gemuruh besar membuatnya ragu.
Tubuhnya tentu saja lelah. Ia berangkat pukul empat pagi dan sekarang pukul lima sore—ia butuh istirahat. Sebenarnya ia berencana untuk beristirahat enam jam yang lalu, tapi ia benar-benar merasa belum lelah dan memutuskan untuk kembali berkendara. Deru hujan yang berubah menjadi sangat besar dan menyeramkan membuat Sakura memutuskan untuk memberhentikan mobil di bahu jalan.
"Hotel… hotel…"
Sakura memandang ponselnya dan berusaha mencari penginapan terdekat yang bisa ia temukan. Sayangnya, penginapan yang muncul disana semuanya berada sekitar satu jam jauhnya dan ia harus memutar arah untuk sampai kesana.
Sakura memutuskan untuk mengendarai mobilnya lagi dan mencari penginapan yang mungkin saja berada tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Matanya terlalu sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan sampai-sampai ia tidak sadar ada sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan.
Suara klakson super kencang mengagetkannya. Belum sempat Sakura bereaksi, mobilnya bertabrakan begitu kerasnya sampai-sampai kepalanya membentur stir mobil.
"Oh!" jeritnya pada diri sendiri. Sakura menatap mobil di hadapannya dengan panik dan segera saja keluar dari mobil.
"Permisi…" ujar Sakura cukup kencang sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. "Permi—"
"Apa yang kau lakukan, menyetir sambil tidur?!"
Sakura tersentak ketika mendengar suara marah tersebut. Seorang pria keluar dari mobil—ekspresinya memandang Sakura dengan ekspresi tidak suka. Ia memperhatikan mobil Sakura dan mobilnya yang saling terkait satu sama lain.
"Maafkan aku…"
Sakura benar-benar merasa takut. Mobilnya mengeluarkan asap sekarang, orang di depannya benar-benar terlihat marah, dan ia basah kuyub. Gadis itu mengernyit saat rasa nyeri mendominasi kepalanya.
"Aku…" gumam Sakura pelan, mengusap wajahnya yang serasa ditusuk-tusuk seribu jarum. "Aku akan mengganti biaya reparasi mobilmu. Apa kau menerima cek—"
"Tidak usah."
Sakura terpaku selama beberapa saat sebelum akhirnya pria itu menghela napas.
"Kau harus berhati-hati. Ramalan cuaca mengatakan akan ada badai selama seminggu kedepan."
Setelah mengatakan hal tersebut, pria tadi masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Sakura tanpa mengatakan apapun. Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berjalan masuk kembali ke dalam mobil.
"Oh, bagus. Sekarang kau tidak mau menyala?"
Sakura benar-benar ingin menangis sekarang. Ia harus sampai di Aomori paling lambat pukul delapan besok pagi. Dan sekarang mobilnya memutuskan untuk mogok?
Ia terdiam selama lima menit lamanya di dalam mobil sebelum akhirnya sebuah ketukan terdengar di kaca jendelanya.
Pria tadi berdiri di depannya, masih terlihat tidak terlalu suka pada Sakura.
"Aku akan mengantarmu ke bengkel."
.
.
"Dua hari? Tidak, tidak… aku harus sampai ke Aomori besok pagi." Ujar Sakura sambil menggelengkan kepala. "Aku akan membayar biaya reparasinya dua kali lebih besar, bisakah kau menyelesaikannya malam ini?"
"Tidak bisa, aku sudah bilang kalau baranganya berada di kota dan aku tidak bisa pergi sekarang karena badai." Ujar orang di depannya sedikit kesal. "Kakashi, beritahu orang ini."
Pria tadi—Kakashi Hatake—hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Pada akhirnya Sakura berjalan keluar mengikutinya dan mereka berdua termangu memandangi hujan yang turun begitu lebatnya, seperti bingung harus berkata apa.
Kakashi kembali beranjak untuk meninggalkannya—namun kali ini Sakura berhasil menahan tangan pria itu.
"Tunggu sebentar," ujar Sakura cepat. "Apa kau tahu dimana aku bisa mencari taksi?"
Kakashi memperhatikan tangannya dan melepaskan tangan Sakura dengan ekspresi tidak suka. "Tidak."
"Bagaimana dengan penginapan?" Tanya Sakura lagi.
"Tidak ada penginapan disini." Jawab Kakashi tanpa ekspresi. "Ini desa tinggal."
Sakura hanya mengangguk lemah tanpa menjawab. Kakashi menatapnya selama beberapa saat sampai akhirnya pria itu kembali pergi meninggalkannya. Gadis itu memandangi koper dan barang-barangnya yang lain yang sedikit basah dan jatuh terduduk di atas kopernya sendiri.
Ia tidak mengerti kenapa ia bisa sesial ini sekarang. Sinyalpun tidak bisa ia dapatkan, mungkin karena badai yang sedang berlangsung. Sudah bisa dipastikan sangat kecil kemungkinannya ia bisa sampai di Aomori besok pagi.
Sepasang kaki membuatnya tertegun. Sakura mengangkat kepala dan kembali mendapati Kakashi disana.
"Aku akan mengantarmu ke klinik." Ujar Kakashi singkat.
"Klinik?" Tanya Sakura, memperhatikan Kakashi yang mulai mengangkati barang-barangnya dengan eskpresi bingung. "Kenapa kita harus ke klinik? Aku—"
"Kepalamu belum berhenti mengeluarkan darah."
Sakura seakan terasadar dan menyentuh pucuk kepalanya sendiri. Benar saja, darah segar ia temukan di telapak tangannya. Inilah alasan kenapa kepalanya terasa nyeri sedari tadi. Tidak ingin ditinggalkan oleh Kakashi lagi, Sakura segera bergegas masuk ke dalam mobil tua Kakashi dan terduduk diam di kursi penumpang.
Mobil tersebut berjalan dalam diam karena kedua orang di dalamnya memutuskan untuk tidak berbicara satu sama lain. Sakura menoleh saat mendengar helaan kecewa Kakashi dan segera memicingkan mata—mendapati bahwa klinik yang dimaksud Kakashi tutup.
"Aku benar-benar tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah berepot-repot mengantarku ke bengkel dan klinik." Ujar Sakura. "Aku akan turun disini."
"Tunggu sebentar."
Sakura berhenti meraih barang-barangnya dan memperhatikan Kakashi.
.
.
"Terima kasih sekali… aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu."
Kakashi tidak merespon. Ia meletakkan koper Sakura di dalam kamar tersebut dan berjalan keluar. Beberapa saat kemudian ia kembali dan memberikan sebuah selimut tebal dan handuk ke arah Sakura.
Sakura tersenyum, namun lagi-lagi pria itu hanya terdiam dan memandangnya sajapun tidak. Senyuman Sakura berubah menjadi kecut.
Ketika selesai mandi beberapa saat setelahnya, Sakura berjalan ke luar kamar dan mendapati Kakashi sedang membaca sebuah buku di depan televisi yang menyala. Sakura duduk perlahan di atas sebuah kursi tak jauh dari sana dan berdeham pelan.
"Ehm, Hatake-san—"
Kedua matanya membulat ketika Kakashi pergi begitu saja dari tempat duduknya.
Kenapa ia sepertinya sangat membenciku?
Sakura memutuskan untuk kembali saja ke kamar namun Kakashi ternyata kembali beberapa saat kemudian dan meletakkan sebuah kotak di hadapan Sakura.
"Obati lukamu." Ujarnya singkat sebelum kembali membaca.
Sakura memandang kotak di depannya dengan bingung dan baru menyadari bahwa Kakashi baru saja memberikannya kotak obat. Ia mengambil kapas dan meneteskan obat merah beberapa kali diatasnya. Sementara tangan kanannya memegang kapas, tangan kirinya meraba-raba pucuk kepalanya untuk mencari titik luka.
"Bolehkah aku membantumu?"
"Hm?"
Sakura menoleh bingung, menatap Kakaashi. "Maaf?"
"Bolehkah aku membantumu?"
Sakura bingung harus berkata apa. Pada akhirnya dia hanya mengangguk dan memberikan kapas tersebut ke arah Kakashi.
"Maaf."
Sakura berjengit ketika rasa perih menguar dari obat merah yang bertemu dengan lukanya. Kakashi berhenti sebentar, memandangnya seolah-olah meminta persetujuan, dan segera melanjutkan ketika Sakura mengangguk.
"Aku harus menghadiri ulang tahun atasanku di Aomori. Aku sedang mengamankan posisiku di kantor dan berharap akan mendapat promosi dalam waktu dekat." Ujar Sakura tanpa sadar. "Beberapa rekan kerjaku sudah memintaku untuk pergi dengan pesawat, tapi aku memutuskan untuk mengendarai mobil saja karena aku juga ingin jalan-jalan begitu sampai di Aomori…"
Sakura tidak sadar berapa lama ia bercerita. Selama itu, Kakashi hanya mengangguk sekenanya dan bergumam tidak jelas, mengafirmasi setiap ucapan gadis itu. Beberapa menit setelahnya, luka Sakura sudah bersih dan sebuah plester luka kecil ditempelkan Kakashi dengan sangat hati-hati di pucuk kepala gadis itu.
"Besok aku akan mengantarmu ke klinik." Gumam Kakashi singkat.
"Bukankah besok juga akan ada badai?"
Pria itu berhenti melangkah. Ia memandang Sakura lewat bahunya, lalu tertawa kecil.
"Benar juga."
.
.
"Ini adalah kali pertama ponselku mendapatkan sinyal! Sesore tadi ada badai disini dan aku tidak bisa mendapatkan sinyal bahkan satu bar-pun." Keluh Sakura pada Ino di seberang telepon. "Dia pasti akan membunuhku. Tidak bisakah kau yang memberitahunya, Ino? Katakan padanya kalau aku kecelakaan dan mobilku harus direparasi…?"
"Maaf, Sakura, kalau begitu aku yang akan dibunuh olehnya." Ujar Ino sedikit putus asa. "Kirimkan saja pesan singkat. Dengan begitu kau tidak perlu mendengarkan omelannya."
"Tapi—halo? Ino?"
Sakura memandang ponselnya dan berdecak. Suara ornament angin Kakashi yang cukup ribut memberikannya pertanda bahwa angin kembali bertiup cukup kencang. Sakura menyambungkan ponselnya dengan pengisi daya dan berjalan keluar saat bau makanan menyeruak masuk ke hidungnya.
Kakashi sedang berdiri di dapur. Wajahnya terlihat begitu berkonsentrasi, kacamatanya sedikit melorot dan bibirnya membentuk garis lurus. Kalau Sakura melihat pria ini di tengah ramainya Shinjuku, pasti ia tidak akan menyangka Kakashi tinggal di desa sekecil ini.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Sakura bisa melihat Kakashi yang tersentak pelan. Meski demikian, pria itu dengan cepat menyembunyikan ekspresi kagetnya dan menunjukkan wajah datar yang biasa ia berikan pada Sakura.
"Bubur kacang merah." Jawab Kakashi singkat.
Sakura menutup matanya dan tersenyum. Bau bubur kacang merah itu begitu mirip dengan bubur yang dulu sering dibuat oleh ibunya. Tanpa sadar kakinya berjalan semakin mendekat dan gadis itu memekik singat saat kepalanya menabrak punggung Kakashi.
Semuanya terjadi begitu cepat—Kakashi juga kehilangan keseimbangan dan tangannya tidak sengaja menyenggol panci di atas kompor.
"!"
Kakashi membelalak saat bubur kacang merah yang beberapa saat lalu meletup-letup karena mendidih itu menghantam perutnya. Dengan cepat ia berdiri, membuka bajunya sambil berlari ke arah kamar mandi.
Sakura mengernyit dan mengusap bokongnya.
"Aduh…" keluhnya kesal, memandang tumpahan bubur kacang merah yang mengenai kakinya. "Hei! Hatake-san!"
Kakinya berjalan susah payah menuju kamar mandi. Ia kira hanya kakinya saja yang akan memerah, ternyata seluruh wajahnya ikut merah saat melihat Kakashi berjongkok disana—tanpa baju dengan air mengalir terarah ke luka bakar di perutnya.
"Ma-maaf, aku akan kembali la—"
Tangan Kakashi menariknya mendekat dan pria itu menyodorkan selang air ke arahnya.
"Kakimu."
Seakan tersadar, rasa panas di kakinya kembali terasa dan Sakura cepat-cepat mengarahkan air mengalir itu ke atas kakinya. Ia terduduk dengan canggung di sisi bak mandi sementara Kakashi terduduk di dalamnya, ekspresinya begitu keras tidak terbaca.
Dua puluh menit kemudian, Sakura menyodorkan kembali selang tersebut dan berdiri dengan canggung.
"Apa… apa kau mempunyai salep luka bakar?"
"Ya." Ujar Kakashi singkat. "Di dalam kotak obat. Di kabinet hijau ruang makan."
Sakura bergegas menuju ruang makan dan menemukan kotak obat yang dimaksud. Ia berusaha keras mengidentifikasi tiga salep yang ada disana. Setelah yakin yang digenggamnya adalah salep luka bakar dan bukanlah salep gatal-gatal, Sakura berjalan kembali ke dalam kamar mandi, menemukan Kakashi yang masih terduduk disana dalam diam.
Ketika tangannya bergerak untuk mengoleskan salep tersebut ke luka bakar Kakashi, tangannya dicekal cukup kencang oleh orang di depannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Me… mengobati lu-lukamu." Jawab Sakura takut-takut.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri." ujar Kakashi, merebut salep tadi begitu saja dan memalingkan wajah.
Sakura mendengus pelan sambil berusaha mengumpulkan keberanian. "Kau sudah membantuku mengobati luka di kepalaku… salahkah kalau aku ingin melakukan hal yang sama?"
Sakura bisa melihat rahang pria itu yang mengeras. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya tanpa suara menyerahkan salep itu kembali ke Sakura. Ekspresinya yang dingin dan kaku memperhatikan jendela besar di kamar mandi tersebut yang menampilkan hujan besar di luar rumah. Sakura dengan perlahan mengoleskan salep tadi sambil mengumpati dirinya sendiri yang begitu ceroboh.
Lama kelamaan ia juga penasaran apa yang membuat Kakashi begitu tertarik duduk terdiam tanpa berbicara. Ketika matanya melihat hujan badan di luar rumah yang tampak begitu menyeramkan—pohon-pohon yang sampai miring tertiup, sambaran petir dari kejauhan yang terlihat seperti ranting, dan beberapa barang ringan yang ikut melayang, keduanya duduk terdiam di kamar mandi tersebut dan tanpa sadar mulai tertidur.
Sakura bangun dari tidurnya beberapa jam kemudian. Sinar matahari yang luar biasa terang serasa menusuk matanya yang masih memerah dan sedikit bengkak. Setelah berusaha memfokuskan pandangannya, Sakura menyadari bahwa ia masih berada di kamar mandi yang sama dan Kakashi duduk tertidur di dalam kamar mandi.
"Ugh…"
Gadis itu merentangkan tangan—tiba-tiba saja seluruh persendiannya nyeri karena tidur dalam posisi yang tidak wajar. Tangannya terulur untuk membangunkan Kakashi, namun keningnya mengernyit saat tangan Kakashi terasa sangat panas.
Kedua mata Sakura membulat saat menyadari Kakashi tertidur semalaman dengan air merendam kakinya. Ia berusaha membangunkan Kakashi, namun pria itu hanya bergumam tidak jelas.
"Kenapa… semuanya… terjadi… beruntun… kepadaku…" keluh Sakura sambil susah payah mengeluarkan Kakashi dari bak mandi.
.
.
Kakashi terbangun dengan kepala berdentum keras. Seluruh tubuhnya menggigil dan gerah disaat yang bersamaan. Wajah Asuma yang sedang tertidur di kursi sebelah kasurnya adalah hal pertama yang dilihat Kakashi saat itu.
"Hei…"
Asuma tersentak pelan. "Oh, hei, kau sudah sadar."
"Hmm…"
Kakashi masih tampak kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa berakhir di atas tempat tidur begini dan apa yang Asuma lakukan disini.
"…Sakura?"
Ini adalah kali pertama Kakashi menyebutkan nama gadis yang ditemuinya kemarin. Biasanya ia hanya akan memanggil Sakura dengan sebutan, 'Hei' atau 'Kau'. Terasa sedikit aneh di telinganya. Seakan tersadar siapa yang dimaksud Kakashi, Asuma tertawa pelan.
"Seharian ini cuaca begitu cerah. Spare part yang dibutuhkan mobilnya sudah selesai diganti dan ia memintaku untuk menjagamu." Ujar Asuma sambil menggaruk tengkuknya. "Setelah itu dia pergi."
Kakashi tidak mengerti apa yang ia harapkan, tapi ia merasa sedikit kekecewaan timbul karena Sakura pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ia bersuaha untuk bangun dari tempat tidur—demamnya sudah turun sekarang dan langit sudah tampak gelap. Asuma ikut bangun dan ia mengantar pria itu ke depan pintu.
"Kau yakin aku tidak perlu bermalam disini?" Tanya Asuma sambil memakai jaketnya.
"Tidak… sepertinya badai akan datang sebentar lagi." Ujar Kakashi pelan. Suara gemuruh memang terdengar kembali dari kejauhan, dan temannya itu mengangguk-angguk. "Hati-hati."
Ia menutup pintu depan dan mendengar suara mesin Asuma bergerak menjauh. Pria itu memandang semangkuk bubur di meja dan beberapa pil obat di atas meja. Sebuah kertas kecil berisi tulisan tangan Sakura untuk meminta Kakashi memakan bubur tersebut tersemat manis tidak jauh dari sana.
Kakashi tersenyum kecil. Ia menghabiskan bubur dan meminum obatnya, berjalan ke kamar dan mengambil selimut tuanya, lalu kembali duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Benar seperti prediksinya, badai datang sepuluh menit kemudian dan kali ini lebih kencang dibanding yang kemarin.
"…-san…"
Kakashi mengernyit. Ia seperti mendengar sesuatu, tapi ia tidak yakin apa.
"…-san! Hatake-san!"
Kakashi terlonjak dari duduknya. Ia setengah berlari ke arah pintu depan dan melongo melihat Sakura berdiri disana—basah kuyub dengan tangan penuh dengan kantung belanja. Ia segera saja menyingkir dari pintu dan berusaha untuk meraih kantung belanja tersebut dari tangan Sakura, namun gadis itu menepis tangannya dan langsung berjalan sempoyongan menuju dapur.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kakashi bingung.
Sakura menyisir rambutnya yang kuyub dengan tangan dan memandang Kakashi kesal.
"Apa yang aku lakukan disini?!" balas Sakura dengan nada sengit. "Apa yang kau lakukan, Hatake-san! Kau pingsan selama berjam-jam dan tidak ada apapun di dalam kulkasmu! Kau juga tidak mempunyai obat-obat dasar seperti obat demam dan obat flu! Apa kau tahu betapa paniknya aku saat itu?! Kalau ada apa-apa terjadi padamu, aku akan menjadi satu-satunya tersangka, kau tahu?!"
Kakashi benar-benar mematung dan memandangi gadis itu yang sedikit terengah-engah. Sadar suaranya tadi sangat tinggi, Sakura menghela napas dan mulai memasukkan barang-barang yang dibelinya ke dalam kulkas tua Kakashi. Kakashi bisa melihat berkotak-kotak susu dan banyaknya toples vitamin kecil memenuhi kulkas tersebut.
"Maksudku… kukira kau sudah pergi…?"
Gerakan Sakura berhenti dan ia memandang pria di depannya dengan tatapan bingung.
"Meninggalkanmu sendirian seperti itu?"
Sakura menjawab pertanyaannya tanpa jawaban. Ia menerima uluran handuk dari Kakashi, dan menerima kehadiran pria itu yang bergerak untuk membantunya menyusun sayur dan buah beberapa saat kemudian.
Saat itulah hati dingin Kakashi perlahan-lahan menghangat. Traumanya yang tinggal terlalu lama di dalam dirinya runtuh saat itu juga. Untuk pertama kalinya, ia tidak ditinggalkan oleh orang lain. Padahal bagi Sakura yang sama sekali tidak mengenalnya, meninggalkan Kakashi adalah hal yang mudah. Hal tersebut sudah dilakukannya saat pertama kali mengenal gadis itu.
Kakashi tersenyum kecil dan menyentuh tangan Sakura. Kontaknya kali ini lembut dan halus, tidak mencengkram seperti biasanya.
"Terima kasih."
