Sakura Haruno benar-benar tidak mengerti kenapa ia bisa berada disini sekarang. Teriakan begitu banyak orang bercampur menjadi satu di gedung olahraga yang super besar ini. Beberapa orang bahkan dengan bersemangat menabuh drum sambil menyemangati kedua tim yang sedang bermain pada saat ini.

Yang benar saja, pikirnya bingung. Dimana aku?

Sebuah bunyi yang sangat keras mengagetkan Sakura. Seluruh orang berteriak kegirangan karena tim dengan jersey merah mencetak angka lagi. Gadis itu menatap sekelilingnya dengan panik—ia benar-benar tidak mengerti dimana ia sekarang, apa yang terjadi, dan kepalanya begitu pusing dengan seluruh teriakan yang ada.

Ia berusaha untuk turun di tengah-tengah pekaknya orang dan pada akhirnya berhasil keluar dari gedung.

"Baiklah, apa yang kulakukan tadi sampai-sampai aku bisa berada disini?"

Sakura yakin ia berada di perpustakaan beberapa saat yang lalu. Ia memang sangat mengantuk dan ia rasa ia tertidur. Ketika terbangun, kerumunan orang membuatnya begitu penasaran sampai-sampai ia tanpa sadar mengikuti mereka dan sampai di gedung tadi.

Ia tahu betul bahwa ia masih berada di area kampus, tapi…

Semuanya berbeda. Semua terlihat… ketinggalan jaman?

Sakura tersentak pelan ketika seseorang menabraknya. Baru saja ia ingin memarahi orang itu, lidahnya tiba-tiba saja membeku ketika siapa yang menabraknya tadi.

"S… s-sensei…"

Orang di depannya terlihat bingung. Jangankan orang itu, Sakura juga terlihat super bingung. Matanya memperhatikan laki di depannya dengan seksama, dari atas sampai bawah, sampai-sampai orang tersebut merasa risih.

"Apa kau tahu menatap seperti itu kurang sopan?" tanyanya dengan nada tidak suka.

"A... s-sen... ba..."

Sakura benar-benar kehilangan kata-kata di buatnya. Ia hanya kembali melongo ketika orang di depannya menghela napas dan berlalu setelah itu.

.

.

Sakura mengerang pelan. Tubuhnya terasa kaku karena semalaman tertidur di ruang matras kampus ini. Ia benar-benar tidak sempat mencari tahu apa yang terjadi kemarin dan memutuskan untuk tidur saja, karena ternyata, ia tidak bisa keluar dari kampus ini.

Benar-benar tidak bisa. Ia berusaha untuk berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya, tapi pada akhirnya kakinya akan selalu berjalan kembali ke area kampus. Sungguh aneh. Mobilnyapun tidak dapat ia temukan dimanapun. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?

Dan juga, kemarin. Orang yang menabraknya itu... Sakura yakin sekali bahwa orang itu adalah Kakashi Hatake.

Kakashi Hatake adalah dosennya—lebih tepatnya orang yang mengirimnya ke perpustakaan karena Sakura tertidur di jam pelajarannya. Ia harus mengerjakan detensi disana dan pada akhirnya Sakura kembali tertidur. Lalu kenapa ketika mereka bertemu lagi, Kakashi Hatake terlihat seperti itu? Kenapa ia terlihat seumuran dengannya?

"Ugh, aku sudah gila." Keluh Sakura sambil memegangi kepala.

"Ya. Kurasa begitu."

Sakura mengangkat kepalanya. Kakashi—Kakashi remaja—Kakashi muda—Kakashi dosennya—Kakashi Hatake berdiri di depannya dengan sebuah bola basket ditangan. Ia memandangi Sakura yang masih terduduk di atas matras dengan ekspresi tidak suka.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Ehm... tidur?"

"Cih. Hobimu tidur? Dan apa kau tidak mengganti bajumu?"

Astaga, ini benar-benar Hatake sensei. Bahkan nada bicara menyebalkannya itu sama persis! Pekik Sakura dalam hati.

"Aku... akan segera pergi, sensei." Ujar Sakura sopan.

"Apa? Sensei? Dasar tidak waras."

Sakura menghela napas dan mengutuk dirinya sendiri. Ia mencoba untuk mencubit dirinya sendiri tapi nyatanya ia tetap merasa sakit. Saat ini dia tidak sedang bermimpi. Tapi kalau benar begitu, kenapa ia melihat Kakashi Hatake seperti itu?

"P-permisi."

Kakashi menoleh kesal. "Apa?"

"Dimana letak kantin?"

"Kau mahasiswa baru, ya?"

Sakura ingin berkata tidak, namun pasti akan cukup mencurigakan kalau ia sudah setahun disini dan tidak mengetahui letak kantin.

"Ya..."

Sebenarnya ia tahu letak kantin, tapi kemarin saat mencarinya, Sakura tidak menemukan kantin tersebut sama sekali. Kantin seharusnya terletak di gedung Utara di lantai dasar, tapi kemarin, semua yang bisa dilihatnya adalah tempat kosong berisi para mahasiswa yang sedang bekerja kelompok.

"Tepat disebelah perpustakaan." Ujarnya sambil melemparkan bola basket ke dalam kotak.

"...dan perpustakaannya...?"

Percayalah, semua tempat berada di are yang berbeda.

Kakashi baru saja ingin menjelaskan tapi ia terlihat sudah malas duluan. Pada akhirnya, ia meminta Sakuar untuk mengikutinya tanpa suara. Ia pikir akan lebih baik secara langsung menunjukkan tempat itu padanya dibanding harus menjelaskan berulang kali.

Mereka sampai di kantin dan kali ini Sakura benar-benar bingung.

"Wah... semuanya benar-benar murah..." gumamnya tanpa sadar.

"Kau cukup sombong, ternyata."

"Ah, bukan begitu." Ujar Sakura sambil tersenyum canggung. "A-aku—"

Perkatannya terhenti ketika tidak sengaja mendengar percakapan dua orang di depannya.

"...aku tahu! Rok tingkat?! Aku juga mengatakan hal yang sama padanya kemarin. Ini dua ribu tiga belas, demi Tuhan, siapa yang masih memakai rok tingkat?!"

Wajah Sakura memucat. "Dua ribu tiga belas?"

Kakashi di sebelahnya menyadari perubahan tiba-tiba Sakura.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

Sakura menoleh. Saat itu semuanya menjadi jelas. Apakah ia sedang berada di dalam sebuah film sekarang, dimana tokohnya akan tertarik ke masa lalu? Apa-apaan ini semua?! Bagaimana kalau ia tidak bisa kembali? Apa yang akan dilakukan orangtuanya?

"Hei," Ujar Kakashi lagi. "Apa kau tidak apa-apa?"

Dan orang di depannya ini... benar-benar adalah dosennya sendiri.

"Aku..." gumam Sakura tidak yakin. "Aku harus duduk..."

.

.

Kakashi memandangi gadis di depannya yang sedang mengunyah roti melon tanpa minat. Koreksi, roti lemon keempat. Di meja mereka begitu banyak makanan terhidang. Orang itu tidak mengada-ada saat mengatakan bahwa makanan-makanan tersebut murah baginya, karena buktinya ia bisa membeli sampai sebanyak ini.

"Tanggal berapa ini?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Dua puluh satu Maret."

"Tahun?"

"Pertanyaan macam apa itu? Apa kau bodoh?" tanya Kakashi sedikit kesal. Namun pada akhirnya ketika melihat ekspresi gadis itu yang hampir menangis, ia menghela napas dan menjawab.

"Dua ribu tiga belas."

Sakura sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut, namun tetap saja hatinya mencelos saat mendengar kembali bahwa sekarang adalah tahun dua ribu tiga belas. Roti melonnya ia telan dengan susah payah sebelum akhirnya meletakkan kepalanya tanpa tenaga di atas meja.

"KAKASHI!"

Baru saja ia hampir tertidur, tubuhnya tersentak begitu keras karena kaget. Ia memandang beberapa orang yang berjalan ke arah mejanya—kebanyakan merupakan perempuan. Namun tidak jarang beberapa laki-laki juga datang dan duduk mengelilingi Kakashi.

"Bolos latihan demi berkencan, hm, Kakashi? Siapa ini?"

Sakura bergidik pelan ketika seorang laki-laki dengan rokok di bibir bergerak mendekatinya.

"Sebenarnya aku juga tidak tahu." Jawab Kakashi. "Siapa namamu?"

"Sakura... Haruno."

"Ooooh..."

"Lalu apa kalian sedang berkencan? Dan kenapa ada banyak sekali makanan disini?"

Sakura bangkit berdiri saat semakin banyak orang datang dan mengerubungi mereka. Ia memang tidak terlalu nyaman berada di tengah orang banyak.

"Aku permisi dulu—"

"Tunggu sebentar."

Sakura menoleh cepat ketika seseorang menahan tangannya. Kakashi memandanginya dengan bingung, seperti meminta jawaban.

"Kemana kau akan pergi?"

"...aku tidak tahu... dua ribu dua puluh satu?"

Semua orang disitu tertawa mendengar jawaban. Kalau saja mereka tidak tahu, gadis itu benar-benar ingin kembali ke masanya dan meninggalkan segala kegilaan ini. Apa yang dilakukannya sampai-sampai ia berada disini sekarang? Apakah ia membuka sebuah portal atau sesuatu yang lain?

"Kenapa kau tidak mau menonton latihan saja? Kau mahasiswa baru, 'kan?"

Sepuluh menit kemudian, Sakura dan kerumunan tersebut sampai di lapangan basket kampus. Ia duduk terpisah dari beberapa gadis yang dengan jelas memberikan tatapan tidak suka padanya. Kakashi, dengan santainya melemparkan tas selempangnya ke dekat Sakura, lalu bergerak untuk duduk di samping gadis itu.

"Kenapa kau harus duduk disini?!" desis Sakura kesal.

"Karena mereka tidak menyukaimu."

Sakura mengikuti arah pandangan Kakashi dan tersenyum kecil. "Aku tahu."

"Bagus. Aku tidak menyukai mereka." Ujar Kakashi sambil bangkit.

"Eh—hei!" jerit Sakura kesal, saat laki-laki itu melakukan pemanasan singkat. "Kau ambil tasmu sendiri atau aku akan melemparkannya kesana!"

"Oh, kau sangat menggemaskan saat marah."

Sebuah tepukan di kepala diterima Sakura beberapa saat kemudian. Gadis-gadis di dekatnya benar-benar sudah memasuki fase memerah karena marah dan mereka siap untuk menghajar Sakura di toilet yang terisolasi kapan saja.

Bahkan sejak ia masih seusiaku saja ia benar-benar menyebalkan, pikir Sakura dalam hati.

Latihan tersebut berlangsung dengan cukup meriah. Beberapa mahasiswa berkumpul untuk menonton kedua tim itu berlatih.

Sakura menopang kepalanya dengan satu tangan. Ia memperhatikan Kakashi—rambut keperakannya bersinar dibawah langit sore. Pada saat itulah, ia menyadari bahwa Kakashi benar-benar dengan mudahnya mengambil perhatian orang-orang di sekitarnya karena ia memang sangat...

...mengagumkan.

"Hei, awas!"

Sakura tidak sempat bereaksi. Ia hanya merasakan bola karet keras menghantam wajahnya begitu kencang sampai-sampai ia tersentak ke belakang.

Pandangannya sempat berputar selama beberapa saat sebelum ia akhirnya mendapati wajah Kakashi berada di atasnya.

"..arku? Kau... mend...arku?"

Mata Sakura memicing. "...?"

"Kau bisa... mendengarku? Kau bsa mendengarku?"

Sakura mengedipkan matanya. Ia merasa tangan besar Kakashi menopang punggungnya untuk duduk.

"Apa... kau yang melemparkan bolanya ke arahku?!"

Kakashi yang berjongkok disebelahnya mematung. Beberapa detik setelahnya, ia sukses tertawa keras.

"Apanya yang lucu..." keluh Sakura, sembari Kakashi membantunya untuk berdiri. "Ugh..."

"Beberapa detik yang lalu kau tidak bisa mendengarku, lalu sekarang kau memarahiku?" ujar Kakashi geli. "Bukan, bukan aku yang melempar bola itu."

Mereka berjalan beriringan dan setiap langkahnya, Sakura meringis sambil mati-matian menahan suaranya sendiri.

"Lucu sekali kau masih bertanya seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu sepanjang latihan tadi kau terus memperhatikanku?"

Wajah Sakura memerah. Ia menyentak tangan Kakashi agar lepas dari lengan dan punggungnya sebagai bentuk protes, namun sayangnya kedua kakinya masih cukup lemas sehingga ia hampir terjatuh.

"Kenapa kau menjauh?!"

"Kau menyebalkan!"

"Menyebalkan apanya? Apa kau sadar kau juga ikut bersorak tadi?"

"Ugh..." geram Sakura, kali ini ia kembali berhasil menyentak tangan Kakashi.

"Baiklah, sekali lagi kau melakukan itu, aku sendiri yang akan menggendongmu ke ruang kesehatan."

Sakura mengernyitkan dahi. "Tidak mau! Kau bau!"

Mereka berjalan menyusuri lorong dengan puluhan pasang mata memperhatikan. Sakura mencengkram lengan Kakashi dengan kuat sementara tangannya menutup hidung berdarah tadi dengan sapu tangan yang diberikan Kakashi.

Ruang kesehatan hanya terisi satu orang mahasiswa saat mereka masuk. Sakura dengan susah payah naik ke atas tempat tidur. Ia mendengus ketika Kakashi berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan di depan dada—senyuman mengejek terlihat di wajahnya.

"Lain kali saat menonton basket, pastikan kau kau memperhatikan bolanya, bukan aku."

"Cih, aku tidak akan pernah menontonmu lagi. Latihan atau pertandingan."

Kakashi mengangguk-angguk, masih dengan senyuman mengejeknya.

"Baiklah, aku minta maaf. Apa kau ingin sesuatu? Aku akan pergi ke kantin untuk membelinya."

"Mmm..." gumam Sakura selama beberapa saat. Perutnya memang cukup lapar karena sesi makan siangnya tadi terganggu oleh selusin teman Kakashi. "Apa kau akan mentraktirku? Karena uangku sebenarnya sudah habis."

"Tentu saja aku akan mentraktirmu..."

"Tidak bisakah kau berhenti mengejekku?! Hidungku berdarah, demi Tuhan."

"Aku tidak mengejekmu."

"Oh! Sudahlah!"

Sakura merebahkan tubuhnya dan berbalik menghadap ke sisi yang lainnya. Tentu saja mudah bagi Kakashi berkata bahwa ia tidak mengejeknya. Jelas-jelas nadanya seperti itu—orang bodohpun tahu kalau ia sedang mengejek Sakura sekarang.

Kedua mata Sakura berkedip beberapa saat ketika sepasang sepatu terlihat berjalan mendekat ke arahnya. Setelah itu, Kakashi menekuk lututnya dan menyamakan level matanya dengan Sakura.

"Baiklah, maafkan aku." Ujar Kakashi. "Apa yang kau inginkan?"

"...kue melon dan susu."

"Itu saja?"

Sakura mengangguk.

Keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun setelahnya. Sakura membaringkan tubuhnya, menutup mata, dan memutuskan untuk tidur sebentar.

.

.

Kira-kira baru lima menit mulai tertidur, suara gumaman mengganggu tidurnya dan Sakura memutuskan untuk membuka kembali kedua matanya. Ia hampir saja berteriak saat melihat Ino disana, sedang berbicara dengan begitu banyak orang, memunggunginya.

Ino menoleh ketika mendengar suara dari belakangnya.

"Kau sudah sadar?" tanya Ino khawatir. "Apa yang kau lakukan? Apa kau belum sarapan? Sudah kubilang, kau harus selalu sarapan!"

"Ino, jangan meneriakinya. Sakura baru saja sadar." Ujar Hinata cepat.

"Kami kira kau sekarat dan hampir meninggal, Sakura. Penjaga perpustakaan terlihat sangat panik."

"Tapi terima kasih untukmu karena kelas dibubarkan lebih awal."

"Aku bisa pergi ke kantin setelah ini."

"Hatake-sensei bilang ia akan melihatmu sebentar setelah kembali dari ruang dosen. Bagaimanapun juga, dia mungkin merasa bersalah karena cukup keras padamu pagi ini."

"Omong-omong, dimana sensei?"

Teman-teman sekelasnya sibuk berbicara satu sama lain sementara Sakura baru menyadari bahwa ia telah kembali. Ruangan ini terlihat sama seperti ingatannya. Berwarna putih besar, wangi aroma terapi memenuhi ruangan, dan tirai-tirainya berwarna krem halus. Berbeda seperti ruangan yang mungkin saja sepuluh menit lalu ia masuki—catnya kusam dengan tirai-tirai abu-abu.

Mereka berhenti berbicara ketika sesosok pria datang dan berdiri di ujung tempat tidur.

"Haruno."

Sakura tersenyum kikuk. "Sensei."

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Baik..."

Kakashi Hatake mengangguk-angguk. Ia pada akhirnya mengangguk, kemudian membalikkan punggung, berlalu begitu saja.

"Dia memang sedang memiliki banyak urusan, kurasa. Morino sensei terus-terusan mengajaknya berbicara." Ujar Ino. Mereka melemparkan senyum singkat pada teman-teman sekelasnya yang perlahan-lahan mulai berlalu. "Apa kau sudah cukup baik-baik saja sekarang? Hinata dan aku masih ada kelas lima menit lagi, jadi..."

"Ya. Kurasa aku akan tidur sebentar."

Ino dan Hinata mengangguk. Mereka pergi dan kembali menyisakan Sakura sendirian di kamar.

Sementara itu Sakura menutup kedua matanya. Cukup aneh harus memanggil Kakashi dengan sebutan sensei sedangkan tidak sampai satu jam yang lalu Kakashi muda terang-terangan menggodanya. Bagaimanapun juga, mungkin ada eror halus yang terjadi sehingga ia bisa terlempar sampai seperti itu.

Kedua matanya menatap jam dinding. Setengah sembilan. Yang benar saja, semua itu hanya menghabiskan setengah jam?

Sakura mematung ketika sosok Kakashi kembali terlihat di hadapannya. Pria itu tampak ragu selama beberapa saat—hanya berdiri, menatapnya, berjalan maju dan mundur lagi, sebelum pada akhirnya menarik kursi dan duduk di samping Sakura.

"Aku minta maaf karena berbicara cukup keras padamu pagi ini." Ujar Kakashi membuka percakapan. Ia meletakkan sebuah kantung kertas di meja sebelah Sakura. "Cepatlah sembuh."

"Tidak apa-apa, sensei." Jawab Sakura pelan. "Dan... terima kasih."

Ketika tidak ada lagi percakapan diantara mereka, Sakura dengan canggung memainkan ujung kemejanya di balik selimut. Gerakan terhenti begitu saja ketika ia menyadari ada sesuatu mengganjal genggaman tangannya.

"Astaga..."

Kedua matanya membulat saat ia tengah menggenggam sebuah sapu tangan penuh darah.

"Baiklah, aku harus segera pergi. Ada rapat dalam sepuluh menit." Ujar Kakashi tiba-tiba. "Aku tidak percaya butuh delapan tahun bagiku untuk memberikan ini."

Sakura membuka kantung kertas tersebut dan lagi-lagi ekspresi terkejut muncul di wajahnya.

Sementara itu, Kakashi sudah setengah jalan menuju pintu keluar ketika ia tiba-tiba kembali berbalik dan berhenti di samping Sakura. Tangan kanannya terulur untuk menepuk pucuk Sakura beberapa kali dengan halus. Setelah melakukan itu, ia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.

Oh, dia mengingatku.

Sakura menggigit kue melon pemberian Kakashi sambil tersenyum kecil.