"Selamat datang. Apa yang akan anda pesan?"

.

"Selamat siang. Apa yang akan dipesan?"

.

"Selamat pagi. Apa yang akan dipesan? Tuan Hatake, betul?"

.

"Selamat malam, Tuan Hatake. Kopi hitam seperti biasa?"

Kakashi Hatake mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil. "Ya."

Gadis muda di balik konter tersenyum sumringah. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, sang rekan kerja mencibir ekspresi gadis itu. Sakura Haruno tidak ambil pusing. Dengan sigap ia sedikit berlari ke balik mesin pembuat kopi, memasukkan takaran yang sudah dihapalnya sejak beberapa bulan yang lalu, dan kembali ke balik konter.

Tangannya menuliskan pesan singkat di balik holder gelas kopi Kakashi. Ia menambahkan hati kecil di akhir kalimat.

"Ah, sebenarnya…"

Sakura mengangkat kepala. Kedua matanya menantikan kelanjutan kalimat Kakashi dengan bingung.

"Aku akan meminumnya disini." Ujar Kakashi sambil mengerling ke arah gelas kertas di tangan Sakura.

"Oh!" pekiknya cepat-cepat. "Baiklah. Maafkan aku. Akan segera kuganti!"

Kakashi tidak sempat mengucap 'tidak apa-apa', Sakura sudah kembali melesat dan memindahkan kopi tersebut ke dalam cangkir. Hatinya girang tidak karuan sekarang. Kakashi tidak pernah tinggal di café sebelumnya, dan ini artinya Sakura bisa melihatnya lebih lama daripada biasanya!

"Serius, Sakura, kau harus berhenti tersenyum." Cibir Shikamaru Nara sambil mengeringkan gelas. "Bibirmu hampir robek."

"Berhentilah bicara sebelum bibirmu yang kurobek." Balas Sakura, tersenyum jengkel.

Ia berjalan kembali ke arah Kakashi dan meletakkan kopi hitam tersebut di atas nampan. Disamping cangkir tadi, ada dua keping kukis mentega yang juga ia sertakan.

Kakashi mengernyit bingung. "Aku tidak memesan ini."

"On the house." Balas Sakura manis.

Kakashi dengan ragu mengucapkan terima kasih dan berjalan ke sudut ruangan. Sakura memandangi punggung pria itu menjauh—terpesona pada setiap tindakan yang dilakukan pria itu. Saat membuka jas hitamnya, saat menarik dasinya ke bawah, saat menatap ponselnya—

"Tunggu. Apa?"

Matanya membesar ketika melihat seorang wanita berjalan mendekati Kakashi.

"O-oh. Ternyata pujaan hatimu sudah memiliki seorang pacar!" bisik Shikamaru sambil tertawa.

Sakura merasakan wajahnya memerah karena marah. Gadis itu tidak repot-repot berjalan ke konter seperti Kakashi—ia hanya melambaikan tangan dan Shikamaru bergegas untuk berjalan ke arah meja mereka setelahnya.

Sakura mendengus. "Siapa dia?"

.

.

Kakashi tidak pernah datang dengan siapa-siapa sebelumnya. Ia hanya akan datang sendiri, memesan kopi yang sama setiap harinya, dan pergi setelah kopi yang dipesannya sudah diterima. Malam itu ada seorang perempuan yang menemani Kakashi. Mereka duduk selama satu jam lebih, dan pada akhirnya si perempuan pergi meninggalkan Kakashi sendirian di sana. Sakura benar-benar menahan dirinya agar tidak keluar dari balik konter dan memaki gadis itu—karena tentu saja ia akan dipecat. Dengan perasaan campur aduk, ia memperhatikan Kakashi yang berpindah ke bagian luar dan merokok disana.

Semenjak itu Kakashi selalu duduk selama beberapa jam di café. Bukannya Sakura tidak senang, tapi ekspresi sedih pria itu jauh lebih menyedihkan dibanding tanpa ekspresi sama sekali.

"Haruskah aku pergi menemaninya?" Tanya Sakura pada Shikamaru suatu waktu.

"Dan apa? Dipecat setelahnya?"

Jawaban tajam Shikamaru membuat Sakura tersadar kalau ia memang tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi yang bisa ia lakukan? Menemani Kakashi di luar jam kerjanya? Tentu ia akan dianggap sebagai seorang penguntit yang mengerikan. Sakura menopang dagunya dengan satu tangan dan menghela napas.

Kakashi hanya duduk terdiam di meja yang sama. Meja tersebut terletak di dekat pohon tua—lampu mejanya sudah redup dan nyaris mati. Mungkin pria itu memang tidak ingin terlihat.

Sakura pada akhirnya meraih sebuah piring dan meletakkan sepotong kue keju diatasnya.

"Aku akan kesana sebentar." Pesannya pada Shikamaru.

"Kalau kau dipecat dan aku harus mengurus café ini sendirian, aku bersumpah akan menghabisimu."

Sakura memutar matanya dan berjalan ke arah Kakashi dengan hati was-was. Pria itu sempat tidak menyadari kehadirannya, namun dehaman Sakura pada akhirnya berhasil membuatnya mengangkat kepala.

"Hei." Sapanya singkat.

Sakura merasakan wajahnya menghangat. Untung saja disini gelap.

"Aku tidak memesan ini." gumam Kakashi saat melihat piring tersebut.

Sakura tersenyum kecil. "On the house."

.

.

Namanya Kakashi Hatake. Ia jauh lebih tua dibanding Sakura—tentu saja—dan perempuan waktu itu adalah pacarnya. Sakura sedikit kesal saat mendengar hal ini. Mereka berpisah karena perempuan itu tidak merasakan apa-apa lagi. Kakashi bilang padanya kalau ia merasa sangat hancur, ia sempat tidak tahu apa yang harus dilakukannya, namun ia memutuskan untuk tetap melanjutkan kegiatannya sehari-hari.

Saat itu emosi Sakura bercampur aduk—ia senang sekali karena Kakashi-lah yang memintanya untuk duduk sebentar dan menceritakan segala keluh kesahnya pada gadis itu. Tapi ia juga merasa sangat sedih, Kakashi jelas sekali masih menyayangi pacarnya, dan ia memang hanyalah seorang pelayan baik hati yang memberikannya kue gratis setiap hari.

Karena itu, suatu hari Kurenai sang pemilik café memanggilnya.

"Dua puluh potong cake dalam satu bulan." Ujarnya sedikit kesal. "Apa yang kau pikirkan?"

"Aku memberikannya karena ia sedang berulang tahun…"

"Dua puluh kali ulang tahun dalam sebulan?"

Sakura memejamkan matanya, menyadari kebodohannya. Seharusnya ia masukkan saja uang ke dalam mesin kasir tanpa harus memberikan keterangan free birthday cake pada setiap transaksi Kakashi. Melihat gadis itu yang tidak bisa berbicara apa-apa lagi, Kurenai memintanya keluar dengan sebuah surat pemecatan ditangan.

Sakura mendengus. Biarlah. Ia yakin ia akan mendapat kerja lagi. Dengan gontai ia meraih tasnya dan melempar apronnya ke arah Shikamaru.

"Aku juga akan keluar sebentar lagi. Nenek tua itu lama-lama membuatku gila." Keluhnya saat itu.

Sakura terkekeh. Entah hanya hiburan, entah memang begitu, ia tidak terlalu ambil pusing. Ia harus merayakan hari kebebasannya. Ada sebuah restoran mewah di dekat flat murahnya yang ingin sekali ia kunjungi sejak beberapa bulan yang lalu, namun ia tidak pernah memiliki waktu (dan uang) untuk datang kesana.

"Sekali dalam lima tahun." ujarnya pada diri sendiri. "Aku berhak mendapatkannya."

Ia melangkah masuk ke dalam restoran tersebut dan hampir saja berdiri mengaga disana. Interiornya benar-benar mewah dan seketika itu juga nyalinya ciut, tidak mengerti kenapa ia dengan bodohnya berpikir bahwa ia bisa makan disini.

"Apakah Nona sebelumnya sudah membuat reservasi?"

Sakura tersentak dan memandang orang di depannya dengan bingung. "B-belum…"

Bodoh, katakan kalau kau salah masuk tempat! Jangan jawab pertanyaannya!

"Meja untuk berapa orang, Nona…?"

"Haruno. Satu orang."

Sakura yang berada di dalam dirinya tidak berhenti memaki kebodohan dirinya sendiri. Sakura berjalan gontai dan duduk di meja yang ditunjukkan oleh sang pelayan, menimbang-nimbang dimana ia harus mencari pinjaman karena uang sewanya akan ia habiskan dalam sekali duduk malam ini.

"Apakah pesanannya sudah siap?"

Sakura mengangguk dan menyebutkan pesanannya. Sudah kepalang basah, lebih baik ia nikmati malam ini sekalian. Makanannya tampak menggiurkan ketika sampai di mejanya dua puluh menit kemudian.

Ia sedang menikmati makanan pembukanya ketika beberapa orang disekitar tampak riuh berbicara. Matanya menangkap seseorang dengan pakaian chef sedang berputar mengelilingi ruangan—mendengarkan keluhan dan masukan dari setiap pelanggan yang datang.

"Shikamaru seharusnya melakukan itu." Ujarnya sambil tersenyum. Ia bergumam pelan saat potongan kepiting-entah-apa-namanya masuk ke dalam mulutnya dan meleleh disana.

Chef tadi berhenti di depan mejanya. Sakura mengangkat kepala, dan hampir saja tersedak ketika menyadari siapa orang tersebut.

"Haruno-san?" ujarnya terkejut.

Wajah Sakura memerah. Kakashi pasti akan menertawai kasir café sepertiku karena berani makan di restoran seperti ini!

Sakura tidak bisa menjawab. Berbeda dari perkiraannya, Kakashi secara kasual menarik kursi dan duduk di depannya.

Beberapa orang memandangnya bingung sambil berbisik-bisik. Kakashi tampak tidak terlalu peduli, ia masih memperhatikan Sakura dengan sedikit takjub.

"Tidakkah kau bekerja sekarang?"

"A-aku dipecat." Gumam Sakura malu.

Alis Kakashi terangkat sebelah. Ketika pria itu melakukannya, ia terlihat super elegan. Tapi Sakura ingat kalau Shikamaru yang melakukannya, ia terlihat seperti seorang pria mesum yang sedang mencari mangsa.

"Karena kue gratis setiap hari?"

Melihat wajah Sakura yang semakin memerah, Kakashi mengulum senyumnya dan menahan tawa.

"Kalau begitu… apa ada kritik atau masukan untuk makanannya?"

"T-tidak. Semuanya sangat enak!" jawab Sakura cepat-cepat.

"Tapi yang baru kau sentuh hanyalah makanan pembuka."

Oh, kenapa tidak sekalian kutuang saja saus tomat ke atas kepalaku dan berpura-pura kesurupan di tengah ruangan ini? Tanya Sakura, tidak habis pikir pada dirinya sendiri yang terus-terusan membuatnya malu.

Sakura memutuskan untuk tidak menjawab. Melihat hal tersebut, Kakashi tersenyum lagi.

"Kau tahu, aku sedang membutuhkan seorang assistant chef…"

Kedua mata Sakura membulat. "Benarkah?!" tanyanya bersemangat. Beberapa detik kemudian, wajahnya kembali dihinggapi awan mendung. "Tapi aku hanya bisa membuat kopi…"

"Sempurna. Datanglah kembali kesini minggu depan."

Kakashi tidak berkata apa-apa setelahnya. Ia hanya tersenyum—senyumnya jauh lebih bersemangat dibanding senyum lemah yang diberikannya pada Sakura beberapa minggu lalu—dan menghilang di balik pintu dapur.

Sakura masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Sisa malam tersebut terasa kabur, semua rasa makannya sangatlah enak tapi Sakura tidak bisa mengingat seperti apa setiap makanan tersebut terasa. Ia masih begitu syok ketika sadar bahwa Kakashi baru saja duduk di depannya, menawarkannya sebuah pekerjaan, dan hidupnya bisa saja menjadi lebih baik karena hal tersebut—pekerjaan baru dan melihat Kakashi setiap hari!

Ia melambaikan tangan dan memanggil seorang pelayan saat makanannya telah habis.

"Apa disini menerima kartu debit?" Tanya Sakura takut-takut. Ia tidak membawa uang tunai sama sekali.

Pelayan tersebut memberikan buku tagihannya ke arah Sakura dan tersenyum sopan.

"Sesuai permintaan chef, seluruhnya on the house."

Kedua matanya membelalak—antara kaget karena Kakashi baru saja memberikannya makanan gratis dan kaget karena mendapati berapa jumlah angka nol yang dilihatnya di atas cetakan bill tersebut.

"Dan lagi sesuai permintaan chef, dua potong tres leches to go untuk Nona Haruno. Menu spesial hari ini."

Sebuah plastic transparan dengan dua kotak super cantik diletakkan di atas mejanya. Ketika melihat Sakura hanya terdiam dan melongo mendengar semua perkataannya, sang pelayan mundur teratur dan pada akhirnya kembali fokus pada pekerjaannya.

Matanya memicing saat menangkap sebuah kertas cokelat lusuh berlogo cafe lama tempatnya bekerja yang terletak di permukaan kotak paling atas.

Don't forget to be happy. Kue spesial untukmu—on the house!

Saat ini sepertinya kau lebih membutuhkan kata-kata ini dibandingkan aku. Sampai bertemu hari Senin.