Malam biasa di pinggiran kota Osaka yang selalu ramai. Sebuah izakaya kecil bernama Tanoshi baru saja dibuka oleh sang pemiliki beberapa menit yang lalu. Dari dalam kedai tersebut, seorang gadis dengan rambut merah muda terurai panjang sepinggang keluar dengan dua buah lentera merah besar-besar di masing-masing tangan. Ia menggantung dua lentera tersebut di sisi kanan dan sisi kiri kedai, lalu kembali masuk ke dalam.

Sakura Haruno meletakkan baskom berisi air di atas meja dan mulai membersihkan meja-meja kayu tua di depannya. Ia tidak menghiraukan siulan jahil dari beberapa pria yang berjalan di depan kedai, matanya terfokus pada meja tersebut dan tidak hal lainnya.

"Sakura," panggil Genma Shiranui, si pemilik. "Ambil handuknya di belakang."

Sakura mengangguk. Ia berjalan ke bagian belakang restoran dan membawa senampan handuk dari sana. Ia meletakkan nampan tersebut di sudut ruangan dan kembali membersihkan meja-meja lainnya.

Genma melirik jam dan menghisap rokok yang terselip di bibirnya. Ia berjalan untuk memasukkan sebuah piringan hitam ke dalam pemutar musik yang dibelinya di toko bekas beberapa hari lalu. Alunan lembut lagu Sendo Kawaiya memenuhi kedai—Sakura segera saja menoleh dan tersenyum lebar ke arah Genma.

"Aku menyukai lagunya." Ujar Sakura pelan.

"Benarkah?" Tanya Genma. Tidak terlalu peduli, sebenarnya. Ia hanya kembali terfokus mengatur botol-botol minuman keras kedainya yang tertata di atas rak, menyesap rokoknya sesekali.

Sakura mengangkat baskom airnya dan duduk di salah satu kursi ketika tugasnya selesai. Ia memandangi jalan depan kedai yang terlihat lengang namun tidak sepenuhnya sepi. Ada sekitar tiga kedai minuman lainnya disini, dan miliki Genma selalu yang tersepi. Meskipun begitu, ada pelanggan setia yang selalu datang ke sini setiap jam delapan malam.

Mata gadis itu melirik jam. Dua menit lagi.

Belum sempat jarum jam menunjuk angka delapan, segerombolan pria dengan seragam cokelat pudar masuk ke dalam kedai. Sakura tersenyum lebar. Dengan sigap ia meraih empat handuk dari sudut ruangan dan merendamnya sekilas dalam air hangat. Ia kemudian sampai di dekat meja, memberikan handuk tersebut pada masing-masing pria yang duduk disana.

"Terima kasih," ujar salah seorang pria sambil melepaskan topinya. "Seperti biasa, Shiranui!"

Genma tersenyum malas dan bergerak menuju dapur. Sementara menunggu Genma kembali dengan makanannya, Sakura memandangi empat pria itu dari balik bar tempat Genma berdiri tadi. Ada satu orang yang selalu mendapatkan perhatian penuh darinya… pria yang selalu duduk di tempat yang sama, yang paling sedikit bicara, yang terlihat lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan dibandingkan berbicara seperti ketiga temannya.

Kalau saja aku bisa tahu namanya, gumam Sakura dalam hati.

Sakura tidak tahu sudah berapa lama ia memandangi pria itu ketika suara keras Genma setengah membentaknya dari dalam dapur. Bukan hanya Sakura, empat pria tersebut juga sama kagetnya sampai-sampai mereka berhenti berbicara selama beberapa saat.

"Apa yang kau lakukan, pergi ke Hokkaido?!" Tanya Genma kesal, memberikan nampan lebar ke arah Sakura yang setengah kesusahan. "Kau akan membayarnya dengan gajimu kalau sampai kau menjatuhkannya."

"I-iya…"

Sakura keluar dari dalam dapur dan berjalan dengan sangat hati-hati menuju meja tersebut. Ia tersenyum pada dua pria di sisi kanan yang sedikit mundur untuk mempersilakan Sakura meletakkan nampan tersebut di atas meja. Sakura meletakkan pesanan biasa mereka dengan sabar dan melirik pria yang disukainya seraya tangannya meletakkan piring berisi ikan bakar.

Pria itu tidak pernah tersenyum. Sejak kedatangan mereka tepat enam bulan yang lalu, Sakura sama sekali tidak pernah melihatnya tersenyum.

Sakura tidak dapat berlama-lama memandanginya lagi karena pelanggan kedua, ketiga, dan seterusnya berdatangan memenuhi Tanoshi malam itu, membuatnya teramat sangat sibuk dan tidak dapat lagi memusatkan perhatiannya hanya pada satu meja.

"Sakura!" jerit Genma kesal. "Bir yang itu untuk meja empat! Gadis ini, bodoh sekali."

Sakura mendengus pelan dan tersenyum sekenanya pada pelanggan di depannya. Ia kembali mengambil beberapa piring dari dalam dapur dan menghampiri pelanggan seterusnya, tidak terlalu sadar kalau sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dalam diam.

Kakashi Hatake tidak pernah terlalu suka berbicara dengan orang lain. Saat teman-temannya sibuk membicarakan aktris tercantik tahun inipun, ia tidak terlalu tertarik. Salah satu alasannya masih betah duduk di kedai pinggiran seperti ini hanyalah gadis berambut merah muda yang bekerja disini, yang sampai sekarang masih belum berani ia tanyakan namanya.

"Hei, kau mendengarku?" Tanya Asuma, saat Kakashi tanpa sadar memperhatikan Sakura yang sibuk pergi dari satu meja ke meja lainnya. "Kudengar tentara di China berbuat ulah… kemungkinan besar unit kita akan dikirim."

Kakashi mengangkat alisnya. "Benarkah? Karena apa?"

"Akses jalan." Lanjut Asuma lagi sambil menghela nafas. "Tapi persetan, belum ada perintah, untuk apa mengkhawatirkan hal yang belum pasti?"

"Sakura, kemari."

Sakura tersentak—lalu berjalan ke arah Genma dan mengusap keringat di lehernya dengan lengan baju.

"Aku harus pergi ke pasar ikan sekarang, kau yang menutup kedainya, mengerti?" ujar Genma sambil meraih jaketnya. "Pastikan semuanya terkunci. Semuanya. Kalau tidak, aku benar-benar akan memotong gajimu bulan ini."

Sakura mendengus dan memperhatikan Genma dengan perasaan kesal. Ia duduk di balik bar, kembali berjalan bolak-balik ketika ia harus mengantarkan makanan dan minuman para pelanggan, sampai akhirnya hanya tersisa empat pria di awal tadi di dalam kedai.

Mereka tampak serius membicarakan sesuatu. Sakura tidak heran—seragam itu, mereka adalah empat tentara yang tinggal di tempat pelatihan tidak jauh dari sini. Gadis itu menopang dagu dan melanjutkan kegiatan kesukaannya—memperhatikan si pendiam.

Sakura menegakkan duduknya saat salah seorang pria memanggilnya. Gadis itu berjalan dengan secarik kertas bertuliskan total harga yang harus mereka bayar malam ini.

"Kau sendirian?" tanya seorang pria berambut gelap dengan sebuah rokok di bibir. "Genma?"

"Pergi ke pasar ikan." Jawab Sakura sambil menerima uang tersebut. "Tunggu sebentar, aku akan mengambil kembaliannya..."

Sakura kembali ke meja tersebut beberapa saat kemudian dan tersenyum ke arah empat pria tersebut. Si pendiam bahkan tidak menoleh kembali ke arah sini... namun apa yang diharapkannya? Sakura melirik jam yang menunjukkan pukul dua pagi dan memutuskan untuk menutup kedai tersebut sekarang.

Sakura baru saja membersihkan meja ke dua ketika sebuah langkah kaki terdengar di belakangnya.

Tidak mungkin... gumamnya dalam hati.

"Sudah... mau tutup?"

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara pria itu.

"A-ah... iya..."

"Apa aku boleh memesan segelas bir lagi?"

"Tentu saja!" ujar Sakura, mungkin terlalu cepat. Pipinya merona saat pria itu tersenyum geli ke arahnya. Sakura berjalan ke arah bar, menuangkan bir ke dalam gelas yang diambilnya dan memberikannya ke arah pria itu.

"Ini saja... Tuan?" tanya Sakura pelan.

Pria itu terdiam sebentar. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian, lalu tersenyum ke arah Sakura.

"Mau menemaniku bicara?"

Sakura tidak tahu apa yang diperbuatnya sebelumnya sampai-sampai ia bisa duduk berhadapan dengan orang yang dikaguminya dalam diam selama enam bulan terakhir seperti ini. Gadis itu memandangnya tanpa suara setelah sebelumnya hanya bisa mematung, terkejut mendengar permintaan orang di depannya.

"Kalau kau tidak mau—"

"Tidak, tidak, tentu saja aku—" sela Sakura cepat, beberapa detik kemudian tersadar sendiri akan ucapannya dan cepat-cepat berdeham. "Tentu saja aku tidak keberatan menemani Tuan berbicara..."

Kakashi tersenyum. Sakura ikut tersenyum—ia meletakkan nampan lusuh yang sedang di pegangnya ke meja lain dan duduk di depan Kakashi dengan sedikit canggung.

"Aku..." ujar Kakashi tidak yakin. "Menyukai... ikan bakar yang kau buat."

"Ehm... Shiranui-san yang membuatnya..."

"Ah, begitu..."

Keduanya tersenyum canggung. Topik yang gagal.

Kali ini Sakura yang berusaha untuk membuka topik pembicaraan. Ia berdeham pelan, sebelum akhirnya melontarkan isi pikirannya begitu saja tanpa disaring.

"Aku... menyukai suaramu..."