Kakashi memandang sekeliling dengan tatapan mata sayu. Tubuhnya lelah, kepalanya berdenyut, dan bajunya sudah basah oleh keringat. Lengan kanannya yang mengeluarkan darah tidak membuat kondisinya menjadi lebih baik. Pria itu terhuyung selama beberapa saat sebelum pada akhirnya jatuh terduduk di bawah sebuah pohon.

Baru saja matanya terpejam, sepasang tangan menyentuh wajahnya dan mengusapnya pelan. Kakashi membuka kelopak matanya dengan susah payah.

"Aku lelah." Ujar Kakashi singkat.

Perempuan itu mengangguk. Senyumannya seakan mengatakan bahwa ia mengerti. Dengan ujung lengan kimono-nya yang terasa halus, ia mengusap wajah Kakashi yang kelewat kotor dengan sangat perlahan.

"Aku tidak bisa seperti ini lebih lama lagi…" Kakashi angkat suara kembali. "Aku ingin berhenti."

"Tapi kau tidak bisa..."

"Ya."

Mereka saling berdiam lagi. Rambut merah muda panjang menggelitik leher Kakashi selama beberapa saat. Kakashi menuntun tangan perempuan itu untuk berhenti di pipinya, mencoba untuk memberikannya kekuatan untuk bertahan satu hari lagi.

.

.

Kakashi mengunyah makanannya tanpa minat. Lengan kanannya masih mengeluarkan darah meskipun perban panjang sudah dibebat dengan rapi oleh perawat yang datang beberapa saat lalu. Di sebelahnya, Asuma tampak riang-riang saja—meskipun luka dalam di wajahnya terlihat belum kering sempurna.

"DUA MENIT LAGI, SETELAH INI KITA AKAN LANGSUNG PERGI KE TITIK B."

Kakashi dan orang-orang di sekitarnya mempercepat makan mereka. Setelah menelan suapan terakhir dengan susah payah, ia berlari dan berbaris di belakang lusinan pria lainnya.

"Kita akan menyerang pukul dua tepat. Setelah itu, semuanya harus berkumpul di—"

Suara ledakan besar menghentikan perkataan orang tersebut. Semuanya terjadi begitu cepat—dalam beberapa detik saja, ratusan lesatan peluru terdengar dan suasana berubah kacau balau.

Kakashi meraih topinya dan bersembunyi bersama Asuma di balik mobil tangki besar. Mereka dengan sigap mengisi peluru pistol sambil membaca situasi.

"Terlalu banyak…" desis Asuma sambil mengawasi keadaan sekitar. "Lebih baik kita disini saja sampai mereka pergi."

"Tidak ada gunanya juga kalau kita keluar saat semua orang sudah mati."

Mereka pada akhirnya berjalan zigzag menuju titik yang lebih strategis untuk menembak. Satu, dua, lima, sepuluh orang bisa ditembaknya dengan mudah. Pria itu berdecak saat sadar pelurunya sudah kembali habis—dengan gerakan cepat ia meraih set baru dan melirik Asuma di sebelahnya.

"Aku akan keluar, kau tetap tembak saja dari sini. Mengerti?"

"Kau gila?!" umpat Asuma. "Ini perang dua lawan tiga puluh!"

Namun Kakashi tidak menghiraukan perkataan Asuma. Dengan sigap ia berlari satu demi satu pos yang ada disana. Sayangnya, sebuah peluru sukses menembus paha kanannya pada saat ia sampai di pos terakhir.

.

.

"Belum…"

Kakashi menatap wajah itu dengan nelangsa. "Aku tidak bisa membunuh satu orang lagi!"

.

.

Kedua mata Kakashi mendadak terbuka dan ia dengan susah payah merayap ke balik karung-karung besar tidak jauh dari sana. Keningnya berkerut saat rasa terbakar menjalar dari pahanya, namun ia dengan susah payah tetap berusaha menembak.

Asuma tampak sadar bahwa ia terluka. Dengan gerakan ceroboh, pria itu mengikuti jejak Kakashi untuk berlari zigzag menuju ke arahnya.

"Bodoh…" umpat Kakashi kesal.

Prediksinya terbukti benar. Seorang dari ujung sana dengan mudah mengarahkan pistolnya ke arah Asuma dan tanpa ragu menarik pelatuk.

.

.

Kakashi tersenyum senang. Sakura memeluknya dengan erat, seakan-akan pertanda bahwa mereka tidak akan dan tidak bisa terpisah lagi.

"Kau terlihat senang." Ujar Sakura halus.

Kakashi tidak langsung menanggapi. Ia memandang danau biru di depannya dengan ekspresi bahagia, dengan perempuan berambut merah muda yang begitu dirindukannya. Semuanya terasa damai.

"Tentu saja." Kakashi menanggapi pelan. "Aku tidak perlu takut kehilanganmu lagi saat aku membuka mata…"